Long Distance Relationship; Young Love

.

A Fanfiction by naranari and phylindan

©2015

Park Jimin & Min Yoongi

Romance

Boy's Love. AU

We don't take any profit with this chara and the story

DO NOT PLAGIARIZE

.

.

Satu tahun berlalu...

.

.

.

.

Jimin menata rambut hitamnya sekeren mungkin dengan memperlihatkan sebagian dahinya. Ia mematut diri di depan cermin sejak sepuluh menit yang lalu.

Hari ini adalah hari spesial kembali untuk Jimin. Ia sudah bersiap-siap untuk menunggu keberangkatan pesawat yang akan membawanya pergi untuk menemui Yoongi nanti. Menemui kekasih manis pujaan hati nan jauh disana.

Jimin sengaja jauh-jauh dari Busan dimana tempat orangtuanya tinggal itu untuk membuat pengajuan laporan pembelajaran kuliahnya untuk mengadakan observasi di sebuah bandar udara Internasional di Korea Selatan. Kini Jimin masih berada di bandara Gimpo untuk menunggu keberangkan pesawatnya menuju Incheon. Tempat dimana Jimin juga akan bertemu dengan kekasih manisnya kembali.

Ah, rasanya Jimin jadi tidak sabar.

Sembari menunggu Jimin memulai obrolan kembali di ruang chat pribadi ponselnya.

(Yoongi-hyung aku merindukanmu~ selamat pagi. Sudah sarapan belum?)

Jimin mengetikkan kalimatnya lebih dulu. Ia tanpa mengeluarkan ruang chatnya itu untuk menunggu dan membalas balasan dari Yoongi.

Tak lama dentingan balon percakapan muncul di layar ponsel pintarnya sebagai balasan.

(Aku juga merindukanmu, Jimin. Aku akan sarapan didalam pesawat nanti.)

Jimin tersenyum kecil membacanya. Yoongi itu susah sekali jika mengatakan aku juga merindukanmu jika berada dalam sambungan telepon. Tetapi jika dalam messenger seperti ini Jimin 'kan otomatis akan membayangkan suaranya. Uh, Jimin jadi gemas sendiri dibuatnya.

(Baiklah, sampai jumpa di Incheon, kekasihku :*)

Jimin mengakhiri obrolan singkatnya dan mengganti mode airplane di smartphonenya. Ia menyesap tegukan kopi terakhirnya sebelum bangkit dari bench bandara yang sedari tadi didudukinya untuk masuk ke gate dimana pesawat yang akan ditumpanginya kini telah menunggu.

Incheon.

Jimin akan menemui Yoongi disana untuk melepas rindunya dengan sang kekasih.

.

.

.

.

Incheon International Airport

07:02:36.

.

Jimin telah sampai di Incheon dengan selamat. Jimin sengaja mengambil jam penerbangan pagi agar sama dengan jadwal penerbangan yang diambil Yoongi hari ini ke Incheon.

Yoongi minggu ini sedang ada jadwal pengauditan ujicoba di daerah Incheon dan dengan sengaja Jimin juga ingin menemuinya sekaligus mengajukan tugas designnya.

Fyi, Yoongi itu calon auditor. Berbanding terbalik dengan Jimin yang sedang menjalankan kuliahnya di bidang arsitektur dan banyak berhubungan dengan desain. Tetapi yang membuat keduanya sama adalah saat ini mereka lebih sering berada di luar daerah.

Hal itu membuat keduanya semakin sulit untuk bertemu namun dilain sisi membuat hubungan keduanya semakin erat untuk saling mempercayai satu sama lain. Saling menguatkan diri demi cinta yang sedang terjalin melalui benang merah yang mereka rajut sendiri dengan terpisahkan jarak.

.

Jimin menyesap kembali cappuccino gelas keduanya pagi ini. Jam kedatangan pesawat yang ditumpangi Yoongi masih akan datang sekitar limabelas menit lagi. Jadi Jimin lebih baik membeli satu cup kopi kembali untuk menemaninya menunggu.

Jimin jadi terbayang-bayang wajah Yoongi. Sudah hampir setahun berlalu sejak mereka terakhir kali bertemu dan saling menyatakan cinta. Jimin jadi penasaran bagaimana Yoongi saat ini. Kalau terakhir Yoongi mengirimkan foto dan video call padanya sih Yoongi tetap manis seperti saat Jimin jatuh hati untuk pertama kalinya.

Hm.

Masih asyik dengan pemikiran dan seruputan kopinya, tiba-tiba ponsel Jimin bergetar. Lebih dari dua getaran dan ketika Jimin membaca ponselnya ternyata ada sebuah panggilan masuk dari Yoongi.

Hati Jimin kembali berdesir halus dan jantungnya berdegup kencang. Instingnya dapat merasakan bahwa Yoongi berada dekat dengannya.

"Yoongi-hyung..." Jimin memanggil begitu ia menempelkan ponselnya ke telinga.

"Jimin? Aku sudah sampai. Kau dimana?"

Jimin tersenyum mendengar suara Yoongi. Oh, ia tak sabar untuk mendengarnya secara langsung. "Aku berjalan keluar dari ruang tunggu."

"Eeh? Tunggu saja disana biar aku yang kesana!"

Yoongi berucap terburu-buru dan membuat Jimin terkekeh dibuatnya.

"Tidak mau~" Jimin segera memutuskan sambungan teleponnya sebelum mendengar protesan kembali dari kekasih manisnya itu.

Jimin segera berdiri dan menyampirkan tas yang dibawanya, ia mulai melangkah cepat menjauhi ruang tunggu dengan perasaan berdebar tak sabar untuk bertemu dengan Yoongi.

Memang yang namanya jodoh itu takkan kemana. Tak berapa lama Jimin berjalan menjauh, ada sosok berkulit pucat dengan rambut sewarna karamel dan berperawakan kecil itu bagi Jimin terlihat sangat mencolok diantara kerumunan orang yang berjalan di sepanjang koridor kedatangan. Merasa yakin bahwa itu benar-benar adalah sosok yang ditunggunya pagi ini, Jimin mempercepat langkahnya dan memanggil diantara suara bising yang ada.

"Min Yoongi!"

Sosok lelaki manis yang menyeret koper kecilnya itu terdiam merasa ada yang memanggil namanya. Sekejap kemudian ia menoleh mencari-cari keberadaan suara itu.

Melihat hal itu membuat Jimin memanggil namanya sekali lagi. Sedikit lebih kencang.

"Min Yoongi!"

Sosok lelaki manis itu akhirnya menoleh ke kanan dan tak lama kemudian kedua manik kembarnya mengunci sosok lain yang sangat dikenalnya namun begitu ia rindukan sosoknya karena tak bertemu. Lelaki manis itu segera mengambil alih langkah ke kanan dengan menyeret koper kecilnya. Seiring detik berlalu langkahnya ia buat semakin cepat.

Jimin tersenyum lebar, sosok yang begitu ia rindukan akhirnya datang. Sosok yang begitu ia nanti itu juga berjalan ke arahnya. Jimin tak bisa menunggu lagi lebih lama, langkahnya semakin ia percepat bahkan bisa disebut berlari. Tak sabar untuk merengkuh lelaki yang begitu ia rindukan sosoknya.

Jimin benar-benar berlari ke arah Yoongi yang semakin mempercepat langkahnya. Jimin terus mengunci tatapannya dengan Yoongi sampai keduanya tak dipisahkan jarak dan Yoongi menubrukkan tubuhnya dengan Jimin yang segera merengkuhnya erat.

"Bogoshippeo..."

Jimin merengkuh erat tubuh Yoongi dalam pelukan hangatnya. Jimin bahkan sampai mengangkat tubuh Yoongi dari lantai menandakan bahwa betapa ia begitu erat merengkuhnya seakan tak ingin lepas lagi. Jimin juga membisikinya lembut dan tetap memeluknya. Tak mempedulikan keadaan sekitar bandara yang selalu ramai dilalui orang.

"Jimin..." Suara Yoongi terdengar bergetar lembut. Kedua tangannya menggenggam kedua sisi jaket yang dipakai Jimin dengan erat.

Jimin yang mendengar suara itu lagi secara langsung membuat perasaannya begitu hangat. Desiran halusnya terasa begitu kencang mengalir dalam darahnya. Akhirnya ia bertemu kembali dengan Yoongi.

Jimin mengecupi puncak kepala Yoongi berkali-kali dan menghirup aroma kekasihnya yang begitu ia rindukan dengan dalam dari rambut karamel halusnya. Mengusapi punggungnya dengan hangat sebelum melonggarkan pelukannya.

"Kau tidak merindukanku?" Tanya Jimin pelan, ia menatapi wajah kekasihnya lamat-lamat dan sebelah tangannya terangkat untuk mengusap wajah pucatnya yang merona tipis.

Yoongi hanya balas menatap Jimin dan menggenggam erat tangannya. "Aku juga merindukanmu..."

Jimin tersenyum mendengar ucapan kata rindunya secara langsung. Jimin lalu membalas genggaman erat di tangan Yoongi dan menautkan jari-jemari mereka, lalu berjalan berdampingan begitu dekat dan menuntunnya untuk keluar dari area bandara.

"Jimin-/Yoongi-"

Tiba-tiba keduanya berucap bersamaan. Membuat dua sejoli itu terkekeh kemudian karena tingkah spontanitas itu dan melanjutkan langkah mereka kembali.

"Kau saja duluan, Hyung." Jimin mengalah lebih dulu. Ia mengangkat genggaman tautan jemarinya dengan Yoongi untuk ia kecup punggung tangan pucat milik Yoongi.

Yoongi tersenyum simpul mendapat perlakuan manis dari Jimin. "Ah, bagaimana kabarmu?"

"Hmm~" Jimin terlihat berpikir sebentar. "Aku sehat dan jika kau bertanya bagaimana kabarku hari ini, aku merasa bahagiaaaa bertemu dengan kekasihku lagi." Lalu ia terkekeh kemudian.

Yoongi jadi ikut terkekeh mendengarnya. Kekasihnya itu memang selalu cheesy.

"Ngomong-ngomong kau berbeda ya?" Yoongi menatap Jimin dari samping. Menelisiknya dari atas ke bawah.

Jimin mengangkat sebelah alisnya dan balas menatap menelisik Yoongi dari atas ke bawah. Yang malah membuat Yoongi bergerak gusar karena ditatap intens seperti itu.

"Kau juga berbeda ya, Yoongi-hyung?"

"Huh?" Yoongi balas merengutkan dahi. "Apanya yang berbeda?"

"Dirimu, Hyung. Kau berubah menjadi lebih manis." Jimin tersenyum nakal kemudian.

Yoongi menggerutu kemudian dengan rona tipis masih menghiasi kedua pipinya. Ia juga menyikut pinggang Jimin karena perkataannya.

"Hehehe. Jadi, apa yang berbeda dariku, Yoongi-hyung?" Tanya Jimin seraya meremas tautan tangan mereka berdua dengan gemas.

Yoongi melirik Jimin lagi melalui sudut matanya. "Kau banyak berubah!"

"Huh?" Jimin mencoba memperhatikan dirinya. Berpikir apa saja yang telah ia makeover dirinya. Jimin lalu menunjuk telinga kirinya yang terpasang pierching. "Maksudmu ini ya, Hyung? Aku memang punya tindik baru. Keren 'kan?"

Yoongi menggeleng cepat kemudian. "Bukan itu."

"Lalu apanya yang berubah dari diriku di matamu, Hyung?" Jimin semakin heran, penasaran juga dengan pemikiran Yoongi.

"Tubuhmu, kau tahu." Yoongi mendelik, menunjukkan rasa tak suka namun dengan semburat rona tipis di wajahnya. "Kau bertambah besar!"

"Besar?" Jimin terkejut mendengarnya, lalu tak lama kemudian ia segera tertawa karena mengerti maksud perkataan kekasih manisnya itu. "Maksudmu aku bertambah tinggi dan tubuhku membesar? Tetapi aku tak merasa begitu kok. Yoongi-hyung saja yang mengecil!"

Yoongi segera saja menyikut perut kekasih mudanya itu. "Enak saja! Memangnya aku apaan bisa menciut!"

Jimin tertawa kembali dibuatnya. Baru bertemu beberapa menit saja kekasihnya itu sudah sebegini menggemaskannya.

"Kalau begitu bagus dong. Aku jadi bisa terus merengkuhmu dalam dekapanku, Hyung." Jimin tersenyum begitu tulus dan lembut. Genggaman tangannya ia eratkan kembali bersama Yoongi seiring dengan langkah keduanya yang semakin jauh dari kerumunan bandar udara itu. Tatapannya menatap lurus kedepan dan Yoongi yang berada di sampingnya bisa merasakan tatapan yang tersirat penuh harapan.

"Merengkuhmu selalu, Hyung..." Jimin mengulang dengan bisikannya.

Yoongi tersenyum sedih. Rasanya kalau sudah begini ucapan Jimin jadi terdengar seperti harapan yang belum terkabuli. Yoongi lalu balas mengeratkan genggamannya di tangan Jimin untuk menyalurkan perasaan yang sama dengannya.

"Ya, Jimin..."

.

.

.

Setahun tidak bertemu membuat mereka ingin sekali melakukan banyak hal bersama. Sudah banyak sekali hal dan kejadian yang mereka lalui namun tidak sempat diceritakan. Tapi, dari sekian banyak hal yang ingin mereka kerjakan, duduk berdua dipinggir pelabuhan Incheon menjadi pilihan.

Sambil memandang lautan lepas yang terhampar didepan mereka, beserta bau asin air laut dan juga angin yang meniupkan helaian rambut. Yoongi menutup matanya menikmati waktu santainya yang jarang sekali ia dapatkan. Di samping Yoongi, duduk Jimin beberapa jarak. Juga melakukan hal yang sama dengan Yoongi. "Hyung, ternyata rasanya seperti ini." Yoongi membuka matanya; pandangannya bersiborok dengan mata Jimin.

"Maksudmu?"

Jimin memberikan senyuman manis pada Yoongi, "Rindu yang tersampaikan." Yoongi masih belum mengerti dengan ucapan Jimin. Yang dimaksud rindu yang tersampaikan itu bagaimana? "Jimin aku masih belum mengerti. Jangan setengah-setengah kalau berbicara."

Jimin tertawa hingga matanya menyipit dengan lucu. "Begini," dia agak menggeser duduknya, "Sudah berapa lama kita tidak bertemu?" Yoongi berpikir, "Setahun?"

"Lalu selama itu apa kau tidak merindukanku?"

"Tentu saja aku merindukanmu, bodoh!"

"Aduh, hyung gak usah dipukul juga kepalaku." Jimin mengusap bagian belakang kepalanya, Yoongi masih tetap menjadi Yoongi yang galak bahkan setelah setahun mereka tidak bertemu. "Nah, saking banyaknya aku memendam rindu untukmu dan hari ini kita bertemu. Rasanya semua bebanku terangkat, semua risau dihatiku terhapus. Semua cemasku, khawatirku, takutku seperti tidak berarti apa-apa setelah bertemu denganmu."

Yoongi menundukkan kepalanya dengan wajah memerah karena malu. Apa yang dirasakan Jimin ternyata dia juga merasakannya. Memendam rindu yang begitu hebat hingga Yoongi merasa jadi orang yang merana.

"Aku juga sangat merindukanmu Jimin."

"Aaah~ hyung manisku~" Jimin sudah bersiap untuk memeluk Yoongi tetapi gerakannya berhenti tiba-tiba. Mereka berdua menjadi kikuk; sudah begitu lama mereka tidak bersentuhan…

Jimin tertawa hambar dan menggaruk belakang kepalanya, "A-ah hyung! Maaf aku terlalu lancang." Tetapi Yoongi hanya diam saja menatap Jimin. Matanya tidak beralih sesenti pun pada wajah Jimin. "Jimin…" panggilnya. "Iya hyung, ada apa?"

"Peluuuk~"

O-ow.

Bolehkah Jimin mengatakan kalau seluruh badannya gemeteran?

Yoongi memintanya terlalu frontal.

"Bo-bolehkah hyung?"

"Huum,"

Yoongi sudah merentangkan tangannya; dia memberikan mimic wajah seperti anak anjing minta digendong. Dengan garis mata dan bibirnya yang melengkung ke bawah. Tuhan, tolong kuatkan hati Jimin yang malang ini.

"Sini hyung, aku peluk dulu."

Dan Yoongi sudah menubruk tubuh Jimin hingga dia agak terjengkang ke belakang. Dua kali sudah Yoongi menubruknya hari ini, mungkin Jimin akan antisipasi pada pertemuan selanjutnya kalau-kalau Yoongi ingin menubruknya lagi.

"Kekasihku yang manis kaya permen karet ini manja sekali ya~" Jimin menciumi kepala Yoongi. "Kenapa kaya permen karet sih?" Yoongi memberenggut. "Kan, permen karet itu manis."

"Tapi gula lebih manis,"

"Ya, makanya aku akan memanggilmu Seoltang."

"Plis deh Jimin."

"Hyung panggil aku Chim-chim ya~"

"Kenapa harus?"

"Itu kan panggilan kesayangan,"

"Jimin saja cukup, kan?"

Yoongi mengerutkan keningnya karena tidak mendengar jawaban Jimin. Jadi dia melepaskan pelukannya dan menatap Jimin. Ternyata kekasih bocahnya itu sedang memberenggut. Kalau memberenggut Yoongi itu lucu dan imut, memberenggutnya Jimin malah terlihat aneh.

"Kenapa sih?"

"Panggil aku Chim-Chim hyung,"

"Buat apaan sih?"

Jimin memberenggut lagi.

"Oke, oke. Chim-Chim."

Senyum sumringah langsung tercipta di wajah Jimin. Yoongi hanya sudah terbiasa melihat Jimin yang ngambekan. Karena selama mereka berkomunikasi lewat aplikasi chatting, Jimin selalu seperti itu kalau permintaannya tidak dituruti Yoongi.

"Kekanakan,"

"Tapi cinta kan~"

"Terserah."

Jimin tertawa lagi lalu menarik bahu Yoongi mendekat. Hingga kepala Yoongi bersandar manis pada bahu Jimin. Tangan Jimin yang lain menggenggam tangan Yoongi dan menaruhnya diatas pahanya.

"Aku selalu membayangkan hal ini. Duduk berdua denganmu sambil menikmati pemandangan."

Yoongi membenarkan perkataan Jimin dalam hati. Dirinya pun sangat menginginkan momen berdua dengan kekasihnya ini.

Sebenarnya Yoongi merasa aneh menjalani hubungan seperti ini. Apalagi dengan keadaan mereka yang hanya bertemu setahun sekali; membuat Yoongi dipenuhi pikiran-pikiran negatif. Dirundung rasa cemas yang berlebihan dan rindu yang amat mendalam. Tapi Yoongi juga tidak tahu kenapa sampai saat ini dia masih bertahan dengan Jimin.

"Jimin,"

"Hemm?"

"Apa yang membuatmu masih bertahan denganku?"

Jimin tersenyum, tangannya menggenggam jemari Yoongi yang kurus. "Karena aku mempercayaimu. Disaat aku merasa jenuh dan bosan pada hubungan ini, aku selalu melihat ke belakang. Bagaimana dulu kita bertemu. Bagaimana dulu aku berusaha untuk mendapatkanmu. Karena aku tahu, menyia-nyiakanmu lalu meninggalkanmu adalah hal terugi yang aku lakukan."

"Kau percaya padaku?"

"Aku percaya padamu dan pada cinta kita."

Hati Yoongi berbunga, matanya berkaca-kaca mendengar penuturan jujur dari Jimin. Dia membalas genggaman Jimin lebih erat lagi. Dari seluruh pemandangan indah yang terhampar dipinggir pantai ini; senyuman Jimin adalah yang terindah.

Jimin membawa tangan kanannya menuju belakang kepala Yoongi, lalu menariknya perlahan. Yoongi sudah siap menutup matanya, dan hatinya berdebar keras. Sangat keras sampai-sampai dia merasa ngilu. Semakin dekat deru nafas hangat Jimin terasa dikulit wajah Yoongi.

Jimin memiringkan sedikit kepalanya, tersenyum ketika wajah lucu Yoongi terpampang jelas di depannya. Pria ini adalah pria yang sangat dia cintai. Merubah hidupnya penuh warna dan tawa. Mengisi ruang kosong dihatinya. Menyempurnakan kekurangannya.

"I love you."

Jimin membuka sedikit bibirnya dan melumat bibir bawah Yoongi ketika mereka bertemu dalam ciuman yang manis. Yoongi juga menghisap bibir Jimin yang ternyata lebih tebal dari pada difoto. Rasanya begitu pas; bibir Jimin melingkupi bibir Yoongi yang kecil tipis.

Mereka terus berciuman dengan pelan dan santai. Sangat menikmati momen yang berharga ini. Hingga Jimin harus menyudahi ciuman mereka. "Jangan lupakan itu hyung." Wajah Yoongi merona dan dia mengangguk. Pacarnya tersenyum lalu membawanya ke dalam pelukannya.

"Walaupun hari harus berakhir tapi hubungan kita tidak boleh berakhir. Ingat selalu hari ini hyung, dan hari dimana kita membagi kenangan manis berdua. Bahkan jika kita jarang bertemu tapi ingatlah satu hal; kau akan menjadi orang pertama yang ingin aku temui."

Yoongi mengelus wajah Jimin dan tersenyum, "I love you too."

To be continued

.

.

balik lagi sama kita dua author sok misterius *nanti ada nanti kaga* ;_;

bagaimana kabarnya? Baik kan yaaa~ apalagi Bangtan mau comeback dengan albumnya yang bakal menyayat hati hayati ;_;

siapa yang dulu(?) udah jawab hint/clue dari kita tentang chapter 2? YEAAY kalian benar tempat kedua adalah Incheon. Trus ada hint lagi ga? Ya ada dongs pastinyaaa *ngedip*

jadi seperti kata summary(?) "setiap tempat setiap kenangan" jadi si MinYoon ini bakal buat moment disetiap tempat yang kita berdua setting *halah* naaah untuk chapter depan hintnya adalaaaaahhh….

UNIVERSITAS KONYANG

Naaah cari deh tuh ke Korea kkkk~

Ada hadiahnya gak sih? Kita gak pernah janjiin hadiah yaa :")

Sudah yaaa, silahkan yang mau review~

.

.

And

HAPPY BIRTHDAY~ HAPPY BIRTHDAY

~~ HAPPY BIRTHDAY PHYLINDAN~~~

Tepat hari ini author kesayangan kalian Phylindan ulangtahun~ ayoo kita ucapin bareng-bareng yaaaa….. wkwkwkwk

Doa tante nara buat phylin banyak sih tapi yang penting biar sehat aja yaa, kuliah lancar kerja lancar jodoh lancar. Aamiin~

Yuks kita doain bundanya kukie ini bareng-bareng *berdoa mulai*