You're my type

When I look at you,

I want you so bad I go crazy

I think about you even right before I go to sleep, pow

Terdengar suara musik dari ruangan bernuansa abu-abu. Ruangan dimana terdapat beberapa manusia di dalamnya dengan memainkan beberapa alat musik yang tersedia. Chanyeol terlihat memainkan gitar, Jongin dengan semangat memainkan bassnya, Sehun dengan keyboardnya, dan jangan lupakan jika mereka semua bernyanyi. Yah, walaupun Chanyeol-lah sang vokalis, tapi laki-laki itu sendiri yang meminta kedua rekannya ikut bernyanyi.

Latihan baru dimulai sejak 30 menit yang lalu. Chanyeol yang sekelas dengan Jongin langsung memerintah sahabatnya itu untuk berlatih seperti biasa di ruangan musik. Sehun yang sudah tahu jika aka nada latihan dari kekasihnya segera menyusul keua temannya setelah mengantar Luhan ke ruangan vokal karena gadis cantik yang merangkap sebagai kekasihnya itu memang bergabung dengan vokal club. Mereka masih aktif bermain hingga seseorang membuka pintu ruangan musik dan masuk begitu saja.

Semua laki-laki di sana berhenti melantunkan nyanyiannya dan beralih memandang seseorang yang masuk. Betapa terkejutnya mereka melihat seorang gadis yang juga terkejut melihat mereka. "Eh, aku salah masuk ruangan, ya?"

"Memang kau ingin masuk ruangan mana?" tanya Jongin kepada gadis it.

"Aku ingin masuk ke ruangan vokal. Maaf aku salah masuk ruangan," gadis itu meminta maaf dan membungkuk. Gadis itu membalikkan badannya ingin menggapai gagang pintu jika saja suara berat memberhentikan gerakannya, "Kau tahu ruangan vokalnya? Bukankah kau anak baru?"

Gadis itu kembali menghadap ketiga laki-laki itu sembari menggeleng pelan, "Aku belum hafal semua ruangan di sini."

Ketiga laki-laki itu saling melempar pandangan. Jongin menatap Chanyeol dan mengisyaratkan untuk mengantar gadis itu kie ruang vokal. Sehun, si lelaki kulit pucat mengendikkan bahunya acuh. Ia terlalu malas untuk mengantar gadis itu. Nanti Luhan bisa saja melihatnya berjalan dengan gadis lain dan mengira Sehun selingkuh. Apalagi Luhan juga ikut kelas vokal yang diadakan dua minggu sekali.

Pernah sekali Luhan melihat Sehun berjalan berdua dengan Kyungsoo. Walaupun Luhan mengenal Kyungsoo, tapi tetap saja Kyungsoo itu gadis. Bisa saja kekasihnya itu berpaling dari Luhan. Padahal Sehun hanya menemani Kyungsoo bertemu Jongin. Yah, niat baik lelaki itu terlihat buruk di mata Luhan ─yang tidak tahu maksud Sehun mengantar Kyungsoo─. Tapi, setelah Sehun meminta maaf, menjelaskan apa yangterjadi, dan ─tak lupa─ membelikan bubble tea rasa taro, Luhan akhirnya memaafkannya dan mau mengerti. Sehun tak mau mengulang kesalahannya lagi kali ini dengan mengantar anak baru ─apalagi gadis─ mencari kelas atau apapun itu. Biar salah satu temannya yang mengantar gadis yang masih berdiam diri itu ke ruangan vokal dan biarkan dirinya beristirahat sejenak.

Setelah saling tatap dan memberikan kode, Chanyeol menatap gadis itu dan tersenyum. Jongin menuju sofa berwarna hitam dan mengeluarkan suaranya, "Kau akan diantar Chanyeol, Baekhyun. Chanyeol dengan senang hati mengantarmu kemana pun."

"Ya, ayo ku antar," ucap Chanyeol setelah meletakkan gitarnya di sofa samping Jongin. Laki-laki jangkung yang hobi membaca buku itu menarik tangan Baekhyun ─si gadis─ dan membawanya keluar setelah membuka pintu.

Langkah kaki mereka berdua jelas terdengar di koridor yang sepi. Hening selama perjalanan dan canggung menyelimuti mereka berdua. Bel pulang sekolah telah lama terdengar. Sekolah hanya akan diisi oleh siswa-siswi yang mengikuti ekskul dan berlatih untuk olimpiade saat ini. Hari ini hanya ada tiga ekskul yang berjalan hari ini; vokal, basket, dan melukis. Jika kalian bertanya ekskul yang diikuti Chanyeol, Jongin, dan Sehun, jawabannya adalah tidak ada. Mereka bertiga memang tidak mengikuti ketiga ekskul yang dilaksanakan hari ini. Mereka hanya berlatih band di ruangan musik khusus untuk mereka yang ingin memainkan alat-alat musik yang disediakan oleh pihak sekolah.

Sekarang, mereka berdua ─Chanyeol dan Baekhyun─ telah sampai di depan ruangan besar yang memiliki jendela-jendela besar sehingga mereka dapat melihat apa yang puluhan orang sedang lakukan di dalamnya. "Kita sudah sampai, Nona Byun," ucap Chanyeol.

"Ah, terima kasih, Chanyeol. Aku belum hafal semua ruangan di sekolah ini. Tadi aku ingin pergi bersama Kyungsoo. Tapi tiba-tiba aku dipanggil oleh wali kelasku. Jadi, aku akhirnya berjalan sendiri dan yah... kau tahu tadi aku bagaimana," jawab Baekhyun tersenyum membungkuk kecil.

"Tak apa. Santai saja. Lagipula, kau dengar yang tadi Jongin bilang, kan? Aku dengan senang hati mengantarmu kemana pun."

Blush

Chanyeol dapat melihat pipi Baekhyun yang dihiasi oleh semburat merah. Sangat imut dan cantik, pikir Chanyeol. Melihat gadis di depannya yang merona parah, Chanyeol tersenyum dan kembali membuka mulutnya, "Baek, soal tadi saat istirahat, maafkan aku sudah membentakmu. Aku juga salah karena minum berdiri tanpa melihat jalan."

"Tak apa. Aku juga salah dan aku juga minta maaf. Aku berjalan dengan melihat papankelas tanpa melihat ke depan. Kar'naku, bajumu kotor dan kau harus ganti baju."

"Aku yang paling bersalah."

"Tidak, aku juga paling bersalah," balas Baekhyun.

"Aku," jawab Chanyeol.

"Tidak, aku."

Mereka masih berdebat mengenai siapa yang paling bersalah hingga Chanyeol yang tak ingin Beakhyun merasa bersalah, akhirnya menyentuh pipi Baekhyun yang halus dengan sebelah tangannya. "Baiklah, kita berdua yang salah. Aku yang minum sambil berjalan dan tak melihat jalan. Kau yang berjalan dengan melihat papan kelas," Chanyeol mengelus pipi Baekhyun.

Blush

Untuk keua kalinya, pipi mulus yang masih tersentuh oleh Chanyeol memerah. Baekhyun menunduk, mengakibatkan tangan laki-laki jangkung itu terlepas dari pipina. 'Oh! Apa yang kau lakukan, tangan tak tahu diri!' rutuk Chanyeol dalam hati. Pikirannya dan tangannya tak sejalan. Ini baru pertama kalinya bagi Chanyeol. Pikirannya tak sejalan dengan tubuhnya, memalukan sekali.

Detik demi detik sepasang murid itu lewati di depan ruangan besar itu dengan canggung. Chanyeol dengan suara beratnya menyuruh gadis mungil itu memasuki ruangannya, "Baek, kau... Uhm, tau mau masuk?" Chanyeol menggaruk kepalanya dengan tangan yang tadi dipakai untuk mengelus pipi Baekhyun. Tak gatal sebenarnya, namun entah mengapa, Chanyeol lebih memilih menggaruk kepalanya daripada tidak melakukan aktifitas saat sedang canggung.

"Kau belum melepaskan genggaman tanganmu," ucap Baekhyun setelah berhasil mengontrol warna pada pipinya dan perasaannya.

Chanyeol membaringkan badannya di kasur berwarna biru tua. Menghempaskan kasar badannya setelah melempar tas hitamnya ke sofa kamarnya. Sungguh Chanyeol hari ini sangat lelah. Ia harus belajar ─yang sudah menjadi rutinitasnya─ dan harus berlatih band. Hah, badannya terasa lengket dan mukanya terasa kotor terkena polusi tadi saat mengendarai motor untuk pulang.

Pemuda itu memejamkan matanya sebentar dan tersenyum masih dalam keadaan mata tertutup. Ia membayangkan kejadian tadi saat berdua bersama Baekhyun, gadis yang tak sengaja menabraknya, gadis yang membuat tumpah minumannya, gadis yang diantarnya ke ruangan vokal, dan gadis yang dapat membuatnya melamun sambil tertawa serta membuat hatinya berdegup. Memikirkannya saja membuat Chanyeol menggila. Jika saja Jongin berada di kamarnya dan melihat kelakuannya, Jongin dengan senang hati berteriak di samping telinga besarnya dan mengatai Chanyeol telah gila.

Yah, tadi Jongin yang menyuruh Chanyeol mengantar Baekhyun dengan alasan Jongin tahu kalau sahabatnya itu tertarik pada Baekhyun. Benar, sih. Untung juga Jongin menyuruhnya tadi. Chanyeol dapat berjalan berdua dengan Baekhyun walupun hanya berjalan di koridor sekolah yang sepi tanpa perbincangan untuk mengantarkan Baekhyun. Tapi, akhirnya Chanyeol mengucapkan terima kasih pada laki-laki tan itu karenanya, ia dan Baekhyun dapat berbicara, sedikit absurd, sih.

Chanyeol membuka matanya dan mengangkat tangan yang tadi menggenggam tangan kurus Baekhyun. Teringat percakapannya dengan Baekhyun tadi, ia jadi terkekeh sendiri. Masih teringat wajah Baekhyun yang manis yang memerah itu karena Chanyeol bilang dengan senang hati mengantarnya dan mengelus pipinya. Wajah putih itu masih jelas terbayang dipikirannya. Wajah dengan mata indah dipoles eyeliner yang sedikit tebal, hidung bangir, bibir tipis semerah cherry yang ingin Chanyeol cicipi. Rasanya ia ingin memiliki Baekhyun seorang diri. Ups! Apa yang kau bayangkan, Tuan Park?

Mengabaikan rasa pegal yang menyerang tangannya, Chanyeol masih mengangkat tangannya. Ia masih betah mengingat wajah Baekhyun. Gadis yang berhasil menyita perhatian laki-laki yang tengah berbaring itu. Gadis terimut, tercantik, dan ter-ter lainnya menurut Chanyeol. Jatuh cinta nyatanya membuat Chanyeol yang tadinya hobi membaca buku menjadi hobi tersenyum dan mengingat wajah Baekhyun.

You're sneakers under your thin ankles

A perfect harmony with your denim skinny jeans

Under your slightly big cardigan

Your falling long, straight hair is so pretty

Your shy eye smile, the look on your face when you space out

It all looks so pretty to me, it makes my heart tremble

Why did you come now? You're my type

Ini hari Minggu. Hari yang bagus untuk bersantai setelah melakukan aktivitas melelahkan beberapa hari kemarin. Baekhyun yang baru pindah beberapa hari yang lalu ingin sekedar mengetahui daerah tempat ia tinggal. Orang tuanya masih berada di luar kota untuk urusan bisnis. Kakaknya sedang kencan bersama pacarnya. Ia bisa saja mengajak Kyungsoo untuk berjalan bersama. Tapi, ia lupa menanyakan nomor telepon gadis bermata bulat itu. Akhirnya, ia berjalan sendiri melewati pagar rumah dan beberapa penjaga rumahnya. Sebenarnya ia bisa saja diantar dengan supir. Tapi, ia lebih memilih berjalan kaki dan menikmati angin sepoi-sepoi yang meniup rambutnya yang panjang terurai.

Komplek rumahnya berada memang cukup ramai pada pagi hari. Baekhyun dapat melihat beberapa orang juga berada di luar rumah untuk memilih jogging bersama teman, pacar, atau siapapun yang bisa diajak keluar bersama. Di kanan-kiri jalan besar kompleknya terdapat beberapa toko maupun café yang berjauhan. Ada juga kolam renang, berbagai lapangan, dan masih banyak fasilitas yang Baekhyun lihat di sepanjang perjalanan. Saat tengah menghapal daerah tempatnya tinggal, mata Baekhyun melebar cerah saat melihat sebuah kedai ice cream bercat warna strawberry.

Tak tahan melihat warna cat dan lambang ice cream pada papan iklan itu, Baekhyun melangkahkan kakinya memasuki kedai. Bunyi bel yang berada di atas pintu menyapa kehadiran Baekhyun. Mata sipitnya menelusuri kedai itu dan terpaku pada papan besar dengan berbagai menu di atas meja kasir. Matanya semakin cerah. Lalu, dengan gerakan cepat, gadis itu sudah berada di depan meja kasir untuk memesan satu ice cream, mungkin dua, mungkin tiga, atau mungkn lebih selagi perutnya masih menerima takaran ic cream yang akan dimakannya. Gadis itu benar-benar penggila ice cream.

"Selamat pagi. Ada yang ingin dipesan, nona?" tanya kasir saat melihat Baekhyun berdiri di depan meja kerjanya.

"Aku pesan ice cream rasa bubble gum dengan sedikit siraman coklat dan jangan lupa beri strawberry di atasnya," jawab Baekhyun semangat menatap kasir itu.

"Baik, ada yang ingin kau pesan lagi?"

"Umm, apa wafflenya sudah ada?" tanya Baekhyun dan kembali menatap papan menu.

"Sudah ada, apa kau ingin memesan?"

"Ya, aku ingin pesan waffle juga."

"Baik, kau bisa tunggu di salah satu meja," ucap kasir itu sembari tersenyum.

Baekhyun membalas senyum itu dan menjauhi meja kasir untuk mencari meja untuk menunggu pesanannya. Sebenarnya, ia sudah sarapan. Tapi, jika sudah melihat ice cream, Baekhyun dengan senang hati makan lagi. Keluarganya pun, jika membawa Baekhyun ke suatu tempat pasti tak lupa mengajaknya ke kedai ice cream. Sudah kewajiban, kekeke.

Baekhyun sudah duduk di kursi kayu bundar dengan meja yang bundar pula. Ia menunggu pesanannya dengan mengeluarkan handphonenya dan memainkannya sebentar. Kaki kirinya ia tumpangkan pada kaki kanannya. Ia menyampirkan helaian rambutnya yang menutupi pandangannya ke belakang telinganya. Cardigan hitamnya ia biarkan tergerai panjang hingga 10 centimeter lagi akan menyentuh lantai. Sneakers biru tua yang terpakai di kakinya ia gerak-gerakkan, atas-bawah-atas-bawah.

Bukannya suara pelayan yang mengantarkan pesanannya, malah suara yang ia kenallah yang menyapa indra pendengarannya. "Baekhyun?" Gadis itu menolehkan kepalanya ke sumber suara dan menemukan orang yang memang baru dikenal di sekolah barunya. Baekhyun mengernyitkan dahinya bingung. Bagaimana mereka bisa bertemu di kedai ice cream? Kebetulan sekali!

.

.

.

Teleportearth balik lagi~ Maaf kurang rapi dan mungkin kurang memuaskan.

Makasih yang udah baca, favorite-in, follow, dan ninggalin jejak.

fvirliani614 : Hehe, makasih, ya... Ini pake translate Inggris lagu iKON yang My Type. Makasih udah baca dan meninggalkan jejak~

Sampai ketemu di chapter selanjutnya~