Kematian.

Hal tak terelakkan yang akan terjadi pada semua makhluk yang bernapas dan punya jantung yang masih berdetak. Hal yang harus terjadi pada semua makhluk yang mengklaim diri mereka hidup, tanpa kecuali. Satu hal di mana tak satupun makhluk hidup punya hak untuk menghindari.

Karena itulah mereka ada. Mereka yang tujuan hidupnya adalah memastikan tak ada satupun insan yang bisa lolos dari kematian.

.

Tanah itu disekop dan dilemparkan ke lubang, kian menutupi peti mati putih bersih yang diletakkan di dalam. Mengubur seorang dokter muda berkewarganegaraan Malaysia, selamanya. Namun, hanya sedikit orang yang tahu bahwa mayat di dalam peti itu semasa hidupnya lebih dari sekedar seorang dokter muda. Bahwa kematian satu orang itu merupakan satu bagian dari rencana besar yang hanya diketahui segelintir manusia.

Termasuk dia, yang tengah mengamati semuanya dari kejauhan. Dalam jarak aman dari lingkaran pelayat yang mengunjungi upacara pemakaman.

Pemuda tinggi berjas lengkap itu bersandar di pohon di areal luar pemakaman, melipat tangan dan tidak melepas pandangan dari rombongan yang sebagian besar masih terisak. Tidak begitu banyak; hanya beberapa kolega yang kemungkinan besar rekan kerja, rombongan ibu-ibu yang ditebaknya sebagai pasien setia atau pengagum rahasia, dan beberapa pria berjas yang tampak seperti tokoh penting masyarakat.

Sebagian besar orang mungkin mengira pria-pria berjas itu sebagai pasien sang dokter. Namun tentu saja, Sanjoyo Setiabudi tahu lebih baik.

Suara getar di saku jas mengalihkan perhatiannya dari pemakaman. Sang pemuda berkacamata menarik keluar telepon genggam, sedikit menyipitkan mata menatap layar yang menampilkan pesan.

"Setiabudi, pesawatmu sudah siap."

Mata cokelat di balik kacamata itu melirik sekilas nomor sang pengirim, sebelum menyunggingkan senyuman. Berapa kali dia sudah mengatakan untuk memanggilnya dengan sebutan 'Joni' saja...

"ANA734, tujuan Osaka. Berangkat pukul 16:45 dari Kuala Lumpur International Airport, tanpa transit. Begitu mendarat, jangan bergerak dari sana sampai ada perintah selanjutnya. Kau mengerti?"

Manik cokelat itu bergerak cepat ke sudut kanan atas ponselnya; indikator bahwa dia hanya punya kurang dari tiga jam sampai pesawatnya berangkat. Memasukkan ponselnya ke saku, Joni meluruskan punggung dan melempar pandangan terakhir pada makam, tepat ketika nisan sementara tengah didirikan di atas gundukan.

Razak Shaharudin.

Lagi, senyum tipis itu tersungging.

"Beristirahatlah, Malaysia."

.

.

Axis Powers Hetalia © Hidekaz Himaruya

.

Sanjoyo Setiabudi © ry0kiku

.

DEMISE: Concept © Spice Islands

DEMISE: Hiroshima © ry0kiku

.

Historical!AU. Character's death. Blood/gore. OC.

.

.

Agustus, 2011.

Jas lengkap jelas bukan pilihan pakaian yang tepat untuk menghadapi musim panas di negara hemisfer utara, bahkan untuk seseorang dari negara katulistiwa seperti dirinya. Sepuluh menit pertama keluar dari kereta peluru dan pendingin udaranya, Joni langsung menuju butik terdekat dan membeli kemeja semi-formal berbahan tipis sebagai pengganti blazernya yang mulai terasa seperti kompor batu bara. Sambil tak habis-habisnya melempar pandangan heran pada pria-pria berjas lengkap yang lalu lalang di depannya, yang tampak sama sekali tak berkeringat bahkan ketika mereka melangkah terburu-buru mengejar kereta. Salarymen di Jepang seharusnya bisa masuk daftar keajaiban dunia.

Ah tapi, dia datang ke sini bukan untuk membahas fisiologis orang Jepang yang di luar standar. Dia ke sini untuk menghadiri sebuah event yang hanya ada di satu tempat di seluruh dunia.

Hiroshima.

Bahkan dalam kunjungan pertamanya ke Jepang, Joni bisa menebak bahwa untuk standar sang negeri sakura, kota ini termasuk yang paling cantik dan tertata. Perpaduan elemen kuno dan modern ditunjukkan dengan pencakar langit yang berdiri berdampingan dengan kastil tradisional lengkap dengan tamannya, berikut jalur-jalur tram yang membelah kota. Hanya dengan melihat tram-tram itu saja, Joni bisa membayangkan visualisasi hitam-putih kota dengan rumah-rumah kayu dan pabrik di mana-mana, lengkap dengan pekerja berpakaian serupa, pelajar dalam seragam mereka, dan wanita-wanita ber-yukata.

Sulit dipercaya bahwa kota secantik ini dulu pernah rata dengan tanah; dan oleh tangan manusia alih-alih alam.

Ah, itu dia. Salah satu dari tujuannya.

Bangunan itu tampak mencolok di antara landmark kota Hiroshima yang lainnya. Bukan karena bangunan itu paling tinggi atau paling megah atau paling cantik, melainkan karena bangunan itu tampak seperti kerangka gedung yang siap rubuh kapan saja. Satu-satunya bangunan yang masih mempertahankan bentuknya ketika bom nuklir pertama yang digunakan dalam perang dijatuhkan di atas Imperial Japan.

Joni berhenti di seberang bangunan itu, matanya menelusuri atapnya yang tinggal kerangka. Dinding luarnya yang botak tak bercat dan tiga perempat runtuh. Sungguh sebuah kontradiksi dengan sekelilingnya yang begitu bersih, hijau dan terawat. Dan ironisnya, enam puluh enam tahun yang lalu bangunan ini juga sebuah kontradiksi; sebagai satu-satunya yang berdiri di tengah segala kehancuran.

Mata cokelat di balik kacamata itu beralih dari kerangka gedung dan dengan kasual memandang berkeliling. Bagi penduduk Hiroshima sendiri, kerangka gedung itu hanyalah bagian dari landskap kota yang mereka lihat sehari-hari; mereka bisa dengan kasual melewati gedung ini sebagaimana orang Semarang melewati Lawang Sewu tanpa meliriknya dua kali. Lain halnya dengan turis, yang pasti akan berhenti, mengambil kamera atas dorongan membuat momen ini abadi, atau sekedar berdiri mengagumi.

Namun, bukan turis yang saat ini ingin Joni deteksi.

Sudut bibirnya melengkung saat menemukannya. Sosok pria berambut pirang yang tengah berdiri memunggunginya, hanya beberapa meter di depan monumen itu. Kedua tangan si pria memegangi kursi roda, yang penumpangnya tidak begitu terlihat dari posisinya. Mungkin, dia bisa mencoba dari sana.

Joni menyeberang jalan, melangkah kasual mendekati sosok itu dan serta merta memberinya tepukan di bahu.

"Hei, kamu terlambat."

Sosok itu berbalik cepat, mata biru di balik kacamata membelalak sejenak sebelum mengerjap bingung dan menunjuk dirinya sendiri.

"…Bicara denganku?"

American, Joni menyimpulkan. Mata cokelatnya cepat melirik ke sosok di kursi roda, yang ikut menoleh bersama dengan si pirang tadi. Rambut hitam, wajah oriental. Asian.

"Ah, maaf. Kukira kamu orang yang kukenal." Joni menjawab lancar, memasang ekspresi bersalah. "Dari jauh kamu terlihat punya pantat yang berisi seperti rekanku, jadi aku lantas mengira kamu dia."

Si pirang mengerjap bengong selama beberapa detik, sebelum meledak tertawa. "Serius? Kiku, kau dengar itu? Ada orang baru saja memuji keseksianku!"

"Daripada memuji, itu lebih masuk kategori sekuhara—sexual harassment, Alfred-san." Si Asian berucap pelan, dan dari logatnya Joni bisa menyimpulkan lagi satu hal. Orang Jepang.

"Masih termasuk memuji ah, itu." Si pirang masih terkekeh, sebelum mengalihkan pandangannya kembali ke Joni. "Kamu… eh, siapa namamu?"

"Sanjoyo Setiabudi, asal Indonesia." Joni mengulurkan tangan, tersenyum ketika tangannya disambut si pirang dengan bersemangat. "Maaf kalau tadi menimbulkan salah paham…"

Sang American terbahak. "Keseksianku itu bukan salah paham, hahaha! Namaku Alfred Jones, ngomong-ngomong. Asli dari Amerika Serikat. Dan ini rekanku, Kiku Honda. Dia mah penduduk lokal, asli Jepang."

Joni mengangguk sopan pada Kiku, yang membalasnya dengan anggukan juga. Tidak ada gelagat sama sekali untuk menjabat tangannya. Satu yang Joni perhatikan, si Jepang itu bertubuh mungil dengan potongan rambut kelewat tertata. Tubuh mungil itu hanya estimasi; dia tidak bisa menaksir dengan akurat ukuran tubuh si Jepang, tidak dalam kondisinya yang terduduk di atas kursi roda.

"Melancong sendirian saja, Sanjoyo?" Alfred bertanya ringan, mengalihkan kembali perhatian Joni pada sang American.

"Aku janjian bertemu dengan rekanku di sini. Tapi sepertinya dia belum datang…"

"Ohh, rekanmu yang pantatnya seseksi milikku itu?" Alfred berseloroh, seolah dia sudah mengenal Joni bertahun-tahun alih-alih beberapa menit lalu. Joni mensyukuri spontanitas orang ini.

"Setelah diamati lagi, milik dia masih jauh lebih seksi dari milikmu, sih…"

"Eh? Kok gitu?"

Giliran Joni yang terkekeh melihat ekspresi Alfred. Begitu spontan, begitu ekspresif. Kontras dengan…

"Anda ada bisnis sesuatu di Hiroshima, Setiabudi-san?" Giliran Kiku Honda, pemuda Jepang itu bertanya. Nada suaranya tenang dan elegan. Nada suara yang Joni tahu tidak bisa diremehkan.

"Dibilang bisnis juga… sebetulnya aku cuma mau menghadiri Peace Memorial Ceremony di sini besok."

"Begitu." Berhenti sampai di situ. Joni sudah mulai mempertimbangkan untuk memulai percakapan dengan Alfred yang jelas lebih sociable ketika Kiku membuka mulutnya lagi. "Saya sempat melihat anda menatap intens Genbaku Dome cukup lama. Hanya menatap, tanpa kamera. Seperti... terpesona."

Melihatku? Kapan?

Kenapa?

Joni tertawa kecil dan melambaikan tangannya kasual. "Begitukah? Siapa yang tidak akan terpesona dengan bangunan yang begitu banyak menyimpan memori sejarah seperti ini?"

Kiku mengulum senyum. "Oh, Anda akan terkejut. Kebanyakan dari mereka yang datang ke taman ini hanya melihat Genbaku Dome sebagai sebuah keajaiban; sebuah bangunan yang masih utuh setelah dihantam bom nuklir. Sebuah ikon yang bisa dijadikan latar belakang foto panorama. Hanya sedikit yang melihatnya sebagai apa yang membuat masyarakat lokal membiarkan bangunan ini tetap berdiri di sini; sebagai representasi atas sebuah kehancuran total. Memori akan sebuah kematian massal."

Penekanan di kalimat terakhir masih terdengar walaupun kalimat itu diucapkan tak lebih keras dari bisikan. Dan Joni berani bersumpah mata monokrom Kiku terpaku pada matanya. Hanya sekilas sebelum pemuda lumpuh itu kembali mengalihkan pandangan, dan Joni dan melihat bahwa tangan Kiku terkepal di atas armrest kursi rodanya.

"Kursi roda itu... kalau aku boleh tahu, apa yang terjadi?" Mungkin bukan pertanyaan paling sensitif, tapi setidaknya dia butuh mengalihkan pembicaraan ke arah yang lebih... aman. Dan lagi, instingnya mengatakan—

"Dia cedera dalam kecelakaan empat bulan yang lalu..." Alfred menyelutuk, menjawabkan pertanyaan itu untuknya.

"Lima bulan, Alfred-san."

"Oh, sudah lima bulan? Waktu berlalu bagaikan terbang ya, hahaha!"

Lima bulan... Joni mencatat dan menghitung di dalam hati. Dan harus menahan diri untuk tidak tersenyum lagi begitu memahami.

"Kiku…" Alfred menyenggol rekannya, melirik ke arah jam besar di depan taman. Kiku mengikuti arah pandangannya dan mengangguk mengerti.

"Rasanya sudah waktunya bagi kami untuk pergi. Senang berbincang dengan Anda, Setiabudi-san." Kiku mengulurkan tangannya, menawarkan senyuman sopan-namun-tak-terbaca yang sama.

Joni menyambut tangan itu, menyunggingkan senyumnya sendiri; kali ini senyuman yang dirancang untuk orang-orang yang mesti ia waspadai. "Senang juga bertemu dengan kalian, Alfred dan Kiku. Oh, dan memanggilku cukup dengan Joni saja."

Kiku hanya mengulum senyuman; tidak memberi anggukan ataupun gelengan. "Kalau Setiabudi-san tertarik, besok pagi datanglah lagi ke sini. Tepat pukul 8.15 pagi, bertepatan dengan saat bom itu dijatuhkan enam puluh tujuh tahun yang lalu, bel perdamaian akan dibunyikan. Seorang sejarawan seperti Anda pasti tidak mau melewatkan peristiwa seperti itu, bukan?"

Joni mengerjap. "Dari mana kau menebak aku sejarawan?"

Lagi, Kiku hanya tersenyum. "Karena menurut saya, yang bisa setertarik itu pada Genbaku Dome hanyalah seorang profesional, seperti sejarawan..."

"Atau orang yang tertarik pada konsep kematian."

Kalimat yang terakhir itu diucapkan dengan begitu datar dan pelan. Namun, itu lebih dari cukup untuk membuat telinganya mendadak tuli akan bunyi kursi roda yang diputar dan matanya buta akan Alfred melambai ke arahnya sambil mengucapkan selamat tinggal.

Hanya itu yang ia butuhkan untuk menarik kesimpulan dan menyunggingkan senyuman.

.

.

"Hei. Aku sudah sampai di sini."

"Bukan di Osaka ngomong-ngomong. Aku di Hiroshima."

"Apa boleh buat, sebentar lagi di sini ada Peace Memorial, dan kau tahu aku tidak akan melewatkan peristiwa sejarah—"

"Bercanda, jangan histeris dulu. Aku cuma berpikir bahwa di event berskala nasional ini akan lebih mudah menemukan 'dia'. Dan sepertinya, dugaanku terbukti benar siang ini."

"Hmm. Cuma perasaan, sih. Gut feeling. Belum ada bukti."

"Tidak bisa semudah itu juga. Aku harus mengumpulkan bukti-bukti tak bergerak sebelum mengambil langkah selanjutnya. Minimal harus riset dan mengumpulkan lebih banyak informasi lagi."

"Aku tahu. Tidak ada ruang untuk kesalahan. Tidak satupun. Apalagi sepertinya dia curiga padaku..."

"Aku tahu. Aku akan berhati-hati, pasti."

"Oh ya, hanya untuk memastikan. Bisa tolong bantu crosscheck apakah benar di bulan Maret 2011, di Jepang terjadi—"

"—Halo? Halo?"

"...Mati listrik? Di negara ini?"

.

Di beranda, lonceng gantung kecil itu gemerincing ditiup angin.

.

Di luar dugaan, mencari Kiku Honda dan Alfred Jones terbukti bukan perkara gampang. Joni tidak memperhitungkan bahwa akan ada banyak pengunjung upacara peringatan perdamaian yang berasal dari luar Jepang. Pria Kaukasia berambut pirang pasir dan pemuda Asia Timur berkursi roda mungkin memang ciri-ciri yang mudah ditemukan, namun di tengah kerumunan yang memadati Peace Memorial Park itu ada entah berapa lusin kepala pirang memantulkan cahaya matahari yang menyilaukan—

"Oiii, Joni! Sini, sini!"

Beruntung salah satu dari yang dicarinya itu punya suara lantang bak toa, mata yang cukup tajam walaupun berada di balik kacamata, dan kulit yang cukup badak untuk dengan heboh melambaikan tangan ke udara, tak menyadari pandangan mencela sepasang manula yang berdiri di sampingnya.

"Hai Alfred, Kiku."

Joni menyapa balik begitu berhasil menyelinap mendekati keduanya—bukan hal yang mudah, dan dia cukup yakin dia sempat menyenggol tubuh kekar yang dia harap bukan milik anggota Yakuza atau semacamnya. Berusaha mengatur napasnya, pemuda berkacamata itu melirik ke panggung di tengah taman di mana seorang berjas yang tampak penting tengah menaruh buket demi buket bunga di depan monumen utama taman. Mata cokelat itu dengan cepat melirik ke arah arloji, panik—hanya untuk mengerenyit ketika melihat waktu masih menunjukkan pukul 8.10. Oke, dia memang tahu orang Indonesia punya reputasi jam karet, tapi ini...

"...Aku terlambat?"

Kiku terkekeh geli; yang entah bagaimana tetap bisa dilakukannya dengan sopan dan elegan. "Tidak juga, Setiabudi-san. Saya memang kemarin bilang pada Anda bahwa acaranya dimulai pukul 8.15. Maksud saya waktu itu puncak acaranya. Acara ini sendiri sudah dimulai dari pukul tujuh pagi."

Joni merasakan sudut bibirnya mulai berkedut dan naik perlahan membentuk senyuman—reaksi utamanya saat merasakan riak emosional. Sebagian merutuk Kiku dan orang Jepang dan segala ambiguisitas mereka, sebagian lagi merutuk dirinya sendiri yang percaya begitu saja dan tidak mencari tahu lagi secara personal soal acaranya.

Alfred yang terbahak dan menepuk keras punggungnya juga tidak membantu.

"Ahaha! Sudahlah Joni, kamu nggak ketinggalan apa-apa ini. Tadi pagi itu acaranya cuma menaruh kendi air sama tablet berukir, terus pidato dan barusan ini menaruh bunga. You missed nothing, trust me. Pidatonya terutama bikin ngantuk, ahaha!"

Mengagumkan dalam artian yang sama sekali berbeda melihat sang American masih bisa tertawa-tawa bahkan dengan dua orang yang 'tersenyum' kepadanya; yang satu hawa-hawa ingin menjejalinya dengan lolipop isi wasabi, dan yang satu tampak segini lagi siap merendamnya di segentong arak Bali.

"Oh ya, rekanmu mana?" Alfred menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sosok yang 'katanya' punya pantat lebih seksi darinya.

"Tidak jadi datang. Masih stranded di Taiwan. Pesawatnya delay entah sampai kapan, tidak berani terbang sampai topan yang dari arah Okinawa mereda." Joni berujar sambil lalu. Membaca koran lokal memang tips yang bisa membuat cerita makin detil dan makin sukar dideteksi.

Kiku hanya meliriknya sekali sebelum kembali memusatkan pandangan pada upacara, tidak mengucapkan apa-apa.

"Ngomong-ngomong, kalian semalam mengalami mati listrik, tidak?" Joni menggumamkan pertanyaan itu dengan suara rendah. Sekelilingnya mulai terasa sunyi seiring dengan makin banyaknya buket diletakkan, menandakan acara mendekati puncaknya.

Afred mengerjap bingung. "Mati listrik apa? Aku sama Kiku nggak kerasa—"

"Itu karena Anda sudah tidur, Alfred-san." Kiku memotong lembut, "Ya, semalam memang sempat ada blackout. Apakah ada urusan penting Anda yang terganggu karenanya, Setiabudi-san?"

"Tidak sebegitunya penting, kok. Cuma sedang video call dengan rekanku yang stranded itu."

"Begitu. Maaf atas ketidaknyamanannya."

Joni mengangkat alis. "Kenapa minta maaf?"

Kiku mendongak menatapnya, menyunggingkan senyum tipis."Penjelasannya panjang."

"Aku mendengarkan."

Cokelat monokrom itu terpaku kepadanya lekat sesaat, sebelum sang pemilik menghela napas. "Sejak Fukushima daishinsai—kebocoran reaktor nuklir mengikuti gempa dan tsunami di awal Maret tahun ini, pemerintah sini mulai trauma dengan nuklir. Semua pembangkit listrik tenaga nuklir ditutup sementara; Jepang mencoba hidup tanpa nuklir."

"Pemadaman bergilir tak bisa dihindari; awalnya memang hanya terjadi di area Tohoku dan Kantou di mana krisis energi paling besar, namun ternyata defisit energi lebih besar dari yang diantisipasi. Daerah Kansai dan Chuugoku(1)—ya, daerah ini—juga mulai kena pemadaman bergilir. Bahkan hotel tempat Anda menginap mulai memberlakukan konservasi listrik. Dan bukan hanya hotel itu saja, melainkan bisa dibilang seluruh negeri."

"Seluruh Jepang kini sedang terancam lumpuh."

Mungkin hanya sekilas, tapi Joni bisa menangkap gestur jemari Kiku mengerat di atas selimut yang menutupi kakinya yang tak berguna. Gestur yang dilakukan bersamaan dengan desis lirih kalimat terakhirnya.

"Ah lihat, sebentar lagi puncak acara!" Bisikan antusias Alfred menyentakkan Joni dari lamunan dan perasaan muram akibat perkataan Kiku barusan. Pemuda berkacamata itu cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke tengah panggung, di mana sebuah bel setinggi pria dewasa didorong naik. Dan tanpa dikomando, bisik-bisik apapun yang tersisa di antara penonton menghilang. Sunyi total, kecuali sesekali suara jangkrik yang menjadi trademark musim panas.

DONG.

Kepala-kepala menunduk, tangan-tangan tertangkup.

DONG.

Suara samar isakan terdengar. Hanya sedetik, membuat Joni berpikir jangan-jangan itu hanyalah halusinasi belaka.

DONG.

Joni memberanikan diri membuka mata, melirik Kiku dan Alfred di sisinya.

DONG.

Yang dicatatnya dengan hati-hati di kepala adalah jemari Alfred yang mengerat di pegangan kursi roda; begitu erat sampai Joni yakin kukunya pasti menancap di telapak tangan. Itu, dan Kiku yang menengadah alih-alih menunduk seperti yang dilakukan semua orang; ekspresinya kaku seperti patung batu.

DONG.

Seperti menatap garang ke arah sesuatu...

DONG.

"Yasuraka ni nemuru." (2)

.

.

"Nuklir itu... menakutkan, ya."

Upacara sudah berakhir dengan pidato Perdana Menteri Yoshihiko Noda dan dilepaskannya puluhan merpati perlambang damai ke udara. Kini Joni tengah mendorong kursi roda Kiku—Alfred ngotot mereka harus makan siang hamburger dan lari ke restoran fastfood terdekat—sembari menikmati pemandangan asri Peace Memorial Park. Begitu asri, hijau, dan berhawa segar; dia tidak akan percaya tempat ini adalah ground zero serangan bom atom nuklir pertama di dunia. Satu-satunya bukti bahwa di tempat ini pernah ada kematian massal adalah monumen sebagai perwakilan korban yang tak terhitung jumlahnya, dan para orang-orang berusia senja yang berlutut dan berdoa di depannya. Pemandangan yang membuatnya mencetuskan pernyataan barusan.

Kiku meliriknya dengan ekor mata, sebelum kembali memakukan pandangannya ke depan.

"Indonesia... belum memakai tenaga nuklir untuk memproduksi listrik masyarakat, kalau tidak salah?"

"Belum."

"Kenapa?"

Joni mengangkat alis. "Yah... pasti ada banyak faktor. Ini bukan bidangku, jadi aku tidak mau sok tahu. Mungkin juga karena nuklir masih terlalu berbahaya buat kami. Kami belum mau bermain api."

Kiku terkekeh pelan. "Begitu. Kalau pendapat saya pribadi, Setiabudi-san, tenaga nuklir membuat semuanya jadi lebih mudah. Sejak mengadopsi pembangkit listrik tenaga nuklir, Jepang jarang sekali mengalami blackout, dan adapun, biasanya berlangsung tak lebih dari beberapa menit. Kami juga berani membuat transportasi umum yang bergantung pada listrik seperti shinkansen, dan dengan demikian memotong konsumsi minyak mentah."

Joni melirik sebal Kiku, bisa merasakan sudut bibirnya mulai berkedut lagi. "Aku mengerti. Negaramu memang superior dari segala sisi—"

"Tapi ironis, rasanya." Kiku melanjutkan seolah tidak mendengar komentar Joni barusan. "Jepang sekarang begitu bergantung pada nuklir. Jepang lumpuh tanpa nuklir. Padahal dulu, nuklir itu sendirilah yang melumpuhkan Jepang."

"Maksudmu... pengeboman enam Agustus?"

Kiku mengangguk perlahan. Keduanya tenggelam dalam diam.

Joni melihat kesempatan untuk kembali mengorek informasi.

"Dari dulu aku penasaran…" Dia melirik hati-hati si Jepang sembari bergumam.

"Tentang apa?"

"Bagaimana situasi waktu itu. Apa yang dirasakan oleh penduduk negara ini sewaktu bom dijatuhkan."

Selama mungkin semenit penuh, hanya desau angin yang menjawab pertanyaannya. Sampai Kiku menghela napas dan membuka mulutnya.

"Sewaktu benda itu meledak, mereka nyaris tidak mendengar suara. Yang mereka rasakan hanyalah angin panas. Angin yang melelehkan kulit dari daging, daging dari tulang... tulang menjadi arang." Suara Kiku turun menjadi bisikan, membuat Joni harus menajamkan telinga untuk bisa mendengar. "Di mana-mana hitam. Kontras dengan cahaya yang berwarna putih, kontras dengan awan jamur yang berwarna perak itu, yang ada di bumi ini semuanya hitam. Dengan sedikit bercak aksen merah di mana-mana—ditinggalkan oleh mereka yang masih tetap berjalan mencari sanak saudara bahkan ketika kulit dan daging meleleh dari tubuh mereka."

Pemuda Jepang itu menolehkan kepala menatap Joni lekat, "—Itu yang saya dengar dari testimoni hibakusha; para saksi mata yang masih hidup dari kejadian itu. Hampir semua generasi muda di Jepang tahu kisah ini."

"Ah ya. Tentu saja. Oral tradition." Joni tersenyum. "Tidak mungkin kau hidup di masa itu dan mengalami sendiri kejadian itu, kan."

Kiku membalasnya dengan senyuman, sebelum memalingkan wajah dan kembali memakukan pandangannya ke depan. Keduanya masih belum menemukan topik pembicaraan baru sampai Alfred datang membawakan tiga hamburger set untuk makan siang.

"Hei, Kiku." Joni bergumam sembari membuka bungkus burgernya—ebi fillet-o; apakah Alfred seenaknya berasumsi orang Indonesia identik dengan makanan laut?—melirik si pemuda Jepang yang dengan kalem mencomoti kentang di pangkuannya.

"Ya?"

Sebelum menanyakannya, Joni sudah tahu bahwa ini adalah poin di mana dia tak bisa lagi berbalik dan lari.

"Aku tertarik mendengar tentang sejarah pengeboman itu lebih dalam lagi. Mau bertemu lagi besok, sekalian makan malam?"

Yang ditanya sama sekali tidak mengubah ekspresinya. Masih menyunggingkan senyum yang artinya sukar diterka.

"Tentu saja."

Alfred menawari keduanya saus tomat, yang ditolak Kiku dan diterimanya dengan penuh senyum.

.

.

"Dia personifikasi Jepang, tidak salah lagi. Dan bule yang bersamanya itu… aku yakin 90% dia personifikasi Amerika Serikat."

"Satu, negara itu yang paling berdedikasi membantu Jepang paska gempa Tohoku dan kebocoran reaktor Fukushima di bulan Maret. Dua, kecintaan berlebihan pada hamburger..."

"Cukup yakin. Itu kesimpulan yang kudapat setelah berbicara padanya dan mencocokkan kejadian-kejadian yang menimpa Jepang dengan kondisi fisiknya."

"Awww, kau sebegitu khawatirnya padaku? Tenang saja, aku akan bergerak hati-hati."

"Tidak perlu. Mengirim orang sebelum waktunya hanya akan membuatnya makin curiga. Aku bisa mengatasi ini."

"Aku sudah membuat janji bertemu dengannya malam ini. Sekarang, atau tidak sama sekali."

"Kau tahu aku tidak bisa melihat masa depan, sayang. Aku tidak tahu ini akan berhasil atau tidak. Tapi seandainya gagal, bukankah kita punya plan B?"

"Kita pernah kok, mendiskusikannya. Kau lupa? Jahatnya..."

"Oke, oke. Plan B-nya mudah saja."

"Kau tinggal mencari penggantiku secepatnya."

.

Tombol 'end call' itu ditekan tanpa menanti jawaban.

.

.

Gudang tak terpakai itu hanya terletak beberapa meter dari kompleks Peace Memorial Park. Hanya sedikit yang tahu keberadaan gudang itu, kecuali mungkin kurator museum, sekuriti, atau masyarakat sipil yang sudah cukup senior untuk menghapal total landskap kota. Kiku Honda paling mendekati kriteria yang terakhir. Hanya saja bedanya, dia bukan masyarakat sipil.

"Sayang sekali ini bukan anggota mereka yang pertama mati di tangan kita." Alfred Jones menggerutu, sebagian karena murni kesal dan sebagiannya lagi karena cukup kepayahan mendorong kursi roda sambil memanggul tubuh lemas seorang pemuda.

"Rekornya masih dipegang si kolkhoz itu. Baik yang paling pertama bisa membunuh anggota mereka—di tahun 1670an, periode bubonic plague, kalau tidak salah?—sekaligus pemegang rekor terbanyak. Yang terakhir di tahun 1969 kemarin, kalau tidak salah ingat. Walaupun dengar-dengar si kolkhoz itu juga mati di tangan yang satu ini. Mereka makin berbahaya…"

Kiku tertawa kecil. "Amerika-san tahu banyak ya, soal Roshia-san."

Alfred mendengus sebal. "Harus, dong. Aku 'kan, bersaing dengannya. Kalau tidak bisa lagi dengan nuklir, setidaknya sekarang bisa bersaing dengan memburu anggota mereka. Dua burung dengan satu batu."

Susah payah membuka pintu gudang dengan tangan kirinya, Alfred melemparkan beban yang memberati bahunya selama lima belas menit terakhir ke lantai berdebu. Tubuh itu berguling sejenak sebelum berhenti, kebetulan menghadap mereka. Mata cokelat itu terbuka, menatap kosong tanpa nyawa. Kacamata yang menjadi ciri khas itu sudah hilang entah di mana—jatuh saat perjalanan, mungkin. Rambut yang biasanya klimis itu jatuh ke depan menutupi kening—kening yang berlubang oleh timah panas. Lubang yang identik menghiasi beberapa bagian tubuh lainnya; dada, perut, dan paha.

Sanjoyo Setiabudi sudah tinggal tubuh tanpa nyawa.

"Ngomong-ngomong, aku lho, yang menembak kepalanya." Alfred berseloroh sambil lalu, merogoh saku dalam gestur mencari sesuatu. Kiku tersenyum maklum sebelum menyodorkan pemantik, yang diterima Alfred dengan sumringah.

"Saya tahu. Alfred-san boleh hitung dia sebagai buruan Anda. Anggaplah saya tidak ambil bagian." Kiku berucap lembut, memberi gestur pada Alfred untuk mendorongkan kursi rodanya ke lemari tak jauh dari pintu.

"Ngomong-ngomong, Kiku. Kamu menebak dari mana dia ini anggota mereka—anggota DEMISE?" Alfred mengedikkan kepalanya ke arah mayat di tengah ruangan.

"Insting." Kiku bergumam, membuka satu per satu laci dan mengerenyit ketika debu memasuki lubang pernapasannya. "Sejak Akihito-heika mengirimkan informasi bahwa pembunuh Yao-nii—Chuugoku-san, dikonfirmasi berwajah Melayu, saya menaruh perhatian ekstra pada semua orang berwajah Melayu. Dan… saya entah kenapa curiga bahwa dia bukan orang biasa sewaktu melihatnya." Nada suara Kiku sudah turun menjadi penuh kebencian.

"Setelah berbicara dengannya, kecurigaan saya semakin jelas. Subtle, memang, tapi dia seperti pelan-pelan mengorek informasi untuk membuktikan bahwa saya personifikasi. Tebakan saya, posisi dia di DEMISE mungkin bukan sebagai pemburu personifikasi, melainkan lebih ke pengumpul informasi."

"Serius? Jadi, nilainya lebih rendah daripada pemburu personifikasi, dong?"

"Yah, sama-sama anggota DEMISE ini. Sama-sama entitas tak berhati dengan impian utopianis yang sadis dan tidak realistis." Kiku mendesis, memandang kakinya yang tergolek tak berguna di kursi roda sesaat sebelum kembali mengalihkan pandangannya ke laci, melanjutkan pencariannya.

"Ah, ketemu. Ini minyaknya, Alfred-san. Siramkan ke badannya dan bakar. Sekalian sama gudangnya juga tidak apa-apa."

Mata monokrom itu menatap dingin mayat di tengah gudang, ekspresinya keras.

"Sayang kita tak sempat mendengarnya mengucapkan motto mereka. Shi wo kiokuseyo, ingatlah kau akan mati."

Kiku mengepalkan tangan, teringat apa yang diajarkan oleh almarhum guardian pertamanya—orang yang menemukannya berpuluh-puluh tahun yang lalu dan memberitahukan identitasnya sebagai personifikasi negara. Tentang keberadaan DEMISE, organisasi yang adalah musuh alami para personifikasi sejak sebelum abad pertengahan, dan kata pembunuh yang selalu menemani para anggotanya dalam perburuan. Salah satu cara untuk secara akurat mengidentifikasi mereka dari orang biasa; walaupun cara yang tidak dianjurkan karena dengan mendengarnya berarti kau sudah tinggal sejengkal dari kematian. Dan sebetulnya masih ada satu lagi penanda...

Tawa kecil dari Alfred membuyarkan lamunan Kiku. Sang American berjalan mendekati sahabatnya dan mengambil jerigen minyak dari tangan si Jepang. "Itu karena aku menembaknya dengan begitu cepat begitu dia membuat gelagat memasukkan tangan ke saku dan mengambil sesuatu. Jangan meremehkan negara yang pernah menjadi rumah koboi-koboi tangguh; kalau urusan adu cepat menarik pistol, aku tidak akan kalah dari siapapun!"

Kiku tersenyum simpul. Alfred, personifikasi United States of America yang penuh percaya diri, yang bisa diandalkan. Mungkin salah satu dari sedikit orang yang ia percayai, di era di mana bahkan dia sudah tidak bisa lagi dengan mudahnya mempercayai sesama personifikasi…

"Alfred-san…"

"Hm?"

"Waktu… waktu itu dijatuhkan, apakah Anda…"

Pertanyaan itu terhenti, melebur di udara. Langkah Alfred berhenti di depan mayat Joni, membeku dalam posisi memegang jerigen minyak. Sunyi selama beberapa detik sebelum akhirnya ia menjawab.

"Ya. Aku sudah personifikasi di waktu itu." Dia bergumam, suaranya pelan. "Kamu…"

Kiku menggelengkan kepala, tersenyum tipis. "Belum. Pendahulu saya terbunuh dua minggu setelah bom dijatuhkan. Seseorang yang tubuhnya yang mendadak luka parah tanpa sebab langsung begitu Hiroshima dan Nagasaki dihancurkan tentunya merupakan sasaran empuk agen-agen DEMISE. Setidaknya itu yang diceritakan oleh almarhum guardian pertama saya."

Mata cokelat itu masih menerawang, menandakan ceritanya belum mencapai akhirnya.

"Walaupun begitu, itu memori pertama saya yang terbangun. Jeritan rakyat yang tubuhnya meleleh, terbakar, digerogoti radioaktif. Terasa begitu nyata, seolah saya sendiri yang mengalaminya. Seandainya guardian tidak menemukan saya dan menjelaskan identitas saya sebagai reinkarnasi personifikasi Jepang, mungkin saya sudah menyerahkan diri ke rumah sakit jiwa."

Kiku melihat Alfred memalingkan wajah; dan bahkan dalam gestur itu itupun dia tahu bahwa sang American tengah mengkertakkan gigi.

"Maaf, Kiku…"

"Apa yang—bukan maksud saya untuk menyalahkan Alfred-san! Itu perang, tidak ada yang bisa kita lakukan. Dan lagi, saya tahu bahwa bom atom itu yang menjatuhkan mereka, bukan?"

"Yang menjatuhkan bom atom atas Hiroshima dan Nagasaki itu United States of America—"

"—dengan manipulasi DEMISE di belakangnya." Kiku memotong tegas, namun tatapannya lembut. "Saya tahu. Melihat memori pendahulu saya dan berinteraksi dengan Anda, saya tahu."

Alfred berdiri diam, masih erat mencengkeram jerigen minyak, entah kenapa tampak sangat tertarik dengan wajah Joni yang berhias lubang berdarah.

"…Seharusnya waktu itu, Amerika Serikat berniat memojokkan Jepang lewat invasi, sebagaimana kita menundukkan Jerman. Operation Downfall. Outline-nya sudah lengkap, daftar kapal yang akan terlibat juga sudah dibuat. Dijadwalkan dimulai Oktober 1945." Alfred bergumam, nadanya pahit.

"Operasi yang diramalkan akan banyak memakan korban; terlalu banyak, kata beberapa orang. Sampai akhirnya ditawarkanlah solusi yang katanya akan memakan lebih sedikit korban, lebih sedikit waktu, melibatkan jauh lebih sedikit personil, dan sangat sedikit resiko di pihak Amerika. Solusi sempurna, mereka bilang. Ya, benar, resikonya memang hanya satu: negaraku kini diam-diam dikecam di seluruh dunia. Oh salah, ada dua; beban moral bagi penduduknya dan personifikasinya."

Alfred menghela napas. "Aku mungkin panjang umur dan cukup bangga dengan fakta pengaruh DEMISE tidak begitu kuat di negaraku dibandingkan dengan di negara dunia ketiga misalnya, tapi tetap saja… bahwa mereka tetap bisa menembus sampai ke jajaran ilmuwan dan pengambil keputusan dan memanfaatkan negaraku untuk melacak personifikasi lain dan membunuhnya…"

"Bukan hanya Alfred-san. Kita semua merasakannya. Dimanipulasi oleh DEMISE." Kiku menggeram pelan, memorinya akan Perang Pasifik muncul di permukaan. Salah satu memorinya yang paling menyakitkan adalah bayangan hanbok biru-putih yang robek dan berlumur darah. "Tapi justru karena itu kita belajar. Kita personifikasi tidak bisa lagi dengan mudahnya dimanipulasi. Kita juga bisa jadi pemburu mereka yang memburu kita. Itu contohnya."

Mengedikkan kepala ke arah mayat bisu di tengah ruangan.

Ekspresi tertekan di wajah Alfred mencair, digantikan senyum jenakanya yang biasa.

"Astaga, aku nyaris lupa ada mayat ini. Kasihan, dia pasti bosan mendengar kita curcol dari tadi. Oke, lebih baik kita selesaikan ini secepatnya, kalau begitu."

Alfred mengangkat jerigen minyak itu dan mendekati tubuh Joni, siap menyiramnya. Hanya untuk terhenti dan mengerenyit ketika matanya menangkap sesuatu tergenggam di tangan sang mayat.

"Hei, Kiku... Dia memegang sesuatu."

Kiku mengangkat kepala, mengerenyit melihat Alfred berlutut dan berusaha mengambil sesuatu dari genggaman tangan Joni yang mulai mengeras. Sesuatu yang tampak seperti secarik kertas.

"Apa itu, Alfred-san?"

Alfred sudah berhasil mengeluarkan kertas itu dan tengah meratakannya, berusaha melihat isinya. Sepasang mata biru itu membelalak segera.

"Kiku, ini—"

Sepasang mata biru itu masih membelalak. Sampai selamanya.

"...Alfred-san?"

Tubuh bidang sang American oleng dan jatuh berdebum di lantai. Darah mengalir dari lubang di sisi kiri dan kanan kepalanya, tempat peluru menembus batok kepalanya, merusak otak dan keluar dari sisi satunya. Tanpa harus diautopsi pun sudah jelas bahwa tubuh personifikasi United States of America tewas di detik itu juga.

"Alfred-san!" Insting pertama Kiku adalah menghampiri sahabatnya. Hanya saja, kaki yang tidak berguna itu hanya membuat personifikasi Nihonkoku itu jatuh terjerembab dari kursi roda. Tak menyerah, Kiku merayap sepanjang lantai yang berdebu, sejengkal demi sejengkal, demi meraih sang sahabat...

...sampai laras senapan yang ditekan di sisi kepalanya membuatnya membeku seketika.

"Ah. Siapa sangka, strategi tunggu-dan-ikuti ini bisa berjalan sebegininya baik..."

Kiku menoleh perlahan ke arah si pendatang baru. Rambut hitam ikal. Mata cokelat gelap. Senyum yang berada di ambang menawan dan mengerikan. Wajah Melayu yang manis.

Mata Kiku dengan panik beralih ke secarik kertas yang tadi dilihat Alfred. Kertas yang berisi sketsa gambar sosok pemuda berambut ikal dengan senyum lebar. Sketsa yang begitu mirip dengan sosok pemuda yang sedang menodongnya sekarang.

"...Mustahil..."

Kiku menoleh ke arah yang berlawanan, ke arah mayat Joni yang terkapar. Lalu kembali ke kertas yang terserak, sebelum kembali lagi ke mayat. Mata monokrom itu melebar dalam pemahaman.

"Setiabudi-san... Anda..."

Dia bahkan tidak diberikan waktu untuk menyesal.

"Lebih dari satu burung dengan hanya satu batu. Beruntungnya diriku."

Kiku Honda sang personifikasi Nihonkoku hanya sempat mencium sekilas aroma bubuk mesiu dan mendengar dari jarak dekat bunyi pistol berperedam. Dia tidak melihat sosok tidak terlalu tinggi si pemuda Melayu melenggang menuju jerigen minyak lalu menyirami ketiga tubuh itu dengan isinya. Tidak melihatnya mengambil pemantik, lalu melangkah keluar. Tidak melihatnya menyeringai sembari melemparkan pemantik yang menyala itu ke dalam ruangan, sebelum menutup pintu gudang.

Tidak mendengarnya mengucapkan kata keramat itu selagi tubuh ketiganya dilahap api.

.

"Memento mori."

.

.

TAMAT

.

.

(1) Chuugoku ini maksudnya bukan China; ini merujuk ke salah satu area di Jepang bagian barat Honshu. Area ini terdiri dari perfektur Hiroshima, Okayama, Shimane, Tottori, dan Yamaguchi.

(2) Yasuraka ni nemuru: Rest in peace.

Penjatuhan bom atom atas Hiroshima di tanggal 6 Agustus 1945, gempa Tohoku dan kebocoran reaktor nuklir di Fukushima Dai-ichi di bulan Maret 2011 merupakan fakta sejarah. Operation Downfall, operasi yang sempat dipertimbangkan untuk mengakhiri Perang Pasifik juga rencana perang nyata dari Amerika yang sudah dibuka ke publik dan bisa ditemukan outline-nya di internet. Selain poin-poin yang disebutkan ini, selebihnya adalah fiksi semata.

.

.

...Terus saya bingung mau ngomong apa; semuanya yang penting-penting rasanya sudah ditulis sama skadihelias di A/N chapter pertama #orz

Bagaimana chapter kedua DEMISE ini? Makin membingungkan? Makin diupdate malah makin bikin nggak ngerti kayak membaca a certain manga? #dibalangkeretaHita Kalau ada yang bingung dengan gaya bahasanya yang mendadak berubah drastis, ini karena chapter ini ditulis oleh anggota SI yang berbeda dengan chapter pertama. Harap maklum dan siap-siap ember buat muntah aja haha #warningtelatttt

Kritik, saran, komen lewat akan bikin kami berlima gelundungan kolektif #jangandibayangkanplis Kalau mau menganalisa, berspekulasi, atau menebak kira-kira gimana nanti ending cerita ini juga ayo aja ;) #baruchapterduawoy

Oh dan sebelumnya, ini balasan review chapter pertama untuk yang nggak login:

Himeka Kozuki: Lho, kenapa gak suka sama unsur2 misterinya? Kan justru misteri itulah yang membuat hidup lebih berwarna #apaansih #ditabok Mengenai pertanyaan2 Anda yang lainnya...pasti akan segera terjawab kalau Anda terus mengikuti kisah ini kok, hohohohoho~ #modus2013 Tenang, pasti semua misteri akan segera terkuak (mudah2an...)! Bagian Eka mati? Jangankan yang baca, emaknya Eka aja sempat nangis gulung2 pas nulis anaknya mati mengenaskan begitu (padahal anaknya juga yang salah sih ya, pake bunuh2 orang :P). Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk masuk ke dunia DEMISE~ :D

AlpacaCokelat: Iya, emang dua2nya mati, howakakakakakak! #troll #dibata Mau tahu siapa yang berikutnya mati? #plak Ikuti saja terus kisah ini~ Makasih udah sudi me-review ya :D Undiesnya...ditunggu aja deh. Yang jelas selama DEMISE belum tamat, Undies belum ada rencana update. Tapi DEMISE udah dijadwalkan tamat bulan depan kok. So...tunggu dengan sabar aja ya, huehehehehehe~

Terimakasih sudah membaca. Stay tuned untuk chapter berikutnya minggu depan!

Regards,

Ryokiku