Disclaimer © Masashi Kishimoto

Rate : M

Romance, Friendship, Humor

Warning : OOC. Banyak adegan Hot seHot Saos ABC, tapi masih aman kok.

Naruto U × Sakura H

.

.

L.A Lights

.

Dua orang pemuda dan seorang wanita itu berjalan beriringan menuju mobil hitam yang sedang terparkir di sebelah tempat club malam itu. Sang surai pirang tak henti-hentinya menunjukkan cengiran lima jarinya. Sedangkan yang ber-style pantat -gagak-nungging- itu terus mengumpat-ngumpat sembari memegangi dompetnya yang ludes tanpa sisa. Dan wanita musim semi itu hanya tersenyum cenggung.

'Semoga mereka tak meminta hal yang aneh-aneh padaku' pikir Sakura. Banyak pikiran yang berkecamuk di kepalanya. Sebenarnya dirinya agak kaget juga mendengar penjelasan dari Tsunade jika ia akan tinggal bersama dua pemuda itu dalam satu bulan penuh. Dan dirinya hanya mengangguk pasrah, berharap sesuatu yang buruk tak terjadi, atau hal-hal lain dalam urusan ranjang.

"Aku ingin sekali menggiles wajahmu usuratonkachi," Sasuke gemes setengah mati melihat sahabat pirangnya yang santai-santai saja itu. "Dompetku kandas baka!" Sasuke membuka dompetnya dan diarahkan pas di depan wajah Naruto.

"Haha.. sudahlah Teme, kita 'kan sudah seperti saudara sendiri," ujar Naruto enteng. Dan Sasuke benar-benar ingin mencakar-cakar wajah si pirang itu sekarang juga.

Diam-diam Sakura tersenyum sendiri. Entah kenapa dua pemuda itu sangat lucu menurutnya, dan baik. Meskipun dirinya sangsi jika dua pemuda itu baik, penampilan luar kadang bisa menipu bukan?

Tangan putihnya menyibak helaian rambut merah mudanya dan di selipkan kebelakang telinga. 'Apa mereka memang sering bertengkar seperti ini' batin Sakura sembari melirik dua pemuda yang masih asik adu bacot itu.

(Author Note : Naruto Shippuden the last movie.. lihat pic Sakura. Dan itu penampilannya biar tak bingung ^_^b)

"Ano.. apa kalian mau mengantarku kerumah sebentar. Ada sesuatu yang harus ku sampaikan pada Otouto-ku"

Naruto dan Sasuke sepontan langsung menghentikan adu bacotnya dan mengalihkan pandangannya pada wanita musim semi yang tersenyum cenggung itu. Dan keduanya mengangguk singkat dan kembali meneruskan adu bacotnya sampai mereka semua masuk kedalam mobil.

Naruto duduk di belakang bersama Sakura, sedangkan Sasuke di depan sendiri, dan jangan lupakan mulutnya yang tak capek terus merecau dalam mobil itu.

"Oh yah kita belum berkenalan. Aku Uzumaki Naruto, dan yang berambut Ayam nungging itu Uchiha Sasuke." Naruto mengulurkan tangannya sembari tersenyum. Dan Sakura dengan tanggap langsung menjabatnya.

"Haruno Sakura. Salam kenal Uzumaki-san dan Uchiha-san," Lalu Sakura melepaskan tangannya. Tersenyum kikuk menatap Naruto. Ini adalah pertama kalinya dia akan tinggal bersama Laki-Laki.

"Jangan terlalu formal begitu dong, Sakura-chan, hehe" Naruto menggaruk tengkuknya sambil sesekali melirik Sasuke yang masih meracau itu.

"Err.. baiklah," ujar Sakura akhirnya. Kemudian dia menunjukkan jalan menuju rumahnya pada Sasuke. Dan pemuda yang terkenal cool itupun hanya mengangguk singkat.

"Jadi kenapa tadi kau di marahi Nona Tsunade? Memangnya apa yang kau lakukan?" Naruto membuka percakapan dan dirinya agak penasaran juga sih kenapa Sakura di katakan 'rewel' oleh Tsunade.

Wajah Sakura langsung memerah, dirinya malu, malu jika harus memberitukan jika dia rewel karena.

"Jadi kenapa Sakura-chan?" Alis kiri Naruto naik satu, safirnya masih tak berpaling dari sosok musim semi yang melamun dengan wajah memerah itu. Dan jangan lupakan Sasuke yang sudah memasang pendengaran tajamnya. Meskipun dia tak tau asal mulanya seperti apa.

Sakura langsung menggeleng disaat dirinya teringat akan hal itu. Kemudian dia menatap Naruto sambil tersenyum kecil. "Pelanggan ku menyuruhku meng-oral-nya.. dan aku tak mau," Sakura menunduk malu, dirinya malu, meskipun dia kupu-kupu dia tak mau memasukkan -adik kecil- dalam mulutnya.

Naruto nyengir sambil menggaruk lehernya dengan jari telunjuk, tertawa garinglah yang ia lakukan sekarang. Dan Sasuke bahkan hampir meledakkan tawanya jika ia tak menjaga imej cool yang sudah ia junjung tinggi itu.

Sakura malu bukan kepalang. Mengalihkan pandangannya keluar jendela sambil merutuki dirinya dalam hati. 'Bodohnya aku, kenapa ku ceritakan' rutuknya.

Tak terasa tempat tujuan telah sampai. Mobil itu berhenti di depan pagar rumah sederhana bercat putih. terlihat bagus dengan bunga-bunga yang berjejer rapih di halamannya.

Mereka bertiga turun dari mobil itu dan berjalan mengikuti Sakura di belakang. Mengetuk pintu menunggu sang penghuni membukakan. Dan tak berapa lama pintu terbuka, menampakkan seorang bocah ABG berambut hitam sambil menatap Naruto dan Sasuke secara bergantian.

Kemudian sang adik itupun menatap Sakura sembari berujar. "Siapa dua orang mesum ini Nee-san? Pacarmu ya?"

Naruto nyengir sambil menggaruk tengkuknya, memang sih dia agak mesum, tapi dikit. Sedangkan Sasuke mendelik tajam, seandainya dia tak terlahir dengan wajah layaknya Romeo kejebur got, mungkin sudah habis di cakarin itu bocah.

"Kau ini, mereka teman-teman Nee-san, kenalan dong," suruh Sakura sembari mengacak-acak surai hitam sang adik.

Sang adik kemudian mengulurkan tangannya pada dua pemuda itu. "Aku Konohamaru," ujarnya tak niat.

Sasuke dan Naruto spontan langsung menjabatnya dalam waktu bersamaan, bisa bayangkan satu tangan di jabat dua tangan.

"Uzumaki (Uchiha) Naruto (Sasuke)" lagi-lagi mereka menyerukan namanya dengan kompak, membuat setetes kringat sweatdrop melunjur dari belakang kepala Sakura.

"Ayo masuk," ajak Sakura sambil menyeret Konohamaru saat dia melihat tatapan menyelidik dari sang adik. Kemudian dia menatap Naruto dan Sasuke. "Duduk dulu, aku buatkan minum."

"Tak perlu repot-repot Sakura-chan," bibirnya memang mengeluarkan kata seperti itu, tapi tangannya itu kok merambat membuka toples yang ada di depan meja sambil memakannya. Dan kali ini dua keringat sweatdrop meluncur dari belakang kepala Sakura.

Sasuke menarik kerah baju Naruto menggunakan tangan kirinya sambil berbisik. "Jangan malu-maluin usuratonkachi," dan entah kenapa tangan kanan Sasuke juga merambat memasuki toples itu lalu dengan cepat memasukkan kedalam mulutnya.

"Yang bodoh siapa ya," ujar Naruto kebingungan sendiri, untungnya Sakura tak melihat kejadian barusan, jika melihat sudah di pastikan bakalan ada tiga keringat sweatdrop tuh.

"Ehem.." dua kepala langsung menoleh kesumber deheman itu. Menatap dengan tatapan -apa- pada Konohamaru yang sedang menyilangkan tangan di depan dada sembari menatap tajam dua pemuda itu.

"Jangan macam-macam dengan Nee-san, atau ku hajar kalian," ujar Konohamaru kemudian, dan itu malah membuat Naruto maupun Sasuke meledakkan tawanya.

BRAK!

"Jangan ketawa baka!" Gebrakan meja dan suara Konohamaru tak membuat dua pemuda itu berhenti, malah justru sebalikanya, memegangi perutnya masing-masing dan tertawa cukup keras, membuat Sakura yang ada di dapur mengernyitkan dahinya.

Tak lama kemudian Sakura datang sambil membawa dua teh hangat untuk dua pemuda itu, udara dingin memang pas untuk menghangatkan badan dengan segelas teh hangat.

Sakura mendudukkan dirinya di samping Konohamaru. Kemudian dia menghela nafas sejenak. Memegang tangan sang adik sambil menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan. Konohamaru kebingungan akan tingkah Nee-sannya ini, meskipun dirinya sering melihat Nee-sannya agak aneh, seperti melamun, tatapan kosong dan lain sebagainya. Sedangkan NaruSasu menyesep tehnya sambil melirik kakak adik itu.

"Konohamaru! Mungkin dalam waktu satu bulan ini Nee-san tak bisa pulang rumah terlalu sering.." Sakura mengambil jedah sejenak, ada perasaan tak rela jika ia harus meninggalkan adiknya sendiri, tapi itu harus, karna semua demi uang.

Yah demi uang.. tanpa uang Sakura dan Konohamaru tak bisa hidup. Hanya demi uang dirinya rela menjadi Kupu-kupu malam, asalkan dirinya dan adiknya bisa makan, dan agar Konohamaru bisa bersekolah. Orang tua mereka meninggal dalam kecelaan dua tahun yang lalu, sempat bekerja di cafe tapi tak cukup untuk menghidupi dirinya bersama adiknya. Dan sebuah tawaran dari seorang teman membuat kehidupannya tercukupi. Hidup memang keras bukan?

"Kau tak apa 'kan di rumah sendirian?" Suara Sakura agak serak, dapat terlihat dengan jelas jika emerald itu berkaca-kaca. Dua pemuda disana diam membisu dengan mata menyayu.

Sedangkan Konohamaru hanya nyengir lebar. "Tak apa kok, kan seorang laki-laki harus bisa mandiri," sahutnya. Naruto maupun Sasuke mengangguk setuju, mereka berdua memang sudah bisa menghidupi diri mereka sendiri, walaupun bekerja di perusaan keluarga sendiri sih. Tapi itu jauh lebih baik daripada tangan telulur pada orang tua, lagian mereka sudah bukan ABG atau bocah lagi.

"Tapi memangnya Nee-san kenapa tak bisa pulang sering?" Tanya Konohamaru. Menatap manik sang kakak dengan pandangan ingin tau.

Sakura hanya tersenyum sambil menunjuk Naruto dan Sasuke. "Aku bekerja di tempat mereka," bohong Sakura, tentu saja dia harus menutupi pada adiknya jika ia adalah Kupu-Kupu.

Konohamaru mengangguk mengerti. "Aku mengerti, dan kapan Nee-san berangkat?"

"Sekarang ini," Sakura mencubit pipi sang adik, meskipun bendungan air di pelupuk matanya akan tumpah juga dalam waktu singkat.

"Baiklah, Nee-san jaga diri ok. Dan jika dua orang mesum itu menggangu Nee-san, akan kuhajar." Sakura langsung menjitak penuh sayang adiknya itu. Kemudian pelukan penuh kasih dari sang kakak pada adiknya terjadi.

Mata Naruto berkaca-kaca, mengusap ingusnya sembari terus memasukkan makanan dari dalam toples itu kemulutnya. Sedangkan Sasuke mengalihkan pandangannya, meskipun tak dapat di pungkiri jika hati Uchiha Bungsu itu sempat tersentuh.

'Kasih sayang tak bisa di beli' Sasuke membatin sambil tersenyum tipis.

"Ya sudah Nee-san berangkat sekarang. Kau baik-baik dirumah, jangan tidur terlalu malam, jangan keluyuran, kerjakan PR jika ada, rajin belajar Ok." Sakura memegang kedua pipi adiknya sambil menggoyangkan kekiri dan kanan. Setidaknya dirinya tak perlu khawatir soal makanan Konohamaru, karna bocah ABG itu sudah pandai memasak sendiri.

Konohamaru cemberut. "Iya-iya.."

Sakura langsung mencium pipi kiri dan kanan sang adik penuh kasih, buliran bening sudah meluncur dengan indah dari bola matanya. Kemudian dia berdiri dan mengusap butiran bening itu sembari menatap dua pemuda yang memasang raut wajah aneh.

"Ayo berangkat,"

Dan mereka bertigapun berjalan keluar dari rumah itu. Saat akan memasuki mobil, Sakura sempat menengok Konohamaru yang melambai riang padanya itu. Tersenyum sesaat sampai sang surai musim semi itu tak terlihat dikala sudah memasuki mobil.

Mobil itu melaju meninggalkan rumah itu menju tempat yang entah apa Sakura tak tau. Hanya bisa berdoa dalam hati semoga tak terjadi sesuatu yang di luar pemikirannya.

.

.

.

Naruto, Sasuke, dan Sakura berjalan memasuki manshion Uchiha. Sakura nampak memperhatikan sekeliling ruangan manshion itu. Tapi dia heran, kenapa tak ada pembantu satupun yang kelihatan, padahal kediaman itu besar. Dia tak tau jika Mami Mikoto ibu Sasuke sangat suka mengurus rumah sendiri, maka tak heran jika tak ada pelayan satupun, disamping itu Sasuke maupun Itachi adalah orang yang rajin bersih-bersih, tak seperti Naruto yang kerjaannya mengotori rumah.

"Sana masuk kamar kalian. Aku mau mandi," ujar Sasuke meninggalkan dua orang yang masih berdiri di ruangan tengah itu.

Naruto tersenyum sambil mengajak Sakura menuju kamar mereka. Tentu saja tinggal sekamar. Menaiki lantai atas sampai mereka berhenti di depan pintu kamar. Kemudian Naruto membuka knopnya dan menyuruh Sakura masuk duluan. Kamar yang akan mereka tempati adalah kamar tamu.

"Semoga kau betah Sakura-chan," ujar Naruto sambil membantu Sakura memasukkan bawahannya ke lemari dalam kamar itu.

Sakura hanya tersenyum sambil mengangguk, setelah itu diapun mendudukkan pantatnya di ranjang, di susul Naruto yang duduk di sampingnya. Sempat hening sejanak sampai Sakura menatap Naruto sambil berujar. "Ayo mulai,"

"Mulai apa Sakura-chan?" Naruto kebingungan sendiri, tangan kirinya menggaruk leher dengan tatapan menerawang kelangit-langit kamar itu.

Sakura berdiri dan melepas bajunya, memperlihatkan bra merahnya dengan ukuran yang tak terlalu besar tapi berisi. Leher mulusnya terlihat menggiurkan untuk di beri bercak kemerahan disana. Belahan dada yang menggoda membuat kaum adam ingin merabanya.

"Kau menyewaku bukan untuk mengobrol saja 'kan," ujarnya kemudian. Melepas roknya hingga menyisakan dalaman. Pahanya yang tak terlalu besar tapi juga tak kecil, sangat pas akan ukuran tubuhnya.

Naruto menelan ludah. Memandangi setiap inci tubuh Sakura, bingung, gugup bercampur menjadi satu dalam benakanya. Dan tanpa disangka Sakura langsung melingkarkan tangannya di leher Naruto. Mendekatkan bibirnya di telinga kiri pemuda blonde itu. "Kenapa kau diam saja?" Bisik Sakura dengan wajah agak bersemu.

"Ano.. Sakura-chan, kenapa kau tak mandi dulu saja.. dan pastinya kau lapar 'kan, biar aku masakkan makanan," Naruto terlihat gugup. Nafsu tentu saja dirinya nafsu, tapi yang menjadi permasalahan adalah -adik kecil-nya masih tak bangun.

Sakura langsung menjauhkan wajahnya dari telinga kiri Naruto. emeraldnya menatap surai pirang itu penuh tanda tanya. 'Kenapa dia baik sekali mau membuatkan makanan' pikirnya. Kemudian dia mengangguk sembari menajuhkan dirinya.

Naruto tersenyum, kemudian jari telunjuknya menujuk sebuah pintu dalam kamar itu sembari berujar. "Itu kamar mandinya Sakura-chan,"

Sakura mengangguk dan berjalan menuju kamar mandi itu. Mengambil handuk yang tersampir di samping lemari dan berjalan masuk kamar mandi. Sebelum itu dia sempat menoleh kepada Naruto. "Mau mandi bareng?" tawarnya.

"Ti-tidak kok.." sahut Naruto gugup dan berjalan keluar dari kamar itu untuk membuatkan Sakura, dirinya dan Sasuke makanan, berterimakasihlah pada Mami Kushina yang setia mengajari Naruto cara memasak.

Sakura geleng-geleng. Lalu dia melepas bra-nya dan clana dalamnya juga. Air mengguyur sekujur tubuhnya dari atas, meresapi setiap kesegaran air itu. Buliran-buliran air melewati setiap lekuk tubuhnya. Tangan putihnya mengambil shower dan mulai menggosok tubuhnya.

Menggosok leher dan pundak, berganti menuju dadanya. Saat shower itu menggosok puntingnya dia sempat terkikik sendiri, geli yang ia rasakan. Menaruh shower itu kembali sembari berjalan menuju guyuran air yang hanya beberapa senti darinya itu. Tangannya bergerak lincah menggosok dadanya. Meremasnya sendiri sambil terkikik geli.

"Dadaku yang paling kecil dari teman-teman," gumamnya sambil terus memainkan buah dadanya. Berharap agar buah dada itu langsung bisa membesar layaknya Tsunade atau Hinata. Teman paling dekatnya di sana.

.

.

.

Bau sedap tercium di dapur Uchiha itu. Terlihat Naruto lagi menumis bumbu hasil mengulek-nya. Dirinya tak mau memakai blender, katanya tak enak. Kemudian tangan pemiik surai pirang itu langsung mengambil sebuah Nasi yang sebelumnya dia taruh di sampingnya. Memasukkan semua nasi itu kedalam wajan sembari mengorengnya penuh hawa nafsu.

"Fufufu.. baunya harum," gumamnya. Kemudian dia mengambil sayuran dan jagung lalu di masukkan semua kedalam wajan sekaligus. Mengorek-ngorek lagi penuh perjuangan. Peluh membanjiri jidatnya tak jadi hambatan.

"Mana telurnya ini." Naruto clingukan mencari telur. Setelah menemukan dua butir telur itu. Sang Uzumaki langsung memecahkan telur itu dan menuangkan isinya. Melempar sembarang arah kulit telur itu dengan wajah tak berdosa.

"Hoy masak apa Naruto?"

Naruto sepontan langsung menoleh. Di dapatinya seorang pemuda berambut panjang di kuncir rendah itu mendekati dirinya. "Ini masak Itachi-nii, hehe" jawabnya.

Itachi manggut-manggut. "Kebetulan aku lapar," ujarnya. Kemudian dia bergulir menatap sekeliling dapur itu. Seketika matanya mlotot. Dapur mirip kapal pecah. Sampah berserakan di mana-mana, kulit bawang berserakan, kulit telur juga, irisan sayur di mana-mana, nasi bercipratan.

Itachi menepuk jidat sembari berlalu dari dapur yang tak layak di sebut dapur itu.

Selesai memasak. Naruto berjalan menuju meja makan yang ada di dapur itu. Empat piring berisikan nasi goreng maut sudah berjejer diatas meja. Tinggal memanggil Sakura, Sasuke, dan Itachi saja.

Naruto langsung berlari kencang menuju lantai atas, membuka knop pintu dengan nafas terengah-engah. "Ayo turun Sakura-chan"

"Hmm," respon Sakura singkat. Ia memakai t-shirt berwarna senada dengan rambutnya dan sebuah hot pants.

Mereka berdua berjalan beriringan menuju meja makan di dapur itu. Dan ternyata dua Uchiha sudah duduk manis dan memakan makanan mereka masing-masing. Sampai Itachi tersedak saat mendapati wanita asing yang ada di samping Naruto itu.

Mengerti akan keterkejutan Aniki-nya Sasuke lekas menjelaskan. "Pacar Naruto." jelasnya asal membuat Naruto tersedak liurnya. Dan Sakura sedikit memanas wajahnya, dirinya malu.

"Oh.." respon Itachi sambil memandangi Sakura dari atas sampai bawah, kemudian dia berganti menatap Naruto sambil menyeringai. "Hn, aku Uchiha Itachi,"

"Haruno Sakura." Balas Sakura dengan senyuman tipis. Sedangkan Naruto sudah duduk dan menikmati masakan mautnya itu, di susul Sakura yang memakan dengan cenggung.

"Apa enak Sakura-chan? aku yang masak sendiri loh," ujar Naruto sombong sambil nyengir lebar.

"Enak kok," jawabnya sambil balas tersenyum.

Dan acara makan itupun di isi dengan obrolan ringan dan berbagai rentetan pertanyaan dari Itachi. Dan itu sukses membuat Naruto ingin pingsan di tempat lantaran dirinya kehabisan ide untuk bohong.

.

.

.

Sakura membuka t-sirtnya dan hot pantsnya juga, tanpa bra, hanya clana dalam saja yang dia gunakan. Merangkak keatas ranjang yang sedang ada Naruto terduduk disana. Mendekat kearah si pirang dengan wajah agak bersemu, meskipun dia sudah sering melakukan itu, tapi namanya juga manusia pasti masih punya sisi malu kan.

"Sekarang," gumam Sakura pelan, memeluk sang surai pirang itu sembari menciumi lehernya. Tangan putihnya meraba-raba dada sang Uzumaki yang tak mengenakan atasan itu.

Naruto hanya tersenyum dalam diam. Dilingkarkannya tangan berlapis kulit tan itu di pinggang ramping Sakura. Masih bergelut pada pikirannya lantaran sang -adik- masik tak mau berdiri.

Tubuh tegap sang Uzumaki terlentang diatas ranjang itu. Tertindih wanita merah muda itu. Mendekatkan bibir merah marunnya kearah sang pemuda, kecupan lembut mereka berdua lakukan, tangan Naruto masih setia pada pinggang Sakura, sedangkan tangan putih Sakura maih menggesek-gesek dada si pirang.

Melepaskan ciuman dan menempelkan keningnya di kening Naruto, emerald dan shappire itu saling bertatapan. Dan sebuah gumaman pelan keluar dari bibir ranum Sakura.

"Kenapa diam?"

Naruto tak bergeming pada posisinya. Sempat terbesit pemikiran bahwa wanita yang sedang menindihnya itu sangat agresif, nyatanya tidak, tatapan matanya menyorotkan tak ada nafsu, tatapan yang sulit di artikan.

"Lebih baik kita tidur Sakura-chan, aku ngantuk, hehe" bohong Naruto sambil tersenyum kikuk, dia juga tak bisa melakukannya jika sang -adik- masih loyo, padahal syahwatnya sudah memuncak.

Alis Sakura berkedut, tapi sejurus kemudian dia mendesah dan mengangguk, toh dia juga bersyukur jika Naruto tak memintanya hari ini, dirinya cukup lelah dengan apa yang ia alami di club tadi.

Sakura mebelakangi Naruto dengan posisi miring kesamping. Dan sebuah tangan ia rasakan melingkar di pingangnya, benar itu tangan Naruto.

"Tidurlah Sakura-chan, dan tak apa 'kan aku memelukmu?" entah kenapa dirinya ingin sekali memeluk wanita merah muda itu, hanya mengikuti arahan batinnya.

"Tak apa kok," sahut Sakura pelan nyaris berbisik, dan rasa ngantuk langsung ia rasakan mendadak, dan hangat, hangat pelukan dari sang Uzumaki membuatnya tak kuat untuk tidak terbuai dalam mimpi. Begitupula dengan Naruto, menguap lebar sambil merapatkan wajahnya di belakang leher Sakura, dan sebuah gumaman pelan terlontar darinya.

"Semoga esok lebih baik dari hari ini"

-TBC-

Wah-wah burungmu masih tak mau berdiri tu Naruto, meskipun di suguhi wanita cantik *plak* Jika ingin bertanya silahkan hehe.. dan semoga chap ini tak mengecewakan, soalnya sempat buntu idenya, bahkan kepala saya nyaris berasap saking kerasnya mikir XD

.

REVIEW

Jika berkenan ^_^b

.

-A Mild-