Chapter 2

Pria berambut ungu itu pun mendekatinya sambil membisikkan sesuatu di telinga kanannya. "Jika kita bertemu lagi, kamu bisa mengembalikannya nanti…", sambil tersenyum dan kemudian pergi meningggalkan Luka.


Masih terngiang kata-kata pria itu dalam pikiran Luka. Debaran di dada yang ia rasakan ketika memikirkan lagi pria itu, membuatnya tak sanggup lagi menyembunyikan rona wajahnya yang memerah. Apakah ini benar-benar ia sedang jatuh cinta?

oOOOo

Pukul 17.30 PM, Luka sudah bersiap-siap sambil menunggu ibunya datang menjemputnya. Dengan berpakaian short dress warna biru mint, Luka terlihat sangat manis berpadu dengan warna rambut pinknya. Namun udara dingin menjelang malam jelas ia rasakan, karenanya Luka membawa jaket ungu dari pria itu. Entah kapan ia mulai suka dengan jaket itu tapi yang pasti Luka merasa nyaman dan hangat ketika mengenakannya walau sedikit kebesaran.

Sekitar 20 menit menunggu, ibunya Luka datang menjemput dan akhirnya mereka bisa sampai ke tempat tujuan dengan tepat waktu. Dari arah belakang panggung, mereka memarkirkan mobil dan terlihat banyak sekali para fans dari anak-anak hingga orang dewasa menunggu antrian masuk ke konser itu. Luka pun sedikit takjub melihat pemandangan tersebut dan juga penasaran siapa artis yang mereka begitu sukai hingga rela berjam-jam menunggu dalam antrian.

"Rrrrrt….rrrtt..", ponsel Ibu Luka berbunyi.

"Luka, kau tunggu sebentar di tenda ini ya…ibu akan segera kembali", sambil membuka ponsel genggamannya. Luka pun mengangguk tanda mengerti.

Tampak Luka hanya duduk diam dan memperhatikan ibunya yang semakin lama pergi menjauh darinya. Dan sesekali juga melihat orang yang lalu lalang sibuk mempersiapkan pagelaran konser itu. Perasaan sepi dan sendirian pun kembali ia rasakan.

oOOOo

Tak lama suara hiruk pikuk mulai mengisi suasana panggung konser itu ditambah dengan sinar matahari yang tampak kemerah-merahan menghiasi langit. Sungguh pemandangan yang indah dan ramai. Diikuti suara jeritan dan histeris para fans yang terdengar begitu keras ketika sebuah mobil sedan warna silver datang ke arah samping panggung. Semua mata pasti akan tertuju pada mobil itu dan tampak seseorang yang telah mereka tunggu dari tadi keluar dari mobil.

Sementara itu, Luka yang mulai tampak sibuk membantu ibunya di ruang studio perlengkapan.

"Luka, bawakan kotak perlengkapan ini ke ruang ganti di sebelah pojok kanan ya.." tegas perintah dari ibunya dengan segera ia lakukan tanpa mengeluh.

Di saat Luka sedang menuju ruang ganti, dari arah berlawanan tampak kilatan lampu kamera diikuti beberapa orang staff yang sedang mengawali seseorang dan menjadi sorotan publik. Luka yang merasa asing dengan pemandangan di depannya hanya tertunduk diam tanpa memerhatikan orang-orang tersebut. Begitu juga sebaliknya dengan seseorang yang sebenarnya tampak tak asing bagi Luka dan tengah sibuk menjawab singkat dari pertanyaan-pertanyaan wartawan. Sehingga tidak menyadari satu sama lain ketika mereka saling berpapasan.

Hampir menjelang malam, persiapan konser solo tampak sangat siap digelar. Luka yang merasa gerah melepaskan jaket ungu itu. "Huffp…aku cape, pasti sangat berat pekerjaan ibu sebagai manager artis", sambil mengambil tempat duduk.

"Luka, kau sudah makan belum? Kalau kau mau, kamu ambil kotak makanan di dekat halaman parkir mobil kita. Ibu mulai lapar…", ungkap ibunya yang menghampirinya sambil mengambil tempat duduk di dekat Luka.

"Baik…", jawab Luka sambil tersenyum meninggalkan ibunya.

oOOOo

Sesaat Luka yang sedang pergi menuju parkiran mobil, jadi tersesat. Cukup banyak lorong jalan ke beberapa ruang sehingga ia tak mampu mengingat ke arah mana yang benar. Ditambah tak ada orang satu pun ketika Luka tersesat saat itu. "Huuh, benar-benar sial…", keluhnya.

Akhirnya Luka mengarah ke sebuah ruangan yang menyala dengan pintu sedikit terbuka. Dan terdengar percakapan seseorang dari dalam ruangan itu.

"Gakkun, sejak dulu aku…aku menyukaimu...", ungkap seorang gadis berambut hijau pendek dengan rona wajah manis memerah sambil menarik baju pria itu.

Luka yang berada di balik pintu merasa terkejut akan adanya adegan pernyataan cinta di lokasi konser. Dengan tetap diam dan bersembunyi, ia masih berada disitu tanpa diketahui dua orang tersebut.

"Benarkah itu…?", jawab seorang pria berambut ungu dengan serius sambil menyandarkan gadis berambut hijau itu ke dinding.

Rona wajah yang tak dapat ditutupi pada gadis itu menyiratkan bahwa ia benar-benar menyukai pria berambut ungu itu. Sedangkan si pria membalasnya dengan mendekatkan wajahnya sambil tersenyum manis sehingga membuat gadis berambut hijau itu berubah sedikit egois.

"Aku ingin Gakkun menjadi milikku seorang! Ku tak rela, kalau Gakkun selalu berada dekat dengan Lily…", ungkap gadis itu dengan manja.

Luka yang mendengar kata-kata gadis itu, pun wajahnya memerah.

"Hehe…Gumi mulai egois ya…", Gakupo hanya terkikih mendengar pernyataan gadis itu.

Melihat sikap Gakupo yang hanya dianggap sepele dan tidak serius, Gumi pun mengacuhkan tanggapan Gakupo dengan memalingkan wajahnya yang cemburu. Bagi Gakupo, ini sangat menarik perhatiannya sehingga ia tak kalah untuk merayu kembali.

"Jika aku harus menjadi milikmu, aku akan mendapatkan apa?", ungkap Gakupo dengan bola mata birunya yang serius hanya tertuju pada Gumi seorang sehingga membuat Gumi tampak takluk lagi pada pesona pria berambut ungu itu.

Dengan perasaan yang meluap-luap pada Gakupo, Gumi hanya bisa terdiam seribu bahasa. Sedangkan Gakupo dengan lembut mencium tangan kirinya yang indah membuat Gumi benar-benar tak bisa berkata-kata lagi. Terdengar degup kencang debaran dada Gumi yang ia rasakan, sehingga ia tak mampu lagi menolak reaksi Gakupo. Tentu saja dengan reaksinya yang seperti itu membuat Gakupo mulai berani mencium bibirnya. Tapi tiba-tiba…

"Klontaaaak….klontaak…prank!"

Tak sengaja Luka yang sedari tadi berada dibalik pintu menyenggol tumpukan kayu penyangga. Spontan saja, semuanya terkejut dengan bunyi itu. Gakupo pun melangkah menuju pintu dan di dapatnya bayangan seseorang disana. Betapa kagetnya Luka mengetahui dirinya telah diketahui olehnya dan mereka sempat saling bertatap muka. Entah kenapa Luka merasa tak asing dengan sosok pria itu seperti pernah bertemu sebelumnya tetapi malah sebaliknya, Gakupo menatap sinis kepada Luka.

"Ma…maafkan aku..", Luka yang tampak panik pun berlari meninggalkan mereka.

"Siapa, Gakkun? Apa ada orang tadi?", sahut Gumi dari belakang Gakupo.

"Tidak…tidak ada siapa-siapa kok…", jawab Gakupo yang masih menatap arah perginya Luka. "Cih, dasar pengganggu…" dalam benaknya, Gakupo merasa sedikit kesal dengan adanya Luka pada saat itu tanpa menyadari bahwa ia pernah bertemu Luka sebelumnya.

oOOOo

Tepat pukul 08.00 PM, konser solo Kamui Gakupo pun mulai digelar. Suara penggemar dan penonton pun mengisi kemeriahan pembukaan konser tersebut. Dan muncullah sosok artis di panggung yang telah lama mereka tunggu, Kamui Gakupo, dengan pesonanya membuat semua penonton bersorak ria.

Sementara itu, Luka masih duduk termenung memikirkan kejadian tadi dan berusaha mengingat sosok pria yang pernah menolongnya.

"Luka, kau sedang apa? Ibu lihat kau jadi sering melamun, apa ada masalah?", tanya ibunya yang sedikit khawatir.

"Ah, … tidak apa - apa kok, bu", jawab Luka yang tengah tersadar dari lamunannya.

"Oh, ya … ibu sampai lupa memperkenalkanmu pada rekan kerja ibu di sini, ayo ikut …", ajakan ibu Luka yang sedang senggang dari pekerjaannya dan Luka pun mengikuti ibunya dengan senyuman senang.

"Salam kenal, namaku Megurine Luka baru saja pindah ke kota ini…", sambil membungkukkan badan, Luka memperkenalkan diri ke semua staff dan teman kerja ibunya. Banyak tanggapan hangat dan ramah semua orang dari tempat kerja ibunya, Luka pun sangat senang sekali.

"Manager, siapa gadis cantik yang ada di sebelah mu? Kenapa hanya aku yang belum diperkenalkan?", ungkap seorang pria berambut ungu panjang yang datang dari atas panggung dengan senyum manisnya.

Luka tampak sedikit terkejut melihat pria itu lagi dan berusaha menyembunyikannya.

"Manager?…. Panggil aku Bu Hana, sering kali kau tidak sopan pada senior mu", jawab ibu Luka dengan ketus.

"Hehehe…maaf, Bu Hana. Tak akan ku ulangi lagi, jadi siapa dia? Boleh aku tahu…?", pinta Gakupo dengan tetap tersenyum manis pada manager-nya itu.

"Hmm…dasar kau ini tak pernah berubah, melihat gadis cantik saja sudah membuatmu penasaran", jawab ibu Luka dengan sedikit mengeluh. "Dia putriku satu-satunya, namanya Megurine Luka, kemarin datang dari London untuk menetap tinggal bersamaku. Karena belum ada pekerjaan tetap, aku membawa kemari untuk membantuku", ucap lanjut ibu Luka sambil memperkenalkannya pada Gakupo.

Gakupo terlihat sangat senang sekali mengetahui putri manager-nya itu, sedangkan Luka tampak gugup berkenalan dengannya. "Hi, namaku Kamui Gakupo tapi cukup kamu panggil Gakkun saja. Nama-mu Luka, ya?", ungkapnya dengan tetap tersenyum manis sambil melangkah mendekati Luka. "Nama-mu cantik sekali, seperti orangnya…", dengan kata-kata rayuannya, Gakupo pun akan mulai mencium tangan kanan Luka tapi hal itu dengan cepat dicegah oleh ibunya.

"Plaaakk!", genggaman tangan Gakupo dengan Luka pun di tepiskan oleh Bu Hana.

"Stooop! Cukup sampai disitu, Gakkun…!", ucap tegas Bu Hana pada Gakupo.

Luka yang tampak kaget dengan tindakan ibunya hanya bisa diam mengikutinya. Begitu juga dengan Gakupo.

"Ku tak akan biarkan putriku menjadi mangsa mu selanjutnya, ingat itu…!", ucap lanjut sinis dari Bu Hana dengan membawa pergi putrinya yang berharga itu.

"Waah, kasihan sekali …. Belum apa-apa sudah ditolak oleh ibunya … Hihihi.."

"Sepertinya kau belum cukup beruntung mendapat restunya, Gaku…!"

"Iya, tuh … lebih baik kau menyerah saja, deh! Hahaha ….", ungkap beberapa orang staff di sekitar Gakupo.

Mendengar banyak komentar dari kejadian itu, tampak aura kekalahan di sekeliling tubuh Gakupo, dengan raut wajah bergaris menghitam. Sedangkan orang-orang yang berada di sekitar Gakupo merasa sedikit khawatir dengan reaksi yang diterimanya.

oOOOo

Sorakan meriah dari para penggemar Kamui Gakupo masih terdengar hingga menjelang akhir konsernya. Terlihat kesuksesan konser solo tersebut dengan penuhnya kursi penonton dan terjualnya semua tiket konser. Hal itu pun terbayar dengan tampilnya perdana artis yang mereka kagumi itu. Dengan sangat professional, Gakupo tampak pandai menyembunyikan masalah yang sebelumnya terjadi di belakang panggung tadi. Tetap bisa membawakan konsernya itu hingga akhir dengan penampilan yang terbaik.

"Selamat Gakupo, konser ini bisa sukses!" ungkap senang dari beberapa staff-nya.

"Iya, terima kasih. Ini kan juga berkat kerja keras kalian…", ucap bangga Gakupo kepada para staff tersebut.

Gakupo yang tampak kelelahan pergi menuju ke ruang gantinya tapi sebelum sampai disana tampak sosok berambut pink berdiri sendirian di pintu keluar. Gakupo merasa kenal dengan sosok itu pun menghampirinya.

"Hai, Luka … akhirnya kita bisa bertemu lagi ya", ucap Gakupo sambil menepuk pundak gadis itu.

Luka merasa kaget dengan kedatang Gakupo saat itu dan tidak tahu harus berkata apa.

"Ah, i..iya..", jawab Luka yang masih terbata-bata.

Gakupo mulai mengamati sosok Luka yang mirip dengan orang yang ketika itu bersembunyi di balik ruang ganti ketika ia bersama Gumi.

"Hmm…apa sebelumnya kita pernah bertemu ya?", tanya Gakupo penasaran.

Mendengar pertanyaan itu, Luka bingung harus menjawabnya iya atau tidak. Karena ia merasa bersalah telah mengganggu Gakupo ketika ia bersama pacarnya.

"Jangan-jangan kau orang yang tadi diam-diam menguping pembicaraanku dengan Gumi kan?", tanya Gakupo dengan penuh selidik. Luka benar-benar tampak puncat untuk menjawab pertanyaannya.

"Se…sebenarnya aku tak bermaksud begitu, ma…maaf aku hanya tersesat dan bingung hingga tak sengaja mendengarnya… maafkan aku", ungkap Luka yang tertunduk malu dan tampak sangat gugup menjawab kecurigaan dari Gakupo.

Tentu saja, Gakupo yang melihat reaksi Luka yang seperti itu tampak senang dan tetap melanjutkan kelakuannya. Kemudian Gakupo mulai serius menatap wajah Luka yang tampak ketakutan, sehingga Luka hanya bisa diam dan terpojok di dinding.

"Benarkah bisa ku percaya kata-katamu itu? Siapa tahu kau akan berniat menyebarkannya agar bisa menjadi skandal buatku, kan…", ungkap Gakupo dengan sinis menatap wajah Luka. Gakupo pun mendekatkan dirinya hingga membuat gadis berambut pink itu tak mampu menjawab lagi.

Perasaan Luka yang bercampur aduk saat itu hanya bisa diam dan memejamkan matanya karena tak sanggup lagi menatap Gakupo. Mendapatkan kesempatan itu, Gakupo pun mencoba mencium bibir mungil Luka yang tampak indah itu.

Apakah yang akan terjadi selanjutnya?

To be continue ….


Oke, sekian dulu cerita di Chapter 2 ini. Gimana kesan dan pesan kalian di ceritanya kali ini?

Ada yang bagus tidak? Saya mengharapkan pendapat kalian saja, kok.

Sampai jumpa di cerita selanjutnya …. ^_^

Poe Art