[Hehe, aku sudah update lagi nih... Kecepetan ga ya? Ah ya sudahlah... Oh! Dan special thanks untuk Ventus Hikari yang telah menjadi reviewer pertamaku, Yay!

Tolong di review ya~ :3]

Tambahan Note: Maaf, aku membuat chapter ini agak kurang jelas, jadi ini sudah ku edit lagi. By the way, Read and Review please~


Chapter 2: Roxas?

[9 tahun yang lalu, sebuah daerah di pinggir kota...]

"Nami-chan…" gumam seorang bocah berambut pirang berantakkan dengan suara yang pelan. Mukanya terdunduk dan matanya sayu, menatapi piring dihadapannya. Di sebelahnya, duduklah seorang gadis sebayanya yang barusan ia panggil Nami-chan.

Gadis tersebut menengok ke arah si bocah, lalu melirik ke arah piringnya. Tidak ada yang tersisa di piring itu kecuali beberapa batang kecil wortel. Roxas tak pernah sudi memakan sayuran. Well, dia paling benci sayuran favorit kelinci itu tepatnya.

"Roxas, kamu harus makan wortelnya! Nanti mama mu bisa marah lho!" Bisik Naminé, menyodok pelan bahu Roxas dengan sikutnya. Tidak ada reaksi yang terlihat dari Roxas kecuali fakta bahwa tatapan matanya semakin memelas.

"Nggak… Aku nggak mau…"

Naminé menendang kaki Roxas dari bawah meja. Roxas hanya mengaduh pelan, namun tetap tidak menyentuh wortelnya.

Ibunya Roxas, Ny. Alice adalah seseorang yang paling tidak suka kalau melihat ada makanan yang tersisa di atas piring. Menyisakan makanan menurutnya sama saja dengan membuang-buang makanan.

Untung ia sedang berada di dapur, sehingga tidak ada yang memperhatikan kedua anak kecil ini di meja makan. Namun Naminé yakin cepat atau lambat, tante Alice akan datang untuk memeriksa piring mereka.

"Roxas, kemarikan wortelnya…" Naminé berbisik dengan cepat. Roxas mengedip-ngedipkan matanya, terperangah. Naminé lalu menyodoknya lagi dengan keras, sebagai tanda bahwa ia harus bergerak cepat.

Sedetik kemudian mereka dapat mendengar bahwa suara kesibukan di dapur telah berubah menjadi sunyi. Ny. Alice telah menyelesaikan apa pun yang ia kerjakan di sana, dan keduanya tahu ia akan segera menuju ke meja makan.

Seketika itu pula Naminé menukar piringnya dengan piring Roxas. Si gadis juga membenci sayuran. Tetapi ia tetap melakukannya; menjejalkan seluruh wortel-wortel itu kedalam mulutnya dan memaksa gigi-giginya untuk mengunyah dengan cepat.

"Te…Terima kasih…" Gumam Roxas dengan muka memerah. Naminé tersenyum padanya dan mengacungkan jempol menandakan bahwa ia baik-baik saja. Dan Roxas harus berusaha mati-matian menahan tawa ketika matanya tertumbuk pada secuil wortel di sela-sela gigi Naminé.


[Back to the present]

Kedua remaja ini tengah duduk di dalam taksi yang sedang dalam perjalanan untuk mengantarkan mereka pulang dari stasiun. Keduanya memandang ke luar jendela sisi masing-masing dan berdiam diri.

Aneh, pikir Naminé, padahal Ia telah menantikan saat-saat ini selama bertahun-tahun. Namun ketika waktunya tiba, mereka malah terperangkap di dalam keadaan yang canggung. Tak ada yang ingin memulai sebuah percakapan. Sungguh berbeda dengan keadaan mereka dulu.

Naminé memberanikan diri untuk mencuri-curi pandang ke arah Roxas, yang duduk jauh di sisi lain kursi taxi itu. Ia melihat saudara sepupunya itu tengah sibuk memandangi jalanan di luar jendela. Ia lalu memanfaatkan keadaan ini untuk memperhatikan lebih jelas penampilan Roxas yang telah berubah dengan drastis.

Tubuhnya yang dahulu gempal dan lucu, sekarang telah menjadi tubuh tinggi yang ideal. Rambutnya masih berantakkan, namun sekarang telah tumbuh lebih panjang dan lebat.

Lalu matanya. Matanya... yang dahulu sering dipenuhi dengan rasa manja, keceriaan, dan sifat cengeng itu telah berubah. Sekarang yang terpantul dari mata itu adalah kedewasaan, rasa mandiri, dan... dingin. Kedua mata biru itu terasa dingin bagaikan salju yang membeku.

Sebelum Naminé tersadar, kedua mata tersebut telah memandang lurus ke arah matanya sendiri, menusuknya dengan tatapan bertanya. Ia melompat terkejut, lalu segera memalingkan mukanya kembali ke arah jendela. Pipinya memerah dengan cepat.

Sudah berapa lama Roxas menatapku seperti itu… Kenapa aku ga nyadar, Naminé bodoh!

Naminé sudah dapat merasakan bahwa hari-harinya mulai besok tidak akan menjadi seperti biasanya...