Disclaimer : Durarara! © Ryohgo Narita
Warning : Shonen-ai, OOC, typo(s), AU (maybe? dunno), gaje, saya ga pinter bikin fict romance tapi pengen bisa gitu trololol /dibuang, super ngebosenin baaah laper /ganyambung
oooooo
Suara dentingan indah yang dihasilkan oleh piano semua berasal dari kesepuluh jari yang menari indah di atas kumpulan tuts hitam putih. Tangan kiri memainkan kumpulan nada yang biasanya didahului dengan lambang 'kunci F', sedangkan tangan kanan memainkan yang didahului dengan lambang 'kunci G'. Kedua tangan itu bersatu, memainkan sebuah lagu. Lagu yang merupakan hasil dari pemikiran jenius seorang komposer terkenal. Lagu yang bertempo andante. Lagu yang sekarang dimainkan oleh Izaya.
Shizuo mendengarkan lagu itu dengan seksama. Seakan hanyut dalam alunan melodi lagu itu, serangkaian pertanyaan timbul dalam dirinya, 'Sejak kapan kami tidak bertengkar lagi? Sejak kapan hubungan kami menjadi sedekat ini? Apakah lagu Etude itu telah merubah semuanya, merubah perasaan aku dan Izaya? Jadi, kami bukan musuh lagi? Lalu, hubungan aku dan Izaya itu... apa? Kenapa aku merasa ini benar-benar sebuah perpisahan? Kenapa aku tidak mau kehilangan dia?'
"Shizu-chan..." Izaya telah menyelesaikan lagu itu, dan tanpa sadar, dia duduk bergeser lebih dekat ke Shizuo, lalu bersender di bahu Shizuo.
Shizuo tentu terkejut. Rambut Izaya yang halus tiba-tiba menggelitik pipi Shizuo. Dia tidak mendorong Izaya untuk menjauh dari dirinya. Tangan Shizuo perlahan naik ke kepala Izaya, membelai rambutnya yang halus itu. "Ada apa?"
"Minggu depan perpisahan sekolah 'kan?" Izaya memejamkan matanya, menikmati tangan Shizuo yang membelai lembut rambutnya
"Ya..." Shizuo masih membelai rambut Izaya
"Shizu-chan, kita akan berpisah?"
Berpisah. Berarti tidak akan bertemu lagi 'kan? Padahal baru saja 5 bulan sejak pertemuan di ruang musik itu, mereka bisa jadi akrab tanpa ada lemparan benda benda di sekolah maupun pisau lipat yang terarah pada Shizuo, walaupun mereka tidak menunjukkan perubahan itu di depan murid lainnya. Memang dalam suatu pertemuan pasti akan ada perpisahan. Tapi baru saja Shizuo merasakan eksistensi seseorang yang berharga baginya, dan dalam waktu seminggu kedepan mereka akan berpisah. Kenapa dia merasa sedih?
"Jadi... waktu kita bersama tinggal sedikit, ya, Shizu-chan."
Selanjutnya, hanya keheningan yang tersisa setelah Izaya yang terakhir berbicara. Beberapa puluh detik kemudian, suara Shizuo memecah keheningan. Hanya suara yang bervolume kecil, tapi Izaya bisa mendengarnya samar.
"Ja...ngan..." bahu Shizuo bergetar, dan sepertinya di berusaha sekuat tenaga untuk mengucapkan sebuah kata (atau kalimat?)
Izaya merasakan bahu Shizuo yang bergetar, menegakkan kepalanya lagi, dan kaget bercampur bingung setelah melihat mata Shizuo yang tampak sedikit berkaca-kaca "Shizu...chan?"
Hening lagi. Izaya menatap Shizuo dengan pandangan bingung, cemas. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Tiba-tiba tangan kiri milik seseorang di sampingnya melingkar di pinggang ramping milik Izaya, sedangkan tangan yang satunya mendorong punggung Izaya agar terbenam ke dalam pelukannya. Mata Izaya membulat, kaget dengan perlakuan Shizuo.
"Jangan katakan hal itu, Izaya! Aku... masih ingin bersamamu."
oooooo
Izaya diam. Dia terlalu shock mendengar apa yang barusan Shizuo katakan dan juga perlakuan Shizuo kepadanya. Izaya membalas pelukan itu, melingkarkan tangannya ke punggung Shizuo. Dia dapat merasakan bajunya di bagian bahu kanan sedikit basah "Jangan menangis, Shizu-chan..."
"Aku tidak menangis, bodoh. Debu di ruangan ini membuat mataku perih," jawab Shizuo dengan suara kecil, masih memeluk Izaya
"Kau tidak pintar berbohong, Shizu-chan," Izaya tersenyum. Kini gilirannya membelai rambut Shizuo, menenangkan orang yang memeluknya itu.
"Aku tidak tahu... Padahal dulu kita selalu bertengkar, malah mencoba untuk saling membunuh. Kau melemparku dengan gawang, aku menyayat bajumu dengan pisau lipatku. Masih ingat kan, Shizu-chan? Tapi sekarang? Kita malah berpelukan seperti ini. Hahaha."
Izaya menarik napas, lalu melanjutkan omongannya kembali
"Lalu disaat hari hujan itu, sekitar 5 bulan yang lalu kalau tidak salah, kau membuka pintu dan tertawa melihatku bermain piano. Sekarang malah kau yang ingin terus mendengar permainan piano-ku 'kan, Shizu-chan?"
Yang ditanya hanya diam, dan Izaya kembali melanjutkan
"Etude Tristesse. Kurasa aku mengerti makna lain dari 'perpisahan' di lagu ini."
Akhirnya Shizuo membuka mulutnya "Apa?"
"Lagu itu yang mempertemukan kita pertama kali di sebuah ruang musik sekolah. Lagu itu yang membuat kita tidak bertengkar seperti dulu lagi. Lagu itu yang merubah..." Izaya ragu untuk melanjutkan kalimatnya
"Merubah apa?"
"Shizu-chan... Kita... saling suka?" Izaya mengabaikan pertanyaan Shizuo, melepas pelukannya dan menatap Shizuo –tatapan yang serius, tapi juga kelihatan malu-malu. Pemilik sepasang mata crimson itu berharap, menunggu jawaban.
"A-apa maksudmu, Izaya?" Shizuo bukannya marah. Malu, kaget, gugup, semuanya bercampur. Pipinya saja sudah berhiskan rona kemerahan.
"Kau memelukku. Kau bilang ingin bersamaku. Alasan dari itu semua karena kau menyukaiku 'kan?"
Shizuo diam. Rona kemerahan di wajah mereka berdua makin menjadi-jadi. Izaya tetap menatap Shizuo, mendekatkan wajahnya. Ia berkata dengan suara yang kecil, tapi terdengar oleh Shizuo.
"Jawab aku, Shizu-chan. Karena aku juga menyukaimu."
Shizuo yakin. Izaya yakin. Mereka sebenarnya sudah lama yakin kalau mereka memang saling menyukai, setelah beberapa kali bertemu di ruang musik ini. Tapi mereka terlalu takut, malu untuk mengungkapkannya. 'Biarlah selalu seperti ini, asalkan kami bisa bertemu setiap hari' mungkin itulah yang selalu ada di benak mereka. Kini salah satu dari mereka mengakuinya, mengakui perasaannya langsung di hadapan seorang yang lainnya.
"Shi—Mmh—"
Itulah jawaban Shizuo untuk Izaya. Shizuo menarik dagu Izaya pelan, mendekatkan wajahnya, hingga akhirnya bibir mereka menyatu dalam sebuah ciuman lembut. Perasaan Shizuo sudah tersampaikan lewat ciuman itu, dan Izaya tahu. Walau awalnya kaget, dia tidak memberontak, melingkarkan tangannya ke leher Shizuo, dan menikmati ciuman panjang itu. Piano dan alat musik lainnya merupakan saksi bisu kejadian ini.
"Kau mencuri ciuman pertamaku, Shizu-chan" ucap Izaya sambil terengah-engah, masih berusaha mencari pasokan oksigen untuk paru-parunya.
"Tapi kau menikmatinya, Izaya."
Izaya kembali melanjutkan pembicaraannya yang tadi terputus "Ah ya... Etude Tristesse juga lagu yang merubah... perasaan kita."
"Aku setuju."
"Kesimpulannya, lagu itu merupakan lagu perpisahan pada masa laluku –masa lalu kita. Kita bukan lagi Izaya dan Shizuo yang setiap hari hanya bertengkar. Kita sekarang, yah, saling... ehem suka" Izaya mengatakan itu dengan malu-malu, lalu melanjutkan "Lagu itu juga merupakan pertemuan kita di ruang musik ini. Firasatku benar, ternyata Etude Tristesse memang lagu yang berharga bagiku."
Seulas senyum terukir di bibir Izaya, dan dia memeluk Shizuo
oooooo
Pesta perpisahan SMA Raira telah berakhir sejak setengah jam yang lalu. Untuk terakhir kalinya, Shizuo pergi menuju ruang musik itu, dan Izaya sudah menunggu.
"Selamat atas kelulusanmu, Izaya."
"Selamat juga untukmu, Shizu-chan. Ah, tolong simpan ini baik-baik ya." Izaya memberikan suatu kumpulan kertas yang ternyata adalah partitur Etude Tristesse
"...Aku tidak bisa bermain piano. Kau sudah tahu sendiri 'kan?"
"Aku hanya memintamu menyimpannya, agar kau selalu ingat padaku. Itu aku tulis sendiri. Khusus untuk Shizu-chan" Izaya menunduk, malu untuk mengatakan hal yang –uh, so sweet itu di depan Shizuo. Shizuo hanya tersenyum melihat tingkah manis Izaya dan lalu mengecup keningnya.
"Arigatou... Akan selalu kusimpan."
"Jadi, ini permainan Etude Tristesse yang terakhir untukmu, eh?"
"Kalau kita bertemu lagi, kau harus memainkan lagu itu untukku, Izaya."
"Hahaha. Baiklah~ Anything for you." Izaya mengecup bibir Shizuo sekilas, lalu duduk di atas tempat duduk, mulai memainkan lagu itu lagi. Shizuo duduk di sampingnya.
Kali ini, suara dentingan piano dalam lagu itu makin indah, karena dimainkan dengan penuh perasaan cinta kepada orang yang duduk di sampingnya. Walaupun Etude Tristesse merupakan lagu perpisahan, tapi mereka yakin, sejauh apapun jarak mereka, hati mereka tetap akan menyatu dalam lagu itu, Etude Tristesse.
-Fin-
Andante = temponya lambat
Owatta! HOHOHO unyu banget sih fictnya trololol /dibuang. Ahaha garing ya? RnR please, I need your comments and critics about this fict. Onegai ;w; /disepaklagi. Yasudahlah! Hehe salam badut YM! :o)
