Akashi: Halo para readers...! *datang dgn senyum gaje**ditendang para readers* Mau ngucapin terima kasih banyak buat Nico Ina & Morita Ikaru yang telah mereview karya saya yang super gaje ini. Arigatou ya... (^^) *bungkuk gaje* Saya seneng bgt...! (^^)

Makasih juga buat para readers yg udah baca karya saya ini tp nggak ngereview *keegeran tingkat dewa* Mungkin nggak review karena nggak ngerti kali ya...? Hahaha... Saya sendiri juga sebenarnya nggak ngerti lagi nulis apa *dibacok para readers*

Pokoknya saya mau minta maaf atas keterlambatan update. Maklum pas mau ngetik fic, jadwal ngetik ficnya tabrakan ma jadwal UTS. Jadi terpaksa di tunda dulu. Terus abis UTS seminggu kemudian UAS. Habis UAS bagi rapor, baru mau nulis saya sakit *curhat*. Jadi gomenasai karena baru bisa update... *membungkuk lagi*

YOSH...! Tanpa perlu banyak kata lagi, Akashi persembahkan This is Your Life Dobe! Chapter.2. Happy reading minna-san...! ^^

Disclaimer: Masashi Kishimoto-Sensei *sujud-sujud* Shi pinjem dulu charanya ya… Nanti kalau udah selesai Shi kembaliin. Okeh? *ditimpuk Masashi Kishimoto*

Author: Taiyou no Akashi b(^o^)d

Pairing: SasuNaru, NejiGaa (mungkin), dpl (dan pasangan laennya)

Rating: T ato M ya… Karena ada adegan kekerasannya mungkin M aja. Arrgghh! *frustasi* ratingnya tentuin sendiri deh *readers sweatdrop*

Genre: Hurt/Tragedy/Fantasy/Police/Psychology/Crime/dll

Warning: Gaje *sudah pasti*, ancur *banget*, Yaoi *mungkin*, akan ada banyak adegan kekerasan, agak psycho, ada OC, dll.

Yang nggak tahan dan nggak suka boleh meninggalkan tempat ini secara teratur!

Summary: Sasuke mengambil tempat duduk tepat di depan bocah blonde itu begitu Shizune beserta kedua perawatnya telah pergi dari kamar itu. Mata onyx-nya menatap tajam tepat ke mata blue saffire milik pemuda.

"Well brat... What is your name?" tanya Sasuke datar kepada pemuda yang tengah duduk manis di atas ranjang rumah sakit itu. Pemuda berambut blonde itu hanya tersenyum manis mendengar pertanyaan Sasuke.

"Namaku Uzumaki Naruto. Salam kenal ya pak polisi!" kata pemuda itu ceria sambil tersenyum manis.

。 。

"THIS IS YOUR LIFE, DOBE!"

Chapter. 02 : Awal dari Semuanya

-Rumah Sakit Pusat Konoha. 08.00 p.m-

Dari arah pintu masuk RS Pusat Konoha, kita dapat melihat sesosok pemuda tampan yang sedang berjalan dengan santainya ke dalam rumah sakit. Pemuda berambut raven dengan warna rambut biru kehitaman itu menggunakan kemeja hitam biasa yang sangat kontras dengan kulit putih pucatnya. Celana panjang hitam yang digunakannya juga telihat begitu serasi dengan kemejanya.

Walau secara keseluruhan pakaian yang dikenakanya cukup berantakan (kemeja yang keluar dari celana serta kancing kemeja yang terbuka 2 di bagian atas), tapi hal itu sama sekali tidak mengurangi ketampanan pemuda itu.

Dengan wajah dingin serta ekspresi tidak peduli yang menghias wajahnya, dia terus saja berjalan menuju bagian belakang RS Pusat Konoha, yang merupakan gedung khusus di RS itu. Sesekali di usapnya rambut hitam raven-nya yang berantakan itu. Meski terlihat tidak peduli pada sekitarnya, tenyata mata onyx-nya sedang menatap deretan pintu di sepanjang jalan itu dengan seksama. Begitu sampai di pintu yang dicarinya, dia mengusap pelan rambutnya lalu mulai mengetuk pintu.

Tok.. Tok... Tok...

"Masuk..." guman suara dari dalam.

Ceklek... Dibukanya pintu berwarna coklat itu dengan perlahan. Etika di rumah sakit. Siapapun tahu hal itu. Walaupun mungkin orang yang dijenguknya tidak merasa terganggu, tapi etika harus terus berjalan bukan?

"Bagaimana keadaannya?" tanya pemuda raven itu tanpa berbasa-basi terlebih dahulu kepada seorang pemuda tampan berambut merah yang sejak tadi sudah berada disana.

"Seperti yang anda lihat Uchiha-sama. Masih sama seperti 2 minggu yang lalu. Hanya saja masa kritisnya sudah lewat," jawab pemuda berambut merah itu datar.

"Sudah kubilang jangan memanggilku dengan sebutan 'Uchiha-sama' bukan, Gaara!" kata sang pemuda yang dipanggil Uchiha tersebut kepada si rambut merah dengan nada (sedikit) kesal.

"Terserah kau sajalah Inspektur Sasuke," gumam pemuda bernama Gaara tersebut sambil tersenyum tipis. Sedangkan Sasuke hanya mendengus pelan begitu mendengar perkataan dari bawahannya itu.

"Bagaimana penyelidikan tentangnya?" tanya Gaara. Kali ini ekspresi serius menghiasi wajah tampannya.

"Divisi Informasi masih menyelidikinya. Tapi tadi ada laporan dari Yamato-San bahwa data mengenai anak itu 'bersih'," kata Sasuke menjelaskan.

"Kalau dia memang 'bersih', aku tidak mengerti kenapa dia bisa ada di gedung Konoha Bank Central? Lagipula siapa orang yang menelepon itu?" tanya Gaara pelan.

"Aku juga tidak mengerti" gumam Sasuke perlahan. Ingatannya kembali mengingat kejadian 2 minggu yang lalu...

FLASHBACK ON

Kabuto mempercepat langkah kakinya menuju atap bangunan begitu mendengar suara terjatuh dari sana. Dia mendapat firasat buruk begitu mendengar suara itu.

'Semoga Tuan Orochimaru tidak mengalami hal yang buruk?' batin Kabuto dalam hati.

Dengan tergesa-gesa Kabuto lalu membuka pintu menuju atap bangunan tertinggi di Konoha itu. Begitu pintu terbuka, dia langsung menghambur keluar dari pintu itu. Seketika dia tersenyum lega begitu mendapati Tuannya baik-baik saja, walaupun keadaan Tuannya sangat aneh.

"Tuan Orochimaru? Anda baik-baik saja?" tanya Kabuto cemas sembari menghampiri Orochimaru yang sejak beberapa menit yang lalu masih saja mematung memandangi pagar pembatas.

Orochimaru tidak menjawab pertanyaan Kabuto. Dia lebih memilih bungkam sambil terus memandang pagar pembatas dengan pandangan horror ketimbang menjawab pertanyaan Kabuto. Kabuto yang merasa sangat penasaran akibat tingkah Tuannya itu pun akhirnya memutuskan untuk melihat apa yang sebenarnya sedang dipandangi oleh Tuannya itu.

Dengan perlahan Kabuto lalu mendekati pagar pembatas untuk melihat hal yang sendari tadi dilihat oleh Tuannya. Kedua matanya kontan membulat tidak percaya begitu melihat pemandangan yang berada puluhan meter dibawahnya.

"U-Uzumaki-kun..." kata Kabuto dengan suara tercekat. "Apa yang telah terjadi Tuan Orochimaru?" tanya Kabuto dengan perlahan. Matanya menatap lekat ke arah Tuannya.

"Bocah brengsek itu... Dia menjatuhkan dirinya sendiri ke bawah. Dasar anak bodoh! Sekarang kau mendapatkan ganjaran yang setimpal atas perbuatanmu sendiri Uzumaki!" kata Orochimaru geram.

"Lalu bagaimana dengan anti-virusnya Tuan Orochimaru?"

"Bocah brengsek itu mati dengan membawa anti-virusnya!"

Kabuto mengangguk paham mendengar perkataan Tuannya itu. "Apa yang akan anda lakukan terhadap mayat Uzumaki-kun, Tuan Orochimaru?" tanya Kabuto.

"Singkirkan dari hadapanku! Seperti ayahnya, anak Namikaze itu sudah tidak berguna lagi bagiku!" perintah Orochimaru.

Kabuto mengangguk paham mendengar perintah Orochimaru. Tidak berapa lama kemudian, sepertinya dia tersadar oleh sesuatu. "Anak... Namikaze? Apakah dia anak Namikaze-Sama?" tanya Kabuto memastikan. Wajahnya pucat pasi saat menanyakan pertanyaan itu.

"Ya..." jawab Orochimaru dengan enggan.

"Tapi... Data dari Otoga tidak berisi informasi bahwa dia adalah anak Namikaze. Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Kabuto kebingungan.

"Aku tidak tahu bagaimana bisa dia memanipulasi data-data pribadinya. Tapi yang jelas, sekarang dia sudah mati dan tidak akan menjadi ancaman lagi. Kabuto, kau hubungi Sakon. Suruh dia menemuiku," perintah Orochimaru lagi.

"Baik Tuan Orochimaru!" kata Kabuto dengan nada patuh.

"Aku akan ke bawah. Lakukanlah tugasmu dengan baik Kabuto," kata Orochimaru dengan nada tajam. Kabuto mengangguk singkat pada Tuannya sebagai jawaban.

Orochimaru mengangguk puas melihat jawaban Kabuto. Setelah Orochimaru menghilang dari pandangan Kabuto, Kabuto segera mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya. Dengan cepat, dia segera membuka phonebook di ponselnya tersebut dan menghubungi Sakon.

"Halo,"

"Sakon, kau di minta untuk menghadap Tuan Orochimaru," kata Kabuto tanpa membalas salam Sakon.

"Memangnya ada apa sampai Tuan Orochimaru mencariku?"

"Beliau ingin membicarakan tentang data-data Uzumaki-kun,"

"Memangnya ada apa dengan data-data itu?"

"Sepertinya data yang kalian dapatkan itu palsu. Aku tidak tahu bagaimana caranya. Tapi sepertinya Uzumaki-kun berhasil memanipulasi data-data itu," jelas Kabuto.

"Memanipulasi data? Bagaimana bisa? Tayuya saja mendapatkan data-data itu setelah dia menghack kantor pemerintahan Nasional. Untuk bisa menembus proteksi kantor pemerintahan Nasional saja Tayuya membutuhkan waktu selama seminggu. Bagaimana bisa seorang amatir seperti bocah itu memanipulasinya?" tanya Sakon dengan nada tidak percaya.

Kabuto hanya menghela nafas begitu mendengar pertanyaan Sakon. Dengan nada lelah Kabuto lalu menjawab, "Aku tidak tahu tentang hal itu Sakon. Tuan Orochimaru hanya menyuruhku untuk memberitahumu bahwa kau di suruh menghadap Tuan Orochimaru."

"Baiklah. Aku akan segera menghadap Tuan Orochimaru," jawab Sakon pelan. Setelah itu, Sakon segera memutuskan sambungan telepon.

"Ah... Lelahnya," gumam Kabuto pelan saat Sakon memutuskan sambungan.

"Masih ada 1 tugas lagi," gumam Kabuto lagi. Dia segera membuka phonebooknya dan menghubungi sebuah kontak yang sangat enggan dihubunginya itu.

"Kantor Polisi Konoha. Ada yang bisa dibantu?" tanya suara tegas di seberang.

"Pak polisi... To-tolong sa-saya!" kata Kabuto dengan suara di buat segugup mungkin untuk meyakinkan lawan bicaranya bahwa dia sedang dalam kesulitan.

"Tolong tenangkan diri anda tuan... Saya akan bisa menolong anda jika anda segugup itu," kata suara di seberang itu dengan nada menenangkan.

Kabuto menarik nafas dengan perlahan lalu dia menghembuskan nafasnya dengan perlahan. Memberikan efek kepada lawan bicara bahwa dia sedang menenangkan dirinya.

"Maafkan saya... Saya betul-betul cemas... Soalnya saya melihat..." Kabuto menggantung kalimatnya. Memberikan efek bahwa dia benar-benar merasa cemas dengan apa yang dilihatnya.

"Anda melihat apa tuan?" tanya suara di seberang dengan rasa penasaran yang tidak dapat di sembunyikan dari nada suaranya.

"Saya melihat ada orang yang jatuh dari atas gedung Konoha Bank Central..." kata Kabuto masih dengan nada cemas.

"Benarkah itu?" tanya suara di seberang. Kali ini ada sedikit keraguan dalam suaranya.

"Anda boleh melihat kemari jika anda tidak percaya pak polisi. Saya mohon... Percayalah pada saya..." kata Kabuto lagi. Kali ini dia menggunakan nada memohon dalam suaranya.

"Baiklah... Saya dan beberapa rekan saya akan segera pergi ke sana. Lebih baik anda segera menenangkan diri anda sembari menunggu kami datang. Bagaimana?" tanya suara di seberang lagi.

"Baiklah pak polisi," gumam Kabuto dengan nada pasrah. Andai saja polisi itu ada di samping Kabuto, mungkin saat itu polisi itu bisa melihat senyum penuh kelicikan yang menghiasi wajah Kabuto.

"Dalam waktu 20 menit saya akan segera sampai di sana," janji suara itu sebelum memutuskan sambungan telepon.

Kabuto hanya menyeringai licik mendengar janji itu sembari menggumam, "Dan dalam 20 menit, aku sudah akan pergi dari tempat ini."

Setelah bergumam seperti itu, Kabuto segera menonaktifkan ponselnya lalu mengeluarkan sebuah kartu dari dalam ponselnya. Dengan sedikit kekuatan, dia mematahkan kartu itu menjadi 2 bagian lalu memasukkanya kembali dalam kantung bajunya.

Setelah melakukan hal itu Kabuto segera melangkah pergi dari atap bangunan Konoha Central Bank. Dengan menggunakan lift, dengan segera Kabuto sampai ke lantai dasar Konoha Bank Central.

"Semoga anda bisa membereskan Uzumaki-kun dengan baik ya, pak polisi," gumam Kabuto pelan sembari tersenyum licik ketika langkah kakinya meninggalkan gedung Konoha Bank Central.

FLASHBACK OFF

"Tidak ada sang penelpon. Sistem keamanannya berubah total. Petunjuk yang tersisa hanya seorang pemuda dengan keadaan kritis. Sungguh merepotkan Divisi Investigasi saja," keluh Sasuke.

"Padahal pekerjaan kita sendiri sudah terlampau banyak," kata Gaara. "Bahkan kita sampai lembur berhari-hari hanya untuk menyelesaikan pekerjaan kita sebelumnya!" Sasuke mengangguk setuju mendengar komentar Gaara tersebut.

"I agree with you Sabaku," kata Sasuke. Gaara hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Sasuke.

"Apa adikmu tidak marah jika kau lembur terus? Bahkan kau sudah berhari-hari tidak pulang ke rumah bukan?" tanya Gaara pelan.

"Mungkin dia tidak akan marah. Soalnya itu memang resiko pekerjaanku," kata Sasuke. "Karena hari ini pekerjaanku sudah selesai, aku bisa pulang ke rumah," lanjut Sasuke dengan nada lembut sambil tersenyum kecil.

Gaara melihat ekspresi lembut di wajah Sasuke itu dengan pandangan aneh. Setelah terdiam sebentar, akhirnya Gaara memutuskan untuk bicara.

"Sasuke... Apakah kau masih..." belum selesai Gaara bicara, tiba-tiba ponsel Sasuke bergetar. Memaksa sang pemilik ponsel untuk mengangkat telepon tersebut.

"Halo?" tanya Sasuke begitu dia mengangkat telepon.

"Baka aniki jelek!" kata suara di seberang sebagai pengganti halo.

"Hn? (ada apa?)" tanya Sasuke dengan menggunakan trademark kebanggaannya.

"Apa nanti aniki akan pulang ke rumah?" tanya suara itu lagi, yang ternyata adalah adiknya.

"Hn (Iya)," kata (walau tidak bisa dibilang kata) Sasuke.

"Baiklah kalau begitu. Jangan lupa beli makanan ya. Aku lapar sekali! Dirumah tidak ada makanan, sedangkan aku sedang malas keluar."

"Hn (iya)"

"Aku ingin bentou baka aniki. Carikan ya!"

"Hn (iya)"

"..." Hening sejenak. Sepertinya lawan bicara sang Uchiha sedang mencari bahan pembicaraan yang bagus.

"Baka aniki kau ada dimana? Apa ada di RS Konoha?"

"Hn (iya)"

"Oohh... Sudah kuduga. Bagaimana keadaan sleeping beauty itu? Apa sudah sadar?"

"Hn (belum)"

"Oohh..."

Hening lagi...

"Ya sudahlah. Aku hanya ingin bicara itu saja. Cepat pulang ya baka aniki. Aku sudah lapar. Dah!"

"Hn (iya)..."

Sambungan telepon langsung putus begitu adiknya menyudahi pembicaraan. Dia memasukan ponselnya ke dalam saku celananya lagi.

Gaara menatap Sasuke dengan pandangan horror. Merasa diperhatikan, Sasuke hanya menatap balik Gaara sembari bertanya, "Ada apa?"

Gaara menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menjernihkan pikirannya. "Aku tahu kau aneh. Tapi aku tidak tahu kau seaneh ini Sasuke! Masa dalam 5 menit percakapan ditelepon kau hanya mengatakan 'hn' saja?" kata Gaara frustasi.

"Hn..." kata Sasuke dengan datar.

Gaara kembali menatap Sasuke dengan pandangan horror. "Tolong kau gunakan bahasa manusia. Aku tidak seperti adikmu yang bisa mengerti arti kata 'hn'mu itu..." kata Gaara lagi.

Sasuke tersenyum tipis mendengar perkataan Gaara. "Kau memang bukan adikku Gaara," kata Sasuke sembari tersenyum tipis.

"Iya... Iya... Aku memang bukan adikmu Sasuke! Aku selalu saja heran kenapa Yuki bisa mengerti ucapanmu ya?" kata Gaara sembari menghembuskan nafasnya.

Senyum menghilang di wajah Sasuke begitu mendengar nama orang 'itu' disebut. Dia sangat tidak suka jika harus membicarakan orang 'itu' bersama Gaara.

"Aku juga tidak mengerti kenapa dia bisa memahami maksud perkataanku," kata Sasuke pelan. "Bagaimana hubunganmu dengannya?" tanya Sasuke berbasa-basi.

"Baik-baik saja. Syukurlah ternyata dia tipe yang sangat pengertian," kata Gaara pelan sembari tersenyum lembut.

'Aku menyesal menanyakan hal itu,' batin Sasuke dalam hati.

"Oh... Syukurlah," kata Sasuke pelan. Lalu hening menyelimuti ruangan itu.

"Apakah kau masih mengharapkannya Sasuke?" tanya Gaara tiba-tiba. Melanjutkan pertanyaan yang tadi terpotong karena Sasuke harus menerima telepon

Sasuke menghembuskan nafas mendengar pertanyaan Gaara. Dia sangat sangat tidak suka jika harus membahas topik ini dengan Gaara.

"Itu bukan urusanmu Sabaku!" kata Sasuke dengan nada dingin. Dan tiba-tiba saja ekspresi wajahnya berubah menjadi wajah stoic kebanggaanya.

Gaara menggeleng-gelengkan kepalanya begitu mendengar jawaban Sasuke. "Kenapa memangnya jika aku bertanya hal itu padamu? Aku hanya ingin memastikannya saja. Atau kau takut mengetahui kenyataan sesungguhnya Sasuke?" kata Gaara pelan namun begitu menusuk sang Uchiha.

Sasuke melengos mendengar pertanyaan Gaara. "Aku tidak mengerti maksud perkataanmu Gaara," kata Sasuke masih dengan nada dingin & wajah stoic kebanggaannya.

"Kenapa kau tidak mau menjawabnya dengan jujur Sasuke?" tanya Gaara lagi.

"Aku masih mencintainya. Jika aku menjawabnya demikian, memangnya apa yang akan kau lakukan Gaara?" tanya Sasuke sinis.

"Kau tidak boleh mencintainya Sasuke," kata Gaara pelan. "Kau hanya akan membuatnya sedih," kata Gaara lagi.

"MEMANGNYA KENAPA KALAU AKU MENCINTAINYA GAARA? TOH AKU HANYA MENCINTAINYA DALAM HATI! HANYA KARENA KAU PACARNYA, KAU TIDAK BERHAK MENGATURKU!" kata Sasuke dengan emosi yang memuncak. Melupakan etika rumah sakitnya.

"Tenangkan dirimu Sasuke. Ini di rumah sakit!" tegur Gaara tegas. Sasuke menghembuskan nafasnya begitu mendengar perkataan Gaara.

"Kau yang mulai duluan Gaara," balas Sasuke. "Aku mencintainya Gaara. Aku tidak bisa melupakan perasaan ini. Meski aku di buang oleh seluruh keluargaku, aku akan tetap mencintainya. Meski dia telah memilihmu, aku akan tetap mencintainya. Aku akan selalu mencintainya," gumam Sasuke lirih. Matanya terpejam begitu mengatakan hal itu.

'Ah... Kenapa dadaku selalu sesakit ini jika aku mengingat perasaan cintaku padanya?' batin Sasuke dalam hati.

Gaara membisu begitu mendengar pengakuan dari sang Uchiha. Sasuke pun ikut membisu melihat tidak ada respon dari Gaara. Sepertinya kedua orang itu terlalu sibuk dengan pikirannya masing-masing. Lama hal ini berlangsung, sampai akhirnya Sasuke memecah keheningan, "Aku harus pulang Gaara. Adikku belum makan malam."

"Hati-hati di jalan Inspektur," gumam Gaara. Sasuke mengangguk pelan sebagai jawaban.

Pintu coklat itu lalu terbuka dan menutup dengan amat pelan. Setelah Sasuke keluar dari ruangan itu, Gaara menghempaskan tubuhnya dengan keras ke kursinya sembari bergumam, "Tapi kau tidak boleh mencintai orang itu Sasuke..."

"Sebab orang itu adalah adik kandungmu sendiri," lanjut Gaara lagi. Kali ini ekspresi kasihan tersirat jelas di wajahnya yang tampan.

。 。

-Kediaman Uchiha. 08.30 p.m-

Gadis berambut hitam panjang itu duduk dengan tenang di ruang keluarga kediaman Uchiha sambil menonton televisi. Sesekali di gantinya channel televisi yang di tontonnya ketika dia sudah merasa bosan dengan acara televisi tersebut. Mata onxy hitamnya memandang layar televisi dengan tatapan bosan.

'Bosan... Bosan... Bosan...' keluhnya dalam hati.

"Tadaima," teriak sebuah suara yang sangat dikenalnya dari pintu depan.

"Aniki pulang!" jerit gadis itu dengan hebohnya. Seketika dia langsung berdiri duduknya dan berlari ke pintu depan.

"Okaeri baka aniki," sapa gadis itu 'hangat' sembari memeluk orang yang baru datang itu dengan erat.

"Hn," hanya itu respon yang terlontar dari orang itu, yang tidak lain adalah kakaknya sendiri, Uchiha Sasuke.

"Mana bentounya?" tanya gadis berkulit putih itu dengan menuntut. Tangannya sudah tidak memeluk Sasuke lagi.

"Hn," kata Sasuke sembari memberikan sebuah bungkusan plastik pada adiknya yang bawel itu.

"Sankyuu aniki," kata gadis itu sembari tersenyum manis pada Sasuke. Sasuke hanya mengangguk kecil melihatnya. Sebuah senyum terukir manis di wajah Sasuke.

"Aku sudah membuatkan air panas untuk aniki mandi. Mandilah dulu selagi aku memanaskan bentou ini. Setelah itu kita makan malam bersama-sama ya?" lanjut adiknya itu dengan nada ceria sembari menatap penuh harap pada Sasuke.

"Hn (iya)," jawab Sasuke singkat sembari mengelus-ngelus kepala adiknya itu dengan sayanga. Adiknya hanya tersenyum senang melihat tingkah Sasuke tersebut.

"Cepat mandi ya baka aniki!" kata adiknya itu sambil berjalan menuju dapur meninggalkan Sasuke, yang masih berada di pintu depan, sendirian.

"Hn... Urusai (1)," gerutu Sasuke pelan sembari berjalan menuju kamar mandi.

。 。

Dengan tangan membawa sebuah laptop, Sasuke berjalan masuk ke ruang keluarga dengan langkah santai. Walaupun hanya memakai kaus santainya yang berwarna biru laut serta celana pendek putihnya, ketampanan seorang Sasuke Uchiha sepertinya tetap tidak akan pudar. Rambut yang masih basah dan handuk yang tersampir rapi di pundaknya adalah penanda bahwa pemuda berambut biru kehitaman itu baru saja selesai mandi.

"Kau mandi lama sekali aniki. Seperti seorang cewek saja. Aku sudah lapar tahu!" gerutu Yuki dengan wajah cemberut begitu melihat sang kakak masuk ke ruang keluarga. Melihat tingkah laku adik semata wayangnya itu, mau tidak mau membuat Sasuke tersenyum geli juga.

"Hn... Siapa juga yang menyuruhmu mengajakku makan malam bersama," balas Sasuke sembari mengambil makanan lalu makan dengan lahapnya. Mendengar jawaban serta melihat tingkah laku tidak berperikemanusia dari Sasuke itu, kontan saja membuat wajah manis Yuki menjadi cemberut.

"Itu laptop siapa aniki?" tanya Yuki tiba-tiba sembari menunjuk sebuah laptop berwarna silver yang sejak tadi di bawa oleh Sasuke. Sepertinya gadis itu sangat penasaran dengan laptop itu. Buktinya saja dia sampai tidak berwajah cemberut lagi melainkan berwajah penasaran.

"Punya si sleeping beauty itu," jawab Sasuke sekenannya.

"Lalu kenapa kau membawanya pulang? Biasanya barang milik saksi berada di Divisi Informasi untuk di selidiki 'kan?" tanya Yuki lagi. Kali ini jari-jari lentiknya menelusuri setiap inci bagian laptop itu.

"Memang iya harus di selidiki. Tapi Yamato-san tidak bisa menembus proteksi laptop ini. Jadi aku meminta izin padanya supaya bisa membawa laptop ini pulang," kata Sasuke menjelaskan.

"Kau ingin minta bantuanku untuk menembus proteksinya?" tanya Yuki to the point.

"Hn (iya)," jawab Sasuke.

"Coba kulihat..." gumam Yuki pelan sembari menyalakan laptop itu. Sasuke memperhatikan tingkah laku adik semata wayangnya itu dengan seksama.

"Bagaimana?" tanya Sasuke.

"Ada passwordnya..." gumam Yuki.

"Apa kau tidak bisa memecahkan passwordnya?" tanya Sasuke.

"Walau perbandingannya 1: 1.000.000, akan kucoba untuk memecahkannya. Tapi sepertinya akan makan waktu... Mungkin bisa ketahuan apa passwordnya jika aku bisa melihat stringnya (2), " kata Yuki pelan sembari membetulkan letak kacamatanya.

"Hn," kata Sasuke pelan.

"Beri aku waktu 30 menit. Akan kuusahakan untuk bisa membukanya," kata Yuki pelan tanpa mengalihkan matanya dari layar laptop.

"Hn (baiklah)," gumam Sasuke pelan sembari melanjutkan makannya yang tertunda.

30 menit kemudian...

"Hah... Aku menyerah," guman Yuki sambil melepaskan kacamatanya.

"Apakah memang sesulit itu sampai-sampai hacker legenda sepertimu tidak bisa menembusnya?" tanya Sasuke penasaran.

"Tidak sulit kok. Semua datanya ada di string. Tapi proteksinya banyak sekali. Belum lagi setiap proteksi ada passwordnya," keluh Yuki.

"Berarti pemiliknya sendiri bakal lama mengoperasikan laptop ini juga jika proteksi serta passwordnya sebanyak itu 'kan?" tanya Sasuke menganalisis.

"Tidak... Sepertinya ketika di awal tadi ada sesuatu yang harus dilakukan untuk bisa masuk tanpa harus melewati berbagai macam proteksi ini," kata Yuki menjelaskan.

"Data-data dalam stringnya sendiri sangat sulit untuk diterjemahkan. Sepertinya anak itu juga seorang hacker. Hacker yang sangat hebat pastinya," lanjut Yuki lagi.

"Ck... Kenapa sih aku harus selalu saja berurusan dengan hacker?" keluh Sasuke.

"Itu karena aniki memang sial. Hahaha..." kata Yuki di sela-sela tawanya. Sasuke hanya mengerutu pelan mendengar perkataan adiknya itu.

"Aku akan memeriksa laptop ini di kamar. Tolong bereskan meja makannya ya aniki," kata Yuki sembari kabur meninggalkan ruang keluarga.

"Dasar pemalas," gerutu Sasuke pelan sambil membereskan meja makan.

Setelah semua selesai di bereskan, Sasuke kemudian duduk santai di ruang keluarga, menikmati waktu ishtirahatnya yang sangat jarang tersebut dengan sebaik-baiknya. Tapi sepertinya takdir sedang tidak ingin berbaik hati pada pemuda itu. Tidak berapa lama setelah dia duduk santai, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi nyaring. Sambil menggerutu pelan, Sasuke mengambil ponselnya itu.

'Gaara? Mau apa dia meneleponku?' tanya Sasuke dalam hati begitu melihat nama Gaara di layar ponselnya.

"Ada apa Gaara?" tanya Sasuke langsung begitu dia mengangkat teleponnya.

"Bocah itu sudah sadar Inspektur. Ku rasa anda harus tahu," jawab Gaara singkat. Setelah itu Gaara langsung menutup teleponnya.

"Ah... Aku memang tidak di izinkan untuk bersantai dulu sepertinya," gerutu Sasuke pelan sambil bergegas ke kamarnya untuk berganti baju.

。 。

-Rumah Sakit Pusat Konoha. 09.45 p.m-

Dengan langkah tergesa, Sasuke berjalan menuju bagian belakang gedung RS itu. Setelah menemukan kamar yang di carinya, Sasuke segera mengetuk pintu itu.

"Masuk..."

Sasuke membuka pintu dengan cepat. Sepertinya dia benar-benar telah melupakan etika rumah sakitnya.

Kamar yang tadinya hanya berisi Gaara maupun bocah tidak di kenalnya itu, sekarang mempunyai penghuni tambahan berupa seorang dokter wanita dan dua orang perawat. Sasuke menatap dalam dokter wanita itu sembari berkata, "Bagaimana keadaannya?"

"Kondisinya sudah stabil. Mungkin besok atau dua hari lagi dia sudah boleh pulang," kata dokter itu kepada Sasuke.

Sasuke mengangguk paham mendengar perkataan sang dokter. "Saya mengerti Shizune-san,"

"Baiklah... Saya tinggal dulu Inspektur Sasuke," kata dokter sembari tersenyum ramah pada Sasuke. Sasuke hanya mengangguk pelan setelah mendengarnya.

Sasuke mengambil tempat duduk tepat di depan bocah blonde itu begitu Shizune beserta kedua perawatnya telah pergi dari kamar itu. Mata onyx-nya menatap tajam tepat ke mata blue saffire milik pemuda.

"Well brat... What is your name?" tanya Sasuke datar kepada pemuda yang tengah duduk manis di atas ranjang rumah sakit itu. Pemuda berambut blonde itu hanya tersenyum manis mendengar pertanyaan Sasuke.

"Namaku Uzumaki Naruto. Salam kenal ya pak polisi!" kata pemuda itu ceria sambil tersenyum manis.

。 。 。ToBeCon 。 。 。

Akashi: Halo... Halo... Hari yang cerah ya…? *muka cerah ceria* tambah gaje ya ini fic...? Mana saya updatenya lama lagi... Gomenasai minna... *sujud-sujud gaje* Ada OC Akashi di sini. Namanya Uchiha Yuki. Udah pada baca 'kan...? Kalau mau ngebayangin Yuki itu kayak apa, bayangin aja mikoto uchiha, cuma mungkin Yuki ini versi lebih muda dan versi lebih berisik. Ya... berisiknya kurang lebih samalah kayak naruto *dikemplang*. Ayo kita mulai berbincang dengan Yuki... *ala pembawa acara* Yuki...! Kesini... *manggil yuki*

Yuki: hai... *dateng dengan cepat*

Akashi: *dgn seenak udelnya* sono kenalin diri dulu gih... *merintah*

Yuki: hai... *membungkukkan badan* nama saya uchiha yuki. Oc ciptaan author gaje bin gak waras itu... *nunjuk saya* di sini saya berperan jadi anak bungsu keluarga uchiha dan sekaligus pacar gaara. Pairnya emang nejigaa pokoknya liat aja deh lanjutan cerita ini *senyum misterius sekalian promosi**Author dihajar para readers* di sini juga saya bakal berperan sebagai seorang hacker dengan code name Yuki no Hikari. Dozo yorushiku. *membungkukkan badan lagi*

Akashi: oke... Sekian dulu dari saya. Mohon reviewnya ya para readers terhormat *sujud-sujud gaje*

Catatan:

Urusai bisa berarti berisik atau cerewet. Tapi urusai di sini merujuk pada kata cerewet.

String: Deretan karakter yang digunakan untuk menyimpan data.