NCT and SMRookies are brands associated with SM Entertainment

and

Hogwarts is a part of Harry Potter verse that owned by none other than J.K. Rowling

.

Beberapa perubahan disesuaikan untuk kebutuhan jalannya cerita .

Tidak ada keuntungan yang diperoleh dari cerita fiksi ini

-xXx-

A Day in Hogwarts (Series)

by Dee

-xXx-

A Normal Day in Hogwarts

with multiple pairing implied JohnTen - JaeDo - xxxx


A Normal Day in Hogwarts

.

Musim gugur yang identik hujan badai serta halilintarnya sudah berlalu sejak seminggu yang lalu, digantikan dengan udara yang membekukan tubuh hingga ke ujung rambut. Belum ada tanda-tanda salju akan turun tetapi mantel-mantel tebal mulai menggantikan jubah seragam Hogwarts yang normal. Tetapi, bagi sebagian besar tahun kelima dan ketujuh, kedatangan bulan Desember adalah sebuah petaka.

Bahkan rutinitas normal seperti keisengan ataupun keriangan bahkan euforia quidditch tidak bisa mengalihkan mereka dari kelabu yang yang membayangi. Bahkan beberapa diantara mereka mulai merasakan gejala "kabur" setiap kali mereka bertemu dengan professor yang mengajar kelas pilihan mereka.

Yap. Sindrom O.W.L.S dan N.E.W.T.S alias ujian evaluasi dasar dunia sihir sudah mulai menggantung di depan wajah mereka. Ujian melelahkan yang menentukan nasib karir mereka di dunia sihir. Yang berarti bayangan karir impian masing-masing dari mereka menghantui kehidupan mereka mulai dari saat itu juga.

" Aku tidak pernah membayangkan untuk menjadi Auror harus melewati lembah dan jurang yang terjal seperti ini. Aku cukup bersimpati padamu, kitty."

" Untuk kali ini aku meloloskanmu dengan nama panggilan seperti itu. Nah, kupikir juga begitu. Hanya perlu lulus tes saja dan kita akan menjadi auror."

" Masih lebih baik menjadi Auror yang begitu lulus akademi kementrian bisa langsung terjun ke lapangan. Kau tahu apa yang dibutuhkan untuk menjadi seorang ahli ramuan? Kau akan muntah melihat daftar persyaratannya."

Percakapan antar dua orang itu, terjadi di salah satu sudut perpustakaan yang dikhususkan sebagai tempat berdiskusi dan tentunya ruangan itu kedap suara sehingga tidak perlu khawatir dengan ke-killer-an Madam Bridge soal keributan di dalam perpustakaan.

" Lagipula memangnya siapa yang ingin menjadi ahli pembuat ramuan. Membayangkan jika Professor Malfoy dan Slughorn yang menguji ujian kita nantinya saja sudah membuatku ingin muntah."

" Kau ini bodoh atau lupa ingatan, Nakamoto Yuta? Tidakkah kau ingat kalau memang Professor Malfoy yang akan menjadi penguji ramuan kita di O.W.L.S nanti?"

" Justru itu yang ingin kulupakan, kelinci sialan. Membayangkan wajah dingin si professor itu saja sudah membuatku ngeri terlebih harus diawasi olehnya selama membuat ramuan O.W.L.S nanti. Sepertinya aku harus memikirkan alasan yang keren supaya Madam Pomfrey dan Jones tidak menertawakanku saat aku pinsan di O.W.L.S nanti."

" Aku turut berduka cita jika hal itu menjadi—"

" Bisakah kalian berdua diam? Kenapa Gryffindor selalu saja cerewet dan banyak omong sih? Tidakkah kalian lihat ada yang benar-benar berusaha untuk belajar di sini?"

Sudut mata si penyeru barusan tampak berkedut mendengar ocehan duet onar Gryffindor tahun kelima itu. Ia yang sedari tadi berkomat-kamit mencoba untuk menjejalkan isi buku teori tahun keempat ke dalam kepalanya harus terganggu dengan ocehan yang tidak bermutu – menurutnya – dari duo Nakamoto Yuta dan siapa lagi kalau bukan Kim Doyoung yang pintar tetapi sayang sekali susah sekali menutup mulut jika sudah membukanya – lagi-lagi menurut si penyeru.

" Dasar Slytherin. Tidak bisakah kalian para Slytherin tidak sinis dan sedikit saja bersimpati saat seseorang sedang berkeluh kesah?" Kata-kata tajam menusuk yang dilontarkan oleh mulut tanpa filter dari Yuta membuat beberapa orang yang juga berada di ruangan yang sama terkekeh. Julukan manusia tanpa hati memang biasa ditujukan kepada para murid dari asrama berlambang ular perak itu.

Para Slytherin memang sedikit tidak peduli dengan orang-orang yang ada di luar asrama mereka. Mereka tidak serta merta melemparkan ejekan pada murid lain di luar asrama Slytherin hanya saja mereka lebih memilih untuk melindungi kawanan mereka sendiri.

' United inside' begitulah motto kebanggan mereka, karena itulah kecenderungan untuk membuka diri di luar asrama mereka cukup sulit untuk dilakukan. Ciri khas dari asrama hijau dan perak sejak dulu termasuk dengan penghuni asrama itu yang namanya tidak bisa disebutkan.

Meski mereka tampak dingin di luar, tetapi jangan harap asrama lain bisa menarget salah satu dari mereka termasuk para murid tahun pertama. Cukup camkan bahwa kalian akan mendapatkan balasan yang sangat setimpal jika berani melakukannya.

Ah, dan hal itu berlaku juga pada orang-orang khusus yang berhubungan dengan anggota Slytherin. Sebut saja Huang Renjun, Hufflepuff manis tahun ke-4, yang mendapatkan proteksi khusus dari Jeno, si beater kebanggaan Slytherin yang duduk di tahun yang sama.

Atau si manis Wendy dari asrama Raven yang secara gamblang dideklarasikan off-limit oleh wakil ketua asrama mereka. Contoh lain lagi adalah Zhang Yixing yang merupakan adik angkat dari sang ketua asrama, Kris Wu.

Tetapi sayang sekali peraturan ini dikecualikan pada Doyoung yang seharusnya mendapatkannya karena kedekatannya dengan Jaehyun, si chaser bongsor Slytherin.

Atas permintaan siapa lagi kalau bukan musuh bebuyutannya di dalam asrama Slytherin, yaitu sang princess sendiri, Ten Chittaphon.

Siapa bisa membantah permintaan khusus dari sang princess Slytherin. Sekalipun si obyek yang seharusnya mendapat perlindungan ini langsung melakukan protes kepada yang bersangkutan secara langsung.

Sebut saja adegan konfrontasi itu adalah sinema action terbaik di tahun ketiga mereka.

" Manusia berisik memang tidak akan pernah memahami indahnya kedamaian benarkan, our princess?"

" Cih, dasar pengecut. Tidak bisakah kau menghadapi kami berdua sendirian, Kun? Tubuhmu saja yang seperti dinding pembatas tapi nyalimu kecil sekali."

" Kali ini aku setuju denganmu, Kim Doyoung. Masa begitu saja kau meminta perlindungan princess-mu. Kau ini lelaki sejati atau hyena yang berlindung di dalam lubang, heh?" tambah Yuta sarkastik.

Beberapa murid asrama lain yang menyadari percikan pertarungan legendaris antara salah satu Slytherin knight dan Gryffindor warrior mulai menjauh dari sudut ruangan itu.

Lebih nikmat menonton dari kursi VVIP ketimbang berada dalam radius pertengkaran mereka, bisa-bisa mereka terkena kutukan nyasar atau barang salah target, begitu menurut para murid penonton.

" Pardon? Kau menyebutku hyena padahal kau dan si maniak Gryffindor ini yang tidak berani melawanku sendiri? Are you kidding me?"

" Heh, stinky Slytherin! Kau sendiri yang mencari bala bantuan pada prissy-mu itu lebih dulu kenapa kau harus menyinggung kehadiran makhluk ini untuk membantuku? Berkacalah!"

Sementara ketegangan di antara ketiga orang itu nyaris mencapai puncaknya karena mereka sudah siap dengan tongkat sihir milik masing-masing di dalam genggaman, terdapat beberapa orang yang duduk di meja lain dan terlibat diskusi yang cukup sengit, bukan pertengkaran childish karena masalah sepele.

" Kupikir bukan masalah jika seseorang mempelajari Patronus di usia yang lebih muda daripada lima belas tahun. Bukankah sihir ini bisa melindungi siapapun dari makhluk berhawa jahat seperti Dementor dan lagi mereka juga bisa di fungsikan sebagai pembawa pesan. Sudah pasti sihir ini sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari."

" Kupikir juga begitu, Taeil-hyung. Kurikulum Hogwarts tidak pernah mengajarkan mantra Patronus di bawah tahun ke-5, hanya Harry Potter yang berhasil menguasainya di tahun ke-3 nya dan itupun berkat pengajaran di luar kelas."

" Betul, Jay. Sejarah juga mencatatkan bahwa mantra ini hanya dipelajari oleh sebagian murid Hogwarts di tahun kelima mereka dan lagi-lagi dilakukan di luar kurikulum pertahanan Hogwarts oleh anggota Dumbledore's Army."

" Kupikir ada benarnya juga. Sihir adalah sihir tergantung maksud penggunaannya mereka dibagi menjadi dark atau light dan lagi mantra ini berfungsi untuk melindungi, jadi kupikir mantra ini bisa digunakan secara universal oleh siapa saja. Toh yang dibutuhkan mengingat kenangan bahagia."

Diskusi panas yang melibatkan tidak hanya murid tahun kelima ini membuat beberapa orang tertarik ke dalamnya tidak peduli mereka berasal dari asrama mana.

" Aku setuju dengan Johnny. Fungsi perlindungan mantra ini sangat luas jadi pasti sangat berguna terutama dalam keadaan yang mendesak."

" Karena itulah aku berpendapat seharusnya Hogwarts mengajarkan mantra ini, Taeyong-ah."

" Kudengar Hogwarts sudah pernah mencoba mengajarkan mantra ini di kelas lanjutan tetapi, entah kenapa mereka kemudian menariknya kembali,begitu menurut cerita pamanku yang seorang healer."

" Benarkah itu, winwinie? Kenapa fakta itu tidak pernah tertulis di dalam sejarah ya? Tidak di dalam buku sejarah normal atau bahkan di Hogwarts: A history."

Hogwarts: A History adalah buku legendaris yang mencatatkan setiap detil dari sejarah Hogwarts. Banyak murid dari berbagai generasi yang menggunakan buku itu sebagai persiapan mereka menempuh pendidikan di Hogwarts.

" Itu semua karena efek sampingnya."

Jawaban singkat yang tiba-tiba terlontar itu membuat semua orang menoleh ke arah sumber suara.

" Maksudmu, Ten Chittaphon?"

Hanya seorang Johnny yang sanggup memberikan nama panggilan aneh di depan publik untuk Ten dan membuat sudut mata Ten berkedut serta lolos hidup-hidup dari ujung tongkat sihir Ten. Bukan karena ia takut untuk berduel dengan raksasa itu, hanya saja ia tidak ingin orang-orang tak bersalah di sekitarnya celaka karenanya.

" Saat itu Harry Potter berumur empat belas tahun ketika menyempurnakan Patronusnya dan hal itu tidak bisa terjadi jika tidak ada puluhan Dementor yang menyerang ia dan Sirius Black. Kalian pasti tahu makhluk apa Dementor itu, tidak ada pilihan lain selain mengeluarkan sihir yang murni untuk membunuh makhluk kegelapan dengan jumlah sebanyak itu..."

Pranggg...

Diskusi berfaedah itupun langsung terpotong mendengar suara kaca pecah yang diikuti dengan teriakan tinggi Madam Bridge – sang penjaga perpustakaan.

" Kim Doyoung, Nakamoto Yuta, Qian Kun! Kalian bertiga ke kantorku sekarang!"

Seruan itu sudah menjelaskan bagaimana trio troublemaker akan mendapatkan masalah besar dari Madam Bridge.

Membayangkan ujian O.W.L.S serta ujian mini yang dengan senang hati diberikan oleh para Professor mulai bulan depan hingga O.W.L.S yang sebenarnya sekaligus melewatkan detensi panjang bersama Madam Bridge membuat mereka merasa sedikit bersimpati.

Tolong garis bawahi kata sedikit.

" Aku beruntung tidak ada troublemaker sekelas mereka di Ravenclaw. Aku bisa gila jika disuruh mengurus orang-orang seperti mereka."

" Kau benar Taeil. Aku, Ji Hansol, pecinta kedamaian tidak akan tahan mengurus orang-orang seperti itu di asramaku."

" Jangan lupa kenyataan kalau kau harus mengambil rubah kitty kesayanganmu dari dalam sana, Hansol-hyung."

" Aku tidak tahu rubah kitty mana yang kau maksud, Taeyong-ah."

" Jangan berpura-pura lupa dengan Nakamoto Yuta-mu yang akan menangis meraung-raung jika Hansol kesayangannya tidak menyelamatkan hidupnya dari tangan Madam Bridge."

" Seperti kau juga bukan kesayangannya saja."

" Jangan mengingatkanku akan fakta itu,Hansolie."

Siswa bernama Ji Hansol itu menggembungkan pipinya dengan manis saat mendengar nama panggilan yang biasa ia dengar di Korea, negara asal beberapa di antara mereka.

" Baiklah kalau begitu aku dan si Prince yang satu ini akan kembali ke asrama. Suara mereka dan kaca pecah membuat kepalaku mendadak pening."

" Bagaimana dengan Kun?"

" Kau yang mengurusnya Jay, sekalian dengan pacar kelincimu itu. Atau kau bisa memanggil Sehun dan Kai, mereka yang bertanggung jawab selama ketua asrama menghilang entah kemana bersama kekasih gelapnya."

" Aish.. dasar tidak bertanggung jawab. Kalian berdua menyebalkan sekali."

" Hati-hati di jalan kalian berdua. Jangan sampai bertemu dengan troublemaker lainnya."

" Jangan bercanda, Taeyong. Bertemu satu pasang troublemaker saja sudah membuatku pusing apalagi bertemu pasangan troublemaker lainnya."

Ten membuat gesture seperti ingin pingsan saat mengatakannya sehingga beberapa dari mereka tertawa kecil.

" Aku akan mengurus mereka untukmu, my Princess."

Membalas gesture drama Ten, Johnny, menundukkan badannya seperti seorang pelayan kepada tuan putrinya.

" No, thanks Prince. Aku lebih percaya pada kerja knight Jay disini daripada kau."

" Ouch, you hurt me so bad, Princess."

" Jangan drama."

" Dasar kalian ini."

Mereka pun tertawa melihat aksi lemparan kata sarkastik di antara keduanya. Aksi biasa Tom and Jerry terkenal dari orang berkuasa di jajaran asrama Slytherin, Johnny dan Ten. Dengan lambaian dan ucapan selamat malam, keduanya pun memisahkan diri dari rombongan penjemput para troublemaker yang mungkin saat ini masih menikmati amarah si penjaga perpustakaan.

" Kau baik-baik saja?"

" Heum. Sudah lebih baik. Ingatkan aku untuk melemparkan mereka bertiga di Danau Hitam saat salju turun supaya mereka membeku."

" Your wish is my command, my princess."

" Betapa penurutnya, prince-ku-"

Belum selesai Ten memuji pemuda yang berjalan di sebelahnya, ia sudah terlebih dulu kaget ketika sebuah lengan kekar menghadang tubuhnya.

Rasa kagetnya belum juga memudar ketika Johnny menyentak tubuh kecilnya dan mendaratkan satu ciuman hangat di bibirnya.

" Dasar, manusia kelebihan hormon," bisik Ten disela-sela kecupan balasan yang ia berikan pada pemuda tinggi itu. Mereka berdua pun melanjutkan aksi roman mereka di tengah-tengah lorong Hogwarts yang gelap.

Ya, itulah akhir dari sebuah hari yang normal di Hogwarts.

.

To Be Continued

Thanks To: ainurulnaf, jaehwart, limitIess, ROXX h

terima kasih sudah membaca dan mereview

seneng banget ada yang tertarik sama cerita yang maybe sedikit boring ini...

mungkin chapter ini juga sedikit boring...

untuk kemajuan cerita mohon kritik dan sarannya yaahhhh~~~

with loveee~~~