Urban Legend

The Slit Mouthed Woman

From Japan

.

Infinite's L

.::.

.

.

Myungsoo membuang napasnya.

Ia melirik ke arah jam yang melingkar di jam tangannya. Sudah pukul lima lebih empatpuluh sembilan. Sudah hampir malam. Ia mengarahkan pandangannya ke arah langit. Langit sore, sebentar lagi gelap.

Myungsoo menendang kerikil yang berada di jalanan sepi yang ia lewati.

Ini adalah hari keduanya di Jepang. Keluarganya pindah ke Jepang karena pekerjaan dan Myungsoo terpaksa ikut. Menyebalkan menurutnya. Ia sudah nyaman tinggal di Seoul. Di sekolahnya, punya banyak teman, dan pacar tentunya. Ah, tidak mungkin Myungsoo menyia-nyiakan ketampanannya hanya untuk punya satu pacar. Ia punya banyak gadis di Seoul. Well, hanya sekedar untuk permainan kepuasannya.

Dan sekarang dengan terpaksa ia harus meninggalkan segala kepuasannya.

Myungsoo menendang kembali kerikil yang berada di jalanan itu.

Dia belum terlalu fasih berbahasa Jepang. Lagipula dia tidak kenal karakteristik gadis-gadis di sini. Apa mereka akan mudah masuk ke dalam rayuannya? Rayuan andalannya? Aish, Myungsoo benar-benar harus menekuni bahasa Jepang. Ia menyesal mengapa ia begitu acuh pada pelajaran bahasa itu di sekolahnya dahulu.

Ia hanya berniat keluar dari rumah barunya untuk berjalan-jalan jam tiga sore tadi. Tetapi sekarang? Sepertinya ia tersesat. Ia tidak tahu jalan pulang dimana. Lagipula di sini sepi. Ia tidak melihat ada satupun orang di sini.

Myungsoo berjalan dengan malas kembali. Sesekali ia membuang napasnya. Sekarang yang harus ia lakukan adalah mencari seseorang yang dapat membantunya pulang.

Semoga orang itu bisa berbahasa korea. Aish, tidak mungkin. Jadi bagaimana caranya ia bertanya? Menggunakan bahasa inggris? Dia juga kurang fasih dalam bahasa itu.

Argh! Myungsoo mengutuk dirinya sendiri karena sering tidur dalam pelajaran apapun.

Kemudian pandangan Myungsoo tertuju pada sebuah jembatan yang berjarak sekitar limabelas meter dari tempatnya berdiri. Jembatan penyebrangan. Ia baru menyadari bahwa ia berjalan di jalanan kecil di pinggir sungai. Dan jembatan itu berada di atas.

Lalu matanya menangkap ke arah empat orang gadis yang mungkin seumuran dengannya. Mereka memakai seragam, tentunya seragam SMA. Myungsoo tersenyum. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeans-nya. Berusaha memikat mereka dengan pesonanya.

Salah satu dari mereka melihat ke bawah—ke arah Myungsoo tepatnya. Ia tersenyum kemudian, merapikan rambutnya.

Myungsoo menghentikan langkahnya, memperhatikan gadis-gadis yang mulai saling berbisik itu. Mungkin membicarakan dirinya.

Myungsoo tersenyum kembali kemudian menyahut kecil.

"Bisakah kalian membantuku? Tapi bahasa jepangku belum fasih!"

Mereka tersenyum dan mengangguk. Dua orang dari mereka menumpukan kedua lengannya di pembatas jembatan, mengagumi Myungsoo. Satu orang lagi masih merapikan rambutnya dan yang terakhir hanya tersenyum manis.

"Kau bisa berbahasa inggris? Kau orang korea ya?"

Myungsoo hanya membalasnya dengan senyuman.

Gadis yang terakhir itu melambaikan tangannya. "Aku akan kesana. Tunggu ya~!"

Lalu dia berbalik dan berjalan menuju tangga yang menghubungkan jembatan dengan tempat Myungsoo berada. Belum langkahnya mendekati tangga, salah satu temannya berteriak. Myungsoo dapat mendengarnya.

"Shiori! Jangan!"

Gadis yang berlari—yang bernama Shiori—itu berbalik. Memandang tiga temannya bingung.

"Ayo pulang!"

Dua dari mereka mengganti raut wajahnya menjadi ketakutan. Shiori memiringkan wajahnya.

"Kenapa? Dia tampan. Kalian bilang aku harus mendapatkan nomor hapenya."

"Iya t-tapi…"

Myungsoo memiringkan wajahnya mendengar percakapan mereka di atas jembatan.

"K-kuchi…"

"Kuchi?"

"K-kuchisake onna!"

Dapat Myungsoo lihat, Shiori terkejut dan segera berlari kembali ke arah teman-temannya. Myungsoo berdecak. Apa yang mereka bicarakan?

Menyebalkan.

Dua dari mereka sudah berlari lebih dahulu. Yang satunya menarik Shiori agar ikut berlari menyusul kedua temannya, namun Shiori masih enggan pergi walau wajahnya ketakutan.

"Hei, orang korea, cepat pergi!"

"Kuchisake onna!"

Temannya ikut berteriak dan menyeret Shiori agar pergi. Myungsoo semakin bingung. Siapa yang mereka maksud? K-Kuchi... onna? Apa? Sebutan untuk guru mereka?

Myungsoo memutar kedua bolamatanya ketika empat orang gadis pelajar itu menghilang dari pandangannya.

"Cih!"

Myungsoo kembali menendang kerikil dan berjalan kembali.

Namun, ia merasakan ada seseorang di belakangnya. Maka, Myungsoo memutuskan untuk berbalik dan melihat.

Ada seorang perempuan—mungkin berumur sekitar tigapuluh tahun—berdiri di hadapannya. Ia mengenakan masker yang menutupi hidung dan mulutnya.

"Anoo… boleh aku bertanya? Aku tidak tahu jalan pulang."

Perempuan itu tidak menjawab pertanyaan Myungoo.

Myungsoo menggerenyitkan dahinya. Menurutnya bahasa jepang yang tadi ia lontarkan sudah benar. Mengapa perempuan ini hanya diam? Apa dia tidak mengerti?

"Permisi… aku tidak tahu jalan pulang. Apakah Anda bisa membantu—"

"Watashi kirei?"

"Nani?"

"Watashi kirei?"

Myungsoo menggaruk tengkuk rambutnya. Tentu ia tahu artinya.

Watashi kirei? Apa aku cantik?

Myungsoo tertawa kecil.

"Kau cantik, nona. Sekarang bisakah kau membantuku?"

Perempuan itu lagi-lagi tidak menjawab Myungsoo. Matanya menatap Myungsoo tajam, membuat pemuda korea itu sedikit tidak nyaman.

Perempuan itu membuka maskernya secara perlahan.

"Kore demo?"

Dan setelah maskernya terbuka seluruhnya, Myungsoo tidak percaya dengan apa yang ia tangkap dengan indra pengelihatannya. Perempuan itu memiliki mulut yang robek sampai telinganya, berlumuran darah dan menatap Myungsoo dengan pandangan yang meminta jawaban.

"Kore demo?"

"Who the fuck are you?!"

Myungsoo menjerit kaget dan tanpa sengaja ia mundur sehingga membuat kakinya tersandung. Ia terjatuh. Perempuan bermulut sobek itu mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya, sebuah gunting rumput.

Myungsoo membulatkan matanya.

"Whoa, whoa, calm down. Siapa kau?"

Perempuan itu tidak menjawab, ia malah mengacungkan guntingnya dan berniat untuk menusuk Myungsoo dengan guntingnya.

"God! What the hell are you doing?!"

Myungsoo berusaha berdiri dari posisi jatuhnya namun ia kesulitan. Yang ia lakukan hanya memundurkan tubuhnya menggunakan kaki dan pantatnya.

Perempuan itu mengacungkan kembali guntingnya dan mengibaskannya kea rah Myungsoo. Myungsoo berteriak lagi. Matanya mengarah ke sekitar, berusaha mendapatkan pertolongan.

"Tolong! Tolong!"

Sret!

Kali ini gunting itu berhasil melukai pipi Myungsoo.

Myungsoo membulatkan matanya. Dengan segera dia menendang tubuh perempuan bermulut sobek itu dan segera berlari.

Perempuan itu tidak menampilkan ekspresi kesakitan. Matanya hanya mengarah ke arah Myungsoo. Myungsoo berlari, berusaha melarikan diri sementara perempuan itu mengejarnya.

"Tuhan, tolong aku!"

Tanpa Myungsoo sangka bahwa lari perempuan itu begitu cepat. Perempuan itu kemali mengacungkan guntingnya dan dengan segera dia menusukkannya ke punggung Myungsoo.

Jleb!

Bruk!

Dan hal itu membuat Myungsoo kembali terjatuh.

Myungsoo meringis. Perempuan itu menarik kembali guntingnya dan menendang tubuh Myungsoo.

"Arh… a-apa yang kau inginkan? Huh?!"

Perempuan itu lagi-lagi tidak menjawab pertanyaan Myungsoo. Ia hanya mengacungkan lagi guntingnya, meraih dagu Myungsoo dengan paksa dan menggunting mulutnya hingga menyerupai dia.

Crak!

"Argghh!"

"Watashi kirei?"

.

.

.

.

Okay, for next Urban Legend, guess who?

From girlgroup or boygroup or soloist?

.

Makasih untuk yang udah kasih review, aku sangat berterima kasih dan menghargai itu

Maaf ga di bales yaaa /bow/

Ngobrol lewat PM yuk sama akyu :* kkk

follow me on twitter : littlerape