Bond

.

Warning: AU, OOC, Misstype.

Disclaimer: Uchiha Itachi, Hyuuga Hinata, dan seisi desa Konoha adalah milik Om Masashi

.

2

.

Tadi sore, ayah dapat telepon lagi. Aku tahu itu dari Kakashi, karena setelah itu dia langsung bergegas membawaku pulang dan meninggalkanku lagi di depan pintu. Aku kesal karena dia cuma memberi punggungnya yang semakin jauh untuk kulihat.

Malamnya, aku tidak bisa tidur.

Kali ini bukan karena cerita seram Choza.

Aku menyalakan radio, dan ternyata sesi curhat itu lagi yang menyambutku. Langsung saja aku menelepon dan bilang kalau aku ini Fugaku, anak yang kemarin pernah meneleponnya. Aku bercerita tentang semuanya sampai aku mengantuk. Saat ada di kamar, waktu sudah lewat dari tengah malam.

Aku pasti terlambat bangun besok.

.

Aku terbangun ketika mencium aroma pancake yang sedap. Tanpa pikir panjang, aku bergegas keluar. Di dapur, bibi Tsunade menyambutku dengan senyumannya yang biasa. Ah, dia seperti nenek bagiku.

"Fugaku, mandi," katanya sambil mengarahkan dagunya ke arah kamar mandi. Aku menurut dan mandi dengan cepat. Lima menit, aku telah duduk di meja dan berhadapan dengan pancake yang lezat. "Selamat makan!"

Pancakenya benar-benar enak. Aku suka. Karena ayah tidak begitu suka makanan manis kecuali dango, aku jarang makan makanan seperti ini.

Nenek Tsunade berjalan melewatiku untuk membuka pintu ketika mendengar suara bel. Berikutnya yang kutahu, seorang pria pirang masuk dan ikut mengambil pancake yang harusnya cuma jadi milikku. Aku melihatnya tidak suka, dia justru nyengir.

Orang ini waras tidak, sih?

"Hai! Kau pasti Fugaku, 'kan?"

"Ya."

"Aku Uzumaki Naruto, keponakan bibi Tsunade," katanya sambil mengulurkan tangan, Aku menyambut uluran tangannya. Well, meski terlihat bodoh, dia kelihatan baik.

Tak lama, bibi Tsunade kembali dan bilang aku harus bergegas. Naruto menawarkan diri untuk mengantarku. Aku terima saja. Toh, gratis.

Dia ternyata tidak seburuk penampilannya. Setidaknya, dia punya mobil keren yang bisa dibanggakan. Warnanya hitam dengan strip oranye. Lumayanlah. Ayahku cuma punya mobil keluarga yang sederhana dan membosankan. Hitam. Tanpa warna lain. Pantas saja susah mencari seorang isteri baginya. Memang ada wanita yang tertarik dengan pria yang mengendarai minibus jelek begitu?

Ah, aku jadi prihatin pada ayahku. Dia pria single yang keren, tapi jas besar dan mobil serta barang-barang lain yang ada di sekitarnya seolah mengurung pesonanya. Dia jadi seperti mutiara di dasar lumpur, tidak diperhatikan karena kilaunya tertutup.

"Sudah sampai," suaranya membuyarkan lamunanku. Aku sedikit terkejut juga. Lantas aku menoleh padanya, mengucapkan terima kasih dan pergi. Dia cuma tersenyum membalasku.

Sampai di gerbang, Shikaku langsung menghampiriku dan bertanya siapa tadi yang mengantarku.

"Dia keponakan tetanggaku," jawabku waktu itu.

"Mobilnya keren."

"Iya," aku membenarkan komentarnya.

.

Ayahku pulang terlambat lagi.

Aku tidak terlalu kesepian, karena aku sedang menerima telepon. Ini dari penyiar itu. dia bilang banyak yang simpati padaku. Bahkan banyak perempuan yang bersedia jadi ibuku. Aku senang sih, tapi tidak senang juga. Aku jadi merasa bersalah pada ayahku. Masa' aku yang mencarikannya jodoh? Aku takut dia tersinggung dan berpikir kalau dia pria yang tidak laku.

Dia memang tidak laku, sih. Tapi tetap saja, mana ada Uchiha yang mau mengakui kekurangannya.

Penyiar itu terus berkata bahwa banyak surat yang masuk ke kantor mereka ditujukan untukku. Jadi dia bertanya, apakah aku mau membacanya?

Aku jawab iya, dan memberi alamatku.

Suratnya tiba keesokan harinya di sore hari. Aku membawanya ke kamar dan membaca satu per satu. Kebanyakan dari mereka dimasukkan dalam amplop berwarna merah muda. Surat cinta.

Eww…

Aku biasanya alergi pada hal-hal seperti ini. Terus terang saja, romansa seperti ini masih terlalu absurd untuk dipikirkan oleh anak usia sepuluh tahun sepertiku. Tapi ini semua demi ayah. Aku tidak boleh mengeluh.

Aku berhenti membaca di surat yang kelima. Isinya garing dan membuat mual. Bayangkan saja, masa' ada seorang wanita yang menulis seperti ini; "Dear, Fugaku. Aku telah mendengar kisahmu dan jadi terbawa. Aku memikirkan ini seharian dan akhirnya sampai pada suatu kesimpulan bahwa aku bersedia jadi ibumu dan menikah dengan ayahmu. Dan aku akan berusaha memberikan adik untukmu. Tentunya dengan bantuan ayahmu (aku bergidik ngeri di sini). Jadi, mari kita bertemu. Aku dengan kau dan ayahmu, di Konoha Square Building, 25 September 20XX, pukul tiga sore. Kutunggu. Dengan cinta, Sumire."

Surat yang lain tak jauh berbeda.

Aku jadi sedikit tidak ikhlas jika nantinya ayahku harus berakhir dengan salah satu dari tidak adil juga jika ayah harus terus hidup sendiri. Biar bagaimanapun, dia adalah seorang pria yang hampir setiap hari di luar rumah. Dia butuh seseorang yang menyambutnya dengan pelukan hangat ketika ia pulang, seseorang yang menyiapkan segala keperluannya sebelum pergi bekerja, orang yang menemaninya dan aku.

Jika nanti aku besar dan menikah dan ayah telah pensiun (oke, aku memang berpikir terlalu jauh), aku akan lebih tenang jika ayah mempunyai teman untuk menghabiskan waktu bersama di rumah.

Akhirnya aku memutuskan menunggu ayah.

Dia sampai di rumah pukul delapan malam. Lebih cepat dari biasanya. Aku memberanikan diri mengetuk pintu kamarnya dan membawa ransel yang berisi surat cinta dari pendengar radio tempat aku curhat. Ayah baru selesai mandi, aromanya segar. Dia mengenakan piyama gelap dengan handuk kecil tersampir di lehernya.

Aku segera masuk dan duduk di tepi ranjang. Ayah ikut duduk di sebelahku. "Ada apa?" tanyanya.

"Aku ingin ibu."

Ayah melihatku agak lama sebelum menghela nafas keras-keras. "Ayolah, Fugaku. Ayah kira kita sudah bicara tentang hal ini," katanya sambil menggendongku. Kami berjalan melewati pintu kamar ayah, hingga akhirnya tiba di ranjang milikku. "Ayah rasa tidak akan ada wanita yang mau melirik seorang pria yang sudah memiliki anak, 'kan?"

Lihat, 'kan?

Ayahku memang jujur. Kadang, sampai kelewatan. Karena ucapannya itu, aku jadi hampir menangis. Aku merasa aku jadi penyebab ayah tetap sendiri hingga kini. Apa jika aku tidak ada, ayah telah beristri dan punya anak sekarang?

"Tapi… dengarkan ini baik-baik," ayah mencengkram bahuku, "Kau itu lebih berarti dari isteri terbaik sekalipun, karena kau anak ayah. Ayah tidak apa tidak beristri, tapi ayah tidak bisa jika Fugaku tidak ada."

Dia terlihat serius sekali, aku jadi menyesal.

"Maaf," kataku.

Ayah tersenyum dan mengacak rambutku.

Keesokan harinya, aku membuang tumpukan surat itu ke tong sampah.

.

Naruto datang lagi menjemputku. Dia bilang aku orang yang keren, jadi dia tidak keberatan menjadi supirku. Ayah menyambut ucapannya yang ramah dengan anggukan dan kata-kata 'hati-hati di jalan.' Dia memang irit bicara, sih.

Saat di dalam mobil, dia membuka pintu penumpang tepat di belakang kursi pengemudi. Aku sedikit bingung namun tidak ambil pusing. Semalam aku duduk di sampingnya, tapi kali ini, sepertinya ada yang telah lebih dulu menempati posisi itu. alangkah terkejutnya aku ketika tahu bahwa wanita itu adalah wanita yang pernah aku temui di taman ria. Lantas, aku menoleh ke sampingku, dan tiba-tiba saja aku lupa bernafas.

Rika duduk sambil melihat ke arahku dengan mata bulannya yang besar. Aku yang terkejut menabrak pintu yang syukurnya telah tertutup.

"Eh? Uchiha-san?"

"Ng?" jujur saja, menerima kejutan seperti ini menghilangkan kemampuanku untuk bicara. Aku kesal dengan diriku yang gampang gugup. Ini sangat tidak Uchiha.

"Loh? Kalian saling kenal?" Naruto-san melihat dari spion yang ada di depan.

Aku tidak menjawab. Aku lebih tertarik pada orang yang duduk di sebelahnya. Wanita itu, Hyuuga Hinata, orang yang aku inginkan untuk jadi ibuku.

Aku jadi tidak tahu harus senang atau sedih.

"Fugaku yang di taman ria, kan?" wanita dewasa yang benar-benar kuharapkan untuk berakhir dengan ayah itu menoleh dan memberikan senyum terbaiknya. Aku melihat Naruto yang tersenyum sambil mengemudi. Apa mereka punya hubungan khusus?

Aku buru-buru melihat jari wanita itu, sedikit lega karena tak menemukan cincin di sana. Itu berarti, sedekat apapun mereka, paling jauh masih dalam taraf pacaran. Tapi Naruto-san itu baik. Aku tidak mungkin membuatnya patah hati dengan membawa Hinata pada ayahku.

Oh Tuhan, aku dilema.

Karena terus memikirkan itu, aku tidak konsentrasi di sekolah.

Pulangnya, aku langsung beranjak ke kamar dan menangis di sana. Harapanku untuk punya ibu sepertinya memang tidak mungkin.

Di luar dugaanku, ternyata ayah pulang saat hari masih petang. Ini jauh lebih cepat dari hari-harinya yang biasa. Dia masuk tanpa mengetuk pintu kamarku dan melihatku sedang menangis. Aku kebingungan, terlalu gugup karena tertangkap basah.

Ayah tidak bertanya. Dia cuma mendekat dan menepuk kepalaku. Lalu aku tertidur dalam dekapannya.

.

Hari minggu ayah mengajakku ke sebuah restoran mewah di kota. Dia bilang ingin mengenalkanku pada seseorang. Aku dipaksa mengenakan kemeja dan jas, sama seperti ayah. Aku jadi merasa konyol. Kami seperti set boneka yang dipasang untuk diajak parade.

Di meja yang kami tuju, telah ada seorang wanita muda yang cantik. Rambutnya coklat dan bergelombang. Gaunnya berwarna putih. Dia seperti puteri salju yang tersesat. Tapi warna membara di bibirnya menghilangkan kesan itu. Dia tidak terlihat hangat, dia tampak cukup berbahaya.

Ayah tersenyum canggung padanya,

Kami duduk dan mulai memesan makanan.

Tiga puluh menit selanjutnya terasa seperti neraka bagiku.

Wanita itu duduk dengan terus tersenyum padaku dan ayah. Senyumnya aneh, kalau tidak mau dibilang mengerikan. Dia berkeras untuk menyuapi ayahku dari piringnya, dan memaksa ayahku balas menyuapinya.

Aku memutar bola mata.

Dia memang berbahaya.

Aku melihat ayah yang kelihatan ragu-ragu menerima suapannya untuk yang kedua kali. Dia melirikku, aku rasa dia butuh bantuan.

Aku langsung menarik-narik lengan jasnya, "Ayah, aku tidak enak badan."

"Hah?"

"Aku sakit. Kepalaku pusing," kataku berpura-pura. Wanita itu melotot garang karena aku merusak momennya bersama ayah. Biarkanlah. Aku tidak tega jika ayahku menderita begitu.

Ayah kelihatan bingung, lalu berdiri dan membungkuk sopan untuk meminta maaf. Dia menggendongku dan kami pun keluar. Di mobil, ayah tertawa. Aku melihat bingung ke arahnya. "Kalau ayah tidak suka padanya, kenapa kalian berkencan?"

"Siapa yang kencan?" elaknya, "Kakashi yang memaksaku."

"Biasanya Ayah menolak."

Ayah melonggarkan ikatan dasinya, "Yah, aku sih sebenarnya tidak terlalu ingin punya isteri saat ini," dia lalu melihatku, "Tapi, aku rasa kau memang butuh ibu. Aku pikir, tidak adil jika bagimu jika hanya punya seorang ayah yang jarang di rumah sepertiku."

Aku melihat tak berminat, "Biasanya Ayah selalu menolak permintaan itu."

"Kau menangis semalam, aku jadi banyak berpikir," sahutnya lagi.

Aku jadi tersadar. Aku tidak butuh ribuan kata-kata rayuan untuk ayah mengabulkan apa yang aku minta. Aku cukup menunjukkan air mataku di hadapannya. Ya, Tuhan. Sudah sepuluh tahun aku bersamanya, kenapa aku baru tahu sekarang?

"Sudahlah, Yah. Aku lebih baik tidak punya ibu jika Ayah harus tersiksa seperti tadi," aku tertawa, "Serius! Wajah Ayah benar-benar konyol tadi."

Ayah menghadiahiku sentilan yang menyakitkan di dahi. Pasti merah.

.

Aku bilang aku lebih baik baik jika tidak punya ibu jika ayah kelihatan tersiksa. Tapi sungguh, aku ingin seorang ibu. Jangan salahkan aku. Salahkan saja mereka, dua orang yang sedang duduk di halte bus itu. Si anak yang kedinginan memberikan tangannya untuk digenggam ibunya yang duduk di sebelah.

Aku melihat langit. Hujan sudah berhenti, tapi cuaca pasti sangat dingin.

Kulihat anak itu tersenyum. Aku jadi bertanya-tanya, apa genggaman tangan seorang ibu benar-benar hangat?

Mobil kami melintas begitu saja, aku tetap memperhatikan mereka. Ayah ternyata melihatku. Dia menepuk kepalaku pelan, aku menoleh ke arahnya. Matanya benar-benar lembut saat itu.

Entah kenapa, aku jadi ingin menangis.

Lima menit kemudian, kami sampai di rumah. Ayah menggendongku hingga ke atas tempat tidur. Aku berpura-pura tertidur supaya ia lekas keluar. Bukannya kenapa-kenapa, aku hanya tidak ingin ayah bersedih melihatku yang iri pada anak kecil tadi.

Besoknya, aku kembali dijemput oleh Naruto. Kali ini, ayah mengantar hingga ke tempat parkir. Dia juga akan berangkat cepat sepertinya. Dia tersenyum padaku, bilang hati-hati, lalu melambai.

Kejadian selanjutnya, berlangsung cepat.

Pintu mobil Naruto terbuka, memperlihatkan Hyuuga Hinata yang berdiri dan tersenyum menyapaku. Kulihat lambaian ayah berhenti dan dia kaku untuk beberapa saat yang tidak kuhitung. Hyuuga-san juga kaku. Lalu, seperti tergesa-gesa ayah melangkah maju, kembali mendekat, melewatiku dan sampai ke depan wanita itu.

Aku benar-benar berharap bahwa apa yang dipikiranku tidak terjadi.

"Hinata?"

Oh, Tuhan. Jangan biarkan ayah menyukai Hinata-san.

.

"Hinata?"

"Senpai?"

Aku bisa melihat wajah merah khas seorang Hinata terpampang jelas di depanku. Apa itu karena dia melihat ayah?

Saat aku berbalik, aku bisa melihat binaran itu di kedua mata ayah. Binaran yang menyiratkan perasaan. Entahlah, aku rasa ini berhubungan erat dengan Hyuuga yang ada di dekat kami.

Aku kasihan pada ayahku jika dia benar-benar menyukai Hyuuga Hinata. Wanita itu berhubungan dekat dengan Naruto. Aku memang ingin dia jadi ibuku, tapi aku juga tidak bisa membiarkan Naruto-san patah hati karena kami mencuri wanitanya. Dia pria yang baik.

Aku tidak ingin ayahku patah hati.

"Erm…" ayah melakukan kebiasaan yang sangat tidak Uchiha, dia menggaruk-garuk pipinya. "Apa kabar?"

"Baik. Senpai?"

"Yah… bisa kau lihat sendiri."

Hinata tertawa. tawanya benar-benar manis. Aku benar-benar ingin dia jadi ibuku.

"Kalian sudah saling kenal?" Naruto membuyarkan semua perasaan ringan itu. Wajah ayah langsung berubah. Sementara Hinata kelihatannya belum menyadari apapun.

"Oh, ya. Sudah lama sekali," ayah bilang, "Sampai jumpa."

Aku melihat punggung ayah yang nampak lemah.

Di sini, Naruto memiliki Rika dan Hinata. Ayahku sendiri. Aku ingin bersamanya.

"Mm… Paman Naruto, maaf. Aku ingin pergi dengan ayah saja."

"Heh? Kenapa?"

"Aku lupa memberikan surat dari guru," sahutku cepat dan langsung pergi. Aku takut dia tahu aku berbohong.

Ayah baru duduk di kursinya ketika aku masuk ke dalam mobil. Dia terkejut. Aku tertawa. jarang-jarang melihat wajah Uchiha Itachi yang seperti itu.

"Ayah pikir kau dengan Naruto?"

Aku menggeleng. "Tidak," kataku, "Aku dengan Ayah saja."

Ya. Aku dengan ayah saja. Dari dulu aku cuma punya ayah. Dan sekarang, aku juga cuma punya ayah. Itu sudah lebih dari cukup.

.

.

To be continue