Amnesia and The Outside World
Rating: T (bisa berubah nantinya)
Pairing: YookMin/MinJae
Disclaimer: BtoB belongs to Cube Ent., their families, and God
Warning: Typo(s), Sho-ai, AU, OOC, Ide cerita pasaran
Note: FF murni dari otakku. Kalau ada kesamaan dengan cerita lain, itu hanya kebetulan. Italic berarti berbicara dalam hati. Italic dan Bold berarti flashback
.
.
.
"Hoam~" Minhyuk meregangkan ototnya yang kaku karena tidur. Ia melihat ke arah jendela, ia buru-buru menutupi matanya dengan tangannya. Silau. Ah, ia tertidur sampai pagi. Ia melewatkan makan malam lagi.
KRUUUK
Wajah Minhyuk langsung memerah mendengar suara perutnya. Ia melihat ke sampingnya. Kosong.
'Sepertinya Sungjae hyung ada di dapur.' pikirnya. Minhyuk bangkit dan berjalan menuju lemari. Ia membuka kancing atasan piamanya perlahan, dan menurunkan celananya. Menyisakannya hanya dengan pakaian dalamnya. Tangannya terulur mengambil kemeja hitam milik Sungjae. Ia memakainya, tidak memedulikan bahwa kemeja itu kebesaran baginya dan hanya menutupi tidak lebih dari setengah pahanya.
Masih dengan mengantuk, Minhyuk berjalan terhuyung-huyung menuju dapur. Dilihatnya Sungjae dengan kemeja putihnya dan celana training pendeknya, tengah berkutat dengan sarapan yang dibuatnya.
GREP
"Hyung~" Minhyuk memeluk Sungjae dari belakang dan menyandarkan kepalanya di punggung besar itu. Sungjae tersenyum, lalu melanjutkan memasak. "Aku lapar, kau memasak apa?"
"Seperti biasa."
"Ugh, jangan bubur lagi hyung~" keluh Minhyuk seraya mempoutkan bibirnya. Sungjae terkekeh mendengarnya. Ia mengecilkan apinya lalu berbalik menatap Minhyuk, membuatnya melepaskan pelukannya.
"Kenapa kau suka sekali mengenakan barang-barangku, eoh?" Sungjae melingkarkan tangan kirinya di pinggang Minhyuk, sementara tangan kanannya menarik Minhyuk mendekat. Ia menyisipkan helaian rambut Minhyuk ke belakang telinganya.
"Eum, aku suka wangi tubuhmu hyung." Minhyuk menyandarkan kepalanya ke dada Sungjae, mencium aroma lemon milik Sungjae. Sungjae tersenyum, lalu menyuruh Minhyuk duduk di kursi bar.
"Here. Makanlah, semalam kau belum makan kan?" Sungjae meletakkan mangkok berisi bubur itu di hadapan Minhyuk. Minhyuk mempoutkan bibirnya, menatap Sungjae dengan memelas. "Ayolah, kau sedang sakit. Kemarin panasmu sampai 39,8° celcius, bahkan kau sampai pingsan."
"Hum, baiklah. Tapi kalau aku sudah sembuh, hyung harus membelikanku kue. Yaksokhae?"
"Ne, yaksokhae. Sekarang, makanlah." Minhyuk menyuapkan sendok berisi bubur itu ke dalam mulutnya. Sungjae duduk di sampingnya, memperhatikannya seraya tersenyum. Tangannya mengelus surai cokelat milik Minhyuk lembut. Sesekali, Minhyuk menyuapi Sungjae buburnya. Sambil makan, Minhyuk terus berbicara tentang hal-hal yang baru ia pelajari dari buku dan lewat jendela. Sungjae menanggapinya dengan tersenyum, sesekali juga menimpalinya.
"Oiya, hyung. Semalam, katanya kau ingin memberikan hadiah." ucap Minhyuk. Mangkok buburnya sudah bersih. Karena lapar, ia memakan semuanya meskipun tidak suka. Sungjae menepuk jidatnya, tanda bahwa ia lupa. Sungjae meninggalkan Minhyuk, pergi ke ruang kerjanya. Tidak lama kemudian, ia kembali dengan boneka rilakkuma di gendongannya. Well, boneka itu ukurannya lebih dari setengah badan Minhyuk.
"Aku membelinya sepulang dari rumah sakit kemarin. Kurasa kau akan menyukainya." terang Sungjae seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Apakah ini terlalu childish?"
"Ani, hyung! Joahae!" Minhyuk memeluk Sungjae dan boneka rilakkuma itu sekaligus. Sungjae balas memeluknya dan mengelus rambut Minhyuk. Minhyuk melepaskan pelukannya lalu duduk di sofa, masih memeluk boneka rilakkuma itu. Sungjae duduk di sampingnya, menyandarkan kepala Minhyuk di bahunya.
"Hyung."
"Eum, wae Minhyuk-ah?"
"Aku ini mengalami amnesia kan?" Sungjae sudah menduganya, suatu saat Minhyuk pasti akan menanyakan ini padanya.
"Eum, tapi kata uisanim ingatanmu akan sembuh. Hanya saja tidak tahu kapan dan tidak langsung semuanya kembali."
"Ah, geurae. Syukurlah." Minhyuk tersenyum lega mendengarnya.
"Kau tahu dari mana?"
"Entahlah. Sebelum aku pingsan kemarin, aku seperti teringat sesuatu. Aku melihat diriku sendiri dan hyung." Minhyuk mencoba mengingat memori yang hilang perlahan. "Sepertinya, kita bertengkar."
"Sudah kubilang, aku tidak mencintaimu Yook Sungjae!"
"Tidak bisakah kau meninggalkannya?!"
"Tidak bisa, kami saling mencintai dan sudah bertunangan. Minggu depan, kami akan menikah."
"M-mwo?!"
"Jangan temui aku lagi. Annyeong, Sungjae-ssi."
"-hyung!"
Teriakan Minhyuk membuat Sungja tersadar. Lagi-lagi. Ini sudah ke-9 kalinya dia tenggelam dalam memorinya yang dulu seperti tadi. 9 kali dalam kurun waktu 3 hari.
"Ah, mian. Aku teringat sesuatu." jawab Sungjae.
"Gwaenchana, Jae-ie hyung." Minhyuk tersenyum lembut menatap Sungjae. Melihatnya, Sungjae benar-benar lepas kendali. Ia mendekatkan wajahnya dengan Minhyuk. Menutup jarak di antara mereka dengan sebuah ciuman.
'Jeongmal mianhae, hyung.'
.
.
.
"Jangan keluar rumah. Bahkan meskipun hanya satu langkah, arraseo?"
Sungjae memperingatkan Minhyuk untuk yang kesekian kalinya. Tiba-tiba ia tadi ditelfon oleh appanya. Appanya tidak pernah menelfonnya kecuali untuk urusan genting.
"Nde, hyung. Aku akan baik-baik saja." Minhyuk mengeluarkan senyumnya, berusaha membujuk Sungjae untuk segera berangkat. Sungjae mengangguk tanda mengerti. Ia mengecup kening Minhyuk lalu keluar lewat pintu depan, tidak lupa menguncinya dan membawa kuncinya bersamanya. Meninggalkan Minhyuk sendirian di kamarnya.
Di luar, salju turun cukup lebat. Sungjae berjalan di trotoar, melewati etalase-etalase toko.
Natal.
Ah, berarti sudah hampir setahun Minhyuk tinggal dengannya. Sepertinya ia akan merayakan natal tahun ini. Di sepanjang jalan, Sungjae terus teringat kejadian tadi.
Ia-tidak sengaja-mencium Minhyuk.
Flashback
"Eumhh~" Minhyuk mengalunkan lengannya di leher Sungjae sementara Sungjae memeluk pinggang Minhyuk semakin erat.
Sungjae menggigit bibir Minhyuk. Membuat Minhyuk mendesah pelan dan membuka mulutnya. Sungjae memanfaatkan kesempatan itu untuk menjulurkan lidahnya ke dalam mulut Minhyuk. Lidahnya menjelajahi mulut Minhyuk tanpa melewatkan satu bagianpun.
"Nnhh~" Minhyuk memukul dada bidangnya pelan. Memberitahu Sungjae bahwa ia perlu bernafas. Sungjae melepaskan ciumannya, membuat seutas benang saliva menggangtung di antara mereka. Sungjae langsung saja menjilatnya, membuatnya hilang.
"M-mian, Minhyuk-ah. Aku tidak... Tadi aku..." Sungjae kewalahan menjelaskan perbuatannya tadi. Sementara Minhyuk menatapnya dengan kepala yang dimiringkan, tanda ia bingung.
"Barusan itu apa, hyung?"
Sungjae ingin membenturkan kepalanya ke beton sekarang juga.
Flashback End
Wajah Sungjae memerah mengingatnya. Bagaimana mungkin ia bisa lepas kendali seperti tadi? Mengacak rambutnya frustasi, Sungjae kembali berjalan dengan langkah yang dihentak- hentakkan.
.
.
.
Lain Sungjae, lain juga Minhyuk. Setelah Sungjae pergi, ia keluar dari kamarnya dan berjalan ke kamar Sungjae. Meskipun tinggal bersama, ada 2 ruangan yang tidak pernah dimasuki Minhyuk. Kamar dan ruang kerja Sungjae.
Ia berhasil menemukan kunci duplikat kamar Sungjae di laci nightstand kamarnya. Entah kenapa Sungjae begitu ceroboh meninggalkannya di sana.
Ia memasukkan kunci itu ke dalam lubang kuncinya, memutarnya ke samping. Ckrek. Berhasil, pintunya terbuka. Minhyuk mendorong pintu itu perlahan, menimbulkan bunyi decitan pelan.
Kamar Sungjae biasa saja, sama seperti kamarnya sendiri. Sebuah single bed dengan seprai hitam. Lemari kayu berwarna cokelat gelap. Dinding kamar berwarna krem. Meja belajar di pinggir ruangan.
Minhyuk berjalan menuju meja belajar Sungjae. Ia melihat sebuah buku di atas meja belajar itu.
'Cube International University
2011-2012 Yearbook'
"Ah, sepertinya buku tahunan Sungjae hyung." Minhyuk membuka halaman demi halaman buku itu. Tidak ada siapapun yang ia kenal di buku tahunan itu. Tangannya berhenti saat melihat wajah yang ia kenal.
'Yook Sungjae
D.O.B: May 2, 1992'
"Hmpft!" Minhyuk terkikik melihat foto Sungjae. Sungjae dengan kacamata berlensa tebal dan rambut licin yang disisir ke belakang. "Hyung culun sekali."
Ia melihat foto di samping Sungjae. Foto dirinya sendiri.
'Lee Minhyuk
D.O.B: November 29, 1990'
'Ternyata dulu aku lumayan juga.' batin Minhyuk. Sesekali memuji diri sendiri, tidak masalah kan? Minhyuk membuka lembaran terakhir. Ia menatap foto salah satu namja. Ia merasa pernah mengenalnya.
'Seo Eunkwang
D.O.B: November 22, 1990'
NGIING
"Akh!" Minhyuk memegang kepalanya yang berdenyut sakit. Ia seperti teringat sesuatu. Seo Eunkwang. Nama itu, ia pernah mengenalnya.
"Saranghae, Minhyukkie."
Hanya itu yang Minhyuk ingat, sebelum pandangannya menjadi gelap.
'Seo Eunkwang, nuguya?'
TBC
Ah! Aku mengalami writers block!
Oiya, di rumah Sungjae itu (ceritanya) nggak ada meja makan. Adanya meja yang kayak bar gitu di dapurnya. Dan Sungjae itu lompat kelas 2x, makanya bisa seangkatan sama Minhyuk. Kalau ada yang mau ditanyakan, silahkan PM. Kalau di reviews takutnya ada yang kelewatan atau kelupaan.
RnR! Annyeong!
