Title: I Live In You.
Rate: T
Disclaimer: as always...the char in story not mine its belong to disney and square enix
Chapter 1: Sora and Roxas.
"Aerith." Cloud memanggil isterinya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
"Sora... Mana Sora?" Aerith berkata lemah.
"Sora berada di ruang bayi." Cloud tersenyum. Ia belum memberi tahu keadaan bayi mereka yang ternyata kembar.
"Cloud, bayi yang muda belum diberi nama." Edea, ibu Cloud bertanya pada Cloud. Bayi itu tidur berdampingan dengan kakaknya, Sora.
"Roxas... Namanya Roxas, dari Sora." Kata Cloud, tersenyum melihat dua anak laki-lakinya.
Mereka begitu serupa, hanya berbeda warna rambut. Sora berambut cokelat seperti Aerith sedangkan Roxas berambut emas seperti Cloud. Selagi Cloud melihat bayinya tiba-tiba Sora terlihat sulit untuk bernapas. Cloud menggedor kaca ruang bayi untuk menarik perhatian suster. Suster berlari ke arah keributan. Suster itu menggendong Sora dan membawanya ke tempat penanganan bayi. Bayi mungil mungil itu diberikan masker yang disambungkan kepada tabung pernapasan. Para tenaga medis berusaha untuk membantu Sora bernapas.
"Dokter! Bayi saya..." Cloud bertanya panik.
"Maaf... Sora memang berbadan lemah. Kami menduga gizinya lebih banyak terserap oleh adiknya." Dokter memberi tahu, Cloud terguncang.
"Kami akan berusaha untuk menolong Sora." Dokter berusaha untuk meyakinkan Cloud.
O0o0o0o0O
"SORA...!!!"Aerith memberontak memanggil nama anaknya.
"Aerith tenang... Sora masih ada di inkubator." Cloud berusaha menenagkan isterinya.
"Sora..." Aerith meratap.
Cloud mengantar isterinya ke ruang bayi tempat anaknya dirawat. Keduanya meringis melihat keadaan bayinya. Selang ada di sekitar tubuh Sora yang mungil dengan rambut mahoninya. Sora berusaha untuk bernapas sebanyak mungkin.
"Sora..." Aerith meratap melihat wajah anaknya.
"OAA... OAA... OAAA..." Suara tangis bayi lain mengalihkan perhatian Cloud.
"Aerith, itu Roxas adik Sora."Ia memberitahu isterinya.
"Nyonya Aerith, coba nyonya tenangkan Roxas. Ia terus menangis sejak Sora tidak ada di sampingnya. Mereka benar-benar terikat." Suster memberikan Roxas pada Aerith.
"TIDAK!! DIA BUKAN ADIK SORA!!! DIA PEMBUNUH!!!" Jerit Aerith.
"Aerith! Itu juga anak kita! Betapa miripnya dia dengan Sora." Cloud mengingatkan Aerith.
"Bukan...! Dia bukan adik Sora... Kalau bukan karena dia Sora pasti sehat!! Dia mengambil hidup Sora!!" Aerith menolak Roxas. Roxas yang terus menangis tanpa henti tiba-tiba berdiam.
Suster dan Cloud pun kaget mendengar suara tangis Roxas yang langsung terhenti.
"Aerith, ibu dan anak punya ikatan yang tidak dapat kamu bayangkan sebelumnya. Lihat kamu telah memutuskannya."Edea berkata dalam pada Aerith. Edea menggendong Roxas.
"Cloud, Roxas akan kubawa jauh dari semua ini." Edea tersenyum pada Cloud.
Cloud menimbang. Ia setuju dengan permintaan Edea.
O0o0o0o0O
Tiga hari setelah kelahiran Sora dan Roxas, Edea mengambil Roxas bersamanya. Edea membawa pulang cucu keduanya. Sora masih berada di dalam inkubator. Sejak penolakan dari ibunya, Roxas tidak pernah menangis kecuali jika ia lapar. Roxas seakan mati, namun saat Edea mengangkatnya untuk meninggalkan ruang bayi, Roxas menjerit.
"Roxas... Roxas..." Edea mengelus kepala Roxas, menenangkannya.
Roxas terus menangis. Sora yang berada di kotak inkubator bereaksi terhadap suara Roxas.
"Roxas, kamu pasti bertemu kembali dengan saudaramu." Bisik Edea.
Roxas terisak kecil, ia membuka matanya yang mungil lebar-lebar menatap saudara kembarnya, Sora.
Sora membuka matanya, menatap Roxas.
"Kita adalah satu... Ingat itu." Sora dan Roxas membatin.
Sora dan Roxas berpisah sejak itu. Tapi pertalian diantara mereka tak pernah putus.
O0o0o0o0O
-4 years later-
"Baa-san!" Bocah kecil berambut emas berlari menghampiri Edea.
"Roxas hati-hati jangan sampai jatuh." Edea tersenyum melihat tingkah Roxas. Roxas berlari-lari di sekitar halaman rumah.
'BRUUK!' Roxas jatuh di dekat pohon.
"Roxas!!" Edea berlari kearah Roxas. Kaki Roxas terluka, tapi tidak ada air mata di mata Roxas.
"Roxas, kamu tak apa-apa?" Edea bertanya kepada Roxas yang masih menatap kakinya.
"Tak apa-apa." Roxas tersenyum dingin.
Edea terkadang takut pada cucu keduanya ini, sejak kecil Roxas jarang menangis, pandangan dimatanya mati dan dingin. Edea berusaha sehangat mungkin pada Roxas tapi sia-sia. Hati Roxas seperti telah mati sejak ia ditolak oleh ibu kandungnya sendiri.
O0o0o0o0O
"Sora...!" Aerith memanggil anaknya yang sedang bermain di halaman rumahnya. Bocah berumur empat tahun itu tersenyum melihat ibunya.
"Kachan..." Cicit Sora. Ia berlari kecil menyongsong Sora.
"Sora, jangan lari-lari nanti jatuh." Kata Aerith sayang.
Sora terhuyung lalu terjatuh.
"Achuh!!" Tangis Sora.
"SORA!!" Aerith berlari kearah Sora yang terisak kesakitan memandang kakinya.
Aerith memandang mata anaknya, matanya berwarna biru jernih. Mata itu memandangnya dengan lembut, tapi sayang karena pengaruh kelahirannya hingga kini Sora memiliki badan yang lemah. Ia harus menjalani terapi untuk tubuhnya. Sora tak bisa seperti anak kebanyakan yang bisa berlari bebas.
"Kachan?" Kata Sora bingung.
Aerith memeluk Sora erat. Sora adalah hidupnya. Sora tersenyum, mengelus ujung rambut Aerith. Tangan mungilnya menggapai rambut cokelat Aerith yang sama dengan rambutnya.
O0o0o0o0O
"Roxas, kamu yakin bisa sendiri?"Edea meyakinkan cucunya. Roxas telah siap dengan baju seragamnya. Ia menggendong tas di punggungnya. Hari ini adalah hari pertamanya masuk ke sekolah dasar.
"Hm." Roxas mengangguk tanpa menjawab.
"Tapi di dalam itu banyak orang-"
"Aku gak apa-apa." Roxas berbalik memunggungi neneknya, masuk ke sekolahnya. Roxas dan Sora kini berusia tujuh tahun. Mereka masuk ke sekolah yang berbeda dengan kehidupan yang berbeda pula, tapi ada hal yang tak berubah, Roxas yang dingin dan Sora yang selalu hangat bagai matahari.
"Ouch!" Anak laki-laki berteriak di samping Roxas. Anak itu berambut merah dan terlihat lebih tua dari Roxas.
Roxas menatap dingin anak itu.
"Hei dik." Anak itu merangkul bahu Roxas. Roxas menghindar darinya dan berjalan menjauh.
Anak itu berlari menghadang jalan Roxas.
"Axel..." Katanya mengulurkan tangan.
Roxas menatap Axel tajam.
"Oh, Roxas." Axel melihat label nama yang tertera di baju Roxas.
Roxas tetap diam. Axel menganggap anak ini menarik masih berdiri di hadapannya.
"Hei..?? Halo??" Axel mengayunkan tangannya di depan wajah Roxas.
"Minggir." Roxas mendorong Axel menjauh, Roxas berjalan angkuh.
Roxas masuk ke kelasnya, telah banyak anak sebayanya yang telah duduk di sana.
"Jadi ini kelas kamu?"Suara Axel mengujutkan dari belakang Roxas.
Roxas berbalik, menatapnya dingin. Ia memunggungi Axel dan masuk ke kelasnya, duduk di deretan belakang. Axel semakin tersenyum melihat tingkah Roxas yang angkuh dan dingin.
"Axel, bel sudah berbunyi. Kembali ke kelasmu!" Yuna, guru kelas 1-B menegur Axel yang masih mellihat Roxas.
Axel tersenyum, melambai kepada Roxas tapi Roxas hanya mendengus pelan.
"Halo, sekarang kalian ada di kelas satu dan kalian harus belajar lbih giat lagi." Yuna tersenyum kepada semua anak. Yuna meminta semua anak-anak untuk memperkenalkan diri. satu persatu anak-anak memperkenalkan diri dengan riang hingga akhirnya tiba pada giliran Roxas.
"Roxas St... Str... Strife." Roxas berkata pelan.
"Maaf?" Yuna tersenyum lembut pada Roxas, meminta mengulang namanya.
"Roxas..." Katanya dingin dan langsung duduk.
Yuna memperhatikan wajah Roxas yang dingin dan tampak mati. Yuna tersenyum lembut padanya tapi Roxas hanya diam.
"Ayo kita belajar." Kata Yuna lembut pada semua muridnya.
-TO BE CONTINUED-
A.N : finally update chap 1...masi berlanjut lagi...review yah n tunggu gmana kelanjutan cerita si kembar yang terpisah
Special thx to Sleepy felyne...you are the best sista...
