Angin bertiup menerpa mereka berdua. Detik demi detik dijalani tanpa kata. Muka Mei memerah malu menanti jawaban dari Kouichi. Dia menatap langsung ke mata Kouichi. Sedangkan Kouichi hanya menatapnya datar.

"Maaf," ucap Kouichi beberapa saat kemudian. "Aku tak punya perasaan apapun padamu," lanjutnya.

Kouichi berdiri dari pendudukannya lalu berjalan bersama sekantung rotinya meninggalkan Mei yang masih terdiam tak percaya dengan ucapan Kouichi. Mata Mei seakan-akan hendak keluar dari tempatnya. Giginya bergemeletuk membuat musik tak keruan.

"Berani-beraninya," ujar Mei. "Kita liat apa kau bisa tahan setelah menolakku," kata Mei tersenyum sinis.

Keesokan harinya, Kouichi mendapati sepatu sekolahnya telah kusut, tercabik-cabik oleh sesuatu dengan tulisan baka di permukaannya. Tapi ia tak mempedulikannya dan tetap memakainya tanpa perasaan malu. Sepanjang perjalanan, semua orang yang dilewatinya terus memperhatikannya.

"Sakakibara-kun," seru Yuuya Mochizuki yang duduk di sebelah Kouichi. "Aku diberi tahu untuk memberimu ini," lanjutnya sambil menyerahkan sebuah kotak berwarna merah muda dengan pita kuning sebagai penghiasnya.

Kouichi membuka kotak tersebut. Setelah dibuka, air berbau busuk memancar dari dalam kotak dan membuat Kouichi dan sekitarnya basah oleh air yang busuk itu.

"Akh! Sial!" kata Takako Suiura sambil meraba pakaiannya yang basah. "Kau! Sakakibara! Apa yang kau lakukan, hah?!" lanjutnya sambil menarik kerah seragam Kouichi yang juga basah karena air itu.

"Hei, Takako! Jangan berkelahi di sini!" ujar Tomohiko Azami, ketua kelas 3-3 sambil menarik lengan Takako dari Kouichi.

Takako menepis tarikan Tomohiko. "Jadi, sang ketua kelas teladan ini membela pecundang Sakakibara?" bentak Takako.

Tomohiko memperbaiki kacamatanya. "Aku tak membela. Hanya saja, jika kau ingin membuatnya babak belur, tolong untuk tidak melakukannya di dalam kelas. Lagipula, tubuhnya telah bau karena air itu. Sebaikanya kau membersihkan tubuhmu terlebih dahulu," ujar Tomohiko.

"Cih!"

Takako berjalan keluar dari kelas diikuti Izumi dan Misaki di belakangnya. Sedangkan yang lain kembali ke tempat duduknya masing-masing tak peduli dengan apa yang akan terjadi setelahnya.

"Sakakibara, kuharap kau bisa membersihkan kekacauan ini sebelum guru pelajaran masuk" ujar Tomohiko.

Kouichi hanya terdiam berdiri tempatnya. Dia menunduk ke arah genangan air yang membasahi lantai, kursi, dan mejanya. Kemudian berjalan ke lemari tempat alat-alat kebersihan disimpan. Namun sayang, lemari itu tak bisa terbuka. Seseorang telah menguncinya.

Akhirnya, Kouichi berinisiatif untuk membersihkan air itu dengan seragamnya. Dia membuka jas hitamnya dan menyisakan kemeja putih di tubuhnya. Genangan air itu pun dibersihkannya hingga menurutnya cukup. Lalu ia berjalan ke toilet untuk mencuci seragamnya.

Mei menatap Kouichi dari kejauhan. Matanya sayu merasa kasihan dengan Kouichi. Tapi apa boleh buat. Kouichi sudah menjadi objek penindasan. Jika membantu, bisa saja orang yang membantu itu akan menjadi objek yang berikutnya.

"Ugh! Sial sekali!" kata Takako sambil memakai seragam olahraga sebagai pengganti seragamnya yang basah di ruang ganti.

"Sudahlah, Takako. Lagipula ini salahmu sendiri berdiri di dekatnya. Padahal kau tahu bahwa air itu bisa saja membasahimu," ujar Izumi.

"Kouichi harus sedikit bersabar. Penindasan ini tak akan berakhir hingga ia menyerah," kata Misaki sambil bersandar di salah satu loker siswi.

Izumi dan Takako menatap Misaki yang terlihat sangat menikmati permainan ini. Mereka tersenyum dan mulai tertawa kecil.

"Aku setuju denganmu, Misaki," kata Takako sambil mengibas rambutnya yang telah dibersihkan. "Kita buat orang itu tahu kesalahannya".

"Ya. Ini adalah salah Kouichi" ujar Izumi.

Mei yang mendengar percakapan teman-temannya itu hanya terdiam di luar ruang ganti. Kemudian, ia berjalan menjauh dari sana sambil melompat-lompat kecil.

"Kouichi ~~ Sakakibara!" senandungnya.

-bersambung-