"Wanita biadab! Setubuhi saja terus laki-laki diluar sana, kau memang jalang tidak punya harga diri!"

"Jalang tidak punya harga diri katamu? Fikirmu mencari uang itu mudah? Kau sama sekali tidak memberikan nafkah, ingat itu brengsek!"

Jungkook meremat gagang pintu erat, ketika adegan dihadapannya mulai tersuguh dengan tingkah bar-bar yang kasar. Tampar, pukul, jambak. Kini raganya mulai menyesal mengapa kedua maniknya harus sebegini penasaran, sehingga dirinya menyempatkan untuk mengintip dibalik celah kecil pintu kamar.

Jungkook menyaksikan semua. Hingga isi kepalanya tidak lagi mau bekerja sama untuk memutar memori positif. Tidak lagi ada kasih sayang tertanam dalam otaknya, serpihan rasa simpati pun tidak sudi untuk tertinggal. Amblas begitu saja, kala pria yang mengaku sebagai ayahnya itu mudah sekali untuk memukul entitas ibunya dengan sebuah vas bunga berbahan dasar kaca.

Ia mengernyit dan menutup mata sepintas, tidak sanggup menyaksikan lanjutan dari kelakuan biadab orang tuanya. Tungkainya lemas sekali seperti akan tumbang, tetapi ia tetap memaksa untuk mengunci kamar dan melarikan diri melewati akses jendela. Sehingga jendela yang ternganga pun tidak lagi diindahkannya, ia berjalan tangkas untuk mencapai halte bus.

Jaket hitam ditubuh, sama sekali belum digantinya sejak semalam. Mungkin, masih ada sepeser uang yang tersisa dalam sakunya menjadikan Jungkook dengan penuh harap merogoh kantong secara bringas. Namun nihil, tidak ada lembaran uang dalam sana. Tak lain ia temukan hanyalah potongan kertas kecil yang luar biasa remuk.

Ia membuka kertas yang sudah remuk itu hati-hati, karena sudutnya sudah terkoyak akibat remukan tidak beraturan menggeser seenaknya. Jungkook mengulum bibir saat tahu, kertas itu membawa ingat dirinya kepada ucapan provokator Namjoon tempo hari.

Maka ia tergesa memasuki bus yang sudah tiba, menduduki sebuah kursi disebelah pemuda berjas putih yang diam-diam memerhatikannya.

Persetan, Jungkook acuh dengan semua orang yang protes pada bau menyengat khas rokok di jaket hitamnya. Sebab semalam ia tidak tanggung-tanggung menghisap benda pahit itu berbatang-batang untuk meredakan gejolak hati yang menghasutnya segera mengakhiri hidup. Sumpah, Jungkook baru tahu kalau merokok masih mampu menyadarkannya tentang sisa hidup yang indah.

Bus kota menghentikannya disebuah bangunan yang familiar. Sekolahnya sendiri. Jungkook melihat sekali lagi kertas remuk di genggaman, membenarkan bahwa alamat yang ditujunya tidak ubah dari dua kilometer di samping kiri sekolah. Ternyata, memang benar adanya. Rumah kecil pun terpampang didepan maniknya, seketika Jungkook mengulas tawa hambar.

"Kau pasti akan senang, dude." Bisiknya lirih.

Setelah siap memerhatikan rumah itu sebegitu lamanya, ia berjalan mendekat. Ia mengetuk pintu, pelan sekali. Namun tetap terdengar, karena dihadapannya kini sudah ada sosok yang mengulum senyum angkuh kearahnya.

"Apa kubilang, kan? Jeon Jungkook."

.

"Weirdos"

present by edelweissaaa

.

"Hal yang paling tidak kusangka darinya adalah; merangkak seperti laba—laba diatas dinding. Sambil tersenyum lebar kearahku."

[chapter 2.

now play: bts — outro: tear.]

.

"Ah—bitch..! Sakit—hiks." Teriakan gadis itu berakhir dengan sebuah isakan pilu. Surainya berantakan, ia pun tak lagi peduli. Lengannya menjadi terkulai lemas tidak dapat diayun, saat injeksi menyelundup masuk kebawah jaringan kulit. Pembuluh darahnya berbaur kontan bersama obat bius, sehingga netranya menutup lambat bergantian. Dan ia pun terlelap tak lagi memberontak.

Tangan Taehyung menyingkap masker, menjauhkannya dari wajah sampai ke dagu sekedar menghirup nafas segar untuk respirasi. Taehyung meletakkan kembali jarum suntik itu semula kemana tempatnya berada, melepas sarung tangan karet yang berakhir di tempat sampah sehabis digunakannya. Taehyung tanpa minat membalikkan tubuh. Meninggalkan kamar pasien yang terisolasi untuk menemui rekan satu rumah rawatnya; Yoongi.

Namun, niatnya terurung. Ponselnya lebih dahulu berdering mengganggu, menyuruhnya untuk menyambungkan telfon dengan seseorang di seberang sana.

"Halo? Dengan Kim Taehyung."

"Target..?"

"Tidak usah khawatir akan keselamatanmu, hyung. Aku akan berusaha keras."

"Ya.. terimakasih."

Setelah sambungan telfon terpenggal begitu saja, Taehyung menempuh langkah kembali untuk menemui entitas Yoongi di ruangan kerja pribadinya. Dan semua rencana yang tersusun rapi dalam otaknya buyar, melihat kosongnya kursi dibelakang meja yang biasanya Yoongi tempati setiap petang.

"Kemana dia?" Gumam Taehyung, sembari menutup rapat pintu ruang kerja pribadi milik Yoongi. Kala berbalik menghadap berlawanan arah, dirinya malah dihadapkan dengan seorang pegawai berseragam putih khas simbol kesehatan; salah satu pegawai yang mengabdi dibawah kendali Yoongi.

Taehyung membuka mulut hendak bicara, sebelum pegawai itu memotong lebih dahulu. "Tuan Yoongi ada di kamar rawat nomor tiga, jika Tuan mencarinya."

Tentu, Taehyung menanggapinya dengan sebuah anggukan meskipun tidak ada niat untuk mengumbar ucapan terima kasih. Monoton, tetapi seluruh pegawai bawahannya tak terkecuali pegawai Yoongi sudah terlampau hafal atas segala isyarat yang diunjukkan Taehyung; dokter mental pertama mereka.

Lokasi sekitar tidak lagi diliriknya, sehingga akal sehatnya pun belum sempat mencerna tuntas.

Kamar rawat nomor tiga?

Yoongi ada urusan apa, dengan kamar rawat pasien bernama Park Jimin?

Taehyung lantas hanya dapat bergeming. Memutar knop pintu kamar rawat nomor tiga nampaknya menjadi sebuah kejanggalan yang menimbulkan tanda tanya besar dalam pemikirannya. Manik Taehyung menelisik bergiliran, kepada dua sosok manusia yang sama-sama menatap kearahnya; dengan dua sorot yang jelas tak sama.

Memang, Yoongi yang Taehyung cari telah terpampang nyata didepan mata kepala. Tetapi yang Taehyung tidak mengerti, mengapa jemari mungil Jimin menyelip nyaman diantara ruas jari Yoongi; menggenggam telapak tangan dingin milik dokter mentalnya.

Seingat Taehyung, kamar rawat Jimin bukanlah bagian dari jalan raya yang sengaja diasingkan oleh cat hitam dipadu putih; jalur khusus pejalan kaki yang hendak menyebrang sembari berpegangan tangan.

"Yoongi?" Panggil Taehyung ragu. Sebab, Yoongi malah mengusap tengkuknya terlampau canggung, seperti oknum penjahat kelamin yang tertangkap basah. Yoongi menarik tangannya lebih cepat daripada yang Taehyung perkirakan, kepala menengadah bingung milik Jimin pun terabai.

"A—ah, Taehyung." Ucapannya terdengar patah-patah karena tergagap memulai percakapan. Namun, Taehyung tidak seburuk yang Yoongi pikirkan, faktanya dokter penyakit kejiwaan itu hanya sekedar membubuhkan isyarat agar Yoongi mengekori langkahnya keluar kamar rawat; tanpa hendak mencemooh Yoongi sampai malu telak, perihal Yoongi yang tampak seperti sedang mesra bersama orang gila.

"Aku ingin bicara sebentar, ikutlah dibelakangku."

Yoongi mengangguk satu kali. Helaan nafas tersampaikan melalui mulutnya, kemudian ia berpaling menukar pandangan. Sampai menemukan raut bingung yang kentara terlukis pada rupa tanpa cela milik Jimin.

"Kenapa dilepas?"

Jimin meminta keterangan, yang disambut gelengan nonsen dari dokter kejiwaannya. Yoongi hendak pergi tanpa menggagas sepatah kata.

"Cepat kembali, Yoongi."

Itu pesan Jimin dengan senyum simpulnya yang berhasil memberhentikan tungkai Yoongi. Tetapi, tanpa membalas ia berlanjut melenggang berlagak senantiasa tidak peduli. Yoongi hanya mampu terkekeh, ketika perasaan bodoh itu muncul menamparnya bersama kenyataan.

.

"Aku mendapat perintah baru dari Seokjin hyung."

Bahkan dokter kejiwaan jarang sekali duduk berhadapan sekedar membagi cerita. Kedua dari mereka sudah terlewat sibuk diburu kasus penyakit kejiwaan, yang nyaris acap kali mengancam nyawa. Taehyung dan Yoongi, mereka sama-sama berperan profesional. Tidak ada seriknya dalam menyambut beragam kelakuan aneh pasien sakit jiwa mereka.

Taehyung menyorongkan sebuah tumpukan kertas, yang Yoongi paham benar dari bentuknya yakni berkas pemberian Seokjin. Hening menyapa, Yoongi memilih mengusir kakunya kecanggungan dengan tangannya menyingkap map biru yang menyampul rapat berkas.

"Perintah baru, artinya kau akan mendapat pasien baru," Taehyung dapat menangkap senyum mencela tumbuh dari lipatan bibir tipis Yoongi. Untuk membalasnya, Taehyung tak lain berdecih mencibir.

"Dan artinya uangku akan lebih menumpuk dibanding uang dalam brangkasmu."

Yoongi memeriksa berkas Seokjin dengan bibir terkatup, bola matanya bergerak cepat menelusuri satu persatu kata yang tersuguh nyata.

"Jeon Jungkook—?" Eja Yoongi menggantung. "Pasien barumu—atau kau mau aku campur tangan dalam kasus ini?"

Pertanyaan Yoongi jelas menimbulkan keraguan bersemayam dalam diri Taehyung. Dia menggeleng tidak paham.

"Dia mengidap penyakit jiwa yang cukup mengerikan,"

Maka ungkapan itu menjadi alasan mengapa Yoongi bergegas mencari penyakit yang tercantum dalam informasi Jungkook.

"O—oh," Yoongi sedikit terbata. Ia menjilat bibir bawahnya yang kering. "Self injury—sama seperti mama." Kemudian, ia tertawa sarkas merahasiakan keganjilan dalam hati. Sorot matanya nampak sendu meski tersamarkan tatapan tajam, nafasnya tersendat upaya menolak ingat; dan Taehyung menyadari segalanya.

Taehyung bungkam, gerak-gerik Yoongi membantu simpati untuk tertanam dalam benaknya. Seakan paham, ia menarik jauh berkas Seokjin. Membiarkan tangan lemas Yoongi melepasnya.

"Kalau kau tidak bisa, aku akan menanganinya seorang diri," Taehyung bersuara, nadanya terdengar intensif. Mau tak mau, terpaksa atau tidak, demi uang yang harus diterimanya sebelum tanggal itu tiba. Yoongi mengangguk mantap. Ia berbisik, mendeklarasi bahwa dirinya benar-benar sanggup melampaui pekerjaan untuk menyerahkan bantuan bagi Taehyung.

"Semuanya akan kulakukan— demi kehidupanku. Asalkan—" Jeda, Yoongi menahan napas sepintas. "Aku bekerja dibelakang layar."

Karena Yoongi tahu, otaknya tidak akan sudi bekerja diluar batas kemampuan; ketika memorinya tiba-tiba menyimpan apa yang seharusnya ia hindari untuk kesehatan jiwanya seorang.

.

"Sudah kuduga, kau akhirnya menurunkan egomu sehingga bisa sampai disini, Jeon."

Jungkook berpaling, separuh tidak sudi mendengar ledekan halus Namjoon yang seakan menghantam kepalanya. "Diam, aku akan membatalkan semuanya jika kau terus mengoceh." Ancamnya garang. Tetapi tidak menjadikan Namjoon menciut, dengan kurang ajar dia bersiul nakal menggoda puncak kesabaran Jungkook.

"Minumlah, aku tahu kau sedang kalut, man. Kau butuh ketenangan, maka nikmatilah suasana rumahku, oke?" Ia meremat bahu Jungkook halus. "Lupakan masalah di rumahmu." Seketika urat leher Jungkook yang tegang, melemas kembali kala ia meminum sembarangan cairan berwarna oranye dalam gelas bening milik Namjoon.

"Aku tidak habis pikir. Sudah menjadi ayah pun, dia masih tidak punya belas kasihan." Jungkook mencibir muak, sambil mengulang aksi menenggak minumannya terus-menerus. Ia tertawa putus asa dan menyelami manik bening Namjoon. "Katakan padaku, apa isi benakmu pun juga sama dengannya?"

Tadinya Namjoon hanya bergeming. Ia tidak mengira kalau pertanyaan Jungkook tak jauh sukar jawabannya dengan soal ujian akhir tahun semalam. Lidahnya beku, melumpuhkan niatnya untuk menjawab penuh dusta.

"Aku tidak," Dengan canggung, Namjoon mengulum bibir. Syukur Jungkook tidak melihat kegugupannya.

"Aku akan empati pada siapapun yang berbaik hati padaku. Bukan begitu seharusnya, Jeon?"

Jungkook mengatupkan kelopak mata lelah. "Entahlah, aku tidak tahu siapa yang harus kupercaya saat ini. Semuanya begitu samar dan abu-abu."

"Percaya padaku." Sanggah Namjoon serius. Ia menatap licik.

"Kau suka menggores silet pada lenganmu, aku tahu itu. Dan aku lebih tahu kalau itu tidak baik bagi hidupmu, bung. Kulitmu menjadi rusak bahkan jika infeksi nantinya, maka organ terpenting dalam hidupmu akan diamputasi dan kau tidak bisa bermain basket kesukaanmu lagi."

Sedikit nyaring Jungkook meringis setelah membuka mata. Membayangkan betapa mengerikannya mimpi buruk terbesar dalam hidup bila tangannya harus puntung hingga ke siku.

"Tetapi, aku tahu kau tidak pernah bisa lepas dari kebiasaanmu." Tuding Namjoon akhirnya. Jungkook tak membalas, tiada kesalahan yang harus ia tentang sekarang. Faktanya, ia memang tidak bisa untuk mengakhiri tingkah diluar akal sehatnya. Ia tidak pernah mampu menghentikan jemari untuk menyudahi sayatan diatas permukaan kulit lengan kirinya.

Ia tidak pernah sanggup, karena rasanya sudah seperti candu yang tak dapat dikesampingkan.

"Lalu, untuk apa aku susah payah datang kemari? Mendengarkan ocehanmu?"

Namjoon menjentikkan jari, merasa cemerlang. "Kau salah besar, kelinci manis. Aku disini untuk memberikan penawaran hidup baru kepadamu. Betapa indahnya jika daya tahan tubuhmu tidak akan pernah menurun, meskipun lenganmu mengeluarkan darah sebegitu banyak."

Namjoon berdiri tegak, beranjak dari kursinya lalu mengisi celah kosong sofa di samping Jungkook duduk. Ia tersenyum iblis. "Kau tidak perlu khawatir lagi dengan semuanya. Kau bisa sepuasnya membuat kulitmu luka tanpa kesakitan berlebihan sedikit pun. Semuanya akan terlihat seperti semula kembali, tidak ada goresan mengerikan timbul di kulitmu. Bagaimana, Jeon Jungkook?" Desis Namjoon provokatif.

Tawa Namjoon berderai puas dalam batin. Hati perutnya memerintah untuk bibirnya tersenyum angkuh, ketika ia dihadapkan dengan raga separuh hampa milik Jungkook. Tampak rapuh, Jungkook butuh tempat untuk bertumpu agar bebannya dapat dibagi; maka Namjoon memberi elusan penuh perhatian diatas jari-jemari berisi pemuda Jeon itu. Seringai tampil apik dibibirnya, mendorong keyakinan dirinya untuk bertindak lebih kurang ajar; menyapu paha Jungkook melalui usapan lembut yang menggoda.

Jungkook melenguh pendek, matanya sayu, tangan gemetarnya susah payah menepis tidak rela akan sentuhan pelik dari Namjoon.

"Jangan sentuh, brengsek!" Teriaknya tak ubah dari sebuah lirihan putus asa.

Namjoon tidak mengindahkan titahnya barang sedikit pun. Lancang sekali kelakuan Namjoon, tentu tiada lagi otaknya mengusir sangsi; yang mana garis rahang Jungkook pun dibelainya penuh afeksi. Kelopak indah manik Jungkook separuh tertutup, separuh terbuka.

"Putuskan sekarang, Jungkook—" Kembali Namjoon berdesis, bibirnya nyaris menubruk ringan mengenai daun telinga Jungkook. Seringainya lepas saat Jungkook menangkap jemarinya terburu.

Kelopak mata Jungkook terbuka pelan-pelan, pupil hitamnya menatap Namjoon dalam.

"Aku— terima."

.

Minimarket, buka selama dua puluh empat jam.

Kedengaran konyol bagi seorang dokter Taehyung mencari entitas pasien barunya disana?

Tetapi prinsip Taehyung lagi-lagi mendekam seenaknya di benak, yang mana; seburuk apapun keadaan, dirinya tetap lah hanya mengemban peran sebagai dokter pemulih— bukan pencerca lembar usang jalan hidup orang yang cacat mentalnya secara terperinci.

Taehyung mengecek berulang-ulang ponselnya dengan keberadaan minimarket dihadapannya. Memeriksa sekali lagi, bilamana tak ada secercah kekeliruan pun yang ponselnya telah informasi-kan.

"Jeon Jungkook— asal Busan, mendatangi minimarket favoritnya dengan mengenakan hoodie hitam kesukaannya," dikte Taehyung, matanya menelan tuntas huruf konsonan dipadu huruf hidup yang terketik apik di ponselnya. Taehyung menelengkan kepala, sedikit mendengus acuh membaca monografi di akhir.

"Menyukai aroma kelapa untuk disampirkan pada pakaian atas, akan terlihat seperti kelinci ketika tertawa."

Menaikkan pandangan adalah hal awal yang dilaksanakan si dokter mental. Menguntit bersyarat terang-terangan sosok pasiennya dari balik kaca minimarket yang tembus pandang. Bening, terlalu terekspos. Maka, tak ada lagi dalihan demi berkilah bagi Taehyung, untuk menampik kasus yang sudah semestinya diturun tangankan kepadanya.

Ia menunggu, lama sekali. Ada rasanya sepuluh menit. Mata yang menyorot tajamnya mencermati bagaimana Jungkook yang terbengong layaknya manusia dungu; menyambung antrean pelanggan dengan baik sampai gilirannya menghadapi kasir tiba.

Taehyung diam, kalem di tempatnya.

Hingga ketika Jungkook bergelagat aneh; hendak kabur melarikan diri sembari merampok habis barang belanjaan yang tersampir dalam troli gendongnya, tak ada niatan menyerahkan uang sebagai bentuk transaksi.

"Hei, pencuri!"

Jungkook terlonjak kaget, cengkraman tangan seseorang pada tangannya mencegat sia-sia aksi penilapannya. Bukan kasir, bukan penjaga minimarket. Hanya seseorang berjas hitam rapi dengan setelan yang memadai. Netra Jungkook bergetar spontan, menyangkal betapa sakit luka di lengannya ketika kuku pria berjas hitam mencekal dengan tak tahu perasaan.

"L—lepas.." bisik Jungkook lirih.

"Dia tidak mencuri, dia berlari untuk mencariku dan menyuruhku untuk membayar belanjaannya." Ucap pria berjas hitam dingin, menuju penjaga kasir yang terkejut.

Mata Jungkook membola.

Tercengang saat pria berjas hitam itu menggali beberapa lembar uang yang tak terlipat rusak dari dalam dompet, meletakkan begitu saja di atas meja kasir; tak peduli kembalian dari uangnya yang bahkan mungkin dapat membuat kondisinya dirugikan.

"Jangan melakukannya!" Seru Jungkook tak terima, meringis marah ketika tak dapat melaksanakan perlawanan apapun bilamana ia ditarik keluar pria berjas hingga kepada luar minimarket.

Pria berjas hitam itu menatap intens Jungkook, jelas jantung pemuda Jeon berdetak tak nyaman. Takut dan gelisah. Memilih menundukkan kepala sedikit, mengepal tangan disamping paha dengan perasaan campur aduk. Ingin marah, pria itu telah menolongnya. Ingin berterima kasih, pria itu hanya orang asing.

"Maaf, aku Kim Taehyung."

Jadi, Taehyung nama orang asing lancang ini, pikir Jungkook.

Tetapi, Jungkook total tercekat sehabisnya; pria itu membisik di telinga kirinya yang sejuk;

"Ngomong-ngomong, kenapa pemuda manis sepertimu membeli sekotak silet?"

.

.

[to be continue.]

ada yg memiliki kesamaan dgn jeongguk? tidak apa, jangan merasa malu. menggores adalah salah satu cara dari membuat hati lega.

mind to review?;))