Notes:
Sasuke = 25
Naruto = 20
-ii-
NARUTO* Kishimoto Masashi
Warns : Mature lines, slow updates (Ha!)
-ii-
RECTITUDE
TIring
-ii-
Mereka sering sekali berkelahi, biasanya untuk memenangkan ego masing-masing.
Jenis perkelahian yang biasanya akan berakhir dalam penanganan medis Haruno Sakura dan, jika beruntung, penangguhan misi level atas oleh Hokage yang berarti mereka harus mengerjakan misi level-D menggantikan para Gennin.
Tapi kali ini, walau ego mereka masih bertentangan, tidak ada perkelahian 'seperti biasa'. Sasuke diam agar Naruto bicara tapi sebaliknya, Naruto tetap diam agar Sasuke tahu kalau dia sedang tak mau membicarakan apapun. Kali ini mereka saling mendiamkan selama hampir sejam di bangku taman berpenerangan remang dan berbau amis, tak ada kontak selain beradu bahu serta gumaman pelan dari Naruto.
Sasuke memutuskan bicara setelah mengusir seorang pemabuk yang nyaris muntah di dekat kakinya.
"Iruka menyuruhku untuk menanyakan apa maumu."
Dalam hati Sasuke mengumpat. Dia tidak seharusnya berkata dengan nada seperti itu, 'kan?
"Kalau itu tujuanmu membuntutiku," Naruto berdiri cepat, "...bye."
"Tunggu—,"
"Lepas—,"
Sasuke bertahan, dia bisa merasakan kain celana Naruto yang dia genggam berderak mengerikan.
"Semua orang mengkhawatirkanmu," Naruto menunduk memandangnya dengan mata menyipit tak percaya, namun Sasuke menambahkan setelah menarik nafas panjang, "...aku mengkhawatirkanmu."
Naruto mengerjap kaget tapi langsung bisa menguasai diri.
"Oh. Oke. Bilang pada Iruka; biarkan aku sendiri."
Sasuke, masih memegang segenggam kain celana Naruto, menggeram frustasi sebelum berkata, "Sial— dengar! Lupakan Iruka! Maksudku, apa Kau begitu senang membuat bingung orang?
"Kenapa Kau begitu peduli?" sekarang Naruto tidak menunduk memandang Sasuke, "Aku nggak pernah bermaksud merepotkan semua orang, kalian sendiri yang berpikiran seperti itu," kali ini suaranya agak bergetar, "Jangan membuatku yakin kalau kalian benar-benar peduli."
Sasuke melepaskan tangannya dari celana Naruto, "Kupikir Kau sudah tidak dalam usia 'tak-ada-seorangpun-yang memahamiku', Naruto."
"Makanya kutanya, apa maumu?" Naruto mengumpat keras, "Biarkan aku hancur. Abaikan tingkahku walau itu mengganggumu. Aku rusak dan semua orang tahu kalau aku ini bencana dalam wujud shinobi."
"Mungkin aku diberi kesempatan untuk mencegahmu hancur," Sasuke berkata, menatap langit, "...atau mungkin aku cuma ditumbalkan seseorang, entahlah. Yang jelas aku ada di sini dengan sukarela. Lalu apa maksudmu dengan bencana dalam wujud shinobi? Apa Kau baru menyadarinya akhir-akhir ini? Aku sudah memberitahumu sejak dulu."
Naruto mendengus, "Darimana belajar berpersuasi? Kakashi?"
"Darimu. Dan Kau belum jawab pertanyaanku. Aku sudah mengatakan hal yang ingin kukatakan, sekarang giliranmu menjawab semua yang kutanyakan padamu."
"Aku bahkan nggak yakin kalau semua yang Kau katakan itu benar."
Sasuke mendongak pada Naruto yang masih berdiri, "Seberapa sering aku bohong padamu?"
Mereka saling berpandangan lama.
Ketika Naruto menghela nafas panjang, Sasuke yakin dia sudah menyerah.
"Oke. Kau menginginkan penjelasan, akan kuberikan," Dia kembali menarik nafas dan tidak menatap mata Sasuke, "Pertama, aku anak Hokage."
Sasuke mengerjap dan refleks mengamati warna rambut Naruto yang mengingatkannya pada...
"Maksudmu... Tsunade— bisa punya anak?"
"Tentu saja. Dia sudah tua tapi tetap wanita. Dan dadanya besar... tapi tentu saja aku bukan anaknya."
"...dan Kau samasekali tidak mirip Sandaime, Konohamaru, atau Asuma...," Sasuke langsung menutup mulutnya, tampak berpikir, "Masa. Yondaime..."
Naruto tidak mengatakan apapun. Dia sudah kembali duduk saat Sasuke bergumam, "...berarti tingkah bodohmu mungkin turunan dari ibu—"
"Ibuku apa?"
"Eh. Tidak. Ibumu beruntung," Sasuke menambahkan cepat-cepat, "Sejak kapan tahu soal ini?"
"Kau percaya? Maksudku... aku mengharap reaksi selain pertanyaan itu."
"Pembicaraan ini bisa lebih cepat selesai kalau aku percaya. Atau pura-pura percaya."
Naruto mengawasi Sasuke, lama, sebelum dia mulai bicara lagi.
"Kau tahu kenapa Yondaime—gugur dalam tugas?"
Sasuke menggeleng. Ketika Naruto tampaknya tidak menyadari gelengannya, dia berkata, "Kau tahu aku benci bergosip."
"Nggak heran. Itu sisi jelekmu; tak mau tahu urusan selain perut sendiri."
"Kalimatmu itu, seperti biasa, tidak relevan, bodoh, dan egois."
"Si egois bilang egois."
"Egois dan 'tak mau tahu urusan orang' itu dua hal yang berbeda, idiot. Memaksa orang makan ramen buat sarapan. Itu jauh lebih mendekati definisi egois."
Naruto terdiam selama beberapa saat lalu membalas sekenanya, "Sama saja!"
"Beda."
"Sama!"
"Perasaanku atau pembicaraan kita tidak maju-maju?"
"Kau yang memulainya!"
Sasuke menghela nafas, "Yaa. Teruskan soal Yondaime tadi."
Namun dia tidak mendapatkan jawaban dengan segera. Naruto diam dan tampak merenungkan sesuatu seolah dia berharap tidak menceritakan hal ini sejak awal. Ketika akhirnya Sasuke hendak mengajaknya pulang dan membicarakan hal itu esok hari—setidaknya setelah rahangnya tidak berdenyut liar seperti sekarang—Naruto mulai bersuara.
"Kau tahu soal klan Uzumaki?"
"Seingatku tadi Kau menanyakan soal Yondaime. Kenapa sekarang muncul pertanyaan lain lagi? Hn, belum pernah tahu kalau namamu bisa masuk daftar klan mana—" Sasuke kembali menutup mulut, tampak menyesal. Untungnya Naruto merasa mereka sudah membuang waktu terlalu lama karena dia tidak bereaksi kecuali melanjutkan kalimat yang tidak dijawab Sasuke.
"Klan-ku hancur tak lama setelah perang ninja ketiga berakhir. Mereka dibantai karena memiliki kemampuan khusus."
Kali ini Sasuke tidak tahu harus membalas apa.
"Klan Uzumaki adalah satu-satunya kelompok yang bisa memanfaatkan energi bijuu."
Sasuke tahu apa itu 'bijuu', dia pertama kali mengetahuinya setelah membuka manual jutsu terlarang tingkat tinggi di perpustakaan ayahnya. Tiba-tiba Sasuke merasa mereka tidak seharusnya membicarakan masalah ini di atas bangku taman, namun Naruto masih bicara sebelum sempat dicegah.
"...Sasuke. Aku Jinchuuriki. Aku membunuh Yondaime duapuluh tahun lalu, dan mungkin juga puluhan shinobi pada waktu itu... Kyuubi tidak lenyap. Dia ada dalam diriku."
Tiba-tiba saja Sasuke merasa sangat lelah. Jauh lebih lelah daripada menggunakan chidori diakumulasi lima kali berturut-turut.
-ii-
Diktionari:
Rectitude : (k.s) kejujuran.
Tiring : (k.s) melelahkan/worn-out/.
A/N: Chapter ini lebih pendek, walau singkat tapi cukup penting.
Sebenarnya sudah kepikiran dari dulu: Traffic stats menunjukkan fict ini dikunjungi lebih dari 500 visitor. But aint get more than ten reviews. Sad, huh?
NEXT: TUcker (masih 'melelahkan' bagi Sasuke, sepertinya… ^^)
