TUNGGU!

Saya mau ngebacot dulu sebentar/ehm/

Begini, saya mau jelasin, takut ada kesalahpahaman :D

Jadi... ini fanfic tuh ceritanya memang bersambung; tetep dengan keabsurdan kaihun yang satu apartemen cuma drabble gitu (meskipun alurnya ga urut). Saya udah pikirin gimana kalau ini dijadiin chapter yang ceritanya teratur, tapi rasanya saya ga bisa. Entahlah, saya ga ada ide sepanjang itu buat bikin chapter, dan takutnya berakhir terbengkalai.

Makanya, saya mau tau pendapat kalian ;)

Satu lagi, tolong jangan panggil author. Panggil Sandra aja :)

Terima kasih atas perhatiannya.


Characters : Kai, Sehun, etc

© Cassandra

.

Please, take your own risks

.

[!] Modern!AU, OOC

.


Tumultuous Night


Sebenarnya sih masalahnya sepele bagi Sehun. Sebenarnya...

Tapi beda ceritanya dengan Jongin. Jika pada jam 9 malam Sehun sudah mendudukkan bokongnya di atas kursi belajar dan bergulat bersama para PR laknatnya, maka seharusnya Jongin hanya perlu berbaring di ranjang sambil mendengarkan lagu.

Hanya itu.

Dan masalahnya adalah—

—Jongin tak tahu dimana letak earphonenya.

Iya, sesimpel itu.

"Oi, Sehun! Lihat earphoneku tidak?"

Laki-laki yang lebih kecil melengos malas, tidak peduli walaupun Jongin sudah mencak-mencak sejak tadi. "Tsk. Tidak."

"Kau kan meminjamnya kemarin."

"Aku tidak ingat," katanya, singkat, padat, dan tidak jelas. Lagipula, Jongin itu tidak lihat apa ia sedang mengerjakan PR sampai rasanya otaknya hampir keriting begini. Ugh.

Sedangkan laki-laki yang lain menggeram.

Tidak ingat ia bilang.

Bocah yang satu ini benar-benar...

"Masa kau tidak ingat sih!"

Sehun masih membelakanginya. "Ya aku memang tidak ingat!"

"Kau meminjamnya kemarin sore, cadel."

Si cowok berkulit putih membalikkan badan dengan dahinya yang mengerut samar. Kemarin sore? Kemarin sore ya?

Hmm...

Tunggu.

Kemarin itu ia pergi berjalan kaki dari toko daging sambil mendengarkan lagu, lalu hujan turun sangat deras, jadi ia berteduh di sebuah toko kelontong dan iseng-iseng masuk ke dalam untuk melihat-lihat, kemudian... setelahnya, saat sampai di rumah, ia tidak menemukan benda itu di sakunya, di kantung belanja,

—dimana pun.

... umm.

Sehun melirik Jongin diam-diam, memberikan cengiran gugup. Agaknya Jongin sudah tahu bagaimana nasib earphonenya, jadi ia memicingkan mata dan bersiap mengeluarkan makian serta geplakan sebagai bonus.

Sehun tertawa garing.

Ow. Siaga satu, kawan.

.

"BRENGSEK, SEHUN! BALIKIN EARPHONEKU SEKARANG JUGA BOCAH SIALAAAAAANN!"

"Iya, oi, iya! Nggak usah jambak rambutku bisa kali ya!"

Jongin facepalm. "Sori, baper."

Sehun memutar mata. "Dasar alay," desisnya. Toh Itu kan cuma earphone. "Iya iya nanti kuganti!" tukasnya. "Ga usah lebay begitu dong, plis."

Jongin mendelik. "Siapa yang kausebut alay itu, bocah?—dan lagipula," ia menyeringai "duit jajanmu selama sebulan mana cukup untuk menggantikan earphoneku. Asal kau tahu saja ya, itu earphone mahal."

"Belagu."

"Bodo amat."

Sehun menggeram rendah. "Udah selesai kan? Sekarang kau pergi sana. Merusak konsenterasi tahu."

"Duh, pasti aku membuatmu gugup, ya."

"Bukan, sialan."

Err, sebenarnya... dikit sih.

"Jutek banget." Jongin berkomentar.

"Peduli?"

"Iya dong."

"PERGIIIIIII!"

"DASAR NENEK-NENEK!" katanya, lalu lari begitu saja.

Sedangkan Sehun mendengus kasar. Nenek-nenek ia bilang. Sebenarnya siapa sih yang paling tua di sini? Jongin itu benar-benar tidak pernah berkaca, ya.

"Hoi, Sehun!"

Sehun mengangkat kepala, menemukan Jongin yang sudah berdiri di dekat pintu kamar. Ya Tuhan, mau ngapain lagi si Kim Jongin ini.

"Apa lagi?!"

"Cuma mau mastiin aja..." Jongin mengangkat bahu.

"..."

"PR-mu itu... trigonometri, ya?"

Sehun merasa rahangnya bisa melorot sampai lantai kapan saja. Tepat sasaran. Bagaimana si paman bisa tahu?

Belum sempat Sehun bernapas sekalipun, Jongin sudah menambahkan lagi. "Aku benar, kan?"

"..."

"Soalnya kalau dilihat dari sini mukamu berkerut-kerut suram gitu sih—"

"Jongin..."

"—trigonometri kan mudah. Masa kau tidak bisa?"

"... Jongin."

Laki-laki itu masih tidak bisa menyetop mulutnya juga "Dasar payah," katanya.

Damn.

Sehun ingin meledak rasanya.

"Bisa tidak, mulutmu itu diam sehari saja?"

"Mimpi ya? Mana bisa mulutku diam melihat wajahmu yang bernafsu begitu? Hidungmu kembang kempis pula."

Benar-benar sialan.

Kim Jongin brengsek.

"Bagaimana kalau aku membuat agar hidungmu kembang kempis juga? Nafsu banget nih pingin lemparin sandal ke mukamu."

Jongin cuek, dan malah memberikan seulas senyum mengejek.

"PERGI SIALAAANNN!"

Lalu berakhir dengan sebuah sandal Rilakkuma yang melayang menuju pintu.

.

Sudah Sehun bilang kan, Kim Jongin itu rese.


Makasih yang udah follow, favorit, dan review. Saya cinta kalian :***

Makasih juga buat temen seperjuanganku, Aprodhite, jangan takut ya mbaaa. Gue kangen main detektif-detektifan sama lu *ketjup jauh