The Black Hair Hiruma
A/N: Halo! Ketemu lagi dengan saya! Vari… dan Rena! Hahaha… oke ini adalah awal dimana Hiruma pindah ke Deimon. Disini dia akan bertemu dengan anak perempuan yang ditolongnya saat kecil. Well… karena saya sudah terlalu banyak bicara, lebih baik dilanjutkan dengan jawaban Review!
Mitama134666 – Terima kasih menjadi reviewer yang pertama! Dan terima kasih memberitahukan kesalahan di chapter 1. terima kasih banyak!
Oke! Ayo kita mulai membaca!
Summary: jika Hiruma bertemu Mamori saat kecil dan mempertahankan rambut hitamnya? Dan bagaimana jika Kurita dan Musashi tidak bertemu Hiruma di SMP? Find out!
Disclaimer: Jangan panggil pengacara, karena bukan saya yang punya Eyeshield 21!
"Bicara biasa"
"Telepon"
XOXO
Chapter 2
*Blaze away! Ima Blaze Awa-*
Kubuka mataku dari tidurku dan langsung mengangkat Hand Phone –ku yang membangunkanku darialam mimpi.
"Moshi-moshi?" terdapat tawa yang kubenci di balik telpon itu.
"Khu Khu! Yo, Sampah sialan!" Salamnya dengan santai.
"Ada apa Agon?" tumben-tumbennya Agon nelpon.
"Tidak, hanya ingin mengucapkan salam perpisahan saja-"
"Jangan banyak bacot. Cepetan kasih tahu apa yang mau lu bicarain?" potongku tak sabar dengan 'Dread Playboy' (V: Ya… saya suka mengejek orang seperti itu.)
"Keh. Kenapa kau harus pindah bodoh!" Bentaknya di telpon dengan suara yang tak kalah dengan raungan singa. "Dengan Reflek dan kemampuan yang sebanding denganku aku dan kau dapat menjadi yang terkuat di Shinryuuji!"
Aku terdiam sebentar lalu mengeluarkan tawa yang dikenal orang. "Kekekeke… ternyata kau bisa sebodoh itu ya!" lalu aku mengubah nada suaraku menjadi serius. "Dengar 'Dread Playboy'. Aku tidak mau menjadi kuat karena orang-orang disana sudah terlalu kuat dan menang mudah. Aku ingin menggunakan seluruh kekuatanku untuk ke Christmas Bowl dan mengalahkan kalian."
Dread playboy terdiam sebentar mendengarkan perkataanku. lalu tawa yang penuh kegelapan menggelegar. "KHUKHUKHU… AKHIRNYA SI SAMPAH BERANI JUGA. KITA AKAN BERTEMU LAGI DI CHRISTMAS BOWL! CAMKAN ITU BAIK-BAIK!-" Aku langsung menutup hand phone –ku karena telinga elf ku tak kuat mendengar teriakannya.
Aku menghela nafas dan bersandar di kursi bus yang mengantarku ke Deimon. Aku enatap keluar jendela dengan mata warna emerald -ku dan melihat pemandangan yang berubah terus menerus. Ku topang daguku dengan tangan kananku sambil memikirkan mimpi yang tadi. Mimpi yang sepertinya dari memori masa laluku. Kuhela nafasku dan menyisir rambut hitamku dengan jariku.
Aku baru menyadari bahwa aku tidak mengganti warna rambutku karena cewek itu. Dan karena cewek itu pula ayah dan adikku dapat bersama lagi denganku. Aku membenci ayaku… ya, aku masih belum dapat berpikir jernih karena masih kecil dan Ibu baru saja meningggal.
Ayahku, Hiruma Yuuya meninggalkan kami bertiga untuk ke Amerika. Aku menyalahkan semuanya ke ayah karena meninggalkan kami bertiga dan membuat ibu meninggal. Aku tidak mau berbicara dengannya selama beberapa minggu. Tetapi, sesaat aku bertemu cewek berambut coklat auburn itu, aku langsung mengerti kalau aku salah dan aku berlari dari kenyataan bahwa ini bukan salah siapa-siapa.
Cih, Aku masih mengingat bagaimana ayah saat kumaafkan. Dia langsung memelukku erat dan mengucapkan 'terima kasih' berkali-kali. Kami masih sering bercakap-cakap lewat telepon dan saat bertemu dengannya, kami langsung bermain catur. Tetapi pada akhirnya dia yang menang. Aku masih ingat saat pertama kali kalah bermain catur.
*Flashback*
"Siaaal!* teriakku.
AKu dikalahkan ayah hanya dengan prajurit dan kuda. Benar-benar tak dipercaya. "Bagaimana kau melakukannya!" tanyaku sambil menunjuk dirinya.
Wajahnya yang berjenggotan dengan rambut hitam yang sama denganku hanya menyeringai. "Jalanmu mengalahkanku masih jauh." Ucapnya yang diakhiri dengan Tertawa.
"Youichi… kau masih belum bisa mengkontrol bidak-bidakmu dengan benar." Dia berdiri dan melihat keluar jendela. "Ingatlah semua bidak itu berguna. Yang harus kau lakukan adalah mengaturnya agar kekuatan mereka yang sesungguhnya terjadi."
Kulihat papan catur yang baru dimainkan oleh ayah dan aku. Dapat kulihat semua bidak catur tersusun rapi dan penuh strategi. Semua bidak diatur agar dapat mengalahkan raja milikku dalam beberapa putaran.
"Lihat saja orang tua! Aku akan mengalahkanmu nanti!" janjiku ke ayah.
Senyuman tersungging di wajahnya. "Kutunggu nak… kutunggu…."
*End of Flashback*
Kekekeke... sudah berkali-kali kutantang Kakek tua itu, pada akhirnya aku juga yang kalah. Aku meraih kantong celanaku dan mengeluarkan MP3 player yang berwarna merah dengan logo Shinryuuji naga diujung bawah. Kupasang headphone di telingaku dan kunyalakan lagu. Aku mengetuk-ngetuk kakiku seraya mengikuti irama lagu. Kupejamkan mataku dan kusilangkan tanganku didada.
Aku berpikir… Bagaimana kabar cewek itu? Apakah dia ingat kepadaku? Atau Ingatkah dia kepada janjiku? Keh, itulah pertanyaan-pertanyaan yang terngiang-ngiang. Aku berusaha menghapuskan pertanyaan-pertanyaan itu dan berpikir tampang cewek itu. Kulitnya yang putih, mata biru sapphire –nya yang indah, rambut coklat auburn yang terterpa angin, dan senyumannya yang mengingatkanku dengan ibuku. Aku tersenyum dan berpikir, aku pasti bertemu dengannya… pasti.
*Time Skip: 20 menit kemudian.*
(P.O.V: Normal)
Hiruma turun dari bus yang mengantarnya dari kanagawa ke tokyo dan sekarang dia berada di Deimon. Dia merapihkan kemeja putihnya dan celana panjang khaki dengan tangannya. Tubuh tingginya membuatnya dapat melihat jauh. Dia membawa koper hitam, sebuah tas hitam, dan tas gitar listrik. Hiruma melihat ke sekelilingnya
'Keh, tak ada yang berubah…'
Hiruma berjalan dengan langkah santai sambil melihat peta untuk sampai ke apartemennya. Dia dibelikan sebuah apartemen oleh ayahnya untuk tinggal di Deimon karena rumahnya yang lama dijual. Setelah sampai di apartemennya yang dilantai 4 nomor 401, dia melihat semua barang-barang untuk hidupnya sudah tersimpan disini. Hiruma tersenyum melihat apartemennya.
'Terima kasih… kakek tua….'
Hiruma menaruh semua barangnya di kamarnya. Di kamar, terdapat sebuah tempat tidur, meja belajar, kursi belajar, lemari pakaian, amplifier untuk gitar listrik, dan sebuah kamar mandi. Tembok kamar itu berwarna krem dengan pengharum ruangan yang berbau mint.
'Heh, lumayan juga.'
Hiruma menaruh barang-barangnya dan mulai merapikan sesuai tempatnya. Dia menaruh gitar listriknya di samping meja belajar, semua isi koper hitam dimasukkan ke lemari pakaian, dan tas hitamnya dibuka dan ditunjukkanlah sebuah laptop SONY VAIO yang langsung diisi baterainya, buku-buku pelajaran yang disimpan dengan rapih, dan sebuah AK-47 yang dibelinya secara legal untuk jaga-jaga.
Setelah semuanya sudah tersusun rapi, Hiruma menatap kota Deimon dari balkon. 'Apa yang kulakukan sekarang?' pikir Hiruma.
Tiba-tiba angin bertiup lumayan kencang dan menerpa rambut hitamnya. Dia tersenyum dan mengingat sesuatu. Lalu ia mengeluarkan hand phonenya dan menelpon adiknya.
"Moshi-moshi?" suara cewek remaja dapat didengar oleh Hiruma.
"Tsuki, Ini Hiruma." Ucap Hiruma sambil tersenyum.
"Nii-chan! Apa kabar Nii-chan! Aku kangen!" ucap Tsuki sambil sesengukkan.
Hiruma Tsukina, Adik perempuan Hiruma yang tomboi tetapi setia kawan. Menyukai Tempura, Udon, dan Mochi dan membenci telur, orang yang tak berperasaan, dan orang yang dibenci Hiruma.
"Keh, sudah berapa kali kakak bilang jangan nangis…" Ucap Hiruma dengan nada khawatir.
"Ha-habis-"
"Sudahlah… Kakak baik-baik saja. Sekarang sudah sampai di Deimon. Bagaimana sekolahmu?"
"Iya! Kemarin ada temanku yang…"
Mereka saling berganti kisah selama beberapa menit.
"Nii-chan…"ucapnya dengan nada sedih.
"Hn?"
"Kapan aku dapat bertemu nii-chan lagi?" Tanya Tsuki.
Hiruma dan Tsuki jarang bertemu karena perbedaan sekolah dan rumah. Tsuki tinggal bersama Yuuya dan bersekolah di Kyoto.
"Tidak tahu…" jawabnya.
"Tapi aku ingin bertemu kakak!" suara tangisan terdengar di telepon Hiruma.
"Jangan khawatir… kita pasti bertemu lagi."
"Benarkah?" tangisannya berhenti.
"Ya."
"Baiklah… sampai bertemu Nii-chan!"
"Keh, jangan makan terlalu banyak mochi! Atau nanti kau jadi monster Mochi!" ganggu Hiruma.
"Nii-Chan!"
"KEKEKEKEKE" Hiruma lalu memberhentikan tawanya. "Berhati-hatilah…"
"Iya!"
Dengan begitu percakapan mereka selesai. Hiruma menutup hand phone –nya dan keluar rumah.
Setelah mengunci pintu dan bertemu dengan tetangga sebelah di elevator, Hiruma sampai di jalan menuju Sungai.
Hiruma menuruni tangga yang membantunya ke pesisir sungai. Di pesisir sungai ada beberapa orang yang sedang memancing, bermain, dan melukis pemandangan. Hiruma melihat sekeliling dan mencari perempuan berwarna auburn yang pernah ditemuinya.
'Apakah dia ada disini?'
Hiruma berjalan menyusuri sisi sungai sambil melihat ke sekeliling. Hiruma menaiki tangga dan langsung berjalan ke toko olahraga.
"Selamat datang!' seorang lelaki tua menyambut kedatangan Hiruma. Sesaat Hiruma masuk ke dalam toko Olahraga seorang perempuan menggunakan seragam SMA Deimon keluar bersama dua orang perempuan, yang satu memakai kaca mata dan yang satunya lagi mempunyai rambut coklat.
Hiruma memperhatikan tiga perempuan itu dan kaget melihat Wanita berambut coklat Auburn yang tertawa mendengar obrolan teman-temannya dan masuk ke bus yang menunggu penumpang.
"H-hei!" Hiruma berusaha mengejar mereka tapi sayang Bus sudah berangkat. "Stupid Bus!" umpat Hiruma sambilmemukul tiang tanda tempat bus berhenti.
Hiruma menarik nafas dan menenangkan dirinya.
'Dia tadi memakai pakaian SMA Deimon kan?' pikir Hiruma sambil mencoba mengingat-ingat kejadian tadi. Setelah beberapa detik di menyeringai dan menunjukkan gigi runcingnya. 'Kita akan bertemu Mamori…'
To Be Continue
A/N: Bagaimana Chapter 2? Bagus, Jelek, Biasa, Butuh diperbaiki? Silahkan kirimkan ke saya lewat PM atau Review! (Tapi saya lebih suka Review…) dan satu lagi! Jika ada yang mau menggambar Hiruma yang ada di Fic ini, silahkan kirimkan ke PM saya. Sekian! Wass.
