Chapter 2

please enjoy ^^

.

.

.

(Tulisan tipe ini berarti sempilan dari author ya)

Tulisan tipe begini berarti penyuaraan pikiran karakter dlm cerita

Mark tanpa membuang waktu, pada pagi hari berikutnya langsung mengunjungi kamar pengurus asramanya untuk memohon pergantian partner kamar. Dia bahkan tak bisa tidur dengan tenang semalam. Perkataan teman-temannya tentang berganti partner waktu itu entah mengapa muncul kembali dalam otaknya dan mulai mengusiknya. Hingga membawanya pada satu keputusan, dia ingin segera melakukannya – berganti partner kamar, dengan siapapun tak masalah asal dia merasa dimanusiakan. Dan entah karena reaksi tubuhnya begitu kuat terhadap pikirannya itu, Mark terbangun bahkan saat ayam belum berkokok. (well, anggap aja di korea sana ada ayam berkokok di pagi hari kaya di rumah saya)

Saat itu masih pukul 05.01 pagi dan Mark sudah menggedor-gedor pintu kamar sang pengurus asrama tanpa ampun.

Tentu saja menimbulkan kegaduhan yang membuat siapa saja yang mendengarnya ingin mengutuk siapapun yang melakukannya.

Dan bagaimanakah menurut kalian reaksi sang empunya kamar yang pintu kamarnya digedor tanpa ampun sepagi itu? Well, kita lihat saja. Karena selang beberapa detik setelah itu, pintu di depan Mark tersentak terbuka menampilkan sosok namja dengan kerutan tak suka di seluruh bagian wajahnya

" YAAKK… KAU TAHU JAM BERAPA INI HAH?!" teriakan itu menyusul setelahnya, menambah keributan di asrama pagi itu

Tapi meski begitu, namja jangkung – Jang Wooyoung – yang masih setengah sadar itu memberi jalan Mark untuk masuk. Well dia perlu meneruskan tidurnya untuk menyambung mimpinya yang terputus. Eoh, memang bisa?

Mark langsung mengutarakan maksud dan tujuannya untuk bertukar partner kamar sesaat setelah menjatuhkan pantatnya di lantai sebelah kasur yang sudah kembali ditempati sang pemilik.

" kenapa? Kau ada masalah dengan partner kamarmu?" respon sang pengurus asrama tak begitu peduli, masih kesal karena waktu tidurnya yang berharga dirusak anak ingusan satu ini.

" kau ingin tahu apa pendapatku?" tanyanya setelah melihat Mark hanya mengangguk menjawab pertanyaannya tadi " berdamailah dengannya dan cepat pergi dari sini Mark Tuan" usirnya tanpa ampun.

Mark meringis kecil mendapat usiran sepagi itu. Well salahmu juga sih Mark mengganggunya pagi-pagi begitu.

" tapi saem, tak bisakah kau pikirkan permintaanku? Satu kali ini saja, aku janji akan selalu jadi murid baik. Toh aku tidak pernah melakukan pelanggaran selama aku bersekolah disini kan saem?" Mark masih berusaha merayu dengan lembut.

" No" jawabnya tanpa membuka mata.

" saem please... akan kulakukan apa saja untukmu jika kau bisa kabulkan permintaanku ini saem. Tolong bantulah aku, ne?" kini bahkan Mark mengeluarkan jurus aegyonya.

" apa sih masalah kalian?" sepertinya tidurnya kali ini memang harus berakhir saat itu. Karena kutu ingusan tak tahu diri yang sedang merengek di samping ranjangnya itu.

Mark hanya bergumam tidak jelas.

Well, tidak ada masalah serius sebenarnya memang antara dia dan si roommate. Tapi sikap tidak bersahabat yang didapatnya membuat Mark tidak betah di kamar itu. Mark tidak bisa tahan jika mendapat pengabaian dari orang yang akan terus ia temui setiap hari. Dan Ya Tuhan, si Junior itu bahkan tak pernah melirik ke arahnya. Apakah dia semacam wabah yang perlu dihindari? Yang bahkan akan menberimu penyakit mematikan saat kau melirik kearahnya? And yes, Mark anggap itu sebagai suatu penghinaan terhadap harga dirinya tentu saja. Dan dia sudah tidak tahan lagi. Dia harus segera keluar dari kamar itu.

" yaa.. kenapa kau malah diam saja hah?" suara Jang saem membawa Mark kembali tersadar " apa masalahmu dengan partner kamarmu?" diulangnya kembali pertanyaannya tadi.

" hmm.. ng.. se-sebenarnya tidak ada apa-apa antara aku dengan partner kamarku saem" Mark menjawab terbata. Tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya.

" mwoya?" Jang saem mengerutkan kening tidak suka mendengar jawaban Mark yang kini menggaruk tengkuknya mengalihkan pandangan.

" ngg.. ak- em maksudku kita – aku dan partner kamarku – tidak berselisih atau bagaimana saem, tapi sepertinya dia tidak suka aku disana. Mungkin bahkan sangat benci? Aku tidak tahu, karena dia bahkan tidak pernah melirikku saem"

" oh my.. Mark, aku tidak percaya kau senarsis ini?!" Wooyoung sampai terbangun dari posisi tidurnya demi menunjukkan kekagetannya " dan Ya Tuhan… kau bahkan ingin pindah hanya karena dia tidak mau melirik kearahmu? Memangnya kau pikir kau siapa minta diperhatikan begitu huh? Selebritis, anak konglomerat, atau bahkan anak presiden? Sampai semua orang harus melihat ke arahmu?" lanjutnya tanpa jeda.

" urghh.. bukan begitu saem" Mark meringis mendengar celaan dari saem-nya. Jang saem itu memang terkenal bermulut tajam, Mark tahu itu. Tapi mengalaminya sendiri – dicela di depan wajah sendiri, bahkan sepagi ini pula – membuatnya sedikit mengkerut " aku tidak pernah berpikir aku semenarik itu saem" ujarnya lagi semakin menciut.

" lalu apa?" Wooyoung menatap sesaat Mark yang menunduk dan sebelah tangannya bergerak mengusap pelan tengkuknya, sebelum sebuah analisa – yang entah dari mana – di kepalanya mengagetkannya hingga ia melebarkan mata "owh.. Mark apa kau menyukai anak itu? Dan karena dia tidak memberimu perhatian lalu kau sakit hati dan ingin pindah begitu?"

" n-nde?" Mark mengangkat kepalanya mensejajarkan dengan pandangan sang saem yang masih membulat menatapnya di depan sana. Tentu saja kaget dan bingung. Dari mana Jang saem bisa berpikiran demikian?

" a-apa sih yang saem bicarakan?" meski jelas bukan itu alasan Mark ingin pindah, tapi mendengar tuduhan begitu membuat Mark kikuk dan entah kenapa ia merasa pipinya sedikit memanas. Ada apa dengan dirinya? Entahlah… jika dipikir-pikir, Mark bahkan tidak tahu kenapa dia sangat sefrustasi ini hanya karena tidak diberi perhatian oleh teman kamarnya itu?

" aku tidak menyukainya. Dan alasan aku ingin pindah karena sepertinya dia bahkan tidak menganggapku sebagai manusia. Saem aku tidak betah di kamar itu. Aku selalu merasakan hawa-hawa pengusiran di sana" akhirnya Mark bersuara saat sang saem tak lagi bertanya setelah tuduhan tak berdasarnya tadi.

" kumohon saem, aku hanya ingin pindah kamar. Aku tidak minta penambahan nilai PE-ku"

" tidak semudah itu Mark" Wooyoung masih tidak mengerti alasan anak itu tidak betah bersama teman barunya, tapi bukan itu yang membuatnya tidak bisa mengabulkan permintaannya.

" kau tahu kan perombakan susunan penghuni asrama terjadi atas perintah siapa?" Wooyoung menatap Mark seksama dan melanjutkan saat mendapat anggukan dari Mark " dan aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena beliau berpesan untuk tidak merusak susunan yang telah beliau buat"

" saranku, mungkin kau bisa kembali sekarang ke kamarmu. Mulai dekati teman kamarmu, ajak dia mengobrol"

Huh.. mengobrol bagaimana? Di kepalanya bahkan mungkin tertanam pemikiran kalau dia bahkan hidup sendiri di dunia ini. Tanpa orang lain! Mark tak menyahut memang, tapi Jang Wooyoung jelas melihat ekspresi itu di wajahnya. Ekspresi lelah yang menunjukkan ketidaksanggupan mental untuk melakukan sarannya tadi.

Karena itu ia pun berkata, "Jika dia sesusah itu, mungkin kau perlu pendekatan ekstra?" Jang Wooyoung menepuk pelan pundak Mark memberi dukungan.

Andaikan anda tahu apa yang sudah kulakukan untuk mendapat perhatiannya saem? Jika yang kulakukan itu bukan termasuk 'pendekatan ekstra' seperti kata Jang saem, lalu hal apa lagi yang harus aku lakukan?

" dan jika itu tidak mempan juga, kau hanya punya dua pilihan Mark. Abaikan saja juga dia seperti yang dilakukannya padamu, atau kau bisa langsung minta pindah pada kepala sekolah"

Urrghh.. pilihanku hanya bertahan hingga lulus kalau begitu. Mark pamit dan kembali dengan pupus harapan pagi itu.

" hey!" seorang pemuda jangkung tiba-tiba muncul begitu saja di hadapan Mark. Membuatnya yang tengah fokus pada handphone-nya sedikit terperanjat.

" Mark Tuan?" namja itu kembali bersuara.

" ya, aku Mark. engg... kau siapa?"

" Hm, aku Yugyeom. Aku hanya ingin mengatakannya sekali. Dengarkan aku baik-baik eoh?" namja jangkung itu menaikkan kedua alisnya saat menanyakan itu. Berusaha mendapatkan perhatian penuh dari Mark yang ada di depannya.

" Kau kan sudah besar, harus sadar diri dong. Tidak bisakah kau merapikan dan membersihkan kamarmu sendiri? Kenapa kau harus membuatnya berantakan jika tidak ingin membersihkannya?" ujarnya dengan wajah kesal yang sangat kentara.

"ye?" siapa yang tidak bingung, ketika tiba-tiba seseorang yang tidak kau kenal marah-marah tentang kebiasaan burukmu? Mungkin separuh isi dunia akan menjawab persis seperti yang Mark lakukan saat ini " maaf, tapi aku tidak paham yang kau katakana erm… Yyuu-ssi?"

" kau…" namja itu menunjuknya dengan satu telunjuk sambil menatapnya risih " pokoknya, tolong bersihkan juga kamarmu, atau paling tidak rapikan sendiri barang-barangmu!" ujarnya sambil lalu dan kemudian pergi dari hadapan Mark.

Mark yang ditinggalkan hanya mematung dengan kening berkerut. Ada apa dengan namja itu? Dan apa katanya tadi? Bersihkan kamarku? Huhh memang dia siapa? Segala mau mengurusi kehidupanku? Mark mengangkat bahu sejenak sebelum kembali menyusuri koridor sekolah untuk menuju kelas berikutnya.

...

Mark kembali ke kamarnya setelah semua kegiatannya di sekolah selesai. Bahkan tadi ia sempatkan untuk main basket sebentar bersama beberapa temannya sebelum pulang. Mark tidak begitu suka olahraga, tapi ia suka bermain basket dan berenang.

Akhir-akhir ini ia dengan rajin mengunjungi kedua tempat olahraga itu biasa di lakukan, entah itu lapangan basket ataupun kolam renang sekolah. Dia suka berlama-lama di sana untuk menghabiskan waktu walaupun sebenarnya tidak ada yang dilakukannya. Dia tidak begitu tertarik untuk kembali lebih cepat ke kamarnya. Huh... bagaimana kau akan betah berada di suatu tempat yang memberimu suasana bosan dan sepi? Ya, kamarnya sekarang selalu memberinya suasanya bosan, sepi – dan benar-benar senyap hingga bahkan kau bisa mendengar deru napasmu, canggung dan yang paling penting adalah Mark selalu merasakan aura pengabaian.

Entah kenapa tapi Mark yang katanya ingin mendapatkan kembali ketenangannya itu justru tidak suka dengan keadaannya sekarang. Padahal harusnya dia bersyukur karena tidak ada lagi keributan Jack di semua kesempatan bahkan saat ia baru saja membuka matanya. Mark pun harusnya bersyukur karena ia tidak perlu membersihkan kekacauan yang teman-temannya buat di kamarnya dan malah ada si Junior itu yang akan membersihkan untuknya tanpa banyak mengeluh padanya. Oh yeahh kau benar, tanpa "pernah" mengeluh – bahkan tanpa pernah mau repot-repot melirik – padanya.

Oh omong-omong tentang membersihkan kamar Mark ingat tentang yang diucapkan namja jangkung asing siang tadi. Apakah si Junyeom, Ttukyoung, Yoohyeon atau siapalah itu tadi mengatakan tentang ia yang tidak pernah membantu teman kamarnya untuk membersihkan kamar? Urgh… sepertinya begitu. Tapi bagaimana orang itu tau kalau Mark tidak pernah mau membantu roommate-nya? Mark saja baru bertemu dengan namja itu siang ini tadi. Apakah dia seorang stalker? Ah.. bisa jadi begitu kan? Namja jangkung itu seorang fan yang sangat mengidolakan Mark. Lalu karena saking sukanya ia mencari tahu kegiatan Mark. Dan saat tahu Mark tidak sebaik itu saat menyangkut, teman kamarnya namja itu kecewa padanya dan tadi ia berusaha menegur sikap Mark? Hmm.. masuk akal tidak sih? Aigo apa yang kau pikirkan Mark? Aku bahkan tidak pernah melihatnya di asrama. Pikir Mark sedikit curiga pada si namja Ttuk-ttuk siapalah itu.

Huuftt... Mark membuang napas berat sebelum memutar kenop pintu kamarnya.

Aku pulang... Mark melangkah masuk.

Dan tepat saat itu, ia mendengar sayup-sayup suara dua orang tengah mengobrol dari lantai atas kamarnya. Meski tidak keras tapi cukup tertangkap indera pendengarnya. Dan obrolan itu berhenti seketika saat Mark membuat gaduh ketika menutup kembali pintu di belakangnya.

Mark melihat seorang yang menempati sebuah kursi belajar di atas sana bergegas berdiri. Dan setelahnya si Junior itu juga terlihat, saat sebelumnya tidak terlihat dari tempat Mark berdiri tadi. Mungkin dia tadi sedang duduk atau mungkin berbarign di ranjang saat temannya menempati kursinya. Mark memalingkan indera penglihatannya saat ia sadar kedua orang itu akan beranjak pergi. Mark berusaha acuh karena ia tahu pasti si Junior dan temannya itu tidak ingin obrolan mereka terdengar olehnya, sehingga mereka bergegas pergi saat Mark di sana. Ia berjalan lurus ke arah kasurnya menghindari menatap ke arah orang-orang di sana.

Huh dia punya teman ternyata. Pikirnya sebelum menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.

Sungguh hari yang panjang. Dan Mark mulai menutup matanya perlahan.

Selang beberapa saat, Mark mendengar sedikit keributan dari arah tangga kecil yang terletak di sisi terdalam kamar itu – tepat di ujung kaki ranjang Mark. Mark tak mau tahu sebenarnya, tapi kemudian terdengar langkah-langkah halus yang seakan mendekat kearahnya. Mark kembali menajamkan pendengarannya. Kalah oleh rasa ingin tahunya yang besar. Namun, tak ada suara apapun setelah itu. Hening. Mark akhirnya menyerah setelah beberapa saat ia tak mendengar lagi ada suara di sana.

Namun, tepat ketika kesadarannya mulai hilang. Tiba-tiba.. " chogiyo" terdengar suara pelan di dekatnya yang membuat Mark terperanjat seketika.

Ya Tuhan. Dengan masih terpejam meski kini sadar sepenuhnya, Mark berusaha menenangkan debaran jantungnya yang mulai ribut di dalam sana. Sungguh siapapun orangnya, tidak tahukah bahwa Mark sedang berusaha untuk istirahat?

Dan saat tahu siapa yang ada di depannya Mark terbelalak kaget. Tidak percaya dengan penglihatannya, Mark berkedip berulang kali untuk memastikan bahwa benar Junior – roommate-nya – yang kini di depannya. Dan suara tadi, suaranya kah?

Mark melihatnya membuka mulutnya untuk menyampaikan sesuatu. oh oh, dia akan berbicara padaku. PADAKU. Mark sedang berteriak keras dalam pikirannya.

" ch-chogi...yo" ulangnya lagi dengan suara pelan dan terbata.

oh God.. itu memang suaranya.

~ tbc ~

WHAT? Jinyoung mau ngomong sama Mark? Mau ngomong apa ya dia? /

Urghh… short update L

Mana kaga jelas pula! Typo dimana-mana juga! Urghh… mianhae-yo saya mah manusia biasa yang banyak dosa sumpah… maapin ye pemirsahh

Maaf juga lama banget update-nya

Semoga suka

Terima kasih sudah mau membaca sampai sini

Terima kasih yang sudah comment di chap sblm-nya, follow dan fav fic ini

Sayang deh… *sun atu-atu*