Naruto © Masashi Kishimoto
Behind The Truth © Achika Yue
Pairing : SasuSaku
Rate : M
Genre : Romance and Hurt/Comfort
Warning: AU, OOC, Misstypo (selalu nongol), dst
.
.
.
Flashback On : Konoha, 16 Juli
Sakura berdiri diatap gedung kantor milik ayahnya di lantai sepuluh. Tatapan perempuan bersuarai merah muda ini terlihat kosong. Dulu saat ia masih berumur sebelas tahun dirinya pernah mengunjungi tempat ini. Tempat dimana dirinya yang saat itu sedang turut serta bersama ayahnya mengunjungi perusahaan tanpa sengaja menemukan sebuah area terbuka yang merupakan lantai atas gedung. Saat itu ia hampir membuat panik seisi kantor karena ia menghilang dan tahu-tahu ditemukan berada di lantai atas gedung. Sedangkan dirinya dengan tanpa dosa asik bermain dengan bahagianya di halaman luas yang biasa digunakan helikopter untuk mendarat.
Sakura tersenyum miris mengingat sepotong kenangan tentang masa lalunya, ketika ia merasa sangat bahagia, dan belum terbebani dengan persoalan-persoalan pelik yang harus dihadapinya. Tapi, sekarang semua itu hanyalah sebuah kenangan belaka. Semua terasa begitu cepat, dalam hitungan hari hidupnya sudah hancur berkeping-keping.
Kaki jenjangnya menopang tubuhnya berdiri di tepi lantai atas gedung yang dibawahnya terhampar jalanan yang ramai di padati oleh lalu-lalang kendaraan. Jika terjatuh dari lantai ini, kecil kemungkinaanya jika masih bisa menghembuskan nafas. Sakura memejamkan matanya, berusaha merasakan angin yang membelai tubuhnya. Mendadak terlintas sebuah ide gila di benaknya, ia berpikir mungkin mengakhiri hidupnya bisa menjadi sebuah pilihan alternatif untuk dirinya yang sedang buntu karena tengah didera berbagai persoalan. Ada setitik rasa takut yang terselubung di dalam hatinya. Namun keputusasaannya terasa jauh lebih besar mengalahkan rasa takutnya. Maka detik itu, ia memutuskan untuk mencoba memilih mengambil resiko. Ini mungkin akan terasa sakit, tapi setidaknya ia tidak harus menderita di dunia, pikirnya sesat.
Brukkk!
Sebelum dirinya melangkah terjun ke bawah, ada sepasang tangan yang menarik tubuhnya begitu kuat hingga ia terjerembab ke belakang.
Sakura mengaduh kesakitan karena bagian belakang tubuhnya bertabrakan cukup kuat dengan lantai. Matanya mencari-cari siapa gerangan yang sudah menganggu 'acara' pribadinya.
"Siapa kau? Apa yang kau lakukan hah!" bentak Sakura kesal pada orang yang juga terduduk di lantai sama sepertinya. Ia yakin orang inilah yang sudah menganggu kegiatannya. Tapi, sosok itu terdiam tak menyahut kata-kata Sakura, ia justru menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Hei, jawab aku!" teriak Sakura berang, karena sosok itu tetap tak bergeming dengan raut wajah datar yang membuat Sakura semakin dilanda emosi.
Sakura sudah ingin mengeluarkan bentakannya lagi, sebelum pria itu bersuara dan menggagalkan niatannya. "Apa yang sedang kau lakukan tadi?" bukannya menjawab sosok itu justru balik bertanya.
Sakura menarik napas kuat-kuat, menatap garang sosok seorang pria yang telah membuatnya merasa terganggu. Diamatinya pria yang memiliki tubuh proporsional dengan tinggi semampai dan wajah yang tidak bisa dikatakan buruk bahkan dalam sekali pandang. Jika saja Sakura tidak sedang dalam keadaan kesal setengah mati dibuatnya, Sakura sudah pasti akan terkagum-kagum dengan pesona pria itu.
"Itu bukan urusanmu! Kau tidak berhak mengangguku!" ucap Sakura dengan nada sama tinggi dengan yang sebelumnya. Sedangkan sosok di sebelahnya tetap tenang masih setia menatap dirinya.
"Kau ingin bunuh diri?"
"Sudah kubilang itu urusanku, kau tidak perlu tahu! Cepat pergi sana!"
Pria itu masih saja tetap terdiam dalam posisinya, ia menatap intens Sakura yang sudah begitu diliputi emosi. Sedangkan Sakura sendiri sudah mulai jengah ditatap terus oleh pria aneh yang bahkan tidak menampilkan ekspresi apapun sejak tadi. Seleranya untuk bunuh diri juga rupanya sudah hilang akibat kekesalannya pada pria itu. Sakura segera bangkit berusaha berdiri dan berniat secepatnya pergi meninggalkan lantai atap gedung dan juga pria yang sukses memicu emosinya, hingga…
"Ugh…"
Sakura menghentikan langkahnya yang sudah memunggungi pria aneh yang tadi tiba-tiba muncul ke hadapannya. Ditengokan kepalanya ke arah pria itu. Ia sedikit terkejut melihat pria itu sedang merintih menahan sakit pada kakinya yang sepertinya terkilir akibat meno―tidak, tapi menggagalkan aksi bunuh dirinya.
Jujur saja ia sebenarnya enggan untuk berbalik namun karena ia juga tidak tega, akhirnya dengan setengah hati Sakura menghampiri pria itu lalu berlutut di depannya mensejajarkan dirinya dengan si pria aneh yang masih terduduk di lantai.
"Kau kenapa, heh? Sakit?" tanya Sakura memastikan.
"Hn, tidak apa-apa."
Dengan tatapan mengejek Sakura meraih lengan pria itu berusaha membantunya untuk berdiri.
"Kalau sudah sakit, tidak usah gengsi. Lagipula salahmu sendiri ikut campur urusan orang lain." gerutu Sakura di sela-sela aksinya membantu pria itu. Namun biarpun sikapnya seperti itu, Sakura tetap berusaha membantu pria itu untuk berdiri. Melihat kondisi kakinya yang terlihat pincang, sepertinya pria itu membutuhkan bantuan untuk berjalan.
Hanya bisa kembali terdiam, pria itu tidak menolak saat Sakura kemudian berjalan memapahnya keluar meninggalkan lantai atap gedung.
"Kau sedang apa berada di sini?"
Sakura mendengus menekan tombol lift dan memasuki ruangan yang berbentuk seperti kubus. "Kau tidak mengenalku?" Sakura menyahut dengan balik bertanya.
"Tidak."
"Hhh… sepertinya kau pegawai baru ya?"
Pria yang berada di sisinya ini menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan Sakura padanya.
"Lalu?" tanya Sakura lagi.
"Aku pegawai dari klien perusahaan ini. Aku kemari sedang mengerjakan proyek bersama dengan perusahaan ini." terangnya dengan tatapan lurus ke depan.
"Oh, pantas kalau begitu."
Lift terus bergerak turun menuju lantai dasar. Sakura memutuskan untuk membawa pria itu ke klinik yang berada di sekitar gedung ini. Dan tentu saja klinik tersebut juga merupakan milik dari perusahaan ayahnya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi,"
"Eh? Yang mana?"
Sakura menoleh ke samping di mana pria itu berdiri, kepalanya sedikit mendongak karena tinggginya hanya sebatas leher pria itu. Ia sedikit terperangah, saat iris mata emeraldnya menangkap siluet wajah rupawan yang nampak jelas di depan matanya. Wajah maskulin dengan rahang tegas itu menghadap lurus ke arah jalan. Mendadak pipi sakura merona tipis, mendapati pemandangan seraut wajah yang nyaris tanpa cela. Ketika tersadar, Sakura segera memalingkan kembali wajahnya.
"Tadi aku bertanya, sedang apa kau berada di sini?" pria itu mengulang pertanyaannya lagi.
Sakura menghela nafas berat sebelum ia menjawab pertanyaan pria di sisinya ini. "Kurasa kau tidak perlu tahu soal itu, dan…" Sakura menjeda kalimatnya. "Terimakasih telah menganggu acaraku tadi," lanjutnya sarkastis.
Entah mengapa di lubuk hati Sakura yang terdalam, sejujurnya ia sedikit bersyukur ketika pria di sebelahnya ini telah merecoki aksi bunuh dirinya. Setelah pikirannya sedikit jernih, ia sedikit menyesali tindakan gegabahnya. Sakura tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya jika saja pria yang ada bersamanya ini tidak segera datang menggagalkan aksinya. Namun karena ia terlalui gengsi, jelas tidak mungkin jika ia harus berterimakasih sepenuh hati kepada pria itu.
"Apa kau ditinggal kekasihmu? Sampai kau ingin bunuh diri seperti tadi, sungguh kekanakan."
Telinga Sakura berkedut merespon cepat kata-kata yang terasa menusuk, menyinggung perasaanya. Siapa orang ini? berani-beraninya berkata dirinya kekanakan? Dan, bunuh diri karena ditinggal kekasih? Hell no! Sakura melepas dengan kasar lengan pria itu yang sebelumnya ia lingkarkan ke bahunya untuk ia papah.
Dengan mata berkilat penuh emosi ia menghadap tepat di depan pria itu. Menuding lurus pria itu dengan telunjuknya. "Kau jangan seenaknya bicara! Kau tidak tahu apa-apa tentangku, jadi kau, tidak usah menilaiku!" Sakura tidak perduli lagi, ia benar-benar meninggalkan pria itu begitu saja, tanpa menoleh sedikitpun lagi padanya. Rasa ibanya sudah sirna entah kemana melayang begitu saja ketika laki-laki itu berkata tajam memancing amarahnya.
xxxxx
Sakura melempar tasnya serampangan di atas tempat tidur, disusul melempar dirinya juga ke atas tempat tidurnya. Hari ini benar-benar membuat moodnya kacau. Sakura mengacak rambutnya frusatasi, ia tertawa mengejek pada dirinya sendiri yang sempat mempunyai pemikiran bodoh untuk mengakhiri hidupnya. Dengan terjun bebas dari atap gedung lantai sepuluh kantor ayahnya, maka semuanya selesai. Sinting! Ia tidak percaya kalau ia yang selalu berpikir secara rasional telah mempunyai pikiran tolol seperti itu. Sakura merasa dirinya saat ini sudah seperti orang depresi, tapi ia merasa itu semua cukup manusiawi setelah bertubi-tubi masalah yang menimpanya. Pertama, empat hari lalu ia telah diculik dan diperkosa oleh orang yang ia tidak tahu sama sekali. Kedua, setelah kejadian itu, ayahnya mendapatinya pulang dalam keadaan pucat dan terlihat sangat mengenaskan. Lalu sesudah itu ayahnya mengetahui bahwa putri satu-satunya telah di perkosa. Hal itu sukses membuat ayahnya mendapat serangan jantung, kemudian sampai sekarang ayahnya masih terbujur lemah di ruang rawat intensif dalam keadaan koma. Dan untuk yang ketiga, ia merasa hatinya benar-benar sakit, ketika sanak saudaranya menganggap ia sebagai seorang pembawa masalah dan aib bagi keluarga.
Sakura beranjak bangun kemudian menuju lemari pakainnya. Mengaduk-aduk isi lemari pakaiannya, mencari tas besar yang biasa ia gunakan untuk berpergian jauh. Saat sudah ditemukan, ia segera memasukkan beberapa pakaian dan beberapa benda keperluan lainnya. Setelah dirasa cukup, ia bersiap untuk segera meninggalkan rumah. Tak perlu mengendap-endap atau berjalan seperti kucing yang hendak mencuri ikan, karena Sakura tahu, tidak ada lagi penghuni di rumahnya selain pembantunya yang pasti sudah terlelap di jam-jam seperti ini. Sedang ibunya sudah pasti berada di rumah sakit menunggui ayahnya.
Saat Sakura sampai di luar, ia mendapati dua orang keamanan yang sedang berjaga di pintu gerbang rumahnya.
"Bukakan, pintunya." perintah Sakura pada dua penjaga yang menatap heran penampilannya. Jika dilihat baik-baik, Sakura lebih mirip orang yang ingin kabur dari rumah.
"Maaf, Nona akan pergi kemana malam-malam begini? Dan, Nona tidak menggunakan mobil?" tanya salah seorang penjaga.
Sakura menatap dingin kedua penjaga itu. "Aku bilang buka pintunya, kalian tidak usah banyak tanya."
"T-tapi bagaimana jika Nyonya bertanya kemana Nona―"
"Aku sudah meminta izin padanya, Jadi sekarang cepat bukakan pintunya!" kilah Sakura membohongi kedua penjaga yang mulai curiga dengan gelagat Sakura.
Tanpa berkata-kata lagi, dengan takut-takut kedua penjaga itu segera membukakan pintu gerbang kediaman Haruno, dan membiarkan Sakura lewat.
Sakura segera menyetop taksi kemudian melesat meninggalkan rumahnya bersama taksi yang membawanya.
Gadis berambut sewarna bunga Sakura ini menatap kosong jalanan di balik kaca jendela mobil di bangku penumpang. Ia tidak tahu apa tindakannya sekarang adalah hal yang benar. Namun ia tidak bisa berdiam diri di rumah tanpa melakukan apapun. Keluarga besarnya melarang ia menemui ayahnya untuk sementara waktu karena ia dikhawatirkan akan membawa dampak buruk bagi kondisi ayahnya. Sedang ia di suruh untuk berdiam diri di rumah dan sebisa mungkin menjaga diri agar tidak ada seorangpun yang tahu hal yang menimpa dirinya, karena jika sampai publik mengetahuinya, maka bisa dipastikan hal itu dapat mempermalukan nama baik keluarga Haruno. Sungguh menyakitkan memang, dianggap sebagai aib dan seorang pembawa masalah seperti ini. Ia juga benci sikap mencemooh keluarga ayah atau ibunya kepada dirinya yang menyuruh mengisolasi diri untuk sementara waktu. Demi Tuhan! Apa sekarang dirinya sudah dianggap seperti virus mematikan yang bisa menular dan membunuh siapa saja? Hanya ibunya lah satu-satunya orang yang tetap bersikap seperti biasa, dan tetap menyayanginya.
"Na…"
"Nona…"
Sakura terlonjak mendengar suara supir taksi yang memanggilnya, mengembalikannya ke dunia nyata setelah beberapa saat tenggelam dalam lamunannya.
"E-eh iya ada apa?"
"Maaf Nona, tujuan anda ke mana? sejak tadi anda belum mengatakan tujuan anda,"
"Umhh…" Sakura terlihat berpikir sesaat, namun dengan cepat terlintas di otaknya sebuah tempat yang sudah ia kenal baik. "Antarkan saya ke Konoha Tower." terangnya, kemudian di sambut anggukan dari si supir taksi.
Setelah memakan waktu sekitar empat puluh lima menit dari kediamannya, akhirnya Sakura sampai di Konoha Tower. Sejujurnya tujuannya kemari adalah ingin menyambangi restoran favoritnya yang berada di area sekitar Konoha Tower, karena sejak tadi siang ia belum mengisi perutnya dengan makanan sedikitpun.
Sakura memilih duduk di sudut ruangan sebuah restoran. Menyisihkan diri dari keramaian pengunjung yang memadati restoran bergaya tradisional jepang ini. Saat ini Sakura sudah berada di Yakiniku Q, sebuah restoran dimana dulu ia sering menghabiskan waktu untuk bersantap ria bersama kedua orang tuanya. Mengingat itu, hati Sakura terasa ngilu, ia merindukan saat-saat bahagia bersama ayah dan ibunya. Betapa rindu dan inginnya ia menjenguk ayahnya. Tapi ia juga takut kalau ia muncul di hadapan ayahnya saat ini, ayahnya akan sedih dan penyakitnya akan kambuh lagi. Dan tentu saja ia tidak mau itu terjadi.
Hampir tiga puluh menit waktu yang dibutuhkan untuk Sakura menghabiskan makanannya. Waktu yang baginya terasa lama karena harus makan seorang diri seperti ini. kalau saja ia tidak merasa sakit di bagian lambungnya ia sebenarnya saja enggan untuk makan. Selera makannya rasanya sudah hilang tak tahu pergi entah kemana.
Sakura melambai ke arah pelayan meminta bill berniat untuk membayar makanannya, namun betapa terkejutnya ia ketika membuka dompetnya, ia tidak menemukan kartu ATM miliknya―yang di dalamnya tersimpan cukup banyak uang―tidak ada di tempat yang seharusnya―dompet. Biarpun Sakura termasuk dalam kategori golongan kelas atas, namun ia tidak begitu senang membawa uang dalam jumlah banyak. Ia biasanya hanya membawa satu ATM―yang hilang―dengan isi tidak sedikit, satu kartu kredit―yang sialnya lagi sedang di blokir―kemudian beberapa uang tunai. Untungnya kali ini ia membawa cukup banyak uang tunai di dompetnya.
Seusai makan dan membayar semua hidangan yang ia pesan, Sakura melangkah meninggalakan restoran itu. Tapi langkahnya terhenti sesaat, ketika pikirannya mengingatkan kalau ia harus menginap di mana malam ini? Sebab ia sudah memutuskan untuk pergi dari rumah sampai waktu yang belum ditentukan. Menginap di rumah Ino? Ia tidak mau merepotkan Ino dan paman Inoichi, lagipula jika ia menginap di sana pasti akan dengan mudah diketahui oleh ibunya. Di apartemen Karin? Sahabatnya itu juga sedang pergi ke Otto. Di Hotel? Kartu ATM miliknya hilang, jadi tidak mungkin ia sanggup membayar sebuah kamar Hotel. Selain itu, jika ia menginap di Hotel, hal ini bisa saja menimbulkan kecurigaan, mengingat ayahnya saat ini sedang di rawat sedangkan dirinya keluyuran menginap di Hotel. Ia tidak bisa melupakan fakta kalau ia adalah salah satu anggota keluarga Haruno yang terkenal di seantero Konoha. Sakura mendesah pelan seiring kaki jenjangnya yang terus menapaki bahu jalan yang disediakan untuk pejalan kaki. Ia berjalan sambil menerawang, sehingga dirinya tidak memperhatikan jalanan. Karena pikirannya yang masih sibuk melanglang buana memikirkan di mana ia harus bermalam malam ini, sampai-sampai ia tak menyadari ada pejalan kaki lainnya yang datang dari arah sebaliknya.
Brukk!
"Ah, ma-maaf,"
Sakura menunduk meminta maaf lalu memungut tas jinjing orang yang sudah ditabraknya kemudian dengan segera menyerahkannya. Ia mendongak melihat wajah orang itu, dan betapa kagetnya ia.
"K-kau?" Sakura mengacungkan telunjuknya ke arah pria itu, pria yang sama yang tadi siang di temuinya.
"Hn, kau lagi." Sahutnya cuek dengan tampang stoic-nya.
Sakura mendengus sebal. "Seharusnya aku yang berkata begitu, huh."
Sesaat mereka saling bertatapan, kemudian dengan kompak keduanya saling membuang muka. Karena tak ingin kembali berurusan dengan pria aneh yang menurutnya tampan tapi tak memiliki ekspresi sama sekali yang sungguh membuatnya benar-benar muak. Dan juga… apa-apaan potongan rambutnya itu? kalau dilihat-lihat potongan rambutnya itu lebih mirip potongan bokong hewan unggas. Dasar pria aneh! Sakura akhirnya memutuskan melewati pria itu begitu saja. Ia sama sekali tidak berminat untuk menaggapi pria aneh yang beberapa jam lalu sempat bertengkar dengannya dan membuatnya marah sampai ke ubun-ubun. Sakura terus berjalan menjauhi pria aneh itu yang masih berdiri di tempatnya.
Namun malang bagi Sakura, ia lupa kalau ia adalah seorang gadis yang tengah berjalan seorang diri di malam hari, dan sialnya juga jalanan itu sudah mulai sepi. Ia baru menyadarinya ketika mata hijaunya menangkap dua sosok preman yang menatapnya penuh minat dari arah yang berlawanan dengannya. Sakura balas menatap waspada kedua preman yang semakin mendekat ke arahnya itu. Ia juga sudah siap mengambil ancang-ancang untuk melarikan diri.
"Hai, cantik…" sapa salah satu preman yang menampilkan seringai menjijikan di wajahnya yang penuh tindik.
"Mau apa kalian!" bentak Sakura galak, ia berjalan mundur untuk menghindari kedua preman itu.
Premen itu sudah mulai melangkah mendekat sebelum sebuah suara baritone memecah ketegangan di sana.
"Jangan ganggu dia,"
Sakura menoleh ke arah sumber suara dan mendapati sosok pria aneh yang tidak asing di matanya karena baru saja ia menabraknya beberapa menit yang lalu. Dan kini pria itu berdiri di sisinya. Seperti ada sebuah cahaya yang bersinar di balik punggung pria itu Sakura merasa kembali tertolong olehnya. Pria itu saat ini jadi terlihat seperti dewa penolong untuknya. Ada di saat-saat ia sedang terjepit dan membutuhkan pertolongan seperti sekarang ini.
"Hei… hei.. ada yang ingin jadi pahlawan rupanya, hmm," preman bertindik itu kembali mendekati Sakura bersama seorang temannya. Namun mereka terhalang oleh pria aneh itu yang berdiri maju menghalau dua preman itu mendekati Sakura.
Bugh!
Preman bertindik itu melayangkan tinjunya pada si pria aneh tepat di perutnya, lalu tertawa meremehkan melihat si pria aneh itu membungkuk mendapat pukulan telak di perut. Sakura hanya bisa menjerit, tak kuasa melihat adegan kekerasan yang di pertontonkan di hadapannya. Preman bercadar yang wajahnya terlihat cukup menyeramkan―teman dari si preman bertindik―juga bersiap untuk menghajar membantu temannya. Tapi… di luar dugaan pria aneh itu dengan gesit menghindari serangan, kemudian membalas menyerang kedua preman itu dengan membabi buta.
Terjadi baku hantam yang cukup alot diantara ketiganya. Tapi dengan sigap pria aneh itu menumbangkan kedua preman tegil yang akhirnya terkapar kemudian lari pontang-panting. Biarpun ia mengalami sedikit luka-luka tapi pria itu begitu tangguh karena ia masih sanggup berdiri tegap dengan kokohnya.
Sakura segera menghampiri pria aneh itu. "Kau ti-tidak apa-apa?" Sakura memandang khawatir pria yang sudah bersedia babak belur untuk menolongnya.
"Hn,"
"Ma-mafkan aku, a-aku… aku sungguh berterimakasih kau sudah mau menolongku."
"Hn, ini sudah malam, sebaiknya kau segera pulang," pria itu sudah mau berbalik namun ia mengurungkannya lalu merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah kartu. "Ini milikmu, tadi siang terjatuh. Aku mau mengembalikannnya tapi kau langsung pergi begitu saja," sambungnya tetap berwajah datar.
"I-itu…" Sakura meraih kartu ATM miliknya yang sejak tadi ia cari-cari dari tangan pria aneh itu. "Sekali lagi, terimakasih." Sakura membungkuk sopan.
Pria aneh itu dengan cepat sudah berbalik memunggungi Sakura, membuat Sakura sadar kalau pria itu sudah ingin pergi. Cepat-cepat ia menyusulnya, mencengkram lengan kokoh pria itu. "Tunggu!"
Mendapat cengkraman erat dari Sakura, pria itu menoleh kemudian melihat wajah Sakura sekilas, setelah itu pandangnnya beralih pada lengannya yang di cengkram kuat oleh Sakura.
Mengerti arah pandang pria itu Sakura buru-buru melepaskan cengkramannya. "Ah, iyah… maaf,"
"Hn, apa lagi?"
"Aku… apa yang bisa ku lakukan untuk membalas semua pertolonganmu," Sakura terlihat gusar dan salah tingkah, agaknya ia malu pada pria di hadapannya ini.
"Tidak usah, ini semua hanya kebetulan,"
"Ta-tapi kau terluka," Sakura menatap cemas wajah pria itu yang terlihat sedikit membiru hasil pertarungannya dengan dua preman tadi. "Ijinkan aku… ak-ku maksudku... aku ingin mengobatimu sebagai tanda terimakasihku,"
Pria itu menaikan sebelah alisnya memandang Sakura dengan tatapan yang sulit dimengerti. Sakura dapat melihat jelas pria itu sudah mulai ingin membuka mulut, pasti ia akan menolak tawarannya, namun Sakura cepat-cepat berujar, "Kumohon, aku tidak apa-apa, lagipula aku sedang tidak punya tujuan." Sakura merutuki dirinya dalam hati, entah keberanian dari mana ia justru berkata lantang seperti itu pada pria yang baru saja ditemuinya. Bahkan namanya saja ia tidak tahu. Tapi entah mengapa ia mempunyai feeling jika pria ini bukanlah orang jahat.
"Kau sedang tidak punya tujuan?"
"I-itu… err aku…"
Pria itu meneliti Sakura dari ujung kaki hingga ujung rambut merah mudanya. "Kau sedang kabur dari rumah?"
Sakura tersenyum canggung untuk menanggapinya, sedikit malu karena dua kali tindakannya dapat ditebak oleh orang yang sama.
"Kalau begitu kau pulang saja. Aku tidak ingin dituduh menculik putri dari keluarga Haruno,"
Sakura membelalakkan matanya, ia menatap tidak percaya pada pria aneh yang baru saja mengucapkan kata-katanya barusan. Dari mana ia tahu kalau dirinya adalah seorang Haruno? "Kau mengenalku?"
"Setidaknya aku bisa membaca tulisan nama pemilik di ATM itu."
Wajah Sakura tertunduk lesu, ia mendesah pelan. Ia terlihat gelisah dan nampak seperti orang yang sedang kebingungan.
"Kenapa lagi?"
"Aku sedang kebingungan, tidak tahu harus kemana," lirihnya pelan.
"Lalu apa hubungannya denganku?"
Ctak! Sudut siku-siku mulai nampak di dahi lebar Sakura. ia tidak habis pikir, bukankah pria ini tadi sudah berbaik hati untuk menolongnya, tapi sekarang ia dengan ringannya berbicara seperti itu. Mulutnya memang kejam!
"Aku tahu ini tidak ada hubungannya denganmu. Tapi apa kau tidak kasihan melihat seoarang perempuan di tengah malam jalan sendirian tidak punya tujuan seperti ini. Setidaknya kau bisa menolong menemani aku sampai aku mendapatkan penginapan, kumohon,"
"Sudah kubilang, aku tidak ingin di cap sebagai penculik atau terlibat persekongkolan kaburnya putri dari keluarga Haruno."
Kata-katanya kembali membuat nona Haruno ini dongkol, ia menatap jengkel pria itu. "Baiklah, maaf kalau begitu. Biar aku cari saja sendiri penginapan di sekitar sini. Semoga saja aku tidak menemui preman-preman sangar seperti tadi, dan ku harap kau bisa tutup mulut prihal semua ini. Tentang pertemuan kau denganku dan aku yang kabur. Terimakasih."
Baru tiga langkah Sakura berjalan ia mendengar pria aneh itu berbicara sesuatu yang sontak membuat ia berbalik.
"Di apartemenku ada kamar tamu, jika kau mau kau boleh mengisinya, hanya untuk satu malam."
Sakura memfokuskan pandangannya menatap pria itu dengan wajah berbinar-binar. Padahal tadi ia tidak bermaksud meminta untuk menumpang, tapi pria di depannya ini berkata kalau ia mengijinkannya untuk menginap di rumahnya. Yeah, walaupun hanya satu malam.
"Tapi dengan catatan kau tidak berbuat yang aneh-aneh dan tidak melibatkan aku dalam tindakanmu." sambungnya menerangkan.
Sakura tersenyum kecut menanggapi sikap angkuh sososk pria di hadapannya, tapi dilain sisi Sakura mengakui kalau pria ini sudah cukup baik mau menampungnya. Dan tentu Sakura tidak melupakan kalau si pria aneh itu telah menolongnya hampir dua kali. Sakura membungkuk kemudian mengucapakan 'terimakasih sekali lagi'. Namun tiba-tiba pria itu berlalu begitu saja melewatinya mengabaikan dirinya, keterlaluan!
"He-hei Tunggu!" serunya kemudian berlari kecil menyusul pria itu.
"Kalau begitu boleh aku tahu siapa namamu? Kita belum berkenalan," Sakura menjulurkan tangannya. Ia sudah berjalan di sisi pria itu.
Pri itu berhenti sejenak, memandang ke arah jemari lentik yang terjulur padanya lalu beralih pada wajah imut yang terbingkai manis dengan helaian merah muda dan manik hijau bening yang balas menatapnya lembut.
"Sasuke. Uchiha Sasuke."
xxxxx
Sepasang bola mata hijau emerald itu menyusuri tiap sudut sebuah apartemen sederhana yang cukup rapidan bersih namun hanya dihiasi beberapa prabot minimalis yang jika di perhatikan secara seksama jauh berbeda dengan prabotan mewah yang ada di rumahnya. Kesan pertama yang dapat ditangkap dari suasana di apartemen milik Sasuke―pria yang baru dikenalnya ini―adalah pemiliknya sepertinya berasal dari kalangan biasa yang selalu menjaga dengan baik kebersihan dan kerapihan.
Menyadari tatapan meneliti Sakura yang berputar mengedarkan pandangannya ke saluruh penjuru ruang apartemennya Sasuke angkat bicara.
"Kenapa? Apartemnku tidak sebagus yang kau harapkan?"
"Ti-tidak, bukan begitu."
"Begitu juga tidak apa-apa."
Sakura menggembungkan pipinya, ia sebal mendengar ucapan ketus Sasuke yang tidak pernah bisa menjaga perasaan.
"Umh… di mana dapurmu?" tanya Sakura celingak-celinguk.
Sasuke melepas jaketnya lalu melepas dasi dan kemudian melepas satu persatu kancing kemejanya kemudian membiarkan tubuhnya bertelanjang dada. Tanpa mengeluarkan kata-kata, ia mengarahkan telunjuknya ke arah ruangan di kanan Sakura. Sakura meneguk air liurnya susah payah disuguhi pemandangan tubuh atletis seorang pria yang wajahnya begitu tampan, sontak membuat Sakura menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai memanas. Dengan canggung ia lalu mengikuti arah yang ditunjukan oleh Sasuke.
Setelah beberapa menit berlalu Sakura muncul dari arah dapur membawa semangkuk batu es yang di dalamnya terdapat sebuah sapu tangan berwarna merah muda.
"Aku ingin mengobati lukamu,"
Sasuke memutar kepala ke sisi kanannya, melihat Sakura yang berdiri membawa sebuah mangkuk. Ia mengerutkan keningnya sesaat, lalu kembali menatap layar televisi sambil bergumam, "Tidak usah, aku baik-baik saja."
Dengan kesal Sakura mendudukkan dirinya di sebelah Sasuke, "Kemarikan wajahmu, kau harus segera diobati tauk!" perintahnya sedikit membentak, kesal melihat tingkah keras kepala Sasuke.
Dengan tatapan tajam Sasuke akhirnya menoleh padanya, namun Sakura tidak gentar sedikitpun, ia balas menatap manik hitam itu penuh percaya diri. Dengan gesit Sakura menempelkan sapu tangan merah muda miliknya yang di dalamnya sudah berisi batu es ke wajah lebam Sasuke.
Sasuke meringis tertahan kemudian melotot ke arah Sakura. Sedangkan yang ditatap mulai menyadari ada sorot mata yang begitu tajam menatapnya intens. Seketika dua pasang mata berlainan warna itu saling bertatapan. Mempertemukan sorot mata keduanya yang seolah terhubung oleh sesuatu yang tak kasat mata. Tatapan-tatapan itu semakin dalam dan intens, menenggelamkan keduanya dalam pesona masing-masing yang saling tarik menarik seperti dua kutub yang berbeda. Waktu terasa berputar begitu lambat, membius mereka dalam suasana yang sulit untuk dipahami.
Sasuke tidak mengerti, ia mendapat dorongan dari mana hingga reflek tangannya bergerak menyentuh tangan Sakura yang masih bertengger menempelkan sapu tangan berisi batu es di pipinya. Wajah mereka berjarak hanya beberapa senti. Jarak diantara mereka semakin lama semakin menipis, sampai-sampai mereka bisa merasakan hembusan nafas satu sama lain.
Sasuke mulai memajukan wajahnya ke wajah manis Sakura yang sudah diwarnai dengan semburat merah tipis di kedua pipinya, membuatnya terlihat semakin manis. Bibir pink mungil gadis itu merekah cantik membuatnya tergoda untuk mengecap, mengulum dan memberikan sentuhan lidahnya di sana.
Sakura nampak membeku di tempatnya tak kuasa untuk bergerak barang sedikitpun, hingga bibir Sasuke hampir mendarat di bibirnya, membuat Sakura menegang dan seketika itu terkejut.
"Tidak! Lepaskan aku!"
Sakura berteriak histeris lalu mendorong keras tubuh Sasuke hingga terjengkang ke belakang. Sakura segera menutup wajahnya, dengan tubuh yang bergetar hebat ia mengigit bibirnya kuat-kuat untuk meredam isakannya. Bahunya naik turun seirama dengan nafasnya yang terus memburu.
Sasuke memandang heran sosok yang terlihat seperti orang yang sedang ketakutan setengah mati. Kini perempuan itu tengah meringkuk di sofanya. Reaksinya benar benar diluar dugaan dan cukup berlebihan. Ia menyesali perbuatannya yang diluar kendali sampai membuat perempuan itu jadi seperti sekarang ini. Ia tidak menyangka dan tidak bermaksud membuat perempuan ini sampai sebegini takutnya.
Sasuke hendak menyentuh bahu Sakura, tapi kemudian diurungkannya. Ia tidak ingin lagi membuat perempuan itu takut seperti tadi.
"Maafkan aku. Aku sungguh tidak bermaksud menyakitimu."
Setelah cukup tenang Sakura mulai memperlihatkan wajah pucatnya, ia melihat Sasuke berdiri menghadapnya dengan tatapan menyesal.
"Di sana kamar tamunya," Sasuke menunjukan sebuah kamar di sebelah kamarnya dengan sebelah tangannya. "Kau bisa tidur di sana. Sudah malam, sebaiknya kau tidur."
Sakura tertunduk, menyesali tingkahnya yang ia yakin pasti membuat pria yang sudah mau menolongnya itu menganggap dirinya aneh. Namun, ia juga tidak tahu mengapa Sasuke tiba-tiba hampir menciumnya. Tapi Sakura tahu, dari matanya pria itu berkata jujur kalau ia memang tidak bermaksud menyakitinya.
"Maaf," bisiknya pelan walau ia tahu Sasuke tidak bisa mendengarnya, karena pria itu sudah berada di kamarnya.
.
.
TBC
.
.
Ehehe saya gag nyangka baca repiu chap kemaren masih ada yang mau repiu minta lanjut, dan ada beberapa yang fave. Saya jadi terharu, serius. Sesuai dengan yang saya bilang kemarin chap ini full flash back awal ketemunya SasuSaku. Mungkin beberapa chap ke depan juga masih flash back.
Berjuta-juta terimakasih buat yang sudi mampir baca n repiu chap kemarin dan alert ato fave. I appreciate for you all attention.
Thanks a lot to : Sslove, Sung Rae Ki, momijiy-kun, Kana, Deshe Lusi, NenSaku, Karasu Uchiha, Chadeschan, hasni kazuyakamenashi stareels,norii-chan13, meyrin kyuchan, Sindi 'Kucing Pink, me, Aoi Ciel, , Hoshi Yukinua, miyank,Kikyo Fujikazu, sakuraBELONGtoSASUKE, s2s, anonim, Zen-Ri Kurasuke, Fivani-chan, Shin Kiyomizu.
Gomen saya gag bisa bales repiu satu-satu soalnya publishnya juga buru-buru, modem saya lagi kehabisan pulsa jadi pakai modem temen kosan sebelah alias modem pinjeman*author gag modal* heheh:D
Akhir kata, RnR lagi yaaa, pleasee^^.
