Yeiii, akhirnya updateee! \(^^)/ jadii, kali ini hanya semacam pengisi antara chapter, jadi semacam tidak terlalu penting... tapi baca! Karena akhirnya Claire dan Skye ketemu secara normal! (di Goddess Pond)
Umm...
Disclaimer: saya tidak memiliki Harvest Moon, hanya plot cerita ini.
Aku bangun dengan mata yang capek. Begadang menonton Phantom itu menghibur, tapi sangat tidak baik untuk mataku. Aku menyeret diriku sendiri ke dapur dan membuat kopi. Aku juga membuat makanan Comet, tapi dia belum datang-datang juga. Huh, dasar kucing malas.
Selama setengah jam aku menikmati kopiku dan berusaha untuk tidak jatuh tertidur. Comet pun datang dan melahap habis makanannya, lalu berbaring di dekat kakiku. Kucing yang lucu, tapi teteap saja, malas.
Setelah sarapan—makananku adalah nasi dan lauk sayur tumis—aku langsung mencari-cari baju untuk dipakai hari itu, dan aku pun memilih sebuah kaus polos berwarna hitam dan celana berbulu coklat. Sebagaimanapun aku menyukai celana pendek, aku akan mati kedinginan bila kakiku dibiarkan terbuka dan ditampar oleh angin musim gugur. Setelah mandi, aku langsung memakai jaket hitam berbuluku, dengan ujung lengan berwarna ungu. Aku pun segera berjalan keluar.
Angin dingin musim gugur menyambut wajahku yang memerah karena kedinginan. Aku langsung mulai mengambil penyiramku dan mulai menyiram tanaman ubi manis yang sudah hampir siap dipetik itu, dengan sedikit titik-titik hijau menghiasi ujung-ujungnya. Ada juga bawang, paprika, terung dan wortel, juga bunga MagicGrass, yang akan kupanen untuk diawetkan. Kuncup bunga terdapat 3 biru dan 2 merah. Meskipun tidak besar, lahan sebesa cukup untuk menumbuhkan makanan sendiri, dan aku masih bisa mencuri susu dan telur dari kota, hanya 15 menit berjalan.
Begitu selesai, aku meletakkan penyiramku kembali dan masuk ke dalam rumahku, dengan cepat berlari ke depan perapian dan dengan cepat menyalakan api, membuat Comet datang dan berbaring di depan diriku yang juga sudah berbaring . Diundang oleh kehangatan yang di buat oleh perapianku, aku pun kembali jatuh tertidur.
Aku terbangun karena api yang mulai padam membuat Comet melompat ke atas sofa yang penuh dengan selimut, berusaha mencari kehangatan di dalamnya. Aku hanya tertawa dan mengambil beberapa kayu dari peti besi beberapa meter di samping perapian. Karena apinya belum sepenuhnya padam, aku hanya meniup pelan ke arah kayu yang memiliki warna kemerahan, memasukkan kayu, dan menikmati api yang mulai menyala kembali. Aku baru menyadari bahwa hari sudah gelap, dan aku tidak merasakan kantuk sedikitpun, terima kasih karena tidur tadi.
Aku mengerang dan mengambil mantel hitamku, sadar bahwa aku tidak akan bisa tidur. Setelah memakai sepatu boot-ku dan memakai sarung tangan, aku pun meninggalkan rumah, beserta Comet yang sibuk bermain bola benang di depan perapian. Dasar.
Aku berjalan santai, menikmati langit malam yang ditaburi oleh bintang-bintang yang bersinar terang malam ini, dan bulan purnama yang menyediakan cukup cahaya untuk jalan tengah malamku ini. Aku mengeluarkan bantalan hangat dan memasukkannya ke dalam mantelku.
Aku hanya berjalan-jalan, berputar putar sambil mencari lokasi baru, karena kupikir mansion itu memang mewah, tapi cuma berisi berlian dan perlengkapan berharga lainnya. Mewah, tapi tidak berguna. Tapi aku menyukai barang mewah, jadi mungkin aku akan mengunjunginya dan me'lihat-lihat' isinya.
Setelah beberapa jam memutari desa kecil itu, tujuan terakhir adalah Goddess Pond. Mungkin melemparkan bunga untuk persembahan untuk menanyakan kabar Vivi.
Dan yang sedang duduk di samping Goddess Pond itu bukanlah orang yang begitu menyenangkan untuk ditemui.
Skye.
Ugh, memikirkan namanya saja sudah membuatku ingin muntah. Orang itu adalah phantom—sama sepertiku, tapi kita sama sekali berbeda. Dia hanya mencuri benda yang dia inginkan, sedangkan aku mencuri apa yang aku butuhkan, ditambah dengan beberapa aksesori dan furnitur kecil.
Tapi, tetap saja.
Sial, sepertinya dia menyadari keberadaanku. Dia segera berbalik dan tersenyum dengan senang melihatku. Bagiku, dia hanya tertarik padaku karena aku tidak tunduk pada wajahnya yang tampan (mengarah ke cantik, ugh) dan kemampuannya untuk merayu wanita. Aku hanya mendesah dan berjalan mendekat, duduk setidaknya 2 meter dari phantom itu, dan terdiam.
"Wah, sepertinya kau bukan tipe yang sering bicara," katanya sambil berusaha tersenyum se'tampan' mungkin, "Aku menyukai itu."
Sekali lagi, aku mendesah sambil memetik bunga terdekat, yang sepertinya adalah bunga MagicGrass biru, dan memutar-mutarnya di tanganku. "Kau tahu," aku memulai, "kalau kau berharap untuk menaklukkanku, jangan berharap terlalu banyak." Aku melempar bunga itu ke dalam kolam.
"Kenapa aku harus—wow." Katanya sambil melihat apa yang aku lihat. Tempat dimana bunga itu mendarat di air mulai mengeluarkan cahaya biru pucat yang semakin terang, lalu cahaya itu tersusun menjadi wujud Harvest Goddess.
"Maaf." Kataku sambil berkonsentrasi, lalu aku menjentikkan jariku. Lelaki itu sepertinya sedikit panik, lalu kembali tenang.
"Heh, sepertinya kau tidak ingin pembicaraanmu didengarkan oleh orang lain." Katanya sambil tertawa kecil. Ugh, mengerikan.
Aku berbalik ke Harvest Goddess dan mulai berbicara. "Harvest Goddess, bisakah kau memberitahuku keadaan Vivian Antoinette?" tanyaku. Rasanya aneh sekali menyebutkan nama lengkapnya, tapi itu harus dilakukan agar informasi Harvest Goddess tidak salah.
"Hmm... baiklah." Katanya. Dia menutup mata sejenak, dan kembali membukanya. "Dia baik-baik saja." Kata-kata itu membuatku lega. Sudah lama aku tidak mendengar kabar dari Vivi. Dia adalah teman baikku, dan yang melatihku menjadi sorang phantom. Tapi karena hari itu...
"Tapi tempatnya tidak kuketahui." Katanya sambil menyentuh dagunya. "Dia sepertinya sedang memasang sebuah pelindung yang akan menyembunyikan keberadaannya."
"Tidak apa-apa, yang penting dia sehat." Aku tersenyum lega. "Terima kasih."
"Sama-sama." Dan dengan satu cahaya terang, dia pun menghilang. Setelah beberapa menit, aku pun menjentikkan jari.
"...Halo, halo? Ah, pendengaranku sudah kembali lagi." Kata Phantom itu sambil tersenyum. "omong-omong, aku tidak tahu kau bisa tersenyum seindah itu, sama indahnya seperti..." aku memotong kalimatnya dengan kasar.
"Dengar, Skye, kan? Aku tidak punya waktu untuk meladenimu sekarang. Aku butuh tidur, tidur yang sangat banyak, jadi kusarankan tidak menggangguku saat aku sedang ingin tidur." Kataku sambil berdiri dan membersihkan rumput yang menempel di pakaianku. Hei, panggil aku kasar, tapi dia memang menyebalkan.
"...Ooh." katanya, terdengar sedikit kecewa. "tidak apa-apa. Pokoknya ingat saja, kalau kau membutuhkanku, aku selalu berada di kolam ini tiap jam 10 malam." Katanya sambil mengedipkan sebelah matanya. Huek.
"ya, ya, ya..." kataku sambil berjalan pergi.
"...gadis yang menarik." Kata Skye setelah Claire sudah pergi jauh.
Aku dengan cepat mengganti bajuku, mencuci muka, memadamkan perapian lalu melompat ke atas tempat tidurku, dengan Conet mengekor tidak jauh di belakang. Begitu melihat kucing itu setengah tidur, aku tidak bisa menghentikan diriku untuk tersenyum.
"Kucing aneh," kataku sambil tertawa kecil, "selalu bisa membuatku tersenyum."
Dan dengan itu, aku meniup lilin yang menjadi satu-satunya sumber cahaya ruangan itu, menenggelamkan diriku dalam kegelapan yang anehnya, menenangkan.
Gimana? Gimana? Mungkin agak random dan gaje, tiba-tiba muncul Vivi dan sebagainya. tapi, itu karena saya sudah menyiapkan cerita chappie 3, jadi agak berantahkan -"
dan jangan lupa...
RnR!
