"Namaku Utakata, aku diberi misi oleh seorang pemimpin paling misterius dari Uzu untuk mengumpulkan mayat demi persiapanku menyempurnakan Edo Tensei yang coba kukuasai. Bersama Hotarou, kami akan berjalan di kegelapan malam, dipenuhi ulat belatung dan darah-nanah kebusukan, menggali makam dan bertemu hal penuh teror yang tak pernah terlintas di pikiran kami, bahwa semuanya terjebak dalam kondisi menyedihkan…"
.
..
…
"Namaku Utakata, aku adalah pengawal seorang pemimpin dengan karakter tak tertebak di dunia Shinobi. Aku Utakata, pengawal dari Yondaime Uzukage-sama!"
.
.
.
The Uzukage Hiden: Utakata-Hotarou Chronicles
Naruto By Masashi Kishimoto
The Uzukage main story by Doni and Icha Ren
Based on The Uzukage
Rate: M
Genre: Adventure-Mystery-Romance-Drama and Little Bit Horror
.
.
.
Selamat Membaca
Cerita ini bersetting 1 tahun 7 bulan pasca kehancuran Uzu
Chapter 2: Desa Lembah
Perjalanan akhirnya dimulai. Setelah mempersiapkan segala kebutuhan di Uzu, Utakata dan Hotarou berangkat menuju tanda yang ditunjuk dalam gulungan peta. Utakata memandang tanda putih tersebut, peta ini dibuat saat zaman Shodaime Uzukage jadi kemungkinan beliau belum tahu nama desa-desa kecil selain 5 desa besar yang memang sudah eksis bersama 5 Negara di atasnya. Kemungkinan yang ditunjuk di peta adalah Desa Lembah, sebuah desa yang terletak di utara Konoha dan terpisahkan oleh sebuah sungai dan sebuah gunung.
Keduanya berjalan selama 2 hari, beristirahat di alam ditemani bintang-bintang. Hotarou sering bertanya misi apa yang diberikan Uzukage keempat kepada mereka berdua, Utakata dengan lugas menjawab bahwa mereka sedang mencari mayat. Hotarou tentu saja terkejut, saat ia bertanya lebih lanjut Utakata tidak mau menjawabnya.
Malam kedua, mereka sudah sampai di desa Kusa. Utakata bersemedi di atas sebuah batu sambil berbicara kepada Saiken di dalam mindscapenya. Sementara Hotarou terus melatih jutsu Teppudama-nya.
"Edo Tensei? Hmm…jutsu yang dapat membangkitkan orang mati ya? Kau yakin bisa menyempurnakannya Utakata?"
"Ya Saiken. Lagipula jutsu yang diciptakan Nidaime Hokage ini benar-benar melanggar etika, istilahnya adalah melawan arus alam yang sebenarnya. Masalahnya…" Utakata memandang Bijuu dengan wujud seperti siput berlendir tersebut "…Gulungan jutsu ini ditemukan di kamar peninggalan Orochimaru. Bisa kita prediksikan bahwa orang itu juga ingin menyempurnakan Kinjutsu ini…"
"Pengambilan jiwa dari alam baka yang dimasukkan ke tubuh orang yang masih hidup sebagai pengorbanan, istilahnya untuk jutsu ini adalah kau membutuhkan tumbal."
Utakata mengangguk.
"Itulah kenapa jutsu tersebut dikategorikan Kinjutsu."
Utakata membuka matanya dan melihat Hotarou yang terlentang di rerumputan sambil memandang bintang-bintang di langit. Dia segera turun dari batu tersebut dan duduk bersila di dekat Hotarou.
"Tumben berhenti?"
"Bintang malam ini sangat bagus, sensei. Aku ingin melihat-lihat rasi yang ada di langit…"
Utakata memandang ke atas. Benar kata Hotarou, langit seperti ditaburi ratusan permata putih di kanvas kelamnya. Dia bisa melihat banyak sekali bintang-bintang yang berkedip-kedip malu di langit. Utakata berdehem pelan dan menunjuk sebuah rasi.
"Itu adalah rasi Orion…yang itu orang katakan sebagai Beruang Kutub…"
"Kau menebak, Utakata-sensei…" Hotarou langsung duduk dan menunjuk rasi bintang yang ditunjuk Utakata "Itu adalah Sagitarius! Dan apa-apaan Beruang Kutub itu…"
Utakata mendengus pelan, wajahnya sedikit memerah karena malu "A-aku hanya..HANYA BERCANDA! Teheee…"
Krikk…krik….krikk….
"Hahahahaha," Hotarou tertawa sambil memegang perutnya. Puas sekali mentertawakan gurunya. Alis Utakata naik-turun dan ada garis-garis suram di keningnya. Hotarou berdiri lalu mengangkat kedua tangannya di depan dada dan mengepalkan kedua tangan tersebut.
"Yosh, saatnya berlatih kembali!"
"Eh, istirahatnya bentar saja?"
"Iya sensei…" Hotarou menggoyang-goyangkan jari telunjuknya di depan wajah sang guru "Aku akan menguasai Teppudama sebelum misi ini selesai!"
Utakata memandang wajah semangat gadis cantik tersebut. Dia terkekeh pelan lalu berdiri dan kembali duduk bersila di atas batu "Terserahlah…"
Utakata tidak bersemedi, dia malam itu meniup gelembung dengan pipa gelembungnya dan memandang langit malam yang sangat indah.
.
.
.
Hari ketiga sejak perjalanan mereka, Utakata dan Hotarou sampai di sebuah kota kecil di Negara Madu. Kota dengan industri khas makanan itu terlihat ramai, banyak sekali para pelancong yang datang dari berbagai negeri hanya untuk merasakan makanan-makanan khas dari seluruh belahan dunia di kota ini. Utakata memandang gerbang kota yang bertuliskan "Kyuin (Hisapan)". Sebuah nama kota yang unik. Dia masuk ke kota bersama Hotarou dan hidung mereka langsung disergap bau-bau lezat dari berbagai macam makanan yang dijajakan.
Keduanya beristirahat di sebuah kedai dango yang disajikan dengan lumuran madu. Utakata meminum teh hangatnya dan mendesah lega. Dia memandang pengunjung di dango tersebut, cukup ramai dan menyenangkan. Matanya beralih ke Hotarou yang sedang memutar-mutar setusuk dango di lelehan madu yang ada di atas piring.
"Kau terlihat berpikir Hotarou…ada apa?"
"Masih memikirkan soal jutsu Teppudama itu sensei…" Hotarou menggaruk pipi kanannya "…Saya belum menemukan kuncinya."
Utakata meneguk teh hangatnya dan itu menjadi tegukan terakhir. Dia berdiri untuk membayar dango yang mereka pesan dan kembali menghampiri Hotarou yang masih memainkan dangonya di atas lelehan madu.
"Baiklah, setelah kita menemukan penginapan yang nyaman…aku mungkin akan memberikan pelajaran tambahan soal Teppudama kepadamu."
Mata Hotarou melebar senang.
"Be-benarkan sensei?"
"Habiskan dulu dango-mu, dan kita akan beristirahat di tempat nyaman malam ini…" Utakata memandang ke depan. Di luar kedai tersebut terlihat berjalan dua orang yang memakai jubah hitam dan menutup kepala mereka dengan tudung jubah tersebut. Salah satunya bertubuh kecil seperti anak kecil. Utakata terus memandang kedua orang tersebut hingga view-nya terhalang dinding pintu kedai.
Keduanya memilih menginap di sebuah penginapan menengah yang memiliki pemandian air panas di dalamnya. Utakata memesan dua kamar, tentu saja untuk dirinya dan sang murid. Setelah itu mereka menuju belakang penginapan yang ternyata adalah lapang rumput luas. Di situ Utakata kembali mencontohkan teknik Teppudama.
"Suiton: Teppudama!"
Dari mulut Jinchuuriki itu tertembak sebuah peluru besar air yang menghantam tanah di bawahnya. Mata Hotarou melebar. Tanah yang terkena tembakan Teppudama membentuk cekungan besar dan rumputnya menghilang, yang ada hanya cekungan tanah berwarna coklat. Utakata mengulum ujung pipa gelembungnya dengan wajah datar.
"Tekanan air yang kutembakkan tidak seberapa…hanya saja yang terpenting adalah kau bisa membuat peluru di mulutmu, kemudian tembakan dengan tekanan yang mengelilingi air berbentuk bola…" Utakata menggerakkan kedua tangannya, mengajari Hotarou dengan caranya sendiri "Beda dengan Mizurappa yang hanya sebuah semburan datar dan deras, Teppudama membentuk air menjadi bola pada saat keluar dari mulut dan tekanan yang membentuk bola air raksasa harus tetap dipertahankan hingga mengenai lawan…teknik ini cukup mudah dan cukup sulit."
"Maksudnya sensei?"
Utakata tersenyum tipis "Jika kau menyerah…maka kau tak akan pernah bisa mempelajarinya. Ehem…aku mau berjalan-jalan dulu di kota ini. Berlatihlah dengan semangatmu, Hotarou…"
Hotarou menggembungkan pipinya. Lagi-lagi Utakata tidak mengawasinya latihan. Tetapi melihat sang sensei pergi meninggalkannya dengan langkah tegap membuat Hotarou bersyukur Utakata masih mau mengajari dirinya.
.
.
.
Utakata berjalan mengelilingi kota dengan mata waspada. Dia terus memandang sekelilingnya, melirik ke kiri dan ke kanan, berpikir dengan wajah berusaha tenang. Jinchuuriki Rokubi berhenti di depan sebuah hotel dan melihat dua orang berjubah hitam dengan tudung di kepala mereka berhenti di salah satu penginapan. Mereka memasuki penginapan tersebut. Mata Utakata menajam. Sejak melihat keduanya dari kedai dango, entah kenapa kecurigaan Utakata tumbuh. Tidak ada alasan yang jelas, namun Utakata adalah salah seorang ninja yang percaya pada instingnya.
Terdengar bunyi burung elang di langit, Utakata memandang ke atas. Seekor burung elang berputar tiga kali sebagai tanda bahwa itu adalah burung pengantar surat. Utakata berjalan menuju gang di antara dua bangunan dan burung tersebut mengikuti Utakata. Sang Jinchuuriki menerima surat tersebut dan ia tahu bahwa surat itu dari sang Uzukage keempat.
Utakata, jika penyelidikan tentang pencurian 3 mayat Uzukage belum ditemukan selama 3 hari di lokasi pencarian, pergilah ke Konoha diam-diam dan ambil sampel mayat dari kuburan tiga Hokage. Setelah itu aku serahkan pencarian mayat-mayat lainnya kepadamu,
Salam Hangat, Uzumaki Naruto.
Utakata melipat kecil surat tersebut lalu memandang burung elang pengantar surat Uzu terbang menjauhinya. Dia berjalan ke luar gang dan melihat dua orang berjubah hitam dan bertudung tadi keluar dari penginapan. Utakata terus mengikuti mereka dari belakang hingga keduanya masuk ke sebuah tempat bilyar.
'Mau ke mana mereka?' Utakata berdiri di depan pintu tempat permainan bilyar tersebut dan meletakkan pipa gelembungnya di balik kimono birunya. Ia masuk ke dalam bar dan langsung ditodong puluhan kunai dari dalam bar. Mata Utakata menajam.
"Aku sudah ketahuan ya?" tanya Utakata tidak perlu.
Orang yang bertubuh tinggi dengan jubah dan penutup kepala membuka tutup kepalanya, menampilkan pria dengan rambut berwarna hijau lumut dengan mata beriris kuning. Dia tersenyum mengejek.
"Apa maksudmu mengikuti kami berdua…?"
Utakata memandang sosok berjubah hitam dan bertudung kecil di samping pria itu. Utakata tidak menjawabnya.
"Hanya penasaran?" pria itu maju selangkah. Sementara Utakata memandang sekelilingnya dengan cepat.
"Instingku memang benar…" Utakata memandang semua orang yang menodongkan kunai ke arahnya. Ternyata semuanya memakai jubah hitam yang sama dengan yang dikenakan pria berambut hijau lumut tersebut "Di Kota wisata makanan seperti ini hanya orang-orang mencurigakan saja yang memakai jubah hitam mencolok dengan tudung kepala seperti itu…" mata Utakata memandang tajam ke depan "…Kalian siapa?"
"Seharusnya aku bertanya kepadamu, teman…" pria itu mengambil kunai dari balik jubahnya dan memegangnya di tangan kanan "Aku adalah Fuushin, pemimpin kelompok petir. Heh…dirimu?"
Di dalam mindscape, Saiken memberi kode bahwa dirinya siap membantu rencana kabur Utakata.
Di dunia nyata, sang Jinchuuriki tersenyum tipis.
"Utakata." Katanya singkat, dan dari seluruh tubuhnya muncul tekanan asap keputihan pekat yang memenuhi seluruh ruangan bilyar. Mata Fuushin melebar. Saat asap di tempat bilyar itu menghilang, Utakata sudah tidak ada di ruangan. Fuushin mendecih pelan. Orang-orangnya terlihat masih terbatuk-batuk dengan asap tersebut. Fuushin memandang sosok berjubah hitam dan bertudung kecil di sampingnya. Seorang gadis dengan mata yang memancarkan cahaya kemerahan.
Sementara Utakata berdiri di samping penginapannya dengan napas terengah-engah, terima kasih kepada kabut buatan Saiken yang dikeluarkan melalui tubuhnya sehingga ia berhasil lolos. Utakata masuk ke penginapan dengan wajah berpikir.
Kelompok petir…Utakata masih menyimpan hal tersebut dalam database misi pencarian mayat para Uzukage dan mayat lainnya dari sang Uzukage keempat.
.
.
.
Malamnya, Utakata memandang Hotarou dari kejauhan dengan tatapan datar. Gadis bersurai pirang gelombangitu masih berlatih untuk mengeluarkan jutsu Teppudama. Benar-benar pekerja keras. Utakata meniup gelembung dari pipa gelembungnya dan berpikir jauh ke depan. Dia akan meninggalkan penginapan ini besok agar cepat sampai ke desa lembah sekaligus menghindari kontak langsung dengan kelompok berjubah hitam yang menamakan diri mereka kelompok petir.
"Tidak istirahat, Hotarou?" Utakata berjalan mendekati Hotarou yang sedang terengah-engah dengan pakaian dan wajah lusuh. Hotarou menggelengkan kepalanya, saat ia ingin menggerakkan segel tangan lagi, tangan kanan Utakata menahan kedua tangannya. Gadis bersurai gelombang itu memandang Utakata dengan wajah protes.
"Berendamlah di pemandian air panas. Istirahat merupakan salah satu latihan para ninja." Kata Utakata, tumben bijak.
Karena senang mendengar kata-kata perhatian dari gurunya, Hotarou menurunkan tangannya dan tersenyum ke arah Utakata dengan wajah penasaran.
"Utakata-sensei mau mandi bersama sa-"
"TENTU SAJA TIDAK!"
.
.
.
Merendam diri di air panas merupakan salah satu istirahat terbaik bagi tubuh. Hotarou melepas kimono merah marun di tubuhnya dan melilitkan handuk di tubuh halusnya. Dada besarnya tampak mencuat dari balik handuk putih sepaha tersebut. Belahan menggiurnya terlihat menggoda. Gadis bersurai gelombang itu membuka handuk putihnya dan merendam tubuhnya dalam kehangatan air panas yang menenangkan pikiran. Luar biasa, seluruh saraf Hotarou terasa dipijat-pijat. Energi kehidupannya terasa kembali ke dalam tubuh.
Hotarou mendengar suara seseorang berendam di balik tembok bambu di depannya yang berguna sebagai pembatas antara pemandian air panas pria dan wanita. Hotarou bergerak mendekati papan bambu tersebut dan mengintip di balik celah-celah bambu. Terlihat Utakata yang sedang berendam sendirian di pemandian air panas pria dengan mata tertutup.
"Pssst, Utakata-sensei…"
Utakata tampaknya tidak mendengar. Dia masih menutup matanya dan menyandarkan tubuhnya di pinggiran kolam air panas dengan wajah menikmati hangatnya air panas.
"Psst! Utakata-senseeeei!"
"Hm?!" Utakata membuka mata kanannya "Aku rasa mendengar suara Hotarou di sini-"
"Utakata-senseeeei!"
"TERNYATA KAU MENGINTIP?!" Utakata membuka matanya lebar-lebar dan mendekati papan bambu di depannya yang berguna sebagai pembatas gender pemandian air panas tersebut. Utakata ikutan mengintip dari papan bambu dan melihat Hotarou yang tersenyum ke arahnya dan mengedipkan sebelah mata.
"Oyy…apa yang kau pikirkan Hotarou. Cepat berlatih sambil bersantai di air panas ini."
"Utakata-sensei, saya mau bertanya…"
Utakata menghela napas dan memandang Hotarou yang memasang wajah memohon dari balik lubang papan bambunya. Apa boleh buat…daripada gadis entah polos atau bego itu melakukan hal yang ekstrim.
"Baik. Silahkan…" kata Utakata dngan suara santai. Dia membalikkan badan sehingga punggungnya yang menempel di dinding bambu.
"Tugas dari Yondaime Uzukage-sama ini, apa pencarian mayat ini ada hubungannya dengan kekacauan yang ada di dunia shinobi sekarang?"
Utakata sedikit terkejut dengan pertanyaan Hotarou. Aneh sekali gadis ini menanyakan tentang dunia politik para shinobi. Jika menyebut kata kekacauan, tentu saja yang pertama kali terlintas adalah kematian misterius 5 Kage. Utakata memejamkan matanya.
"Hotarou, kenapa kau ingin tahu?"
"Rasa ingin tahuku sama dengan kerja kerasku untuk menguasai Teppudama."
"Pertanyaanmu yang sekarang berbeda dengan kerja kerasmu untuk menguasai Teppudama. Kau pasti mengerti…"
Hotarou menghela napas perlahan. Dia membalikkan tubuhnya sehingga punggung mulusnya menyentuh dinding bambu.
"Hanya saja, sejak menerima misi ini…wajah anda selalu terlihat berpikir, Utakata-sensei…"
Utakata terdiam.
Untuk beberapa lama keduanya terdiam di kolam air panas masing-masing.
Utakata menghela napas, dia rasa tidak perlu menjawab perkataan dari Hotarou tadi.
.
.
.
Keesokan paginya Utakata dan Hotarou check out dari penginapan mereka dan meninggalkan Kota kecil tersebut. Utakata terus memantau sekelilingnya dengan waspada, takut Kelompok Petir menyergap mereka tiba-tiba dikala ia sedang berjalan bersama Hotarou. Untungnya setelah sampai keluar dari gerbang kota, Utakata tidak melihat seorangpun yang memakai jubah hitam dengan tudung kepala.
Utakata dan Hotarou beristirahat di tepi sebuah sungai kecil ketika hari menjadi sore. Utakata membuka peta yang menunjukkan titik koordinat dari mayat Shodaime Uzukage dan terkejut melihat titik putih di peta tersebut bergerak dari Desa Lembah. Titik itu terus bergerak dan sepertinya menuju Konohagakure.
'Ma-mayatnya hidup?!' kerutan shock muncul di dahi Utakata 'Kuso…kami harus cepat!'
Utakata segera berdiri dan memasukkan barang-barangnya ke ransel. Dia segera mengajak Hotarou yang sedang berlatih di tepian sungai kecil.
"Ayo Hotarou, kita berjalan lagi!"
Hotarou menoleh ke arah gurunya dengan wajah kebingungan "Aree…kita baru saja beristirahat sensei…"
"Kau tidak terlihat seperti orang beristirahat." Kata Utakata melihat kedua tangan Hotarou yang membentuk segel tangan Ayam Jantan "Ayo!"
Hotarou melihat wajah panik dari gurunya. Dia segera berjalan cepat menuju tas ranselnya dan segera mengikuti Utakata yang berlari cepat memasuki hutan.
"Sensei, kenapa terburu-buru?!" tanya Hotarou ketika mereka melompat di atas dahan-dahan pohon.
"Titik koordinat mayat bergerak!" mata Utakata menajam "Kita harus sampai ke desa lembah sebelum malam hari. Tenang saja…desa itu beberapa ratus meter di depan kita…" Utakata memandang tajam ke samping kanan. Ada sebuah kunai peledak melesar ke arahnya dari sisi kanan.
DHUARRRRHHHH!
Utakata melompat ke atas pucuk pohon sambil menggendong Hotarou secara bridal style. Mata Hotarou melebar. Dia melihat ke bawah dan lima ninja berjubah hitam dan bertudung kepala melesat ke arah mereka dengan kunai teracung ke depan.
"Kelompok petir…jadi mereka sudah mengikuti kami ya?" Utakata melompat di antara pucuk-pucuk pohon untuk menjauhi dari kejaran lima ninja Kelompok Petir. Dua kunai peledak melesat ke arahnya dari belakang dan Utakata langsung terjun ke bawah, ke dahan sebuah pohon. Ledakan besar terjadi di atas kepalanya. Sang Jinchuuriki menoleh ke belakang ketika seorang ninja kelompok petir melesat dari belakangnya sambil menghunuskan kunai, siap menghujam punggung Jinchuuriki tersebut. Mata Utakata melebar, dia terkejut dengan serangan tersebut.
"Suiton: Mizurappa!"
Byuuurrrr! Semburan air deras dari mulut Hotarou menghantam perut ninja kelompok petir dan membuatnya terjatuh ke bawah. Utakata memandang ke arah muridnya yang menyengir bangga. Utakata mendesah pelan.
"Bilang apa…?" canda Hotarou.
"Terima kasih," kata sang Jinchuuriki, lalu terkekeh pelan. Ia menoleh ke sekelilingnya ketika 4 ninja kelompok petir tersisa melompat di atas kepalanya dengan kunai yang siap menghujam ke bawah. Hotarou melompat dari gendongan bridal style Utakata sehingga Jinchuuriki Rokubi itu bisa menggerakkan segel tangan dan meniupkan gelembung dari pipa gelembungnya.
"Kibakuho!"
Empat gelembung peledak melingkupi empat ninja kelompok petir dan Utakata langsung memeluk muridnya untuk bersama-sama melompat menjauhi keempat ninja tersebut. Saat sudah cukup jauh dari keempatnya, sang Jinchuuriki Rokubi menjetikkan jarinya sehingga gelembung peledak itu meledak. Utakata menutup mata Hotarou agar gadis bersurai gelombang itu tidak melihat ceceran tubuh yang terpencar ke segala arah akibat ledakan dari jutsu Kibakuho-nya.
"Sensei…" Hotarou dan Utakata keluar dari hutan, mereka berdiri di sebuah tebing.
"…Siapa mereka? Kenapa mengejar kita?" tanya Hotarou dengan wajah penasaran. Utakata memandang sebuah desa yang berada di bawah tebing tempat mereka berdiri. Angin sore menyibak rambut kecoklatan Utakata sehingga wajah bagian kirinya yang tertutupi poni panjangnya terlihat.
"Mereka menamakan dirinya Kelompok Petir. Alasan mereka menyerang kita belum jelas…" Utakata berjalan beberapa langkah sehingga dirinya berdiri di ujung tebing. Desa lembah adalah sebuah desa kecil yang dipisahkan oleh sebuah gunung dan sebuah sungai. Utakata segera membuka petanya dan titik koordinat itu berhenti tepat di perbatasan desa lembah. Mata Utakata menajam.
Titik putih itu kembali lagi masuk ke desa lembah, seperti ada yang mendesak para pembawa mayat untuk kembali ke desa.
"Hotarou…kita akan masuk ke desa ini, target misi kita ada di sana."
Hotarou berdiri di samping gurunya. Tiba-tiba dia meringis kesakitan.
"Ada apa, Hotarou?" tanya sang Jinchuuriki Rokubi. Hotarou tersenyum lemah dan menggelengkan kepala.
Tidak Utakata ketahui, di punggung mulus Hotarou perlahan-lahan muncul suatu benda. Entah benda apa…hanya saja Hotarou merasa punggungnya menjadi sangat tidak nyaman.
.
.
.
Utakata dan Hotarou berdiri di depan gerbang desa yang terbuat dari bambu dan kayu sederhana. Di bagian depan-kanan gerbang terdapat plang kayu lapuk bertuliskan "Desa Lembah" yang menunjuk ke arah gerbang. Utakata memandang ke langit. Bulan menggantikan peran matahari menandakan hari sudah malam. Sang Jinchuuriki membuka petanya kembali dan melihat titik koordinat itu berada di tengah desa lembah. Kenapa mayat itu kembali ke dalam desa?
Utakata memasukkan peta itu kembali ke dalam kimononya dan mengajak sang murid untuk masuk ke desa.
"Desa ini sepi ya?" komen Hotarou. Utakata menganggukkan kepala. Mereka berjalan di jalan utama desa yang merupakan jalan setapak tanah yang cukup lebar. Di sisi kiri dan kanan jalan banyak rumah sederhana warga yang dihiasi lampu minyak dan obor. Keduanya sampai di sebuah kuil yang memiliki patung kerbau di depannya. Utakata memandang tulisan di batu yang berada di bawah patung kerbau.
"Hanya Kami-sama yang tahu menghentikan monster dari neraka."
Utakata mengernyitkan keningnya. Dia menoleh sekelilingnya ketika desa itu perlahan-lahan ditutupi kabut.
"Ayo kita masuk ke dalam," Utakata memegang lengan kanan muridnya, membuat Hotarou tersentak kaget "Kemungkinan ada pendeta di dalam kuil ini…"
Hotarou menganggukkan kepala. Dia memandang tangan kanannya yang digenggam erat tangan kanan sang sensei. Hotarou tersenyum senang. Keduanya memasuki kuil yang memiliki teras berubin hitam mengkilat. Saat membuka pintu berdaun dua dengan tangan kirinya yang bebas, bunyi decitan engsel besi berkarat menerpa gendang telinga Utakata. Jinhcuuriki Rokubi itu melepas pegangan tangan kanannya pada tangan kanan Hotarou dan memegang pipa gelembungnya menggunakan tangan tersebut.
"Waspada Hotarou…"
Hotarou mengangguk. Dia sudah memegang kunai di tangan kanannya. Matanya melirik sekeliling. Dia menoleh ke belakang, ke kanan, kiri lalu kembali ke depan. Bagian dalam kuil terlihat lengang. Hanya terlihat kepala kerbau yang tertempel di dinding depan dihiasi taburan bunga-bunga berwarna-warni dan berbau aneh. Saat keduanya masuk ke dalam kuil yang dihiasi cahaya obor, decitan engsel pintu yang berkarat membuat keduanya serentak menoleh ke belakang.
"U-Utakata-sensei! Kok..kok jadi horror begini…"
Utakata tidak menjawab. Salah satu daun pintu bergerak pelan ke arah luar. Kemungkinan karena ada angin. Utakata menoleh ke depan ketika mendengar suara benda yang menggelinding di lantai. Hotarou juga dengan sigap menoleh ke sumber suara.
Seekor kucing muncul dari balik kegelapan dan mengeong pelan. Utakata dan Hotarou bersamaan menghela napas lega. Hanya kucing toh…
"Siapa kalian?!"
Utakata dan Hotarou dengan cepat membalik badan dan memasang posisi siap bertarung. Di depan pintu berdiri sesosok pria tua dengan rambut panjang sebahu dan beruban serta janggut lebat di dagunya. Matanya berwarna kuning mengkilat. Dia menaruh kedua tangannya di punggung seperti gaya orang tua bijak. Dia memakai jubah berwarna merah marun dengan strip-strip biru gelap di sisi kancing jubahnya dan hiasan-hiasan garis di sisi kanan jubah. Orang tua itu melangkahkan kakinya hingga mendekati Utakata-Hotarou dalam jarak 5 meter. Orang tua itu berdehem pelan.
"Ehem…anda berdua belum menjawab pertanyaan saya. Siapa kalian berdua?"
"Turis." Jawab Utakata singkat. Orang tua itu menaikkan alisnya kebingungan.
"Turis? Hohoho…kenapa ada turis yang mau datang ke desa kecil kami?" orang tua itu terkekeh pelan "Apa kalian ingin berlibur ke kuil dan memandang patung kepala kerbau di sana?"
"Tidak juga," Utakata memikirkan alasan yang tepat agar tidak dicurigai "Kami adalah penggemar desa-desa kuno dan budayanya…" Utakata teringat sikapnya dan sikap Hotarou yang sudah siap bertempur. Tangan Hotarou malah memegang sebuah kunai.
"Kami juga ninja, tetapi tidak sedang dalam misi…" jawab Utakata tegas. Orang tua itu memandang kunai di tangan Hotarou dan mengatakan "Oooh…" sejenak sebelum dia menepuk kedua tangannya sekali.
"Itu menjawab keraguan di dalam hatiku. Heh…dua orang ninja yang menjadi turis di desa kecil, sungguh aneh. Sungguh sangat aneh…" orang tua itu berdehem kembali "Tetapi kalian benar-benar aneh jika ingin berlibur di sini?"
"Apa salahnya, sudah dibilang oleh sen-maksudnya Sena, bahwa kami berdua pecinta desa-desa kuno…" Hotarou membantu penjelasan Utakata walaupun tadi hampir menyebut kata sensei. Utakata tersenym sweatdropped. Dengan seenak jidat Hotarou mengubah namanya dari Utakata menjadi Sena. Kenapa tidak sekalian Boyke?!
"Aku cukup percaya dengan kata 'Pecinta' itu…Pecinta desa-desa kuno, hmm…sangat menarik," orang tua itu berbalik memunggungi Uakata dan Hotarou lalu berjalan beberapa langkah menuju luar kuil.
"Ikuti aku…" katanya cukup keras.
Utakata dan Hotarou saling berpandangan. Tidak ada pilihan lain, mereka sudah dilihat orang tua tersebut dan keduanya harus menyambut ajakan si orang tua. Hotarou memandang ke atas, ke langit-langit kuil.
Di langit-langit tersebut tergambar kepala kerbau kembali, yang sepertinya dibuat sketsa dari cat berwarna merah, kontras dengan langit-langit kuil yang berwarna putih bersih.
"Ayo Hotarou!" panggil Utakata yang sudah berada 10 langkah di depan muridnya. Hotarou sedikit tesentak kaget dan berjalan cepat mengejar senseinya yang juga mengikuti orang tua itu pergi entah ke mana.
.
.
.
Mereka sampai di rumah orang tua tersebut. Sebuah rumah sederhana yang cukup besar dengan pekarangan luas ditumbuhi berbagai macam tanaman hias. Keduanya duduk di kursi empuk berwarna biru tua di ruang tamu. Pencahayaan obor dan lampu minyak yang bercahaya jingga mmbuat suasana di sana seperti berada dalam keadaan manusia primitif di masa megalithic, maupun neolithik. Utakata memandang hiasan yang ada di dinding-dinding rumah. Sebuah kepala kerbau menghiasi di sisi kanan dinding dengan lingkaran bunga warna-warni di lehernya. Di bagian dinding lainnya juga ada lukisan kerbau yang berdiri dengan kaki belakangnya sementara kedua kaki depannya mengangkat sebuah peti mati dengan kepala kerbau di tutup peti tersebut.
"Kenapa banyak sekali kerbau di tempat ini ya sensei?" bisik Hotarou dengan wajah penasaran.
"Entahlah…kemungkinan karena Boyke."
"Apaan sih, serius senseeei~"
Utakata tersenyum melihat wajah cemberut Hotarou. Orang tua tadi berjalan mendekati kursi tamu sambil membawa dua cangkir teh hangat dengan nampan berwarna hijau. Dia meletakkannya di meja, lalu berdehem pelan sebelum duduk di kursi yang tepat berada di depan Utakata-Hotarou.
"Silahkan diminum turis ninja…" kata orang tua tersebut. Utakata mengucapkan terima kasih lalu mengambil cangkir tehnya untuk diletakkan di dekat tubuhnya. Sang Jinchuuriki menyikut lengan Hotarou untuk mengambil cangkir teh tersisa di nampan.
"Ehem…" orang tua itu kembali berdehem "…Baiklah, kita mulai dari mana ya? Ah ya…izinkan saya memperkenalkan diri dulu. Saya Gyouza, Kepala Desa Lembah. Selain itu saya juga pengurus di kuil Lembah yang kalian masuki tadi…silahkan diminum!" orang tua bernama Gyouza itu menampilkan senyuman, terlihat mengerikan dengan janggut tebalnya "Kami sudah jarang kedatangan tamu dari luar, lagipula desa ini memang terpencil dan terpisahkan oleh sebuah gunung, ah…juga terpisahkan sebuah sungai."
"Letak geografis yang tidak mendukung ya?" kata Utakata menimpali. Gyouza mengangguk.
"Melihat kedatangan kalian yang ingin berwisata di Desa Lembah membuat saya senang. Ternyata Desa Lembah masih dikenal oleh para warga di dunia ini, hahahaha…" Gyouza tertawa sehingga janggut tebalnya bergoyang "Maafkan saya, ehem! Maafkan tawa saya tadi. Silahkan diminum teh-nya. Oh ya, nama anda Sena kan?"
Utakata terpaksa mengangguk ketika orang tua itu menanyakan namanya.
"Dan anda gadis cantik?" tanya Gyouza sambil memandang Hotarou yang sedang meniup cangkir tehnya.
"Saya…saya Boy…Boya…" jawab Hotarou spontan 'Kampret, karena Utakata-sensei sering menyebut nama Boyke, aku hampir menyebut namanya menjadi nama palsuku!'
"Boya? Apa itu terbaca bocah?" tanya Gyouza kembali. Hotarou mengangguk. Dia terpaksa mengangguk karena memperpanjang masalah nama akan menjadi masalah tidak berarti yang akan berubah berarti. Hotarou melirik ke arah gurunya yang meminum teh hangatnya beberapa kali teguk. Dia memandang sekilas Gyouza yang tersenyum ramah. Gadis itu menempelkan bibir cangkir di bibir ranumnya.
Tek…Utakata meletakkan cangkir teh yang telah kosong itu di piring kecilnya dan mulai mencari topik soal Mayat. Pendekatan basa-basi Utakata bahkan dimulai dari kerbau yang ada di semua lokasi semenjak mereka datang ke desa ini, kerbau seperti menjadi simbol desa lembah.
"Kenapa banyak sekali patung kepala kerbau maupun lukisan kerbau itu di sini, Gyouza-san?"
Gyouza tertawa. Dia mengangguk seolah-olah tahu bahwa pertanyaan itu pasti dilontarkan Utakata.
"Kerbau dalam kepercayaan orang-orang desa kami adalah mahluk yang turun dari nirvana dan membantu ekonomi, sosial dan budaya desa lembah. Persawahan di desa kami merupakan berkah dari dewa yang menjadikan dirinya kerbau sebagai simbolis kemakmuran di dunia. Orang-orang kami percaya Kerbau bisa menyerap chakra dan menjadikan chakra itu kekuatan lebih bagi orang-orang desa lembah."
"Bisa menyerap chakra? Maksudnya?"
"Sena-san, itu adalah kepercayaan kami. Bisa benar, bisa tidak. Untuk kami, itu adalah kebenaran karena kami mempercayai itu, untuk anda…dipersilahkan memilih percaya atau tidak." Gyouza mengelus pelan jenggot panjangnya "Ini seperti bahwasanya kerbau adalah kekuatan kami untuk tetap melindungi desa ini dari bahaya apapun."
"Sungguh sangat rumit," Utakata memegang kepalanya. Memikirkan soal kerbau dan kepercayaan Desa Lembah membuat kepalanya sakit. Entah kenapa tubuh Gyouza di hadapannya bergoyang lalu terpisah menjadi dua.
"Sen-Sense…SENA?!" Hotarou meletakkan cangkir teh di atas piring dengan kasar dan memegang kedua bahu Utakata, menahan tubuh limbung gurunya yang perlahan-lahan lemas.
"Ghh…i-ini…" Utakata berusaha mengangkat kepalanya, memandang Gyouza yang menyeringai sadis. Mata Gyouza yang berwarna kuning mengingatkannya dengan warna mata Fuushin, pemimpin Kelompok Petir yang ia temui di Kota kecil Negara Madu.
"Jangan-jangan?! Jangan-jangan kau…"
Bruk! Tubuh Hotarou jatuh tertelungkup di meja dan membuat getaran pelan. Mata Utakata melebar. Hotarou juga terkena efek dari obat bius yang dimasukkan ke dalam teh mereka. Obat bius yang sangat berbahaya. Tidak berasa dan tidak berbau.
"Ho…Hotarou…"
Gyouza menggerakkan segel tangan dan berubah kembali menjadi dirinya yang asli, yakni Fuushin. Sebelum pandangannya menjadi sangat gelap, Utakata melihat seorang gadis kecil bersurai pirang dengan mata besar berjalan mendekati Fuushin dan tersenyum tipis. Mata Utakata menajam, sebelum kegelapan benar-benar menelannya.
'Kuso…'
'KUSOOOOOO!'
Utakata ambruk di lantai dengan posisi tubuh miring ke kanan. Fuushin berdehem pelan sebelum gadis di sampingnya menghela napas lega.
"Penyamaran yang bagus, Fuushin."
Fuushin terkekeh pelan.
"Kau bisa mengandalkanku, Chino…"
TBC
AN:
Ahayo…selamat datang di The Uzukage Hiden: Utakata-Hotarou Chronicles…
Bagi yang menanyakan apakah karakter Fuushin diambil dari cerita Sasuke Shinden, jawabannya yap…anda benar. Jadi penggambaran jalan cerita ini bisa dikatakan akan mengambil tema dari cerita Sasuke Shinden.
Terima kasih bagi yang masih mau menunggu dan membaca karya sederhana kami, saya sangat terhura eh terharu hiks hiks hiks…tanpa semangat dari kalian, mungkin ane terkena WB dan menghilang seperti Icha.
Tenang saja, TU Project akan tetap lanjut walau badai-hujan-petir menghadang. Jadi di sini kita akan berfokus pada Utakata-Hotarou yang mencari mayat para Uzukage yang dicuri oleh seseorang. Orochimaru kah? Bisa jadi. Selain itu, Naruto juga menugaskan keduanya untuk mengambil sampel dari mayat para Hokage dan mayat para ninja hebat pada masanya. Tentu saja untuk menyiapkan payung sebelum hujan. Utakata juga masih berusaha menyempurnakan dari Edo Tensei-nya.
Langsung kita jawab pertanyaan Readers dari chap 1 fic ini
Q: Apakah shodaime dan nidaime Hokage akan dibangkitkan?
A: Bisa jadi bro, yang bangkitkannya siapa? Yah…akan ditentukan di fic ini.
Q: Berapa target TU project yang ke-2? Pesan scene horror-comedy…
A: Masih belum tahu gan, yah mudah-mudahan di bawah 20 lah. Haha…sip, pesanannya siap kami antar (?)
Q: Oro-pedo yang nyolong?
A: Bisa jadi gan.
Q: Apa mungkin mayat Uzukage terdahulu dibangkitkan?
A: Sepertinya gan, apalagi Naruto meminta tolong Utakata dan Hotarou untuk merebutnya kembali, bisa jadi mayat para Uzukage terdahulu adalah sesuatu yang sangat amat penting.
Q: Edotensei vs Edotensei, kalau para Kage bangkit, seharusnya aliansi ga bisa menang
A: Dan perlu kita lihat, Kage apa saja yang akan dibangkitkan gan.
Q: Kalau Utakata berhasil menguasai Edo Tensei, apa yang akan Naruto lakukan?
A: Kemungkinan Naru akan mengeksplor kemampuan Utakata.
Q: Scene Naruto sedikit di fic ini?
A: Yap, seperti itulah gan, karena main chara-nya adalah Utakata dan Hotarou.
Terima kasih juga kepada saudara Preza yang telah mengingatkan Typo-nya. Langsung ane check dan langsung dibenarkan wkwkwk…
Ada beberapa pertanyaan penting dari The Uzukage Hiden: Princess from Land of Snow yang harus ane jawab, ane ringkas saja di bawah ya…
Soal Asuma dan Gai, keduanya adalah ninja yang baru naik sebagai Jounin. Jadi bisa dikatakan umur keduanya 20 tahunan ke atas, sebaya dengan Naruto. Umur keduanya sama dengan Kakashi sebagai satu angkatan. Jadi tidak aneh jikalau Asuma sudah merokok. Untuk Fuinjutsu baru belum bisa ane tampilkan di fic TU Hiden pertama kemarin karena ane masih ingin mengeksplor kekuatan Rasengan dan Chidori Naruto yang ia pelajari di fic utama TU. Lalu juga soal Nightfall, haha…ditunggu saja gan. pasti ada waktunya. Tapi karena mendekati bulan puasa, hmm…mohon ditahan-tahan juga karena ane harus berpikir dua kali untuk membuatnya. Untuk misteri pembunuhan 5 Kage-nya mungkin akan mulai terungkap seiring jalannya cerita, kawan-kawan tunggu saja perkembangan dari cerita ini.
So, terima kasih atas perhatiannya. Ditunggu kritik dan sarannya dan…
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
Tertanda. Doni Ren
