All Charas is belong to Madam Rowling. I just own the plot.

Blurry Bride © sparkyus, 2013.

Enjoy!

.

.

Hembusan angin terasa meniup wajahnya dengan damai. Samar-samar gerutuan yang terkadang disertai dengan umpatan tak sopan merasuk ke dalam kedua telinganya, membuatnya akhirnya menyerah untuk tetap terlelap dan membuka kedua mata secara perlahan.

"Oh. Kau sudah bangun. Bagaimana? Tidur dengan nyenyak, Tuan Putri yang Terhormat?"

Ucapan sinis nan sarkatis itu langsung menyambut Hermione Granger saat ia sudah merasa sadar sepenuhnya. Sambil berusaha bangkit dari kasur berukurang king size dan berseprai kain satin mewah itu, mata cokelat madu yang nyaris tidak bisa diam langsung menangkap adanya sosok lain yang duduk di samping tempat tidurnya.

Tunggu.

Hermione mengernyitkan kening, lalu memandang sekeliling. Kamar ini sangat luas, dengan cat berwarna abu-abu yang melapisi setiap sisi dinding. Berbagai peralatan mewah menghiasi seluruh sudutnya, mulai dari tv plasma berukuran 37 inch, meja belajar dari kayu jati yang berbentuk seperti huruf L, sofa berwarna hitam yang terlihat sangat nyaman dan karpet beludru yang menutupi lantai marmer dingin dibawahnya.

Ini bukan kamar tidurnya.

Kalau ia tidak salah ingat, kamarnya tidak seluas ini. Catnya pun berwarna soft orange, ranjang yang hanya dilapisi seprai katun berwarna kuning lembut, dan tiga rak buku besar yang menjadi pengganti dari tv plasma tersebut.

"Maafkan Hamba, Tuan Putri. Hanya ini yang tersedia di kamar Hamba."

"Siapa kau? Kenapa aku ada di sini?"

"Seharusnya aku yang bertanya begitu, Tuan Putri." Jawab sosok itu, masih dengan sarkatis. Bibirnya berkedut menahan kekesalan yang bisa meledak kapan saja.

"Ah," sekelebat kejadian tentang kaburnya Hermione Granger saat berada di altar pernikahan membuat gadis itu teringat bahwa sosok itu adalah sosok yang turut ditariknya saat kabur menghindari puluhan intelek bodoh. Ia tersenyum malu, "Maaf. Namaku Hermione Granger, dan kau, Mr―?"

Hermione mendadak berhenti berbicara. Ia mendongak dan langsung membeku. Sepasang permata abu-abu itu seakan mengunci matanya. Sosok itu berjenis kelamin laki-laki, dan sangat sangat tampan. Wajahnya terlihat begitu sempurna―walau kulitnya putih pucat seperti vampir. Rambut pirang-platinanya yang sedikit panjang itu tampak berantakan, menambah kesan seksi karena laki-laki itu tengah memakai t-shirt berwarna putih polos yang menampilkan bentuk ototnya secara samar.

"Terpesona padaku, Tuan Putri?"

Wajah gadis itu langsung merah padam. Ia mendelik ke arah sang pemuda lalu mengalihkan wajahnya. "Tidak! Aku tidak akan pernah terpesona pada laki-laki sepertimu!"

Pemuda itu tersenyum dingin. "Setidaknya berterima kasihlah pada rakyat jelata yang telah menyelamatkan nyawamu ini, Tuan Putri."

"Jangan panggil aku Tuan Putri! Aku bukan Tuan Putri-mu."

"Lalu apa? Berang-berang?"

Hermione mendelik lagi. Sialan, pemuda ini sungguh menyebalkan. Apa begini sikapnya pada seorang gadis, huh?

"Tidak Berang-berang, Ferret Albino!"

"Apa?!"

"Jika kuperhatikan baik-baik, ternyata wajahmu mirip sekali dengan Ferret, Sir. Ha ha ha."

"Inikah ucapan terima kasih dari seorang gadis bergigi Berang-berang, huh?"

"FERRET SIALAN!"

"Jaga bicaramu, Berang-berang. Ingat, kau sedang berada di rumah penolongmu."

"Jangan salah, Ferret! Seharusnya attitude-mu lah yang harus kau perbaiki!"

"Tahu apa kau tentang diriku, Nona-Sok-Tahu?!"

"Aku―"

Suara ketukan pintu otomatis menghentikan perdebatan mereka berdua. Hermione mengatupkan bibirnya dengan wajah merah―kali ini karena emosi berat. Sedangkan pemuda berambut pirang-platina itu menggerung kesal.

"Ada apa?!" sentaknya yang langsung membuat Hermione sedikit mengkeret.

"Maaf, Tuan Muda. Tapi, Tuan Muda Draco dipanggil oleh Tuan dan Nyonya Malfoy di ruang keluarga sekarang. Tuan Muda Draco diharapkan untuk hadir dan tidak mangkir seperti biasanya."

"Sialan. Ada apa lagi dengan dua orang sok sibuk itu?!"

Hening. Hermione tidak berani berbicara sepatah katapun. Menurutnya ini adalah masalah intern keluarga, dan ia sebagai orang luar samasekali tidak berhak untuk ikut campur. Bahkan gadis itu mengangguk pelan saat pemuda yang ternyata bernama Draco Malfoy itu menyuruhnya diam dengan matanya yang tajam.

Jangan bersuara sama sekali!

.

.

Draco Malfoy hanya mampu menatap bosan pada dua orang yang sudah membesarkannya itu. Sesekali ia menguap secara terang-terangan, hanya untuk menunjukkan bahwa ia sudah bosan san san san! Ini sudah terlalu klise―kedua orang tuanya akan pergi ke satu negara dan kembali dengan membawa calon istri penerus klan Malfoy satu-satunya itu.

Calon istri!

Pemuda itu berusaha untuk tidak memutar kedua bola matanya. Calon istri? Bah. Sepertinya kedua orangtuanya itu tidak akan berhenti mencarikannya seorang kekasih walau Draco sudah menolak sampai mulutnya berbusa-busa.

"―Aku dengar namanya adalah Azalea Korskhov. Bukankah begitu, Lucius?

Lucius Malfoy tersenyum tipis, walau tatapan matanya sedingin es. Kadangkala Draco sendiri sering merinding jika bertabrakan mata dengan permata abu-abu yang sama dengannya itu. Sang Malfoy Senior terlihat menyeramkan. Dan ia sebisa mungkin tidak mau berurusan dengan ayahnya sendiri.

"Mother, bukankah aku sudah mengatakan ini berkali-kali―aku tidak mau di jodohkan! Aku bukan anak kecil, Mother. Aku sudah dewasa. Dan kurasa aku sudah mampu untuk memilih mana yang terbaik untuk diriku sendiri."

Raut wajah Narcissa Malfoy berubah terkejut, juga sedih. "Mother hanya ingin kau bahagia, Son."

"Tapi jika begini caranya, yang ada aku semakin tidak bahagia, Mother!"

"Draco."

Draco langsung mengkeret begitu suara dingin Lucius menyela. Ia menunduk sedikit. "Maaf." Gumamnya sambil mengumpat dalam hati. Sial. Memang lebih baik jika membahas hal seperti ini saat laki-laki tua itu melemburkan diri di kantor, gerutunya dalam hati.

"Ya. Tapi Mother ingin kau segera menemui―"

"―Yayaya. Sampaikan salamku untuk Aulia Korsev―entah siapa itu, Mother. Aku ingin kembali melanjutkan tidurku."

"Azalea Korskhov, Draco."

"Terserah. Yang penting aku ingin pergi tidur sekarang."

.

.

Hermione menatap prihatin pemuda yang tengah mengacak rambut pirang platinanya itu. Otak cerdasnya berputar dengan cepat, membuat hipotesa apa yang sekiranya menjadi sumber kegalauan hati seorang Draco Malfoy. Gigi depannya yang sedikit besar terlihat menggigit bibirnya sendiri, ikut merasa gundah gulana.

"Kau bisa bercerita jika kau mau,"

Sepasang mata yang sedingin es itu langsung melayang menuju sang gadis, berusaha membuat gadis itu mengerti bahwa ia tengah melemparkan penolakan habis-habisan. "Yang benar saja. Kau menyuruhku untuk bercerita pada orang yang tidak dikenal? Terima kasih banyak, Berang-berang."

Hermione memutar kedua bola matanya. "Bukankah aku sudah―"

"―Sudah? Sudah apa?" sela Draco dengan jengkel. "Ha! Kau belum mengenalkan dirimu samasekali padaku,"

"Baiklah, Tuan Ferret Albino yang Terhormat! Perkenankan Hamba untuk mengenalkan diri Hamba." Tukas gadis bermata hazel itu dengan ketus. "Hai! Perkenalkan, namaku adalah Hermione Jean Granger. Aku berumur 20 tahun, tercatat sebagai mahasiswa di Harvard University jurusan Fisika-Kimia. Aku tinggal di salah satu apartement yang ada di Tottenham Road. Salam kenal, Mr. Malfoy!"

Draco menguap lebar-lebar. "Kau memperkenalkan diri atau mendongeng, sih?"

"Kurang ajar," desis Hermione sambil melotot. Kalau saja ia tidak ingat bahwa pemuda congkak ini yang menolongnya, maka ia akan―

Kedua alis tebalnya berkerut. Oh ya, omong-omong tentang pemuda-congkak-yang-menolongnya ini, ia jadi ingat kembali tragedi hari kemarin. Hermione menunduk, menatap t-shirt berwarna abu-abu yang kebesaran serta celana pendek yang di kenakannya saat ini. Nah, nah. Dimana gaun pernikahan sialan itu sekarang ?!

"Malfoy!"

"Hn."

"Kau―kau―dimana gaun pernikahanku?"

Seulas seringai muncul begitu saja di wajah Draco Malfoy. Ia menoleh dari ponsel keluaran terbaru yang ada di tangannya dan menatap Hermione dengan tatapan menggoda sekaligus geli. "Kau kira?"

"Dan―Demi Tuhan, siapa yang mengganti bajuku?"

"Baru sekarang kau menyadarinya?"

"MALFOY! Aku tidak main-main, Ferret!"

"Kau kira aku main-main?"

Cokelat madu bertemu dengan abu-abu. Keduanya sama-sama memancarkan aura yang tidak mau kalah. Apalagi Hermione, kedua matanya seakan mengobarkan api yang besar. Namun semakin lama api tersebut semakin padam, dan tatap-menatap itu di menangkan oleh Draco Malfoy dengan telak.

Oh well, tentu saja. Siapa yang tidak berdebar jika di tatap dengan intens oleh pemuda tampan seperti dia?

Wajah Hermione Granger memerah.

Draco Malfoy menyeringai. "Oke.. aku akan memberitahu semuanya, termasuk dimana gaun pernikahanmu dan siapa yang mengganti pakaianmu. Tapi sebelum itu, coba ceritakan apa yang terjadi dengan dirimu sehingga tampak menyedihkan seperti ini."

"Aku tidak menyedihkan!"

Pemuda itu memutar kedua bola matanya. "Cerita saja, Berang-berang."

Hermione menatap Draco yang kembali memainkan ponsel itu dengan tatapan menilai. Entah kenapa, ia merasa bahwa pemuda ini dapat di percaya. Yah, walau mulutnya memang harus di sekolahkan terlebih dahulu.

"Baiklah, aku akan bercerita."

.

.

Nah, hai hai.

Makasih ya udah nge-review fanfic ini, aku kaget begitu tau kalo banyak yg review, follow sama fav. Kirain gaada soalnya kan ini fanfic dramione pertama ku hehe. Oh ya, soal yg ga ada disclaimer, aku bener-bener minta maaf. Waktu itu aku lupa-v dan sekarang disclaimer nya udah ada kok hehe. Makasih yaa buat kritik sarannya, kalo bisa tambahin lagi hehe. Jgn lupa review yaaa see u soon!