Anggara's Present :

Three Idiots

..

Humor. Romance. Friendshipp. Failed fluffy.

Kim Jongin. Oh Sehun. Park Chanyeol.

..

KaiSoo! HunHan! ChanBaek!
..

Rate : M—for dirty joke. Nothing sex scene! (tobat dulu yanq)

..

Absurd (seperti biasa, mungkin ini duakalilipat lebih absurd XD) non EYD—banyak bahasa gawl berterbaran. YAOI atau humu atau BoysLove atau BoyxBoy atau—oke kalem. Abaikan genre! OOC! Typo(s)

..

..

Enjoy! ;)

Chapter 2 : Hari yang melelahkan.

..

..

..

..

..

..

"Aku merasa berdosa karna harus membohongi sepupu sendiri."

"Cih, sok alim." Jongin menatap malas kearah Sehun yang berjalan semangat menuju ruangan pribadi milik sepupunya. Dia tidak terlihat seperti apa yang Ia ucapkan tadi. Lihat saja senyum setan Sehun, banyak makna-makna tersembunyi dari senyuman najis itu.

.

Dia bahkan tidak terlihat merasa berdosa sama sekali

.

Mereka bertiga langsung masuk kedalam sebuah ruangan. Ruangan pribadi yang mewah milik seorang presdir muda bernama Lee Donghae. Soal Yizi, anak itu untunglah tertidur, jadi Chanyeol meninggalkannya didalam mobil. Mereka tidak perlu repot-repot harus menyembunyikan Yizi didalam toilet untuk menyelesaikan misi ini.

"Hoh?" seseorang didalam ruangan sana terkejut melihat kedatangan tiga pemuda dengan dandanan aneh itu. baru saja Ia ingin memanggil para staff keamanan karna mengira mereka bertiga adalah teroris atau perampok yang akan mengambil brangkasnya, tetapi Donghae segera sadar kalau salah satu diantara orang-orang berpakaian serba hitam itu adalah sepupunya.

"Hai, hyung?"

"Oh Sehun?" Donghae mengernyitkan dahi.

Sehun segera mendudukan bokongnya dikursi depan Donghae dan meletakan kakinya diatas meja dengan kurang ajar sehingga ujung sepatunya hampir menyentuh hidung Donghae. Sementara Chanyeol dan Jongin tetap berdiri dikedua sisinya. Seperti seorang bodyguard yang menjaga tuan puteri.

"Aku ingin meminta uang."

Donghae menganga tak percaya. Sehun datang tiba-tiba dengan dua teman anehnya, duduk dan meletakan kaki diatas meja tanpa izin dengan wajah songong minta ditaboknya dan sekarang anak itu bilang ingin meminta uang?

Donghae rasanya ingin mengasah golok diatas hidung Sehun.

"memangnya aku bapakmu?!"

"Bukan, siapa juga yang mau jadi anak siluman ikan sepertimu." Donghae sudah siap-siap mengangat bangku dan melemparnya kewajah Sehun. Tetapi dihalangi oleh Jongin dan Chanyeol. Keduanya menodongkan sebuah handgun kehidung Donghae.

Donghae meneguk ludahnya melihat dua pistol mengacung kewajahnya, "O-oke kalem guys." Dia menurunkan pistol itu pelan-pelan dan tersenyum kaku. Dia tidak mau mati disaat dirinya masih lajang seperti ini. "Apa maumu sebenarnya Sehun?"

"makanya jangan macam-macam denganku. Kedua temanku ini sebenarnya adalah..." Sehun mencondongkan tubuhnya kearah Donghae dan berbisik—agar terlihat misterius dan dramatis, "Mafia dari jepang, mereka Yakuza yang sangat kejam."

"Be-benarkah?"

"Mm-hm, mereka sudah membunuh 99 orang dan sekarang ini sedang mencari yang ke-100."

Donghae merinding horror. Tidak menyangka kalau sepupunya terlibat dengan forum mafia seperti ini. "Lalu, kau mau apa sekarang?"

Sehun menyandarkan tubuhnya dikursi empuk itu dan tersenyum manis pada Donghae. "Aku hanya ingin menawarkan barangku padamu."

Mata Donghae langsung tertuju pada selangkangan Sehun.

barang ya?

.

Hening beberapa detik.

.

kemudian Donghae terbahak. "Hahahaha astaga Sehun. Heh bocah! Jadi kau jauh-jauh kemari hanya ingin menawarkan barangmu padaku? Maaf saja Sehun, aku tidak tertarik dengan barangmu."

"Tapi kau bisa lihat dulu! Ini barang bagus!"

"Aku tidak doyan punyamu."

"Kau bahkan belum melihatnya!"

Chanyeol menepuk dahinya malas dan membisikan sesuatu ketelinga Sehun, "Hei albino idiot, lihat arah tatapan sepupu siluman ikanmu itu!" Sehun menuruti kata Chanyeol dan arah pandangan Donghae adalah sesuatu diantara selangkangannya. Sehun menganga dengan wajah memerah matang. Oh dia mengerti sekarang!

"Ikan sialan! Maksudku bukan ini! Otakmu itu—astaga, film biru semua! yadong!"Sehun menodongkan telapak tangannya pada Jongin, "Mana barangnya?"

Jongin memberikan sebuah bungkusan berwarna hitam mencurigakan ketangan Sehun.

"Maksudku barang yang ini, bukan barangku! Makanya setiap malam jangan menonton ikkeh-ikkeh kimochi terus!" sindir Sehun dengan pedas. Dan Donghae merasa tertohok karna Sehun mengetahui kebiasaan malamnya. "Apa itu?"

Sehun meletakan bungkusan hitam itu diatas meja kerja Donghae. "Heroin, 10gram. 20 juta, deal?"

Donghae melotot, "Apa-apaan ini? Kau mau memerasku?"

Jongin menodongkan handgun-nya lagi kehidung Donghae (entah kenapa harus dihidung, mungkin Jongin iri karna Donghae lebih mancung darinya) "Itu sudah murah kau tahu?" desisnya.

"Aku kemarin membelinya 10 gram hanya lima juta!"

"Ini masih hangat. Baru diproduksi dari Jepang, dan efeknya lebih bagus daripada heroin milikmu. Ini yang jual hanya mafia kelas atas tahu. Kau bisa kenyang seminggu hanya dengan mengonsumsi ini" ujar Sehun ala salesman. "jangan-jangan kau terbiasa mengonsumsi amphetamin bukan heroin? Hah, miskin sekali."

Donghae gondok. "Aku tidak mau!"

Dua pistol menempel dihidungnya. Membuat Donghae merinding.

"Beli atau mati?"

"Ba-baiklah aku beli.."

Dan ketiga pemuda itu tersenyum lebar.

"Tapi, aku akan melihatnya dulu." ujar Donghae. Lelaki bermata sipit itu hendak mengambil bungkus yang-katanya-adalah-heroin-mafia-kelas-atas itu diatas mejanya, tetapi Sehun segera menampar tangannya. "APALAGI SIH?!"

"Jangan disentuh dulu sebelum kau memberi uangnya."

Donghae meletakan uang tunai senilai duapuluh juta ditangan Sehun. "Puas?" Sehun menghitungnya dan tersenyum manis, "puas sekali."

"APALAGI YATUHAN?!" jerit Donghae frustasi karna lagi-lagi tangannya ditampar saat ingin menyentuh bungkusan hitam itu. dan kali ini yang menamparnya adalah teman Sehun yang berkulit gelap, berwajah sangar, membuat Donghae ciut.

"Tunggu kami pergi dulu, baru boleh sentuh. Atau.." Jongin mematik handgunnya. "Peluru ini menancab dilubang hidungmu."

"O-o-oke.."

"Senang bisa berbisnis denganmu," ketiga pemuda itu menyalami Donghae dan pergi meninggalkan ruangan si presdir. Jongin dan Chanyeol terus mengarahkan pistolnya kearah Donghae agar Ia benar-benar membukanya saat mereka sudah pergi dan tentu saja Donghae menurut. Daripada harus mati, benarkan?

...

...

"HUAHAHAHAHAHA"

"AHAHAHAHAHA"

"WUAHUAHUAHUAHA—"

"...Chanyeol, tawamu menyeramkan."

Chanyeol langsung diam, "sialan kau Jongin."

"Tapi ide kalian memang brilliant! Kita langsung mendapat uang banyak, haha." Sehun mengipas-ngipasi wajahnya dengan lembaran uang banyak itu. rasanya lebih sejuk berkipas dengan uang. "Omong-omong, apa benar itu heroin asli?"

Jongin dan Chanyeol tertawa rendah bersamaan seperti karakter-karakter jahat di animasi. "Bukan, mana punya kita barang seperti itu." Chanyeol mengangguk, "Yap, itu adalah bubuk bedak bayi rasa strawberry yang kita curi dari keponakan Jongin."

"Heueheueheheuheu."

Oh elit sekali.

Seharusnya Sehun tahu itu.

Sehun memutar bolamatanya malas melihat kedua teman idiotnya kembali tertawa mengerikan seperti itu. "Donghae pasti sedang mengamuk sekarang AHAHAHAHA"

"..Sehun sudah cukup tertawanya, kamu ketinggalan."

"Iya, iya. Lalu sekarang kita kemana dan apakan uang sebanyak ini?" tanya Sehun.

"HELL YEAH! LET'S GO TO KLUB! MABOK CUY!"

"fikiranmu hanya senang-senang saja. lihat dibelakang sini! Ada anak kecil yang harus kita rawat dan beri makan agar tidak busung lapar. Itu tujuan kita mendapatkan uang ini." ujar Chanyeol setelah memukul kepala Jongin.

"Ah benar juga ya, aku sampai lupa. Sehun! Ayo kita ke Myeong-dong!"

"WOHOO! BELANJA!"

"SNACK~ COME TO PAPA BABY~"

"HUWEEEEEEEEEEEEEEE!"

Mereka berisik dan Yizi yang sedang tertidur menangis.

Idiot.

...

...

...

...

Mereka jadi pusat perhatian di Mall.

Yaiyalah.

Siapa gitu yang gak mau merhatiin tiga lelaki berparas bagaikan di cover majalah playboy berjalan beriringan masuk kedalam Mall dengan kece-nya—istilah gaulnya sih, cogan. Para gadis hampir menjerit dan berlari kearah mereka untuk sekedar meminta tanda-tangan atau selca bersama, tetapi menyadari salah satu diantara mereka menggendong seorang batita membuat para gadis mendesah kecewa dengan harapan yang pupus.

"Yaaah sudah punya anak sist."

"Ih duda kayaknya sist, deketin yuk."

"Jadi kamu sukanya duda? Cukup tahu Krys, cukup tahu."

..

..

"Jadi, kita kemana dulu?" tanya Jongin. Ia sudah menanggalkan jas formalnya dan sekarang hanya mengenakan sebuah kemeja hitam dengan dasi yang masih menggantung. Percayalah, Jongin sangat gerah memakai pakaian seperti ini.

"Agar cepat, aku dan Yizi ke bagian baju-baju. Dia tidak memiliki baju ganti, aku tidak mau disangka jadi orangtua yang buruk kar—"

"Eksus meh? Orangtua?"

"...shit, jadi benar kau adalah ayah kandung Yizi?"

Chanyeol memejamkan matanya sesaat, menahan diri agar tidak menendang bokong Sehun dan Jongin yang lagi-lagi berbicara asal jeblak. "Dengar ya, kita sekarang merawat anak ini. Otomatis sekarang..kita—oke ini agak tidak enak, adalah Daddy-nya. Ya, anggap saja gitu. Daripada baby sitter 'kan?"

"...oke."

Sehun meraih dagu Yizi dan menatap anak kecil yang sedaritadi menatap kesana-kemari dengan excited itu. "Yizi-ya, aku cuma mau bilang padamu. Kau sangat beruntung punya tiga Daddy seperti kami." Ucapnya dengan raut serius.

Beruntung atau sial?

"Un?" Yizi mengerjab tidak mengerti.

"Anggap saja dia anak kita oke? Kalau tidak mau disangka kita penculik anak kecil." tukas Chanyeol agak tidak rela. Dia masih muda—dan sialnya belum punya pacar— dan sekarang harus pura-pura sudah memiliki anak. Apa kata orangtuanya nanti?

"Kau dan Sehun pergi ke bagian supermarket, beli keperluan Yizi seperti pampers, susu formula dan makanan. Nanti kita bertemu dibagian sayuran."

Sehun dan Jongin membuat gesture hormat. "Ay, ay captain!"

"Nah, ayo Yizi kita shopping~ kau tahu, aku punya selera fashion yang bagus. Aku ingin kau bergaya ala hiphop sepertiku, itu keren kan ahaha."

"Ip-op?"

"Hiphop, sayang."

Sehun mengedip dua kali dan melihat punggung Chanyeol yang menjauh bersama Yizi dalam gendongannya. Chanyeol terlihat menepuk-nepuk kepala Yizi dan Yizi entah berceloteh dalam bahasa apa.

"Seriously, aku yakin Yizi adalah anaknya."

"dia pantas ya menjadi duda-duda." —ini Jongin yang berbicara.

..

...

...

"Hun yang mana? Aku tidak tahu."

Jongin mengacak rambutnya seraya melihat kearah dua tangannya. Di kanan ada susu formula berkardus warna merah dan ditangan kiri ada susu formula kaleng berwarna kuning. Jongin benar-benar frustasi, dia tidak tahu apapun tentang anak kecil dan segala yang menyangkut dengannya.

"Masukan saja semua, aku juga tidak tahu." ujar Sehun. Tangannya memasukan asal beberapa pack popok kedalam trolly.

Jongin menurut, Ia memasukan semua susu ditangannya kedalam trolly. Omong-omong, Jongin memilih susu yang berhadiah mainan atau tempat minum anak kecil—Jongin suka barang gratisan!

"Lalu, apalagi?"

"Mungkin sudah cukup." Sehun menatapi trolly yang sudah penuh dengan belanjaan mereka. Entah itu benar atau tidak, Sehun tidak perduli. Yang terpenting dia sudah membelikannya untuk Yizi.

"A-akh.."

Terdengar suara erangan lirih dibelakang mereka.

Seperti orang kesakitan.

Sehun dan Jongin tidak perduli, lanjut berjalan menuju kasir tetapi Sehun berhenti tiba-tiba. "Kenapa?" tanya Jongin. Sehun masih terdiam, "Entah kenapa aku merasa hatiku menyuruhku agar menoleh kebelakang."

Jongin memutar bolamatanya jengah, "Cih, dramatis sekali—YA! Sehun! Hei albino!"

Sehun mengabaikan panggilan Jongin dan berlari tergesa-gesa menghampiri seseorang yang terduduk dengan beberapa makanan ringan berceceran disekitarnya. Dia sepertinya habis terjatuh.

Seperti seorang pahlawan yang melihat korbannya meminta tolong. Sehun segera mengambil ceceran makanan ringan dilantai dan menaruhnya dikeranjang belanjaan milik seseorang itu lalu membantu seseorang itu untuk berdiri—padahal Sehun tidak kenal, tetapi insting malaikatnya menyuruhnya agar membantu orang berambut blonde manis ini.

.

Eh?

Blonde manis?

.

"Terimakasih.."

"Ya, sama-sama. Kamu tidak apa—hollyshiet!" Sehun mundur beberapa langkah begitu maniknya melihat seseorang didepannya. Sehun mengucek beberapa kali matanya berusaha memastikan kalau Ia tidak sedang tertidur sambil berdiri dan bermimpi aneh.

Tetapi nyatanya, seseorang didepannya nyata—Sehun menampar pipinya barusan, dan Ia merasakan nyeri—

Insting hatinya memang benar.

Bagus, Sehun merasa Ia memang ditakdirkan menjadi jodoh seseorang manis ini.

"Ke-kenapa?" seseorang itu memandang Sehun takut-takut. Tingkah Sehun yang aneh membuatnya agak ngeri.

Sehun langsung mendekat secepat kilat hingga posisinya dan orang itu benar-benar 'dekat' "Kau tidak apa-apa? Ada yang sakit? Bagian mana? Mau kuantar kerumah sakit? Ayo kita berangkat sekarang ya!"

"Errrr...aku tidak apa-apa."

"Tapi kau terluka! Ayo kuantar ke rumah sakit."

"Aku tidak terluka. Omong-omong tanganmu terlalu erat memegang tanganku.. bisa lepas?"

"tidak bisa! kau terluka!"

"Tidak."

"Kau lecet sedikit, ayo kita kerumahku! Aku obati disana. mau ya? mau dong? plis ya? pl—"

"AKU TIDAK APA-APA!"

Sehun langsung diam seribu bahasa. Seseorang didepannya yang diketahui adalah Luhan—si objek yang selalu hadir dimimpi basahnya (coret)— memandang Sehun kesal. Uh, Sehun memuja pandangan Luhan, dia manis sekali. Ini pertama kalinya Luhan memandangnya dan mereka sedekat ini. Sehun rasanya ingin terjun dari atas pelangi ke laut penuh permen-permen kapas.

Segitunya.

"..M-maaf membentakmu, kau aneh sih."

Sehun menggeleng cepat seraya menampilkan senyum gantengnya. "Aku hanya khawatir padamu, maafkan aku."

Gentle sekali—uhuk.

Sehun berdiri dan hendak berbalik pergi dengan background matahari terbenam dilautan sore. Tetapi suara indah nan lembut Luhan membuatnya berhenti dan membentuk senyuman najis dibibirnya.

"H-hei, tunggu dulu!"

Hominahominahomina.

Kecengan memanggilnya!

Dengan gaya sok-cool-nya Sehun membalikan tubuhnya dan menatap Luhan pura-pura bingung, "Ada apa ya?"

"Aku..seperti pernah melihatmu dikampus?" gumam Luhan. "Siapa namamu?"

Sehun menyisir rambut hitamnya kebelakang dengan kalem padahal didalam hati Ia sudah berteriak heboh; 'KYAAAAAAA LUHAN MENANYAKAN NAMAKU! KYAAAA!'

...Ih.

Geli.

Nggak bercanda, Sehun masih seme yang cool kok.

"Aku Oh Sehun, kau bisa memanggilku Sehun, Sehunnie, Hunnie, Hunhun—panggil 'sayang' juga boleh." Sehun tersenyum nista dan meraih tangan Luhan. Alih-alih menjabat tangannya padahal ingin menggrepe-grepenya.

Demi kulit kerang ajaib! Tangannya lembut sekali—Luhan sepertinya rajin memakai lotion.

Inikah rasanya menyentuh pujaan hati?

Rasanya itu seperti—

"Aku Luhan, terimakasih sudah menolongku Sehunna."

.

Selamat tinggal dunia.

Detik ini, hidup Sehun sudah kelar.

.

"Aku duluan ya, pengawalku sudah menunggu diluar. sekali lagi terimakasih, semoga kita bertemu lagi ya Sehun? Hehe." Luhan melepas genggaman tangan Sehun ditangannya dengan susah-payah—sungguh, Sehun erat sekali menggenggamnya seperti ada power glue yang menempel disana.

.

"Ya, semoga kita bertemu dipelaminan dua tahun lagi, cinta."

.

"Wajahmu menggelikan."

Itu bukan Luhan. Luhan sudah berjalan menjauh dari sana, dan yang baru saja berbicara adalah Jongin. Pemuda berkulit eksotis itu menghela nafas malas melihat Sehun yang masih berdiri mematung dengan satu tangan (yang tadi ia gunakan untuk menggenggam Luhan) dipipinya. Tampangnya benar-benar idiot—Jongin jadi kasihan melihatnya.

"Jongin..ini pertama kali aku berbicara dan menatapnya dengan dekat—bahkan menyentuhnya! Kau dengar itu? ME-NYEN-TUH-NYA! Aku menyentuh Luhan! Dan dan aku ... Asdfghjdlfkslaadhdkllsj.."

"Sehun, aku tidak bisa bahasa alien."

"Luhan itu asdgdhfkshssalakshdkaka—"

"sumpah, aku tidak mengerti."

.

BRUGH!

.

"...astaga, dia malah pingsan."

Ya, Sehun pingsan saudara-saudara.

..

..

..

Jongin dan Sehun sudah berada didepan kasir sekarang, membayar dan membungkus semua belanjaan mereka. Sehun juga sudah kembali ke mode normalnya setelah Jongin menyumpalkan kaus kakinya dihidung Sehun—itu berhasil, ampuh sekali! Bahkan Jongin yang hampir pingsan karna Sehun malah mencekiknya dengan kencang setelah sadar.

Dan sekarang Jongin mengetuk-ngetukan sepatunya dilantai risih karna mbak-mbak kasir yang sedang membungkus belanjaannya itu menatap mereka berdua dengan intens. Jangan-jangan mbak-mbak itu seorang pedofil dan berniat ingin menculik dirinya dan Sehun?

Lalu mereka dijadikan simpanan?

..ih.

"Maaf mas-mas, kalau boleh tahu. Ini..buat siapa ya?" si mbak kasir menunjuk kearah belanjaan mereka yang semuanya adalah untuk anak kecil. Jongin dan Sehun saling berpandangan. Lalu kemudian Jongin memeluk lengan Sehun dengan mesra dan menyandarkan kepalanya dibahu Sehun.

"...untuk anak kami."

Sehun menganga, hendak protes mendengar ucapan Jongin. Namun, Jongin mencubit perutnya dengan keras dan membuat Sehun mau-tidak-mau mengikuti akting menggelikan ini. "Iya, anak pertama." Sehun nyengir kaku dan mengelus-ngelus kepala Jongin dengan lembut.

Ugh.

Mual.

Si mbak kasir tersenyum mencurigakan dan wajahnya agak memerah—mengingatkan Sehun akan suatu karakter wanita di anime yang suka menjodohkan antara lelaki dan lelaki. Sehun lupa apa namanya. Ojoshi—yoshi..errr jojoshi..shijosi—ah! Fujoshi. Ya seingat Sehun sih namanya Fujoshi.

"Oh, kalian...?"

"Pengantin baru! Ahaha, yakan sayang?" Sehun mengangguk cepat dan mengecup rambut Jongin sekilas. "kami baru menikah di Jepang setahun lalu."

Dammit! Jongin harus bershampoo dengan kembang tujuh rupa setelah ini.

Si mbak kasir hampir meledak melihatnya. Ia kembali berkutat pada belanjaan kedua pasangan yang katanya pengantin baru itu. mbak-mbak kasir itu mengernyit heran melihat dua kaleng susu formula berbeda jenis.

"Maaf lagi mas, kalau boleh tahu. Anak kalian umurnya berapa tahun ya?"

Jongin dan Sehun berpandangan, saling mengirim pertanyaan lewat telepati. Berapa umur Yizi? Mereka tidak ingat. Akhirnya Sehun yang menjawab dengan ragu, "Dua..tahun."

"katanya pengantin baru, kok anaknya udah dua tahun?"

Sehun rasanya ingin membawa mbak-mbak kasir ini ke suku maya dan menjadikannya sebagai seserahan dewa matahari disana.

Dia itu kepo sekali. Urus saja urusannya sendiri! Jangan mengurusi hidup Sehun.

Sehun saja tidak mengurusi hidupnya sendiri.

"Biasalah anak zaman sekarang, tidak greget kalau tidak jebol diluar nikah." Jongin yang menjawab karna Ia sudah ngeri melihat tubuh Sehun yang mengeluarkan asap hitam imajiner dan kobaran api. "Mbak ini gak gaul amat sih."

Sebenarnya dia tidak cocok dengan peran uke. Sumpah—wajahnya sangar dengan tubuh berotot seperti itu. mana ada bottom sekekar Kim Jongin?

"Oh, hehehe. Maaf mas. Ini susunya salah, ini ukuran untuk anak lima tahun." Mbak kasir menyingkirkan satu kaleng susu yang berwarna kuning. "Nah yang ini baru untuk anak umur 1-2 tahun." Ia menunjuk kardus susu yang berwarna merah.

Jongin mengangguk-angguk, "Oh gitu, kukira sama saja. maklum lah ya, orangtua baru. Hehehe."

Mbak kasir tersenyum maklum dan kembali menghitung belanjaan mereka. Selanjutnya wajah sikasir itu memerah matang dan mengambil satu pack pembalut berwarna merah muda yang bertuliskan 'With extra wings' yang terselip diantara popok-popok bayi.

"Ng..i-ini untuk siapa ya, mas?"

Sehun menepuk dahinya frustasi.

Shit. shit. shiiiiit.

Sementara Jongin terdiam beberapa detik—berusaha mencerna semuanya—dan lalu berbisik kearah mbak kasir dengan senyuman malu-malunya.

"Buat saya mbak, lagi masa subur."

...

...

...

...

...

"Lain kali aku tidak mau berbelanja denganmu." dengus Sehun sebal. Ia menahan hasratnya yang sudah mencapai ubun-ubun untuk mencekik Jongin. Temannya yang satu itu, dibilang idiot tetapi semua sandiwara mereka berhasil dan tidak dicurigai tetapi dibilang pintar juga meragukan.

"Heh! Kau fikir aku mau jadi istrimu?" tanya Jongin retoris seraya menunjuk-nunjuk Sehun. "Amit-amit jabang bayi!"

"Memangnya kau punya rahim pakai 'amit-amit jabang bayi' segala?"

"Sesuka hatiku dong. Mau marah? Ayo gulat!"

Chanyeol menarik kerah belakang baju Jongin dan menjauhinya dari jangkauan Sehun. Hampir saja mereka adu pukul dan tendangan ditempat perbelanjaan ini. Mereka lagi-lagi menjadi pusat perhatian—kali ini karna perdebatan Jongin dan Sehun. Chanyeol hanya bisa menghela nafas mencoba sabar dan bersikap dewasa menghadapi dua bocah yang masih labil ini. Memang sih dari kasir tadi Jongin dan Sehun saling beradu mulut karna insiden Jongin yang seenaknya mengaku-ngaku mereka adalah sepasang pengantin baru. Chanyeol memakluminya.

Jongin memang begitu orangnya.

Yizi tertawa senang dan menepuk kedua tangannya melihat Chanyeol memarahi Sehun dan Jongin. Entahlah sepertinya Yizi memang cocok menjadi bagian dari si tiga idiot itu.

"Aku marah." Jongin melipat kedua tangannya didada dan membalikan tubuhnya, tidak mau melihat kearah dua temannya dan Yizi. Oh, kekanakan sekali si Jongin ini. Marah saja pakai bilang-bilang.

Sehun dan Chanyeol mendengus tidak perduli dan beranjak meninggalkan Jongin dari sana, malas sekali membujuk Jongin yang dalam mode ngambek. FYI, mereka sedang ada dibagian sayuran saat ini. Biarlah Jongin nanti diculik oleh ibu-ibu yang sedang berbelanja disana.

"Jangan pegangi aku! Aku marah dengan kalian." tukas Jongin merasakan ujung bajunya dipegang oleh seseorang. "Kubilang lepaskan aku. Aku tidak mau melihat kalian berdua dan juga Yizi!"

"...Errr aku hanya ingin mengambil brokoli disampingmu."

.

Jongin berkedip dua kali.

Sejak kapan suara Chanyeol dan Sehun yang berat-berat mesum itu berganti dengan suara berat tetapi terdengar sangat lembut dan enak didengar?

.

"Apa kau boleh menyingkir sebentar?"

Jongin menoleh kesumber suara dengan slow motion. Angin pelan langsung berhembus—entah darimana asalnya—menerpa wajah Jongin dan seseorang didepannya. Jongin membuka mulutnya lalu menutup lagi, lalu membuka lagi dan menutup lagi—begitu seterusnya seperti seekor ikan yang terlempar kedarat.

Jongin sesak nafas.

Seseorang nomor satu yang ada diotak Jongin sekarang tengah berdiri dihadapannya dengan wajah minta diculik dan dikarungi.

Do Kyungsoo—mahasiswa jurusan sastra inggris yang sudah Jongin incar duabulan lalu.

.

Kau dengar itu?

Do Kyung Soo!

.

Iya, yang sering jadi objek masturbasi Jongin—eh.

.

"..Apa kau baik-baik saja?"

Jongin hampir menaiki tempat brokoli disebelahnya dan melakukan selebrasi atas dirinya yang sudah ditanya dan ditatap oleh incarannya sendiri. Jongin mengatur nafasnya dan berdehem sedikit—jaga image sedikit lah, setidaknya Jongin tidak mau terlihat seperti seorang fans yang baru saja dikecup oleh idolnya.

"Aku fine," Jongin mengembangkan senyum tampannya. "oh, kau ingin mengambil brokoli 'kan? Biar ku ambilkan." Jongin meraup beberapa brokoli segar dan memberinya ke Kyungsoo yang masih terheran-heran. Seharusnya ia memberi bunga, bukan brokoli seperti ini. Elite sekali.

"Aku seperti pernah melihatmu." Kyungsoo memiringkan kepalanya sedikit dan menatapi Jongin dari atas ke bawah.

"Ah ya, aku Kim Jongin. Mahasiswa teknik sipil, satu kampus denganmu. Maklum lah ya, aku memang agak terkenal dikampus—oh atau mungkin sangat terkenal disana, jadi wajar saja jika kau per—"

"Oh! Kau yang kemarin dihukum mencabuti rumput lapangan kampus 'kan?"

.

Sialan.

Udah kece gini, diingatnya malah tukang cabut rumput lapangan kampus.

.

Itu rasanya kayak abis dibuang ke lautan wanita-wanita seksi tiga detik lalu ditendang ke kubangan penuh banci.

.

Jongin tertawa kaku dan masih menatapi Kyungsoo tanpa berkedip—pemandangan indah gini sayang dilewatkan. Jongin rela ditinggal oleh kedua temannya jika ada Kyungsoo yang menemani. Duh. Mimpi apa dia semalam sampai bisa berduaan dan berbicara dengan Kyungsoo saat ini?

Oh iya.

Mimpi ingin dihabisi oleh tiga kakak Kyungsoo.

Abaikan itu. waktu menyenangkan seperti ini tidak baik jika harus disangkut pautkan dengan hal yang buruk.

"Kau sendirian?" tanya Jongin melirik kesana-kemari. Siapa tahu tiba-tiba lehernya terputus karna dipenggal oleh kakak Kyungsoo yang datang tiba-tiba.

Kyungsoo mengangguk kecil membuat Jongin bersorak dalam hati. Kesempatan tidak datang dua kali kawan. Tidak ada kakak Kyungsoo, sedang di Mall, berduaan—sipp, inilah saatnya seorang Kim-sexy-Jongin melakukan pendekatan dengan Kyungsoo. Sebelum anak unyu itu diambil oleh orang lain.

"Boleh kutemani?" Jongin buru-buru meralatnya, "Aku juga sedang sendirian dan bingung ingin membeli apa. Jadi kita bisa berbelanja berdua hehe. Mau 'kan?"

Kyungsoo tersenyum dan mengangguk, "boleh—err Jongin." Dia agak ragu menyebut nama Jongin, mungkin takut salah.

YAHAAA! IT'S THE BEST DAY EVER~ IT'S THE BEST DAY EVEEEEER~

Jongin bernyanyi bersama Spongebob didalam hati. Mungkin ini yang dirasakan Sehun saat bertemu dengan Luhan tadi—tetapi Jongin lebih beruntung karna bisa berduaan dan berbelanja dengan Kyungsoo dihari yang cerah ini.

KYAKYAKYA~!

"Jongin?"

"Ya, say—err maksudku, Kyungsoo?"

"Hi-hidungmu..berdarah."

...

...

...

...

...

...

...

"Jongin, sumpah. Wajahmu membuatku mual." Chanyeol meringis melihat Jongin yang tersenyum-senyum sendiri seraya mengaduk-ngaduk susu untuk Yizi dengan pelan. Sepulang dari mall tadi, anak itu tidak berhenti tersenyum dan kadang tertawa sendiri membuat Chanyeol berfikir mungkin inilah saatnya dia memasukan Jongin ke rumah sakit jiwa.

"Aku kencan dengan Kyungsoo.."

.

Ini kalimat yang sudah ke-56 kalinya yang Chanyeol dengar.

Asal kalian mau tahu saja.

.

"Apanya yang kencan? Kalian hanya tidak sengaja bertemu disana dan dengan segala bujuk rayumu dia mau berbelanja denganmu." Chanyeol memasang ekspresi datar yang hanya dibalas desisan sebal oleh Jongin.

"Itu namanya takdir. Aku memang ditakdirkan untuk Kyungsoo. Heuheueheu."

"Oh, aku benci tawa itu." Chanyeol melanjutkan kegiatannya yang sedang membuat masakan yang layak dimakan oleh mereka bertiga dan juga Yizi. Ia menggeser layar ponselnya untuk melihat lebih jelas resep dari sana—iya, Chanyeol mencontek resep masakan dari internet.

"OI IDIOT! PERHATIKAN SUSUMU!" teriak Chanyeol membahana.

Jongin hampir terjungkal kaget mendengar teriakan Chanyeol yang lebih mirip dengan auman singa. Ia buru-buru melirik kearah dadanya sendiri, dan memandang Chanyeol dengan bingung.

"Hyung, aku tidak punya susu."

Sabar, Chanyeol. sabar. orang sabar disayang tetangga sebelah—eh.

"Fak Jongin! Maksudku susu buatanmu. Memangnya kau mau Yizi mati hanya karna meminum susu yang kau aduk dengan jarimu sendiri?"

Jongin memandang kearah botol susu ditangannya. Oh, pantas jarinya terasa basah. Ternyata tangannya sudah berenang disana. Jongin menunjukan cengirannya pada Chanyeol yang dibalas tatapan malas oleh pemuda kelewat tinggi itu.

"buat ulang! Buat ulang!"

Jongin mengangguk dan membuang susu itu. ia membuat yang baru—memasukan tiga sendok susu bubuk formula dan mencampurkannya dengan air hangat—masa bodoh, Jongin tidak tahu berapa takarannya, yang terpenting anak kecil itu meminum susu.

"YA! YIZI BERHENTI! YA!"

"Da! Da! Hahahaha"

"AAKH PINGGANGKU! HEH BOCAH KUBILANG BERHENTI!"

Chanyeol dan Jongin menengok ke arah pintu kamar mandi yang tidak jauh dari dapur. Dimana suara kegaduhan itu berasal; teriakan Sehun, tawa Yizi dan beberapa barang yang berjatuhan. Disana terlihat Yizi keluar dari kamar mandi dengan telanjang bulat. Anak berambut hitam legam itu tertawa seraya berlarian dengan tubuh masih penuh sabun. Akibatnya lantai rumah mereka menjadi becek karna jejak kaki Yizi yang basah.

Selanjutnya Sehun menyusul berlari keluar dengan handuk melilit tubuhnya dan juga selembar handuk kecil untuk Yizi. Sehun terlihat memegangi pinggangnya—mungkin suara 'gdebuk' tadi adalah dia yang terpeleset dikamar mandi.

"Oh..apalagi ini?" gumam Chanyeol dengan wajah lifeless.

"Ahjucci! Ahjucci!" Yizi menaik keatas sofa dan loncat-loncat disana masih dengan tawa riang khas seorang anak kecil; polos dan menyebalkan.

"Jangan panggil aku Ahjussi! Umurku baru 20 tahun." seru Sehun tidak terima. "Ayo anak pintar, turun dari sana~ kita mandi lagi, oke?"

"Aniyo~"

"Nanti kau jatuh dan aku juga yang repot! Arrgghh!" Sehun menjambak rambutnya sendiri frustasi—dia belum pernah terlihat se frustasi itu. bagaimana tidak frustasi, memandikan anak kecil itu sangat susah. Belum lagi tadi Yizi hampir memakan pasta gigi dan tercebur kedalam kloset. Dan sekarang keluar dan berlarian keliling rumah dengan tubuh yang masih basah dan penuh busa sabun.

Sehun angkat tangan.

Ini tidak mudah, plis.

"Hei kalian berdua! Jangan dilihat saja, ayo bantu aku. Teman macam apa kalian?" Sehun melayangkan tatapan mematikannya pada Chanyeol dan Jongin yang menontonnya dalam diam.

"Oh susuku!" Jongin segera berlari kearah dapur.

"Astaga, aku lupa belum menaruh garam di sup-ku!" Chanyeol mengikuti jejak Jongin.

"Fak! Enyah saja kalian berdua dari dunia ini." gerutu Sehun. Ia beralih pada Yizi yang kini meloncat dari sofa lalu naik lagi, loncat lagi—dan begitu seterusnya. Yizi anak yang hiperaktif dan pintar berbicara, walau umurnya masih dua tahun.

TING TONG!

"Ada tamu?"

"tamuu!" Yizi berseru dan merentangkan tangannya keudara. Sehun tanpa sadar terkekeh kecil melihat tingkahnya, dengan cepat Sehun membersihkan tubuh Yizi dengan handuk kecil dan melilitkan handuk itu ditubuh mungilnya.

"Nah, ayo kita lihat siapa yang datang." Sehun menggendong Yizi dan membawanya menuju pintu utama.

TING TONG!

Sehun memutar handle pintunya dan membukanya. Siapa kiranya yang berkunjung ke rumahnya malam-malam begini.

"A-ah?"

Sehun mengerutkan dahinya heran melihat 'tamu' didepannya yang memundurkan langkahnya saat pintu sudah dibuka. Sehun baru pertama kali melihat wajahnya—seorang pemuda bertubuh mungil dan berwajah manis. Serius, dia agak mirip dengan Luhan. Hanya saja menurut Sehun, Luhan-nya lebih cantik dan manis. Ini menurut Sehun ya.

Seseorang didepannya terlihat memerah melihatnya. Sehun mengedip dua kali dan melihat tampilannya sendiri.

Oh. Dia hanya memakai selembar handuk dipinggangnya.

Pantas saja.

"Yeppuda!"

"Eh?" Sehun melirik Yizi yang baru saja berbicara. Dia menyentil kening anak itu, "Hei, kau masih kecil."

"Annyeong haseyo.. aku tetangga barumu, rumahku tepat disebelahmu. Dan ibuku ingin aku memberikan ini untukmu sebagai salam perkenalan tetangga baru. Semoga kau suka ya!"

Sehun menerima sekotak cupcakes dari tangan pemuda mungil itu, satu yang Sehun tahu darinya; dia cerewet!

"Terimakasih. aku Oh Sehun." Sehun menyodorkan tangannya untuk berkenalan. Pemuda semanis ini sayang jika dilewatkan—huehueheuehe.

Pemuda mungil itu menjabat tangan Sehun, "aku Byun Baekhyun, kau bisa memanggilku Baekhyun."

Oh, tangannya lembut sekali. Dan jari-jemarinya cantik seperti anak gadis yang sering meni-pedi.

"Siapa yang datang Se—OH! BAEKKIE?!"

Sehun terdorong kesisi pintu oleh Chanyeol yang tiba-tiba datang. Pemuda jangkung itu langsung mengambil posisi dihadapan Baekhyun dan menjabat tangannya dengan SKSD; sok kenal sok dekat;

"Hei itu panggilan dari ibuku!" protes Baekhyun karna orang asing ini memanggilnya dengan nama kecilnya dengan seenak hati. "Darimana kau tahu?"

Chanyeol melebarkan senyumnya, "Tadi siang aku mendengarnya kau dipanggil seperti itu oleh ibumu ehehe. Nama yang manis," sama seperti orangnya..

Baekhyun menyipitkan mata yang memang sudah sipit. Ia memandang Chanyeol dengan curiga. "...bukankah kau yang menertawakanku saat aku jatuh tadi sore?"

"Iya! Namaku Park Chanyeol, kau bisa memanggilku Chagiya jika kau mau—ARGGH!" Chanyeol mengangkat kaki kanannya yang barusaja diinjak ganas oleh Baekhyun. Rasanya nyeri sekali. oh kakinya berdenyut-denyut sekarang.

"Itu salam perkenalanku untukmu." Baekhyun melenggang pergi dari sana dengan wajah tanpa dosanya.

"Awas ya, kuperkosa tahu rasa kau!"

"Apa? Kau mau memperkosa Sehun?" Jongin muncul tiba-tiba dengan botol susu ditangannya. Ia melotot kearah Sehun yang masih menempel disisi pintu hanya dengan Yizi digendongannya. "Sehun, Chanyeol hyung melecehkanmu?! Astaga, sudah jebol dong? Bagian mana?"

"Enak saja! siapa yang mau melecehkan Sehun?" Chanyeol mendengus, "Amit-amit." Lalu pemuda tinggi itu masuk kedalam rumah dengan wajah bersungut-sungut.

"Sehun—"

"Stop, Jongin, stop. Jangan sampai aku benar-benar mencekikmu."

Dan Jongin kini sendirian diambang pintu. Ia berkedip-kedip, "Apa salahku?"

...

...

...

...

Sehun memandang datar kearah Chanyeol yang berguling-guling absurd kesana-kemari diatas permadani seraya bernyanyi sumbang. Dia tidak sadar umurnya sudah berapa masih saja melakukan hal absurd seperti itu. Yizi saja yang notabene masih anak kecil malas melakukan hal itu. Anak berumur dua tahun itu kini tengah meminum susu yang dibuat oleh Jongin dan berbaring diatas sofa hanya dengan memakai pampers.

—seperti tuyul.

"Zi, apa susunya enak?" tanya Jongin antusias.

Yizi menggeleng, "Aniyo."

Jongin merasa sakit hati. Harga dirinya merasa terinjak dan terombang-ambing arus ombak lautan. "Lalu kenapa masih kau minum hah?!"

"Kalna yici hauc. Kalau tidak hauc, yici tidak akan mau minum cucu belacun (beracun) ini."

"Aku tidak mengerti bahasa bayi alien." Jongin mengibaskan tangannya tidak perduli. Jika Jongin mengerti apa yang dikatakan Yizi, mungkin saat ini Ia sudah melemparkan anak itu ke pembuangan terdekat.

"Bagaimana kita ke kampus besok? Tidak mungkin anak ini kita tinggal sendirian dirumah." ujar Sehun. Ia sedikit melayangkan tatapan mematikan pada Yizi, dasar menyusahkan saja. Yizi tidak perduli tatapan itu dan lanjut menghabiskan susunya.

Chanyeol berhenti melakukan kegiatan absurdnya, "Aku baru kefikiran akan hal itu. Kita gantian saja mengurusnya, jam kuliah kita 'kan beda."

"Maksudmu mengurus sendiri-sendiri begitu? EMOH!" tolak Jongin matang-matang. Mengurus Yizi bertiga saja sudah sangat melelahkan, apalagi sendirian. Bisa-bisa Jongin mengalami penuaan dini.

"Lalu kau maunya bagaimana? Meninggalkannya disini sendiri? Bisa hancur rumah kita."

"Bawa saja kekampus."

"..."

"..."

"Apa?" Sehun bertanya dengan polos mendapat tatapan datar dari kedua temannya.

"...Jenius sekali Oh Sehun." desis Jongin. "APA KATA ANAK-ANAK KAMPUS JIKA KITA MEMBAWA BATITA KESANA? KAU FIKIR KITA INI PENGASUH BAYI?! MAU DIHUKUM OLEH DOSEN CHO LAGI KAU?!"

"YAUDAH KALEM, JANGAN MEMBENTAKKU BRENGSEK!"

"KAU JUGA MEMBENTAKKU TIKUS IDIOT!"

"ITU KARNA KAU YANG MULAI KOPI HITAM!"

"OH SEHUUUUN! AKU TAHU KAU SEPUTIH SALJU. SINI HIDUNGMU! BIAR AKU SUMPAL DENGAN BUBUK CABAI—ASDGDFDDKHDKDL"

Chanyeol dengan santai menggendong Yizi dan berjalan ke lantai dua meninggalkan Sehun dan Jongin yang terlibat adu gulat disana. Biarkan saja dua kopi-susu itu adu pukul, beberapa menit kemudian juga nanti akan baikan lagi. Sehun dan Jongin memang seperti itu.

Memaki satu sama lain, saling tendang dan cekik—beberapa menit kemudian baikan dan pelukan like a teletubbies.

Persahabatan yang indah bukan?

...

...

...

...

"Nah, kau tidur disini oke?" Chanyeol menurunkan Yizi dari gendongannya keatas sofa yang terdapat didalam kamarnya. Yizi menggelengkan kepalanya cepat dan berjalan menuju tempat tidur King size milik Chanyeol dan kedua temannya. Anak berusia dua tahun itu menaik ke ranjang dan berguling-guling disana.

Chanyeol facepalm, "Baik, baik. kau tidur disana. biar Jongin dan Sehun tidur dikamar sebelah."

Sedikit info saja, rumah ini adalah pemberian Suho—hyung-nya Jongin yang terkenal tajir itu—sebenarnya bukan pemberian juga sih, melainkan Suho tidak menempatinya lagi. Jadi daripada dijual atau disewakan, Jongin dan teman-temannya menempati rumah ini dan mengklaimnya sebagai rumah mereka dengan seenaknya. Dirumah ini ada tiga kamar tidur, semuanya berada dilantai dua—dan kenapa Chanyeol dan kedua temannya menempati satu kamar yang sama?

Alasannya, tidak bisa jauh-jauh sedikitpun dan untuk menambah rasa kesolidaritasan—alih-alih takut tidur sendiri-sendiri.

Chanyeol berjalan kearah jendela kamar yang masih terbuka, Ia hendak menutupnya karna angin malam yang masuk akan membuat Yizi sewaktu-waktu bisa sakit dan membuatnya bertambah repot.

Chanyeol menghentikan pergerakannya ketika telinga lebarnya mendengar sebuah senandung kecil dari arah dekat. Chanyeol mengintip lewat jendela sedikit—siapa tahu itu hantu 'kan? Bibi Jang bilang hantu suka sekali keluyuran pada jam sepuluh malam seperti ini.

Tetapi yang Chanyeol dapat bukan hantu yang melayang-layang tanpa sebab, dilihatnya si tetangga baru yang manis itu tengah berdiri dibalkon dan bersenandung kecil. Chanyeol melebarkan senyumnya dan berjalan menuju balkon.

Chanyeol sedikit menggigil merasakan angin malam yang dingin membelai kulitnya. Ia bersandar pada pagar pembatas antara dirinya dan si tetangga baru. Pemuda manis itu belum menyadari kehadirannya, membuat Chanyeol leluasa memandangi wajahnya. Dia bahkan lebih cantik dari Luhan dan lebih menggemaskan dari Kyungsoo—menurut Chanyeol.

"Haaaai baekkie~" sapa Chanyeol dengan nada 'Haaai kevin' yang diucapkan Spongebob pada saat mengikuti pameran ubur-ubur dan bertemu dengan kevin si—cukup cukup, kita tidak sedang membahas si kotak kuning idiot itu.

"GYAAAAAAAA!"

Chanyeol memejamkan matanya rapat-rapat saat teriakan membuat telinga sakit itu terdengar seiring sebuah cairan membasahi seluruh wajahnya. Chanyeol mengecapi cairan yang sedikit masuk kemulutnya itu—manis. Ah susu coklat, masih hangat pula.

Jadi begini, kau tahu 'kan bagaimana beratnya suara Chanyeol? Apalagi dipakai dengan ucapan 'Haii baekkie~' dengan nada rendah, membuat siapa saja yang mendengar pasti ketakutan. Begitu pula si tetangga baru yang terkejut dengan kedatangan Chanyeol yang tiba-tiba. Dengan refleks ia berteriak seperti gadis-gadis dan menyiram wajah Chanyeol dengan segelas susu ditangannya.

"Kau mau membuatku mati muda ya?!" hardik Baekhyun sengit. Tidak perduli dengan wajah Chanyeol yang kini berlumuran susu coklat.

Chanyeol mengusap wajahnya, "kenapa kau menyiramku?"

"Aku refleks, maaf."

"tidak ikhlas sekali." gerutu Chanyeol. "Bersihkan wajahku sebagai gantinya!"

Terdengar desisan sebal dari Baekhyun. "Ogah."

"Kenapa kau kejam sekali padaku? Tadi kau menginjak kakiku dan sekarang menyiram wajahku dengan susu coklat. Apa salahku padamu wahai adinda?"

"..Namaku bukan adinda." Baekhyun berujar datar melihat Chanyeol memasang wajah sedih sedramatis mungkin. "lebih baik aku kembali kekamarku daripada harus disini bersamamu."

"tunggu Cha Eun-sang!" Chanyeol meraih tangan Baekhyun buru-buru, bersyukurlah pada tangan panjangnya jadi Chanyeol mudah menangkap si mungil nan ketus itu.

"tadi Adinda, sekarang Cha eunsang. MAUMU APA SIH?! NAMAKU BYUN BAEKHYUN!" Baekhyun gondok. Ia menepis tangan Chanyeol dengan kasar, "Jangan pegang-pegang aku, Park Chanyeol!"

"UWOOO! Kau mengingat namaku!" seru Chanyeol dengan mata berbinar-binar cerah. Hampir saja ia ingin loncat dari balkon saking senangnya tetapi diurungkan—itu terlalu berlebihan. Entah kenapa wajah kesal Baekhyun terlihat sangat menggemaskan dimatanya, Chanyeol suka sekali. Apalagi sikapnya yang ketus-ketus itu membuat Chanyeol tertarik untuk menggodanya.

"Baek tunggu!" Chanyeol loncat melewati pagar pembatas setinggi pinggangnya itu dan kembali meraih lengan Baekhyun yang hendak berjalan meninggalkannya. Oh adegan ini mengingatkannya pada suatu drama yang sangat disukai oleh noona-nya.

Baekhyun membalikan tubuhnya dan menghadap ke pemuda tinggi itu, "kau mau kupukul ya?"

Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun—oh lembutnya—dan menatap si mungil itu dengan pandangan serius. Baekhyun menautkan kedua alisnya melihat perubahan wajah Chanyeol, yang Baekhyun tahu orang didepannya ini agak sinting dan idiot.

"K—kau mau apa?"

Angin malam yang sejuk menerpa keduanya diiringi sebuah lagu ballad yang entah darimana asalnya dan hamparan bintang dilangit menambah suasana menjadi romantis—kecuali wajah Chanyeol yang masih berlumuran susu coklat, itu sungguh tidak enak dipandang, sumpah. Baekhyun merona saat tiba-tiba wajah Chanyeol mendekat.

Dia tampan juga—eh? Lu-lupakan.—batin Baekhyun

"Cha Eun-sang.. mungkinkah aku menyukaimu?"

"..."

Krik. krik.

"HIYAAAAAAAAAH!"

PLAKK!

BUGH! BUGH! BUGH!

"AAAARRGGGHH! SIAPAPUN—ADAW!—TOLONG AKU! AAAAAA! BAEK—ARGHH!"

.

Yeah, GWS Park Chanyeol.

..

..

...

...

Tebece!

...

a/n :

-ini terinspirasi dari film Ro B-Hood sama Three Idiot (Hindi's film). Tetapi beda jauh bgt sih=_=

-THANKSEUU RESPONNYA, TERNYATA BAGUS-BAGUS HUEHEHE XD mungkin ini FF bakal gak nentu update-nya, soalnya gue lagi mau ngetik 89,5 TRFM dan epilognya I'm Normal. TAPIIIIIIIIIIIIIIII.. ini bakal gue lanjut kok, tenang aja oke? ;)

Dan buat kesayangan gue (maksud?) khyojung, ripiu lo selalu buat gue ngakak dan moodboster xDD capslock udah jadi ciri khas lo ye kayaknya? Hahaha thanks udah buat gue ngakak sendiri didepan PC, Lol.

Galupa juga buat yg udah ngasih sepatah dua-patah kata dikolom review, KALIAN LUAAAAAAAARRRR BIASA! /teriak bareng Ariel noah/ yg Fav dan Follow, KALIAAN K-CAWW! /wink bareng Mcc'queen/

And..last, review again? I'll fast update.

...