IF IT'S LOVE
Main Cast : Xi Luhan (EXO M ) as Jung Luhan
Kris Wu (EXO M)
Jung Yunho
Kim Jaejung
Other cast
Chapter : 1
Rated : T
Genre: Family, Romance, Drama.
Disclaimer : Terinspirasi dari komik yang saya baca. Tapi saya kembangkan cerita dan karakternya sendiri. NO PLAGIARISM!
Warning : yaoi, boyxboy, boyslove, Gs buat sebagian cast, typo (s), OOC.
.
.
.
Happy Reading!
.
.
Luhan memasukkan kartu mahasiswa milik orang bernama Kris itu ke dalam saku blazer-nya. Dia harus mengembalikannya, kartu itu pasti sangat penting. Tapi lain kali saja, tidak sekarang. Dan sapu tangan itu, Luhan hampir terpingkal melihat motif yang di sulam di setiap sudutnya , motif bunga berwarna-warni dengan initial hurup K besar di tengah-tengah. K untuk Kris mungkin, Luhan terkikik geli. Luhan yakin sapu tangan itu pemberian seorang gadis.
'norak' batinnya. Biarpun orak tapi cukup berguna untuk lap keringatnya.
Tidak terasa Luhan sudah sampai di tempat tujuannya -Game center-, Luhan meregangkan otot-otot jarinya. Oke, dia akan mulai petualangannya.
"Ayo bersenang-senang" soraknya bersemangat.
~~~~If It's Love~~~
Wanita cantik itu menghempaskan tubuh rampingnya di sofa empuk di ruang kerjanya, sepertinya memejamkan matanya untuk beberapa menit bukan ide yang buruk. Dalam waktu 48 jam dia hanya tidur beberapa jam saja, sama sekali tidak sesuai dengan pekerjaan yang sudah dia kerjakan.
Kim Jaejung, nama wanita cantik itu biarpun sudah memiliki putra berusia 17 tahun, tapi wajahnya tetap terlihat awet muda. Walaupun garis-garis kelelahan dan kantung mata terlihat jelas di wajahnya, tidak bisa menutupi kecantikan alaminya.
Pekerjaannya kali ini benar-benar menyita waktu dan perhatiannya, Jaejung memang selalu total dalam melakukan setiap pekerjaanya demi mencapai hasil yang sempurna. Tapi design-nya kali ini benar-benar istimewa, Kim Kibum putri kedua Mentri Kim memintanya secara khusus untuk menrancang gaun pengantin yang akan di pakainya pada resepsi pernikahannya sebulan lagi. Jaejung harus bekerja lebih ekstra dan membuat rancangan yang istimewa.
Akan banyak tamu istimewa yang hadir di pesta tersebut, dan gaun yang di pakai Kim Kibum akan menjadi sorotan utama, jika respon orang-orang baik terhadap gaun rancangannya maka karirnya akan semakin bersinar dan Jaejung akan di akui oleh orang-orang kalangan atas. Namun jika sebaliknya maka tamatlah riwayatnya sebagai designer gaun pengantin. Hal ini mau tidak mau membuat Jaejung sedikit stres.
Tapi jika membicarakan hal yang paling membuat wanita cantik itu stres, itu adalah masalah rumah tangganya. Sepertinya Jaejung harus cepat-cepat mengajukan gugatan cerai itu pada suaminya, jika terus di tunda bisa-bisa membuatnya gila. Jaejung yakin inilah yang terbaik yang harus dia lakukan.
Jaejung tidak sanggup lagi melihat Jung Yunho suaminya selalu di kelilingi wanita-wanita cantik. Cemburu? Tentu saja sebagai istri siapa yang tidak cemburu melihat suaminya bersama wanita lain, apalagi sang suami terlihat nyaman-nyaman saja tanpa rasa berdosa sedikitpun.
Jaejung memijit pelipisnya yang sedikit berdenyut, biarpun sangat ingin tidur tapi ternyata cukup sulit memejamkan mata lelahnya.
"Noona terlihat sangat lelah, mau aku buatkan kopi" suara halus sang asisten menyapa telinganya. Jaejung membuka matanya dan mendapati pria manis bergigi kelinci di hadapannya.
"Ah, Sungmin-ah. sepertinya yang aku butuhkan saat ini obat tidur"
"Apa?" pria manis bernama Sungmin itu terlihat kaget dengan pernyataan Jaejung.
"Aku rasa noona butuh liburan, noona terlalu sibuk bekerja"
"Kau kan tahu, proyek kali ini sangat penting untukku"
"Aku mengerti, tapi terlalu memporsir tenaga juga tidak baik buat kesehatan"
"Aku hanya mencari kesibukan, itu saja"
Sungmin terdiam mendengar kalimat terakhir Jaejung, sebagai orang terdekat Jaejung , Sungmin sangat paham dengan masalah yang di hadapi bos yang sudah di anggapnya kakak itu.
.
.
.
CUT
Semua kru berdiri dan memberikan aplause sebagai tanda kalau pekerjaan hari ini memuaskan.
"Gomawo" laki-laki yang sudah cukup berumur namun tetap tampan itu membungkukan badannya sebagai ucapan terima kasih.
"Seperti biasa kau sangat sempurna Jung Yunho" puji sang PD bangga
Yunho hanya menanggapinya dengan senyum seperti biasa, pujian seperti itu sudah terlalu sering dia dapatkan.
"Oppa, hari ini kan hari terakhir shooting, kami akan merayakannya dengan makan-makan dan minum soju" seorang wanita cantik berambut panjang menghampiri Yunho.
"Sepertinya aku tidak bisa ikut Vic, aku harus minta maaf pada semuanya" ujar Yunho, wanita yang bernama lengkap Victoria itu terlihat kecewa.
Sebagai bintang utama seharusnya Yunho wajib hadir di acara tersebut tapi Yunho memiliki acara yang lebih penting dari pada acara perayaan itu. Karena take terakhir film-nya di pulau jeju Yunho sudah tidak pulang selama beberapa hari. Dia yakin istrinya akan semakin marah padanya. Tapi Yunhoberjanji setelah ini dia akan menebus kesalahannya.
"Jung Yunho, Kau benar-benar profesional"
Yunho berbalik melihat si pemilik suara kemudian berdecih "Apa maksudmu?"
"Di saat pemberitaan miring tentang rumah tanggamu, kau masih bisa bekerja dengan baik, sama sekali tidak terlihat kalau kau sedang banyak masalah"
Yunho menatap tajam orang itu, dari pada di sebut pujian kalimat itu lebih terdengar seperti sindiran.
"Bukan berarti aku tidak memikirkan keluargaku"
"Aku pikir kau akan terlihat lebih kacau dengan berita perceraian kalian, tapi sepertinya kau tidak peduli. Jangan-jangan kau memang mengharapkan perceraian itu terjadi"
"Aku rasa urusan rumah tanggaku tidak ada hubungannya denganmu Choi Siwon" desis Yunho sambil mendorong dada orang bernama Choi siwon dengan telunjuknya. Siwon hanya tersenyum meremehkan.
.
.
.
"Yun, jangan terpengaruh ucapan Siwon, dia pasti masih kesal karena tidak mendapatkan peran utama untuk film ini, padahal dia sangat berambisi untuk itu" Park Yoochun sang menager berusaha menenangkan Yunho.
"Tentu saja" jawab Yunho singkat.
"Jadi kau akan pulang malam ini juga"
"Entahlah, setiap bertemu yang Jae katakan hanya cerai cerai dan cerai. Aku belum siap untuk itu Chun"
"Aku rasa kalian berdua harus mengubur ego masing-masing, pikirkanlah Luhan"
"Tentu saja aku tahu itu, tapi setiap bertemu kami pasti bertengkar. Hal sekecil apapun akan menjadi besar"
"Kalian kan bukan remaja lagi, sudah tua tapi kelakuan masih seperti bocah"
"Yang dia bahas pasti masalah yang sama"
"Mungkin akan lebih baik kalau kau bermain film tentang pecinta sesama saja, jadi Jaejung tidak akan cemburu lagi, karena lawan mainmu seorang pria bukan wanita kkkk"
"Kau gila, kau tidak ada bedanya dengan Choi Siwon. Membuat lelucon dengan masalah orang lain, dasar tidak berguna"
"Hey,, aku cuma memberi saran Yun, jadi kau mau atau tidak?"
"Berisik kau jidat lebar"
~~~~If It's Love~~~
.
.
.
Luhan berdiri menyender di depan gerbang XOXO University, dia bisa mendengar orang-orang yang lewat di depannya berbisik membicarakan tentang dia. Tapi Luhan mengabaikannya begitu saja.
"Dia Jung Luhan kan, putra Jung Yunho"
"Manisnya"
"Lebih mirip Jaejung-ssi yah?"
"Ayo kita hampiri dia"
Luhan melihat sekelompok mahasisiwi yang baru saja membicarakannya berjalan menghampiri tempatnya berdiri. Melihat itu Luhan langsung membuang muka dan mengacuhkan para mahasisiwi itu.
"Hey apa-apan dia, sombong sekali"
"Sudah kita pergi saja, Huh"
Luhan menghembuskan nafasnya kasar "Memang kenapa kalau aku sombong, kalian begitu padaku juga karena aku putra Jung Yunho dan Kim Jaejung. Kalau aku bukan putra mereka belum tentu kalian mau melihatku" umpat Luhan setelah para mahasiswi itu berlalu. Luhan duduk memeluk lutut dan menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut.
PUKK
"Aaa, apa ini" Luhan mengaduh, sesuatu menghantam kepalanya biarpun tidak keras tapi membuat Luhan cukup kaget.
"Oh ternyata kau, anak yang tidak tau terima kasih yah? Sedang apa disini"
Luhan merasa bersyukur dengan kedatangan Kris, dia jadi merasa terpojok dengan tatapan mengintimidasi dari orang-orang di sekitarnya.
"Aku cuma mau mengembalikan sapu tangan mu, dan ada kartu mahasiwa terselip di dalamnya"
"Oh, ada padamu yah. Sukurlah , kalau tidak ada kartu ini aku tidak bisa menggunakan fasilitas kampus" Kris memasukkan kartu itu kedalam saku kemejanya "Gomawo" ucapnya.
DEG, kenapa jantung Luhan serasa berhenti saat melihat senyum Kris.
"Kau sengaja datang untuk mengantarkan ini, aku akan mentraktir mu sebagai ucapan terima kasih"
"Tidak usah, barusan aku hanya kebetulan lewat sini" Luhan hendak pergi tapi Kris menahan kengannya
"Appa ku itu Jung Yunho lho dan eomma ku Kim jaejung. Kau tahu kan kalau mereka sekarang sedang jadi bahan pembicaraan orang" Luhan melihat ekspresi terkejut di wajah Kris, apa Kris benar-benar tidak mengenalnya.
"Yaa, kau membuat ku kaget, aku pikir kau akan bilang kalau 'appaku seorang yakuza' atau semacamnya"
"Jadi kalau aku putra seorang yakuza kau akan menjauhiku"
"Tentu saja tidak, justru aku semakin merasa kalau aku harus menemanimu, karena ku pikir hidup mu sangat sulit"
Luhan terdiam mendengar ucapan Kris, baru kali ini ada orang yang memperhatikan perasaannya.
"Dasar bodoh, kalau begitu aku ingin minum bubble tea"
.
.
.
Luhan duduk sambil melipat tangannya di dada dengan wajah masam, dan Kris duduk di sembrang mejanya masih memperhatikannya.
"Aku punya hadiah untuk mu" Kris menyodorkan selembar kertas di hadapan Luhan "masih fresh lho, aku baru mencetaknya" Kris menyeringai.
"Aaa, fhoto ini" Luhan terkejut melihat wajahnya yang menurutnya sangat jelek saat di ganggu wartawan kemarin"Tega sekali kau mencetak fhoto ku yang seperti ini" Luhan menggerutu.
"Kenapa? kau kelihatan manis kok"
"Huh"
Luhan meminum bubble tea pesanannya dan wajah kesalnya langsung berubah dengan senyumnya yang mengembang "Enaaakk"
"Kau memang benar-benar manis" gumam Kris menumpukan wajahnya dengan tangan di atas meja.
"A-apa kau bilang, jangan mengucapkan hal-hal bodoh" Luhan memalingkan wajahnya, menyembunyikan rona merah yang kontras dengan pipi putihnya.
"Hey, sikap macam apa itu. seharusnya kau mengucapkan terima kasih kalau di puji orang lain"
"Aku tidak memintamu memujiku"
"Aish, sikapmu sama sekali tidak sesuai dengan wajah manis mu" omel Kris "Kau ini anak sekolah kan, memangnya kau tidak di ajari cara berterima kasih yang baik" Kris terlihat jadi seperti nenek-nenek tua yang cerewet.
Diam-diam Luhan tersenyum, baru pertama kali dia bertemu orang yang memperlakukannya seperti itu. laki-laki yang suka ngomong seenaknya dan membuatnya menjadi salah tingkah . berbeda dengan oarang-orang yang selama ini berada di sekelilingnya, sikap baik mereka hanya pura-pura.
"Terima Kasih" gumam Luhan pelan tapi masih bisa di dengar oleh Kris, Kris menoleh dan tersenyum.
"Bagus" ucapnya.
.
.
.
Kris mengantar Luhan sampai ke depan rumahnya, rumah besar tapi terlihat sepi.
"Kau menginap saja di rumah ku" tutur Luhan setelah turun dari motor Kris.
"Kau ini dasar anak kecil, sadar tidak kalau kau baru mengenal ku"
"Memangnya kenapa? Soalnya di rumah ku cuma ada Heechul ahjuma dan Kangin ahjushi. Aku kan kesepian"
"Kalau begitu undang saja teman-teman mu"
"A-aku tidak punya teman dekat" Luhan menunduk "Aku mengundang mu saja, mau kan?"
"Tidak mau" Kris tetap menolak.
"Ya sudah kalau kau tidak mau, pergi sana. Aku tidak butuh. Aku sudah terbiasa sendiri kok" Luhan menyerahkan helm yang tadi di pakainya ke tangan Kris, kemudian dia berlari ke dalam pagar rumahnya.
"Woi, kau marah yah" Kris menghela nafas, Luhan benar-benar masih polos.
~~~~If It's Love~~~
.
.
.
"Appa?" Luhan terkejut saat Yunho memasuki kamarnya, sudah lama sekali saat terakhir kali mereka mengobrol sebagai ayah dan anak. Yunho tersenyum dan menghampiri Luhan yang sedang duduk di meja belajarnya.
"Appa kapan pulang?"
"Baru saja"
Yunho duduk di pinggir bed Luhan, membuka-buka buku pelajaran Luhan yang betebaran di atas lantai yang di lapisi karpet tebal. Tidak benar-benar membacanya karena dia sama sekali tidak mengerti bahkan Yunho sudah tidak ingat materi yang terakhir dia pelajari di sekolah, sekarang otaknya penuh dengan masalah pekerjaan.
"Eomma-mu belum pulang?"
"Aku rasa belum" Luhan masih fokus dengan buku pelajaran di depannya, sama sekali tidak melirik ayahnya.
"Lu, menurutmu apa yang harus appa lakukan?"
Pertanyaan Yunho membuat Luhan menautkan alisnya, dan berbalik memandang Yunho.
"Maksud appa?"
"Kau tidak mau kan kalau appa dan eomma bercerai?" pertanyaan macam apa itu, tentu saja Luhan tidak mau tapi Luhan hanya menggendikan bahunya.
"Kenapa jawaban mu seperti itu" Yunho tidak puas dengan reaksi Luhan yang tidak sesuai harapannya,
"Terserah kalian saja, aku juga tidak bisa mencegahnya kan?"
"Yaa, kenapa kau bicara seperti itu. Sebagai anak seharusnya kau yang menentang perceraian ini mati-matian Luhan"
"Appa kenapa sih, aku tidak peduli kalian bercerai atau tidak. Memangnya apa untung dan ruginya buat ku. Mau bercerai atau tidak sama saja" Luhan menatap Yunho kesal, sebenarnya itu bukan jawaban jujur dari hatinya "Walaupun appa dan eomma tidak bercerai, aku tetap tidak di perhatikan" Luhan memalingkan wajahnya.
Yunho tetegun, perkataan Luhan memang benar. Selama ini sebagai orang tua, dirinya dan Jaejung hanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing, bahkan dia tidak sadar kalau Luhan putranya sudah tumbuh menjadi seorang remaja.
"Maafkan appa Lu, bagaimana kalau kau membantu appa untuk memperbaiki semuanya"
Luhan menatap ayahnya penuh selidik "maksud appa?"
Yunho menghampiri Luhan dan berdiri di sebelah anaknya itu, Luhan mendongak menatap ayahnya serius.
"Kita kan sama-sama namja, kau mau kan membantu appa mu"
TBC
A/N : Annyeong, gomawo buat readersnim yang udah baca ff buatan ku, dan jeongmal gamsahamnida yang udah kasih riviewnya buat saya semangat. Akhirnya saya lanjutin dech ff ini, kan ga enak kalau berhenti di prolog doank. Karakter Luhan dan Kris di cerita ini beda banget sama 'Princess LULU' dan ada GS juga di sini, bagi yang tidak berkenan maaf yahh, ini semata-mata demi kelancaran cerita aja kok.
Maklum yah kalau ceritanya aneh, saya kan masih amatiran di bidang per-ff-an XD
Ga banyak omong dech, saya mohon riview readers-nim semua... gomawo.. ^^
