A.N. : Haaaaai, makasih banyak yang udah baca cerita ini, apalagi komen! Author hepi berat, hehehehehe~~~ Makanya dikasih lanjutannya ;D Moga-moga lebih menghibur para pembaca, yaaa... :D

Disclaimer masih berlangsung! *berandai-andai kapan bisa ngehak milik Jiang Wei, Lu Xun, Zhao Yun, dkk...*


Replies for Reviewers:

HXN: Makasih ripiu-nyaaa~! XD Ahahahha, iya, saia juga ngerasa penpik humornya kurang, jadi nambahin deh, walau geje... Xp Oooh, Wu juga nggak 'normal' kok, nih bisa disimak di bawah ini... XD Ahaha, iya, Ma Chao kakak angkatan, abis bingung siapa lagi yang mau dijadiin kakak angkatan... ^^;; Oke2, tapi sabar yaaaa, Jin terakhir munculnya... X) Makasih buat sarannya, udah ditambahin kok! XD

black roses 00: Makasih udah ripiu~! X) Maap ya balesnya di sini, author males ke bagian message2... :p Aahahhaha, ngeces?! XD *ngelap pake tisyu* Monggo nih lanjutannya... X)

marysykess: Ripiu-nya makaseeeeeh~! 3 Wah, kamu suka penpik ini?! Syukurlaaaah~ *sujud sembah lebay* Wah, sayang Wei masih munculnya di chapter selanjutnya... ^^;; Tapi nggak nyebelin... banget, kok Xp Kyaaaaa ada sesama Boyue-fans~~~ *peluk cium* Tenang, tenang, sebagai seorang penggemar berat Jiang Wei, saia pasti banyak munculin dia di sini... XD Oh-ho, tenang, yang bakal kena dipermalukan oleh author bukan cuma seorang Suo, kok, cuma belum keliatan aja... Stay tune for more humiliated officers of Three Kingdoms~! XD Nih lanjutannya udah ada, silakan dinikmati~~ XD

Okay, happy reading, everyone~! XD


Chapter 1-2: Ayo~ Sekolah~! (masih dinyanyikan)

Sementara itu, di AK Wu, juga terjadi hal yang menarik di pagi pertama mulai sekolah itu...

"KAKAK CEEEE! JANGAN LARI-LARI PAGI-PAGI DINGIN GINI CUMA PAKE KOLOR GITU DONG!"

Sun Ce, merasa malu karena sekarang semua orang melihatnya dan berbisik-bisik seakan-akan dia kelainan (padahal mereka kagum sama bicep, tricep, monocep – apa itu? – di badannya yang sangat terlatih, apalagi eightpack di perutnya yang aduhai itu), langsung memukul kepala adik pertamanya. Mereka seakan-akan jadi tontonan pagi hari di depan gedung SMU Wu yang didominasi warna merah pada pagi hari itu.

"Quan! Lu jangan bego gitu dong!" seru Sun Ce kesal dan marah. "Gue kan jadi malu! Ini bukan kolor tau, tapi seragam tinju gue! Gue lagi latihan pagi, lu ganggu aja sih! Tuh, murid-murid baru jadi pada ngetawain gue, kan!"

"O-oh, gitu," Sun Quan, adik Sun Ce yang pertama, mengangguk-angguk. "Kirain Kakak akhirnya jadi gila juga, Kak Ce..."

"Diem lu ah," sang kakak sulung lagi-lagi mentoyor kepala adiknya yang agak dodol itu. Sun Ce memang hanya sedang mengenakan celana tinju kebanggannya yang berwarna hitam dan merah, tak lupa dengan ikat pinggang juara nasionalnya. Padahal siapa suruh juga ya dia lari cuma pake celana tinju gitu... "Kenorakan lu bikin gue malu aja... Mending lu anterin si Shang Xiang deh, dia kan murid baru di sini..."

"Iya, iya...," Sun Quan menggosok-gosok jidatnya yang habis ditoyor kakaknya itu. Rambutnya agak lebih kemerahan daripada kakaknya itu, mungkin karena ia lebih sering menghabiskan waktu di luar terpanggang matahari mengejar bola hitam-putih di lapangan hijau dibandingkan kakaknya yang menggeluti olahraga indoor itu. "Tadi rasanya dia berangkat bareng Lu Xun sama Xiao Qiao, deh... Mereka ke mana, ya?"

"Haduh, mereka kalo udah bertiga pasti bikin onar, deh!" Sun Ce tepuk jidat. "Cepetan cari mereka yuk, sebelum mereka di-skors bahkan sebelum sekolah dimulai! Ayah pasti nggak akan tolerir kenistaan mereka lagi!"

Sementara itu, tepat dugaan Sun Ce, ketiga anak nista, eh... baru yang sedang dipersoalkan kedua kakak-beradik Sun itu sedang merayap di bawah salah satu daerah terlarang sekolah, yaitu di daerah ruangan pribadi kepala sekolah.

"Aduh, Shang Xiang, balik aja yuk," kata Lu Xun cemas, sementara ia melihat-lihat keadaan sekitarnya dengan hati semriwing seperti habis makan permen mint. "Ini hari pertama sekolah, dan upacara aja belom mulai, masa udah mau kena masalah lagi?"

"Ah, lu kaga jantan nih!" Sun Shang Xiang balas mengejek teman masa kecilnya itu. Ia tak sadar bahwa ia sedang memperlihatkan isi roknya pada teman baiknya itu karena panjang roknya yang sangat kurang, dan bahwa temannya itu sedang sibuk memerah melihat celana dalamnya yang berwarna merah – dasar murid Wu, semuanya merah! "Lagian, ini kan kantornya bokap gue juga, kenapa gue kaga boleh ke sini, coba? Mencurigakan!"

"Xunnie kalah dari Xiang lagiii~!" seru Xiao Qiao gembira, ekor kudanya melambai-lambai mengikuti gerakan tubuhnya. Serempak, Lu Xun dan Sun Shang Xiang membekap mulut gadis yang tubuhnya sangat mungil itu.

"Shhh!" seru mereka berdua tertahan.

"Lu nggak mau kita ketangkep sekarang, kan?!" seru Sun Shang Xiang pelan.

"Kecilin suaramu, woy!" seru Lu Xun sama pelannya, tapi cukup membuat Xiao Qiao tak berkutik. Suasana tegang yang membuat orang kebelet pipis pun berlalu, mereka melanjutkan perangkakan mereka di bawah jendela-jendela. Tiba-tiba, terdengar suara pembicaraan.

"Eh, kok kayaknya aku familiar ya sama suara itu?" kata Lu Xun setelah mendengarkan suara orang yang sedang berbicara. Ketiga tukang onar itu pun berhenti, lalu mengintip jendela di atas mereka dengan hati-hati. Dari jendela itu, mereka mencium bau harum masakan yang langsung menggugah selera siapa saja yang mencium aroma tersebut, dan seketika perut Sun Shang Xiang berbunyi keras.

"Ehehehe, maklum, tadi gue rebutan sarapan lagi sama Kak Ce," katanya mencari alasan dengan wajah memerah. Lu Xun menghela nafas, lalu menyodorkan sepotong roti pada gadis itu.

"Nih, kebetulan aku ada sisa roti," katanya. "Makan gih, daripada ntar kamu kelaparan lagi pas upacara."

"Eeeh, makasih ya, Xun...," Sun Shang Xiang menerima roti tersebut dengan senang hati, dan segera memakannya. Mmmm, roti pisang coklat! Favoritnya sejak zaman SD!

"Cie, cie, Xunnie perhatian nih sama Xiang~!" goda Xiao Qiao sambil menyikut rusuk Lu Xun. Bete, Lu Xun menyingkirkan tangan Xiao Qiao dari rusuknya (ssst, jangan bilang-bilang ya, tapi dia sensitif di situ, ntar dia bisa ketawa sampe nangis terus pipis di celana).

"Bukan gitu, Xiao," gerutu satu-satunya cowok di antara mereka itu. "Kalo pun nggak aku kasih sekarang, paling ntar dia ngobrak-ngabrik tasku terus diambil juga tu roti."

"Umm, iya sih," Xiao Qiao tertawa pelan.

"Cewek preman sih...," gerutu Lu Xun pelan.

"Apa?" tanya Sun Shang Xiang, rotinya sudah hilang tanpa jejak, hanya tinggal tersisa plastik pembungkus di TKP, alias tangan gadis itu.

"Nggak, tuh ada yang dateng," jawab cowok berambut coklat tua itu mengalihkan pembicaraan biar dia nggak dijadikan target sasaran tendang lagi sama cewek berambut pendek di sebelahnya itu. "Lho, itu kan... Gan Ning?" Dia menunjuk ke arah sosok yang yang sedang melihat-lihat isi dapur itu. Seorang cowok, berambut pirang, panjang dan kayak nggak disisir, dengan seragam merah nggak dikancing, memperlihatkan sebagian tubuh bagian atasnya, dengan gaya preman Pasar Baru, sedang berdiri di dapur itu.

"GAN NING! JAUH-JAUH DAH LU DARI DAPUR GUE!"

"Apaan sih, Kakek Tua!" Gan Ning, yang baru saja masuk ke ruangan penuh panci dan beraroma wangi itu, balas menyahut. Ia menatap deretan panci-panci itu dengan tatapan penuh nafsu. "Bagi dikit makanannya 'napa! Tadi si Lu Xun udah berangkat duluan sih, kaga sempet gue palak sarapannya!"

"...Xun, kamu kok di mana-mana dianiaya, sih?" Xiao Qiao berbisik prihatin pada sahabat sejak kecilnya itu.

"...aku juga nggak ngerti...," Lu Xun cuma bisa pasrah menjadi sasaran aniaya orang-orang yang dia anggap sahabat itu.

"Ah, kaga mau tau gue! Pergi lu!" seru orang yang pertama kali berseru itu, dibarengi dengan suara keras pintu dibuka dengan kasar, dan seketika di ruangan itu sudah bertambah satu orang lain. Sosok yang baru masuk itu tampak kekar, tinggi, dan besar, walau keriput sudah menghiasi wajahnya di sana-sini, dan kumis lebatnya sudah sewarna salju, tatapannya tetap mengintimidasi tiap insan duniawi yang lewat, termasuk bahkan kecoa yang kalau-kalau mau nyuri makanan di dapur sucinya itu. "Ini makanan buat murid-murid, tau!"

"Pak Huang Gai!" seru Sun Shang Xiang tertahan, agak takut jadi mundur sedikit dari jendela. "Si tukang kantin nyeremin!"

"Ya udeh sih, gue pan murid sini juga!" Gan Ning masih nggak mau kalah, antara Betawi sama Sunda nggak jelas logatnya. "Gue ambil jatah gue sekarang kaga masalah, kali!"

"Kaga bisa!" Huang Gai mengambil sendok masak besi raksasanya, lalu menghalangi Gan Ning mendekati panci manapun. "Kalo lu ambil jatah lu sekarang, ntar siang lu ngerengek ga dapet bagian, lagi!"

"Kan ntar siang gue bisa palak si Lu Xun," preman pirang itu nyengir jahil. "No problemo!"

Lu Xun menggerutu pelan sementara kedua gadis di sampingnya menepuk-nepuk punggungnya dengan prihatin (padahal biasanya juga Sun Shang Xiang ikut menganiaya cowok itu).

"Pokoknya tetep ga bisa! Titik! Salah sendiri lu ga sarapan sendiri!"

"Aih, aku pusing dengerin mereka berantem," Xiao Qiao geleng-geleng. "Lanjut, yuk."

Kedua temannya mengangguk setuju, kemudian mereka melanjutkan kembali misi mereka menjelajahi bagian terlarang sekolah. Sekarang, mereka melewati sebuah jendela besar dengan dekorasi mewah, dan jendela itu seketika membuat ketiga bocah tengil itu penasaran.

"Eh, ini jendela bagus amat," komentar Sun Shang Xiang. "Ada apaan ya dalemnya?"

"Mungkin kantor ayahmu," jawab Lu Xun. "Intip aja."

Perlahan dan hati-hati, mereka mengintip ke dalam. Mereka melihat sebuah ruangan kantor yang mewah dan tampak mahal, dengan furnitur-furnitur yang indah. Meja kayu jati yang besar dan berukir, rak buku besar dengan hiasan emas, TV flat screen 32"... ini kantor apa suite yak? Saat mereka sedang bertanya-tanya, tiba-tiba pintu kayu berukir di pojok ruangan terbuka, menampilkan dua sosok pria.

"Ayah!" seru Sun Shang Xiang tertahan saat mata coklat terangnya menangkap sosok yang pertama, yaitu sosok pria paruh baya berambut putih dengan gaya klimis dan keren, ditambah dengan jas hitam bergaris merah dan gayanya yang cool.

"Pak Zhou Yu!" seru Lu Xun tertahan juga saat melihat sosok kedua, yaitu seorang pria yang lebih muda mengenakan seragam marching band dengan rambut panjang, hitam, indah terurai bagaikan sutra (hoek) sedang berjalan di samping pria yang pertama.

"Waaahhh!" Xiao Qiao langsung semangat melihat Zhou Yu. "Siapa ituuuuu, kok keren banget sih?!"

"Hah, kamu nggak tau Pak Zhou Yu?" tanya Lu Xun kaget. "Dia kan wakil kepala sekolah, sahabatnya Paman Sun Jian gitu... Oh ya, kamu nggak pernah lihat latihan marching band-nya kak Da, ya? Pak Zhou Yu kan pembina klub marching band juga... Kayaknya mereka bakal nampil di upacara penerimaan murid baru ntar..."

"Aiiiih, ganteng banget sih!" seru Xiao Qiao dengan hati kebat-kebit seperti kena sabit tukan kebun. "Dia belum nikah kan? Belum jadian, kan?"

"Setauku sih belom...," cowok berambut pendek dengan dua kepangan kecil di sisi wajahnya itu kaget. "Eh, jangan bilang kamu mau deketin dia?! Yang bener aja, dia wakasek, lho!"

"Apa sih yang nggak mungkin buat Xiao," Sun Shang Xiang tertawa kecil. "Kejar aja deh tu si Zhou Yu! Masih muda kok! Banyak yang naksir, lho!"

"Siap!" Xiao Qiao berseru dengan semangat, dengan api membara di matanya. "Aku pasti bakal dapetin dia! Ih, tipeku banget sih!"

Sun Shang Xiang dan Lu Xun hanya bisa lirik-lirikan sambil senyum-senyum. Gini deh kalau Xiao Qiao udah semangat, nggak mungkin dihentikan, oleh kepsek sekali pun!

"Siapa di sana?!"

Namun, gara-gara teriakan penuh semangat Xiao Qiao barusan, kedua penghuni ruangan mewah itu pun sadar ada yang bergerayangan di luar jendela. Shock, kaget, horor, habis nafas (hah?), ketiga anak nista itu langsung ngibrit sebelum ditangkap oleh kedua orang yang paling berkuasa di Wu itu.

"Xiaaaooo!" seru Lu Xun gemas sambil lari-lari, megangin tasnya erat-erat, takut jatuh di jalan.

"Lu berisik sih, jadi ketauan nih!" Xiang ikut berseru dengan kesal, larinya paling cepat di depan. Maklum, paling biasa dikejar-kejar pihak berwenang sekolah.

"Maaaaff!" Xiao Qiao, yang larinya paling belakang, tampangnya nggak jelas antara mau nangis sedih atau nangis bahagia. Padahal biasanya dia atlet lari sekolah, tapi lututnya rasanya berubah jadi rumput laut saat melihat sang wakasek ganteng itu. Begitulah pagi penuh kehebohan di Wu...

Bagaimana dengan kedua sekolah lainnya? Mari kita simak di chapter berikutnya!


Iya, menurut saia anak-anak Wu adalah anak-anak yang bersemangat :D

(Coba deh, waktu maenin bagian Wu, selain Shu, mereka juga banyak teriak-teriaknya Xp)

Oke, semoga menghibur, yaaa :D

Review yaaa, kalo ada yang nge-review, author jadi ikutan hepi, hehehehe~ :D