Unstoppable Trouble
Main Cast: Namikaze Naruto
Namikaze Shion
Uchiha Sasuke
Namikaze Hana
Spesial Cast: Sabaku No Gaara
Warning: Mengandung adegan kekerasan, kata-kata kasar, Don't Like Don't Read !
Out Of Character, Non Canon.
"Baik… Aku mengerti, paman… Akan kuusahakan… Aku janji…."
Jeda sejenak, gadis berambut panjang itu kembali bersuara,
"Tak akan… Aku janji.. Semua akan baik-baik saja… Kupastikan rencana ini berhasil…"
Shion mengakhiri pembicaraannya dengan menekan tombol berwarna merah di sisi kiri layar ponselnya. Ia menghela nafas, panjang dan berat. Matanya berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak, amat sesak…. Memang bukan hal yang mudah jika kalian berada dalam satu garis keturunan dengan seseorang bermarga Namikaze. Tak peduli kalian bukan keturunan langsung, ataupun hanya sekedar pajangan… Segala peraturan yang dikatakan sebagai ajaran turun-temurun oleh pendiri Namikaze, dirasanya kini semakin memuakkan. Ia benci menjadi bayangan. Tentu saja.. Tak ada seorangpun di dunia ini yang sudi untuk dijadikan bayang-bayang seseorang, yang kini bahkan tak jelas keberadaanya. Ia mencengkeram teralis pembatas balkon beranda kamarnya sedikit kuat, hingga buku-buku jarinya memutih.
Kilasan demi kilasan memori menyerbak, memaksanya harus menggigit bibir bawah demi meredam isak tangis yang nyaris meluncur keluar.
"….. Naruto, ini boneka yang kau sukai.. Paman khusus membelinya untukmu…"
Saat itu ia hanya mampu menatap iri pada boneka rubah besar berwarna oranye cerah yang dipeluk erat oleh pemiliknya. Ia juga harus menahan diri untuk tidak berteriak protes ketika sang nenek memaksanya untuk memberikan syal berlambang kipas miliknya kepada gadis yang usianya lebih muda darinya itu, hanya karena Naruto menyukai warna biru cerah syal tersebut. Sudah berapa lama hal menyakitkan itu terjadi? Shion menyunggingkan senyum sinis. Lima belas tahun sudah berlalu… Namun rasa sakit itu tetap menjalari ulu hatinya.
Dan yang paling menyakitkan, setelah mereka berdua sama-sama tumbuh dewasa, hanya Naruto yang jadi pusat perhatian oleh kolega-kolega bsinis sang nenek. Ia yang berstatus sebagai saudara sepupu jauh dari Naruto, harus puas menelan kenyataan pahit bahwa seorang Sasuke Uchiha, ternyata menaruh hati pada Naruto. Ia yang mencintai bungsu Uchiha sedari kecil, harus memaksakan diri untuk tetap tersenyum saat mendengar rencana pertunangan antara Sasuke Uchiha dengan Namikaze Naruto. Meski pada kenyataannya Naruto justru kabur sehari setelah mendengar rencana tersebut, tetap saja di mata sang nenek, ia, Namikaze Shion, hanyalah bonek pengganti belaka…
Seolah masih belum cukup, pemuda bermarga Sabaku pun mulai tertarik untuk menjadikan Naruto sebagai pengantinnya, dan bersaing dengan bungsu Uchiha dalam usaha merebut perhatian Naruto. Naruto, Naruto, Naruto…. Selalu namanya yang disebut-sebut semua orang….
Semuanya mengelu-elukan gadis tak tahu diri itu! Para pelayan, tukang kebun, bodyguard, bahkan seperti yang dikatakannya di awal tadi, seluruh kolega bisnis neneknya pun memuji-muji Naruto sebagai calon pewaris Namikaze Corp.
Sementara dirinya, yang berjuang keras untuk dapat diterima sebagai seorang bermarga Namikaze, dengan belajar tekun, mengikuti kelas kepribadian, mengikuti berbagai macam acara social, dan berotak cemerlang, seolah dipandang sebelah mata…
Bukan hanya sang nenek.. Kedua orangtuanya pun lebih menyayangi Naruto daripada dia, yang berstatus sebagai anak kandung. Dulu saat masih kecil, ia mau mengerti karena kedua orangtua Naruto sudah tak ada. Paman Minato, ayah Naruto, ia masih ingat dengan jelas, adalah orang yang baik, begitu pula dengan bibi Kushina..
Hanya karena bibi Kushina bukan dari golongan kasta atas, dengan tega nenek memisahkan paman Minato dan bibi Kushina, dan mengancam akan membuang paman Minato dari garis besar keturunan Namikaze. Tentu saja, seperti cerita-cerita yang difilm-kan, paman Minato lebih memilih untuk melepas marga Namikaze daripada meninggalkan sang istri yang tengah hamil anak keduanya.
Dan kelanjutannya pun bisa ditebak… Mereka terus menerus dilanda kesusahan, karena nenek telah memasukkan kedua nama mereka dalam daftar hitam seluruh perusahaan, hingga paman Minato tak mendapat pekerjaan yang layak demi megnhidupi istri dan kedua anaknya.
Cukup sampai disitu nostalgianya.. Masih ada banyak pekerjaan yang harus dibereskannya, terutama bila hal itu menyangkut tentang seorang Naruto. Jujur saja, ia berharap gadis itu tak pernah ditemukan.. Karena jika ia sampai kembali ke Namikaze mansion, bisa dipastikan seluruh rencana yang telah ia susun baik-baik akan hancur berantakan!
"Nona Shion… Anda dipanggil Nyonya Besar…" ujar sebuah suara yang membuatnya sedikit tersentak.
Di hadapannya, berdiri paman Iruka, pelayan setia Naruto, tengah membungkukkan badan.
"Bagaimana paman bisa masuk tanpa mengetuk pintu? Dimana letak sopan-santun anda? Pergi bersama majikan kesayangan anda, he?"" seulas senyum sinis kembali ia sunggingkan. Bisa dilihatnya bahu lelaki itu bergetar pelan.
"Mohon maaf, nona… Saya sudah mengetuk pintu sedari tadi, namun rupanya nona tidak mendengar.. Jadi saya lancang memasuki ruangan nada, nona.. Nyonya Besar sedari tadi menelepon saya dan meminta anda untuk segera menemui beliau.." balas Iruka dengan tenang.
Dalam hati ia mendidih. Berani sekali dia menghina Nona Muda Naruto dengan mulut busuknya. Dasar tidak tahu diri.. Ia tahu, gadis di depannya ini bukanlah gadis baik-baik, seperti yang selama ini ia tunjukkan pada penghuni Namikaze mansion. Ia cukup cerdas untuk mencium gelagat aneh bahwa Namikaze Shion-lah penyebab kaburnya nona Naruto, majikan yang disayangi setulus hati olehnya. Dari awal ia memang sudah tidak menyukai gadis didepannya itu. Serigala berbulu domba pun masih jauh lebih terhormat daripada ular licik sepertinya, batinnya geram. Beberapa bukti sudah terkumpul di tangannya. Tinggal menunggu waktu, dan semua rahasia keburukan Shion akan ia bongkar di hadapan seluruh Namikaze family…
"Kenapa masih berdiri disitu? Pelayan sepertimu tidak pantas satu ruangan denganku, kau mengerti?" tukas Shion angkuh, membuat Iruka mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi pahanya.
"Baik, nona Namikaze Shion.. Saya permisi…" Iruka menyunggingkan seulas senyum datar, lalu berjalan pergi. Di benaknya tertanam pikiran bahwa ia harus segera menemukan satu bukti lagi, demi membalas dendam kedua orangtuanya…
Sepeninggal Iruka, Shion segera menutup pintu kamarnya, dan memastikan bahwa seluruh ruangan tersebut aman dari gangguan orang-orang tak berkepentingan, seperti lelaki barusan, misalnya. Dari dulu ia sudah menunjukkan aura permusuhan padanya, entah mengapa. Mungkin karena ia terlalu lama bergaul dengan si kampungan Naruto, kecam Shion membatin seraya merapikan tatanan rambutnya didepan meja rias miliknya.
"Sibuk berdandan sampai-sampai kau terlambat menemuiku, Shion?"
Begitu Shion masuk ke dalam ruangan kerja sang nenek, bukan sambutan ramah yang didapatnya, melainkan serentetan kalimat tajam menusuk yang dilontarkan oleh penguasa Namikaze Corp. tersebut.
Nyeri langsung mendera ulu hatinya. Bagi seorang Namikaze Hana, Shion tak ubahnya seperti patung berjalan yang bisa ia perintah seenak mungkin. Bukan seorang cucu, layaknya cucu kebanggaannya, Naruto.
"Jangan pernah berani berpikir kalau kau itu cucuku, Shion.. Kau hanya diberi keberuntungan karena lahir di lingkungan keluarga Namikaze cabang, bukan keluarga utama.. Jangan kau kira aku tak mengetahui penyebab kepergian Naruto dari sini… Kalau aku mau, dalam sekejap kau akan bernasib sama seperti Kushina, kau mengerti?" Namikaze Hana menatap tajam Shion, seolah mengetahui isi pikiran gadis yang lebih tua setahun dari Naruto itu.
Deggghhh..
Darimana orang tua itu tahu? Batin Shion seketika, panik.. Tanpa sadar lututnya gemetaran, seakan tak sanggup menopang beban tubuhnya.
"Kau patut bersyukur.. Kalau bukan karena jasa kedua orangtuamu yang sudah meninggal, pasti kau sudah kulempar keluar dari Namikaze mansion ini.. Tapi kau harus ingat.. Satu-satunya cucuku adalah Naruto.. Dan selamanya akan seperti itu.."
Shion terdiam. Pikirannya sudah tak tentu lagi kemana arahnya.
"Lagipula, aku juga masih membutuhkan kehadiranmu, selama gadis bengal itu belum kembali.. Jadi, turuti perintahku, atau hidupmu akan berakhir di tempat yang lebih mengerikan dibanding dengan neraka…."seringai kemenangan terpulas di wajah ayu sang diktator tersebut, manakala mendapati wajah pucat Shion yang berdiri dengan ekspresi ketakutan. Ia melangkah dari kursinya, berjalan perlahan mendekati gadis muda itu, dan berbisik pelan,
"Temukan Naruto secepat mungkin, dan aku akan menutup mata atas pengkhianatanmu terhadap Namikaze Family… Sebelum kedua pemuda konyol tersebut menemukannya terlebih dahulu…"
Shion mengangguk gemetar. Nyawanya kini berada di ujung tanduk!
"Bagus.. Sekarang pergilah.. Mataku sakit melihat dandananmu.. Murahan, kau tahu? Pantas saja bungsu Uchiha lebih memilih Naruto…."
Shion menggigit bibir kuat-kuat, hingga cairan asin berbau tembaga dirasakannya mengalir di dalam mulutnya. Lagi-lagi Naruto! Susah payah ia menahan airmatanya. Dengan suara bergetar ia pamit undur diri, lalu setengah berlari ia meninggalkan ruangan tersebut.. Tampaknya ia memang akan selalu jadi pihak yang kalah. Pihak pecundang… Dan ingatlah satu hal, Shion.. Hidupmu bergantung pada kebaikan hati seorang Namikaze Hana!
To Be Continued….
