Kau pergilah! Aku tidak pernah mengakuimu sebagai seorang saudara!"
Sasuke menatap kakaknya dengan pandangan dingin saat tubuhnya tersiram air hujan.
Sasuke hanyalah anak sebatang-kara tanpa kedua orang tuanya.
Sasuke hanya memiliki seorang kakak yang dia benci.
Tanpa membawa apapun, di bawah siraman air hujan, Sasuke mencoba mencari tempat berlindung. Namun, tidak ada satupun tempat yang akan menampung dirinya. Dapat dipastikan, cepat atau lambat ia akan mati kedinginan atau lebih buruknya kelaparan. Di dunia sekarang ini, untuk memberi makan diri sendiri saja sudah sulit, apalagi membantu orang lain.
Wajah Sasuke memucat, dan bibirnya membiru. Ia menggosok-gosok tubuhnya, mencoba mencari kehangatan, namun usahanya nihil. Sedikitpun tidak ada perubahan pada suhu tubuhnya
Tidak tahu harus kemana, selama berjam-jam ini, Sasuke hanya melangkahkan kakinya. Mata onyx Sasuke mulai berkunang-kunang, sedangkan perutnya berteriak meminta makanan dikala sejak pagi Sasuke belum mengisi perutnya.
Dengan keadaan seperti ini, Sasuke hanya bisa berpikir ia akan mati sebentar lagi.
Terus berjalan, tanpa disadari Sasuke sendiri, ia telah berjalan—menyebrangi jalan. Sebuah sorot lampu sangat terang pun menyinari tubuhnya, hingga Sasuke nyaris terkejut, tetapi sulit untuk menggerakan kakinya, dan menghindari mobil yang akan menabrak dirinya. Ia memejamkan mata, siap merasakan benturan keras pada tubuhnya. Namun, semua tidak terjadi. Benturan itu tidak kunjung tiba, membuat Sasuke membuka matanya perlahan.
Di saat Sasuke membuka matanya, seorang pria berambut pirang dengan mata biru tengah memayunginya. Pria itu menatap Sasuke dengan ekspresi heran sekaligus khawatir.
"Kau tidak apa-apa?" tanya pria itu dengan nada khawatir.
"Apakah kau terluka? Maaf tadi aku hampir menabrakmu," dengan sopan pria itu memeriksa keadaan Sasuke.
"Tou-san, apakah dia baik-baik saja?" dari dalam mobil seorang bocah keluar dan berteriak—menatap Sasuke.
"Dia tidak terluka, kan?" tanya anak itu.
"Tidak," jawab pria di hadapan Sasuke. Iapun menatap Sasuke, dan lagi-lagi sorot mata khawatir itu tersirat di mata pria itu. Sepertinya pria ini telah menyimpan suatu yang mengganjil di dalam dirinya. Entah apa itu, terjelas Sasuke merasa jika pria ini seperti melihat sosok lain dikala menatap dirinya. Bukan melihat sosok Sasuke.
"Apakah kau butuh perlindungan?" tawar pria itu.
"Aku harap sampai hujan reda kau mau ikut denganku dan anak-anakku," lanjutnya.
Sasuke menatap mobil pria itu.
Mengikuti orang asing adalah hal yang paling menginjak harga diri Sasuke. Tetapi, Sasuke tidak mempunyai pilihan lain. Ia tidak mempunyai apapun untuk bertahan hidup. Bahkan, sebuah pakaian pun ia tidak punya. Di saat itu, dengan berat hati Sasuke menganggukan kepalanya, menyetujui tawaran pria di hadapannya, dan di saat itupun Sasuke menyadari jika kehidupannya telah berubah seratus delapan puluh derajat, bersama orang-orang baru yang paling disayanginya.
Wow, Because You are Naughty, Naughty!
Disc: Masashi Kishimoto
Rat: M
Pairing: SasuNaru
Warn: Miss typo, OOC, AU, bahasa cukup kasar, dan masih banyak lagi hal-hal tidak baik yang bisa ditemukan di dalam.
Cerita ini hanyalah untuk kesenangan belaka, dan bukan untuk dikormesilkan, terlebih untuk menghina pengarang aslinya.
Chapter 1: Datangnya Mereka
Itachi-Naruto: 26 tahun
Sasuke: 22 tahun
Kyuubi: 18 tahun
Deidara: 16 tahun
Konan: 14 tahun
Nagato: 5 tahun
"Tidak!" jawab Naruto—tegas. Ia berdiri di depan pintu, sama sekali tidak mempersilahkan anak-anak Namikaze untuk melangkah masuk ke dalam apartemennya selagi Sasuke berdiri di hadapannya.
"A—apa?" keempat anak Namikaze berkata, kompak.
"KALIAN PIKIR AKU SUDAH GILA?!" nada suara Naruto meningkat empat oktaf.
"AKU TIDAK KENAL SIAPA DIA, DAN AKU HARUS MEMPERSILAHKANNYA UNTUK MASUK?!" Naruto menatap Sasuke. "Pikir pakai otak kalian," jari telunjuk Naruto menunjuk pelipisnya. Kemarahan Naruto membuat Nagato melangkah mundur sembunyi dibalik tubuh Sasuke.
"Ka—kakak, tapi dia sudah seperti keluarga bagi kita," Deidara menjelaskan. Ia memasang ekspresi memohon, selagi saudara-saudaranya yang lain hanya bisa memasang ekspresi kecut.
Naruto tertawa sinis. "Ha..ha... ha.. Bagi kalian dia orang baik, tetapi bagiku DIA HANYA SEBATAS ORANG ASING YANG TIDAK TAHU DIRI!" desis Naruto, dingin.
"Sekarang terserah mau kalian. Jika kalian ingin tinggal di sini cepat bawa masuk barang-barang kalian—tinggalkan orang itu, dan jika kalian masih ngotot membawa dia kemari, silahkan pergi! Aku tidak butuh kalian," Naruto melangkah mundur. Ia membalikkan badan tanpa menutup pintu, lalu melenggang pergi meninggalkan anak-anak Namikaze dan Sasuke.
Hanya dalam sekejap, kemarahan Naruto membuat suasana di apartemen ini menjadi muram. Semua anak Namikaze memasang ekspresi bingung, was-was, dan takut.
Sasuke menghela nafas dengan tingkah keras dan dingin Naruto. Ia ingin sekali menghibur anak-anak ini, tetapi Sasuke pun tidak tahu bagaimana cara menghibur seseorang yang sedang di dalam posisi seperti ini, ketika dia juga masih shock dengan sikap Naruto. Dia seharusnya sudah menduga, jika Naruto tidak mungkin semudah itu menerima keberadaannya, terlebih untuk tinggal di kediamannya.
Nagato menatap punggung Naruto yang menghilang di balik pintu kamar. Iapun menarik ujung baju Sasuke. "Kak Cacu, Nato nyaaak mau tinggal cama Kak Nalu," dengan mata nanar Nagato berkata.
"Nato cama kakak aja..," kata Nagato. Ia tidak mungkin tinggal bersama orang galak seperti itu.
"Nato takut...," lirih Nagato.
Kyuubi menatap Nagato, lalu mendesis kesal. Tingkah Naruto membuat Kyuubi muak. Tanpa berpikir dua kali, Kyuubi mengambil koper merahnya, beranjak pergi dari apartemen Naruto. Namun, Sasuke menghalangi langkah Kyuubi. Ia berdiri di hadapan Kyuubi dan menatap satu-persatu anak-anak Namikaze.
Kyuubi menatap Sasuke tajam, namun kalah dengan tatapan tajam Sasuke, ekspresi Kyuubi melunak. Pemuda itu membuang muka, putus asa.
"Kalian sudah sampai sejauh ini, jangan sia-siakan usaha kalian," kata Sasuke, mencegah anak-anak Namikaze untuk menyerah.
"Kakak kalian cuman masih perlu waktu untuk kehadiran kalian, aku pasti akan mengunjungi kalian setiap hari…" bujuk Sasuke. Di saat Konan dan Deidara hanya menghela nafas, sudah tidak ada keyakinan bisa hidup bersama Naruto selama tiga bulan.
Naruto terlalu kasar untuk diajak hidup bersama.
"Ayolah, dia tidak mungkin menyakiti kalian. Dia itu kakak kalian!" lanjut Sasuke.
"Konan, Deidara, Kyuubi, Nagato?" Sasuke mencari respon keempat anak itu.
Konan menatap Sasuke khawatir. "Lalu, Kak Sasu akan pergi kemana?" tanyanya.
"A—aku benar-benar tidak mungkin menghadapi tingkah kakak yang galak seperti itu," lanjut Konan. Baru saja beberapa jam bertemu Naruto, dia sudah merasa diteror.
Sasuke mengelus kepala Nagato yang masih memegang ujung bajunya. "Kakak bisa tinggal dimana saja, dan kalian pun harus bisa bertahan. Kalian anak kuat, jangan cengeng!" kata Sasuke.
"Kalian ayo sana masuk! Besok kan kalian harus memulai kehidupan baru," lanjut Sasuke, memberi semangat pada anak-anak Namikaze.
"—Dan untuk kau Kyuubi. Aku harap kau bisa bersikap seperti ini terus. Aku sangat senang kau menepati janjimu agar tidak terbawa emosi untuk menghadapi kakakmu," Sasuke tersenyum tipis. Ia sangat tahu tabiat Kyuubi yang susah mengontrol diri, terlebih jika menyangkut harga dirinya. Tetapi, Sasuke pun tahu jika Kyuubi adalah laki-laki yang sangat bercomitment.
Kyuubi memutar kedua bola matanya. Dengan malas Kyuubi menendang kopernya masuk ke dalam apartemen. Ia tidak ada pilihan lain selain tinggal di bersama Naruto. Entah dia masih bisa hidup atau tidak jika selama tiga bulan harus tinggal bersama orang seperti Naruto Uzumaki.
Kyuubi hanya bisa pasrah dan membiarkan waktu yang berbicara. Jika bukan karena ayahnya dan Sasuke, Kyuubi pasti sudah memilih untuk menjadi gelandangan di pinggir jalan sana.
Nagato mengerutkan bibirnya. "Cekolah balu? Nato nyak cuka cekolah balu..." gumam Nagato sambil menundukan kepalanya. Sasuke megandeng tangan Nagato dan memberikannya pada Konan.
"Kak Cacu, Nato benal-benal mau cama kakak," rengek Nagato sambil megenggam tangan Konan. Sejenak ia menatap ke dalam apartemen yang tidak nyaman itu, walaupun sangat bersih dan dilengkapi barang-barang mewah.
Sasuke berjongkok di hadapan Nagato. Ia mengsejajarkan tubuhnya dengan Nagato. "Nagato nanti banyak dapat teman di sekolah baru. Jangan sedih," Sasuke memegang kedua pundak Nagato.
"Ha-ah, kami benar-benar tidak mau tinggal di sini," Deidara bergumam. Konan menganggukan kepalanya.
Sasuke menatap Deidara. "Dei…" kata Sasuke dengan nada memperingati.
Deidara tersenyum kecut. Ia mendengar perkataan Sasuke. "Kau hati-hatilah di luar sana!" kata Deidara.
"Selamat malam!" Deidara mengulurkan tangannya.
Sasuke berdiri dan menerima jabatan tangan Deidara. "Selamat malam!" katanya.
"Jangan membuat kakakmu semakin kesal," Sasuke memperingati pemuda berambut pirang itu. Deidara pun masuk ke dalam dengan membawa tas ransel dan kopernya. Tidak seperti Kyuubi, Deidara memasukan barangnya dengan setenang mungkin agar kakak pertamanya tidak mengomel kembali.
Konan menatap punggung Deidara, lalu matanya kembali menatap Sasuke. Konan memeluk Sasuke dengan erat. "Selamat malam, Kakak!" katanya dengan nada sedih.
"Kakak di luar sana baik-baik, ya!" katanya. Konan sangat sedih, jika mengingat dirinya harus terpisah dengan Sasuke—figure kakak terbaik bagi dirinya.
Nagato ikut memeluk Sasuke. "Nato cayang kakak," gumam Nagato, membenamkan kepalanya di tubuh Sasuke.
"Semua pun pasti sayang sama Nagato, termasuk kakak Naru," gumam Sasuke sambil mengelus kedua anak yang memeluknya. Sejenak, mereka merasakan kedekatan di antara mereka sampai saatnya...
"—JANGAN LUPA TUTUP PINTUNYA!" dari dalam kamar sana suara yang menggelengar—merusak keheningan apartemen—terdengar.
Konan dan Nagato saling bertatapan. "Ha-ah," mereka menghela nafas, ketika Sasuke hanya tertawa kecut.
.
Semangat anak-anak!
Tazmaniadevil
Trinittt.. Triniiittt...
Malam yang sangat panjang itu akhirnya berakhir.
Matahari pagi sudah memunculkan wujudnya, namun penghuni kamar 48 belum saja terbangun dari tidur mereka.
Semua masih berkutat di bawah selimut mereka, menikmati cahaya matahari yang masuk dari sela-sela jendela dikala alarm ponsel terus berbunyi.
Sejenak pemuda berambut merah meraba meja kecil di samping tempat tidurnya. Ia mematikan alarm itu sebelum kembali tertidur. Sedangkan adik-adiknya yang lain pun bersikap sama dengan dirinya.
Tidak ingin meninggalkan tempat nyaman ini!
Ting.. Tong... Ting.. Tong...
Di sisi lain, di sebuah kamar yang lebih besar dari kamar keempat Namikaze seorang pemuda mulai terbangun karena bunyi bel yang terus terdengar. Naruto merubah posisi menjadi terduduk. Naruto menerawang sejenak sebelum mengutuk orang yang berani meganggu tidur cantiknya.
Naruto menggaruk kepalanya. Ia mendesah sebal karena dia baru saja menikmati tidurnya selama dua jam, tapi sudah diganggu oleh tamu tanpa diundang itu. Dengan langkah malas, Naruto memasang sandal, dan kaos tidurnya sebelum pergi ke arah pintu. Matanya masih terpejam, sulit sekali untuk dibuka.
Naruto sungguh kesal, dan ia pasti akan menghajar orang yang berani datang ke kediamannya di pagi hari seperti ini!
Ting.. Tong.. Ting.. Tong...
"TUNGGU SEBENTAR!" bentak Naruto, ketika orang yang menekan belnya itu sangat tidak sabaran. Naruto menyeret kakinya, malas untuk melangkahkan kaki.
"Ada apa, sih?" Naruto membuka pintu dan menatap tamunya yang sedang berdiri di depan pintu dengan ekspresi stoic.
Sasuke menatap penampilan Naruto. Baru kali ini dia melihat Naruto tampak sangat manusiawi, namun tetap saja kesan jaga image masih ada di perawakan Naruto yang sempurna walaupun baru bangun tidur. Pemuda itu masih berpenampilan sangat 'waw', tidak terlihat bangun tidur sama sekali jika Sasuke tidaklah melihat rambut Naruto yang sedikit acak-acakan, dan matanya berair karena menguap.
"Dimana adik-adikmu?" tanya Sasuke, mencuri lihat ke dalam apartemen Naruto.
Kosong.
Tidak ada sama sekali aktivitas di dalam kamar ini.
"Entahlah!" dengan malas Naruto mengangkat kedua bahunya.
Sasuke menatap tajam Naruto yang sangat cuek.
Secara cepat, Sasuke melewati Naruto dan membuka satu-persatu pintu di dalam apartemen Naruto, mencari anak-anak Namikaze. Melihat Sasuke masuk ke dalam apartemennya menggunakan sepatu, membuat Naruto freaking out, terbangun dari rasa ngantuknya.
Sial!
Lantai, karpet, dan pegangan pintu setiap kamarnya telah tersentuh oleh manusia kotor itu?! Berapa juta kuman dan virus yang dibawa Sasuke ke dalam kediaman Naruto. Dengan wajah merah karena marah, Naruto melangkah maju ke arah Sasuke. Siapapun tidak bisa mengotori barang-barangnya!
"Mereka terlambat!" teriak Sasuke ketika Naruto mendekatinya, dan berdiri di belakang Sasuke.
Naruto tidak peduli anak-anak Namikaze terlambat atau terjun dari apartemen ini sekalipun. Ia hanya peduli dengan sepatu Sasuke yang menginjak kamar apartemennya. Naruto hendak menyentuh pundak Sasuke, tetapi dia tidak ingin tangannya tercemar ketika cairan pembersih itu tidak ada di dekatnya. Jadi, Naruto hanya menggertakan gigi saja, kesal.
"HEI, SURUH SIAPA KAU MASUK?! SEPATUMU MENGOTORI KAMARKU!" teriak Naruto, ketika sepatu Sasuke menciptakan jejak-jejak pasir di atas lantai Naruto.
"TEME, BRENGSEK! KAU JANGAN MENGINJAK LAN—
Sasuke akhirnya menemukan tempat Namikaze tidur.
Keempat Namikaze tidur di dalam sebuah kamar dengan keadaan sangat nyaman. Mereka berempat membagi kasur menjadi dua bagian.
Nagato dan Konan tidur di bawah dengan Nagato yang dilapisi karpet karet anti ngompol, sedangkan Kyuubi dan Deidara tidur di kasur atas.
Keempat Namikaze masih meringkuk di bawah selimut, ketika mereka semua tidak sadar waktu sudah menunjukan tiga puluh menit lagi masuk kelas.
Mulut Sasuke membuka-tutup. Miris dengan keadaan Namikaze yang masih tertidur di jam segini. Ia melangkah masuk ke dalam kamar itu, dan menarik selimut yang digunakan anak-anak Namikaze. "Kyuubi, Deidara, Konan, Nagato! CEPAT BANGUN!" Sasuke berusaha menggoyang-goyangkan keempat tubuh anak-anak Namikaze.
"Kalian lihat, sekarang jam berapa?" tanya Sasuke, dengan nada sedikit meninggi.
"A—ah, kakak, masih ngantuk!" Konan menarik kembali selimutnya, tetapi Sasuke tidak membiarkan itu terjadi.
Naruto hanya mengangkat sebelah alisnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ia berdiri di bingkai pintu, menatap aksi Sasuke dengan keempat adik-adiknya.
Sasuke menatap Naruto dengan tajam. "Cepat, kau bantu mereka bangun!" perintah Sasuke.
Naruto hanya memutar kedua bola matanya. Ia melenggang pergi, meninggalkan Sasuke membuat Sasuke harus ekstra sabar.
Memangnya aku pikirin?
Batin Naruto, menyebalkan.
Sasuke fokus kembali pada adik tirinya. "Kyuubi, cepat! Kau akan terlambat ujian masuk universitas!" Sasuke menarik lengan Kyuubi. Dengan ekspresi mengantuk Kyuubi menggaruk-garuk kepalanya, ketika posisinya menjadi terduduk. Sasuke mengambil ponsel Kyuubi, dan memperlihatkan jam yang ada pada ponsel.
"Buka matamu, dan lihatlah!" perintah Sasuke, memaksa Kyuubi untuk membuka mata.
Dengan mata setengah mengantuk Kyuubi membuka matanya. "Mhm... mhm... 7.30..." gumam Kyuubi. Ia hendak merebahkan lagi tubuhnya, ketika matanya terbuka sempurna, akhirnya sadar juga.
"APA?! 7.30?! AGGHHHHHHHHH NAGATO, KONAN, DEIDARAAA! BANGUUUUNNNN!" teriak Kyuubi sambil menarik tangan adik-adiknya agar segera bangkit dan bersiap-siap ke sekolah.
Mendengar teriakan Kyuubi, Naruto hanya memutar kedua bola matanya sambil memasang headset, mendengarkan musik. Pemuda Uzumaki bersiap-siap menikmati acara tidurnya yang sempat tertunda—tadi, ketika suasana di kediamannya benar-benar kacau.
.
.
.
10 menit kemudian...
Seluruh anak-anak Namikaze sudah siap berangkat ke sekolah, walaupun mereka hanya membersihkan kotoran mata dan menggosok gigi.
Naruto yang masih kesal dengan lantai kamarnya yang kotor menatap Sasuke sinis ketika pemuda Uchiha itu sedang menunggu anak-anak Namikaze siap untuk berangkat ke sekolah di depan pintu apartemen.
Naruto membersihkan tenggorokannya dikala Sasuke bersikap polos atas perbuatannya tadi pagi.
Suara Naruto membuat Sasuke menatap Naruto dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Sebaiknya kau bawa saja mereka. Anak-anak itu merepotkan. Gara-gara mereka kau masuk dan mengacaukan lantai apartemenku!" Naruto menunjuk lantai apartemennya yang noda kotornya tidaklah seberapa.
"—Dan kau bersikap acuh begini? Seperti aku tidak bisa bersikap acuh seperti itu saja," lanjut Naruto. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, arrogant.
Sasuke menghela nafas sejenak. Ia sedikit malas menanggapi perkataan Naruto. "Bisakah aku meminta kunci apartemenmu di hari ini?" tanya Sasuke.
Naruto mengerutkan keningnya. Ia menatap Sasuke seperti orang di depannya ini adalah orang terbodoh sedunia. "Untuk apa? Kau ingin merampok isi apartemenku?" Naruto berkata sinis.
"Terang-terangan sekali dirimu ingin merampok tempat tinggalku."
Sasuke memutar kedua bola matanya. "Ya sudah jika kau tidak ingin aku membereskan rumahmu atau bertanggung jawab, kau tidak usah merengek," Sasuke mendengus.
"Aku meminta kuncimu agar aku bisa membereskan apartemenmu di saat kau sedang pergi bekerja," lanjutnya.
"—atau kau ingin menanti diriku kembali seharian ini setelah mengantar mereka, untuk memastikan agar aku tidak mengambil barang-barangmu ketika aku membersihkan lantai yang kotornya tidak seberapa itu? Bisa saja, bukan, kau tidak usah masuk kerja untuk mengawasiku membereskan rumahmu?" usul Sasuke.
"Memangnya aku ini pengawasmu apa? Malas sekali aku harus ikut-ikutan repot karena tingkah kurang ajarmu itu," Naruto memutar kedua bola matanya.
"Jika begitu, silahkan saja kau membereskan kamarmu sendiri," Sasuke berkata cuek.
"Aku sudah mencoba untuk bertanggung jawab, tetapi kau tidak meresponnya dengan baik. Jika kau hanya ingin memperkarakan masalah ini saja, maaf aku tidak punya waktu."
Sasuke dan Naruto saling bertatapan, dengan sorot mata penuh kebencian.
"Kak Sasu, kita sudah siap!" Deidara muncul dari belakang Naruto, dan melewati Naruto, dengan diiringi saudara-saudaranya yang lain.
"Ayo, kita berangkat!" ajak Deidara. Ia dan saudaranya masih merapihkan baju, berusaha terlihat sudah mandi.
"Hm...," gumam Sasuke. Ia megandeng tangan Nagato dan melangkahkan kakinya dengan diikuti anak-anak Namikaze lainnya. Sasuke sama sekali tidak pamitan pada Naruto karena terlalu kesal pada pemuda itu, sedangkan anak-anak Namikaze bertindak sama seperti Sasuke karena terlalu malas dan takut pada kakak mereka.
ISH!
Dikala Sasuke mulai melangkahkan kakinya, Naruto mulai berubah pikiran. Enak saja orang ini dibiarkan pergi begitu saja.
"TUNGGU!" seru Naruto, menghentikan langkah Sasuke.
Sasuke dan anak-anak Namikaze berhenti melangkahkan kaki. Mereka semua menatap Naruto yang melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, lalu beberapa detik kemudian, Naruto keluar dari kamar dengan membawa card key. Naruto menghampiri Sasuke, dan mengulurkan card key yang dipegangnya dengan memakai ibu jari dan jari telunjuk. Sedikitpun ia tidak ingin bersentuhan dengan Sasuke.
Naruto menatap Sasuke dengan gekstur tubuh salah tingkah ditambah gengsinya. "A—awas jika tidak bersih!" Naruto memerintah Sasuke untuk mengambil card key di tangannya dengan gerakan tangan.
"Cepat ambil! Bukankah mereka terlambat?!" bentak Naruto, ketika gerakan Sasuke sungguh lambat.
Sasuke mengambil kunci di tangan Naruto. "Baiklah," jawab Sasuke. Keempat Namikaze menatap Sasuke dan Naruto secara bergiliran.
Pemandangan ini sangat tidak asing bagi anak-anak Namikaze. Mereka merasa sedang bermain... rumah-rumahan?
"Hanya ruangan di luar saja. Kau tidak boleh masuk ke dalam kamar," Naruto memperingati Sasuke. Iapun membalikan badan cepat-cepat dan melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam kamar apartemennya. Sama sekali tidak ada basa-basi pada adik-adiknya dan Sasuke.
"Oh, iya!" Sasuke mengingat sesuatu dikala menatap punggung Naruto. "Hei, kau jangan lupa menjemput Nagato siang ini!" Sasuke memberitahu Naruto.
Naruto berhenti melangkahkan kakinya. Ia membalikan badan, menatap Sasuke. "Apa?! Apa maksudmu?"
"Tugasmu adalah menjemputnya," Sasuke memperjelas perkataannya. Ia menunjuk Nagato yang menatap khawatir Sasuke dan Naruto. Bagi Nagato, kedua orang dewasa di dekatnya ini kelama-lamaan seperti pasangan suami-istri yang sedang ada di ujung tanduk pernikahan, terus bertengkar—meributkan urusan rumah tangga.
"Hei, sejak kapan kau bisa memerintahku?! Mereka sudah menumpang tinggal bersama diriku, dan sekarang aku harus menjadi sopir salah satu di antara mereka?!" Naruto berseru. Menolak mentah-mentah permintaan Sasuke.
"Hell, no!"
Sasuke mengangkat kedua bahunya. "Kau kakaknya, dan itu tugasmu sebagai seorang kakak yang baik," Sasuke melenggang pergi—meninggalkan Naruto yang wajahnya memerah karena marah.
.
Seenaknya saja si Teme itu!
Tazmaniadevil
Konoha University...
Kyuubi menatap setiap ruangan kelas di hadapannya. Ia telah masuk ke dalam gedung yang benar. Sekarang tinggal kelas, dan bangkunya lah yang belum Kyuubi temukan. Namun, dimana kelas dia akan melaksanakan ujian itu? Kyuubi mendesah kesal. Terlambat datang ditambah dia belum memeriksa tempat ujiannya membuat Kyuubi kesulitan sendiri. Kyuubi mulai panik dikala satu menit lagi waktu ujian akan dimulai, dan alarm—pertanda ujian dimulai—terdengar. Oke, tahun sekarang sepertinya Kyuubi tidak akan kuliah.
"Ya. Kau akan bertemu dengan orang yang kau akan survey di restoran biasa. Aku harap kau memperlakukan mereka dengan baik karena sulit sekali mengajak mereka ke tem—
Kyuubi menatap pemuda seumuran kakaknya yang berjalan ke arah dirinya. Pemuda itu sedang menelepon, dan Kyuubi sedikit ragu untuk meganggunya. Namun, tidak ada lagi orang yang bisa dia tanyai, ketika seluruh orang di area universitas ini sudah masuk ke dalam kelas untuk melaksanakan ujian atau menjadi pengawas, serta panitia. Kyuubi pun menghampiri orang yang membawa berkas cokelat tersegel. Ia menghalangi jalan orang itu.
"Maaf, apakah kau mengetahui kelas yang ini?" tanya Kyuubi di saat orang itu menatapnya dengan dingin dan berhenti berbicara di telepon. Kyuubi sedikit membatin karena ekspresi pemuda di hadapannya tidak menyenangkan.
Kyuubi menunjukan kartu peserta ujiannya ke arah satu-satunya manusia di tempat ini.
"..." Pemuda di hadapan Kyuubi mengangkat sebelah alisnya. Ia menatap kartu peserta di tangan Kyuubi, lalu menatap Kyuubi kembali.
"Hei, aku bertanya sebentar padamu karena tidak ada satupun orang di tempat ini," Kyuubi sedikit meninggikan suaranya, ketika tidak ada respon dari orang di hadapannya.
Orang itu kembali menempelkan teleponnya ke telinga. "Sebentar, ada gangguan," katanya pada orang di seberang telepon. Ia menatap Kyuubi dengan ekspresi datar sambil menurunkan ponselnya.
"Turunkan nada suaramu!" perintahnya, terdengar menyebalkan, dan jika Kyuubi menemukan orang lain di tempat ini, dia pasti akan lebih memilih untuk menanyai orang lain itu daripada pemuda sombong di hadapannya.
Bo—bocah?!
Aku bocah?! Dia breng—sabar.. sabar Kyuu...
Kau yang butuh orang ini...
Kyuubi menghela nafas. Ia menekan egonya. Ia tidak boleh melanggar janjinya pada Sasuke agar terus menjadi anak baik. "Maaf, aku bertanya tentang ruangan ini," nada suara Kyuubi dibuat selembut-lembutnya. Suaranya terdengar sangat sopan bagi seorang Kyuubi. Pemuda Namikaze itu menunjukan kartu pesertanya kembali.
Beberapa detik suasana menjadi hening, tidak ada respon dari orang di hadapan Kyuubi.
Pemuda bermata onyx di hadapan Kyuubi mendengus. "Cari saja sendiri," katanya. Ia mulai melangkahkan kakinya kembali, sungguh brengsek.
Mulut Kyuubi membuka-tutup ketika melihat punggung pemuda itu. Sial. Yang benar saja, dia menghabiskan waktu untuk bertanya, dan dijawab segila itu. "K—kau ini!" teriaknya. Sial sekali dia. Pemuda itu telah mengerjainya dan membuat dia terdengar memohon. Jika waktunya sudah mepet, Kyuubi pasti akan menghajar orang itu.
Mata Kyuubi tidak bisa berhenti menatap pemuda yang kembali berbicara di telepon itu. Ia mengutuk secara terus-menerus tingkah brengsek orang itu.
"Mhm.. maaf tadi ada gangguan. Tidak. Hanya bocah saja. Ya, sudahlah! Dia bodoh sepertinya karena ruangan yang dia tanyakan ada di belakangnya," kata pemuda itu dengan nada mengejek. Ia seperti sengaja memperkeras suaranya agar Kyuubi bisa mendengar.
"Hahahaha... memang bodoh. Jangan-jangan sekeluarganya bodoh semua seperti dirinya," lanjutnya dengan senyuman dari balik punggungnya, dan orang yang diseberang telepon itu ikut tertawa—mengiyakan perkataan pemuda itu.
Pembicaraan pemuda menyebalkan itu membuat Kyuubi menoleh ke samping. Ia menatap jika di atas pintu itu terdapat nomor kelas yang sesuai dengan nomor ruangan di kartu peserta ujiannya.
Kyuubi membuka-tutup mulutnya.
Demi apa...
Dia telah berbuat bodoh. Dia telah mempermalukan dirinya sendiri. Sial! Ini semua karena dia bangun terlambat. Ia menjadi tidak fokus. Kyuubi menghela nafas berat. Iapun membuka pintu di depannya. Meminta izin untuk segera memulai ujian, ketika soal-soal ujian sudah mulai dikerjakan oleh peserta ujian lainnya.
.
.
.
Krieeettt...
Dua orang penjaga membukakan pintu untuk Itachi yang segera memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya.
Dengan langkah penuh percaya diri Itachi melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan itu. Suara ribut di ruangan itu langsung menghilang ketika Itachi hadir di atas panggung—depan audiotorium—tempat untuk para petinggi perusahaan mempresentasikan hasil penelitian mereka atau mengumumkan hal-hal penting yang menyangkut universitas ini. Tempat ini hanya akan digunakan jika menyidang Tugas Akhir mahasiswa S3 atau melakukan rapat besar dengan orang-orang penting.
Itachi yang berdiri di atas panggung menatap sejenak orang-orang yang duduk di bangku berformasi cangkang keong itu. "Selamat datang di next innovation—tempat yang bisa mewujudkan lebih dari sekadar mimpi Anda," kata Itachi, mulai memberi sambutan pada para petinggi Universitas Konoha. Ia melangkahkan kakinya lebih maju ke depan panggung.
"Dari ribuan lembaga pendidikan yang ada Di Jepang ini, universitas ternama di Konoha inilah yang kami pilih untuk berinovasi—menjadi lebih maju dibandingkan lembaga-lembaga pendidikan lainnya…" Itachi tersenyum lebar. Semua orang mendengarkan Itachi dengan sangat baik.
"Kita langsung saja, Next Innovation bersama Universitas Konoha mempersembahkan—
CKLIK!
Itachi menekan remote yang sedari tadi dipegangnya.
"Pendidikan dalam inovasi!" kata Itachi, ketika di belakangnya sebuah layar sangat besar menampilkan ratusan gambar dari CCTV. Semua orang masih hening, belum mengerti inovasi yang dibuat oleh perusahaan Itachi.
Itachi menatap sejenak ke arah layar proyektor di belakangnya. Lalu, menekan kembali tombol-tombol yang ada di dalam remote-nya, hingga layar proyektor pun mulai menampilkan deretan nomor rangking dan nama para peserta ujian saringan masuk Universitas Konoha terus berubah-ubah.
Deretan nomor dan nama itu dituliskan berdasarkan ranking, sehingga selama ujian itu terus berlangsung kemungkinan besar ranking para peserta itu terus berganti, sesuai dengan kemampuan para peserta mengerjakan soal mereka.
"Uwoooooooo!" semua para hadirin di tempat itu menatap takjub ke arah proyektor. Beberapa dari mereka bahkan sibuk berbisik-bisik, membicarakan kemampupakaian design aplikasi yang baru saja dibuat Perusahaan Next Innovation.
"Seluruh peserta ujian universitas Konoha akan mengerjakan ujiannya secara online. Semua anak-anak mengerjakan soal langsung dari dalam PC yang telah disediakan oleh pihak Next Innovation dan Universitas Konoha di setiap meja mereka," Itachi mulai menjelaskan.
"Selama komputer anak-anak itu masih ter-connect oleh komputer pusat, maka jawaban mereka akan terus terpantau oleh kita setiap detiknya, dan komputer pusat akan langsung menilai hasil kerja mereka. Oleh karena itu, posisi nama serta nomor ranking di dalam layar proyektor itu akan terus berubah-rubah setiap detiknya sesuai dengan penilaian yang dilakukan oleh komputer pusat," suasana di dalam ruangan semakin ricuh, ketika Itachi mulai menjelaskan lebih dalam fungsi kerja design perusahaannya.
Itachi kembali menekan tombol di dalam remote-nya. "Kerja aplikasi inipun lebih kompleks, ketika setiap jawaban yang dikerjakan oleh anak-anak bisa dilihat oleh kita. Sebagai contoh—" Itachi mengotak-atik remote di tangannya. Ia hendak menunjuk anak yang menduduki ranking pertama untuk sekarang ini sebagai contoh bagi para pendengar.
"Jawaban yang sedang dikerjakan oleh anak rangking pertama i—"
"UWOOOOOOOOOO!" ruangan tiba-tiba ricuh dalam waktu seketika. Seluruh manusia berpakaian rapih di dalam ruangan itu menunjuk layar proyektor sambil berbisik-bisik, dan beberapa dari mereka ada yang terpukau. Bahkan keributan yang tidak wajar ini membuat Itachi menjadi penasaran, dan membalikan tubuhnya untuk menatap layar proyektor di belakangnya.
"Ya—Yang benar saja…" Itachi melihat kertas jawaban pilihan ganda yang dibuat secara online di dalam layar proyektor itu. Kertas itu sudah nyaris terisi penuh, ketika waktu baru menunjukan 15 menit dari waktu ujian dimulai.
"Ini hanya baru berjalan sebentar," Mata Itachi bergerak ke arah kiri layar proyektor itu.
Name: Kyuubi Namikaze
Number: xxx xxxx xxxxx
False=0 True=95 Zero=5
"Nyaris sempurna…" gumam Itachi, tidak percaya dengan matanya.
"Ini tidak salah, kan?" gumam Itachi sambil terus menatap layar di hadapannya. Tetapi, pergerakan peserta itu berhenti—tepat di score 95. Tidak menjawab pertanyaan selanjutnya. Entah dia kebingungan atau dia hanya mendiamkan jawabannya.
"Ini kan baru berjalan 15 menit? Mungkin telah terjadi kesalahan sistem dan design pada program Anda…" beberapa orang di tempat itu mulai meragukan kemampuan Itachi. Bahkan sebagian dari mereka ada yang berpendapat jika Itachi melakukan kesalahan sangat fatal, dan bisa merugikan universitas, jika memang aplikasi yang dibuat next innovation gagal.
"Kau harus bertanggung jawab jika itu terjadi," para pejabat pemerintah mulai berkomentar pedas pada penemuan Itachi.
"Ini adalah hari yang penting Uchiha," lanjut mereka.
Keadaan di dalam ruangan mulai memanas. Semua menatap Itachi dengan pandangan ragu. Di saat itu, Kakashi berdiri dari arah bangku penonton, dan berlari ke arah panggung untuk membantu Itachi yang sudah ada di dekat induk komputer—memeriksa programnya.
Tidak ada kesalahan. Semua terlihat baik-baik saja dan tidak ada gangguan. Bahkan, gangguan dari peretas pun tidaklah ada.
Itachi berpikir sejenak. Lalu, dia mengambil beberapa lembar dari dalam kertasnya, dan membuka kertas itu sambil menatap layar.
"Bagaimana Itachi?" tanya Kakashi, memastikan semua baik-baik saja. Kakashi yang merupakan Ketua Jurusan Teknik Informatika bertanya.
Itachi menatap lingkaran dihitami yang tertera di lembaran jawaban online itu, dan membandingkan jawaban itu dengan kertas di tangannya.
Benar.
Semua jawaban yang ada di dalam lembar jawaban itu memang murni jawaban milik peserta itu. Sedikit pun dia tidak membuat kesalahan, ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah dibuat oleh pihak universitas. Gila. Anak-anak ini memang benar-benar sangat pintar. Tidak. Dia tidak pintar. Tetapi terlampau jenius!
"Tidak, Senpai. Sama sekali tidak ada kesalahan...," kata Itachi, dengan tatapan yang masih tetap terpaku pada layar.
"Semua baik-baik saja, oke? Tidak ada sedikitpun kesalahan yang dibuat kita, ketika ujian online ini sangat dilindungi. Bahkan, anak-anak itu tidak akan bisa membuka apapun di dalam PC itu, kecuali soal dan jawaban yang sudah disediakan panitia."
Kakashi membuka-tutup mulutnya. "Lalu?" tanya Kakashi, masih tidak percaya dengan jawaban yang diberikan Itachi.
Itachi menatap Kakashi. "Semua jawaban yang dia berikan benar..." jawab Itachi. Ia memperlihatkan soal-soalnya.
"Jawaban yang dibuatmu dan teman-temanmu telah dipecahkan olehnya hanya dalam waktu lima belas menit," Itachi menyerahkan soal-soal ujian itu ke tangan Kakashi. Ia tahu jika bukan soal-soal itu yang terlalu mudah, melainkan otak anak itulah yang gila. Namun, Kakashi menatap Itachi yang sama gilanya dengan anak itu karena berhasil memastikan kebenaran jawaban soal-soal di tangannya dalam sekejap.
"Tidakkah ada kebocoran?" Kakashi meyakinkan semuanya benar-benar sempurna sebelum menyimpulkan jika seorang monster telah ikut serta di dalam ujian saringan masuk ini.
Itachi menggelengkan kepalanya. "Tidak sama sekali. Semua aman..." Itachi tersenyum miring.
"Dia memang benar-benar jeni—
"UWOOOOOOOOOOOOOOOO!" suara kembali ricuh, dan Itachi hanya bisa berkata 'apa lagi sekarang' sambil melihat ke layar proyektor itu.
Mata Kakashi membelalak, ketika jawaban peserta ranking pertama itu mulai berubah. Jawaban yang sempat dijawab oleh anak itu dirubah, dan diganti, hingga perlahan score anak itu mulai turun—tidak tinggi seperti awal.
"A—apa yang dia lakukan?" suara Kakashi meninggi di saat melihat kegilaan salah satu peserta ujian itu. Kakashi merebut remote yang di tangan Itachi.
"Bagaimana agar aku bisa melihat ke dalam kelas?" tanyanya. Berusaha merubah tampilan proyektor sekarang menjadi tampilan kamera CCTV kembali.
Itachi mengerti maksud Kakashi. Iapun merubah penampilan layar proyektor itu menjadi dua bagian. Salah satu bagian menampilkan jawaban yang dikerjakan oleh Kyuubi, dan salah satu bagian lagi menampilkan gambar kelas yang sedang dipakai ujian, dan Kyuubi termasuk peserta yang ada di dalam kelas itu.
"Anak itu!" tunjuk Itachi—masih mengingat wajah anak yang sempat mengulurkan kartu peserta pada dirinya.
Semua orang pun terfokus—menatap gerak-gerik Kyuubi yang terlihat tenang, ketika merubah nyaris semua jawabannya.
"Anak itu gila! Jawabannya sangat disayangkan!" kata salah satu orang di dalam audiotorium ini.
"Tidakkah ada yang berniat menghentikan dirinya?!" lanjutnya.
Sikap Kyuubi membuat orang itu kesal dan ingin berlari untuk menghentikan tingkah gila anak itu.
Semua orang yang bersangkutan dengan penilaian ujian ini hanya menggelengkan kepala mereka. Ini adalah ujian. Semua hasil tergantung peserta itu sendiri. Jika memang peserta itu membuat salah jawabannya, hal tersebut adalah hak peserta itu. Pihak universitas hanya bisa memberikan anak-anak fasilitas, ketika merekalah yang menentukan nasib mereka sendiri. Walaupun begitu, semua penilai, maupun Kakashi membuang muka—tidak sanggup melihat tingkah anak itu yang seperti mempermainkan universitas mereka.
"Dia akan berhenti sampai score 84," ujar Itachi pada Kakashi.
"Percayalah padaku, jika anak itu berniat masuk ke dalam pilihan dua—management music— yang selama bertahun-tahun ini selalu menduduki passing grade kedua di setiap Ujian Saringan Masuk, ketika Teknik Informatika kitalah yang selalu ada di urutan pertama," jelas Itachi tanpa melihat ke arah proyektor, dan di saat itupun Kakashi melihat jika ucapan Itachi terbukti kenyataannya.
Name: Kyuubi Namikaze
Number: xxx xxxx xxxxx
False=0 True=84 Zero=16
Kakashi membaca informasi yang diberikan oleh layar proyektor.
Itachi hanya menatap dingin layar di hadapannya.
Kakashi menghela nafas. Ia tersenyum samar.
"Apakah ini mengingatkanmu akan seseorang?" Kakashi menatap Itachi.
"Sahabat sekaligus rival-mu yang tidak bisa kau kalahkan hingga sekarang?" Kakashi tersenyum dari balik masker-nya, ketika ekspresi Itachi yang biasanya terlihat tenang mengeras secara tiba-tiba.
Itachi menatap layar proyektor itu lekat-lekat sebelum membuang muka. "Terkadang aku sangat membenci orang yang tidak serius seperti itu," katanya. Iapun melangkahkan kakinya menuju induk komputer. Walaupun orang-orang mengatakan jika dia selalu menjadi nomor satu dibandingkan Naruto, tetapi Itachi tahu jika sedikitpun... dia tidak pernah mengalahkan Naruto. Tidak pernah karena Naruto tidak pernah serius untuk melawan dirinya.
Orang seperti itu,
Sungguh merepotkan.
Batin Itachi sambil mendesah berat.
Tazmaniadevil
Dengan tenang Naruto, dan Kiba—anak buahnya—menanti kehadiran responden di salah satu restoran terbaik di Konoha. Seharusnya, responden tersebut bertemu Itachi, namun Itachi harus menghadiri acara di Universitas Konoha, dan untuk gantinya, Naruto-lah yang harus bertemu responden itu.
Dengan perlengkapan perang, Naruto menanti responden yang belum kunjung datang itu. Sedangkan orang-orang di dalam restoran terus menatap dirinya dan Kiba dengan suara tawa kecil yang terdengar dari bibir orang-orang itu.
Wajah Kiba memerah menahan malu. Matanya tidak berhenti melihat ke arah kiri dan kanan, menatap orang-orang yang mentertawakan dirinya dan Naruto. "Boss, kenapa kau berpenampilan seperti ini ketika cuaca sungguh panas?" tanya Kiba.
"Semua orang melihat ke arah kita, Boss," lanjut Kiba. Ia berusaha menyembunyikan wajahnya dengan buku menu. Jika terus bersama Naruto, pasaran dia akan semakin turun, dan bisa-bisa tidak akan ada satupun wanita yang mau dengannya. Terlebih akibat ulah Naruto, dia baru saja putus dengan kekasihnya.
Memang orang di samping Kiba ini virus jomblo!
Naruto tidak peduli dengan rutukan Kiba, ia lebih mementingkan kesucian tubuhnya. Hari ini akan menjadi hari yang paling berat di dalam minggu ini sebab Naruto harus berinteraksi dengan banyak orang. Ia harus menemui responden Itachi. Seandainya hal ini bukan untuk perusahaan, Naruto mana mau diam di sebuah restoran di dalam cuaca panas seperti ini dengan menggunakan jaket yang melindungi tubuhnya, masker, syal dan sarung tangan. Bagi semua orang yang melihat, Naruto terlihat lebih dari orang sakit dibandingkan orang yang akan mewawancarai. Namun, memang itu yang diinginkan Naruto. Agar dia bisa melaksanakan tugasnya secara baik, Naruto harus terlihat seperti orang sakit!
Naruto mengotak-atik ponselnya. Itachi telah mengirimkan meja yang digunakan oleh para peserta ujian. Rupanya, anak-anak di Konoha mengerjakan ujian dengan menggunakan PC—sesuai rancangan perusahaan mereka. PC itu diletakan di dalam meja komputer, dan layar komputer hanya bisa dilihat dari kaca yang ada dipermukaan atas meja itu. Dengan posisi layar komputer yang ada di dalam meja seperti itu tidak akan ada satupun orang yang bisa menyontek.
"Boss, mereka sudah datang!" Kiba berhenti mendumel. Dia berdiri, bersiap-siap menyambut tamu penting untuk perusahaannya.
Deg!
Jantung Naruto tiba-tiba berdetak kencang. Akhirnya, tamunya telah datang. Ia melihat jika segerombolan anak-anak SD kelas dua yang didampingi ibu mereka datang menghampiri Naruto dan Kiba. Secara canggung Naruto berdiri untuk ikut menyambut kedatangan para calon responden itu. Naruto harus mewawancarai orang tua dan anak SD itu untuk menilai apakah aplikasi—memudahkan anak-anak belajar— yang dibuat next innovation sudah cukup mudah digunakan atau tidak untuk user pertama dan kedua?
"Selamat siang…" ketiga pasang anak-ibu itu membungkuk hormat ke arah Naruto dan Kiba ketika mereka tiba di hadapan kedua pemuda itu. Sesekali ibu-ibu itu tertawa kecil dan berbisik-bisik sambil menatap tubuh Naruto yang terlihat sangat mainly walaupun terbungkus oleh jaket setebal ini.
Mereka tidak menyesal datang ke tempat ini. Ternyata orang yang mewawancarai mereka laki-laki tampan, walaupun dibungkus oleh masker.
Ha-ah, seperti biasa Naruto selalu menjadi pusat perhatian!
Tertawanya ibu-ibu membuat Kiba salah tingkah, merasa dirinyalah yang dilirik oleh ibu-ibu itu. "A-ah, perkenalkan terlebih dahulu. Saya Kiba," Kiba mengulurkan tangannya. Lalu, para responden menyambut uluran tangan Kiba dengan tawa genit sambil berkata 'kamu anak manis, seperti anak ibu,' mata Kiba pun menatap ke arah anak ibu-ibu itu yang masih sangat kecil, lalu tertawa hambar.
Setelah berkenalan dengan Kiba, serentak ibu-ibu itupun menatap Naruto. Tatapan mereka seperti penuh harap untuk mempunyai suami sekeren Naruto, ketika tangan mereka terulur ke arah Naruto. "Lalu, siapa pemuda pemalu ini?" tanya ibu-ibu paling tambun di antara ketiga ibu-ibu itu.
"Tidakkah kau terlalu tampan untuk memakai masker di siang hari seperti ini, Nak!" ibu-ibu itu memberi sinyal pada Naruto dengan kedipan mata, dan nafas Naruto tercekik sejenak, nyaris mati hanya karena kedipan maut itu.
Bagaimana bisa dia tahu aku tampan?
Dari bawah meja Naruto menendang kaki Kiba.
"A—aw," Kiba menata sejenak Naruto yang sedang memaksakan diri tersenyum dari balik masker-nya. Mengerti dengan sinyal yang diberikan Naruto, Kiba kembali menatap ibu-ibu itu. "Si—silahkan duduk saja dahulu dan pesan minuman yang nyonya-nyonya suka. Untuk masalah dia," Kiba menunjuk Naruto.
"Dia sedang mengidap penyakit kulit berbahaya yang tidak boleh tersentuh oleh siapapun..." kata Kiba, dan Naruto pun menganggukan kepalanya, mengiyakan perkataan Kiba.
Serentak ibu-ibu itu menutup mulutnya, terkejut. "A—apa? Benarkah? Kasihan sekali..," katanya, menatap Naruto kasihan.
"Aku jadi kasihan…" tidak mempedulikan larangan Kiba, ibu-ibu itu masih ingin menyentuh tangan Naruto, bermaksud memberi Naruto dukungan moril atas penyakit yang diterimanya. Sedangkan mata Naruto membulat, horror melihat tangan ibu-ibu itu yang mulai mendekat ke arah kulit tangannya.
"Sini, mamih pe—
"Penyakitnya sangat berbahaya. Jika terkena penyakit tersebut, maka kulit kita akan gatal dan putih-putih, serta dalam hitungan dua hari akan tumbuh jamur mencapai 10 cm, dan apabila dibiarkan ja—jamur tersebut akan siap panen dan siapa tau... cocok untuk ditumis..," Kiba memegang tangan ibu-ibu itu. Tidak memperbolehkan wanita itu untuk menyentuh Naruto.
"Nyonya, aku sangat takut jika kulit Anda yang cantik itu rusak," puji Kiba dengan setengah hati dan penuh kebohongan. Ia mengelus tangan ibu itu.
"Anda terlalu cantik untuk mendapatkan penyakit panu evolution."
Naruto menatap Kiba.
Pa—panu evolution?
Ketiga ibu-ibu itu tertawa ngeri sambil menatap Naruto. "Hahahaha.. seperti itu... ya seperti itu...," kata mereka, sedikit menjauh dari Naruto. Mereka pun duduk dengan tenang, ketika anak-anak mereka ikut duduk di samping mereka.
"Wah, kasihan sekali ya... ganteng-ganteng panuan..," bisik ibu-ibu itu. Sudah jelas sekali jika mereka adalah ibu-ibu penggosip di sekolah anak-anak mereka.
"Iya. Panu tuh... panu..," "Panunya telah berevolusi lagi..," lanjut ibu-ibu lainnya.
Di kala Kiba sudah merasa tenang karena ibu-ibu itu tidak berniat berbuat genit pada boss-nya, tetapi perasaan Kiba tidak nyaman karena Naruto terus menatap Kiba tajam.
"Seharusnya kau mencari nama penyakit yang lebih elite lagi, dan membuat cerita ini menjadi sama garingnya dengan kerupuk," bisik Naruto, dengan tatapan membunuh.
Kiba tertawa canggung. "Maaf Boss, tidak ada yang aku pikirkan selain penyakit itu," Kiba menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku sama sekali tidak tahu nama-nama penyakit kulit di dunia ini, selain penyakit yang diderita oleh anjingku," lanjutnya, kurang ajar.
"Dasar kau bodoh!" Naruto nyaris memukul kepala Kiba sebelum dia bisa mengontrol diri.
Kiba melindungi wajahnya dengan punggung tangan. "A—ah, maaf Boss. Maaf!" gumam Kiba, ketakutan.
.
.
Di saat itu, Naruto hanya bisa pasrah jika gossip tentang dirinya berpanu akan beredar keesokan hari!
Tazmaniadevil
SMP Konoha...
Hari pertama masuk sekolah tidaklah berjalan semestinya bagi Konan. Guru-gurunya melakukan rapat pada jam sekolah, ketika murid mereka melakukan kegiatan belajar setengah hari yang akhir-akhirnya tidak belajar sama sekali. Konan yang merasa suntuk karena tidak mempunyai teman mulai menjelajah sekolah. Sebenarnya, dia tidak mempunyai teman karena dia belumlah masuk kelas. Kepala sekolah dan guru-guru belum menempatkan dirinya dengan alasan mereka harus cepat-cepat hadir dalam acara rapat, hingga dia hanya diam di luar kelas sejak tadi.
Dengan pakaian Deidara (celana panjang dan kemeja putih) karena dia belum membeli seragam Konoha yang terkenal elite dan berbeda dari seragam wanita lainnya, Konan berjalan ke halaman belakang sekolah. Dikarenakan seluruh pakaiannya seperti seorang putri kerajaan, Konan enggan memakai pakaiannya sendiri. Ia takut pakaiannya terkotori, atau orang-orang memandangnya terlalu tinggi (?).
Berbeda dengan sisi lain sekolah, bagian halaman belakang sekolah ini tidak ada satupun manusia yang terlihat. Konan yang baru menginjakan kakinya ke dalam halaman belakang sempat merasa heran dengan kondisi halaman sekolah ini sampai terdengar teriakan dan suara pukulan. Konan menatap jika ada seseorang yang sedang dikepung dan dipukuli di bawah pohon besar. Tidak mau ambil masalah di hari pertamanya sekolah, Konan memilih untuk pergi. Tetapi hati-nuraninya kembali terganggu, ketika suara teriakan itu tedengar kembali.
Konan mendesis sebal karena dia tidak bisa bersikap cuek. Ia mendekati orang-orang itu.
"To—tolong, lepaskan aku!" kata orang yang sedang dianiaya itu.
"A—aku benar-benar tidak membawa uang untuk hari ini," lanjutnya. Kerahnya ditarik, dan tubuhnya ditekan ke dahan pohon oleh salah satu dari kelima peganggunya.
"Kalau begitu, kita telanjangi saja dia!" usul salah satu dari kelima orang itu. Keempat lainnya terkekeh jahat.
Perkataan lima orang anak nakal itu membuat sang korban panik. Ia memberontak, enggan ditelanjangi dan harus keliling sekolah tanpa menggunakan pakaian. "AGHHHHH TIDAK-TIDAK!" teriaknya, mencoba melepaskan kerahnya yang ditahan.
"MAAFKAN AKUUUU!"
Rupanya kelima orang itu tidaklah main-main. Mereka benar-benar akan menelanjangi teman mereka, dan di saat sang korban melawan, mereka akan memukul perutnya. Suara pergulatan di antara enam orang itu terdengar mengerikan. Beberapa kancing seragam dari korban itu mulai terlepas. Kekehan kecil terdengar dari mulut kelima anak nakal ini. Sebentar lagi akan ada pertunjukan menarik di sekolah dari pemuda cengeng, memakai kaca mata yang sedang menangis ini.
"Hei, kenapa kalian bernafsu seperti itu? Apakah melihat kejantanannya sangat menarik? Kalian kumpulan homo, ya?" Konan muncul di belakang kelima anak nakal itu dengan sebelah alis terangkat. Ia menghampiri pemuda yang sedang menahan makhluk tertindas itu.
"Sudahlah. Lepaskan dia. Ka—
"Jangan ikut campur, Okama!" Konan dihempaskan oleh pemuda bertumbuh tambun itu, hingga dia terbanting ke atas tanah.
"O—okama?!" Konan menatap tidak percaya orang yang di hadapannya. Bukan hempasan orang itu yang Konan pikirkan, melainkan dirinya lah yang dipanggil okama oleh anak-anak nakal itu.
"Kalian memanggilku, o—okama?!O—okama sissy? O—okama yang co—cowok cantik itu?" lanjut Konan, memastikan jika dirinya tidak salah dengar.
Pertanyaan Konan tidak didengar oleh anak-anak itu, "Urusan kita setelah aku berhasil mengerjai anak ini," orang yang menghempaskan Konan tadi berkata. Ia kembali fokus pada korban yang sedang ditahannya.
"Jika kau sebegitunya ingin dikerjai oleh kelompok kita, tunggu saja~" lanjut dia pada Konan, sangat sombong. Konan masih terpaku dengan omongan orang itu.
Urat kemarahan muncul di kening Konan. Iapun segera bangkit dari atas tanah dengan aura menggelap ketika anak-anak di hadapannya tidak mempedulikan dirinya. Di—dia dibilang okama? Wajah elite, putri, dan most wanted girl ini dibilang okama?! Dia ini manis. Dia ini hanya memakai seragam kakaknya, tetapi kenapa dia dipanggil okama?! Konan tidak terima jika dirinya dihina seperti itu. Ia menyisir rambutnya yang pendek dengan jari sambil menghela nafas, menenangkan dirinya sejenak. Sekarang, dia benar-benar marah dan tidak akan memberi banyak komentar lagi sebelum menghajar anak-anak nakal itu.
"Kalian ini..." suara Konan merendah. Tangannya terkepal kuat.
"AKU INI ANAK MANIS!" teriak Konan sambil berlari untuk menghajar kelima anak kurang ajar itu. Konan menarik salah satu dari mereka lalu memukulnya dengan sangat keras.
BAK! BUK! BAK! BUK!
Dalam 5 detik, anak-anak itu sudah nyaris tewas di atas tanah. Sedangkan, pemuda yang tertindas itu dengan takut segera melarikan diri, meninggalkan Konan.
Konan menendang-nendang salah satu pemuda yang tergeletak di atas tanah itu dengan ujung kakinya. "Ingat! Aku ini manis! Jangan sesekali mengatakan aku ini—" Konan tersenyum sangat lembut, memperlihatkan sosok kewanitaannya. "Okama~" Konan mengedipkan sebelah matanya, sangat centil.
"HUWEEEE!" kelima orang itu muntah.
Kemarahan muncul lagi di pikiran Konan. "KURANG AJAR KALIAN! KURANG AJAR?!" teriak Konan sembari menendang-nendang orang di bawahnya, sangat tidak berperasaan.
"AMPUN! AMPUN!" teriak orang-orang yang ditendang Konan. "MANA SISI MANISMUUUU?! AMPUUUNNNNN!" lanjutnya, ketika tendangan Konan semakin mengerikan dan menyakitkan. Sial, 'okama' ini sungguh mengerikan.
.
.
.
Tap.. Tap.. Tap...
Dengan diiringi para pengikutnya, Pain mengitari sekolah. Wajahnya terlihat sangat bosan. Dia adalah anak kelas tiga di SMP Konoha, dan merupakan Presiden Sekolah SMP ini. Posisinya yang sebagai pemimpin para siswa, prestasi yang dimilikinya, dan status keluarganya membuat Pain disegani oleh semua orang di SMP Konoha. Bahkan, banyak orang tua murid berharap jika anak-anak mereka dekat dengan Pain. Anak laki-laki menjadi sahabat Pain, sedangkan anak gadisnya menjadi kekasih Pain. Namun, tabiat Pain tidaklah sebaik yang terlihat di luar. Dia ini adalah tipikal orang keras kepala, arrogant, dan pilih-pilih teman. Tidak sembarang orang yang bisa mendekati Pain karena dia tidak suka didekati, kecuali dia dulu lah yang mendekati. Namun, tetap saja Pain dibilang oke oleh semua orang. Ya, semua orang!
"Aku benar-benar akan membunuh kalian!" teriakan dari belakang sekolah membuat langkah Pain dan pengikutnya berhenti, mereka menatap ke arah pohon yang ada di balik semak-semak.
Pain dan anak buahnya melihat jika kelima orang yang terkenal paling brandal di sekolah mereka sedang di bully oleh seseorang. Tetapi, Pain sama sekali belum pernah melihat anak itu, sedangkan dia mengenal setiap nama dan wajah setiap murid yang ada di sekolah ini. Siapa orang itu? Tidak disangka ada seseorang yang tidak terdeteksi oleh Pain. Pemuda itu pun memerintah kepercayaannya untuk mendekat.
Kisame—pemuda paling jangkung di antara Pain dan teman-temannya menundukan tubuhnya, mendekati Pain. "Ya, Tuan muda?" tanyanya dari balik pundak Pain.
"Kisame, siapa—pemuda itu?" bisik Pain dengan ragu ketika melihat penampilan orang di hadapannya sangat kontras dengan wajahnya yang cantik.
Kisame meneliti wajah anak yang sibuk menghajar anak-anak nakal itu. Iapun tidak mengenal sama sekali anak itu. Jadi, hanya satu kemungkinan yang ada di pikiran Kisame. "Sepertinya dia anak baru di sekolah ini, atau dia penyusup, Tuan Muda Pain..," lapor Kisame. "Kita harus bagaimana?" tanya Kisame. "Apakah kita harus bertindak untuk menghentikan anak itu?" lanjutnya.
Sama sekali tidak menjawab, Pain hanya menatap dengan senyuman miring yang sama sekali belum pernah Kisame lihat, kecuali jika... Pain tertarik sangat tertarik akan sesuatu.
Ya, Pain sedang sangat tertarik dengan anak baru di hadapannya.
Tazmaniadevil
Seluruh anak-anak menatap ke arah salah satu bangku di dalam kelas. Suara biola mengalun merdu di dalam kelas itu, ketika jam istirahat beberapa menit lalu baru saja dimulai. Deidara yang memang memiliki hobby bermain musik dan melukis memang paling sering menghabiskan waktunya untuk bermain musik dikala waktu senggang. Seluruh wanita di dalam kelas itu terpukau dengan permainan biola Deidara. Bahkan, anak-anak perempuan dari kelas lain pun ikut mengintip dari jendela kelas, ketika sosok seperti pangeran sedang memamerkan kemampuannya.
"Hei, anak baru!" seseorang menghampiri Deidara dan berdiri di samping Deidara.
Deidara berhenti bermain biola. "Ya?" Deidara membalas tatapan orang itu. Bagi Deidara, orang yang berdiri di sampingnya sangat aneh, ketika tersenyum lebar ke arah dirinya.
"Kau cukup tampan juga...," tiba-tiba orang itu memuji Deidara.
"Maaf, aku tidak berminat pada laki-laki," Deidara kembali memainkan biolanya, mengacuhkan orang itu.
Orang itu tersadar dikala memikirkan kembali perkataannya tadi. "Bu—bukan seperti itu maksudku..," katanya, bermaksud menjelaskan. "Kau ingin masuk ke dalam ekstrakulikuler kita, tidak?" bisik orang itu. "Wajahmu sangat tampan, pasti kau cocok masuk ke dalam ekstrakulikuler host club...," lanjutnya, dengan cengiran sangat lebar, dan mata yang terlihat hijau alias mata duitan.
Deidara mengangkat sebelah alisnya, sedikit bingung. "Apakah kau bergurau?" tanyanya, dengan sinis.
"Kau salah satu orang beruntung karena memiliki wajah sangat menawan..," pemuda itu mengacungkan ibu jarinya. "Kau mau dapat uang jajan tambahan, tidak?" tanyanya, "Kau bisa membeli mainan dengan hasil jerih payahmu sendiri," lanjut orang itu. "Dengan hanya sedikit merayu anak-anak gadis kau bisa mendapatkan banyak keuntungan."
Deidara sedikit menggeser tempat duduknya, menjauh dari orang di sampingnya. "Kau bukan anggota MLM, bukan?" tanyanya. Sedikit khawatir jika Deidara harus terjebak di antara manusia-manusia yang berbisnis a la MLM. "—atau kau 'mama' anak-anak remaja seperti kita?" Deidara meringis ngeri di saat dirinya membayangkan hancurnya generasi muda sekarang dengan adanya orang-orang yang menjual tubuh hanya untuk uang tidak seberapa.
Pemuda di hadapan Deidara menggoyang-goyangkan tangannya, tidak setuju dengan pemikiran Deidara. "Bukan! Tentu saja bukan! Aku bukan orang MLM atau orang yang melakukan bisnis seperti itu," kata pemuda itu, membela diri. Ia mengeluarkan kartu nama dari dalam dompetnya dan menyerahkan kartu nama itu pada Deidara. "Perkenalkan. Aku Kakuzu. Aku adalah bagian humas ekstrakulikuler host club dan orang-orang yang merecruit pemuda-pemuda tampan di tempat ini untuk menjadi member host club. " pemuda di hadapan Deidara menjelaskan. "Sedikitnya, kita bisa merauk keuntungan dari para gadis galau di tempat-tempat ini."
Deidara menatap penampilan pemuda di hadapannya.
Host club, ya?
Penampilan Kakuzu yang seperi anak-anak sekolah biasanya. Namun, di kening Kakuzu sudah tertulis kata 'beri aku uang' seperti pengemis saja. Tidak mau berurusan dengan orang bermata duitan, Deidara beranjak dari tempat duduknya, dan membuat penggemar barunya mendesah kecewa dan menatap Kakuzu tajam.
"Hei, jika kau berubah pikiran beri tahu aku!" Kakuzu berteriak, tetapi Deidara sama sekali tidak menggubrisnya. "Kegiatan seperti itu hanya ada di sekolah kita saja!"
.
.
.
Sepanjang perjalanan menelusuri lorong sekolah seluruh anak-anak yang dilewati Deidara menatap Deidara dengan pandangan memuja. Wajahnya yang tampan, dan gayanya yang cool membuat dia selalu menjadi pusat perhatian, kecuali ketika bersama saudaranya dan Sasuke. Pasti perhatiannya terbagi-bagi oleh saudaranya yang sama dipujanya oleh orang-orang di sekitar mereka. Merasa bosan dengan tingkah orang-orang di sekitarnya, Deidara pun berhenti melangkahkan kaki untuk menatap ke arah lapangan. Deidara mencari hal yang menarik dari jendela di lorong itu. Kenapa di sekolah ini harus ada kegiatan ekstrakulikuler, dan setiap anak harus memasuki kegiatan tersebut? Deidara menghela nafas. Ia malas masuk ke dalam kegiatan tersebut. Pemuda Namikaze itupun menopang dagunya ketika matanya menangkap sesosok pemuda berpakaian yukata sedang membagi-bagikan lembaran kertas. Tetapi tidak ada satupun orang yang terlihat berminat pada kertas itu. Melihat gelagat pemuda tersebut, Deidara pun tersenyum lebar.
Sepertinya, dia tahu ekstrakulikuler apa yang akan dia masuki!
Tazmaniadevil
Dengan wajah muram Nagato duduk di atas ayunan. Ia sudah keluar dari kelas dari tiga jam lalu, dan satu-persatu anak-anak di sekolahnya mulai dijemput oleh orang tua mereka. Nagato menatap ke arah pintu gerbang sekolahnya. Semua anak yang dijemput bercengkrama dengan orang tua mereka sambil melangkahkan kaki ke luar sekolah. Tampaknya, hanya dialah yang tidak memiliki orang tua di sisinya, dan hanya dialah yang sendirian, seperti tidak diperhatikan oleh siapapun. Sesekali, dia ingin merasakan perasaan anak-anak itu. Perasaan bangga ketika dijemput oleh orang tuanya.
Seorang gadis cantik menghampiri Nagato. Ia bernama Ino, dan merupakan guru Nagato di TK pelangi ini, termasuk guru Nagato. Rambutnya pirang, dan ia masih single ketika tunangannya meninggalkan dirinya di altar pernikahan. Semenjak itu, Ino bersumpah tidak akan menyukai seseorang. Tidak akan pernah. "Nagato, papa-mama Nagato masih belum menjemput?" tanya Ino, ketika Ino diam di belakang Nagato, mengayunkan ayunan yang sedang diduduki oleh Nagato.
Nagato menatap Ino sejenak. "Na—Nato..," gumam Nagato, seperti ingin mengatakan sesuatu. "Beyum...," dengan lemas Nagato menundukan kepalanya. Ia tidak sanggup untuk mengatakan jika tidak ada satupun dari kedua orang tuanya yang akan menjemput.
Ekspresi Nagato membuat Ino terenyuh. "Sabar, ya!" katanya sambil mengelus kepala Nagato.
Nagato menggelengkan kepalanya. "Makacih...," jawab Nagato. Ia kembali mengayun-ayunkan ayunannya.
"Kenapa umur lima tahun cadel seperti itu? Bagaimana cara orang tuanya mendidik, sih?" dua orang ibu-ibu yang baru saja tiba di halaman TK pelangi untuk menjemput anak mereka menghampiri Ino. Namun, percakapan Ino dan Nagato membuat ibu-ibu itu berhenti sejenak dan berbisik-bisik, membicarakan Nagato.
Nagato berusaha tidak mendengar perkataan orang tua murid itu. Ia hanya fokus pada tanah di bawahnya.
"Iya, ya...," jawab ibu-ibu yang lain. Cukup keras didengarkan Nagato dan Ino.
Pembicaraan ibu-ibu itu dan ekspresi Nagato membuat Ino kesal. Ia beranjak dari sisi Nagato dan melangkahkan kaki menuju ibu-ibu tersebut. "Maaf, kelas sudah berakhir dan anak ibu sudah bisa diajak untuk pulang..," Ino berkata lembut, walaupun sindiran terdengar jelas dari ucapannya. "Silahkan jemput anak-anak ibu!" Ino menjelaskan perkataannya agar ibu-ibu itu segera menjauh dari Nagato.
Tingkah Ino membuat ibu-ibu itu menjadi salah tingkah. "Siapa juga ingin berlama-lama di sekolah ini...," katanya, "Malas banget," mereka pun beranjak pergi. Sedangkan Ino kembali menemani Nagato, hingga pemuda itu dijemput oleh walinya.
Tazmaniadevil
Sasuke melihat jam tangannya, lalu mendesah pelan. Sudah, tenanglah Sasuke, pasti Nagato sudah dijemput oleh Naruto. Sasuke terus menenangkan dirinya. Ia berpikir, Naruto tidak mungkin tega membiarkan Nagato diam sendirian di sekolah, terlebih hari ini adalah hari pertama Nagato masuk sekolah. Mau bagaimanapun, Naruto itu adalah kakaknya. Pasti Naruto tidak akan bertindak sekejam itu. Sasuke kembali bersikap tenang, ketika dia menanti sahabatnya di masa sekolah dulu di Konoha. Ia menanti Neji di sebuah kafe di sudut Kota Konoha.
"Sasuke!" seru Neji sambil berjalan menghampiri Sasuke, dan Sasuke segera bangkit dari kursinya. "Maaf menunggu lama," katanya. Ia mengulurkan tangan.
"Neji...," gumam Sasuke, membalas jabatan tangan Neji. "Terima kasih sudah mau datang," lanjutnya. Ia mempersilahkan Neji untuk duduk. Sasuke memanggil pelayan agar membawa menu untuk Neji.
Neji menerima menu itu, dan mengucapkan terima kasih. Di kala pelayan meninggalkan mereka untuk sementara waktu, Neji mulai membuka daftar menu itu. "Aku tidak menyangka kau akan kembali ke Konoha dan menyusulku...," kata Neji dari balik buku menu tersebut. "Mhm... oh, iya! Kapan terakhir kita bertemu? Sewaktu acara kelulusanmu, ya?" tanya Neji—beruntun.
"Begitulah," jawab Sasuke sambil menyeruput kopi yang sudah cukup dingin karena terkena angin musim panas ini.
Neji tersenyum tipis. "Bagaimana? Apakah kau sudah memiliki pasangan?" katanya, dengan nada bermain-main. "Tentu saja kau sudah punya, bukan? Asia atau... orang sana, kah?" tanya Neji, mulai mengintrogasi sahabat lamanya.
Sasuke tersenyum simpul. Ia memang berharap memiliki pasangan, mengikuti Neji, namun belum ada satupun wanita yang cocok untuknya. Ia pun masih merasa belum terlalu mapan untuk membangun rumah tangga dan memiliki anak. "Kau jangan bercanda. Aku tidak mempunyai apa-apa untuk membuat pasanganku bahagia," kata Sasuke, alasan yang sangat klasik bagi seorang pria yang belum ingin menikah.
Neji mengangkat sebelah alisnya. "Perkataanmu itu yang terlalu merendah," katanya, sambil menggelengkan kepala. "Hati-hati, pemikiran wanita zaman sekarang sudah sangat modern, Sasuke...," Neji memperingati. Sasuke tidak mengerti dengan perkataan Neji.
"Maksudmu?" tanya Sasuke.
Neji mendapatkan menu yang menarik dan siap di pesan. "Mereka selalu berpikir..," katanya, memberi jeda sejenak. "Jika laki-laki tampan tidak punya kekasih itu berarti ada dua kemungkinan..," Neji berkata dengan suara nada datar, walaupun bermaksud mengajak bercanda Sasuke. "Dia adalah laki-laki tidak normal atau dia laki-laki brengsek," kata Neji, sehingga membuat Sasuke menggelengkan kepalanya. Merasa lucu dengan ucapan Neji.
"Klasik. Bagiku, itu adalah pemikiran wanita-wanita kuno. Pada hakikatnya, laki-laki tampan tidak mempunyai kekasih pasti ada sebab-akibatnya...," timbal Sasuke, tidak mau kalah dari Neji. Ia mengambil buah tomat di atas meja itu yang dia selalu beli dan bawa kemanapun. Sasuke mencicipi buah tomat di tangannya. "Ah, aku katakan saja... aku akan mencintai seorang wanita yang bisa membuatku menjatuhkan buah kesayanganku ini, ketika melihat dirinya," Sasuke berkata sambil menunjuk-nunjuk buah yang baru saja digigitnya.
Neji tahu tidak ada satupun hal di dunia ini yang bisa menyaingi rasa suka Sasuke pada buah tersebut.
Neji berdecak, memberi ultimatum pada Sasuke dari gaya bicaranya. "Tapi, itu kerap kali terbukti nyata, ketika banyak sekali godaan bagi seorang pria mapan di luar sana...," lanjutnya. Ia menunjuk dirinya sendiri tiba-tiba, sehingga Sasuke sedikit berpikir jika Neji sedang berselingkuh di belakang istrinya. "Oh, iya! Ada apa kau ingin bertemu denganku?" Neji tiba-tiba merubah arah pembicaraan dikala Sasuke menatapnya dengan curiga.
Sejenak Sasuke menghela nafas. "Neji, aku dengar keluargamu memiliki belasan panti jompo, dan perusahaan yang bergerak di berbagai macam bidang bisnis?" kata Sasuke, mulai berbasa-basi.
"Ya. Lalu?" Neji pasti mengangkat sebelah alisnya, jika dia bingung akan sesuatu. "Apakah kau ingin menjadi donator atau join dengan perusahaan Hyuuga?" tawar Neji.
Sasuke menggelengkan kepalanya. "Tidak," Sasuke memberi jeda. "Bisakah aku bekerja di salah satu tempatmu itu?" tanya Sasuke, dan tentu permintaan Sasuke itu membuat Neji bingung. "Aku benar-benar membutuhkan pekerjaan tersebut untuk sekarang ini," lanjut Sasuke.
"Apa maksudmu?" hanya itulah yang bisa Neji ucapkan atas permintaan Sasuke yang dianggap Neji gila. Tidak biasanya Sasuke meminta sesuatu apalagi pekerjaan pada dirinya.
Tazmaniadevil
"Lalu, aku pukul saja mereka, hingga mereka memohon! BUK! BUK! BUK!" Konan bercerita pada kedua kakaknya, di saat ketiga Namikaze baru pulang sekolah dan sedang menaiki lift, menuju kediaman baru mereka. "Mereka K.O oleh tenagaku," Konan keluar dari lift, mengiringi kedua kakaknya. Ia mengacung-acungkan kepalan tangannya ke udara, nampak sangat semangat.
Cerita Konan membuat Kyuubi dan Deidara yang ada di kiri-kanan Konan saling tatap. Mereka berdua pun menganggukan kepala mereka.
PLAK! PLAK!
Secara bersamaan, Kyuubi dan Deidara memukul kepala Konan.
"Sakit, kakak!" teriak Konan sambil memegang kepalanya. Ia merintih kesakitan atas tingkah kasar kakaknya. "KAU INGIN AKU BODOH SEPERTI KALIAN, YA?!"
"Kau ini wanita, jangan berkelahi!" Kyuubi memperingati. Ia menatap Konan tajam, ketika Konan hanya mengerutkan bibirnya. Masih sakit dengan kepalanya.
"Tapi kakak, aku melakukan itu semua untuk membela keadilan!" Konan membela diri. Mereka bertiga berhenti tepat di depan pintu apartemen kakak mereka. Kyuubi siap-siap mengeluarkan kunci cadangan pintu itu yang diberikan oleh Naruto agar anak-anak Namikaze tidak usah menunggu Naruto dan langsung membersihkan rumah jika sudah tiba.
Deidara mendeath glare Konan. Apapun alasannya, ia tidak setuju jika adik perempuan satu-satunya bertingkah seperti saudaranya yang semua adalah laki-laki. "Pokoknya wanita tidak boleh berkelahi," Deidara memberi peringatan.
"Kau seharusnya melakukan cara lebih terhormat seperti berteriak TATSUKETEEEEEE! TATSUKEETEEEEE OUJI-SAMA~~~" tiba-tiba Deidara mengeluarkan suara menggoda, dan mendapatkan tatapan aneh dari Kyuubi dan Konan. Deidara terus bertingkah seperti tuan putri yang kehilangan sebelah sepatunya di acara pesta saja.
"PANGERAN TOLONG! AKU PUTRI CANTIK YANG SEDANG DI DALAM BA—
"Terkadang aku tidak tahu siapa di antara kita yang paling bodoh," Kyuubi berkata pada Konan sambil menggelengkan kepalanya.
Konan menganggukan kepalanya, setuju dengan perkataan Kyuubi.
Deidara berhenti bersikap konyol. Ia malu sendiri dengan tingkah gilanya tadi. "Kakak jangan berkata seperti itu, aku jadi malu..," kata Deidara sambil memeluk pinggang Kyuubi yang sedang membuka pintu. "Ughhhh..," Deidara bersikap manja, dan Konan hanya tersenyum lebar ketika melihat adegan mesra di antara kedua kakaknya.
"Lepas, DEI!" Kyuubi mencoba menghempaskan Deidara dari belakang tubuhnya.
"Dei, kau menjijikan seka—
"Cepat buka!" suara arrogant membuat ketiga Namikaze berhenti bercanda. Deidara melepaskan pelukannya pada Kyuubi dan menatap pemuda di belakang mereka, begitu juga dengan Konan dan Kyuubi.
Konan tersenyum lebar, menyambut kakaknya. Tetapi Naruto hanya bersikap dingin, tidak peduli sama sekali. "Kak Naru, sudah pulang?" Konan berusaha bersikap seramah mungkin. Ia melihat Naruto, dan tampaknya seperti ada yang kurang dari Naruto.
"Ng... kak Naru.. Mana Nagato?" tanya Konan, dia tersadar jika adik terkecilnya tidak ada bersama kakak pertama mereka. Naruto hanya membawa tas ranselnya. Konan melihat ke belakang Naruto, tetap saja, Nagato tidak ada.
"E—eh?!" Deidara pun baru tersadar jika Nagato belum pulang, dan tidak ada bersama Naruto. "Ka—Kak Naru, kakak menjemput Nagato, kan?" Deidara mulai was-was.
Naruto hanya memutar kedua bola matanya. Sejak awal dia tidak pernah berkata atau berjanji akan menjemput Nagato, lalu kenapa dia harus peduli dengan anak itu? Pintu tidak kunjung terbuka akhirnya membuat Naruto lebih memilih melewati adik-adiknya, dan membuka pintu itu sendiri. Namun, tubuhnya tiba-tiba dibalik oleh Kyuubi, Naruto dihempaskan ke arah pintu, di saat kerah bajunya ditahan oleh adik pertamanya. Kunci pintu yang dipegang oleh Naruto pun terjatuh ke atas lantai.
"Hei, yang benar saja? MANA NAGATO?!" desis Kyuubi, matanya nyalang, sangat marah. Konan dan Deidara maju, berusaha melepaskan tangan Kyuubi dari kerah baju Naruto.
"AKU BERTANYA PADAMU!" teriak Kyuubi, sudah tidak peduli lagi jika dihadapannya adalah kakaknya yang seharusnya dia hormati.
"Ka—Kak Kyuu...," Deidara bergumam sambil menahan tangan Kyuubi.
"Lepas!" Naruto berkata sangat dingin. Ia tidak ingin menyentuh tangan kotor di kerahnya sama sekali.
"Ka—Kak Kyuu, su—sudah...," Konan berusaha melerai kedua saudaranya yang mulai bersitegang. Tetapi, tidak ada satupun dari dua orang pemuda itu yang melunak.
Tidak mendengar perkataan Konan, Kyuubi semakin menekan kakaknya. "KAU MEMANG SIALAN!" teriak Kyuubi.
"DIA MASIH KECIL, DAN KAU MEMBIARKAN DIA DI SEKOLAH HINGGA SAMPAI SORE SEPERTI INI!"
"Lepas...," Naruto tetap bersikap dingin, seolah-olah perkataan adiknya sama sekali tidak pantas untuk digubris.
"Kak Kyuu, lepaskan Kak Naru!" Deidara ikut membujuk Kyuubi yang mulai tidak bisa menahan diri.
"Bodoh..," Naruto menatap Deidara, Konan dan Kyuubi, lalu mendengus.
"Apa peduliku tentang kalian? Sudah untung aku memberi kalian tempat tinggal," katanya, dengan kata-kata yang seharusnya tidak pantas diucapkan seorang kakak pada adiknya. "Bahkan aku lebih senang kalian cepat-cepat pergi dari tempat ini," lanjut Naruto.
"KAU!" Kyuubi mengayunkan kepalan tangannya, tetapi ditahan oleh Deidara.
"KAK KYUU, SUDAH!" teriak Konan sambil menutup matanya. Ia tidak sanggup jika kekerasan terjadi di antara saudaranya.
"A—aku mohon... sudah... jangan bertengkar," lirih Konan sambil terus menutup matanya. Suaranya bergetar, menahan tangis yang hampir keluar.
Suara Konan yang terdengar sedih membuat Kyuubi mengurungkan niatnya untuk memukul Naruto. Konan adalah kelemahan Kyuubi yang paling dasar. Ia tidak bisa melihat adik perempuan satu-satunya menangis. Kyuubi pun melepaskan kerah baju Naruto. Ia membuang muka, tidak ingin melihat kakaknya. "Cepat, telepon Kak Sasuke...," ujar Kyuubi, ketika Naruto masih bisa membuka pintu dan masuk ke dalam kamar apartemennya seolah-olah tidak merasa bersalah sama sekali.
Tazmaniadevil
Dari balik pantry, Sasuke menatap anak-anak penghuni apartemen nomor 48 ini. Suasana di dalam apartemen ini menjadi hening dan panas. Kyuubi tidak berhenti-berhentinya menatap Naruto sinis, ketika Naruto hanya bersikap cuek, seolah-olah tidak ada salah sedikit pun. Sasuke menggelengkan kepalanya. Ia memijat pelipisnya, lalu menatap Nagato, Konan, dan Deidara yang sedang menundukan kepalanya.
Ya Tuhan... sikap anak-anak ini memang benar-benar sulit ditangani. Terlebih Naruto yang umurnya saja paling besar dari kelima orang di sini, bahkan lebih tua dari Sasuke sendiri.
Sasuke lagi-lagi menghela nafas. Ia berada di sini karena tanpa banyak bicara Sasuke langsung menerobos masuk ke dalam apartemen Naruto sambil membawa Nagato, lalu memerintah anak-anak Namikaze untuk kumpul termasuk Naruto—tanpa pengecualian. Walaupun harus berdebat panjang lebar dengan Naruto, tetapi ketika Sasuke mengancam akan melempar telur-telur busuk ke atas lantai apartemen, Naruto pun akhirnya berhenti mendebat Sasuke, dan lebih memilih menuruti perintah Sasuke yang tiba-tiba menuju dapurnya untuk memasak sambil mengomeli kelima penghuni apartemen ini.
Pandangan Sasuke fokus pada Kyuubi. "Kyuubi, seharusnya kau bisa menjaga emosimu. Dia ini kakakmu, Kyuu..," kata Sasuke sambil memotong wortel dengan pisau daging, hingga suara dentuman pisau itu membuat kelima orang di hadapan Sasuke terlonjak kaget.
"Tidak sepantasnya kau bertingkah seperti yang Deidara dan Konan katakan," lanjut Sasuke sambil menggosokan pisau itu pada tatakan di bawahnya. Semua anak Namikaze menatap horror wortel yang mulai hancur-lebur itu.
Kali ini Kyuubi tidak mendengar perkataan Sasuke. Ia tidak peduli Sasuke akan menghukumnya sekalipun. "Orang seperti ini dikatakan kakak? Dia lebih cocok dikatakan sebagai bajingan!" dengan tidak sopannya Kyuubi menunjuk Naruto. Kyuubi bersungguh-sungguh, jika ia kehilangan respect pada Naruto.
Naruto tertawa mencemooh. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, dan kaki kirinya berpangku pada kaki kanan.
"Sudah aku bilang jika kalian tidak suka dengan caraku hidup, kalian boleh pergi!" kata Naruto, ketus.
"Aku tidak pernah meminta kalian untuk kemari. Aku tidak pernah meminta kalian untuk diam di sini, kenapa aku harus repot dengan keberadaan kalian?" Naruto beranjak dari atas sofa. Ia muak dan lelah untuk berbicara dengan orang-orang ini. Naruto pun hendak pergi menuju pintu keluar.
Kesabaran Kyuubi habis. Ia beranjak dari atas sofa untuk mengejar Naruto. "KAU MEMANG—
"KYUUBI!" bentak Sasuke, memerintah Kyuubi untuk kembali tenang.
Teriakan Sasuke membuat Kyuubi menghentikan langkahnya. Kyuubi menatap Sasuke dengan pandangan memohon. Namun, Sasuke hanya mendelik ke arah sofa agar Kyuubi kembali duduk tenang. Dengan kasar Kyuubi kembali duduk. Iapun menendang meja di depannya, dan membuat Naruto membalikan badannya, menatap Kyuubi bengis.
"HEI, JANGAN SEMBARANG MENENDANG BARANG!" teriak Naruto sambil menunjuk wajah Kyuubi. Ia menatap Kyuubi tajam.
Kyuubi tertawa mencemooh dan memutar kedua bola matanya. "SEPERTI AKU PEDULI JIKA ITU BARANGMU!" katanya. Kyuubi sudah siap untuk berkelahi kembali.
Tingkah Kyuubi membuat Naruto benar-benar marah sekarang. Tanpa peduli apa-apa lagi, Naruto menghampiri Kyuubi, dan Kyuubi sudah siap untuk menerima serangan Naruto. Di saat itu, Konan dan Deidara pun ikut berdiri, siap melerai kedua kakak mereka, sedangkan Nagato menatap takut kedua kakak mereka yang tentu tubuhnya lebih besar darinya. Sasuke yang jaraknya cukup jauh dari kelima penghuni apartemen ini hanya bisa memijat pelipisnya. Sial! Urusan sepele seperti ini saja bisa membuat dia pusing tujuh keliling.
Naruto nyaris memegang kerah baju Kyuubi jika Deidara tidak menahannya. "KAK NARU, KAK KYUU!" secara bersamaan, Deidara dan Konan berdiri di antara Naruto dan Kyuubi.
"KAU PIKIR AKU TAKUT PADAMU, APA?!" teriak Kyuubi, memaki Naruto. Ia hendak maju untuk melawan Naruto, tetapi Konan mencegahnya untuk sekuat tenaga.
"SINI KALAU KAU BERANI, BRENGSEK!" teriak Naruto, tidak kalah kasarnya dari Kyuubi.
"AYO, SIAPA TA—
"Udah cukup...," terdengar suara serak dari seorang anak kecil yang sedang duduk tidak jauh dari kedua pemuda sedang bertengkar itu. Seluruh matapun tertuju pada sosok anak kecil yang sedang tertunduk berusaha menahan tangisnya.
"Inyi.. inyi.. calah Nato...," Nagato meremas celananya. Semua dapat melihat tetesan air mata mulai membasahi paha Nagato.
"Na—Nato macih kecil, jadinya manja...," Nagato berusaha tertawa. Tetapi gagal. Tangisannya semakin terdengar jelas.
"Be—becok.. Nato pulang cendili aja... Nato coba pulang cendili.. nyak ucah dijemput...," kata Nagato sambil menggelengkan kepalanya.
"Maaf Nato ngelepotin kakak Nalu...," bibir Nagato bergetar.
"Jangan beltengkal lagi.. Nato yang calah coalnya macih kecil...," Nagato menghapus air matanya.
Suasana hening seketika, di saat Nagato berbicara. Bahkan Naruto pun tidak bisa berkomentar atas perkataan adik terkecilnya, walapun wajah Naruto masih terlihat dingin, seolah-olah tangisan Nagato tidaklah terlalu berefek pada dirinya.
Sasuke menatap Kyuubi dan Naruto kesal, lalu menghela nafas. "Bawa Nagato masuk Dei, Konan..," kata Sasuke, memerintah kedua orang yang masih bersikap dewasa dibandingkan dua orang yang baru saja bertengkar itu.
Tanpa banyak bicara Deidara dan Konan pun menghampiri Nagato dan mengajak Nagato untuk masuk ke dalam kamar.
Setelah Deidara, Konan, dan Nagato menghilang dari balik pintu. Sasuke melangkah—mendekati kedua pemuda yang masih tersisa di tengah ruangan itu. Sasuke menatap kedua pemuda itu, lalu fokusnya teralihkan pada Naruto. Ia memandang pemuda keras kepala di hadapannya ini benar-benar kekanak-kanakan namun seperti ada sisi lain yang selalu disembunyikan oleh Naruto. Pemuda Uzumaki ini seperti hewan buas yang harus dijinakan jika ingin berteman baik dengannya.
"Naruto, apakah kau benar-benar sudah lupa jika kalian berlima adalah saudara kandung?" Sasuke bertanya. Naruto hendak menjawab, tetapi ia sudah muak untuk bertengkar. "Berbeda dengan dirimu, Kyuubi, Deidara, dan Konan... Nagato, kehilangan sosok ibunya pada saat dia belum sempat mengerti apa kata 'ibu'. Dia hanyalah anak kecil yang belum pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, dan pastinya berharap mendapat perhatian dari orang-orang sekitarnya, terlebih darimu—kakak terbesarnya yang harusnya paling bisa dia andalkan..," kata Sasuke dengan ekspresi prihatin.
"Kau mengerti, kan, maksudku, Naruto?"
Selintas Sasuke melihat jika ekspresi Naruto berubah kalut. Namun pemuda itu kembali memasang ekspresi dinginnya dan membalikan badan untuk pergi keluar apartemen.
"Jangan pulang terlalu larut, Naruto!" Sasuke berpesan, ketika Naruto sama sekali tidak menjawab. Lalu, pemuda Uchiha itupun menatap Kyuubi.
"Kyuubi..."
"Iya?" kata Kyuubi dengan nada malas. Ekspresinya nampak sangat bersalah.
"Kau ingin bantu aku memasak?" tawar Sasuke. Di saat itupun Kyuubi menatap Sasuke sejenak, lalu menganggukan kepalanya dengan berat hati. Kyuubi terpaksa harus menggantikan Naruto sebagai seorang kakak bagi ketiga adik-adik lainnya. Ya, setidaknya adik-adiknya masih mendapatkan sosok kakak kandung yang memperhatikan mereka, ketika kakak pertama mereka begitu bajingan.
Tazmaniadevil
Pada keesokan harinya, lagi-lagi Itachi harus menghadapi tingkah Naruto yang tidak biasanya. Kali ini bahkan sikap Naruto lebih tidak wajar. Pemuda Uzumaki ini memang senang bersih-bersih, tetapi Itachi belum pernah melihat Naruto selama berjam-jam terus mengepel tempat yang sama. Jenuh karena tingkah Naruto, dan takut lantainya habis karena terus digosok oleh Naruto, Itachi pun berinisiatif untuk menghentikan aksi gila Naruto.
"Ada apa lagi denganmu, Naruto?" tanya Itachi. Ia berhenti membaca hasil survey yang telah dibuat Naruto.
"Kau sejak tadi terus mengepel tempat yang sama?" katanya sambil menunjuk lantai marmer yang mengkilapnya melebihi gigi Lee—anak buah mereka.
Naruto berhenti mengepel. Ia menaruh dagunya pada ujung tongkap pengepelnya.
"Aku seperti merasa sudah tua...," kata Naruto, seperti orang mau mati saja.
Itachi mulai menduga-duga permasalahan Naruto. Pemuda ini berubah sikap semenjak mengatakan jika dia telah memiliki istri dan empat orang anak. Sehingga bisa disimpulkan oleh Itachi, jangan-jangan ini karena masalah keluarga. "Kau bertengkar dengan keluarga barumu?" tanya Itachi dengan nada prihatin. Ia semakin takut saja untuk berkeluarga, ketika melihat betapa menderitanya Naruto.
Naruto sedikit terkejut karena Itachi tahu masalahnya. Tetapi, ia terlalu malas untuk membahasnya. Anggap saja Uchiha segala tahu. "Begitulah..," jawab Naruto dengan nada lemas. Ia membetulkan handuk yang mengikat kepalanya, ketika kemejanya digulung hingga lengan, tidak rapih seperti biasanya.
Dugaan Itachi yang benar, membuat dia sendiri terkejut. "A—apa?! Kau benar-benar sudah berkeluarga?" kata Itachi, masih belum percaya jika temannya menikah diam-diam. Tetapi Itachi maklum karena Naruto menikah dengan seorang janda yang setidaknya untuk orang perfectionist seperti Naruto pasti pernikahan dengan seorang wanita beranak empat tidak pantas untuk dirayakan besar-besaran, terlebih dipamerkan pada orang kece seperti Itachi. Sang Uchiha paham pasti Naruto sangat malu pada dirinya.
"Apakah masalah anak kecil? Masalah pembagian tugas di rumah?" tanya Itachi, mulai menduga-duga kembali.
"Begitulah..," jawab Naruto dengan nada lebih lemas.
"Hah, benar?!" sekali lagi Itachi terkejut dengan dugaannya yang tidak meleset.
"Aku tidak tahu siapa yang kau nikahi, tapi kau memasukan dirimu ke dalam masalah...," Itachi menggelengkan kepalanya. Ia kembali membaca laporan di atas mejanya.
"Begitulah...," Naruto yang tidak terlalu mendengar Itachi menjawab asal.
Itachi menatap Naruto kembali. "Kapan dia akan mempunyai anak darimu? apakah di atas ranjang dia hebat?" senyuman evil tersirat di bibir Itachi.
Naruto mendesah pelan. "Begitu—apa yang kau katakan?!" seru Naruto, ketika sadar Itachi bertanya yang tidak-tidak mengenai kehidupannya.
"Dasar bodoh!" Naruto memutar kedua bola matanya.
"Bagaimana bisa kau membicarakan masalah ranjang? Kau sebaiknya membeli kabel agar pembicaraan kita terhubung," Naruto tidak mengerti dengan apa yang Itachi tanyakan. Pemuda Uzumaki itupun dengan langkah kasar pergi dari ruangannya. Ia hendak menenangkan diri sebelum memulai rapat.
BRAK!
Pintu tertutup rapat.
Itachi terpukau sejenak dengan tingkah antik Naruto. "Kenapa dia sensitif ketika membicarakan kehamilan? Apakah istrinya mandul...atau Oh, diakah yang mandul?" gumam Itachi, semakin berpikir keras dengan kehidupan Naruto di luar kantor ini.
.
Orang itu memang penuh misteri!
Tazmaniadevil
Kyuubi memasuki area kampus yang katanya di hari ini akan diumumkan hasil kelulusan. Ia berharap memasuki pilihan kedua karena dia sama sekali tidak berniat pilihan pertama. Namun, Sasuke memaksanya untuk memilih pilihan kesatu karena Sasuke berkata jika musik bisa dipelajari di luar asalkan memiliki bakat, dan Sasuke yakin jika Kyuubi memiliki talenta musik tersebut, sehingga tidak usah masuk ke dalam juruan musik. Tetapi, tetap saja Kyuubi tidak setuju. Ia ingin benar-benar fokus pada musik karena itu dunianya, walaupun musik bisa dipelajari jika Kyuubi mengikuti les atau belajar sendiri.
"Sayang sekali hasil kelulusannya ditunda sampai nanti malam," tiga orang yang berpapasan dengan Kyuubi secara tidak sengaja pembicaraannya terdengar oleh Kyuubi.
"Ya, kau sih tenang Menma karena kau pasti lulus," lanjut kedua orang yang menghapit pemuda paling jangkung di antara mereka. Pemuda berambut hitam dan bermata biru itupun terkekeh kecil ketika mendengar pujian teman-temannya.
Kyuubi berhenti menguping. Ia melanjutkan perjalanannya kembali. Ekspresi kecewa dan penuh harap nampak hadir di para calon mahasiswa di universitas ini ketika mereka berkumpul di sebuah papan besar. Kyuubi mendesak masuk—melewati kumpulan mahasiswa-mahasiswa itu untuk mencapai depan. Di saat ia melihat ke arah papan pengumuman, tidak ada sama sekali kertas-kertas yang biasanya ditempel—mengumumkan para peserta yang lolos seleksi. Di dalam pengumuman hanya ada satu lembar kertas besar yang bertuliskan jika pengumuman kelulusan akan diumumkan pada tanggal xx-xx-xxxx pukul 19.00 di website resmi Universitas Konoha. Kyuubi pun hanya memutar kedua bola matanya, ketika melihat pengumuman itu. Universitas ini benar-benar telah merubah segalanya. Asyiknya melihat pengumuman—tertawa dan menangis bersama di satu tempat—telah dihilangkan budayanya oleh universitas ini.
Kyuubi membalikan badan, dan keluar dari kerumunan. Ia akan melangkahkan kakinya ketika melihat sosok wanita cantik yang membuat setiap orang menatap ke arah sosok itu sedang berjalan ke arah gedung yang dikatakan orang-orang gedung Teknik Informatika. Kyuubi hendak berlari untuk mendekati sosok itu, namun wanita tersebut telah menghilang masuk ke dalam gedung. Di saat itu, Kyuubi hanya bisa terpaku di tempat, ketika jantungnya berdetak sangat kencang. Apakah ini benar? Tidak disangka orang yang selama ini selalu dia cari keberadaannya ternyata ada di tempat yang sama dengan dirinya!
Tazmaniadevil
Konan membuka lokernya untuk mengambil buku saat ganti jam pelajaran. Di saat ini, suasana di dalam lorong sepi, tidak ada orang satupun, kecuali seorang penjaga sekolah yang sedang memastikan jika lingkungan di sekolah ini tetaplah aman. Hanya Konan lah yang lupa mengambil bukunya dari dalam loker. Sejenak, Konan menatap lokernya sebelum membuka lokernya tersebut. Namun, hal yang mencurigakan terbesit di pikirannya dikala pintu lokernya terbuka, dan dengan gerakan sangat cepat, Konan meloncat mundur—menghindari tumpahan air yang dipasang tepat di atas lokernya. Air tersebut membasahi lantai, dan membuat lantai di bawah loker Konan basah.
Konan menatap ke atas. Rupanya ada yang memasang jebakan di atas kepalanya, tetapi siapa? Konan melihat ke kiri dan ke kanan. Tidak ada satupun sosok yang mencurigakan. Apa-apaan ini? Apakah ada orang yang berniat iseng? Apakah orang yang mengisenginya adalah orang yang kemarin dia hajar? Secara perlahan Konan mendekat ke arah pintu lokernya. Ia memastikan semua baik-baik saja sebelum mengambil barang-barangnya dan melihat secarik kertas dari dalam lokernya.
Konan membuka kertas yang terlipat rapih, dan mencium kertas tersebut.
Tidak bau
Konan berpikir. Iapun membaca isi di dalam kertas.
"Ini barulah awal"
Hanya itu yang bisa Konan gumamkan pada saat membaca kertas bertinta merah tersebut.
Su—surat kaleng?
Siapa yang memberiku surat kaleng?
Konan membatin, bingung.
Tazmaniadevil
Deidara menatap bangunan di hadapannya. Bangunan di bagian pinggir sekolah yang bergaya a la Jepang. Bangunan ini seharusnya terlihat bagus jika terawat. Namun, usia dan tidak terawatnya bangunan ini membuat kesan jika bangunan ini adalah bangunan tua—tanpa pernah tersentuh sama sekali. Dengan sedikit canggung, Deidara membuka sepatu dan menginjakan kaki di lantai kayu bangunan tersebut. Iapun menyentuh pintu geser di depannya dengan ragu. Apakah keputusannya ini adalah benar? Deidara menghela nafas sejenak. Dengan perasaan was-was pemuda berambut pirang itu menggeser pintu tersebut.
SREEETTT...
Deidara menggeser pintu.
"Permisi!" salam Deidara pada penghuni satu-satunya bangunan ini.
Dari arah pintu belakang muncul pemuda berambut merah yang memakai seragam sekolah seperti Deidara. Kemunculan Deidara membuat pemuda itu terkejut. Iapun berlari-lari kecil menghampiri Deidara. "A—ah, ada apa?!" katanya, dengan ragu. Sedikit heran pemuda tampan seperti Deidara berkunjung ke tempat seperti ini.
Deidara menatap seluruh penjuru bangunan kecil ini. Semua tertata rapih. Gedung ini adalah tempat ekstrakulikuler pembuatan gerabah, dan alat-alatnya ternyata lengkap. Deidara menatap meja pembuatan gerabah, serta kuas-kuas untuk membersihkan gerabah itu. Tanpa izin Deidara melangkah masuk untuk melihat berbagai macam bentuk gerabah yang tersimpan di rak—sepanjang dalam gedung itu. Masih sangat sedikit karya yang disimpan, berarti kegiatan ekstrakulikuler ini tidaklah laku, Deidara menyimpulkan.
Deidara menatap pemuda berambut merah, dan bermata cokelat madu di belakangnya. "Aku ingin mendaftar menjadi anggota baru..," kata Deidara, segera membicarakan keinginannya untuk datang ke tempat ini.
Mata pemuda berambut merah itu terbelalak. Tidak biasanya ada orang yang datang ke tempat ini untuk mendaftar. Jangankan datang, ditawari saja semua enggan. "Benarkah?! Tu—tunggu dimana formulirnya!" katanya. Ia segera berlari ke arah satu rak di tempat itu. Pemuda itu mencari formulir dari tumpukan kertas yang ada di dalam rak itu. Akhirnya, setelah cukup lama mencari pemuda itu mengeluarkan satu lembar formulir yang berdebu dan tampak kekuning-kuningan.
"Ah, di sini... ah maaf sudah kusut..," katanya, sambil membersihkan formulir itu dari debu.
Tidak seperti pemuda di hadapannya, Deidara tampak tidak antusias dengan formulir itu. Ia pun mengambil formulir yang diserahkan pada dirinya dan menatap formulir di tangannya. Pemuda di hadapannya berkata jika Deidara bisa memberikan formulir besok atau seminggu kemudian (batas akhir). Mendengar ucapan pemuda itu, Deidara hanya mengangguk-angguk kecil.
Selesai menceritakan apa saja yang dibutuhkan untuk mengisi formulir, pemuda di hadapan Deidara menatap Deidara dengan penuh minat. "Apakah kau ingin mencoba latihan pembuatan gerabahnya?" tanya pemuda itu sambil menunjuk meja gerabah. Deidara menatap sejenak meja itu. "Apakah kau sudah mencoba menggunakannya?" tanyanya. Deidara hanya menggelengkan kepala. "Kita bisa co—
"Tidak... aku hanya ingin tidur...," jawab Deidara sambil melipat formulir di tangannya dengan asal. Iapun memasukan formulir itu ke dalam saku celananya.
"E—eh?!" pemuda di hadapan Deidara terkejut, terlebih ketika Deidara mulai merebahkan tubuhnya di lantai kayu yang baru dibersihkan itu dengan tenang. "Ke—kenapa jadi seperti ini?" rupanya anggota pertama ini datang hanyalah untuk menjadikan tempat kegiatan ekstrakulikuler ini sebagai tempat tidur dikala waktu senggang.
.
Sialan sekali kau Dei!
Tazmaniadevil
Seperti hari sebelumnya, Nagato hanya bisa diam di atas ayunan ketika orang-orang mulai dijemput oleh orang tua mereka. Kemarin, dia menanti sampai sore karena Sasuke baru menjemputnya sore itu, dan Ibu Guru hampir saja menitipkannya pada penjaga TK ini. Jika sekarang, entahlah siapa yang akan menjemput Nagato. Setahu Nagato, Sasuke mulai sibuk dengan kerjaannya di luar sana, dan kemungkinan besar ia akan dijemput sore atau tidak dijemput sama sekali. Saat ini Nagato mulai berpikir jika dia hanyalah anak kecil yang merepotkan dan tidak pantas dipedulikan.
Nagato menggigit bibirnya. Ia berusaha menahan tangis ketika mengingat pertengkaran di antara kedua kakaknya. Apakah dia tidak sebegitu diinginkannya? Padahal Nagato berpikir, ia bisa pulang sendiri asalkan diberitahu petunjuk jalan, dan arah pergi ke tempat apartemen Naruto asalkan orang-orang di sekitarnya tidak merasa dia ini adalah beban. Tetapi, Sasuke tidak mengizinkan, bahkan ketiga kakak yang lainnya berpendapat sama seperti Sasuke. Mereka berpikir jika Nagato tidak akan bisa tiba sampai di rumah apabila pulang sendiri, ketika Nagato berpikir jika seperti ini terus... dirinya hanyalah akan membebani orang-orang di sekitarnya, dan orang-orang di sekitarnya cepat atau lambat akan membencinya, seperti Kak Naruto.
"Apakah dia dijemput terlambat lagi?" ibu-ibu yang kemarin muncul kembali. Sekarang ini, mereka benar-benar berbicara di depan Nagato secara terang-terangan.
"Ampun, ya! Banyak di zaman sekarang orang tua hanya bisa mencetak anak tanpa merawatnya," kata salah satu dari ibu itu. Nagato hanya berusaha tidak mempedulikan perkataan orang-orang itu.
"Ya. Dari kemarin jangan-jangan dia tidak pulang," timbal yang lainnya.
Ino yang melihat Nagato sedang didekati oleh para orang tua murid itu menghampiri Nagato. Ia mengelus kepala Nagato. "Nagato, hari ini kau telat dijemput lagi?" tanya Ino dengan nada khawatir. Kemarin Nagato dijemput sangat sore, dan apakah hari inipun akan seperti itu?
Nagato meremas rantai ayunan. "Na—Nato nyak tahu..," katanya, menggelengkan kepalanya dengan keras. "Nato, mau pulang cendili saja..," Nagato turun dari ayunan. Ia berlari dengan sekuat tenaga menuju gerbang sekolah, menahan sedih dan tangisnya.
Tingkah Nagato membuat Ino panik. Ia mengejar Nagato. "NAGA—
BRUK!
Nagato menabrak seseorang, dan hampir saja terjatuh.
"Kau mau kemana?" tanya orang itu, ketika Nagato meringis kesakitan karena hidungnya terbentur tubuh pemuda jangkung di hadapannya. Namun suara di hadapannya membuat Nagato membuka mata dan mendongak ke atas.
"Ka—Kak Nalu?" Nagato tidak percaya jika orang di hadapannya adalah Naruto—kakak pertamanya yang judes itu.
Tetap dingin seperti biasanya, Naruto melangkahkan kaki menuju ayunan. Ia menatap sejenak tas Nagato yang tersimpan di sisi ayunan itu, dan mengambil tas itu. Seluruh mata tertuju pada Naruto, bahkan ibu-ibu yang sejak kemarin membicarakan Nagato tidak bisa menutup mulutnya ketika melihat gaya cool Naruto. Dengan tatapan sangat dingin, Naruto menghampiri ketiga ibu-ibu itu. Ia menatap ibu-ibu itu dari sudut matanya, dan membuat cuaca panas ini langsung mendingin dalam waktu seketika!
"Jika ada masalah dengannya, dan dia meganggu nyonya-nyonya sekalian, kalian boleh mengatakannya sekarang kepadaku," Naruto berkata dengan nada sangat rendah dekat telinga salah satu Nyonya itu.
"Dia memang tidak sebaik anak-anak Nyonya dalam bertutur kata. Dia pun tidak seberuntung anak-anak Nyonya yang setiap harinya diantar-jemput oleh orang tuanya..," katanya.
"Tetapi, aku yakin anak ini lebih pandai menghadapi kehidupan, bahkan dari manusia pandai bergosip seperti kalian sekalipun...," Naruto mendekatkan bibirnya pada telinga ibu-ibu itu.
"Aku harap jaga ucapan kalian jika berbicara di depan anak kecil—terlebih di depan dirinya, jika kalian ingin hidup tenang dan tidak ingin berurusan denganku," Naruto pun melangkahkan kakinya kembali—mendekati Nagato, dan membiarkan ibu-ibu penggosip itu menelan ludah—merinding.
"Kak—Kak Nalu?" merasa di atas angin, Nagato memeluk kaki Naruto.
"Kenalin, ini Kak Nalu, dia itu Kakak cekaligus papa Nato yang palinnngggg hebat...," Nagato berkata pada Ino yang tersenyum senang melihat Nagato begitu bahagia.
"Oh, kalau kemalin itu mama Nato...," kata Nagato, dan membuat Ino terkejut.
"Da-dah, ibu guluuu~" lanjutnya, sambil melambai-lambaikan tangan dengan semangat.
Ino masih terpukau dengan perkataan Nagato.
Bu—bukankah kemarin yang menjemputnya adalah laki-laki?
Ino membatin, bingung.
"A—apakah papanya seorang artis?" ibu-ibu penggosip itu tidak percaya jika anak yang diledeki mereka sejak kemarin ternyata memiliki wali yang sangat tampan dan elegant seperti itu. Mereka pun ber-kyaaaa-kyaaaaaa ria, tidak disangka di dalam TK ini akan ada wali sekeren itu. Sedikitnya, mereka merasa menyesal karena tidak bersikap baik pada anak kecil itu. Well, tidak masalah walau pemuda itu ketus, dan seperti tidak punya hati. Terpenting bagi mereka, Naruto itu tampan!
.
.
.
Naruto terus menyeret kakinya dikala Nagato tidak berhenti memeluk kaki Naruto. Pemuda Uzumaki sudah hampir menghabiskan setengah botol penyemprot kuman dan virus untuk membersihkan dirinya dari anak TK yang belum mandi ini. Bahkan Naruto sudah mulai mengeluarkan inhaler karena dadanya yang serasa sesak, seperti diserang oleh ribuan virus. Naruto berusaha mencapai mobil dengan nafas tersenggal-senggal, tetapi Nagato tidak kunjung ingin melepaskan dirinya.
"LE—LEPASSS?!" Naruto menggerakan kakinya, hendak melepaskan Nagato.
"Se—semprotan! Semprotan!" lanjutnya sambil menyemprotkan cairan di tangannya pada tubuh Nagato yang masih saja tersenyum senang. Naruto pun memegang bagian depan mobilnya agar tidak terjatuh karena tubuhnya menjadi lemas.
"Kakak jemput Nato..," Nagato memeluk kaki Naruto dengan penuh sayang.
"Makacih kakak..," lanjutnya, merasa Naruto ini adalah pahlawannya.
Naruto memutar kedua bola matanya. "Ja—jangan besar kepala dulu, kau! A—aku hanya kebetulan lewat sini saja, dan sekalian saja menjemputmu, daripada aku harus menghabiskan uang untuk mengongkosi dirimu di waktu nanti mulai sekarang aku akan menjemputmu," katanya—sedikit salah tingkah. Ia membuka pintu mobil bagian penumpang dan mempersilahkan Nagato untuk masuk.
"Kakak jemput Nato...," Nagato masih saja belum melepaskannya.
"SUDAH, MASUK MOBIL SANA!"teriak Naruto, mulai gerah dengan tingkah adik terkecilnya.
"DAN JANGAN SEKALI-SEKALI MENYENTUH BENDA DI DALAM MOBILKU!" Naruto memperingati bocah yang sedang senang ini.
"Kakak jemput Nato...," gumam Nagato, tampaknya anak ini sedang ada di dunianya sendiri.
"CEPAT MASUK!" Naruto kembali memerintah. Ia menunjuk mobilnya yang sudah siap menerima kehadiran Nagato.
"Nato cayang kakak..," Nagato mengecup kaki Naruto yang langsung memakai inhaler karena nafasnya terasa sesak.
"Persetan dengan kata-katamu...," dengus Naruto dengan nafas tersenggal-senggal.
"Cayang banget...," Nagato tidak peduli kata-kata Naruto.
"HENTIKAN NAGATO!" akhirnya Naruto pun menggila karena adiknya sulit sekali dikendalikan. Kepalanya mulai pening dan Naruto yakin sebentar lagi dia akan pingsan karena kuman Nagato terasa berpindah ke tubuhnya.
"AGHHHHHHHHHHHHHHH!" Naruto berteriak histeris, membayangkan dirinya akan digerogoti oleh kuman-kuman jahat bocah TK.
"Nato cayang kakak~" Nagato masih saja bergumam. "Cayang banget~" katanya, tidak peduli Naruto sudah berbudah karena terlalu banyak menerima kuman cinta (?).
.
.
Di saat Naruto sedang berkutat dengan adiknya, dari kejauhan Sasuke hanya bisa tersenyum melihat tingkah Naruto dan adiknya. Sasuke pun menghela nafas lega. Dengan begini, setidaknya Nagato bisa merasakan kasih sayang orang tua, walaupun kerap kali kakak pertamanya sangat keras kepala, dan sulit untuk bersikap baik kepada adik-adiknya.
"Ha-ah, syukurlah!" Sasuke masuk ke dalam mobil, meninggalkan kedua saudara kandung itu. Ia tersenyum lebar sambil menatap kaca spion tengah mobilnya sebelum melihat bayangan dirinya sendiri. Di saat itu sosok keluarganya terbesit di pikirannya, dan senyuman Sasuke secara perlahan memudar—kehilangan gairahnya, dan menghilang terhempas oleh kesedihan yang selalu ditutupinya selama ini.
Sejauh dia mencoba melupakan segalanya, dan mencoba terbaik, tetap saja kesalahan yang pernah dilakukannya tidak akan pernah bisa ditebus, bukan?
Tazmaniadevil
Ketiga anak Namikaze yang berada di ruang tengah menatap jam yang ada di layar laptop Kyuubi. Sudah nyaris jam tujuh malam, tetapi Sasuke belum sama sekali memberi kabar pada mereka mengenai Nagato. Apakah Nagato sudah dijemput oleh Sasuke, atau belum? Ini sudah malam, dan masih belum ada kabar mengenai Nagato. Gerah harus tinggal di dalam rumah terus dan panik seperti ini, ketiga anak Namikaze pun memutuskan untuk beranjak dari atas sofa mereka, dan pergi ke TK pelangi, ketika pintu apartemen terbuka.
Naruto masuk dan menutup pintu apartemen itu. Ia berhenti sejenak dikala ketiga adiknya menatapnya dengan pandangan dingin. "Nagato belum pu—
"KAKAK!" Nagato berlari dari belakang Naruto menuju ketiga kakaknya yang lain. Ia memeluk ketiga kakaknya itu, seperti sangat senang.
"Eh?!" Konan, Deidara, Kyuubi tidak mengerti kenapa Nagato bisa berada dengan Naruto. Mereka bertiga menatap Naruto seperti Naruto adalah seorang alien.
Naruto menatap meja di ruang tengahnya. Ia mendengus dan dahinya berkerut. "Jangan buat berantakan rumah! Setelah semua selesai cepat bereskan! Sedikitpun ada sidik jari kalian di kaca meja itu, aku tidak akan pernah segan-segan menghukum kalian!" katanya, mulai bawel kembali, walaupun anak-anak Namikaze sama sekali tidak mendengar ucapan Naruto karena terlalu takjub dengan Naruto.
"Kakak, A—aniki...," gumam Konan, Deidara, dan Kyuubi.
Naruto tidak merespon adik-adiknya. Ia hanya memutar kedua bola matanya. Lalu, ia melangkahkan kaki sambil menyemprotkan cairan pembersih ke seluruh ruangan dilewatinya. Naruto memastikan tidak ada bau sedikitpun di dalam apartemennya. Iapun akan masuk ke dalam kamar untuk mandi ketika saudara-saudaranya berbicara kembali.
"Te—Terima kasih, dan aku meminta maaf...," Kyuubi tiba-tiba berucap, dan membuat Naruto berhenti melangkah. Seluruh saudara Naruto terpukau, ketika mendengar Kyuubi meminta maaf pada seseorang terlebih dengan serius seperti ini. Hari ini... adalah hari yang hebat bagi anak-anak Namikaze!
"Untuk orang yang bernama Sasuke itu dia cukup pandai membersihkan rumah..." dari balik punggung Naruto berbicara. Ia mengingat jika Sasuke telah benar-benar menepati janjinya untuk membersihkan rumah sebersih mungkin dikala itu.
"Teleponlah dia, dan suruh dia tinggal di sini saja!" lanjut Naruto sambil berlalu masuk ke dalam kamarnya.
Keempat anak Namikaze saling pandang. "A—apa?!" gumam mereka, tidak mengerti kenapa tiba-tiba Naruto berubah pikiran seperti ini.
"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAA! AKHIRNYA KITA KEMBALI BERSAMA!" keempat Namikaze pun meloncat-loncat girang. "OMEDETOUU!" mereka memberi selamat pada diri mereka sendiri.
"Ayo, ayo! Telepon Kak Sasuke!" lanjut mereka, segera memerintah Kyuubi untuk menelepon Sasuke.
Yeah, mereka pun kembali bersama!
.
.
.
Ting.. Tong... Ting.. Tong...
Konan membukakan pintu untuk Sasuke.
Dengan wajah ceria, Konan dan Nagato mempersilahkan masuk Sasuke. Akhirnya, mereka berkumpul kembali, dan pastinya suasana di kediaman Naruto akan semakin ramai. Dengan langkah perlahan, setelah memastikan sepatunya tersimpan rapih, Sasuke memasuki kediaman Naruto. Di saat itu, Konan meminta Sasuke untuk beristirahat, ketika Konan sendiri akan mengambil minuman untuk Sasuke dari gelas plastik yang sudah dibeli Naruto khusus untuk para tamu. Sasuke berhenti melangkah tepat di ruang keluarga. Ia menatap Kyuubi dan Deidara yang sedang sibuk mengotak-atik laptop mereka, nampak sangat serius.
"Dimana aku harus menyimpan barang-barangku?" sebisa mungkin Sasuke harus berhati-hati meletakan barangnya, ketika pemilik rumah ini sangat sensitif.
"Di tempat kami sempit. Kau masukan saja ke kamar tamu satu lagi," kata Kyuubi. Ia terus menatap ke arah laptop.
Sasuke melihat ke kiri dan ke kanan, mencari petunjuk tempat dia akan tidur, ketika Nagato datang dengan membawa sepiring tomat. Nagato mengulurkan piring itu ke arah Sasuke. "Kak Cacu, mau?" tawar Nagato dengan cengiran lebar.
"Comatnya enyaaakk..," kata Nagato, berharap Sasuke mengambil salah satu tomat yang dibeli Konan di supermarket di dalam gedung apartemen ini.
Melihat buah kesukaannya, Sasuke tanpa berpikir dua kali langsung mengambil buah itu. Ia menggigit tomatnya, dan merasakan sensasi asam dan manis yang bergabung menjadi satu di dalam mulutnya.
"Enak," komentar Sasuke sambil mengelus kepala Nagato. "Kakak simpan barang-barang kakak dulu," Sasuke melangkahkan kakinya, ketika Nagato bergabung dengan Kyuubi dan Deidara.
"Cepat kemari, Kak Sasu!" Deidara berkata dari balik laptopnya.
"Hn," gumam Sasuke sambil menarik kopernya.
.
.
.
Saat tiba di depan ketiga pintu—yang diduga Sasuke—salah satu pintunya adalah pintu kamar miliknya, Sasuke sedikit bingung. Ia hanya tahu jika pintu pertama adalah pintu kamar anak-anak Namikaze karena kemarin dia menemukan anak-anak Namikaze tidur di kamar balik pintu itu. Hm... jika memang itu pintu kamar anak-anak Namikaze, berarti kedua pintu itu... pasti salah satunya adalah pintu kamar Naruto. Sasuke menghela nafas sejenak. Ia menduga-duga jika Naruto pasti memilih pintu kamar yang jauh dari anak-anak Namikaze dan dirinya. Ya, pasti begitu. Sasuke pun memutuskan untuk memilih pintu yang kedua—pintu yang paling dekat dengan pintu kamar anak Namikaze. Ia membuka pintu yang tidak terkunci itu, dan memasukan kopernya ke dalam kamar sebelum menutup pintu. Sejenak, Sasuke terpukau dengan wangi dan bersihnya kamar di hadapannya, tidak ada debu sedikit pun.
"Kamar ini benar-benar ber—tunggu!" firasat Sasuke merasakan jika dia berada di dalam posisi tidak benar.
"Kamar ini terlalu bersih untuk ukuran kamar ta—
Krieeetttt...
Pintu kamar mandi di dalam kamar itu terbuka. Sasuke terpaku ketika melihat sosok pemuda hanya mengenakan handuk di pingangnya keluar dari kamar mandi di dalam kamar itu. Pemuda itu sedang mengeringkan rambutnya yang acak-acakan dan basah, baru selesai keramas, ketika air menetes mengenai dada pemuda itu.
Secara tidak sadar Sasuke menjatuhkan buah tomatnya, hingga pemuda itu tersadar jika dia tidak sendirian di dalam kamar.
Mata Naruto membulat sempurna. "K—kau!" seru Naruto dengan nada yang langsung meninggi ketika melihat Sasuke di dalam kamarnya. Wajah Naruto memerah karena marah.
"A—aku...," mata Sasuke tidak berhenti menatap tubuh Naruto. Sasuke megelengkan kepalanya, membersihkan pikirannya.
"Aku tidak bermaksud melihat tubuhmu!" kata Sasuke dengan nada sangat cepat, membela diri, tetapi ekspresi masih tetap stoic, walaupun matanya tidak berkedip—menatap tubuh Naruto.
"BUKAN ITU TEME! AKU TIDAK PEDULI KAU MELIHAT TUBUHKU ATAU TIDAK KARENA KITA LAKI-LAKI! AKU HANYA PEDULI KAU MENJATUHKAN TOMATMU DI LANTAI KAMARKU, DAN KAU MASUK KE KAMARKU SEBELUM KAU MEMBERSIHKAN TUBUHMU!" teriak Naruto dengan sekencang-kencangnya, hingga membuat seorang kakek di lantai terbawa terkena serangan jantung, dan nyaris mati.
"KAU JANGAN SEMBA—
"Aku akan bereskan!" Sasuke cepat-cepat menarik kopernya, dan keluar dari kamar Naruto.
"TEME, TUNGGU!" larinya Sasuke membuat Naruto semakin histeris. Ia cepat-cepat berlari ke arah pintu, namun handuknya merosot hingga Naruto sedikit kewalahan.
"He—HEI!" dikala itu, pintu sudah mulai tertutup dari arah luar. Naruto terhuyung karena kesusahan memposisikan handuknya.
"HEI, TOMATMU MASIH ADA DI DALAM KA—
BRAK!
Sasuke menutup pintu kamar Naruto secepat kilat. Ia memegang knop pintu itu sekencang-kencangnya, ketika nafasnya tersenggal-senggal. Jantungnya berdetak sangat kencang, sulit untuk dihentikan. Sasuke menyandarkan punggungnya pada pintu. Ia sudah gila. Ia benar-benar gila. Apa yang dia lakukan tadi? Kenapa jantungnya terus berpacu cepat? Di saat pikiran Sasuke terus bertanya-tanya, terbesitlah di benak Sasuke; tubuh Naruto yang dibalut oleh kulit tan yang eksotis, rambut pirang basah, bibir merah muda dan lembab, ketika postur tubuh Naruto itu maskulin namun masih terlihat sisi rampingnya dibalik tubuh six pack itu. Pikiran Sasuke semakin melayang, ketika tatapan mata biru Naruto membius pikirannya.
"Jika laki-laki tampan tidak punya kekasih itu berarti ada dua kemungkinan..," Neji berkata dengan suara nada datar, walaupun bermaksud mengajak bercanda Sasuke.
"Dia adalah laki-laki tidak normal atau dia berarti laki-laki brengsek," kata Neji, sehingga membuat Sasuke menggelengkan kepalanya. Merasa lucu dengan ucapan Neji.
Ti—tidak normal?
"A—aku tidak mungkin menyukai seorang laki-laki," Sasuke bermaksud berdalih. Tetapi selama ini dia belum pernah merasakan jantungnya berdebar-debar seperti ini ketika melihat seseorang. Jika begitu, berarti dia... tidak mungkin! Sasuke tidak mungkin menjadi sasugay! Hei, kenapa juga nama Sasuke harus dirubah?!
Tunggu!
Kalau misalnya memang normal..
Be—berarti..
Aku...
Bre—brengsek?
"Brengsek? Aku tidak brengsek...," Sasuke menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Aku tidak brengsek karena aku tidak mungkin suka pada kakak tiriku sendiri!" Sasuke berseru, membela diri. Tadi itu Sasuke terkejut, sedikit takut karena salah masuk kamar hingga adrenalinnya meningkat, dan jantungnya memompa darah dengan cepat. "Ta—tapi...," Sasuke berpikir kembali.
Ba—bagaimana, jika tertarik dengannya?
Aku tertarik ketika melihat tubuh kakakku yang cowok?!
Aku menyukai orang galak?!
Ya, dia galak!
Si galak yang sexy!
Se—sexy?!
Dia tidak sexy!
Tapi,
Tubuhnya itu... benar-benar...
Apa yang aku pikirkan?!
Aku brengsek dan kelainan?!
Yang benar saja!
"Tidak mungkin!" teriak Sasuke, tetapi bukan hanya dia saja yang berteriak, melainkan Kyuubi yang sedang duduk di ruang tengah.
Ada apa lagi?
Melupakan sejenak masalah perasaannya, Sasuke melangkahkan kaki menuju ruang keluarga. Ia melihat Kyuubi sedang membenamkan tubuhnya di karpet, dan memukul-mukul karpet itu, seperti orang frustasi. Kyuubi terus menggumamkan kata 'why, why, why' tidak ada jeda sedikit pun. Baru kali ini Sasuke melihat Kyuubi sefrustasi ini. Apakah Kyuubi tidak lulus ujian? Apakah Kyuubi mengalami masalah dalam pendaftaran? Sasuke khawatir dengan Kyuubi.
"Kau kenapa, Kyuubi?" tanya Sasuke sambil menatap adik-adik Kyuubi yang hanya mengangkat kedua bahu mereka.
Kyuubi berhenti meratapi nasibnya. Ia menatap Sasuke. "Aku lulus..," gumamnya dengan suara lemas. "Pilihan kesatu..," lanjutnya.
A—apa?
Kyuubi lulus?
Senyuman Sasuke pun muncul ketika mendengar kabar baik ini. "Benarkah?" tanyanya, dengan nada penuh kebanggaan. "Kalau begitu ayo kita rayakan!" lanjutnya. Tetapi, orang yang lulus sama sekali tidak ada gairah.
"Ayo, ayo!" Deidara berkata dengan penuh semangat, dan begitu juga dua adik Kyuubi yang lainnya.
"kalau begitu, aku panggil Kak Naruto!" kata Deidara. Ia memakai sandalnya, dan mulai beranjak pergi ke kamar Naruto.
A—apa Na—Naruto?!
"JANGAN!" teriak Sasuke dan Kyuubi secara bersamaan. Kyuubi sedang tidak ingin bertemu dengan orang menyebalkan, ketika mood-nya sangat buruk. Ia bisa kehilangan kontrolnya.
Deidara berhenti melangkahkan kakinya. Ia menatap Kyuubi dan Sasuke. "Kenapa, jangan? Bukannya kita akan berpesta? Kak Naru pun harus diajak," Deidara menatap aneh Sasuke dan Kyuubi. Konan dan Nagato saling tatap sebelum mengangkat kedua bahu mereka. "Jangan bilang kalian akan berpesta di sini tanpa ada tuan rumahnya?"
"Bukan begitu, Dei. Aku baru mendapat pikiran, jika sebaiknya kita tunda saja dulu pesta ini," Sasuke memberi alasan. Kyuubi menganggukan kepalanya.
"Sampai Kyuubi selesai registrasi. Ya, sampai Kyuubi benar-benar menjadi mahasiswa di universitas itu—
Dan sampai aku kembali normal...
Sambung Sasuke di dalam pikirannya.
Sejenak, Deidara seperti menatap curiga Sasuke, dan Sasuke hanya bersikap tenang dibalik ketegangannya. Namun, Deidara merubah ekspresinya menjadi ceria kembali dalam waktu seketika. "Baiklah!" kata Deidara. Iapun kembali ke tempatnya. Sasuke dan merasa lega, merasa seperti memiliki bisul berabad-abad, dan telah pecah.
"Kalau begitu, kita tunda dulu saja pestanya," dalam waktu sekejap, Deidara melupakan acara pesta diterimanya Kyuubi di universitas ternama yang memiliki grade tertinggi itu. Ia sekarang asyik dengan game yang ada di laptop Kyuubi.
.
.
Ketika Konan, Nagato, dan Deidara tertawa lepas karena asyik bermain game, kedua pemuda yang duduk di dekat mereka hanya saling tatap sebelum memalingkan muka dan tertunduk frustasi.
Ini tidak mungkin!
Hanya itulah yang ada di pikiran mereka berdua.
Kenapa perkiraanku bisa meleset?
Kyuubi membatin—lebih tidak mengerti. Soal-soal yang dia yakin bisa dipermainkan olehnya ternyata telah gagal diprediksi olehnya.
Ini sangat aneh...
Kyuubi menatap layar laptopnya yang sedang ditatap oleh saudaranya.
86?!
Bukankah...
Seharusnya poin yang aku kerjakan itu 84?
Bersambung...
