Of Course, HEADMASTER!

Arischa

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

[…]

Semi-AU, Headmaster!Akashi, pyschical content, alur campuran

[Masih ada satu dua lubang, selamat menikmati perjalanan anda!]


Akashi melihat dirinya beberapa tahun lalu. Tergambar jelas alur kehidupannya.

Di sana, Akashi kecil. Yang hancur terbagi dua mendapati Ibu tercinta telah tiada. Itu Akashi kecil yang tak tahu menahu ada dirinya yang lain jauh di sana. Akashi kecil yang menatap bola basket penuh kerinduan.

Akashi rindu ibunya.

Didikan sang ayah keras, Akashi harus menjadi nomor satu di manapun. Harus menang kapanpun, apapun itu. Saat itu, tujuan seorang Akashi hanya menang dan menang.

Beranjak dewasa, menginjak tingkat SMP. Dirinya masihlah Akashi baik hati yang tenang. Sopan santun berbudi luhur. Tanpa ada cacat kata sedikitpun. Saat itu, harapan Akashi hanya bola basket. Satu-satunya kenangan yang ditinggalkan Ibunya selain kenangan pahit. Candu di mana Akashi mencintaiya sepenuh hati, layaknya sang ibu bersemayam dalam permainan basketnya.

Ketika Akashi dapat menikmati basket bersama teman-temannya, Akashi merasa hidupnya kembali dibangun. Serpihan kecil yang memencar kembali terkumpul secara perlahan.

Naas.

Sial.

Ketika Akashi hanya memerlukan sentuhan kecil agar hidupnya benar-benar utuh sepenuhnya, mimpi buruk kembali hadir. Teman-temannya, dengan bakat yang mulai bangkit. Satu persatu berkembang, Akashi takut. Dia takut ditinggal untuk yang kedua kalinya. Dan di sana, di mana Akashi yang lain muncul. Menenggelamkan rasa takut Akashi.

Akashi bisa lihat, kehancurannya yang kedua kali. Di mana ia bertukar posisi dengan dirinya yang lain di lain sisi. Di mana dia menjadi lelaki yang selalu benar dan berlaku seenaknya pada orang lain, tak suka direndahkan. Sampai dimana, kekalahannya sejak Akashi dilahirkan. Dimana dia kalah dalam pertandingan basket melawan sebuah sekolah. Akashi tersadar. Dirinya yang sesungguhnya kembali bangun. Dan mulai membangun lagi hidupnya.

Akashi tersenyum kecut, ia bisa lihat, setelah ini. Hal manis ia temukan.

Kelas 2 SMA, ia menemukan gadis kecil di pinggir jalan. Ketakutan di bawah hujan. Meringkuk kecil menggigil kedingian. Pertemuan pertamanya dengan Tetsuna.

Semakin hari, Akashi semakin dekat. Ia bahkan menghabiskan harinya di sebuah apartemen, tempat ia merawat Tetsuna. Gadis manis yang periang, dengan iris biru senada surai. Akashi menyayangi Tetsuna selayaknya adik kandung. Mewarnai hari monokromnya bersama Tetsuna. Sentuhan akhir, hidup Akashi serasa sempurna. Afeksinya nyata, ditemani gadis belia berumur delapan tahun. Bahkan ketika dia menginjak dunia perkuliahan. Hari-hari manis Akashi jalani bersama Tetsuna. Tak ada kisah istimewa yang tertulis dalam kertas jelaga. Namun pelangi dwiwarna menghias hari Akashi di setiap detik hidupnya. Warnanya dan warna Tetsunanya.

Entah apa, Akashi tak tahu mengapa. Dia hanya merasakan sentuhan kecil di hati kala suara lugu itu menanyakan nama. Ketika tatapan sayu itu memohon iba. Ketika wajah muram itu terselimuti dingin, menyembunyikan kepolosan guratan usia. Dan Akashi bergerak sesuai nurani, mengajak sang gadis kecil tinggal bersamanya di sebuah apartemen.

Akashi tak perlu lagi afeksi lain. Akashi hanya butuh Tetsunanya sebagai adik. Sebagai wujud napasnya. Ketika basket pun pergi darinya. Hidupnya.

Saat itu pertandingan dilaksanakan. Akashi bukannya apa, emperor eye miliknya sudah terkubur jauh di dasar hati. Miris, memang. Sebuah kecelakaan terjadi ketika pertandingan berlangsung. Sasaran korban adalah dirinya. Dengan bahu sebagai objek. Bahu kanannya cidera parah. Tak bisa digunakan untuk susuatu semacam menggapai hal tinggi—bukan mimpi, ini pertanyaan realistik—tangannya tak bisa terulur ke atas, tak bisa melawati bahu karena cidera.

Akashi tak bisa menyentuh bola. Basket tak bisa ia mainkan. Mustahil hanya menjadi seorang pengoper bola, sama saja dengan eksistensinya di lapangan tidak nyata.

Ketika itu, Akashi terpuruk. Kembali merasa kehilangan jati diri. Ingat akan ibu dan masa lalu, dan Akashi hancur lagi. Dan ketika Akashi sudah tenggelam dalam sudut tergelap napasnya, Tetsuna hadir mengulurkan tangan kanan. Mengajak sang kakak kembali ceria, agar tak pernah putus impian. Setitik cahaya di mata. Dan Akashi bangkit secara perlahan. Walau tak mudah, tentu saja.

Akashi terkekeh kecil. Ini masa dimana dia menjalani pahit manis hidup bersama Tetsuna. Tetsuna sering jatuh sakit. Terakhir, ia lihat simbahan darah di baju one piece yang Tetsuna pakai. Pengakuan terlarang, Tetsuna memuntahkan darahnya dari mulut. Lengkap sudah. Ketakutan kembali mengisi relung hati Akashi. Ditinggal pergi dan berakhir sendiri. Tidak, Akashi tak mau.

Di tengah tugas mengintimidasi, di tengah berkas-berkas perusahaan memonopoli, Akashi selalu memantau kinerja rumah sakit. Kadang kala, sakit menyergap batin ketika melihat seperangkat alat di tubuh mungil Tetsunanya.

Tetsunanya yang menderita sebuah penyakit entah apa namanya.

Tetsunanya terbaring mengatup mata entah sampai kapan.

Tetsunanya yang tak lagi menebar senyum bahagia kepadanya.

Dan Akashi lagi-lagi terpuruk. Hari-harinya semakin memburuk. Hari-hari ia lewati dengan penuh tekanan, bahkan sampai hari kelulusannya, Tetsunanya masih diam tertidur di atas ranjang, tak ada ucapan selamat untuknya. Bahkan dari ayahnya—ayahnya tak pernah setuju dengan jurusan pendidikan yang Akashi ambil. Akashi hanya ingin berbagi ilmu, dan di mata ayahnya itu salah.

Memangnya, kapan hidup Akashi pernah benar?

Akashi yakin, jika Tetsuna akan bangun suatu saat nanti, maka ia berusaha dengan keras. Ia menjadi guru yang ramah dan tegas, ada sebuah hadiah yang ingin Akashi tunjukkan ada Tetsuna saat ia bangun nanti—

"Hei! Lihat, aku jadi guru. Kau bisa jadi siswiku nanti." Nyatanya, sampai setahun mengajar Tetsuna tak pernah bangun. Jadwalnya semakin padat, belum lagi ia juga harus mengurusi perusahaan ayahnya—kesialan selalu datang pada hidup Akashi, ia sudah terlalu lelah untuk berekspresi, ketika sang ayah juga menghembuskan napasnya yang terakhir karena depresi.

Saat itu hujan lebat mengguyur Tokyo, Akashi sedang ada rapat penting bersama para kliennya. Dering telepon genggam Akashi seakan mencekik suasana ruangan penuh ketegangan itu, dan terpaksa Akashi mematikan telepon genggamnya tanpa melihat sang pemanggil.

"Lalu kau bisa tebak, Tetsuna sudah tidak ada. Yang menelepon saat itu adalah pihak rumah sakit, mereka bilang Tetsuna siuman dan terus memanggilku, dokter dan perawat bergerak cepat untuk proses pengobatan entah apa itu aku tidak mau tahu—aku tidak mau ingat lagi." Akashi memejamkan matanya, ia duduk bersandar pada pohon rindang itu. Hatinya seakan lelah menceritakan kembali kenangan lama yang begitu memilukan. Nijimura yang duduk di sebelahnya tak kunjung bergeming.

"Lalu dari segi apanya, kalau yang membunuh Tetsuna itu kau?" Nijimura nyaris terbahak, jika saja ia tak ingat yang dibicarakan adalah sosok abstrak yang sudah tak memiliki eksistensi lagi di dunia ini.

"Tetsuna membutuhkanku, dan aku mengabaikannya. Mementingkan rapat bodoh, harusnya aku menjawab telepon itu, pergi ke rumah sakit dan menemani saat-saat sulit Tetsuna. Salahku juga, yang dulu kurang memperhatikan kesehatannya. Aku ini pembunuh, dan itu absolut." Nijimura pikir, satu-satunya yang absolut dari seorang Akashi Seijuurou adalah kebenarannya yang memang mutlak adanya.

Nijimura tak memandang apapun lagi dalam dunia Akashi selain keterpurukan dan penyesalan. Atas dasar apapun, Akashi tak seharusnya menyalahkan diri sendiri. Ah, benar. Setelah itu yang Akashi lakukan hanya cuti dari tugasnya sebagai guru entah sampai kapan.

"Kau masih menjabat sebagai guru?" tanya Nijimura, tangannya sibuk memainkan kerikil kecil, dilempar dan ditangkap.

"Jangan mainkan debu, masuk ke mataku! Dan, aku cuti."

"Ini batu."

"Maksudku itu." Akashi jadi terasa mati, bukan? Daripada begini, Nijimura lebih suka jika Akashi bermain basket dengannya, yang kini terlihat mustahil akibat cidera di tangannya. Jadi Akashi baiknya melakukan apa? Karena bagaimanapun juga, duduk angkuh di balik meja perusahaan tak membuat Akashi senang sama sekali. Akashi tahu sendiri, duduk di balik meja guru adalah ketentramannya. Mengucapkan sederet kalimat ilmu adalah kebahagiaannya.

"Kau harus kembali." Nijimura berdiri, menghadap lurus ke bawah tepat wajah muram Akashi.

"Kembali membunuh?"

"Mati saja sana!" desis Nijimura sarkastik. Ia merogoh sakunya cepat, lalu melemparnya ke arah Akashi. Dengan itu Nijimura berlalu pergi, dan Akashi ingin rasanya melempar gunting ke arah pria dua puluh tujuh tahun itu hingga tewas.

Yang dilempar Nijimura adalah gumpalan kertas yang disobek dari bagian sebuah koran. Berita yang membuat mata hetero Akashi memfokus dan menatap tajam rangkaian hurufnya.

SMA Seirin terancam bangkrut dan ditutup, ratusan siswanya memilih pergi bahkan tak melanjutkan sekolah lagi.

Kasus-kasus tak sedap seperti tawuran, perkelahian, dan perbuatan mesum yang dilakukan siswa siswi SMA Seirin membawa pengaruh buruk bagi sekolah itu sendiri. Belum lagi Kepala Sekolah yang terkuak melakukan tindakan korupsi besar-besaran. Banyak dari siswa yang tinggal kelas dan dikeluarkan, serta guru yang mengundurkan diri. Membuat SMA Seirin dilabeli sebagai SMA dengan reputasi terburuk sepanjang sejarah.

Terancam ditutup, wakil kepala sekolah, Kiyoshi Teppei mengajukan permohonan kepada sukarelawan pendidikan,"Sekolah ini butuh kepala sekolah yang baru untuk menata ulang kembali sistem luar dalamnya. Saya hanya bisa berharap." ujarnya saat itu.

Tokyo, xx

"…"Akashi mengelus pelan nisan adiknya sebelum pergi dan mengendarai mobilnya tergesa.

.

.

.

Ruangan itu begitu gelap, seberkas cahaya baru saja merengsak masuk kala pintunya dibuka Akashi lebar-lebar. Ada debu yang menyesakkan hidung dan pernapasannya, juga sarang laba-laba mengerikan yang membuat ruangan ini tampak horor dan mencekam.

Klik

Lampunya remang, berkedip-kedip seakan menentukan baiknya ia padam atau menyala, hidup atau mati—

Matilah seperti perasaanku—pikiran gila Akashi kembali datang tanpa diundang, dan ia bersikeras mengabaikannya. Tapak kakinya sedikit bergaung, mencoba mengingat-ngingat letak saklar lampu lainnya.

"Aku pulang. Tetsuna, baiknya aku menjadi pengusaha atau kepala sekolah?"

Tetsuna tidak menjawab, apartemen itu sudah sendiri sejak dua tahun terakhir.


TBC


A/N

Hai, saya kembali. Senang rasanya dengan review dari readers. Ada pertanyaan yang kurang lebih menjurus ke satu arti,

apakah nanti ini akan ada bumbu yaoi/shou-ai?

Jawaban saya, tidak. Fanfiksi ini difokuskan pada alur cerita dimana hidup hancur Akashi dan lika-likunya mencari kebahagiaan lewat impiannya sebagai pengajar—lebih tepatnya kepala sekolah. Dan perjuangan Akashi 'membujuk' para siswa-siswi bermasalah untuk masuk ke Seirin.

Kalau sebatas pertemanan yang kadang membuat salah paham sih, jelas/eh

Sekian dari saya! Terima kasih atas penantian dan dukungnya!

Tertanda,

Arischa.