Disclaimer: Kuroko no Basuke bukanlah milikku, tapi milik dari Fujimaki Tadatoshi

Warning: AU, Slash, OOC, OC, typo, etc

Rating: T

Genre: Romance, Drama, Friendship


SPIRAL

By

Sky


"Maafkan kami, Kuroko-san, tapi kami tidak bisa mempekerjakan anak-anak sebagai pelayan kedai mie kami. Dengan berat hati aplikasi Kuroko-san kami tolak," ujar seorang laki-laki paruh baya yang mengenakan baju seorang chef berwarna putih lengkap dengan topi khas seorang penjual mie yang tersemat di atas kepalanya.

Penolakan yang dilakukan oleh laki-laki paruh baya itu adalah penolakan yang kesekian kalinya Tetsuya terima pada minggu ini, dan mau tidak mau remaja berambut biru langit yang baru menginjak usia 16 tahun itu harus mencoret kolom pekerjaan sebagai pelayan kedai mie yang ada di kolom koran lowongan pekerjaan yang ia miliki, menjadikannya satu dari puluhan pekerjaan yang ia coba untuk lamar namun gagal.

Dengan hati yang sangat berat serta kekecewaan yang berhasil Tetsuya sembunyikan dari raut wajah manisnya, akhirnya remaja itu pun undur diri dari hadapan si penjual mie yang masih berdiri di sana. Rasanya ia tidak memiliki alasan untuk berlama-lama berada di kedai mie yang berjarak tidak jauh dari sekolahnya tersebut bila pekerjaan di sana tidak berhasil Tetsuya dapatkan, kalau pun ia ingin berlama-lama di sana karena ingin makan mie maka hal itu pun juga tidak perlu ia lakukan, remaja itu bisa memakan mie instan yang sudah terimpan rapi di dalam kabinet lemari dapurnya yang sudah ia beli di supermarket beberapa saat yang lalu, terlebih harga mie instan yang siap saji itu jauh lebih murah daripada harga mie yang dijual di kedai yang ia kunjungi untuk melamar pekerjaan ini.

"Tidak apa-apa, Oji-san, maaf sudah mengganggu," balas Tetsuya dengan sopan, sapaan yang hangat dari Tetsuya itu (meski sang remaja sudah ditolak dari pengajuannya itu) membuat sang pemiliki kedai mie tersenyum hangat sebelum memberikan anggukan singkat di kepalanya.

Sebagai anak yang memiliki sopan santun dan telah diajarkan oleh sang nenek semenjak ia masih sangat kecil, remaja itu pun membungkukkan badannya ke depan sebagai penghormatan kecil sebelum ia undur diri dari hadapan si penjual mie yang ada di sana. Dengan langkah yang sedikit gontai akibat penolakan itu, Tetsuya pun segera berjalan pulang, menyurusi jalanan yang begitu familier baginya untuk menuju rumah. Meskipun remaja berambut biru langit itu sudah bisa menduga kalau lagi-lagi ia nantinya akan ditolak dari pekerjaan, tapi rasanya masih menyakitkan juga mendengarnya secara langsung dari mulut orang lain, apalagi bila penolakan itu tepat dikatakan di depan wajahnya. Helaan nafas yang begitu berat pun terdengar dari belahan bibir merah muda miliknya, kepalanya pun menunduk singkat dan memilih untuk mengawasi kedua kakinya yang bergerak ke depan itu daripada mengawasi arah depan ke mana ia akan pergi.

Jujur sekarang ini Tetsuya merasakan apa itu yang dinamakan frustrasi dan sedikit depresi dengan keadaannya, ia harus segera mencari uang bila ia dan neneknya ingin bertahan hidup di dunia yang begitu kejam ini, bahkan melihat bagaimana keadaan mereka ini pun Tetsuya bisa menyimpulkan kalau ia harus segera banting tulang dengan begitu keras. Warisan yang kedua orangtuanya tinggalkan untuknya pun juga sudah mulai menipis dalam waktu yang begitu cepat, Tetsuya bukanlah orang yang boros dan mengunakan uang dalam jumlah besar itu untuk bersenang-senang seperti yang kebanyakan remaja seusianya lakukan, ia menggunakan uang itu untuk membayar pengobatan sang nenek yang jumlahnya pun tidak sedikit. Jadi tidak heran kalau jumlah warisan yang awalnya berjumlah begitu banyak kini tinggal seperempatnya saja, seadainya warisan uang yang ia miliki di bank habis lalu ia dan neneknya harus bagaimana nantinya? Apakah mereka harus mengemis di hadapan orang seperti orang-orang yang tak memiliki harga diri?

Memikirkan pertanyaan yang bergaung di dalam pikirannya itu semakin membuat remaja berparas manis itu pusing, rasanya ingin ia jedukkan kepalanya di tiang listrik terdekat untuk membuat pikirannya semakin jernih, atau minimalnya ia basuh menggunakan air yang begitu dingin agar pikiran-pikiran tidak jernih yang muncul seperti tempo hari ketika ia bersama dengan Kagami pun tidak akan terulang.

Tapi memikirkan keuangan keluarga, rasanya option untuk menjual diri pun juga tidak buruk. Minimal aku bisa membiayai operasi serta pengobatan nenek, dan mungkin saja sisa uangnya bisa kami gunakan untuk hidup, pikir Tetsuya begitu saja tanpa kendali.

Langkah kakinya itu terhenti untuk beberapa saat kemudian dan secara tiba-tiba, sementara itu kedua matanya melebar untuk sesaat sebelum dirinya menepuk kedua pipinya. Sepertinya Tetsuya ingin meruntuki dirinya karena pikiran-pikiran buruk yang mendorongnya untuk menjual diri pun muncul lagi, padahal remaja itu sangat yakin kalau dirinya tidak akan tergoda lagi untuk memikirkannya, apalagi sampai melakukannya kalau memang tidak ada jalan lagi. Untuk beberapa saat lamanya Tetsuya pun menepuk kedua pipinya tersebut menggunakan jemari tangannya, mengusir pikiran buruk dari lekatan kuat yang ada di kepalanya, ia sudah berjanji untuk tidak akan menjual dirinya dan hal itu pun sudah ia bicarakan dengan begitu matang kepada Kagami saat pemuda bertubuh tinggi itu langsung melabraknya dua hari yang lalu.

"Tuhan, hambaMu ini sudah mulai gila," keluh Tetsuya dengan cukup keras, tanpa sadar suara yang seharusnya menjadi suara hati itu tercetus dari bibirnya begitu saja. Untuk saat ini Tetsuya merasa sangat bersyukur memiliki hawa keberadaan yang sangat tipis, sehingga orang-orang yang berlalu lalang di jalan pun tidak akan menyadari akan apa yang Tetsuya perbuat serta katakan tadi, jadi mereka tidak akan berpikir kalau Tetsuya sudah gila.

Dilemanya saat ini adalah mencari pekerjaan untuk mendapatkan uang, masalah ia gila atau tidak akan menjadi urusan Tetsuya di belakang nanti kalau sempat ia pikirkan, tapi masalahnya siapa yang mau memberi pekerjaan untuknya? Tidak ada, atau dengan hasil yang nihil pun Tetsuya harus menahan ludah penuh kekecewaan ketika penolakan demi penolakan pun ia terima setiap kali remaja itu melamar pekerjaan di tempat-tempat yang ia tahu tengah membutuhkan pegawai di sana, bahkan Tetsuya bisa melihat plakat 'dibutuhkan pekerja' melekat pada jendela tempat-tempat tersebut.

Selain Tetsuya yang masih berada di bawah umur dan hawa keberadaannya yang kelewat sangat tipis, alasan kenapa Tetsuya selalu ditolak juga ada hubungannya dengan masalah pendidikannya yang kini membuatnya masih berstatus sebagai pelajar kelas satu di sekolah menengah atas Teikou. Biasanya mereka yang membutuhkan pegawai baru itu selalu memberikan syarat kalau pegawainya minimal berpendidikan lulus dari sekolah menengah atas, atau paling tidak sudah berada di perguruan tinggi, yang tentu saja syarat satu ini tidak mampu Tetsuya penuhi begitu saja, tidak untuk beberapa tahun ke depan. Sudah berada di bawah umur, hawa keberadaan yang sangat tipis, ditambah lagi ia sendiri baru memulai statusnya sebagai pelajar sekolah menengah atas, sekiranya penderitaan Tetsuya terasa cukup lengkap dan tidak heran kalau ia ditolak di mana-mana.

Jalanan yang lumayan ramai dengan pejalan kaki dan kendaraan bermotor itu menjadi saksi bisu akan kegundahan yang Tetsuya rasakan, bahkan saking gundahnya itu ia tidak berpikir lurus serta jernih seperti sebelumnya.

Silhuet berwarna orange yang ditimbulkan oleh senja matahari yang terbenam itu pun menimpa sosok sang remaja berambut biru langit itu untuk beberapa saat lamanya, hal itu pun membuat pemandangan yang sangat sedap dipandang oleh mata, terutama emosi penuh kesedihan serta melankolis yang dibawa oleh Tetsuya pun membuat sosoknya menjadi orang yang sangat menarik, meski yang bisa merasakan hal tersebut harus memiliki mata yang tajam dan awas untuk bisa melihat sosoknya.

Merasa dirinya tidak memiliki alasan khusus untuk berdiam diri di tempat itu seperti patung, remaja berambut biru langit itu pun kembali melangkahkan kakinya ke depan, mungkin ia harus segera tidur setelah sampai di rumah karena badannya terasa sakit semua. Hari ini ia sudah mngunjungi sang nenek yang tengah dirawat di rumah sakit, ia merasa sedikit senang karena tadi ia bisa melihat bagaimana tubuh sang nenek sudah mulai baikan meski Tetsuya tahu kondisi itu tidak akan bertahan lama, dalam artian begitu singkat adalah sementara sampai operasi yang dinantikan oleh sang nenek selesai dilakukan. Teringat kembali akan senyuman lembut sang nenek berikan padanya cukup menambah semangat Tetsuya yang sedari tadi begitu turun, seperti tunas layu yang kini kembali tumbuh setelah mendapatkan air dan pupuk di hadapannya, membuat sosok yang tadi sempat lesu kembali bersemangat meski dalam lubuk hati masih tersimpan kegundahan serta kecemasan yang sangat besar.

Langkah kaki yang Tetsuya berikan ke depan terasa kelu dan kaku begitu saja, membuat remaja yang baru menginjak angka 16 itu mematung di tengah jalan saat bunyi klakson yang begitu keras terdengar di gendang telingnya. Saat Tetsuya mendongakkan wajahnya ke depan, ia bisa merasakan bagaimana wajahnya yang tadi sedikit berwarna langsung memucat, seperti darah yang mengalir pada wajahnya menghilang dalam hitungan detik saat sebuah truk besar yang bermuatan berat itu melaju dengan kecepatan yang begitu besar ke arahnya. Tetsuya berteriak pada dirinya di dalam hati untuk segera bergerak, menyuruh kedua kakinya untuk berlari menghindar sebelum ia tertabrak oleh truk besar yang masih melaju di hadapannya tersebut. Namun hasil yang ia peroleh pun rasanya sia-sia saja, sebab kedua lutunya itu terasa lemas dan dingin, tidak membiarkan Tetsuya untuk bergerak dari tempatnya meskipun itu hanya satu jengkal saja.

Layaknya sebuah patung, Kuroko Tetsuya pun hanya bisa melihat dengan tatapan penuh ketakutan tercetak jelas di wajahnya yang biasa tersemat topeng datar yang membungkus emosinya. Di hadapannya sendiri muncul bayangan-bayangan yang akan memetakan skenario bagaimana Tetsuya akan tewas ditabrak oleh truk, mungkin dramatisasi karena terlalu banyak menonton berita-berita yang memuat peristiwa kecelakaan lalu lintas pun menyelimuti sosok mungilnya, hanya saja Tetsuya bukanlah berperan sebagai sang penonton di balik layar televisi seperti biasanya namun ia akan berperan sebagai korban. Tapi, sempat ada pikiran-pikiran pesimis yang muncul di benaknya, kalau Tetsuya benar menjadi korban tabrakan di jalanan ini oleh truk yang melaju begitu kencang di hadapannya tersebut lalu siapa yang akan menyokong neneknya yang kini tengah terbaring lemah di rumah sakit? Pertanyaan itu pun akhirnya muncul lagi di dalam benak pikirannya, membuat perasaannya gundah dan diselimuti oleh perasaan bersalah yang tiba-tiba muncul begitu saja di dalam relung hatinya.

Bunyi klakson yang bertambah keras itu pun membuyarkan bayangan-bayangan yang tergambar begitu jelas di pikiran Tetsuya, dan sesaat pikirannya kembali ke realita nyata, dan apa yang tergambar di benaknya pun hal itu sudah terlambat untuk ia hindari. Truk itu masih melaju dengan kecepatan super kencang, dari sana pun Tetsuya bisa melihat si pengemudi serta pejalan kaki lainnya berteriak ke arah remaja itu untuk segera berlari menghindar agar kejadian dirinya tertabrak pun bisa segera dihindari, tapi berbicara saja itu lebih mudah dari kenyataannya 'kan? Tetsuya sama sekali tidak bisa bergerak dari tempatnya berdiri, ia pun pasrah dengan nasib yang nantinya akan ia terima, sebagai korban kecelakaan di jalan raya. Ia akan mengambil sisi positifnya saja, kalau pun ia meninggal karena peristiwa ini, setidaknya pihak asuransi akan memberikan jaminan yang jumlahnya tidaklah kecil, sehingga jaminan uang itu akan bisa dipergunakan neneknya untuk berobat.

Dengan pikiran-pikiran gila itu, Tetsuya yang sudah pasrah langsung memejamkan kedua matanya, seolah-olah anak itu seperti berniat untuk menabrakkan dirinya sendiri karena ia sudah tidak tahan lagi dengan kehidupan yang sangat kejam seperti yang ia jalani tersebut.

"MINGGIR!"

"YA AMPUN…TOLONG ANAK ITU!"

Teriakan demi teriakkan pun berdengung dengan hebat di telinga Tetsuya yang masih mematung, kalau orang-orang itu memang ingin menolongnya lalu kenapa mereka masih berdiri di sana? Pikiran Tetsuya yang kalut itu sudah mempersiapkan dirinya untuk merasakan sakit yang amat sangat saat hantaman pertama akan terjadi, namun kedua matanya yang terpejam tadi tiba-tiba langsung terbuka lebar saat ia merasakan sebuah tangan yang kuat mencengkeram lengan kanannya dan sebuah lengan pun melingkar di pinggangnya, sebuah gambaran yang singkat dan tidak bisa Tetsuya ingat karena kekalutan yang ia rasakan pun terjadi. Entah bagaimana awal mulanya dan apa yang terjadi, tiba-tiba Tetsuya yang sedari tadi berdiri mematung dan menyerahkan nyawaya kepada Yang Kuasa di atas sana sudah menemukan dirinya tergeletak di pinggir jalan, dimana dirinya kini sudah berbaring di aspal jalanan yang sangat keras. Namun anehnya bukan rasa sakit yang ia rasakan tapi sebuah pelukan yang hangat dan eratlah yang membuatnya sangat terkejut. Ternyata tadi itu ia ditarik dari tengah jalan raya sebelum kejadian naas yang akan menimpanya terjadi dan menjadikan sosok manis bernama Kuroko Tetsuya menjadi sesosok tubuh bersimbah darah yang tidak bernyawa lagi.

"Kau bisa celaka kalau hanya mematung seperti itu di jalanan yang ramai, seperti kau mau bunuh diri saja," ujar sebuah suara asing bergumam di samping telinganya.

Riuhan tepuk tangan yang mengiringi aksi heroik penyelamatan Tetsuya itu membuat remaja itu tersadar dengan apa yang barusan terjadi, namun bukan riuh tepuk tangan serta teriakan lega dari orang-orang yang mengelilinginya itu yang menyadarkan Tetsuya dari perasaan terkejutnya, namun perkataan singkat serta penuh akan penekanan dari orang yang telah menyelamatkannya lah yang membuat Tetsuya tersadar.

"Huh….." hanya itu yang bisa Tetsuya berikan sesaat perkataan itu berlalu begitu saja serta pelukan yang sempat mengerat pada tubuh mungilnya terlepas dan belaian singkat yang hangat itu pun menjauh dari tubuhnya, seperti tidak ada yang memeluknya tadi.

Sebuah kekehan kecil pun tiba-tiba terdengar lagi, namun suara yang halus itu begitu singkat bisa Tetsuya dengar sebelum hilang lagi, dan ketika Tetsuya membuka kedua matanya yang tadi sempat terpejam lagi ia pun sudah tidak bisa melihat orang yang tadi menyelamatkannya. Remaja berambut langit kebiruan itu pun langsung berdiri dengan dibantu oleh beberapa orang yang melihatnya, kedua matanya menilik satu-satu orang yang ada di sana, dan sepertinya orang yang menyelamatkannya tadi sudah pergi dari hadapannya atau memang orang tadi tidak ingin ditemukan oleh Tetsuya? Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun di hadapan banyak orang, remaja itu pun menerobos kerumunan yang lumayan ramai tersebut untuk mencari siapa yang tadi menyelamatnya, namun kemalangan yang memang selalu bersama dengan diri Tetsuya pun terus melanda karena ia tidak menemukan orang itu.

Setelah ia keluar dari kerumunan, pada akhirnya Tetsuya bisa melihat silhuet seorang pemuda berjalan menjauh dari kerumunan itu pula, dan sepertinya orang yang berjalan menjauh itu adalah orang yang sudah menyelamatkan Tetsuya dari nasib naas yang akan menimpanya beberapa saat yang lalu. Pemuda yang berjalan menjauh dari hadapan Tetsuya itu mengenakan sebuah topi berwarna hitam di atas kepalanya, namun kedua mata biru langit milik remaja bermarga Kuroko itu bisa melihat kalau sang penyelematnya tersebut memiliki helaian rambut berwarna merah darah yang begitu mencolok, dan dugaan Tetsuya yang mengatakan orang itu adalah sebagai penyelamatnya semakin besar sebab pemuda yang berjalan itu menoleh ke belakang untuk beberapa saat lamanya dan kedua mata mereka pun bertemu secara singkat. Mungkin Tetsuya tidak bisa melihat penampilan maupun paras yang dimiliki sang penyelamatnya, namun tatapan sepasang mata berbeda warna yang tersemat dari balik lensa bening yang dikenakannya itu mampu membuat kedua lutut Tetsuya terasa lemas dan kelu, membuatnya mau menjatuhkan tubuhnya dengan kedua lututnya bertumpu di jalanan saja ketika mereka bertemu pandang. Bagaimana mungkin tatapan yang begitu intens dan diselimuti oleh emosi tidak terbaca itu bisa membuat Tetsuya seperti ini? Apalagi dengan jarak mereka yang cukup jauh dari satu dengan yang lainnya, Tetsuya hanya diam bergeming di tempatnya tanpa melakukan apapun. Namun perasaan lega pun terpancar dari tatapan Tetsuya saat pemuda yang berjalan menjauh itu memutus koneksi mata antar keduanya sebelum sosoknya tertelan oleh gambaran pejalan kaki yang berlalu lalang di sana, membuatnya hilang dan meninggalkan Tetsuya masih mematung dengan kedua lutut yang sangat lemas.

"Apa yang terjadi?" Tanya Tetsuya pada dirinya sendiri, merasa tidak mengerti mengapa tubuhnya menjadi seperti ini. Rasanya seperti ia harus tunduk di hadapan sang pemilik mata heterokrom itu tanpa berucap kata di antara keduanya.


Sekolah menengah atas Teikou adalah satu dari di antara sekolah elit yang ada di Jepang, mendapatkan predikat nomor satu di Tokyo dan terkenal akan pendidikannya yang keras dan ketat serta slogannya yang berkata 'untuk kemenangan dan terbaik' yang selalu tertempel di salah satu dinding sekolah yang ada di sana. Selain itu, Teikou juga terkenal dengan keelitannya serta prestasinya baik itu di dalam bidang akademik maupun non akademik, sekolah menengah atas ini tidak sembarang dalam memilih muridnya. Setiap tahunnya dimana tahun ajaran baru dimulai, tidak sedikit calon murid baru berbondong-bondong mendaftar di sekolah itu, namun ujian saringan yang ketat tersebut juga memotong jumlah pendaftarnya lebih dari setengah dan menyisakan 100 orang murid baru yang bisa menjamah pendidikan di sana dari ribuan pendaftar. Mereka yang terdaftar di sekolah menengah atas Teikou pun tidak hanya dari golongan orang kaya saja, namun otak mereka serta bakat yang mereka miliki pun harus ada dan mencolok, sehingga tidak heran bila standar di sekolah tersebut sangat tinggi.

Selain itu, Teikou sendiri juga memisahkan siswanya ke dalam dua kategori yang nantinya akan menghuni dua gedung utama yang ada di dalamnya, gedung reguler dan gedung khusus. Gedung reguler adalah gedung yang dipergunakan oleh siswa-siswa reguler Teikou untuk belajar, mereka yang berada di sana bisa dikatakan di atas rata-rata namun tidak bisa mendapatkan predikat spesial, dan mereka yang menghuni gedung khusus pun adalah kebalikan dari mereka yang ada di gedung reguler, lebih terdidik dan berbakat dari siswa yang menghuni gedung reguler. Meskipun demikian, gedung reguler adalah tempat yang sangat spesial dan istimewa, sebab di sana itu adalah tempat dimana Kuroko Tetsuya dan Kagami Taiga berada.

Kedua teman baik semenjak mereka masih mengenakan popok itu terlihat berjalan beriringan menelusuri koridor panjang yang ada di gedung reguler, terlihat mereka berdua tengah asyik bercengkerama untuk menuju ke arah kelas setelah dari kantin untuk makan siang, atau lebih tepatnya Kagami lah yang mengoceh tiada hentinya sementara Tetsuya yang berjalan di sampingnya hanya diam seraya menyesap susu kotak rasa vanilla yang tengah ia pegang.

"Kenapa kau kemarin tidak bilang, Kuroko? Aku ini sahabatmu tahu!" Ujar Kagami, suaranya terdengar begitu gusar dan wajahnya yang sebenarnya sudah seram bertambah seram.

Yang ditanya hanya diam, tidak balik menyahut sebab Tetsuya masih sibuk dengan susu kotaknya yang berasa vanilla itu dalam diam, hanya berjalan dengan gemingan singkat yang terpasang di wajah datar tanpa emosinya.

"Kau bisa mati di tempat, Kuroko, lalu bagaimana dengan mayatmu nanti!" raungan yang 'sedikit' bersemangat dari Kagami itu membuat beberapa siswa yang berada di koridor itu mendengarnya, dan mereka pun memberikan tatapan penuh tanda tanya kepada Kagami, yang tentu saja langsung dihiraukan oleh pemuda berambut merah kehitaman tersebut.

Tetsuya masih diam bergeming, susu kotaknya yang sudah tidak bisa ia sesap lagi isinya langsung ia buang di tempat sampah terdekat yang ada di sana sebelum meneruskan langkah kakinya bersama Kagami.

"Kagami-kun tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja," jawab Tetsuya dengan datar dan tatapan mata yang ditujukan kepada Kagami, sang sahabat yang kali ini langsung melontarkan sejuta protes karena dicap khawatir oleh Tetsuya.

"A..Aku tidak khawatir, bodoh! Untuk apa aku khawatir pada orang ceroboh sepertimu, Kuroko!" Kagami pun menyangkal perkataan Tetsuya dengan telak, namun tingkahnya yang konyol itu memberikan nilai tambah yang cukup menghibur remaja berambut biru langit tersebut.

"Tak apa, Kagami-kun, aku mengerti akan kepedulianmu," imbuh Tetsuya lagi, ia mengerti kalau saudara tanpa hubungan darah dengannya ini terkadang penuh akan penyangkalan, dan menggoda orang yang bertipe seperti ini sangat menarik untuk dilakukan, sehingga remaja berwajah datar tanpa emosi ini tidak pernah absen dalam kegiatannya untuk menggoda Kagami di setiap kesempatan.

Tetsuya tidak menjawab lagi maupun merespon tatkala Kagami yang merasa malu itu menghadiahinya dengan tatapan ganas yang mirip seperti seekor harimau yang siap menghajar rivalnya, tatapan itu sudah sering Tetsuya terima sehingga ia pun kebal dengan semua itu.

Pelajaran selanjutnya adalah sastra, sebuah pelajaran yang sangat ia sukai meski pun beberapa orang yang ia kenal tidak berpendapat sama dengan dirinya. Tidak ada alasan khusus mengapa ia begitu menyukai sastra, namun dengan mempelajarinya serta menenggelamkan diri Tetsuya pada deretan kalimat-kalimat indah yang penuh akan makna itulah yang membuat Tetsuya merasa betah berada di kelas yang akan ia terima sebentar lagi. Dan dengan sastra pula lah Tetsuya bisa melupakan sejenak beban hidupnya yang tidak pernah menghilang dari hadapannya meski remaja berparas manis itu tidak bisa hilang, bahkan cenderung bertambah seiring bergulirnya waktu.

"Tapi aku senang kau bisa selamat dari kecelakaan yang naas itu, Kuroko, siapapun orang yang menolongmu pasti dikirim oleh Tuhan untuk menjagamu," ujar Kagami lagi.

Berita tentang Tetsuya yang hampir menjadi korban kecelakaan naas kemarin sore itu langsung terdengar di telinga Kagami meski orang-orang yang ada di sekitar mereka tidak tahu akan hal itu, mungkin keberadaa Tetsuya yang kelewat tipis itulah yang menjaga berita tersebut untuk tidak tersebar. Tapi pada dasarnya Kagami Taiga adalah orang yang kenal betul akan Tetsuya, sehingga pemuda yang meski sering kecolongan gara-gara keberadaan Tetsuya itu langsung mendapat endusan berita tersebut. Dan reaksi pertama yang Kagami lakukan setelah mendengar kabar tersebut adalah mengklarifikasinya, ia langsung menghampiri sosok Kuroko Tetsuya tadi pagi sebelum bertanya padanya dengan suara yang sedikit tinggi, tidak lupa dengan ceramah pagi dari Kagami yang terpaksa Tetsuya telan secara bulat-bulat.

Tetsuya pun menghela nafas pelan karena lagi-lagi Kagami akan berceramah mengenai kewaspadaan diri serta tidak boleh melamun ketika berjalan, telinganya sudah panas tadi pagi dan Tetsuya pun tidak ingin menambah rasa penderitaannya untuk mendengarkan ocehan tersebut. Tanpa mempedulikan Kagami yang masih mengoceh tidak keruan, remaja berparas manis tersebut memanfaatkan keberadaannya yang sangat tipis untuk kabur dari hadapan Kagami.

Sepertinya Tuhan berkehendak lain saat Tetsuya mencoba kabur dari hadapan pemuda beralis ganda itu, dan mungkin pula nasib Tetsuya hari itu bisa diumpamakan seperti keluar dari mulut harimau namun masuk mulut buaya. Sekalinya Tetsuya berhasil untuk kabur, ia pun pada akhirnya ditangkap oleh seseorang yang sangat ia kenal dan terkernal sangat suka untuk memeluknya sampai Tetsuya kehabisan nafas, membuatnya sesak dan tidak jarang memiliki pemikiran untuk memukul orang kurang ajar yang hobi memeluknya (atau melakukan pembunuhan secara tidak terduga) seperti ini.

"KUROKOCCHI! I MISS YOU!" Ucapan bahasa Inggris yang terujur dari suara cempreng milik seseorang yang memeluknya itu pun membuat orang-orang yang tadi tidak mengetahui keberadaannya langsung menoleh ke arahnya, bersama dengan orang yang tengah memeluknya tersebut.

"Sudah lama aku tidak bertemu dengan Kurokocchi, rasanya seperti bertahun-tahun lamanya-ssu!" ucapan yang begitu khas, suara cempreng yang sangat Tetsuya kenal, dan jangan lupakan kelakuan kurang ajar yang sangat dikenal Tetsuya pun langsung membuatnya menghela nafas berat.

Sekiranya ia lebih memilih untuk bersama dengan Kagami, pemuda itu tidak akan memeluknya seperti yang dilakukan oleh sang super model ini.

"KISE! LEPASKAN KUROKO, BODOH! DIA BISA TERBUNUH!" Sebuah pukulan singkat dari orang yang Tetsuya sebut di dalam benaknya pun mendarat dengan mulus di atas kepala pemuda berambut pirang yang saat ini tengah memeluk Tetsuya, yang hampir kehabisan nafas tersebut.

Mungkin lain kali Tetsuya tidak akan lagi kabur dari hadapan Kagami bila ia tahu Kise berada di gedung reguler dan tengah mencarinya seperti ini, ia masih tidak ingin mati muda dikarenakan pelukan maut yang Kise berikan padanya. Remaja berambut biru langit itu pun mengambil satu langkah mundur ke belakang, di samping Kagami, setelah tubuh mungilnya dilepaskan oleh Kise yang tengah mengaduh kesakitan dan merengek kepada Kagami.

Pemuda berambut pirang keemasan yang memiiki hobi memeluk Tetsuya ini adalah Kise Ryouta, sang model yang pernah Tetsuya lihat di beberapa halaman majalah, dan ia pun juga dijuluki sebagai super model tahun ini seperti Aomine Daiki. Kise sendiri adalah satu dari diantara murid yang mengenyam pendidikannya di Teikou, namun berbeda dengan Kagami dan Tetsuya yang menjadi siswa reguler dan menghuni gedung reguler, Kise Ryouta ini adalah siswa dari gedung elit khusus yang ada di seberang. Meskipun Kise adalah siswa khusus, tapi keberadaanya yang sering menyambangi gedung siswa reguler ini bukanlah pemandangan yang jarang terjadi, sangat sering terjadi malahan, apalagi bila kunjungannya ini menyangkut sesosok siswa bertubuh mungil dan berparas manis bernama Kuroko Tetsuya.

Lagi-lagi Tetsuya menghela nafasnya dengan berat, merasakan sakit kepala yang begitu mengganggu mulai muncul di kepalanya. Ia menyalahkan Kise akan sakit kepala yang ia derita kali ini, kalau saja pemuda berambut pirang itu tidak berteriak seraya menghimpit Tetsuya dengan tubuhnya pasti semua ini tidak akan terjadi.

"Apa yang Kise-kun lakukan di sini?" Tanya Tetsuya dengan singkat, mencoba menengahi pertengkaran aneh yang terjadi antara Kise dengan Kagami yang sama-sama tidak mau mengalah. Dengan begini pertengkaran yang bersifat kekanakan pun tidak akan berlanjut serta memudahkan Tetsuya untuk menghindari sakit kepala yang parah. "Bukankah seharusnya Kise-kun berada di dalam kelas sekarang ini? Jarak gedung ini dengan gedung dimana Kise-kun belajar sangat jauh."

Kise, yang mendengar suara manis dari Kurokocchi-nya pun langsung memalingkan wajahnya dari Kagami, senyuman lebar yang begitu bersinar seperti sebuah matahari sendiri pun langsung terpampang di bibir Kise ketika Tetsuya memanggilnya. Dalam hati Tetsuya sedikit berjengit dan ingin bersembunyi di balik tubuh besar Kagami, terlebih ketika Kise sudah menampakkan emosi yang seperti itu.

"Aku ingin mengunjungi Kurokocchi," jawab Kise yang kelewat ceria, namun antusiasmenya itu hanya ditanggapi secara datar oleh Tetsuya menggunakan sebuah anggukan. Meski senang karena ada yang masih mau mengunjunginya, namun Tetsuya tidak ingin dirinya dipeluk-peluk seperti tadi. Kise mau menangis rasanya melihat sang pujaan hati menanggapi semua itu dengan datar dan tidak mengutarakan apapun. "Kurokocchi…..harusnya kau menujukkan sedikit emosi saat aku mengatakan itu-ssu!"

"Memang Kise-kun mau aku bagaimana? Apakah aku harus marah pada Kise-kun agar aku 'mengeluarkan emosi' seperti yang Kise-kun katakan?" pertanyaan singkat nan polos itu sukses membuat Kagami hampir gagal menahan tawa yang akan meledak dari mulutnya serta membuat Kise sedikit sesenggukan.

"Bukan begitu-ssu…Tapi minimal Kurokocchi senang lah dengan kehadiran super model tampan seperti diriku ini-ssu!" Ujar Kise dengan semangat membara, hal ini begitu jelas dilihat oleh Tetsuya yang masih berdiri dengan kalem di samping Kagami.

"Kurasa Kuroko tidak punya alasan untuk bertingkah seperti orang bodoh di hadapanmu, Kise," sahut Kagami yang ikut menimpali begitu saja.

Gara-gara ucapan Kagami itu, Kise yang notabene tengah tergila-gila dengan Tetsuya langsung melayangkan tatapan sedikit ganas kepada Kagami, yang balik membalasnya dengan tatapan malas dan merasa tidak penting meladeni orang terkenal seperti Kise. Kontes saling menatap yang dilakukan keduanya pun pada akhirnya berubah menjadi kontes saling mengeluarkan verbalitas, menyahuti satu sama lain dalam pertengkaran adu mulut yang diselingi humoritas seperti biasa.

Tetsuya yang sedari tadi melihat mereka berdua pun hanya bisa pasrah, rasanya ia ingin segera kembali ke dalam kelas agar dirinya bisa beristirahat singkat di sana sebelum menerima pelajaran sastra sebentar lagi. Tidak ingin terlibat dengan kontes adu mulut yang konyol antara Kagami dengan Kise, remaja berparas manis itu pun meninggalkan mereka berdua di sana dalam kesendiriannya, ia pun kembali berjalan menyusuri koridor seolah-olah ia tidak bertemu dengan Kise beberapa saat yang lalu.

Derap langkahnya yang begitu halus itu terkadang membuat hawa keberadaannya yang sangat tipis itu menjadi semakin tak terlihat, tidak heran bila orang-orang sering menganggap ada hantu yang mendekat ketika mendengar derap tersebut, itu pun kalau mereka tengah sendirian dan kebetulan sekali Tetsuya berada di dekat mereka. Untuk kesekian kalinya pada hari itu, langkah kakinya terhenti di perempatan koridor yang mengubungkan tempat itu dengan koridor yang lain, namun bukanlah koridor yang membuatnya berhenti begitu saja, dan juga bukan sebuah pelukan erat yang menghentikannya seperti apa yang Kise lakukan. Yang membuat Kuroko Tetsuya menghentikan langkahnya adalah pemandangan mading yang terbingkai sempurna oleh kaca menarik perhatiannya. Mungkin berita-berita yang ditulis dalam mading itu tidaklah terlalu spesial sampai menarik perhatian Tetsuya, namun sebuah pamflet yang tertempel oleh paku payung di dalam kaca mading itulah yang menarik perhatian Tetsuya.

Pengumuman mengenai acara ulang tahun Teikou yang diadakan Jumat ini begitu menarik perhatiannya, namun kedua matanya tidaklah menilik kolom acara maupun ajakan yang ditawarkan di dalamnya, tapi kedua iris berwarna biru langit yang teduh tersebut tertuju pada sebuah lowongan pekerjaan singkat namun memberikan honor yang lumayan bila beberapa siswa mau melakukan pekerjaan ringan untuk menyemarakkan acara tersebut. Dari beberapa lowongan pekerjaan yang Tetsuya baca, perhatiannya pun fokus pada tawaran untuk menjadi maskot sekolah selama sehari, dan Tetsuya yang sangat membutuhkan uang itu pun tidak akan melewatkan kesempatan ini begitu saja. Setelah membaca di mana tempat pendaftarannya dari pamflet tersebut, dengan langkah singkat Tetsuya pun bergegas untuk menuju kantor dewan siswa, dalam hatinya pun Tetsuya berharap belum ada orang lain yang mengisi tawaran menjadi maskot sekolah karena ia yakin pekerjaan ini akan sangat cocok untuk dirinya.


Baju tebal khas badut maskot-maskot itu sangatlah tidak nyaman untuk dikenakkan, tidak hanya begitu pengap dan panas, namun juga bergerak sedikit pun membutuhkan tenaga ekstra yang cepat membuat seseorang menjadi kelelahan karena memakainya, tidak heran bila tidak ada orang yang mau menawarkan diri mereka utuk menjadi maskot kalau orang tersebut bukanlah orang yang begitu mendambakan mendapat upah dari pekerjaan ini seperti apa yang Tetsuya lakukan.

Mengenakan baju super tebal dan berbentuk burung berbulu oranye serta penutup kepala yang menutupi sekujur kepalanya itu membuat Tetsuya kewalahan. Siapapun yang merancang maskot Teikou seperti ini butuh masukan yang lebih banyak darinya, namun untuk saat ini ia tidak bisa protes ketika tengah memerankan maskot Teikou dan melayani sesi foto bersama beberapa anak kecil dan siswa yang merasa tertarik karena kostum Tetsuya yang lucu tersebut. Meski Tetsuya phobia dengan kamera, asalkan wajahnya masih terhalang dari bidikan kamera maka ia pun tidak apa-apa. Sejak tadi pagi Tetsuya pun berkeliling lapangan depan sekolah yang ramai oleh orang-orang tersebut, dengan mengenakan kostum tebal dan pengap serta memegang beberapa balon warna-warni yang ia bagikan kepada orang-orang.

Acara ulang tahun Teikou yang ke-47 ini sangat ramai, tidak hanya dipadati oleh siswa-siswanya saja, namun juga alumni yang dulu pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah Teikou beberapa tahun yang lalu. Dalam sekali lihat semua tahu kalau acara ini juga bisa diartikan sebagai acara reuni bagi alumni.

Dalam hati Tetsuya melihat festival yang diselenggarakan oleh sekolahnya dengan miris, rasanya ini adalah kali pertamanya Tetsuya tidak berpartisipasi dalam mengikuti kesenangan yang tersedia, seperti membeli makanan bersama Kagami ataupun menikmati wahana rumah hantu dan sebagainya bersama yang lainnya, namun kali ini Tetsuya berpartisipasi agar ia mendapatkan uang, meski pun cara melakukannya adalah menjadi badut seperti ini. Apa yang Tetsuya lakukan ini tidak diketahui oleh Kagami, sebab bila pemuda berambut merah kehitaman itu tahu akan apa yang tengah ia kerjakan maka bisa dipastikan Kagami lah yang akan menggantikan Tetsuya dan nantinya uang tersebut untuk Tetsuya saja. Tidak….. meski pun ia senang akan sikap sang sahabat yang begitu (kelewat) baik padanya, namun remaja bertubuh mungil itu tidak mau memanfaatkan temannya, selagi Tetsuya bisa melakukannya sendiri maka ia pun akan melakukannya.

Dengan wajah datar yang tersembunyi di balik topeng penuh senyuman yang tengah ia kenakan pada kostum burungnya itu, Tetsuya pun melayani sesi foto bersama dengan sekumpulan anak-anak yang menariknya untuk berfoto. Nyaris saja Tetsuya terjungkal karena pelukan seorang anak kecil yang begitu erat menariknya, namun kali ini keberuntungan pun berada di pihak Tetsuya saat remaja itu dengan sigap menyeimbangkan bebannya sehingga ia pun dapat mencegah dirinya untu tidak terjatuh secara memalukan itu.

Jam pun masih menunjukkan angka 12 siang, berarti sudah tiga jam lebih dirinya berfose dan melayani sesi foto bersama, tidak heran kalau tubuhnya merasa begitu lelah setelah pekerjaan besar pertamanya ini ia lakukan. Rasanya begitu ajaib bagi Tetsuya untuk tidak jatuh pingsan karena kepanasan selama tiga jam lebih, dan seperti mimpi saja dirinya tidak terjatuh juga maupun mengalami kesialan seperti biasanya selama berada di dalam kostum burung konyol. Melihat jam istirahat baginya mulai bergulir, Tetsuya pun menarik dirinya dari keramaian lapangan depan, dan pergantian si kostum burung itu pun diambil oleh rekannya sampai tiga jam ke depannya sebelum Tetsuya beraksi lagi.

Semua ini demi nenek, pikir Tetsuya dalam hati seraya beranjak pergi dengan masih mengenakan kostum konyol yang lengkap dengan topeng yang ia kenakan. Remaja berambut biru langit itu pun beristirahat di salah satu taman sekolah yang cukup sepi dari pengunjung, dan melihat hal itu pun membuat Tetsuya semakin percaya diri untuk melepas topeng kostum yang tengah ia kenakan, memperlihatkan sosoknya yang manis meski bermandikan peluh dari ujung rambut sampai badan yang kini masih tertutup oleh sang kostum burung yang ia kenakan.

Lelehan keringat pun jatuh dari pelipis Tetsuya dan turun ke pipinya sebelum masuk ke dalam leher kostumnya, tubuhnya terasa basah oleh keringat dan lengket, rasanya ia butuh mandi di bak mandir berisi air segar untuk menghilangkan semua ini, namun ia tidak mungkin melakukannya sekarang sebab ia masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan menggunakan kostum konyol yang masih ia kenakan dengan setia saat ini. Tetsuya pun bernafas sedikit lega, ia bisa mengistirahatkan tubuhnya yang terasa begitu lelah untuk beberapa waktu lamanya sampai istirahat makan siang yang diberikan oleh panitia selesai.

Tetsuya pun mengelap keringatnya menggunakan tangannya yang masih berselimut kostum, dirinya begitu larut dalam lamunan yang ia miliki sementara angin yang cukup segar pun menghembuskan semilirnya pada Tetsuya, membebaskannya dari rasa gerah meskipun tidak terlalu banyak. Dua fakta yang membuatnya sedikit bersantai itu menurunkan penjagaan yang Tetsuya miliki, bahkan karena itulah dirinya tidak sadar sudah menjadi objek jepretan kamera dalam posisinya yang masih tidak sadar akan keadaan sekelilingnya, begitu indah layaknya mahakarya asli tanpa ada tipu daya yang menyertainya.

Perhatian Tetsuya pun langsung kembali pada kenyataan karena lagi-lagi suara jepretan kamera itu muncul lagi dan membuatnya terkesiap. Kedua mata biru langitnya langsung terarah pada asal jepetran kamera tersebut, dan kedua bola mata itu pun terbelalak saat sorot fokus sang pengambil gambar diluruskan padanya untuk beberapa saat lamanya.

"Ah….." suara singkat pun keluar dari mulut Tetsuya saat jepretan terakhir mengambil gambarnya, namun yang membuatnya kehilangan kata-kata bukan karena gambar dirinya yang diambil meski pun ia phobia terhadap kamera, namun sang fotografer lah yang menjadi objek perhatiannya.

Helaian rambut berwarna merah darah yang sama, lalu topi hitam itu yang tersemat di kepalanya. Tidak hanya itu saja, perhatian Tetsuya semakin tercurah saat sang fotografer menurunkan kamera yang ia gunakan untuk mengambil gambar Tetsuya dan kedua mata mereka pun bertemu. Sepasang mata berwarna heterokrom yang tersebunyi di balik lensa kacamata tipisnya, dan jangan lupakan tatapan mata tajam itu terus mengarah padanya yang tanpa sadar membuat kedua lutut Tetsuya serasa melemas.

Tetsuya sadar sekarang, sang fotografer yang mengambil gambarnya itu adalah orang sama yang menolongnya kemarin sore dari kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya. Siapakah orang itu? Pertanyaan singkat itulah yang tiba-tiba tersemat dalam pikiran Tetsuya.


AN: Terima kasih kepada teman-teman yang menyempatkan untuk mampir serta membaca fic sederhana ini. Dan saya ucapkan terima kasih pula kepada teman-teman yang sudah mereview, memfavorite, serta memfollow fic ini. Semoga chapter ini tidak mengecewakan kalian.

Author: Sky