Selama perjalanan menuju Indonesia, sejak dari bandara tadi Ino tak mengucapkan sepatah katapun. Dia hanya mengikuti kemana Neji menuntunnya. Dia telah menyerahkan hidupnya pada Neji. Dia yakin Neji telah memikirkan semuanya dan pasti akan memberikan yang terbaik untuk Ino. Neji sudah berjanji dan Ino meyakini. Tapi rasa bersalah tetap menyelimuti hatinya setelah mendengar cerita Neji malam tadi. Ino tau sejak awal dia telah bersalah pada Hinata. Ino sudah tau betapa besar cinta Hinata pada Neji.

Tapi saat sang pria bilang cinta,

Si gadis terlalu bahagia,

dan dengan egois menerimanya,

Tanpa peduli ada yang terluka.

/

.

/

Naruto adalah milik Masashi Kishimoto - sensei

^_^ Love to be Fought ^_^

By : Star Azura

Untuk kesenangan semata

Asyiik menuang khayalan

Warning : 2shoot, Semi-M and others

DLDR

Enjoy it!

/

.

/

"Semua akan baik-baik saja. Percayalah padaku." pinta Neji lembut, selembut genggaman tangannya. Dengan mata sayunya Ino menolehkan kepalanya menatap Neji, lalu dia menyandarkan kepalanya lelah dibahu Neji. Ino merasa tak perlu menjawabnya, karena sedikitpun tak ada keraguan dihatinya terhadap Neji.

"Di Indonesia, untuk sementara kita akan tinggal dirumah sahabat lamaku. Namanya Shikamaru. Dia diplomat dikedutaan Jepang yang ada di kota bernama Medan. Dan dia akan membantu kita mengurus semuanya disana. Jadi jangan mengkhawatirkan apapun, Hm!" ujar Neji. Dia hanya ingin mengusir keheningan diantara mereka. Jadi menjelaskan beberapa hal tentang tempat tinggal baru mereka pada Ino, rasanya tidak ada salahnya. Walaupun Ino hanya menjawab dengan anggukan saja, Neji sudah cukup puas. Dia tidak ingin memaksa Ino untuk segera kembali menjadi dirinya yang ceria. Biarlah waktu yang menghapus kesedihannya.

"Shikamaru bilang, kota tempat tinggalnya sekarang cukup ramah dan menyenangkan untuk ditinggali. Walaupun kau harus siap-siap dengan musim panas setiap hari. Tapi orang-orang disana punya rasa empati yang besar pada orang lain. Mereka sangat suka tolong menolong, tanpa melihat siapa dirimu. Disana kau ju-"

"Neji-niisama!" potong Ino. Neji menaikan alisnya tersenyum tipis pada Ino. Suara pertama Ino yang didengar Neji hari ini.

"Hn?"

"Sejak kapan kau jadi sangat suka bicara?" tanya Ino.

Neji mengerjab dua kali, lalu tertawa mendengar pertanyaan Ino,"Sejak kau menjadi sangat pendiam, sayangku" jawab Neji membuat Ino langsung menolehkan kepalanya penuh menghadap Neji.

"Apa?" tanya Neji.

"Kau memanggilku apa?" tanya Ino memastikan pendengarannya. Kalau tidak salah tadi Neji mengatakan…

"Sayangku!" jawab Neji tanpa ragu.

Ino mengerutkan alisnya, "Hei.. Siapa kau?" tanya Ino. Rasanya dia tak mengenali Neji.

Neji paham pertanyaan itu, karena itu dia menarik kepala Ino dan mengecup pucuknya khidmad."Ini aku! Neji yang kau cintai dan akan selalu mencintaimu" Ino tidak mengerti, Neji berubah. Tapi entah mengapa relung hatinya menjadi hangat sekali. Hingga dia mulai menangis.

"Ino. Bantu aku memulai kehidupanku yang baru. Bantu aku untuk lepas dari semua beban yang mengikatku dikeluarga Hyuuga. Aku ingin bebas mengejar kebahagianku yang ada padamu." Neji menciumi tangan Ino penuh kasih.

"Arigatou. Neji-niisama" balas Ino. Dia bahagia, sungguh bahagia Neji ada bersamanya dan menyelamatkannya. Kalau tidak selamanya dia hanya akan menjadi anak haram keluarga Hyuuga. Soal Hinata. Sekejab saja, dia pasti akan kembali bahagia. Ada banyak orang yang menawarkan cinta untuknya. Akhirnya, Ino bisa tersenyum lega.

Tak lama kemudian. Mereka mendarat dan menginjakkan kaki di Indonesia tepat di Bandara International Kuala Namu. Begitu keluar dari pintu kedatangan, Neji bisa melihat sahabat lamanya malas-malasan memegang selembar kertas karton dengan tulisan berwarna-warni yang Neji belum terlalu paham maksudnya. Tapi sudah pasti itu bukan tulisannya, sahabatnya itu tak sekreativ itu apalagi pasti itu merepotkan.

"Yo. Hisashiburi!" sapa Shikamaru. Neji membalasnya dengan meninju pelan dada Shikamaru.

"Hisashiburi. Genki?" balas Neji.

"Seperti yang kau lihat." Shikamaru merentangkan tangannya untuk menunjukkan keadaan fisiknya yang sehat. Tapi Neji malah merangkulnya hangat. Shikamaru mengerutkan kening. "Apa aku salah mengenali orang?" tanya Shikamaru. Seingatnya Neji bukan orang yang akan merindukan orang lain sampai-sampai akan memeluknya seperti ini.

"Aku hanya ingin berterimaksih padamu!" jawab Neji,"Terimakasih telah membantuku!" ujar Neji tulus.

"Hei..yang kulakukan baru sekedar menjemputmu di bandara." Shikamaru menepuk punggung Neji dua kali dan melepaskan pelukan mereka. Agak risih karena orang-orang mulai melirik mereka. Dia melirik Ino yang berdiri beberapa langkah dibelakang Neji. "Jadi? Apakah kau sang Golden Shark?" tanya Shikamaru pada Ino.

Ino mengerutkan dahinya,"Golden Shark?" tanya Ino heran.

Shikamaru melirik Neji. Lalu Neji menarik Ino agar berdiri disampingnya." Kenalkan! Dia Ino Yamanaka. Calon Istriku"

"Eh?" Ino langsung menoleh mendengar cara Neji memperkenalkannya.

Shikamaru hanya mengangkat alisnya. Neji benar-benar berusaha menjadi diri yang baru rupanya."Shikamaru Nara. Yoroshiku!" Ino membungkukkan sedikit badannya."Hei..tak perlu melakukan hal itu disini" larang Shikamaru. Tentu saja. Mereka sedang tak di Jepang, dan orang-orang di Indonesia tak memberi hormat dengan cara seperti itu.

"Baiklah. Kupikir kita sebaiknya segera pergi dari sini." ajak Shikamaru yang dibalas dengan anggukan oleh pasangan itu dan mengikuti Shikamaru menuju tempat parkir yang kemudian membawa mereka berdua kerumahnya di daerah Setia Budi dengan Fortuner hitamnya.

Setibanya dirumah, mereka langsung disambut oleh seorang wanita hamil berwajah oriental yang merupakan istri Shikamaru. Namanya TenTen. Dia merupakan warga negara Indonesia keturunan Tionghoa yang biasa dipanggil Titin oleh warga setempat.

"Konnichiwa!" sapanya ramah dengan bahasa jepang yang dihapalnya.

"Konnichiwa!" balas Ino.

Tenten melirik Shikamaru, selanjutnya dia tak tau harus mengucapkan apa pada tamunya. Dan Shikamaru paham.

"Masuklah!" ajak Shikamaru mengajak mereka masuk. "Istriku tidak bisa bahasa Jepang. Sehari-hari kami menggunakan bahasa Indonesia atau Inggris" ujar Shikamaru menginfokan. "Kau bisa bahasa inggris?" tanya Shikamaru pada Ino. Kalau Neji Shikamaru tak ragu lagi. Pria itu bahkan sudah menguasai empat bahasa asing, selain bahasa jepang sendiri.

Ino menggeleng,"Aku tidak terlalu terampil berbahasa inggris. Maaf."Jawab Ino.

"Seharusnya kau belajar dengan rajin disekolah!" Celetuk Neji. Membuat Ino menggembungkan pipinya manis sekali.

"Hn. Sepertinya kau harus mengikuti kelas kursus bahasa. Kalau tidak akan sulit bagimu beradaptasi." Ino mengangguk patuh.

Tidak lama Tenten datang membawakan air minum dan kue. Sebelum menunjukkan kamar mereka masing-masing. Syukurnya rumah Shikamaru cukup besar sehingga tidak akan ada yang tidur diluar. Yah walaupun di jepang mereka sudah sering tidur bersama, tapi Shikamaru tidak akan membiarkan mereka melakukan hal itu ditempatnya. Lagipula mereka di Indonesia sekarang, di negeri yang masih sangat menjunjung tinggi norma agama. Kalau warga sekitar sampai mengetahui mereka tidur bersama sebelum menikah, bisa-bisa Shikamaru diusir dari tempat tinggalnya.

Dan malam pertama Neji dan Ino di Indonesia hanya dihabiskan dengan berbagai pembicaraan dengan Shikamaru dan istrinya seputar kehidupan di Indonesia khususnya di kota Medan. Sebelum akhirnya Shikamaru mengajak istrinya kekamar karena dia merasa udara mulai tak bersahabat bagi wanita hamil. Neji pun meminta Ino untuk kekamarnya dan beristirahat hingga tinggallah dia seorang di teras belakang. Merenungi kehidupan yang telah dia lalui selama ini, memikirkan langkah yang akan dia ambil selanjutnya. Sembari menikmati angin malam di kota Medan yang cukup hangat baginya.

"Kumohon. Biarkan aku dan Ino meraih kebahagiaan," Ujar Neji pada bulan sabit yang tampak jelas di langit kota Medan.

/

.

/

#*STAR*#

/

.

/

Begitu pagi menjelang Neji langsung mengutarakan langkah awal yang akan diambilnya untuk memulai kehidupan barunya pada Shikamaru dan semua yang ada di meja makan saat itu,"Aku akan menikahi Ino" kata Neji lantang. Shikamaru tidak banyak komentar, dia hanya tersenyum menghargai keputusan bijak yang diambil sahabatnya.

"Shikamaru. Aku mohon bantuanmu lagi untuk mempersiapkan segalanya,"pinta Neji tulus. Dia perlu bantuan Shikamaru untuk mengurus segala administrasi untuk melegalkan hubungannya dengan Ino dalam sebuah pernikahan. Soal resepsi, sepertinya Neji tidak perlu memusingkannya. Toh, tidak ada yang dia kenal di negara ini kecuali Shikamaru dan istrinya.

"Serahkan padaku" jawab Shikamaru.

"Aku juga butuh rumah dan pekerjaan" ujar Neji lagi. Yah, tidak mungkin Neji akan terus tinggal bersama Shikamaru dan istrinya. Secepat mungkin setelah pernikahan Neji akan tinggal dirumahnya sendiri. Lagipula saat ini dia punya cukup banyak uang untuk membeli sebuah rumah sederhana tapi nyaman seperti milik Shikamaru. Tapi walau begitu, Neji ingin segera mungkin mendapat pekerjaan yang layak agar dia bisa memantabkan langkahnya.

"Seperti yang kuharapkan dari seorang Neji," Shikamaru bermaksud menyindir sahabatnya yang selalu serius pada setiap rencananya.

"Terimakasih" Neji melirik Ino yang memasang wajah terkejut, tapi toh Neji juga tak merasa perlu untuk menanyakan kesediaan Ino menikah dengannya. Karena Neji tau Ino sudah sepenuhnya menyerahkan segalanya pada dirinya. Ino percaya dan bergantung padanya, itulah yang membuat Neji bahagia.

"Congratulation for you, I'll prepare a simply party to celebrate it," ujar Tenten sembari mengacungkan jempolnya. Shikamaru menaikkan sebelah alisnya melihat tingkah istrinya yang menggemaskan.

Setelah sarapan pagi, Shikamaru mengajak Neji pergi. Ada banyak hal yang harus dia dan Neji urus. Lebih cepat akan lebih baik bagi Neji dan Ino untuk memapankan kehidupannya. Shikamaru membawa Neji untuk mengurus administrasi tinggal, ke catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan, menemui beberapa koleganya yang sekiranya bisa membantu Neji mendapatkan pekerjaan yang layak. Soal rumah, Shikamaru menawarkan Neji untuk tinggal disekitaran komplek tempat tinggalnya dan Neji setuju karena disana akan ada Tenten yang dengan senang hati akan membantu Ino.

"Syukurlah kau membawa semua berkas pentingmu dan Ino. Kalau begini kau bisa menikah dengan Ino minggu depan. Soal pekerjaan, aku yakin mereka akan mempertimbangkan kemampuan dan pengalamanmu" saat ini Shikamaru dan Neji sedang dalam perjalanan pulang.

"Hn. Kuharap semua akan berjalan lancar" Neji mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil. Bicara pernikahan mengingatkannya pada pernikahannya dan Hinata yang harusnya terjadi beberapa hari lagi. Rasa bersalah menyusup kehatinya. Apa yang sekarang sedang terjadi dikediaman Hyuuga dan bagaimana Hinata menghadapi hal itu sendirian? Mungkin saat ini Neji harus membenarkan kata-kata Sasuke, teman seprofesinya dulu 'Akan selalu ada orang yang menderita untuk setiap kebahagiaan yang kita raih'.

"Shikamaru, bisa kau membawaku kesuatu tempat?" tanya Neji.

"Hari ini aku adalah pelayanmu, tuan!" jawab Shikamaru bercanda.

/

.

/

#*STAR*#

/

.

/

Saat Shikamaru dan Neji pulang, rumah sudah gelap. Sepertinya Tenten dan Ino sudah tidur. Neji melirik arlojinya.

"Pantas saja, ternyata sudah pukul 11 malam" ujar Neji pada Shikamaru yang sedang membuka pintu.

"Sejak Tenten hamil aku memintanya tidur paling lama pukul 10 malam."

"Familyman" sindir Neji. Shikamaru hanya mengangkat bahunya tak acuh. Pintu rumah tebuka dan mereka masuk dengan tenang. Tak mau membuat suara yang akan menganggu para wanita dikamar mereka.

"Kau mau minum dulu?" Shikamaru menawarkan.

Neji menggegeleng,"Aku mau melihat Ino kekamarnya lalu langsung tidur"

"Kheh.. Dasar Overprotektif" ejek Shikamaru. Neji tersenyum miring menanggapinya.

"Ah..Neji!" panggil Shikamaru. Neji menoleh dengan pandangan bertanya,"Kau tidak boleh tidur dikamar Ino! Ingat itu!" seru Shikamaru. Neji langsung memalingkan kepalanya dan berjalan santai kekamar Ino tanpa perlu menanggapi peringatan Shikamaru. "Hhhh…Ini Indonesia, bung!" ujar Shikamaru dengan logat bicara khas Medan. Setelah itu dia sendiri beranjak untuk menemui istri tercintanya.

Neji membuka kamar Ino yang tak dikunci tanpa perlu meminta izin. Kamarnya sudah gelap, hanya penerangan remang-remang lampu tidur yang menjadi sumber cahaya. Ino sendiri sebenarnya belum tidur, Ia hanya memejamkan matanya. Berusaha menetralisir degupan jantungnya yang berdetak khawatir. Tak jauh beda dengan Neji, dia pun memikirkan keadaan Hinata di Jepang. Ntah bagaimana dia akan menghadapi keluarga besar Hyuuga dan para tamu undangan yang pasti akan sangat terkejut dengan ketiadaan mempelai pria di upacara pernikahannya.

"Ino?" panggil Neji. Dia mengusap lembut kepala Ino,"Jangan khawatir! Semua akan baik-baik saja. Hinata pasti bisa mengatasinya. Lagipula keluarga Hyuuga tidak akan melakukan apapun padanya." bisik Neji. Dia tau Ino belum tidur dan pasti gadisnya itu sedang mengkhawatirkan Hinata.

Ino mengerutkan keningnya, merasa ada yang berbeda dari Neji ketika pria itu mencium keningnya karena itu Ino membuka matanya,"Neji..-niisama?" keterkejutan jelas tampak diwajah Ino. Untuk sesaat dia bahkan merasa tak mengenali pria didepannya. Neji tersenyum, paham kenapa Ino terkejut.

"Kau suka dengan penampilan baruku?" tanya Neji.

Ino belum bersuara, dia mengusap lembut pipi Neji,"Untuk sesaat aku hampir tak mengenalimu" jawab Ino jujur. Hanya dengan memangkas rambut panjangnya menjadi model fringe caesar benar-benar mengubah penampilan Neji. "Kau selalu berhasil membuatku terpesona, anata" Neji menaikkan kedua alisnya dengan panggilan Ino.

"Dan kau selalu berhasil meluluhkan hatiku" Neji mulai menurunkan kepalanya untuk mencium bibir Ino.

'Hmph..' Ino menutup mulutnya dengan telapak tangan menghalangi bibir Neji menyentuh miliknya. "Shikamaru-san akan memarahi kita" ujar Ino menjawab pandangan bertanya Neji.

"Dia tidak melihat kita"

"Aku sudah janji pada Tenten-san untuk menahan diri."

"Oh.." Neji paham dan menegakkan tubuhnya. Istri Shikamaru itu juga pasti sudah menyampaikan berbagai wejangan tentang norma-norma yang harus dijunjung tinggi di negara ini. Tapi..

"Kau berjanji dengan bahasa apa?" tanya Neji heran, bukannya kedua wanita ini tak mengerti bahasa satu sama lain? Tenten tak bisa bahasa Jepang dan selain bahasa Jepang Ino tak bisa.

"Kami pakai aplikasi penerjemah bahasa" jawab Ino paham dengan pertanyaan Neji. Ino ikut mendudukan dirinya dan bersandar di kepala tempat tidur.

"Merepotkan sekali!" keluh Neji

"Mau bagaimana lagi?"

"Kau harus segera belajar bahasa setempat, aku akan mendaftarkanmu ketempat kursus setelah pernikahan kita minggu depan" Ino membulatkan matanya tak percaya. Bukan karena Neji akan mendaftarkannya ketempat kursus tapi karena kata-kata 'pernikahan minggu depan' yang diucapkan Neji dengan entengnya.

"Minggu depan?" tanya Ino.

"Hn. Shikamaru benar-benar membuat semuanya menjadi mudah. Kota ini juga sangat bersahabat" kata Neji.

"Kecuali cuacanya. Aku hampir meleleh saat menemani Tenten-san berbelanja tadi siang"

"Hahaha" mereka tertawa bersama. Hanya sesaat kemudian Ino menerjang memeluk Neji erat. Ketika tertawa Ino merasa bersalah. Dadanya kembali bergemuruh, Neji tau itu.

Neji membalas pelukan Ino, mengusap punggungnya yang gemetar,"Aku yakin Hinata pasti akan memaafkan kita kalau dia tau kita bahagia."

"Bagaimana aku bisa melakukan ini padanya..hiks? Sejak awal aku tau dia sangat mencintai Niisama, tapi aku tetap ingin memilikimu? Hiks..hiks.. Aku ingin bersamamu!" isak Ino. Dia merasa jijik dengan dirinya sendiri yang begitu egois. Pelukan Ino semakin erat seiiring sesak didadanya.

"Kau tidak merebutku, Ino! Aku yang jatuh cinta padamu!" tegas Neji. "Jadi tolong berhentilah merasa bersalah. Aku ingin kita bahagia, tinggalkan semua kesedihan kita di Jepang. Ya.." pinta Neji lembut. Dia menyesap leher Ino untuk menenangkan wanitanya juga dirinya.

Ino mengangguk,"Aku mencintaimu, Niisama"

"Aku juga" Neji melepas pelukan Ino perlahan dan mengecup bibirnya singkat,"Aku harus kembali kekamarku sekarang juga atau aku akan melanggar perintah Shikamaru" Neji mengusap lengan Ino,"Tidurlah. Dan jangan mengkhawatirkan apapun lagi. Kau, Aku dan Hinata akan baik-baik saja. Percayalah!" kata Neji sebelum dia beranjak dari tempat tidur Ino dan melangkahkan kakinya kekamarnya sendiri.

/

.

/

#*STAR*#

/

.

/

Sementara itu di Jepang tepatnya dikediamanan Hyuuga semua orang terdiam dengan apa yang baru disampaikan oleh Hinata, "Neji-niisama adalah ayah dari bayi yang dikandung Ino waktu itu. Dia jatuh cinta pada Ino dan ingin bersamanya. Karena itu dia tidak akan datang kepernikahan besok." kata Hinata dihadapan semua anggota keluarga saat mereka menanyakan ada apa sebenarnya antara dia dan Neji setelah Hinata pulih dari sakitnya sejak ia pingsan beberapa hari lalu dikamar Neji. Pernyataan Hinata tersebut sontak membuat mereka terkejut dan marah. Walaupun saat menemukan Hinata pingsan dikamar Neji yang sudah kosong mereka sudah curiga ada sesuatu yang aneh. Bahkan Hiashi Hyuuga, ayah Hinata langsung menyuruh orangnya untuk mencari Neji yang tiba-tiba menghilang entah kemana. Tapi dia tidak pernah menyangka Neji adalah pria yang menghamili Ino. Selama ini Neji benar-benar mematuhi segala peraturan dan perintah keluarga Hyuuga. Dia juga tumbuh menjadi pria yang menjunjung tinggi nilai-nilai tradisional dan harga diri keluarga Hyuuga.

"Kurang ajar, tidak tau diri! Berani sekali dua manusia terkutuk itu menghina keluarga Hyuuga seperti ini!?" Geram Hisoka Hyuuga, kakek Hinata sekaligus orang tertua dikeluarga Hyuuga.

"Sejak kapan kau tau tentang hubungan mereka?" tanya Hiashi.

"Malam sebelum dia pergi. Neji-niisama menceritakan semuanya dengan penuh kesedihan dan…penderitaan dimatanya" jawab Hinata dengan air mata yang terus mengalir.

"Temukan mereka dan bawa mereka kehadapanku!" perintah Hisoka Hyuuga dengan nada dingin diselimuti amarah.

"Ojii-sama!" panggil Hinata,"Aku memutuskan untuk melepaskan mereka" Hinata menggigit bibirnya setelah mengungkapkan keputusannya dengan tegar, semua mata memandang geram pada Hinata. Sebagai seorang Heiress keluarga Hyuuga bagaimana Hinata bisa membiarkan begitu saja penghinaan yang dilakukan padanya.

"Neji-niisama benar. Jika dia tetap memutuskan menikah denganku dan aku mengetahui fakta kalau dia mencintai Ino bahkan…" Hinata menekan rahangnya hingga lehernya menegang tak mampu mengatakan kalau mereka bahkan hampir memiliki bayi,"…Aku pasti akan lebih hancur dari ini! Hiks..hiks.." Hinata tak mampu menahan isakannya, ibunya yang melihat kondisi Hinata memeluknya sambil mengusap kepala putrinya,"Aku akan jatuh terpuruk dan tidak akan bisa bangkit lagi! Hiks..hiks.. Ibuuu aku sangat mencintai Niisama" isakannya mulai menjadi raungan yang memilukan. "Aku sudah memimpikan masa depan bersamanya, hiks…hikss… aku ingin melahirkan anak-anaknya, hiks.. Apa yang harus aku lakukan ibuuu..hiks..bagaimana aku bisa bertahan. Niisama..hiks.." kali ini Hinata ingin menumpahkan semua rasa sakitnya. Sedangkan semua orang diruangan itu benar-benar tidak tahan dengan tangisan Hinata, mereka semua sangat menyayangi Hinata sehingga tentu saja mereka sangat murka dengan perbuatan Neji dan Ino.

Hinata tak pernah menyangka dia akan mengalami kejadian pahit seperti ini. Ditinggalkan oleh orang yang sangat dia cintai sejak kecil dan dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Selama ini semua terasa sangat manis dan indah baginya. Semua orang mencintainya. Semua orang menyayanginya. Sejak kecil dia selalu hidup dalam limpahan kasih sayang, tak pernah kekurangan apapun. Neji dan Ino juga selalu memanjakannya. Tak terbesit sedikitpun mereka akan mengkhianatinya seperti ini.

"Kau terlahir dengan segala kehormatan yang kaubawa sebagai heiress keluarga Hyuuga. Sedangkan Ino terlahir sebagai anak haram dari Himeka Hyuuga. Nasib membawanya kedunia sebagai aib keluarga Hyuuga yang selamanya dipandang hina. Dan aku terlahir sebagai bunkee yang ditakdirkan untuk menjadi Abdi keluargamu. Mereka bahkan mengukir tanda kutukan didahiku," tiba-tiba Hinata teringat kata-kata Neji malam itu. Saat ini dia baru memikirkan mungkinkah sebenarnya kehidupan mereka berdua sangat sulit, tapi tetap harus memanjakannya dan menghormatinya.

"Tapi, apakah kami tak berhak berusaha untuk bahagia?" pertanyaan Neji saat itu menyadarkan Hinata bahwa mungkin selama ini dia begitu egois. Dia tidak pernah tau dan tidak pernah benar-benar bertanya apakah mereka bahagia atau tidak. Tangisan Hinata mereda mengingat hal itu.

Hinata memeluk ibunya erat, baru terpikir olehnya kalau keluarga inti Hyuuga memang tidak menghormati mereka, dia ingat saat Ino pertama kali datang mereka memandang Ino dengan benci, Ino tidak mendapat fasilitas apapun dari keluarga Hyuuga selain biaya sekolah dan tempat tinggal di paviliun mansion bukan dibangunan utama, dan belum hilang dikepala Hinata saat Ino menjerit kesakitan ketika dia dipaksa meminum ramuan untuk menggugurkan kandugannya. Keluarga Hyuuga tidak pernah memperlakukannya dengan baik, Hinata merasakan itu tapi dia mengabaikannya.

"Bagaimana bisa aku menyalahkan mereka?" lirih Hinata menyesali dirinya yang selama ini tidak peka dengan penderitaan Ino karena gadis itu selalu tampak ceria dan bahagia. Dirinya bahkan menikmati setiap perhatian Neji padanya tanpa tau kalau pria itu begitu tersiksa dengan tato yang tersemat didahinya sebagai tanda kesetiaan untuk mengabdi pada keluarga inti Hyuuga. Dia juga baru menyadari kalau selama ini Neji tak pernah melakukan apapun diluar perintah keluarganya, Hinata tak pernah melihat Neji melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keinginan kakek atau ayahnya. Dia hampir tak memiliki keinginan sendiri.

"Maafkan aku!" pinta Hinata pada seluruh orang diruangan yang masih terlihat geram,"maaf telah membuat kalian semua khawatir karena keegoisanku. Aku sangat berterimakasih kalian semua sangat menyayangiku. Aku bersyukur. Karena itu aku tidak ingin menjadi sangat serakah. Jadi kumohon, biarkan mereka berdua bahagia" Hinata merasa hanya ini yang bisa dia lakukan untuk menebus kesalahannya dan membalas kasih sayang Neji dan Ino padanya selama ini. Dengan membiarkan mereka memperjuangkan kebahagiaan mereka.

"Tapi-" ayah Hinata hendak bicara namun segera dipotong oleh Hinata.

"Kumohon ayah. Hanya dengan merelakannya aku bisa melanjutkan hidupku" Hinata menatap ayahnya tegas dengan tekad untuk bangkit. Hisoka Hyuuga memberi isyarat anggukan kepala pada Hiashi sehingga Hiashi hanya bisa menerima keputusan putrinya.

"Kami semua menyayangimu, sayang" kata ibu Hinata.

"Aku tau, ibu" Hinata yang lelah akhirnya kembali terlelap dengan dada yang terasa lega karena telah mengeluarkan semua kekecewaannya dan karena dia telah memutuskan untuk merelakan semuanya. Seperti Neji dan Ino, Hinata yakin dia pun harus berusaha terlebih dahulu agar mendapatkan kebahagiaan sejatinya.

/

.

/

#*STAR*#

/

.

/

Pernikahan Neji dan ino dilalukan dicatatan sipil oleh seorang hakim dan beberapa orang saksi. Lalu Shikamaru mendaftarkannya kecatatan warga negara Jepang di kedutaan sebagai formalisasi melegalkan pernikahan mereka ke Jepang. Sementara itu resepsi kecil-kecilan disiapkan oleh Tenten dirumahnya dengan mengundang keluarga Tenten, warga sekitar dan beberapa orang Jepang teman Shikamaru.

Bukan pesta meriah yang diwarnai hura-hura. Bahkan Tenten dan Shikamaru tak membenarkan adanya alkohol di pesta itu. Ditambah Shikamaru memastikan tidak ada daging babi dalam menu.

"Penduduk dilingkungan sini tidak mengkonsumsi alkohol dan babi," alasan Shikamaru ketika Neji menanyakan dua benda yang tak pernah absen dipesta yang biasa mereka lakukan di Jepang. Lagipula Neji cukup terkesan dengan nilai-nilai kekeluargaan yang ada dimasyarakat ini. Mereka semua datang membantu untuk menyiapkan tempat dan memasak hidangan ketika Tenten memberitahu bahwa dia akan mengadakan perayaan pernikahan kerabatnya.

Selesai acara, ketika semua tamu dan orang yang membantu beres-beres pulang. Neji dan Ino mengucapkan terimakasih dengan formal pada Shikamaru dan istrinya. Mereka berdua bersimpuh dan menundukkan kepala mereka dalam,"Arigato Gozaishimasu" ucap keduanya serempak.

"Ehhh…" Tenten salah tingkah dengan tindakan mereka berdua. Memang ini bukan pertama kalinya dia melihat orang bersimpuh dihadapannya. Dia pernah sekali melihat hal ini, ketika Shikamaru melamarnya. Hingga dia tak pernah bisa menolaknya. Lagipula Tenten memang tak ingin menolaknya.

"Apa yang kau lakukan, baka!" komentar Shikamaru.

"Aku hanya ingin berterimakasih dengan benar. Terimakasih telah menyarankanku untuk pergi membawa Ino ketempat ini, terimakasih telah menerima kami disini, terimakasih telah mengurus segalanya dan mempersiapkan pesta ini untuk kami" kata Neji dengan suara tegas.

"Mendokusai! Baiklah sekarang bangunlah. Dan ambil hadiah dari kami" Shikamaru menyodorkan hadiah yang disiapkan Tenten. Tiket pesawat dan paket tour ke Yogyakarta. "Sebelum kalian berjuang untuk hidup di negara ini. Pergilah bersenang-senang dan nikmati bulan madu kalian."

"Yogyakarta?" tanya Neji.

"Itu ada dipulau yang berbeda dengan Medan. Tapi aku pastikan tempat itu sangat cocok untuk kalian"

"Thank you" Ino memeluk Tenten.

"Happy Honeymoon" balas Tenten.

Dan keesokan harinya mereka berangkat ke Yogyakarta bersama rombongan wisatawan lainnya.

Dikota seribu candi mereka akan memadu kasih setelah disatukan dengan ikatan yang suci.

Harapan mereka sederhana.

Bisa menjaga cinta tetap membara sampai hari tua.

Mereka mungkin terlahir dalam ketidakberuntungan untuk mendapat cinta berlimpah.

Tapi mereka hidup untuk berusaha membangun cinta yang megah.

/

.

/

#*STAR*#

/

.

/

Ino tampak begitu salah tingkah ketika Neji baru dari kamar mandi di kamar hotel mereka hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya. Dia sibuk merapikan rambutnya yang sudah tersisir rapi didepan cermin meja rias. Ketika Neji berjalan mendekatinya dan aroma sabun yang menguar segar sampai kehidungnya, entah mengapa jantungnya berdegup tak menentu, perutnya bahkan serasa digelitik ribuan kupu-kupu. Ino mengalihkan pandangan malunya dari tubuh atletis Neji bak perawan suci.

Neji menaikkan alisnya heran, ini bukan pertama kali mereka mempersiapkan diri untuk melakukan hubungan seks. "Kau baik-baik saja?" tanya Neji. Ino mengangguk tapi tetap tak mau melihat Neji. "Apa yang menarik disana?" tanya Neji ikut mengalihkan pandangannya kearah tatapan mata Ino yang menuju tempat tidur.

"Kau tidak sabar mau berbaring disana ya?" bisik Neji mesra menggoda. Sial. Ino baru menyadari arah pandanganya hingga membuat Neji berkesempatan merayunya.

"Nii-sama!"

"Berhenti memanggilku Nii-sama" pinta Neji yang kini mulai menginvasi area sekitar leher Ino.

"Lalu?"

"Panggil aku, Danna-sama" bisik Neji tepat ditelinga Ino hingga membuat wanita itu tanpa sadar meremas lengan Neji.

"Da..da..danna-sama"

'Hup…' Neji mengangkat Ino ala bridal style begitu Ino menyebutkan panggilan baru untuknya. Ino memekik tertahan. Neji meletakkan Ino dengan sangat hati-hati keatas ranjang lalu ikut membaringkan tubuhnya dengan menaikkan salah satu kakinya membelah paha mulus Ino hingga ia bisa merasakan denyutan seirama detak jantung istrinya dibawah sana. Ino memejamkan matanya saat Neji mengambil alih bibir ranumnya, menikmati tiap sentuhan Neji dititik-titik sensitif yang sudah dihapal pria itu dengan sangat baik.

"Rasanya be..benar-benar berbeda" susah payah Ino berbicara tanpa mengeluarkan desahan.

"Berbeda?" tanya Neji tak mengerti.

Ino menggantungkan tangannya di leher Neji,"Saat kita melakukan dosa dan ketika Tuhan telah merestui"

Neji menghentikan gerakannya untuk memandang intens kekasih yang kini resmi menjadi istrinya. Pandangan mereka bertemu, masing-masing dari mereka menyadari hilangnya kekhawatiran dimata mereka. Tidak ada lagi yang harus disembunyikan, tidak ada lagi yang mereka takutkan. Ino menarik kepala Neji dan membenamkannya didadanya. Agar pria itu melanjutkan apapun yang terhenti walupun Ino tau…

Masih ada rasa bersalah yang tersembunyi disana. Dimata dan dihati mereka.

/

.

/

#*STAR*#

/

.

/

Tidak butuh waktu lama bagi Neji untuk memapankan karirnya. Kecerdasan, keterampilan dan pengalaman yang dimilikinya serta pendidikan yang mumpuni membuatnya dengan mudah mendapat tawaran kerja disebuah hotel berbintang lima yang dimiliki oleh pengusaha asal Jepang. Tentu saja tidak lepas dari peran Shikamaru yang telah mengenalkannya pada orang-orang yang tepat.

Setelah membeli rumah yang masih terletak di area komplek perumahan yang sama dengan Shikamaru, dia segera pindah bersama Ino. Walaupun rumah itu belum memiliki perabotan yang lengkap tapi Neji merasa nyaman tinggal didalamnya. Suasana lingkungan tempat tinggalnya juga sangat ramah, dirinya dan Ino yang baru mulai belajar bahasa setempat tidak mengalami kesulitan yang berarti untuk berinteraksi dengan mereka. Lagi-lagi Shikamaru benar-benar memilihkan tempat yang tepat untuknya.

"Tadaima!" seru Neji ketika memasuki rumah. Meski tinggal di Indonesia, ada hal-hal yang akan tetap terjaga dalam keseharian mereka.

"Okaerinasai, Danna-sama!" Neji selalu dibuat tersenyum dengan sambutan hangat Ino, apalagi wajah Ino begitu berseri menyambut kepulangannya hari ini. Neji menaikkan alisnya, pasti ada hal menyenangkan yang terjadi hari ini. Tapi Neji tidak berniat bertanya, dia hanya perlu menunggu sampai Ino menceritakannya dengan semangat seperti biasa. Ino mengambil alih tas dan jas dari tangan Neji. Membawanya kekamar, meletakkan tasnya di meja dan menggantung jasnya.

"Danna-sama!" tiba-tiba Ino melompat memeluk leher Neji yang sedang melepas dasinya. Dengan sigap Neji menahan tubuh Ino dan tubuhnya sendiri agar tidak limbung karena terjangan Ino.

"Kumohon berhentilah melompat seperti itu, Ino! Atau jantungku yang akan melompat keluar!" seru Neji khawatir dengan jantung berdegup kencang.

"Danna-sama, kau tidak tau betapa bahagianya aku hari ini. Aku mendapat email istimewa." jelas Ino.

"Email?" tanya Neji. Alisnya berkerut heran, bagaimana sebuah email bisa membuat Ino sebahagia ini. Sampai-sampai ia melompat tanpa memperhatikan kondisinya.

"Hiks..hiks.." Ino mulai terisak didada Neji.

"Ada apa?" tanya Neji khawatir mendapati istrinya tiba-tiba menangis. Dia melepas pelukan Ino, memandangnya khawatir.

"Aku sangat bahagia. Aku sangat bahagia" seru Ino. Dia bilang sangat bahagia tapi tangisannya semakin keras. Neji memeluk dan mengusap-usap kepalanya.

"Tenanglah dan ceritakan apa yang terjadi? Email apa? Dari siapa?" tanya Neji.

"Hinata-sama. Hiks.. Hinata-sama mengirim email padaku. Hiks.." Neji membelalakkan matanya. Setelah hampir setahun mereka mencoba untuk tak menghiraukan nama itu demi meraih kebahagiaan. Tiba-tiba gadis itu muncul kembali.

"Apa yang dia tulis?" tanya Neji penasaran.

"Hinata-sama menulis kalau dia sangat marah dan kecewa dengan apa yang kita lakukan padanya. Dia begitu terpuruk bahkan depresi kehilangan dirimu" Ino menundukkan kepalanya. "Sangat sulit baginya untuk bangkit kembali melanjutkan hidupnya tanpamu. Apalagi dengan kenyataan bahwa akulah yang membuatmu meninggalkannya" Ino menggigit bibirnya, dia memalingkan wajahnya dari Neji dan berjalan kearah jendela kaca besar dikamarnya. Memandang bintang-bintang yang menghubungkannya dengan orang-orang yang dia rindukan.

Neji tidak berkomentar apa-apa. Dia tidak layak berkomentar karena kenyataannya Hinata memang terluka karenanya. Suasana hening sesaat sampai Ino melanjutkan ceritanya,"Hinata-sama bilang, jiwanya hampir mati karena cintanya dicabut secara paksa. Kalau saja Namikaze-san tidak datang dan menanam kembali cinta yang baru dalam hatinya" Ino tersenyum pada bulan purnama dilangit. Ada rasa syukur yang mengalir hangat direlung hatinya.

"Namikaze-san?" tanya Neji.

"Putra dari Minato Namikaze, Gubernur Tokyo saat ini" jawab Ino. "Hinata-sama bilang, hatinya saat ini penuh dengan bunga-bunga cinta yang ditanam oleh Namikaze-san sampai-sampai hampir meledak" Ino terkekeh geli mengingat kalimat yang digunakan Hinata untuk menggambarkan rasa kasmarannya,"Selama ini dia tidak pernah tau ternyata rasanya sebahagia itu ketika dicintai dengan tulus oleh seseorang. Ketika orang tersebut dengan sangat sabar menumbuhkan dan merawat rasa cinta yang ia tanam. Membuatmu tak bisa menolak untuk membuatnya berbunga sangat indah" Ino menoleh pada Neji yang hanya diam saja dengan pandangan menerawang.

"Hal yang tak pernah dia rasakan saat bunga cintamu yang ada dihatinya. Saat itulah dia tau, itu karena bunga itu tumbuh tanpa sengaja." Ino mengalihkan kembali pandangannya kelangit malam,"Kau cemburu?" tanya Ino.

"Ah.." Neji tersentak karena pertanyaan Ino. Neji akui hatinya berdesir mengetahui tak ada sedikitpun lagi tempat baginya dihati Hinata. Bagaimanapun Neji pernah sangat menyayangi Hinata, melakukan apapun untuk melindungi Hinata. Sebelum sumpah dan tanda kutukan didahinya yang tak bisa hilang sampai sekarang dibuat.

Neji berjalan mendekati Ino, melingkarkan lengannya memeluk tubuh Ino dari belakang. Meletakkan tangan besarnya diperut Ino yang tak lagi langsing. "Mana sempat aku merasa cemburu dengan bunga ditaman orang lain sedangkan tamanku sendiri begitu penuh dengan bunga-bunga yang indah berwarna-warni, bahkan…sebentar lagi akan berbuah" dia mengecup puncak kepala Ino dengan sayang, mengusap perut Ino yang semakin membuncit.

"Ahh…" serentak mereka berdua terkejut lalu saling berpandangan.

"Kau merasakannya?" tanya Neji.

"Tentu saja, dia didalam perutku" jawab Ino.

Mereka berdua memandang titik yang sama, tempat dimana tangan besar Neji masih bertengger dan merasakan gerakan halus dari dalam sana. Sepertinya bayi mereka merasakan betapa bahagianya kedua orang tuanya saat ini. Saat mengetahui orang yang mereka sayangi telah mendapat kebahagiaannya sendiri. Dan telah memaafkan mereka. Tidak ada lagi rasa bersalah dan ganjalan dihati. Sekarang Neji dan Ino benar-benar bisa berjalan tanpa beban menuju kebahagiaan mereka. Walaupun mereka tau hidup tidaklah semudah negeri dongeng yang berakhir Happily ever after. Tapi dengan kekuatan tekad dan cinta yang mereka miliki, mereka yakin pasti bisa melewati rintangan apapun yang menunggu dihadapan mereka.

Harapan mereka yang saling mencintai sederhana.

Selalu bersama bahkan sampai melewati alam baka.

/

.

/

#*STAR*#

/

.

/

^-TAMAT-^


TERIMAKASIH

Telah berkenan membaca sampai akhir

Dalam setiap kebahagiaan yang kita rasakan, selalu ada orang yang mungkin menderita

Terkadang kitalah yang menjadi orang yang terluka itu

Tapi setiap orang pasti akan meraih kebahagiaannya sendiri

Suatu hari nanti…

By : Star Azura