Chapter One : History
Periode Muromachi 1508, Kyoto
Seorang pria dengan rambut oranye-nya sedang duduk-duduk di pinggiran kolam koi dengan bunga sakura yang berguguran di atasnya. Ia menggunakan hakama berwarna coklat dengan biru sebagai atasannya. Sebuah katana berwarna hitam selalu melingkar di pinggangnya. Ya, ia adalah seorang ronnin yang sedang 'mengabdikan' dirinya kepada seorang daimyo ternama, Kuchiki Byakuya. Memang, ia sebenarnya tidak benar-benar mengabdi padanya, ia sebenarnya adalah seorang ronnin yang menyelinap dalam keluarga Kuchiki demi membunuh Byakuya dan mendapatkan keinginannya.
…mempersatukan Jepang di bawah kaisar dan…
…memperistri Kuchiki Rukia
Ya, itu memang salahnya karena sudah jatuh cinta kepada wanita yang seharusnya tidak menjadi objek cintanya. Wanita itu adalah adik ipar Kuchiki Byakuya yang akhirnya dipersunting oleh Byakuya sebagai istrinya sendiri. Menyakitkan memang, saat melihat mereka berduaan, bercumbu mesra. Cinta yang mereka miliki bagai tak kan ada yang mampu menghalangi, atau merebutnya.
Cinta terlarang milik budak terhadap majikannya terkadang membuatnya sedikit gila. Terkadang ia senang memuaskan dirinya sendiri dengan membayangkan wajah majikannya itu ataupun mengintipnya malam-malam saat ia tertidur dalam pelukan suaminya tercinta.
"Ichigo…", panggil seorang wanita dari belakang. Pria yang bernama Ichigo itu menolehkan wajahnya ke arah wanita yang memanggilnya tadi. Mata dengan kesan musim gugur Ichigo menatap mata violet milik wanita itu.
"Aah…Rukia-dono…", ujar Ichigo sambil tersenyum.
"Rukia-dono ja nai yo! Rukia dake…Rukia!", ujar Rukia sambil menasihati Ichigo agar memanggilnya Rukia saja. Ichigo tertawa.
"Hai…Rukia. Tapi, bagaimana jika Byakuya-sama mendengarku memanggilmu seperti itu. Ia bisa-bisa langsung membunuhku nanti.", kata Ichigo sambil memandang sakura yang berguguran. Rukiapun akhirnya duduk di samping pria yang sudah menjadi pengawal pribadinya itu.
"Itu urusanku nanti.", ujar wanita itu sambil tertawa. "Ah! Ini! Aku bawakan kamu daifuku. Makanlah!". Rukia menyodorkan beberapa buah daifuku di atas piring dengan ukiran bunga sakura. Ichigo tertawa, tangannya menggapai daifuku itu dan memakannya. Tanpa sadar, tepung dari daifuku itu menempel pada pipi Ichigo, membuat Rukia tertawa.
"Hei, apa yang lucu?", tanya Ichigo kasar. Rukia menyentuhkan tangannya di pipi Ichigo dan mengambil tepung yang berada di pipinya. Wajah Ichigo memerah. "Kore.", kata Rukia sambil memperlihatkan bubuk tepung dari daifukunya dan tertawa. Ichigo pun ikut tertawa bersama Rukia.
"Lihat posisimu, Kurosaki Ichigo."
Tiba-tiba suara seorang pria datang dari belakang. Memandang mereka dengan dingin. Mata abu-abunya menatap Ichigo dengan tajam. Sebenarnya Ichigo ingin membalas pandangan itu dengan pandangan tajamnya pula, namun mengingat statusnya yang lebih rendah, mau tidak mau Ichigo harus mengalah. Demi semua rencananya…
"Su-Sumimasen, Byakuya-sama.", ujar Ichigo sambil membungkukkan badannya. Rukia kemudian beranjak dari tempat ia duduk dan menghampiri suaminya tercinta.
"Byakuya nii-sama…Bukan Ichigo yang salah, aku yang menemaninya.", pelas Rukia sambil memendamkan wajahnya di dada bidang Byakuya. Byakuya mengelus kepala istrinya itu.
"Sampai kapan kamu akan memanggilku dengan sebutan nii-sama. Aku ini suamimu, bukankah lebih baik jika kau memanggilku Byakuya atau otto-san?", ujar Byakuya sambil mengelus-elus kepala istrinya itu.
Rukia hanya menyenderkan kepalanya di dada Byakuya. Merasakan keharuman sakura yang terpancar dari tubuhnya. "Ne, Nii-sama, tidak peduli bagaimana aku memanggilmu. Kau hanya harus peduli bagaimana perasaanku padamu. Selama perasaanku ini tidak berubah, jangan khawatir.", katanya sambil memeluk Byakuya dengan erat.
Ichigo tidak suka melihat mereka bermesraan seperti itu. Itu bisa membuatnya gila dan mungkin bisa membunuh Byakuya di tempat itu juga. Jadi, ia memtuskan untuk permisi dari tempat itu.
"Byakuya-sama, Rukia-dono, saya permi-…", kata Ichigo sambil membungkuk.
"Chotto, Ichigo!", panggil Rukia. Rukia yang masih dirangkul oleh Byakuya memandang ke arah Ichigo. "Ichigo…Nii-sama…Aku punya kabar gembira buat kalian…", katanya pelan.
Ichigo dan Byakuya langsung menatap Rukia.
"Tidak lama lagi…Keluarga Kuchiki akan semakin besar…", ujar Rukia dengan malu-malu. "Nii-sama…Di perutku ini, terdapat Byakuya kecil…"
Mendengar hal itu, Ichigo dan Byakuya terkejut. Byakuya yang mendengar hal itu merasa sangat senang hingga memeluk Rukia dengan erat. Namun Ichigo, ia malah terdiam terpaku. Kabar itu membuat hatinya semakin hancur berkeping-keping. Rukia yang sangat dicintainya sedang mengandung anak dari musuh terbesarnya. Jika ia membunuh Byakuya sekarang, tetap saja, benih dari Byakuya tidak akan hilang dan membuatnya akan selalu terbayang dengan Byakuya.
"Ichigo…Kau tidak ikut memberi selamat?!", tanya Rukia. Ichigo hanya memberikan senyuman yang sepertinya sangat dipaksakan.
"Ha-Hai, omedeto, Rukia-dono."
Ya…Sepertinya Ichigo memang harus…harus…
Periode Muromachi 1509, Kyoto
Tangisan bayi meronta-ronta dari sebuah kamar yang di tutupi oleh pintu dengan layar shoji. Lentera kecil dengan ukiran bangau sudah menerangi ruangan tersebut dengan cahaya kekuningannya. Seorang wanita dengan bayinya terbaring di sebuah futon yang ukurannya lumayan besar. Di samping wanita itu, ada pengawal yang selalu mendampinginya dengan setia.
"Rukia…Bayimu sangat tampan…Siapa namanya?", ujar Ichigo dengan lembut. Padahal sebenarnya, hatinya mengatakan hal yang lain. Ia ingin sekali membunuh bayi itu secepat mungkin dan mengambil Rukia untuknya.
Rukia menatapnya lembut. "Akito…Kuchiki Akito…", ujarnya sambil mengelus pipi bayi yang masih kemerahan di sampingnya. "Akito?", tanya Ichigo.
"Ya…Akito…Anak lelaki musim gugur…"
Ichigo hanya tersenyum.
Akito-kun…Hidupmu tidak akan lama lagi…
"Kuchiki-sama! Terjadi pemberontakan pada distrik A hingga D. Sebagian dari istana ini sudah terbakar habis. Sebaiknya anda cepat melarikan diri."
Api. Darah. Mayat.
Bergelimpangan dimana-mana sepanjang istana kediaman keluarga Kuchiki. Hampir seluruh istana terbakar. Pemberontakan terjadi sangat besar-besaran. 70% dari wilayah kekuasaannya melakukan pemberontakan dan kudeta. Istana kediaman Kuchiki pun menjadi sasaran. Penggalan kepala sang kepala klan, Kuchiki Byakuya lah yang menjadi incaran utama.
"Kurosaki…Kurosaki…Dia di mana?", tanya Byakuya dengan nadanya yang sedikit menampakkan rasa kekhawatiran. Tangannya memeluk istri dan anaknya dengan erat.
"Kurosaki Ichigo…dia…AAAARRRGGHHH!!..."
Darah memuncrat dari leher salah satu anak buah Byakuya. Tubuh Byakuya terciprat banyak sekali darah saat menutupi tubuh istrinya dan anaknya dari pemandangan yang bisa merusak mental mereka. Leher anak buah Byakuya terpotong, hampir lepas, urat-urat dari daging lehernya terlihat hingga tulangnya juga. Darahnya memuncrat dengan deras. Seorang pria menggunakan topeng putih mengangkat kepala mayat itu dan melemparnya keluar hingga kepalanya benar-benar terputus. Menggelinding masuk ke dalam kolam.
Pria itu berjalan ke arah Byakuya dengan menghunuskan katana hitamnya yang berlumuran darah. Byakuya berdiri mempersiapkan katananya untuk dihunuskan.
"Rukia…Bersembunyilah dengan Akito…", perintah Byakuya.
"Tapi nii-sama…!", jerit Rukia sambil mendekap bayinya erat-erat.
Byakuya menoleh kepada Rukia. Berjalan mendekati Rukia, menurunkan wajahnya, dan mengecup bibir mungil Rukia. "Onegai…", pinta Byakuya. Air mata Rukia berlinang, jatuh ke pipinya dan mengalir deras.
Entah kenapa, pria bertopeng itu langsung menyerang Byakuya. Byakuya menangkis serangannya dengan katananya dan menyeretnya ke luar kamar. Rukia bergegas kabur dari kamar, namun secepat kilat di cegat oleh pria bertopeng putih itu. Katana hitamnya diayunkan dengan sangat cepat, ingin melukai Rukia.
"KYAAAAA…..!!"
Namun serangan itu ditahan oleh Byakuya. Rukia terkjut, hampir tidak bernafas.
"Kuchiki Byakuya…Ternyata memang…itu kelemahanmu.", ujar pria bertopeng itu. Ia berusaha menyamarkan suaranya agar tidak dikenali. Namun Byakuya merasa sangat mengenal suara itu.
"Siapa kamu?", ujar Byakuya dengan dingin. Ia masih menghalangi pria bertopeng itu untuk melukai Rukia dan anaknya.
"Nii-sama…", panggil Rukia dengan rasa takut. Byakuya melirik sebentar ke arah istri dan anaknya, namun tanpa ia sadari, pria bertopeng itu menendang pinggangnya dengan keras hingga terdengar suara 'krek' pada pinggangnya itu. Ia terlempar jauh dan membentur dinding hingga tak sadarkan diri. Kenseikannya hancur dan kepalanya mengeluarkan darah.
Rukia berlari ke arah Byakuya namun dicegat lagi oleh pria bertopeng itu. Pria itu mengambil bayi Rukia secara paksa, namun Rukia berusaha menahan buah hatinya dengan sepenuh tenaga. Meski begitu, kekuatan Rukia tidak sebanding dengan kekuatan pria bertopeng itu. Akhirnya, bayi milik Rukia berhasil direbut.
"To-Tolong…Kembalikan Akito…Apa yang kau inginkan darinya…?", pinta Rukia, memelas. Pria itu mengarahkan katana hitamnya yang penuh darah ke arah Akito yang sedang menangis meraung-raung karena dipisahkan dari Ibu dan ayahnya. Pria bertopeng itu merasa kesal mendengar tangisan dari Akito. Ia menebaskan katananya ke leher Akito hingga darah bayi itu tumpah ke wajah ibunya sendiri. Bayi itu berhenti menangis, mati dalam sekejap.
"A-Akito?", ujar Rukia pelan. "TIDAAAKKKK!!!AKITO!!!!"
Air mata Rukia berhamburan, tangannya menggapai-gapai mayat bayi di tangan pria bertopeng itu. Pria bertopeng itu kemudian melemparkan mayat bayi itu keluar hingga membentur sebuah pohon dan kepalanya retak, memperlihatkan sedikit isi kepalanya.
"AKITO!!!", teriak Rukia. Ia sudah tidak mampu berdiri lagi. Tak di sangka, pria itu mengulurkan tangannya kepada Rukia, mengajaknya untuk bangkit.
"Hime…Ikutlah denganku…Jadilah pendampingku…", kata pria itu dengan suaranya yang disamarkan. Rukia menatap pria itu, air matanya masih mengalir. Ia menepis uluran tangan pria itu.
"KAU SUDAH MEMBUNUH ANAKKU, SIALAN!! KAU! KAU HARUS MATI!! TIDAK MUNGKIN AKU MENIKAH DENGANMU, PEMBUNUH!! JANGAN PERNAH BERHARAP!!!", ujar Rukia dengan suara keras.
Pria itu mendesah. "Aaah…Jika begitu…Kau harus mati!", kata pria bertopeng itu sambil mengangkat katananya seakan ingin menebas Rukia. Katananya diturunkan mendekti Rukia. Namun ternyata, Byakuya tiba-tiba berdiri di depan Rukia dan menjadi tameng bagi istrinya itu. Darah memuncrat ke kimono furisode Rukia dari tubuh Byakuya yang terbuka karena tebasan pedang milik pria bertopeng itu.
Dengan bejatnya, pria itu masih menusukkan katananya ke jantung Byakuya berulang kali.
"Nii-sama…! CUKUUP!! KUMOHON!!!...NII-SAMA!!...TIDAAKK!!"
Byakuya, terjatuh, tersentak keras. Kepalanya mengeluarkan darah, jantungnya tertusuk. Namun, ia masih bernafas, ia membuka matanya perlahan, melihat ke arah gadis yang tersungkur di depannya dan menangis.
"Rukia…" Panggilnya dengan suara pelan. "Larilah…lari…selam-..atkan…dirimu…", pinta lelaki itu dengan suara yang sangat pelan. Nafasnya mulai sesak, ia mulai tidak kuat untuk membuka matanya lebih lama lagi. Iapun menghembuskan nafas terakhirnya.
"BYAKUYA NII-SAMAAAA!!!"
Gadis yang bernama Rukia itupun menangis sejadi-jadinya. Menatap pembunuh itu dengan kebencian. Kimono furisode yang dikenakannya juga sudah sangat lusuh, penuh dengan darah kakaknya-bukan, suaminya. Dengan penuh keberanian, Rukia mengambil pedang suaminya, dan mengarahkan pedang itu ke arah pembunuh suaminya.
"KU BUNUH KAU!!!"
Rukia mulai menyerang pria itu dengan asal-asalan. Pria itu menghindar dengan mudahnya dari serangan Rukia, namun Rukia tidak lelah samasekali menghadapi pria itu. Ayunan pedang milik suaminya masih berusaha untuk melukai tubuh pembunuh itu.
"KAU SUDAH MEMBUNUH NII-SAMA DAN AKITO!!! KAU HARUS MATI!!!"
Rukia menusukkan pedang itu ke jantung pria itu, namun dengan mudahnya, pria itu menghindar. Pria itu kemudian menebaskan pedangnya yang hitam ke leher Rukia, memutuskan nadinya. Rukiapun langsung terperosok ke bawah dan terbaring lemah di samping mayat suaminya.
"Ka…Kau…"
Pria itu berjalan mendekatinya. Memandang Rukia. Kemudian ia melepaskan topengnya, menampakkan wajah aslinya di depan Rukia. Rukia melihatnya dengan samar-samar. Mata musim gugur dan..rambut oranye, serta pedang hitam. Setelah melepas topengnya, pria itu meninggalkan Rukia yang masih dalam kondisi mengkhawatirkan.
"Aku…tidak…akan me-..maafkanmu…A-…Akan kucar-i..kau…dan…ku bunuh kau-…hingga…keturu..nan…mu…"
Mata Rukia masih terbuka lebar. Nafasnya berhenti. Namun, matanya masih terbuka dan…mengeluarkan tangisan darah. Di terangi cahaya bulan dan turunnya salju, seorang wanita terbaring, menangis darah, di dalam ruangan yang penuh darah orang yang sangat dicintainya.
Periode Meiji 2009, Tokyo
"Kurosaki-kun!", panggil seorang gadis dengan dada yang sangat besar dan rambut oranye yang terurai panjang. Pria yang dipanggil Kurosaki itu menoleh padanya. Rambut pria itu berwarna oranye juga, sama dengan rambut gadis itu, hanya saja warnanya lebih terang, seperti jeruk.
"Ah, Inoue. Ada kabar apa lagi?", tanya pria yang bernama Kurosaki itu.
"A-Ano…Kata Ishida-kun, ada lima pemuda yang hilang di tengah kabut di bagian Kyoto utara, namun, salah satu dari mereka berhasil kembali dalam kondisi kejiwaan yang sangat parah. Dia bilang ada suatu istana angker yang banyak sekali mayatnya dan seorang gadis cantik yang masih hidup. Padahal, Ishida sudah mencari-cari istana itu, namun tidak ditemukan.", kata gadis yang bernama Inoue.
Pria berambut oranye itu diam sejenak. "Kasus ini…Sudah terjadi selama berberapa tahun silam. Ini harus segera dihentikan. Inoue! Beritahu Ishida bahwa kita akan berangkat ke Kyoto besok.
Chariot330 : Wah-wah…Ternyata saya bisa juga toh bikin cerita yang rada bloody. Hehehe…
Ichigo : Naikin rate-nya jadi M dulu! Terus kenapa aku kejam banget?! Masa aku sampe tidak berprikeIchigoan gitu?!
Chariot330 : Yaah…Cuma bikin Rukia jadi dendam kesumat aja gitu…
Rukia : Dasar author psikopat. Trus kenapa prolog ma ceritanya beda?
Chariot330 : Yah, kan prolog Cuma bikin penasaran tenang aja, ini bukan ByaRuki kok…Habis ini IchiRuki. Sekarang bales review dulu ya!
Yumemiru Reirin : Iya nih. Nggak tau kenapa jadi suka sama yang bloody. Udah dinaikin ke M kok. Masih kurang sadis kah?
BinBin-Mayen Kuchiki : Kenapa? Ya…Biar Rukia bisa dendam sama Ichigo. He-em *ngangguk*. Iya, IchiRuki nih..Tapi tenang aja, kayaknya aku bakal upload fic ByaRuki baru deh…
Ruki_ya : Udah ni…
kazuka-ichirunatsu23 : Kenapa Ichi bunuh Rukia? Ya, kan Rukia nolak tawarannya Ichigo buat sama dia.
Sapphire09 : Baca aja ndiri, phire! Kalo ku ceritain ntar nggak seru..
Kuchiki Rukia-taichou : Makaciii *meluk2-dilempar*. Sudah diapdet nii!
NaMie AmaLia : Sudah diapdet…
kishina nadeshiko : hmm…hmm..anda benar sekali…makasih….udah di apdet nieh!
RodeoHyorinmaru : Iya! Ichi pembunuh! Sudah di apdet nih!
Jess Kuchiki : Sudah di L-Lanjutkan
shiNomori naOmi : Iyalah…Rukia yang gentayangan…Kan dia yang dendam…Sudah diapdet nee-san!
Kuro Shiro6yh : Sudah diapdet!
verga : Apanya yang mana?? Sudah dilanjutin nih…
Chariot330 : Gomen ne, para penggemar IchiRuki…IchiRukinya lum bisa keluar sekarang…Aku malah masangin Rukia ma Byakkun…Soalnya kalo ma Renji, renji kan bukan bangsawan. Tapi ni fic insyallah kedepan nggak akan ada Byaruki-nya lagi. Jadi mohon tetap mereview jika ingin membuat saya semangat melanjutkan fic ini..
Ichigo : Mohon tekan tombol ijo2 di bawah ya!
