Previously,...
...
"Apa ada sekolah yang mengadakan piknik di sekitar sini?"
"Aku rasa, kita harus menghubungi pihak sekolah. Tiga siswi mereka tersesat disini."
"ayolah~ ini bukan tempat bermain. Kalian tidak bisa melakukan eksperimen disini."
"Kau benar, Kai! Mereka pasti mengira ini rumah kosong sehingga mereka bisa menciptakan gosip murahan untuk mereka bagikan dengan teman-teman mereka."
"Pergilah, anak-anak... jangan sampai kau ketinggalan rombonganmu dan tak bisa kembali pada mama dan papa."
"hm, bukankah tak lucu jika anak gadis mama tidak bisa kembali pulang nanti?"
Ckrek! Ckrek!
Dooor!
Semua orang mematung, terutama ketiga pria tampan yang menatap tak percaya pada apa yang baru saja terjadi beberapa detik lalu yang kecepatannya menyerupai kecepatan kilat. Apa kepala mereka masih utuh? Karena, sungguh pistol itu tepat berada di hadapan mereka, di hadapan Sehun lebih tepatnya. Gerakannya sangat cepat, bahkan sama sekali tak terlihat jika wanita bermata rusa bersurai aqua itu hendak menarik keluar pistolnya dan tanpa perhitungan langsung menarik pelatuknya hingga meluncurkan pelurunya kearah kepala Sehun begitu saja. Ini benar-benar gila. Dan, akan lebih gila lagi karena—tidak ada anak gadis mama yang bermain membawa pistol sungguhan!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Light Black
Main Cast : Luhan, Oh Sehun
Other Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kim Jongin, Do Kyungsoo
.etc.
HunHan. ChanBaek. KaiSoo
story by : Min J-Lu
.
.
.
Enjoy reading guys!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chanyeol dan Jongin mengerjapkan kedua matanya shock, berbeda dengan Baekhyun dan Kyungsoo
yang bersmirk ria. Puas dengan aksi Luhan yang masih mengacungkan pistolnya di hadapan Sehun. Sementara, Sehun yang seharusnya bernafas lega karena peluru yang keluar dari pistol yang teracung di depannya meleset ke dinding, justru yang ia lakukan adalah mengamati wanita cantik bermata rusa di depannya. Bagaimana caranya memegang pistol yang tak biasa. Bagaimana kedua mata rusanya yang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Dan—bagaimana bisa disaat seperti ini Sehun masih beranggapan jika wanita pemegang pistol di depannya terlihat seksi entah dari sudut pandang yang mana. Okay, abaikan pernyataan Sehun yang terakhir.
"Sehun.. Sehun.. Sehun.. apa kepalamu baik-baik saja? Kepalamu masih utuh? Tidak berlubang 'kan?" tanya Jongin dan Chanyeol kompak mengecek keutuhan kepala Sehun apakah berlubang atau tidak. Sehun berdecak, ia menepis tangan-tangan besar yang meraba-raba kepalanya tanpa henti dan kembali memusatkan perhatian pada ketiga wanita tak diundang yang berani masuk ke kediamannya.
"Siapa kalian?!" tanyanya datar.
"Kamar paling besar berada di lantai dua. Dan itu masih kosong. Aku rasa, kita bertiga bisa tidur disana." sahut Kyungsoo tak melepas pandangannya sedikitpun dari layar ponselnya dan mengabaikan pertanyaan Sehun tentu saja.
"jinjja? Akan menyenangkan kalau kita satu kamar." sambung Baekhyun antusias.
"Apa kalian tidak punya sopan santun?" tanya Chanyeol geram.
"Seharusnya kami yang bertanya seperti itu. Apa begini caramu memperlakukan tamu yang datang? Bahkan, aku tak menyangka akan tinggal di kandang hewan!" balas Baekhyun tajam. Chanyeol menggeram tak terima.
"Apa katamu?! Kau yang tidak punya sopan santun. Tamu mana yang menodongkan pistol pada tuan rumahnya sendiri?!"
"Masih untung temanku sengaja melesetkan tembakannya ke arah dinding! Kau seharusnya berterima kasih!"
"Kau bilang masih untung?! Dan, apa berterima-kasih? Bagaimana jika tembakannya tidak meleset?! Temanku sudah mati di tempat sekarang!"
"Jangan berlebihan! Nyatanya, temanmu masih bernafas dan masih dalam keadaan sehat!" tutur Baekhyun tak terima. Chanyeol mendesis.
"Tetap saja! Tidak baik, anak sekolah bermain-main dengan pistol!"
"Sial! Mulut besarmu benar-benar menyebalkan!" desis Baekhyun benar-benar geram, sungguh ia ingin sekali mematahkan leher pria bertelinga lebar yang sialnya berwajah tampan di depannya.
"Baek~" Luhan menengahi yang membuat Baekhyun mempoutkan bibirnya kesal.
"Kau menggangguku, Lu." rengek Baekhyun. Luhan tersenyum kecil.
"Maaf, jika kedatangan kami terlalu tiba-tiba dan mengganggu kalian. Tapi—" Luhan menjeda ucapannya sejenak menatap tak nyaman dengan keadaan di sekelilingnya.
"Benar apa kata Baekhyun, bahkan kandang kucingku saja masih bersih daripada rumah ini." Kyungsoo bergumam pelan membuat Luhan memejamkan kedua matanya erat, oh—kedua sahabatnya ini memang punya sifat yang luar biasa mengagumkan. Sementara, ketiga pria tampan itu membulatkan kedua matanya mendengar celutuk Kyungsoo yang tak bisa dibilang pelan diirngi Baekhyun yang terkekeh puas.
"YAK!" seru Jongin dan Chanyeol tak terima.
"wae wae wae?! Aku 'kan hanya bicara fakta." ujar Kyungsoo polos.
"Kyung~" lagi-lagi Luhan menginterupsi. Ia menarik nafas sejenak sebelum dengan acuhnya melempar sebuah amplop coklat dihadapan ketiganya yang ditangkap sigap oleh Sehun.
"Titipan dari Kris. Dan, aku rasa kalian harus mulai membiasakan diri dengan kehadiran kami di rumah ini—" Luhan menjeda perkataannya sejenak, sebelum mengangkat sudut bibirnya membentuk seringai hanya untuk mengucapkan, "—hoobae..." remehnya yang membuat Kyungsoo dan Baekhyun terbahak sementara Sehun, Jongin dan Chanyeol yang menggeram tertahan. Sial! Dia sama saja dengan kedua temannya.
.
.
.
.
.
"tidaktidaktidak... lelucon macam apa ini?" seru Jongin tak terima. Kini ia bersama Chanyeol dan Sehun berada di ruang kerja Sehun yang menjadi satu dengan kamarnya yang berada di lantai dua. Sebenarnya, di rumah itu hanya ada empat kamar. Tiga kamar berukuran sama serta satu kamar yang ukurannya dua kali lipat dari tiga kamar yang lain yang mereka gunakan jika mereka ingin tidur bersama. Keempat kamar itu berada di lantai dua. Sementara lantai satu hanya berisi ruang tengah-tanpa ruang tamu-, dapur, serta tiga ruang kosong yang belum mereka isi sejak mereka pindah sampai sekarang. Basement yang berada tepat di bawah rumah serta kolam renang dan taman minimalis yang terletak di bagian belakang.
"Apa Kris hyung membohongi kita lagi?" tanya Chanyeol ikut histeris seperti Jongin sedangkan Sehun membaca teliti isi amplop yang dilemparkan Luhan padanya. Sehun mengetuk-etukkan jarinya di atas meja kerjanya. Ia menarik nafas sesekali mendesis frustasi saat membaca setiap deret kalimat yang tertulis di kertas-kertas itu.
"Apa isinya?" tanya Jongin. Sehun mengangkat wajahnya dan menatap kedua sahabatnya jengah.
"Mereka—adalah orang yang Kris hyung kirim."
"mworago?" pekik Chanyeol dan Jongin bersamaan membuat keduanya saling berpandangan sebelum kembali mengalihkan perhatian mereka pada Sehun.
"Jangan bercanda, Oh! Tiga gadis SMA itu? Aku ingin tertawa keras-keras," lanjut Jongin. Sehun tersenyum miring.
"Faktanya, mereka lebih tua dari kita."
"mwo?" Sehun menarik nafas ia membalik tiga berkas yang baru saja selesai ia baca dan menjejernya diatas meja beserta foto profil sesuai dengan namanya masing-masing, memperlihatkan semua itu pada kedua sahabatnya.
"yah~ meskipun ada seorang yang seumuran dengan kita. Tapi, fakta bahwa mereka adalah senior kita adalah benar." Chanyeol dan Jongin menggeleng tak percaya.
"Mereka lulusan Akademi Intelligence khusus wanita di New York, dan sebelumnya mereka adalah alumni Dwight School Seoul sekolah elit besutan New York yang memberikan kejeniusan dalam segala aspek pada murid-muridnya tanpa batas." Sehun mulai menjelaskan.
"Yang paling muda adalah Do Kyungsoo, seorang hacker wanita yang mendapat peringkat kedua seangkatan akademiknya sebagai hacker tercerdik. Dan, yang lebih mengesankannya lagi ia bisa menjarah semua jaringan di dunia ini dalam hitungan menit dan membuat semuanya berada di bawah kendalinya. Kemampuan lainnya ia juga seorang sniper yang handal."
"woah~ aku tak percaya gadis mungil sepertinya bisa melakukan semua itu." kagum Jongin tak ingin percaya dengan apa yang ia dengar.
"Kau lebih tak akan percaya jika aku mengatakan bahwa Do Kyungsoo adalah putri bungsu Letnan Jenderal Do Mingwoo." Jongin dan Chanyeol membulatkan kedua matanya semakin tak percaya.
"jinjjayo?"
"Lagi pula, akan aneh jika seorang hacker pandai menembak jarak jauh 'kan? Dia pasti mendapat latihan privat dari ayahnya." tanya Sehun yang diangguki setuju oleh kedua sahabatnya.
"Lalu, bagaimana dengan yang lain?" tanya Chanyeol tak sabar.
"Yang kedua adalah Byun Baekhyun, seorang Stealth. Ia juga atlet hapkido sejak kecil yang mendapat sertifikat tertinggi dari pemerintah."
"Bagaimana dengan latar belakang keluarganya?" fakta bahwa latar belakang Kyungsoo tidak main-main, hal itulah yang membuat Jongin bertanya dan Chanyeol yang menatapnya was-was. Sehun diam-diam menyeringai.
"Menurutku, justru ini akan lucu." tutur Sehun.
"Jika lucu kenapa kau tidak tertawa?" tanya Jongin polos. Chanyeol berdecak dan dengan kasar memukul kepala Jongin keras-keras.
"Jangan mengatakan hal omong kosong disaat hal genting seperti ini!" ujar Chanyeol. Jongin mencibir.
"Dia putri tunggal Menteri Byun Won." Chanyeol dan Jongin sontak menatap foto yang masih tergeletak diatas berkas profil milik Byun Baekhyun.
"oh-shit! Si mulut besar itu, anak menteri yang akan dipromosikan itu? Sulit dipercaya..." pekik Jongin lagi-lagi tak bisa mengontrol keterkejutannya. Sehun tertawa kecil sementara Chanyeol mengangkat sebelah alisnya bingung.
"Kau yakin, kau tidak salah baca?" tanya Chanyeol tak ingin percaya. Sehun tertawa kecil.
"Kau pikir aku buta huruf?"
"Mungkin saja, bahkan aku tidak pernah melihatmu membaca sejak kecil!" jika tak mengingat Chanyeol lebih tua beberapa bulan darinya, dengan senang hati Sehun akan memukul kepala Chanyeol keras-keras bahkan jika perlu ia bersedia melubangi kepala pria itu. Oh, dengan senang hati!
"Baca sendiri jika kau tak percaya!" sarkas Sehun kesal.
"Abaikan Chanyeol. Bagaimana dengan gadis yang menodong pistol kearahmu itu?" tanya Jongin penasaran membuat Sehun teringat akan sesuatu.
"omong-omong tentang dia. Bukankah kalian melihat bagaimana caranya memegang pistol tadi?" tanya Sehun. Jongin dan Chanyeol tampak mengingat. "Tak banyak pasukan bahkan penembak ulung yang memegang pistol sepertinya. Dia hanya menggunakan satu tangan terlebih itu adalah tangan kirinya."
"Apa dia kidal?" tanya Chanyeol. Sehun tampak berfikir sejenak.
"Aku rasa tidak. Dia menggunakan tangan kiri karena tangan kanannya memegang amplop ini." jawab Sehun. "Apalagi posisi pistolnya yang horizontal bukan vertikal seperti pada umumnya." lanjut Sehun.
"Dan setelah membaca profil tentang dirinya, aku tak heran jika dia adalah seorang Sharpshooter."
"ah~ pantas saja dia begitu lihai dan tak meleset sedikitpun. Tapi, sungguh—dia terlihat mengerikan." Jongin bergidik ngeri. Tak bisa membayangkan jika peluru itu tak meleset dan menembus kepala Sehun.
Sehun terkekeh kecil.
"Aku rasa itu caranya untuk menghentikan mulut besar kalian." sahut Sehun.
"Jika boleh kuingatkan, kau juga ikut meremehkan mereka tadi tuan Oh.." sinis Chanyeol yang hanya dibalas gedikan bahu tak peduli dari Sehun.
"Tapi, siapa namanya? Kau belum menyebut namanya tadi." tanya Jongin.
"Luhan." jawab Sehun singkat.
"Hanya Luhan?" Sehun mengangguk.
"Dia kelahiran China tapi besar di Jeongseon."
"Latar belakangnya?" tanya Chanyeol. Sehun terdiam sejenak, kemudian menggeleng kecil.
"Aku tidak tahu, karena di catatan ini hanya tertulis bahwa ia yatim piatu." Chanyeol dan Jongin tampak terkejut.
"Fakta lain?" tanya Jongin penasaran.
"Kau percaya dia seorang driver profesional?"
"Benarkah?" Sehun mengangguk.
"Disini, tertulis bahwa ia mencintai mobil. Segala hal tentang mobil atau kendaraan beroda empat atau lebih. Ia menyukainya luar dan dalam."
"Jadi, kemampuannya hanya itu?" tanya Chanyeol. Sehun menggeleng.
"Aku rasa orang yang Kris maksud adalah dia." Chanyeol dan Jongin mengangkat sebelah alisnya tak mengerti.
"Maksudmu?"
"Fakta yang lebih menarik dibandingkan latar belakangnya adalah dia seorang dokter bedah."
.
.
.
.
.
"Aku yakin, saat ini mereka pasti tengah terperangah membaca profil tentang kita." ujar Baekhyun percaya diri. Ia yang sedang tiduran di ranjang kamar barunya dengan Kyungsoo yang duduk tenang di sampingnya seraya memainkan tablet pribadinya. Sementara, Luhan yang sedang sibuk mengeringkan rambut panjangnya dengan handuk kecilnya hanya duduk tenang di sofa yang ada di kamar yang kelewat besar untuk mereka bertiga.
"Dan, sungguh—aksimu tadi sangat keren, Lu! Aku sudah lama tidak melihatmu beraksi seperti tadi." lanjut Baekhyun. Luhan tersenyum kecil.
"Apa kalian ingin melihat apa yang mereka lakukan saat ini?" tawar Kyungsoo membuat Baekhyun seketika bangkit dan merapatkan dirinya kearah Kyungsoo sedangkan Luhan yang berjalan santai mendekati mereka.
"Mereka benar-benar tampak seperti idiot." tutur Baekhyun tak hentinya tersenyum saat ia melihat layar tablet Kyungsoo yang berisi salah satu rekaman cctv di rumah ini. Dengan jari lentiknya, Baekhyun menekan tombol pengeras suara dan mengencangkan volumenya membuat suara ketiga pria pemilik rumah terdengar di setiap sudut kamar mereka.
""Mereka lulusan Akademi Intelligence khusus wanita di New York, dan sebelumnya mereka adalah alumni Dwight School Seoul, sekolah elit besutan New York yang memberikan kejeniusan dalam segala aspek pada murid-muridnya tanpa batas."
Dalam diam, mereka menyimak saksama setiap apa yang terlihat di layar tablet Kyungsoo.
"Yang paling muda adalah Do Kyungsoo, seorang hacker wanita yang mendapat peringkat kedua seangkatan akademiknya sebagai hacker tercerdik. Dan, yang lebih mengesankannya lagi ia bisa menjarah semua jaringan di dunia ini dalam hitungan menit dan membuat semuanya berada di bawah kendalinya. Kemampuan lainnya ia juga seorang sniper yang handal."
"woah~ aku tak percaya gadis mungil sepertinya bisa melakukan semua itu."
"Berani sekali dia mengataiku mungil." kesal Kyungsoo tak terima.
"Tapi, faktanya kau memang mungil, Kyung..." sahut Baekhyun.
"Fisikku juga tak jauh berbeda dari kalian. Jadi, jangan ikut mengomentari!" sarkas Kyungsoo membuat Baekhyun merengut diam sementara Luhan yang masih diam menyimak.
"Kau lebih tak akan percaya jika aku mengatakan bahwa Do Kyungsoo adalah putri bungsu Letnan Jenderal Do Mingwoo."
"jinjjayo?"
"Lagi pula, akan aneh jika seorang hacker pandai menembak jarak jauh 'kan? Dia pasti mendapat latihan privat dari ayahnya."
"Lalu, bagaimana dengan yang lain?"
"Yang kedua adalah Byun Baekhyun, seorang Stealth. Ia juga atlet hapkido sejak kecil yang mendapat sertifikat tertinggi dari pemerintah."
"Bagaimana dengan latar belakang keluarganya?"
"Kenapa mereka sangat mementingkan latar belakang?" tanya Baekhyun tampak tak suka.
"Mereka hanya memastikan. Setelah, melihat latar belakang Kyungsoo setidaknya mereka harus was-was dengan siapa mereka akan berurusan." jawab Luhan tenang.
"Tapi—" Baekhyun hendak menyanggah, namun dengan cepat Kyungsoo menyikut pinggangnya pelan dan menggeleng ringan. Pertanda, jangan memicu ketidak-nyamanan Luhan yang sedikit sensitif jika menyakut tentang latar belakang keluarga.
"Menurutku, justru ini akan lucu."
"Apa yang lucu dari latar belakangku?" berbeda dengan Kyungsoo yang sedari tadi hanya diam mendengar, maka Baekhyun adalah kebalikannya.
"Dia putri tunggal Menteri Byun Won."
"oh-shit! Si mulut besar itu, anak menteri yang akan dipromosikan itu? Sulit dipercaya..."
Baekhyun membulatkan kedua matanya terkejut.
"Dia mengataiku apa?!" serunya tak terima.
"Maaf, Baek. Tapi, kali ini aku menyetujuinya." sahut Kyungsoo.
"yak! Kau—" Baekhyun mempoutkan bibirnya kesal kemudian ia merangkul lengan Luhan, bersiap untuk merengek dan mengadu pada sang eonnie.
"Lu, lihatlah kelakuan Kyungsoo~" adunya yang membuat Kyungsoo memutar bola matanya malas.
"wae? Lagi pula Kyungie mengatakan hal yang jujur." Kyungsoo tertawa puas dan Baekhyun semakin memberengut kesal.
"ish, kau sama saja!" sentaknya melepas lengan Luhan. Luhan tersenyum kecil. Ia menarik tangan Baekhyun kembali seraya tersenyum cantik.
"Tapi, tidak akan seru jika tanpa mulut besarmu. Kau tahu, kau adalah pelengkap bagiku dan Kyungsoo." Baekhyun menarik ekspresi tak mengenakan sebelumnya dan berganti dengan mimik sumringah yang mengesalkan bagi Kyungsoo.
"ish! Kau masih saja sama seperti itu!" dan kini, giliran Kyungsoo yang memberengut kesal. Membuat Luhan terkekeh dan berbisik 'aku menyayangi kalian berdua' yang tentu saja di dengar jelas oleh keduanya.
"Abaikan Chanyeol. Bagaimana dengan gadis yang menodong pistol kearahmu itu?"
"Oh, giliranmu Lu." sahut Baekhyun antusias.
"omong-omong tentang dia. Bukankah kalian melihat bagaimana caranya memegang pistol tadi?"
"Tak banyak pasukan bahkan penembak ulung yang memegang pistol sepertinya. Dia hanya menggunakan satu tangan terlebih itu adalah tangan kirinya."
"Apa dia kidal?"
"Aku rasa tidak. Dia menggunakan tangan kiri karena tangan kanannya memegang amplop ini."
"Apalagi posisi pistolnya yang horizontal bukan vertikal seperti pada umumnya."
"Dan setelah membaca profil tentang dirinya, aku tak heran jika dia adalah seorang Sharpshooter."
"ah~ pantas saja dia begitu lihai dan tak meleset sedikitpun. Tapi, sungguh—dia terlihat mengerikan."
"Syukurlah, jika kau takut pada pahlawanku." tutur Baekhyun yang membuat Luhan tersenyum kecil meskipun tak mengucapkan apa-apa.
"Aku rasa itu caranya untuk menghentikan mulut besar kalian."
"Oh, itu benar sekali!" sahut Kyungsoo setuju.
"Jika boleh kuingatkan, kau juga ikut meremehkan mereka tadi tuan Oh.."
"Tapi, siapa namanya? Kau belum menyebut namanya tadi."
"Luhan."
"Hanya Luhan?"
"Dia kelahiran China tapi besar di Jeongseon."
"Latar belakangnya?"
Ketiga wanita itu terdiam tepatnya Luhan yang tampak mematung sedangkan Kyungsoo dan Baekhyun yang melirik cemas kearah wanita cantik bermata rusa itu.
"Aku tidak tahu, karena di catatan ini hanya tertulis bahwa ia yatim piatu."
"Fakta lain?"
"Kau percaya dia seorang driver profesional?"
"Benarkah?"
"Disini, tertulis bahwa ia mencintai mobil. Segala hal tentang mobil atau kendaraan beroda empat atau lebih. Ia menyukainya luar dan dalam."
"Jadi, kemampuannya hanya itu?"
"Aku benar-benar ingin mencincang pria itu." Geram Baekhyun gemas. Luhan terkekeh kecil.
"Jangan terlalu kesal. Kau bisa suka padanya." sahut Luhan asal.
"Kau bercanda?" Luhan mengedikkan bahunya tak peduli.
"Aku rasa orang yang Kris maksud adalah dia."
"Maksudmu?"
"Fakta yang lebih menarik dari latar belakangnya adalah dia seorang dokter bedah."
"Oh, aku sangat berharap kau membedah organ mereka dan mengambil pita suara mereka, Lu." ujar Baekhyun lagi yang membuat Luhan terbahak cukup keras.
"Atau jika ingin langsung tanpa pembedahan, kau jahit mulut mereka saja secara langsung." sambung Kyungsoo.
"yak! Kenapa kalian sangat kejam?" tanya Luhan tenang. "Lagi pula, yang mereka katakan bukanlah kesalahan. Aku memang yatim piatu."
"Lu~" lirih Baekhyun mendekati Luhan dan merangkul wanita kuat itu. Kyungsoo tersenyum sendu, ia meletakkan tabletnya dan ikut merangkak mendekati Luhan dan memeluk wanita cantik itu dari samping kiri yang kosong-karena Baekhyun berada di samping kanan Luhan-
"Kau ingat pembicaraan kita terakhir kali?" tanya Kyungsoo. Luhan hanya diam mendengar. "Kau tidak sendiri. Ada kami disini. Dan—bisakah kau mempercayakan kami?"
Luhan menunduk sejenak.
"Kalian tahu jawabanku." jawab Luhan singkat yang membuat Kyungsoo maupun Baekhyun semakin mengeratkan pelukannya. Berharap jika pelukanya bisa sedikit mengurangi beban yang Luhan tanggung seorang diri sejak ia berusia 13 tahun.
.
.
.
.
.
Kedua mata rusa itu termenung menatap langit malam yang sedikit berpendar bintang. Jarum jam menunjukkan pukul 2 dini hari, tapi seolah seperti kebiasaan lamanya, kedua mata teduhnya itu tetap terlihat terang disaat waktu yang seharusnya ia pergunakan untuk tidur. Seperti kedua sahabatnya atau seperti penghuni rumah yang lain. Bahkan, ketika angin malam yang berhembus menusuk tulang rusuknya tak begitu ia abaikan dan tetap melakukan rutinitas malamnya ketika kedua matanya enggan tertutup.
Luhan menghembuskan nafasnya perlahan, menenangkan diri. Agaknya, ia bersyukur meskipun keadaan dalam rumah ini tampak mengenaskan setidaknya bagian belakang rumah yang terdapat taman dan kolam renang, terasa cukup sejuk untuknya menyendiri.
"Kau tidak tidur?" Luhan menoleh dan mendapati seorang pria tampan bermata elang berdiri di sampingnya. Pria yang nyaris ia layangkan peluru tadi malam ketika ia datang. Luhan tersenyum kecil.
"Orang normal menggunakan kata belum untuk bertanya, kenapa kau menggunakan kata tidak?" Luhan balik bertanya. Membuat Sehun, pria tampan yang datang menghampirinya tanpa ia duga dan tanpa meminta ijin Luhan, duduk di samping wanita yang terlihat mempesona padahal hanya mengenakan celana training dan kaos lengan panjang. Rambut panjangnya yang berwarna aqua yang diikat asal menyisakan beberapa helaian jatuh di dekat daun telinganya.
"Karena kau tampaknya tidak akan tidur." jawab Sehun singkat. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, mengabaikan tatapan Luhan yang dengan jelas melihat kearahnya.
Luhan mengamati Sehun lamat-lamat. Yah, sejujurnya ia mengakui jika Sehun memang tampan luar biasa. Bagaimana mata sipitnya yang setajam elang, garis rahangnya yang tegas dan kulitnya yang seputih susu alami. Bahkan, Sehun tetap tampan meskipun ia hanya mengenakan kaos pendek hitam dan celana trainingnya dengan rambutnya yang teracak berantakan.
"Maafkan aku, soal kejadian tadi. Aku tahu, itu tidak sopan." lirih Luhan memecah keheningan.
Tanpa Luhan sadari, Sehun tersenyum kecil. Senyuman yang menyiratkan ketulusan yang jarang sekali ia tunjukan. Bukan ejekan atau remehan seperti yang Sehun perlihatkan selama ini.
"Aku suka gayamu," puji Sehun. Luhan tersenyum kecil dan Sehun melihatnya. Senyum kecil itu benar-benar terlihat cantik saat muncul di belah bibir tipisnya.
"Terima kasih atas pujianmu."
"Juga—aku minta maaf karena tidak menyambut kalian dengan semestinya." Luhan mengedikkan bahunya acuh.
"Aku kira, kau pria yang tak banyak bicara omong kosong." Sehun tertohok. Ya, benar, ia memang pria yang tak begitu banyak bicara jika tidak mengenai hal penting apalagi itu diluar topik pekerjaan. Tapi, kenapa ketika ia melihat Luhan ia tidak bisa menahan diri untuk berbincang ringan dengannya?
"Apa aku mengganggumu?"
"Tidak. Aku hanya terkejut."
"Kau sudah tahu tentangku?" Luhan mengangguk kecil.
"Aku sudah tahu, sebelum aku datang kemari. Kris sudah mengatakannya padaku tentang keberhasilan team work-mu selama ini. Jadi, apa ini pertama kalinya kau dan kedua temanmu akan bekerja bersama agen wanita?"
"eoh... ini pertama kalinya. Bagaimana denganmu?" Luhan mengalihkan pandangannya. Ia menatap jauh ke depan sebelum menjawab pertanyaan Sehun,
"Agen wanita sangat berbeda dengan agen pria. Kami tidak pernah mendapat team work yang tetap, bahkan kadang kami harus bekerja sendiri." jawab Luhan.
"Dan, apa ini pertama kalinya untukmu bekerja sebagai tim?"
"Ini ketiga kalinya."
Dan, selanjutnya hanya ada keheningan diantara mereka. Luhan yang masih asik dengan dunianya dan Sehun yang diam-diam mencari topik pembicaraan.
"omong-omong, karena kau seorang dokter—apa aku boleh meminta bantuanmu?" Luhan menoleh untuk menatap Sehun yang juga menatapnya teduh.
"Katakan."
"Bisa kau periksa lukaku?" tanya Sehun yang kemudian ia berbalik badan dan langsung melepas kaos hitamnya di depan Luhan begitu saja.
Luhan terdiam sesaat menatapi punggung polos tegap milik Sehun yang terdapat goresan panjang yang sangat kontras dengan punggung putihnya.
"ssshh~" Sehun mendesis kala sentuhan jari lentik Luhan menyusuri luka di punggungnya yang cukup lebar.
"Kau tidak mengobatinya?"
"Aku tidak suka ke rumah sakit."
"Dan, kau membiarkannya?"
"Aku tidak begitu memperhatikan luka di tubuhku."
"Apa luka ini akibat Nagamaki? Kau berkelahi dengan orang Jepang?" Sehun tersenyum kecil meskipun Luhan tak melihatnya.
"ya, aku hampir dibunuh oleh anak keturunan Yakuza. Dan, darimana kau tahu?"
"Aku pernah mematai salah satu sindikat Yakuza, Inagawa-kai. Jadi, goresan seperti ini bukanlah pemandangan asing untukku." Sehun tampak terkejut.
"Kau mematai mereka seorang diri?" Luhan mengangguk meskipun Sehun tak melihatnya.
"Tentu saja. Agen wanita, lebih cenderung bekerja sendiri." entah untuk alasan apa, Sehun merasa cemas tanpa sebab.
"Kapan kau mematai mereka?" tanya Sehun penasaran.
"hm... sekitar, delapan bulan yang lalu? Yang jelas aku mematai mereka selama dua bulan. Dan, setelah informasi yang mereka inginkan aku dapatkan, aku langsung mengirimkanya pada mereka."
"Apa Kris hyung adalah salah satu dari mereka?" tanya Sehun. Luhan terdiam sejenak sebelum tersenyum kecil membuat Sehun berbalik seraya mengenakan kembali kaosnya.
"yep. Sebenarnya, aku punya empat atasan."
"mwo?" Luhan tersenyum cantik.
"Satu London, satu China, dan dua Korea. Dan, Kris memang adalah salah satunya."
"Jadi, kau multi agent?" Luhan mengangguk.
"Sebenarnya, mereka tidak sepenuhnya atasanku... istilahnya, mereka hanya memberikan tugas padaku dengan dibawah pengawasan Jenderal Lee Byunghun." Sehun tampak mengeryit tak mengerti.
"Kau bekerja untuk kemiliteran?" tanya Sehun. Luhan tersenyum kecil.
"Bisa dikatakan seperti itu. Bagaimanapun negara membutuhkan orang-orang seperti kita."
"Dan, jangan bilang informan dari luar negeri itu adalah dirimu?" tebak Sehun. Luhan terkekeh kecil.
"Sebenarnya, tidak hanya aku informan dari luar. Anak buah Jenderal Lee tersebar banyak di berbagai negara, tapi—kebetulan aku yang mendapat tugas melapor ke Seoul." Sehun mengangguk paham.
"Oya, apa kau tahu siapa yang memberikan informasi keberadaan anak keturunan Yakuza kepadamu dan timmu, lima bulan yang lalu?" tanya Luhan kemudian.
"Do Kyungsoo?"
"Kau sudah tahu."
"Tidak, aku baru tahu. Ketika membaca riwayat profil kalian bertiga. Dan, hal itu membuat Kai juga terkejut, kau tentu tahu 'kan ia juga hacker sama seperti Kyungsoo. Jujur saja, wajah kalian sama sekali tak cocok untuk bekerja kasar seperti ini." Luhan tertawa merdu. "Dan, setelah mendengar fakta darimu, apa kau yang memberitahu Kyungsoo bagaimana keadaan Jepang waktu itu?"
"yep! Sebenarnya, aku hanya memberitahu Kris. Aku hanya memintanya untuk tidak membuat Kyungie berada di lapang."
"waeyo?"
"Dia pernah cidera sebelumnya." jawab Luhan yang setelahnya hanya ada keheningan antara keduanya. Sampai akhirnya, Luhan beranjak dan hal itu mampu mengalihkan perhatian Sehun kembali terpusat padanya.
"Aku sarankan, kau ke rumah sakit dan obati lukamu." tutur Luhan seraya menatap Sehun yang masih duduk di tempatnya.
"Kenapa tidak kau saja?" Luhan tampak tertegun. "Ada dokter di tim-ku. Jadi, untuk apa aku harus ke rumah sakit?" lanjut Sehun.
"Aku kira kau tidak mempercayaiku."
"Akan lebih baik jika kau mengobatiku tanpa obat bius dibandingkan harus datang ke rumah sakit."
"Setakut itukah kau dengan rumah sakit?" Sehun tersenyum kecil. "Tidak semua rumah sakit memberikan kenangan yang buruk."
"Kau benar. Tapi, aku tetap tak menyukainya sampai kapanpun." Luhan tersenyum memaklumi.
"Baiklah. Aku akan mengobatimu besok. Untuk sementara, bolehkah aku mengoleskan salep anti infeksi di punggungmu?" izin Luhan. Sehun tersenyum kecil. Ia berbalik memunggungi Luhan dan melepas kaosnya lagi.
"Lakukanlah." Sehun mengijinkan dan Luhan mengeluarkan sebuah obat salep yang selalu ia bawa bersamanya untuk meminimalisir luka akibat dari pekerjaan kasarnya.
Aroma masakan yang menguar sampai kamarnya, membuat Chanyeol mengeryit. Ia mengendus-enduskan hidungnya untuk memastikan jika wangi harum khas makanan ini benar-benar berasal dari dapur rumahnya.
Dengan inisiatif mencari tahu, Chanyeol merenggangkan tubuhnya dan membuka kedua matanya. Sesekali ia juga masih menguap dan menunggu kesadarannya penuh kembali sebelum berjalan gontai mendekati pintu kamarnya.
"Siapa yang masak pagi-pagi begini?" gumam Chanyeol mengacak rambutnya asal.
Cklek!
"Yeol, kau baru bangun?" suara Jongin yang pertama kali ia dengar setelah membuka pintu kamarnya.
Pria tan itu juga tampak baru bangun, mungkin karena perihal yang sama dengannya.
"Apa kau mencium aroma makanan? Ini membuatku lapar." Jongin mengangguk setuju.
"Aku kira kau yang memasak." balas Jongin. Chanyeol terdiam sejenak.
"Apa mungkin Sehun?"
"Tidak mungkin. Dia tidak pernah bangun sepagi ini, apalagi hanya untuk menyentuh dapur."
"Lalu siap—" ucapan Chanyeol terhenti ketika ingatannya menunjukkan potongan kejadian semalam. Dimana kedatangan tiga wanita cantik yang ia kira siswa SMA yang mengatakan akan tinggal di rumahnya.
"Jangan bilang..." Jongin menggantung ucapannya. Ia memandang Chanyeol yang juga memandangnya.
Sedetik kemudian, keduanya berlari tunggang-langgan menuju latai satu tepatnya ke arah dapur.
Keduanya tak terperangah tak percaya melihat hidangan tertata apik di atas meja makan membuat perut mereka seketika meronta meminta asupan.
"daebak~" gumam keduanya kompak yang membuat si koki menoleh.
"eoh... kalian sudah bangun?" tanyanya seraya kembali berkutat pada masakannya. Mengabaikan kedua pria yang berjalan mendekati meja dan menarik kursi masing-masing untuk mereka sendiri.
"Kau memasak semuanya sendiri?" tanya Chanyeol.
"Tentu saja. Kau melihat ada orang lain disini?" jawab si koki yang tak lain adalah Do Kyungsoo.
"Apa—kau memasaknya untuk kami juga?" tanya Jongin memastikan, membuat Kyungsoo kembali menoleh da menatap kedua pria itu tajam.
"Kau tahu? Aku bukan orang kejam yang akan membuat si tuan rumah kelaparan!" sinisnya yang justru membuat Chanyeol da Jongin menghela nafas lega.
"Lalu, darimana kau mendapat semua bahannya? Ini terlalu pagi untuk ke supermarket." tanya Chanyeol masuk akal.
"oh... kau pasti ingat jika di kulkasmu hanya ada daging, sosis, cola, da soju. Bahkan, bungkus ramen tersebar dimana-mana. Aku tidak percaya ada manusia yang bisa bertahan hidup dengan itu!" sarkas Kyungsoo yang membuat Chanyeol maupun Jongin terkikik geli.
Jongin sudah hendak menjulurkan tanganya untuk mencicipi sushi yang menjadi salah satu menu sarapan pagi itu, namun—
Plak!
—entah bagaimana, Kyungsoo berada di hadapannya da memukul punggung tangannya dengan spatula. Sial! Ini sakit sekali. Jongin mendelik tak terima dan Chanyeol yang terkekeh puas.
"Tunggu yang lain, baru makan! Apa kau tidak punya sopan santun, ha?!" seru Kyungsoo. Jongin mencibir. Jika tak ingat Kyungsoo si koki yang memasak sarapan paginya, sudah dengan senang hati ia menebas kepala Kyungsoo agar terpisah dari tubuhnya. Ironis.
"Lama jika harus menunggu Sehun. Dan, dimana di mulut besar dan gadis pistol itu?"
"Siapa yang kau sebut mulut besar?" seru Baekhyun membuat Chanyeol yang bertanya langsung menoleh diikuti Jongin yang sayangnya fokusnya ada pada dua plastik yang sedag Baekhyun tenteng di kedua tanganya.
"Aku punya nama jika kau lupa, Park Chanyeol-ssi!" sinis Baekhyun. Berjalan melewati mereka dan menuju lemari pendingin.
"Sudah dapat semua?" tanya Kyungsoo.
"Kau tahu? Aku harus berdebat dengan ahjumma menyebalkan." balas Baekhyun terlihat kesal. Keduanya tak begitu menghiraukan jika saat ini Chanyeol dan Jongin ikut memperhatikan mereka.
"Apa yang kau debatkan dengannya?"
"Jeruk Mandarinnya tinggal sedikit dan ada seorang ahjumma yang juga menginginkanya. Mengingat Luhan sangat menyukainya, aku akan mendapatkannya sampai titik darah penghabisan. Tapi, sial! Ahjumma itu sedang hamil dan ia sedang mengidam. Jadi, aku berikan saja padaya." Kyungsoo tersenyum kecil.
"Luhan pasti akan lebih senang jika kau memberikan jeruk itu pada ahjumma itu dibandingkan membelikannya untuknya." Baekhyun mengangguk setuju.
"Jika boleh tahu, apa kau juga yang membeli semua bahan makanan ini?" tanya Chanyeol ikut nimbrung. Baekhyun menoleh. Ia sudah selesai memasukka semua buah-buahan yang ia beli ke dalam kulkas dan menatanya sedemikian rupa.
"eoh, wae? Kau merasa terganggu?"
"Tidak, hanya saja darimana kau mendapatkan bahan sebanyak ini? Bahkan supermarket 24 jam pun jaraknya cukup jauh dari rumah ini." lanjut Chanyeol.
"Pasar tentu saja." jawab Baekhyun tenang.
"Apa kau baru saja menyebut pasar?" Baekhyun tampak mengeryit melihat reaksi Chanyeol dan Jongin yang terlihat tak percaya.
"wae? Apa kalian pikir hanya karena aku seorang putri menteri, aku tidak bisa ke pasar?" Chanyeol tersenyum da Jongin mengangguk-angguk kecil.
"daebak~ jika gadis lain yang berada di posisi kalian, aku yakin mereka akan bermanja-manja dengan kemewahan orang tua mereka. Bahkan, tak akan sudi bekerja sebagai seorang agen detektif." kagum Jongin entah kenapa membuat ekspresi Kyungsoo dan Baekhyun berubah drastis.
"wae wae wae? Apa aku salah bicara?" tanya Jongin merasa tak enak hati melihat mimik murung di wajah cantik kedua wanita itu.
"aniyo~ tidak sama sekali." balas Kyungsoo. Ia meletakkan sepanci soup ikan yang baru saja matang di tengah meja makan. Setelahnya ia melepas apron da menyampirkanya pada counter dapur.
"Apa Oh Sehun akan bangun siang?" tanya Kyungsoo mengalihkan pembicaraan.
"Aku rasa tidak. Dia sudah bangun sekarang." Chanyeol menunjuk dengan dagunya kearah tangga dimana sosok pria berkulit pucar yang terlihat segar dengan rambut basah berjalan mendekati mereka.
"Kau bahkan sudah mandi," tutur Jongin. Kyungsoo dan Baekhyun terkekeh kecil.
"Memangnya seperti kalian yang mampri ke kamar mandi saja belum!" Baekhyun yang mengejek. Ia dan Kyungsoo menarik kursi berseberanga dengan Chanyeol dan Jongin. Sementara, Sehun juga menarik kursi kosong di samping Jongin.
"Tapi, aku tetap tampan." sahut Chanyeol percaya diri.
"yayaya... terserah kau saja." balas Baekhyun malas berdebat.
"Kalian yang memasak semua ini?" Sehun bertanya.
"Kyungsoo tepatnya. Aku hanya belanja bahannya saja." Baekhyun yang menjawab.
"jja.. selamat makan semuanya!" seru Kyungsoo membalikkan piringnya diikuti Baekhyun dan Sehun. Kedua itu siap akan memanjatkan doa sebelum makan jika saja—
"Tunggu sebentar..." Jongin tidak menyela. "Bukankah kau tadi mengatakan untuk menunggu semua orang? si pis—maksudku Luhan belum datang." lanjutnya membuat Kyungsoo dan Baekhyun saling berpandangan dan tersenyum kecil.
"Luhan belum bangun," jawab Kyungsoo.
"Apa perlu kami bangunkan?" tanya Chanyeol hendak berdiri tapi Baekhyun lebih cepat untuk mengatakan,
"JANGAN!" serunya membuat Chanyeol maupun Jongin mengeryit tak mengerti.
"wae?" tanya Chanyeol.
"Luhan baru sampai kemarin siang dari China. Dan, dia orang yang susah tidur. Kami cukup lega ia bisa tidur meskipun baru pukul enam. Jadi, jangan mengganggunya." pinta Baekhyun yang diangguki paham oleh kedua pria yang baru bertanya.
"Jadi, dia baru saja tidur?" tanya Sehun.
"oh! Luhan memiliki insomnia yang cukup parah. Ketika dia lelah, justru dia tidak mengantuk. Bahkan, ketika ada kasus darurat, ia pernah tidak tidur selama tiga hari penuh." sambung Kyungsoo terlihat prihatin.
"Apa dia robot?" taya Jongin entah kenapa merasa kesal.
"Tidak, hanya saja—"
"Apa dia suka berdiam diri tengah malam?" Sehun menyela ucapan Kyungsoo yang membuat pandangan keempat orang tertuju padanya.
"Darimana kau tahu?" tanya Baekhyun terkejut.
"Semalam, aku melihatnya berdiam diri di taman belakang rumah." jawaban Sehun membuat wanita di depan mereka bungkam seketika.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Sehun sementara Chanyeol dan Jongin tampak berfikir keras dengan sikap Sehun yang tiba-tiba suka banyak bicara. Tidak seperti Sehun yang biasanya hanya akan diam dan bersikap acuh. Ini seperti bukan Sehun sekali.
"Fisiknya memang baik-baik saja. Tapi, dalamnya... ia selalu hancur." lirih Baekhyun dengan kedua matanya yang berkaca dan Kyungsoo yang terdiam kaku. Sementara, ketiga pria tampan itu hanya bisa memandang kedua wanita cantik yang tampak dirundung sedih tanpa mereka ketahui apa penyebabnya.
.
.
.
.
.
"Sungguh, mengingat kejadian sarapan pagi tadi. Aku benar-benar penasaran dengan wanita yang bernama Luhan itu." ujar Jongin antusias. Kini, ia bersama dengan Chanyeol dan Sehun berangkat absen ke kantor dengan Sehun yang menyetir dan Chanyeol yang berada di sampingnya dan membiarkannya kesepian seorang diri di bangku belakang.
"eoh... dia terlihat tangguh dan anggun di saat bersamaan." sahut Chanyeol menimpali.
"Dan, apa kalian tahu... jika Luhan adalah multi agent?" tutur Sehun tiba-tiba.
"jinjjayo?" seru Chanyeol dan Jongin yang seketika terlihat antusias.
"Dia agen yang berada di bawah pengawasan Jenderal Lee. Dia sendiri memiliki empat atasan dan salah satunya adalah Kris hyung."
"daebak! Aku percaya jika dia bukan gadis sembarangan!" seru Jongin kagum.
"Omong-omong soal itu, dia adalah wanita dewasa, Kai. Bukan lagi seorang gadis." larat Sehun.
"yayaya... tapi, wajahnya sama sekali tidak mendukung. Bahkan, menurutku dia terlihat terlalu muda untuk menjadi wanita dewasa." acuh Jongin membuat Sehun dan Chanyeol menggeleng.
"Aku ingin tahu, apa alasan Kris hyung mengirim mereka untuk menggantikan Namjoon, Yoongi, dan Taehyung?" tanya Chanyeol.
Sehun yang memutar stir setelah memasang lampu sen ke kiri karena kantor pusat tempat mereka bekerja sudah ada di depan mata.
"Kita akan segera mengetahui jawabannya." ujar Sehun. Ia menarik persneling mobilnya tepat setelah memarkirkan mobilnya di pelataran parkir kantor.
Ia keluar diikuti Jongin dan Chanyeol. ketiganya berjala tergesa memasuki pintu utama gedung bercat putih yang diketahui adalah gedung Badan Intelegensi Nasional.
"Selamat pagi tuan..." sapa seorang resepsionis ramah yang sayangnya diabaikan oleh ketiga pria tampan yang menjadi idola di kalangan kerja mereka. Bukan hanya karena tampan, tapi juga karena kinerja mereka atas segala keberhasilan kasus golongan ringan hingga terberat sekalipun mampu mereka selesaikan dengan predikat nyaris sempurna.
Cklek!
Sesampai di ruang penyidik yang berada di lantai dasar, dimana atasan mereka biasa berada di waktu pagi saat absen.
"hey bro... kalian datang lebih awal, hm?" Kris, sang atasan langsung semangat menyapa ketiga ace kesayangannya.
Sehun, Jongin, dan Chanyeol berdecak memandang malas sang ketua yang sepertinya hendak briefing bersama juniornya.
"Aku harap, kami tidak mengganggu waktumu, hyung," tutur Chanyeol. Kris masih saja tersenyum tanpa dosa.
"Tentu saja. Aku tidak merasa terganggu sama sekali. Lagi pula, sepertinya ada yang ingin kalian sampaikan padaku." Kris tersenyum miring yang membuat ketiga pria tampan itu benar-benar ingin melempar wajah sok tampan Kris dengan granat yang ada di ruang penyimpanan senjata. Menjengkelkan!
"Aku tidak tahu kau picik, licik, atau apa. Yang jelas—apa yang ada dipikiranmu saat mengirim tiga gadis itu sebagai rekan baru kami?!" tuntut Jongin tak habis pikir.
"Omong-omong mereka sudah bukan gadis lagi, Kai." lagi-lagi Jongin harus mendengar laratan yang sama namun dari orang yang berbeda.
"ya, mereka wanita dewasa, seniorku, dan bahkan lebih tua dariku, puas?!" sarkas Kai menyebalkan yang mengundang tawa besar Kris.
"Aku tidak tahu reaksi kalian akan seheboh ini. Apa terjadi sesuatu semalam?" tanya Kris penasaran.
Sehun menatap Kris datar, Jongin berdecak dan Chanyeol hanya memasang mimik yang sulit Kris artikan.
"Kau tahu? Kepala Sehun nyaris tertembus peluru semalam." tutur Chanyeol. Ia masih kesal dengan kejadian dimana Luhan yang seenak bulu hidungnya menarik pelatuk ke arah Sehun.
"Benarkah? Daebak... apa Luhan yang melakukannya? Aku tidak heran jika benar dia." balas Kris antusias.
"waeyo?" tanya Sehun singkat. Kris mengangkat kedua bahunya acuh. Ia menarik salah satu kursi diikuti ketiga anak buahnya yang tampaknya ingin mendengar banyak hal darinya.
"Karena Luhan bukan wanita yang menggunakan mulut dalam bertindak." jawab Kris yakin.
"Kau tampaknya sudah sangat lama mengenalnya," sahut Jongin. Kris mengangguk membenarkan.
"Tentu saja. Mereka adik kelasku. Dan, lagi pula Baekhyun adalah sepupu yang pernah kuceritakan pada kalian." balas Kris santai.
"mwo?!" pekik Chanyeol dan Jongin bersamaan sedangkan Sehun hanya mengeryitkan keningnya.
"Lagi pula, aku harus memikirkan matang-matang atas keputusan ini, mengingat dua wanita yang menjadi rekan kalian bukan wanita biasa." lanjut Kris. Kali ini, ia menatap ketiga anak buahnya serius. "Kau tahu, aku harus mendapat banyak tentangan karena semua keputusan ini." Kris menjeda ucapannya sejenak dan ketiga pria di sekelilingnya hanya mendengar saksama.
"Disaat mereka-Baekhyun dan Kyungsoo ingin bekerja lapang, tetapi orang tua mereka tidak membiarkan putrinya berada dalam bahaya. Dan, ketika itu aku kekurangan orang karena harus mentransfer Namjoon, Yoongi, dan Taehyung ke Brazil. Aku benar-benar membutuhkan orang untuk membantu kalian, dan menurutku mereka berdua adalah orang yang tepat untuk mengisi team work ini." terang Kris.
"Tapi, bagaimana kau mendapat ijin dari orang tua mereka? Bahkan, aku tidak menyangka jika Byun Baekhyun adalah orang yang kau maksud." tanya Jongin. Kris tersenyum kecil.
"Aku memang tidak mendapat ijin dari orang tua mereka. Bukan karena mereka tidak mempercayai putri mereka padaku, hanya saja mereka tidak yakin aku bisa menjaga putri mereka dengan baik selama 24 jam." jawab Kris bertele-tele, ia menatap ketiga pria di depannya dan tersenyum miring. "Maka dari itu, aku mengajukan Luhan pada mereka."
"Maksudmu?"
"Asal kalian tahu, lebih dari siapapun—karir Luhan lebih cemerlang dari semua orang disini, mungkin juga aku. Bahkan, ketika kelahirannya tak diinginkan oleh kedua orang tuanya, ia membuktikan bahwa ia bisa membuat keajaiban untuk dirinya sendiri." tutur Kris tenang, ia menerawang jauh seolah tengah mengingat sesuatu. "Singkat katanya, hanya menyebut nama Luhan. Menteri Byun dan Letnan Jenderal Do akan dengan senang hati megnijinkan putri mereka untuk bekerja di bawah pengawasanku."
"Hanya karena Luhan?" tanya Chanyeol sedikit tak mengerti. Kris mengangguk.
"Dan, aku tidak tahu kenapa mereka selalu mudah mengatakan 'ya' jika itu berkaitan dengan Luhan dan putri mereka. Termasuk, menempatkan putri mereka dalam bahaya."
"Tentu saja. Itu karena, mereka sudah berteman lama. Mereka sudah saling menyayangi bukan?" Kris tersenyum kecut.
"Sayangnya, pertemuan awal mereka tidak seperti yang terlihat sekarang."
"Maksudmu?" Chanyeol yang bertanya dan Kris menghela nafas.
"Pertemuan awal mereka, bukanlah sebuah pertemanan melainkan permusuhan, pembullian, hingga penyiksaan. Kalian percaya itu? Orang-orang tidak akan mempercayainya saat melihat bagaimana interaksi mereka bertiga. Tapi, fakta bahwa mereka dulu tak seperti yang terlihat sekarang—akan selalu menjadi kenangan terburuk dan sesuatu yang tak ingin mereka ingat."
"Tapi, kau akan selalu mengingatnya bukan?" tanya Sehun setelah sedari tadi hanya diam. Kris memandang Sehun sesaat.
"Apa kau sedang ingin mendengar sebuah dongeng?" tanya Kris tersenyum miring. "Aku tidak yakin kau punya waktu."
Sehun menarik sudut bibirnya. Ia menghembuskan nafasnya dan menatap Kris dengan tatapan tajam andalannya.
"Kau tahu? Semalam aku tidur terlalu larut," tutur Sehun tak masuk akal. "Jadi, bisakah kau dongengkan aku sampai tertidur?" pinta Sehun yang membuat Chanyeol dan Jongin seketika menoleh kearahnya. Sejak kapan, Sehun tertarik dengan masa lalu seseorang?
"Tampaknya, ada sesuatu yang membuatmu tertarik Sehun-ssi?" dan nyatanya Kris juga bukan orang kemarin sore yang baru mengenal Sehun. Kris tahu benar bagaimana junior kesayangannya jika sudah menginginkan sesuatu, apalagi sesuatu yang menarik hati dan pikirannya yang sekeras batu.
"Jikalaupun ada, apa kau bisa memastikan jika aku benar-benar bisa tertidur nantinya?" Kris tersenyum miring.
"Sayangnya, aku tidak yakin kau akan tidur di tengah dongengku atau kau akan tetap terjaga sampai mendengar akhir ceritanya." Sehun menarik nafas dan memandang jauh kearah jendela yang ada di ruang penyidik.
"Aku ingin tidur dengan dongengmu, tapi tampaknya hati dan pikiranku menolak. Jadi, bisa kau mulai mendongeng sekarang?" pinta Sehun membuat Kris terkekeh.
"Tentu saja. Jika memang itu maumu."
seeyouagain
See you next chapter... and thankyou for read,
p.s. maap buat typo yang masih menebar dimana-mana, kkkk
pay pay...
