KuroBasu (c) Tadatoshi Fujimaki
See (KnB) ch. 2 © Calico Neko
Chapter ini dalam format kumpulan drabble yg berdasarkan pada kisah nyata penulis
.
.
1
Si pirang, Ryouta, asyik bermalas-malasan di atas ranjang sambil ditemani sebuah komik dan alunan musik rock. Pasalnya Seijuurou mengajak jalan-jalan Tetsuya yang seharian merengek minta ditemani keluar, sehingga sendirilah dia berada di rumah mereka yang kali ini bergaya sangat sederhana.
Pintu kamar Ryouta tidaklah pernah tertutup, selalu dibiarkan terbuka dengan alasan agar udara segar masuk. Oleh karena itu, satu-satunya hewan peliharaan mereka, kucing jantan berwarna coklat yang mereka namai Kouki, bisa masuk dan keluar kapan pun.
Terlihat dari sudut matanya Kouki memasuki kamar bercat biru muda tersebut. Melihatnya Ryouta jadi ingat kalau belum memberi makan si kucing.
"Kouki, mau makan?"
Pertanyaan Ryouta tak digubris. Biasanya dia akan langsung menatap siapapun majikan ataupun manusia lainnya dengan matanya yang menyorot tajam. Si kucing memang menatap ke arah tempat tidur dimana Ryouta berbaring, namun dia tak menatap Ryouta, melainkan ke bagian dekat kaki Ryouta.
Penasaran, Ryouta mengalihkan kepalanya ke bagian tersebut. Tentu saja hanya ada lemari pakaian di sana.
"Ada apa, ssu?"
Rupanya sang kucing sudah naik ke atas tempat tidur, duduk manis dan melipat ekornya dengan gerakan gemilau di samping tungkai belakangnya.
"Lihat apa sih? Ada cicak? Enggak boleh. Cicak bukan untuk dimakan, ssu."
Kouki fokus, masih tak memedulikan Ryouta yang telah bangkit dan duduk di hadapannya. Terlihat pupil coklat si kucing melebar, seperti bila gelap telah menyambut atau bila sang hewan merasa senang.
"Ih~, lihat apa, ssu?"
Gemas, Ryouta menangkup pipi sang kucing, memaksa dia untuk menatap sang majikan.
Hati Ryouta mencelos.
Bola mata siapapun itu seperti cermin, memantulkan. Dan dari bola mata berpupil lebar si kucing itulah Ryouta dapat melihatnya dengan jelas.
Sesuatu yang Ryouta yakin tak dia lihat tadi, namun terlihat sangat jelas melalui pantulan mata Kouki.
Sosok bergaun putih, berambut awut-awutan warna hitam panjang dan menutupi seluruh wajah, tengah berdiri diam tepat di samping lemari pakaian.
2
Jangan pernah mengguncing, menghina, berkata kasar kepada siapapun.
Kalimat itu selalu Seijuurou tanamkan pada kedua adik manisnya.
Namun ada kalanya dia sendirilah yang lupa, secara tidak sadar berkata tak baik.
Siang menjelang sore Seijuurou mengajak jalan-jalan Tetsuya berkeliling komplek. Seijuurou berjalan santau mengenakan sendal jepit, Tetsuya mengayuh sepeda roda tiga-nya.
Kalau sudah bermain Tetsuya itu sering lupa waktu. Ratusan meter mungkin dapat dia tempuh dengan tubuh anak-anak usia tiga tahunnya kalau dia mau. Bila sudah seperti ini, baik Seijuurou maupun Ryouta biasanya sudah mengantuk-ngantuk menunggui sambil duduk di atas tempat sampah tetangga.
"Tetsuya, ayo kita pulang. Sudah sore."
Tetsuya menolak dengan mengayuh sepedanya menjauh. Untunglah mereka berada di jalan buntu, tak perlu khawatir tersesat ataupun kendaraan.
"Tetsuya."
Panggilan sang kakak masih tak diindahkan. Tetsuya justru terlihat makin senang bermain, bulak-balik mengayuh sepedanya dalam alur yang sama.
"Tetsuya, kalau enggak pulang nanti yang di dekat pohon marah loh."
Di sisi jalan buntu tersebut memang kebetulan ada sebuah pohon mangga yang ditanam oleh salah seorang warga RT di sana. Dipasang pula sebuah ayunan di salah satu dahan terkuatnya untuk dipakai bermain anak-anak ataupun mereka yang hendak bergalau ria.
Mendengar perkataan sang kakak, Tetsuya menurut. Dia mengayuh sepeda mendekati Seijuurou yang sudah bangkit dari duduk di atas tempat sampahnya dan memberi pandangan terakhir ke arah pohon.
"Seijuurou-nii, kakek kayaknya marah."
Tak mengerti apa yang dimaksud, Seijuurou menuntun Tetsuya menuju ke rumah mereka yang terletak dua belokan dari RT ini. Waktu pun sudah menunjukkan pukul 16.42, terbilang sore untuk usia Tetsuya.
Berjalan dengan tempo biasa, mereka melewati belokan pertama.
Di tempat inilah Seijuurou melakukan tindakan konyol yang nyaris tak pernah dia lakukan.
Tak ada batu ataupun polisi tidur, dia jatuh ke depan. Telapak tangan dan lutut dengan indahnya bergesekan dengan aspal, membuat jalur berdarah di bagian tersebut. Celana jeansnya saja sampai sobek, padahal celana tersebut terbilang tebal.
Seijuurou bangkit sambil meringis sakit. Untung hanya ada Tetsuya, kalau tidak pasti sudah double malu.
Akan tetapi, justru perkataan Tetsuya setelahnyalah yang membuat jantung Seijuurou berlari.
"Tuh kan, udah Tetsuya bilang kalau kakeknya marah."
Telunjuk kecil Tetsuya menunjuk ke arah tiang listrik yang terletak tepat di sebelah posisi Seijuurou terjatuh.
Tidak ada siapa-siapa. Seijuurou tidak menemukan apapun selain tiang listrik yang berdiri kokoh.
Akan tetapi ada sekelebatan sosok yang secara tiba-tiba muncul di pikiran sang kakak tertua.
Seorang kakek-kakek berwajah kesal, mata mendelik lebar dan marah, berpakaian khas adat Jawa lengkap dengan blankon di kepala, serta membawa tongkat penyangga tubuh yang biasa dibawa oleh beliau-beliau yang tak kuat berjalan atau berdiri lagi; tengah berdiri agak bungkuk menghadap Seijuurou.
"Tadi Seijuurou-nii dijegal pakai tongkatnya kakek."
A/N: Terima kasih sudah membaca. Feedback, please!
