Disclaimers: One Piece is belongs to Oda-Sensei forever. Saya cuma nyolong charanya aja bentar *digeplak Oda-Sensei pake bakiak*

Warning: Gaje, OOC, abal, typo, de el el

DON'T LIKE DON'T READ!

Summary: Aku kehilangan semuanya pada saat itu. Yang tersisa hanyalah perasaan dendam yang ingin kubalaskan. Aku akan membalasnya walau aku harus mati...

A/N: Yosh, chap 2 saya updet kilat. Soalnya saya emang sebenernya udah buat 2 chapter sekaligus. Wekekekeke #plakplakbuagh. Oh ya, gomen kalo ntar porsi romancenya dikit soalnya emang bukan genre utama sih. Tapi saya usahain deh, mohon bantuannya #bungkuk2

Tanpa banyak bacot..

Please enjoying...

V

V

V

Chapter 2: Riddle

"Anda baik-baik saja, Nona?"

Nami menatap lelaki di hadapannya. Ia tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Hanya suaranya saja. Walaupun begitu, Nami tetap penasaran dengan orang ini.

" Ya, aku baik-baik saja. Hanya sedikit terluka," jawab Nami pelan.

Tiba-tiba lelaki itu mengeluarkan sapu tangannya. Ia lalu melilitkannya di lengan Nami yang terluka. Kelihatannya cukup untuk menghentikan pendarahannya.

" Kalau begitu, ikutlah denganku," ajak lelaki itu tiba-tiba.

" Ikut? Kemana?" tanya Nami waspada. Jelas saja, walaupun orang ini sudah menyelamatkannya tapi tetap saja orang ini mungkin akan berbuat jahat padanya, kan? Siapa yang tahu isi hati seseorang?

" Ke tempatku. Disana kau bisa istirahat sambil mengobati lukamu. Aku juga tidak akan macam-macam denganmu," lelaki ini menjawab seolah ia tahu apa pikiran Nami.

Nami berpikir sejenak. Mungkin tidak apa-apa kalau ikut dengan orang ini. Sebenarnya Nami sendiri sudah lelah. Gara-gara kejadian barusan, ia terlalu lemas untuk pulang sendiri ditambah dengan lengannya yang terluka.

" Baiklah," Nami mengangguk.

Lelaki itu membopong Nami menuju mobilnya. Letaknya di ujung jalan raya, cukup jauh dari cafe. Sesaat Nami merasa ada yang aneh, tapi ia tak terlalu peduli. Lelaki itu membantunya masuk ke dalam mobil. Mereka langsung meninggalkan tempat itu menuju ke suatu tempat yang lain.

^v^v^v^v

Sinar matahari masuk melalui jendela dan itu membuat Nami memicingkan matanya. Ugh! Rasanya sakit. Ia duduk di tempat tidur, matanya menatap sekelilingnya. Ruang tidur yang mewah, lengkap dengan segala fasilitas bintang lima. Tapi menurut Nami ini adalah apartemen. Pastinya butuh uang banyak buat beli apartemen ini.

Nami kembali berusaha mengingat apa yang terjadi semalam. Yang diingatnya saat dibawa ke apartemen ini, ia sudah dalam keadaan lelah. Ia kemudian mendengar suara seorang laki-laki—suaranya terdengar kekanakan—yang dipanggil Chopper. Nami lalu diobati olehnya. Setelah itu, Nami tertidur karena ia terlalu lelah dengan kejadian tadi malam.

Nami bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Ia masuk dan menuju wastafel untuk membersihkan muka dan mandi. Ia memikirkan banyak hal. Nami ingin berterima kasih pada penyelamatnya. Kalau tak salah namanya Sanji—Nami bertanya sebelum dia keburu ketiduran. Tapi, ada hal yang ingin dia tanyakan. Kenapa Sanji ada di tempat itu? Jalan kecil yang jarang dilalui orang. Sanji juga memarkir mobilnya di seberang jalan, seolah memang berniat menolong Nami. Tapi kenapa?

" Ah, segarnya," kata Nami pada dirinya sendiri.

Ia masih merasakan sakit di lengannya walau sudah berkurang. Diam-diam ia merasa kagum pada Chooper yang sudah menolongnya. Ia ingin berterima kasih. Makanya ia langsung mengenakan bajunya. Tapi matanya tertumbuk pada sepasang pakaian di atas kursi di dekat jendela.

' Apa ini? Jangan-jangan ini memang sudah disiapkan?' batin Nami berspekulasi. Wajar saja, sih. Bajunya kan terkena darah yang keluar dari lengannya. Mana mungkin dia memakai pakaian yang ada bekas darahnya begitu. Tapi, ia tak tahu kalau Sanji sudah menyiapkan ini. Wajahnya langsung memerah namun ia berusaha mengabaikannya.

" Nami-san. Kau sudah bangun?"

Itu suara Sanji. Nami yang terkejut karena Sanji memanggilnya tiba-tiba berusaha tenang, " ya. Aku baru selesai mandi," balasnya setengah berteriak.

" Oh. Kau belum sarapan, kan?Makananmu kutaruh di depan kamar. Makanlah sebelum dingin."

" Baiklah. Arigatou, Sanji-kun."

Deg!

Sesaat Nami tertegun. Ia refleks memanggil Sanji dengan embel-embel –kun? Ia tak pernah memanggil lelaki sebelumnya dengan panggilan itu. Bahkan pada teman dekatnya yang ia anggap sangat akrab pun, ia tak pakai kata itu. Baginya, ia hanya akan menggunakan kata itu untuk seseorang yang istimewa. Tapi tadi...

' Sadarlah Nami!' batinnya sambil menepuk kedua pipinya, 'kalian baru kenal satu hari. Jangan mikir yang macam-macam. Masa' kau langsung menyukai seorang lelaki dalam waktu sesingkat ini?'

Ia langsung mengenakan pakaian yang terdiri dari T-shirt polos dan short pants. Boleh juga, pikirnya. Selera Sanji lumayan juga walau pakaian ini cukup sederhana. Selesai berpakaian, ia membuka pintu kamar. Aneh, tidak ada siapa-siapa. Sanji juga tidak kelihatan. Mungkin ia sedang keluar?

Nami membawa nampan yang berisi semangkuk sup dan jus orange hangat ke dalam kamar. Ia menaruh makanan itu di meja dekat televisi. Ia mengambil remote dan menyalakan televisinya. Ia mencari acara yang bagus, tapi malah tidak ada satu pun yang membuatnya sreg. Akhirnya ia memilih nonton berita saja. Lumayanlah buat up-to-date info soal keadaan di masyarakat. Hehehe..

" Pemirsa, kali ini kami akan menyampaikan berita dari mancanegara..."

Nami serius memperhatikan televisi sambil menikmati makanannya.

" Seorang mafia narkoba ditemukan tewas di sebuah gedung kecil di pinggiran kota Los Angeles, USA. Pria berusia sekitar empat puluh tahunan ini diduga meninggal akibat dua tembakan peluru di dada dan dahinya. Ia juga didiuga telah meninggal empat hari lalu. Polisi saat ini masih menyelidiki kematiannya dan meminta keterangan dari sejumlah anak buahnya yang ditangkap tadi pagi."

Sudah meninggal empat hari lalu, tapi baru kebongkar sekarang? Ada-ada aja. Tiba-tiba Nami teringat sesuatu. Empat hari lalu, tanggal 15 April. Hari itu adalah hari Rabu dan Robin nggak masuk kuliah. Ia jadi teringat pada sahabat yang juga ia anggap kakak itu. Ia melirik ponselnya yang ada di atas meja. Robin belum menghubunginya. Biasanya kalau Nami pulang telat, Robin pasti langsung nyariin Nami. Apa dia sendiri juga nggak pulang ke flat.

" Haahh, kenyaang!"

Nami mematikan televisi dan membawa nampan. Sekilas ia mendengar suara beberapa lelaki di ruangan sebelah. Nami mengurungkan niatnya ke dapur, lalu memilih mendengarkan apa yang mereka bicarakan.

" Apa kau yakin? Itu perbuatan dia?"

Nami tidak tahu suara siapa itu. Suaranya agak berat dan dalam.

" Kau pikir siapa lagi, marimo? Dia sangat terkenal di kalangan mafia dan agen rahasia bahkan di antara para pembunuh bayaran sendiri. Dan aku punya firasat kuat kalau kematian Crocodile itu karena ulahnya."

Kali ini suara Sanji. 'Crocodile?' batinnya bingung. ' Apakah orang yang di berita tadi?'

" Hei, kalian ini serius sekali sih? Sanji~, aku lapaaarr~~, buatkan aku makan siang!"

" BERISIK! Ini lebih penting daripada makan siangmu, Luffy! Lagipula, ini masih jam sepuluh, baka!"

Lho? Kenapa sekarang jadi berantem soal makanan?

" Huh! Pelit," cibir Luffy.

" Gadis Iblis. Aku penasaran seperti apa orangnya."

" Hoi, marimo! Jangan menyeringai seperti itu. Kau jadi makin jelek, tahu!" ejek Sanji.

" Setidaknya aku bukan seorang womanizer yang sok keren."

" APA KATAMU? KAU MAU BERKELAHI, HAH?"

" Boleh. Kulayani kau!"

Nami bisa mendengar suara gaduh di sebelah. Ia hanya sweatdrop. Kenapa dari pembicaraan serius bisa jadi bertengkar begini, sih?

" Shishishi, kalau begitu kita cari tahu saja siapa Gadis Iblis itu."

Pertengkaran konyol antara dua orang bodoh itu berhenti saat mendengar kata-kata Luffy.

" Kurasa itu bukan ide buruk. Bagaimana, marimo?" tanya Sanji meminta pendapat si 'Marimo' *digeplak Zoro*

" Ide bagus. Tumben kau pintar, Luffy. Kurasa dia seumuran dengan gadis yang tidur di kamarmu itu. Tanya saja dimana dia kuliah, lalu kita cari mulai dari kampusnya. Oh, ya, Luffy, kau saja yang minta izin pada Boss."

" Shishishi, beres, Zoro."

" Lalu, gadis itu sendiri?" tanya Zoro lagi.

Sanji menghembuskan asap rokoknya, "setelah dia sadar, aku akan mengantar ke rumahnya."

Nami terkejut mendengar dirinya ikut dibawa-bawa. Lagipula, mereka bicara soal mencari si 'Gadis Iblis'. Cara mereka berdiskusi pun seperti agen rahasia saja. Atau jangan-jangan itu memang mungkin? Ia berjalan menuju jendela dekat tempat tidur. Ia berdiri di sana. Setelah mendengar percakapan tiga cowok tadi, firasatnya mengatakan, ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi. Segala yang terjadi dalam waktu 12 jam ini benar-benar penuh teka-teki untuknya. Terlalu banyak rahasia yang ingin dia ketahui. Dan bicara soal rahasia, ia jadi teringat seseorang.

'Robin-nee-chan, kau dimana sekarang?'

^v^v^v^v

Paris, Perancis, 19 April 2011, pukul 22.00 waktu setempat...

Seorang gadis dengan mantel ungu tua yang sedang berdiri di atas atap sebuah gedung berlantai 30 itu menatap Menara Eiffel yang terlihat berkilauan malam ini. Kota yang dijuluki sebagai salah satu pusat mode dunia dan juga kota yang identik dengan segala hal yang berbau romantisme. Sayangnya ia bukan datang untuk menikmati hal-hal itu. Ia datang untuk menikmati permainan 'mencabut nyawa'.

Ia menatap ke gedung di sebelahnya. Gedung itu terlihat lebih tinggi dari gedung tempatnya berdiri, terdiri dari 45 lantai. Ia bisa melihat kerumunan orang di lantai 31 gedung itu yang sedang tertawa, menikmati suasana pesta. Ia kemudian menangkap sosok calon korbannya. Laki-laki paruh baya dengan rambut ikal dan janggut. Ia terlihat bersama seorang gadis yang berusia 20-an dan berambut biru muda.

" Target sudah muncul rupanya. Keluarga Nefertari," gumam gadis itu.

Ia mengambil rifle yang sejak tadi tegantung di punggungnya. Kemudian membidik targetnya.

" Pesta pembukaan kantor cabang kalian akan berubah menjadi pesta peringatan kematianmu setelah ini, Nefertari Cobra," katanya sambil menarik pelatuk riflenya.

Lima detik kemudian, ia bisa melihat kerumunan orang yang panik, termasuk putri Nefertari Cobra, Vivi, yang berteriak dan menangis karena ayahnya tewas seketika dengan kepala yang tertembus peluru. Vivi melihat jendela yang tertembus peluru itu. Satu-satunya cara adalah menembak dari gedung yang ada di seberang. Tapi jaraknya lebih dari 25 meter. Itu mustahil... Diam-diam dalam hatinya, ia berjanji akan mencari orang yang bertanggung jawab atas kematian ayahnya ini.

Sementara itu, si gadis pembunuh hanya menatap gedung seberang dengan wajah datar.

" Kelihatannya kau berhasil."

Gadis itu mendengar suara dari earset-nya.

" Memang. Tapi menurutku biasa saja, tak ada yang istimewa," balas gadis itu.

Terdengar suara tepukan tangan di seberang, "Kau memang seperti julukanmu, Gadis Iblis. Kau begitu santai saat mencabut nyawa orang lain. CP9 beruntung memilikimu."

" Berhentilah membual," kata gadis itu lagi. Ia terdengar bosan.

" Baiklah, baiklah. Kalau begitu uang bayaranmu akan kutransfer ke rekeningmu sekarang."

" Terserah kau saja."

" Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah ini? Kau mau jalan-jalan di Paris?"

" Tidak," gadis itu diam sejenak, " aku ingin kembali ke Jepang. Aku harus masuk kuliah lagi dan mungkin seorang gadis sedang mencariku saat ini," ia tersenyum sambil membayangkan wajah orang itu.

~TBC~

A/N: Maaf kalau saya nggak nepatin janji buat njabarin masalah organisasi yang ada di fic ini. Hasilnya malah nambah misteri yang ada di sini. Maafkan author nggak becus ini. Oh, ya, saya lupa nyantumin di chapter pertama kalo Nami kuliah di Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian. hehehe, maap ya^^

Sankyuu buat yang udah review chapter pertama, ya~~

For roronoalolu youichi: panggil saya suzu aja, deh.. hehehe... makasih banyak, lolu-san (panggil gitu aja, ya?). nih apdet kilat...

For eleamaya: Wah, gomen kalo nambah bacaan kamu. Tapi moga-moga kamu seneng baca fic ini. Masalah tanggal itu udah aku perbaiki dan waktu kematian Crocodile udah kuberitahu di fic kedua ini. Juga soal nama Caimie, gomenasai.. Tetep review ya... ^^

For shirayuki nao: ehehehe, salam kenal juga, nao-san. Teka-tekinya di chapter2 awal aja kok. Ntar akan dibuka satu per satu#kayak kotak aja. Tetep tongkrongin fic ini, ya... Nyehehehehe#BLETAK

For shirahoshi : makasih banyak, nih dah updet lagi.

Nah, bersediakah anda mereview lagi chapter ini?