A/N: Selamat pagi/siang/sore/malem minna-sama^^ Chapter 2 nya udah apdate nih, maaf kalo nggak sesuai harapan. Oh iya lupa ngasih tau, disini ada satu OC namanya Akieda Tsubasa *nyolong dari komik* Yaudah deh, Happy Reading minna-sama~
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: AU/OOC/ Typo bertebaran/nggak terpusat pada satu tokoh/ kayak sinetron/dll dsb.
'….' = ngomong dalem hati
Love Sprout in KIHS
.
.
Sabaku no Temari melangkahkan kaki kaki panjangnya disepanjang koridor KIHS, tidak seperti murid murid lain yang memilih untuk mengawali hari baru dengan senyuman, Temari lebih memilih mengawali hari barunya dengan wajah yang kusut sambil sesekali menggerutu.
"Ugh! Dasar gila, mereka pikir aku ini apa? Perlu diingat, umurku bahkan baru lima belas tahun kurang empat bulan! Kuulangi, masih kurang empat bulan! Ini masih terlalu cepat argh!"
Kurang lebih itulah sebagian besar hal hal yang digerutukan oleh Temari, masalah umur dan terlalu cepat. Sebenarnya ada apa sih dengan Temari ini?
Temari terus berjalan sambil menggerutu tidak jelas sampai sampai tidak sadar kalau ada seseorang yang sedang berlari dengan kekuatan penuh dan hanya memfokuskan matanya lurus kedepan, tidak memperhatikan keadaan disekitarnya.
Bruk!
Alhasil, Temari tertabrak dengan orang itu— err gadis bercepol dua lebih tepatnya. Ya, Tenten lah orang yang menabrak Temari dan sukses membuat Temari jatuh dengan posisi bokongnya yang mendarat duluan dilantai. Ups, nasib sial bagi Tenten, Menabrak seseorang yang sedang benar benar marah dan kesal.
"Hei! Kau ini kalau jalan pakai mata dong! Benar benar menyusahkan!" Marah Temari kesal. Bertambah lagi deh orang yang membuatnya marah hari ini.
"Gomennasai." Hanya satu kata itulah yang dapat diucapkan Tenten sambil berojigi.
Temari tidak mengiraukan permintaan maaf Tenten dan pergi meninggalkan Tenten yang masih dalam posisi berojigi.
Tenten mengangkat kepalanya, "Huh, sepertinya akhir akhir ini aku sering meminta maaf deh." Keluh Tenten pelan. Tenten kembali menundukkan kepalanya sambil berjalan kearah kelas , e-eh apa itu? Sesuatu yang berkilauan menarik perhatian Tenten.
Tenten mendekati benda berkilauan tersebut, dan memungutnya. "Kalung. Wah punya siapa ini? Liontinnya pakai cincin segala." Tenten memperhatikan cincin yang menjadi liontin dari kalung tersebut, Cincin emas putih polos dengan batu berlian kecil ditengahnya. "Pfft— seperti cincin kawin milik kaa-san! Biasanya sih disisi dalam cincin seperti ini ada nama dari salah satu pasangan yang bertunangan."
Tenten mengangkat cincin itu untuk melihat nama yang ada disisi dalam cincin itu, dan Tenten hanya bisa melongo terkejut melihat nama yang terukir disisi dalam cincin yang ia pegang. Nara Shikamaru.
"Hee? Kalau tidak salah kan Nara Shikamaru itu salah satu murid yang berada didalam kelasku." Tenten meletakkan jari telunjuknya di dagunya, posisi orang yang sedang berpikir. "Mari buat kemungkinan, tadi orang orang yang berada dikoridor ini hanyalah aku, orang yang kutabrak, dan… Ah sepertinya hanya aku dan orang yang kutabrak itu deh."
Tenten masih terdiam, bergelut dalam pikirannya. "Aku menabrak gadis yang berkuncir empat itu dan ia jatuh terduduk hmm… bisa saja kan kalau itu punya dia!" Tenten menyeringai, "Ayo nekad."
.
.
.
"Tidak tahu pig, rompi KIHS ini tiba tiba saja sudah tersampir di bahuku. Kau tahu yang mana Uchiha Sasuke itu?" Tanya Sakura, ditangannya sudah terdapat rompi milik Sasuke yang telah dicuci dan disetrika.
Ino berpikir sejenak, "Rasa rasanya, aku pernah mendengar nama itu deh tapi dimana ya?"
"Sama! Aku juga, nama itu benar benar tidak asing!" Sakura memang benar benar payah ya mengingat nama, padahal kan Sakura dan Sasuke pernah dihukum bersama.
"Ah, bagaimana kalau kau ke kelas A dan mencari tahu Uchiha Sasuke itu yang mana?" Usul Ino tiba tiba.
"Malas, kalau aku ke kelas A pasti nanti kena bully lagi pig." Sergah Sakura, kejadian disiram air comberan kemarin saja sudah cukup tidak perlu ditambah lagi.
"Ah! Tanyakan saja pada Mikoto-sensei!"
"Hah? Loh kok? Apa hubugannya dengan Mikoto-sensei?"
Ino menatap malas kearah temannya yang sedang memasang ekspresi bingung, "Ah, forehead kau ini benar benar payah ya dalam mengingat nama." Tutur Ino sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
"Ah sudahlah, memang dari sananya aku begini jadi jangan banyak protes ya pig."
"Bagaimana tidak banyak protes? Kau ini benar benar payah kau tahu!"
Sakura mulai kesal, "Payah dari mana nya? Coba buktikan pig." Kata Sakura sambil menekankan kata 'Pig'.
Ino berpikir sejenak, setelah beberapa detik senyum aneh terpasang diwajahnya. "Kau bahkan lupa siapa nama orang yang menolongmu saat kau tersesat di Amegakure empat tahun yang lalu!" Ya, memang benar Sakura pernah hilang saat di Amegakure. Untung saja ada orang yang berbaik hati mau menolongnya kalau tidak saat ini Sakura tidak akan berada disini, melainkan menjadi warga Amegakure.
"Ah..uhm..itu… ah! Itukan sudah empat tahun berlalu pig!"
"Sudahlah, aku menang forehead." Ino memamerkan senyum kemenangannya.
"Ayo kembali ke topik pig, jadi apa hubungannya dengan Mikoto-sensei?" Tanya Sakura meluruskan topik yang sudah melenceng tersebut.
"Nama marga Mikoto-sensei kan Uchiha, sama dengan Sasuke itu! Jadi, ada kemungkinan kalau Mikoto-sensei masih ada hubungan darah dengannya." Jelas Ino panjang lebar.
"Ah! Kau benar, habis ini kan pelajarannya Mikoto-sensei! Nanti kita harus tanyakan pig."
.
.
.
"Jangan bohong, mengaku sajalah uhm…" Tenten menghentikan ucapannya sejenak, membaca nama dari lawan bicaranya. "…Sabaku no Temari, kau adalah tunangan dari Nara—humffftt"
Temari berdiri dan membekap mulut Tenten, volume suara Tenten itu terlalu keras bagaimana kalau nanti murid murid satu kelas mendengarnya? Bisa mati ditempat nanti Temari.
Tenten melepas paksa bungkaman mulutnya dan seringaian licik benar benar terpampang diwajahnya sekarang sedangkan Temari hanya diam ditempat."Tuhkan aku benar~"
"Lalu sekarang kau mau apa? Menyebarkan berita ini kemana mana? Atau kau mau menulis artikel lalu memajangnya di mading? Mana yang mau kau pilih? Hah?" Tanya Temari bertubi tubi, sebenarnya ini bukanlah pertanyaan melainkan sindiran.
"Ckckck sensitif sekali kau ini, aku hanya ingin memastikan saja kok dan aku juga ingin mengembalikkan ini." Tenten mengeluarkan isi kantungnya, kalung berliontin cincin milik Temari.
"A-ah! Darimana kau mendapatkan kalungku? Kau mencurinya ya?" Bukannya berterima kasih Temari malah menuduh Tenten lagi.
"Kau ini benar benar orang yang suka berpikiran negatif ya, apa untungnya aku mencuri cincin tunangan milik orang? Ah sudahlah, aku menemukannya terjatuh dilantai dan aku pikir ini punyamu karena tadi kau terjatuh."
"Iya, gara gara kau panda!"
"Sudahlah, jangan marah marah terus aku kan sudah minta maaf." Keluh Tenten bosan terkena marahan Temari terus.
"Terima kasih." Ucap Temari pelan.
"He? Iya sama sama, aku tidak menyangka kau akan berterima kasih padaku."
.
.
.
"Mikoto-sensei, apakah kau mengenal anak yang bernama Uchiha Sasuke?" Tanya Ino mewakilkan Sakura.
"Hah? Memangnya ada apa dengan Sasuke?" Tanya Mikoto kembali.
Sakura angkat bicara, "Begini Mikoto-sensei, jadi kemarin saat aku menunggu di halte karena hujan tiba tiba saja ada seseorang yang menyampirkan rompinya kebahuku, dan orang itu bernama Uchiha Sasuke, begitu sensei." Jelas Sakura panjang lebar sedangkan ekspresi Mikoto sangat terkejut.
Mikoto tersenyum lebar, 'Ah anak itu, pantas saja kemarin tidak memakai rompinya ternyata rompinya nyasar toh ke Sakura.'
"se-sensei? Sensei kenapa?" Tanya Ino heran melihat senyuman atau mungkin lebih tepat disebut seringaian dari wali kelasnya itu.
"A-ah tidak, hmm berikan saja rompi itu padaku. Aku sangat mengenalnya kok."
.
.
.
"Konnichiwa." Sapa Naruto pada gadis berambut indigo dihadapannya sambil memamerkan senyum lima jarinya.
"….." Lawan bicaranya tersebut malah diam, meunduk, gemetaran dan melarikan diri tiba tiba.
"Tuhkan, aku heran apa salahku? Gadis itu selalu menghindariku, setiap kali aku menyapanya pasti ia kabur, dan setiap aku memamerkan senyumku, kulihat badannya selalu gemetaran. Apakah senyumku semenyeramkan itu ya?" Naruto tenggelam dalam pikirannya, memang semenjak tiga hari yang lalu itu gadis berambut indigo itu selalu meghindari Naruto seperti baru saja melihat setan.
Oh ayolah Naruto coba ingat ingat kejadian tiga hari yang lalu!
Flashback
Siang itu, Naruto sedang duduk duduk disebuah café outdoor yang menyajikan pemandangan bunga Sakura disekitarnya. Sesekali, angin musim semi menyapu rambut pirangnya yang baru saja dipotong. Saat ia hendak menyantap makanannya, tiba tiba segerombolan gadis gadis mendekati mejanya. Naruto hanya memandangi gadis gadis yang mendekatinya dengan tatapan heran. 'Hii, mau apa mereka?'
"Uhm.. Kau benar kan Akieda Tsubasa-kun? Kami mau foto dong!"
"Kyaaa! Tsubasa-kun!"
"Kyaaaa! Tsubasa-kun kalau dilihat dari dekat memang tampan yaa~"
Naruto hanya bisa melongo, Akieda Tsubasa itu siapa? Tanpa pikir panjang ia pun segera melarikan diri dari café tersebut. Naruto berlari sekencang kencangnya karena dibelakangnya terdapat segerombolan gadis gadis fans dari Akieda Tsubasa mengejarnya. Akieda Tsubasa adalah seorang artis tampan yang sudah terkenal sejak lama, dan sosok Akieda Tsubasa ini sangat mirip dengan Naruto apalagi setelah Naruto memotong sedikit rambutnya.
Naruto terus berlari sambil sesekali melihat kearah belakang untuk memastikan bahwa fans fans dari Akieda Tsubasa itu benar benar sudah tidak ada. Ah, Naruto salah ternyata gadis gadis tadi masih ada dibelakangnya dan mengejarnya.
Naruto hanya perlu bersembunyi tanpa ketahuan gadis gadis itu, ah ternyata gadis gadis itu bisa menyeramkan juga ya apalagi disaat saat seperti ini. Naruto melihat sebuah mobil yang pintu depannya terbuka, tanpa pikir panjang ia pun segera memasuki mobil tersebut dan bersembunyi didalamnya.
Naruto bersembunyi dibangku kemudi mobil tersebut, ia melihat kearah kiri. Ternyata ada seorang gadis dibangku depan tersebut, gadis dengan rambut yang panjang, lurus, dan indigo. Mata peraknya memandangi Naruto takut takut, sedangkan Naruto hanya tersenyum nanti-aku-jelaskan.
Naruto memantau gadis gadis itu dari jendela, dan saat gadis gadis itu melewati mobil yang menjadi tempat persembunyian Naruto, Naruto pun langsung menarik gadis itu kedalam pelukannya. Sebenarnya Naruto tidak ada maksud apa apa, ia hanya ingin menyembunyikan wajahnya kok.
Ternyata ada seseorang dari gerombolan gadis gadis itu yang menyadari kalau Naruto ada didalam mobil tersebut, dengan gerakkan cepat ia lepaskan pelukannya dari Hinata—gadis itu dan segera melajukan mobilnya tanpa arah yang penting ia bisa lolos dari gerombolan ini dulu.
Setelah ia rasa ia sudah berhasil melarikan diri dari gerombolan gadis gadis tersebut, ia pun menghentikan mobilnya (mobil Hinata maksudnya).
Naruto memamerkan giginya lagi, "Itu.. aku bisa jelaskan kok."
Lawan bicaranya hanya menunduk, diam, dan gemetaran. Terdengar suara isakkan pelan dari lawan bicaranya tersebut. Hei, siapa yang tidak terkejut dan takut kalau ada orang aneh yang sama sekali tidak kau kenal tiba tiba masuk kedalam mobilmu lalu memelukmu dan membawamu ketempat yang sedikit jauh dari tempat yang sebelumnya kau kunjungi? Rasanya seperti diculik bukan?
End of Flashback
"Aneh, apa sih yang membuatnya takut padaku? Aku hanya ingin tahu saja kok benar deh!"
.
.
.
"Kenapa mobil ini belum jalan juga?" Tanya Shikamaru pada supirnya, hari ini ia sudah sangat lelah menjalani rutinitasnya dan ingin cepat cepat pulang menikmati empuknya kasur dikamarnya dan segera tidur.
"Sumimasen Shikamaru-sama, kita masih harus menunggu Temari-sama terlebih dahulu." Jawab supirnya sopan, sebenarnya supir Shikamaru ini ingin tertawa tapi prihatin juga dengan nasib majikannya ini. Di umur yang masih sangat muda ini, Shikamaru sudah terikat dengan gadis yang bahkan tidak mencintainya.
"Cih, mendokusai."
Setelah kurang lebih lima belas menit menunggu, akhirnya Temari pun sampai ke mobil Shikamaru.
"Gomen aku terlambat." Tuturnya pelan.
"Kau telah membuang buang waktuku kau tahu, besok besok jangan terlambat lagi." Balas Shikamaru datar.
"Membuang buang waktumu apa hah? Kau kan jadi bisa beristirahat sebentar karena aku terlambat." Alibi Temari, padahal sih tadi ada sesuatu yang harus dikerjakan dulu.
"Badanku pegal pegal semua, dan itu semua karena menunggumu. Jadi kesimpulannya, menunggumu itu bukanlah istirahat."
'Kenapa sih Shikamaru bisa menyebalkan seperti ini? Bagaimana kalau aku menikah dengannya nanti?' Temari menggeleng gelengkan kepalanya mengenyahkan pemikiran menikah dengan Shikamaru. Memikirkannya saja sudah membuatnya bergidik ngeri. 'Ah, aku tidak akan menikah dengan si nanas ini! Pasti ada cara untuk memutuskan pertunangan ini, ya!'
Shikamaru memijit mijit pelan bahunya, "Pijiti bahuku, ini semua juga kan gara gara menunggumu." Perintah Shikamaru tiba tiba.
"A-ah aku malas, lagipula tidak ada untungnya memijitimu, itu hanya akan membuatku semakin lelah saja." Kilah Temari beralasan, karena yang ada dipikirannya saat ini adalah memijiti Shikamaru = memegang megang Shikamaru.
Shikamaru hanya diam, mengalah untuk masalah sepele seperti ini tidak apa apa bukan? Karena satu minggu yang lalu Temari sudah mengalah, ia sudah mengorbankan cintanya untuk Shikamaru. Sebenarnya pertunangan ini bisa dibilang merupakan rencana yang konyol, kakek dari Shikamaru dan kakek dari Temari yang menjodohkan Temari dengan Shikamaru. Tidak mungkin kan Shikamaru dijodohkan dengan Kankuro atau Garaa yang notabene laki laki? Sebenarnya tujuan dari perjodohan ini adalah untuk menyatukan kedua perusahaan yang sama sama memiliki posisi kuat di bukan? jadi bisa dibilang kalau tujuan dari perjodohan ini adalah uang.
.
.
.
"Pig, mau kubantu mencarikan sepatumu lagi tidak?" Tawar Sakura tiba tiba, ia merasa tidak enak pada sahabatnya. Karena sepatu itu merupakan sepatu hadiah dari ayah Ino, mengingat kondisi ayahnya— Yamanaka Inoichi yang super sibuk dan jarang pulang. Tentu saja Ino jadi lebih menghargai benda benda pemberian ayahnya. Keluarga Ino memang membuka toko bunga terkenal yang sudah memiliki banyak cabang di Jepang.
"Ah, tidak usah lah forehead kemarin kan kita sudah mencarinya kemana mana dan kita tidak menemukannya. Mungkin memang sudah takdir kalau sepatu itu hilang." Kata Ino dengan nada dan ekspresi wajah yang sedikit lesu.
"Takdir, gaya sekali gaya bicaramu pig. Sudahlah kau tenang saja, nanti pasti aku bantu mencarinya lagi." Kata Sakura menenangkan sahabatnya, Sakura juga kan tidak enak pasalnya, Ino lah yang telah membantunya saat ia kebingungan ingin mengembalikan kemana rompi milik Uchiha Sasuke itu.
"Yasudah forehead, kau duluan saja aku ingin kembali ke kelas dulu yaa. Tempat pensilku tertinggal." Ino segera pergi kelantai dua, tempat dimana ia melempar sepatunya kemarin. Ya, Ino berbohong agar Sakura tidak perlu repot repot membantunya mencari sepatunya.
Ino mulai mencari cari disekitar lantai dua, tujuan pertamanya adalah tempat sampah lantai dua. Ino menengok kearah kiri dan kanan, untuk memastikan bahwa tidak ada yang melihatnya saat ini. Kan malu kalau ada orang yang melihatmu dalam posisi yang tidak elit, mengais ngais tempat sampah.
Ino terus mengais ngais tempat sampah yang berada didekat toilet. "Ah! Pokoknya habis ini aku harus mencuci tanganku dengan bersih lalu memakai anti septic sebanyak banyaknya, ah tidak lupa dengan tissue basah! Ya aku akan memakai semua itu nanti! Arrggghh! Lihat tou-san, aku melakukan ini demi sepatu pemberianmu! Tou-san kan bilang bahwa sepatu itu dibuat khusus untukku dan sekarang aku malah menghilangkannya! Andai saja aku tidak melempari Karin dengan sepatu itu! Andai saja—"
"Maksudmu sepatu ini?" Suara baritone memotong keluhan panjang lebar Ino.
Ino membelalakkan matanya kearah sepatu yang sedang dipegang oleh seseorang berambut hitam dan berkulit putih pucat yang tengah memamerkan senyum anehnya.
"A-ah sepatuku!" Kata Ino setengah berteriak kesenangan. Ia pun segera berlari untuk mengambil sepatu kesayangannya tersebut, akan tetapi sebelum Ino menyentuh sepatu itu….
"Tidak semudah itu nona, kalau kau ingin sepatu ini kembali ada syaratnya." Potong laki laki itu masih sambil memamerkan senyum palsunya.
Ino mengkerutkan keningnya. "Hah? Apa maksudmu?" 'Pakai syarat segala itukan sepatuku bodoh!'
"Iya, kalau kau mau sepatu ini kembali kau harus menjadi pacarku."
'Apa?! Oh kami-sama orang ini benar benar gila! Aku bahkan tidak mengenalnya, kenapa tiba tiba ia memintaku untuk menjadi pacarnya?'
.
.
.
TBC~
Balesan review buat yang ngga log-in:
hime mayura: Makasih^^ ini udah dilanjutin yaaa :D
Fishy ELF: Makasiiih *terharu* maaf yaa updatenya malah ngaret hehe :$
Ucucubi: ini udah dilanjutin yaaa:D
Buat yang log in udah aku bales lewat PM yaa^^
A/N: Nah, maaf yaaa kalo cerita ini makin kecepetan atau makin aneh atau makin nggajelas atau makin kayak sinetron m(_ _)m Maaf juga kalo OC nya aneh.. Eh iya ada yang nyadar gak, hari ini Tenten nggak terlambat looh *tepuk tangan* tapi gara gara nggak telat itu makanya dia nggak ketemu sama Neji._.V Eh iya, Sasuke nggak ada dichapter ini :O chapter depan pasti ada kamu deh Sas, maaf yaa! Oke deh sekian dan terimakasih buat yang baca sama ngereview, ngefave atau ngefollow fic aku *nangis terharu* #ah lebay._. Last, boleh minta reviewnya minna-sama?:3
