Belach ©Tite Kubo
A Lift © Nenk RukiaKate
Pairing : Ichiruki
Genre : masih setia ma Romantic
Rate : T
Warning : AU, Typo, OOC maybe, cerita bertele-tele, kacau, abal and segala ketidaksempurnaan masih ada disini.
Special thanx to: Silver Andante, Naruzeha AiChi, Rukippe, Shizuku Kamae, Hepta Py, Reiji Mitsurugi, Nyia, Shinshi, Aina Kurochiki, hendrik. widyawati, Seo Shin Young, Lavender kururu-chan, Rakuga Nay, Maknae Kazuma, Ray Kousen7.
Happy reading ^^,
Splash
Suara konslet yang halus bersamaan dengan teriakan histeris seorang gadis dalam kotak otomatis tersebut, "GGGYYAAAA! AAHHH! TIDAK! TIDAK! LEPASS!"
0o0
"Nona tenanglah, tenanglah! Nona! Nona! NONA TENANGLAH!"
Keadaan didalam kotak tertutup otamatis itu sedikit ricuh karena lampu yang tiba-tiba padam, mesin yang tiba-tiba berhenti dengan tambahan dua penghuni berlainan jenis di dalamnya saling berteriak histeris.
Ajaibnya setelah sang pria berteriak, sang wanita langsung bungkam dan lampu penerangan tiba-tiba kembali menyala, walau tidak dapat dipungkiri keduanya menyadari bahwa tumpangan otamatis mereka juga berhenti berjalan, dengan kata lain diam ditempat dengan angka di atas pintu berada diposisi angka 15 dengan anak panah turun berhenti menyala. Keduanya terdiam dengan posisi yang belum berubah semenjak sang wanita berteriak, sang wanita terduduk di pojokkan dengan menarik dan meremas kuat kemeja serta jas sang pria sekaligus. Sedangkan sang pria terpaksa berlutut di hadapan sang wanita sambil tidak menyadari bahwa salah satu lengannya memeluk sang wanita sedangkan yang satunya membelai wajah wanita itu.
Sang wanita tersadar lebih dulu, dengan kekagetan luar biasa dan sisa tenaganya dia kembali berteriak dan mendorong pria itu terjatuh. "KYYAA! Apa yang kau lakukan HAH!" sambil beringsut menjauhi pria itu dan berlari ke depan pintu lift. Walau dia sadar bahwa hanya dirinya dan pria itu yang mungkin tertinggal diruangan terbatas ini, tapi dia masih berharap ada seseorang yang masih tinggal di dalam gedung ini, maka dengan tergesa dia kembali berteriak.
"HEY! SIAPAPUN TOLONG AKU! PAK IKAKU!" Rukia berteriak pada celah pintu dan kamera pengintai yang sangat dia tahu pasti ada walau diruangan sesempit ini, sambil berulang kali memencet tombol lonceng yang selalu ada menyertai tombol angka disamping pintu lift.
Satu menit.
Dua menit.
Lima menit.
Rukia masih setia berteriak meminta pertolongan.
Menit ke enam dia sudah ambruk di ambang pintu sambil membenturkan kepalanya ke dinding baja keras nan dingin pula setelah dia menyadari bahwa usahanya akan sia-sia belaka, lagi-lagi dia merutuki dirinya sendiri.
Betapa bodohnya dia sehingga bisa terkurung disini bersama dengan seorang pria tak dikenalnya pula. Mana tadi pria itu sempat memeluknya, pria ini tergolong orang waras atau tidak? Atau jangan-jangan dia seorang penjahat? Pengintai? Penguntit? Pria mesum? Pria macam apapun dia tetap saja ini merupakan sinyal bahaya untuknya.
Ini sudah merupakan keadan yang gawat darurat! Apa yang bisa dilakukannya ditengah keadaan seperti ini? Aha, menelpon! Rangiku bilang, jika sesuatu terjadi dengan dirinya dia harus segera memberitahukan keadaan seperti ini kepada Rangiku Matsumoto, salah satu sahabat baiknya.
Dengan sangat tergesa dan tingkat kewaspadaan penuh pada pria asing itu, Rukia berusaha meraih tasnya. Setelah dapat, tanpa mengalihkan pandangannya dari pria asing berambut orange yang masih terlihat santai itu, Rukia merogohkan tangannya kedalam tas mencari benda yang ingin ia temukan. Setelah itu dengan cepat dia mengetikkan nomor yang sudah pasti sangat dia hafal dengan sedikit gemetar, dan hatinya kembali mencelos begitu mendapati layar ponselnya kosong.
Memang hanya dirinya wanita super bodoh yang bahkan lupa untuk mencharge ponselnya sendiri selama 2 hari ini, jadi jangan salahkan siapapun jika ponselnya kehabisan daya disaat dia perlukan seperti sekarang ini. Dan lagi-lagi dia harus menghela nafas dalam untuk kesekian kalinya.
Dibandingkan dirinya yang terlihat super heboh seorang diri, pria itu justru bertingkah sebaliknya, sangat tenang bahkan terlihat seperti biasa saja seolah ini bukanlah sesuatu hal yang buruk, terkunci berdua di dalam lift bersama seorang wanita asing –bukanlah sesuatu hal yang buruk?
Tidak ada yang mereka lakukan selain berdiam diri sambil sesekali mengawasi satu sama lainnya, tidak ada yang mengajak bicara kecuali helaan nafas dan makian yang Rukia lontarkan untuk dirinya sendiri. Apa yang harus dilakukan Rukia sekarang?
"Ehm…" rupanya Rukia berusaha menguatkan dirinya.
"He- Hey!" Rukia berusaha berbicara dengan orang yang sedang duduk di seberangnya. Rukia berusaha menetapkan hatinya dengan susah payah sebelum memulai perbincangan, setidaknya orang itu sedikit merespon walau hanya dengan kerutan di dahi yang semakin mendalam.
"Apa kau punya handphone?"
"Bodoh," rutuk Rukia dalam hati, "tentu saja dia punya handphone, semua orang punya handphone!"
"Boleh kupinjam handphonemu? Baterai handphoneku habis, kita harus menghubungi seseorang jika tidak ingin terjebak disini bukan?" ungkap Rukia mencari cara dan alasan karena bagaimanapun dirinya tidak sudi jika harus terjebak dalam lift ini terlalu lama, bisa-bisa dia ketinggalan acara favourite kesayangannya itu.
Dengan malas pria itu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Rukia yang merasa senang karena orang itu mendengarkan ucapannya harus kembali merenggut kesal karena yang dilakukan orang itu tidak sesuai keinginannya -pria itu mencabut baterai handphonenya sebelum diserahkan kepada Rukia.
Rukia hanya bisa menatap kaku tangan yang terbujur kehadapannya dan kini gantian dirinya yang mengerutkan kening pada pria itu.
"Dasar pelit! Apa maksudnya ini?! Melepaskan baterai? Jadi aku tidak boleh meminjam punyanya? Dasar sombong, mentang-mentang handphone mahal, keluaran terbaru pula, tapi bukan berarti dia harus melakukan ini kan?!" umpat Rukia dalam hatinya.
"Ini," kata orang itu masih sambil menyodorkan kepunyaannya dihadapan Rukia, "pakai saja sesukamu," lanjut orang itu lagi.
"Dasar kepala orange busuk! Ku cabik kepalamu baru tahu rasa nanti! Tenang Rukia sepertinya orang ini benar-benar tidak waras," andaikan saja Rukia bisa berteriak mungkin kata-kata itu yang akan terlontar dari mulutnya. Tapi sekesal-kesalnya dirinya, dia masih bisa menguasai tingkat emosinya sendiri.
"Tidak, terima kasih," jawab Rukia dengan senyum palsu lalu berubah cepat ke raut mode kesalnya lagi, dan orang itu hanya mengedikkan sedikit bahunya lalu menaruh benda itu begitu saja disampingnya.
Bagaimana ini? Orang itu tidak bisa diajak bekerja sama rupanya? Rukia mulai meniliti lagi.
"Handphone itu produk terbaru perusahaan ini, yang memiliki handphone itu hanya para direksi karena belum diproduksi masal dan Launching-nya juga kalau tidak salah kan hari ini sekalian pesta itu? Lalu, dia direksi yang mana? Seingatku mereka itu sudah tua semuanya, sedangkan dia sepertinya seumuran denganku, siapa dia sebenarnya?"
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" pria itu membuka suaranya pada Rukia.
"Eh, tidak," sangkal Rukia menyadari kebodohannya, ternyata tadi dia berpikir sambil memandangi orang itu rupanya. Siapapun orangnya tidak akan pernah suka ditatap dengan penuh kecurigaan seperti yang sedang dilakukan Rukia tadi.
"Jangan berbohong, jelas tertulis diwajahmu kalau kau sedang memikirkan ku, bukan?"
"Khe,yang benar saja?" cengir Rukia meremehkan, walaupun itu benar tidak mungkin kan Rukia mengakuinya, memang siapa dia?
"Kenapa kau ingin cepat-cepat keluar dari sini?" tanya pria itu lagi.
"Yang jelas supaya tidak berduaan denganmu," jawab Rukia cepat, padahal yang ingin Rukia katakan adalah, "tentu saja agar aku bisa menonton chappy, bodoh!"
"Memangnya kenapa kalau berduaan denganku?" ucapnya sambil memanjangkan kakinya agar bisa terjulur santai dan mendapat tatapan tidak percaya dari Rukia.
"Yang benar saja tuan? Siapapun tidak ada yang ingin terjebak di dalam ruang sempit ini, malam-malam pula, harusnya ini waktuku untuk beristirahat, aku ingin pulang ke rumah, tidur, setelah itu besok bangun pagi dan bekerja lagi! dasar orang tidak waras," Rukia segera menyumpal mulutnya sendiri begitu kata terakhir keluar, tidak menyangka kata-kata itu terucap juga akhirnya.
Melirik malu-malu ke arah pria itu karena sudah kelepasan bicara, tapi yang menjadi subyek hanya tersenyum sambil bersedekap dada –gaya yang angkuh menurut Rukia.
"Kenapa kau menyebutku tidak waras? Kau tahu siapa aku?" lanjut pria itu lagi.
"Siapapun kau, aku tidak peduli, yang jelas kau sudah membuatku marah karena membuatku harus berdiam diri disini! handphonemu itu satu-satunya jalan keluar kita berdua, kau malah melepaskan baterainya, kalau bukan tidak waras, apalagi namanya," ujar Rukia dengan sedikit menahan emosinya.
Andainya saja Rukia bisa mendengarkan kata lirih yang pria itu lontarkan, Rukia pasti akan mendengar kata 'menarik' terucap dari bibirnya.
"Siapa namamu?" pria itu cerewet juga ternyata, pikir Rukia. Inginnya Rukia tidak menjawab pertanyaan pria itu, tapi rasanya tidak sopan jika ada yang bertanya dan kau tidak menjawabnya, apalagi yang ditanyakan adalah namamu.
Rukia berpikir sejenak sebelum akhirnya dia menjawab, "Rukia, Rukia Ku- ehm… kau bisa memanggilku Rukia."
Rukia merasa ada yang salah lagi dengan kata-katanya, bukankah seharusnya dia menyebut dengan sapaan 'anda' karena sepertinya pria itu memang bukan pria sembarangan, tapi biarkan sajalah, sudah terlanjur, mau bagaimana lagi?
"Ichigo, namaku Ichigo Kurosaki, kau bisa memanggilku Ichigo dan jangan tertawa!" perintahnya karena melihat Rukia berusaha agar dirinya tidak tertawa terlalu keras ketika mendengar sebuah nama yang baru saja pria itu lontarkan. Ichigo –Strawberry.
"Hah… ternyata kau sama saja, namaku bukan Strawberry seperti yang ada di otakmu itu, namaku diambil dari kata pelindung dan Ichi-satu, kau mengerti sekarang?" tutur Ichigo menjelaskan dan dijawab oleh Rukia dengan hanya membuat bibirnya membentuk huruf 'o' tanpa mengeluarkan suara.
Apa dia bisa membaca pikiran seseorang? Dari tadi dia bisa menebak isi pikiran Rukia dengan mudah. Orang ini benar-benar bukan orang biasa, Rukia harus waspada pada tipe orang seperti ini, begitu pikirnya lagi. Tapi siapa namanya tadi, Ichigo Kurosaki? Sepertinya Rukia pernah mendengar nama ini, tapi di mana ya?
"Kenapa kau masih ada di sini? Bukankah semua karyawan harusnya hadir di pesta malam ini?" tanya pria itu lagi – Ichigo.
Rukia mengangkat bahunya, "tidak ada dalam jadwalku, yang aku tahu… aku harus menyelesaikan tugasku seperti biasanya, dan setelah aku sadar… semuanya memperingatkanku tentang hari ini, tapi… karena aku tidak sadar, ya sudah, aku hanya menghabiskan waktuku seperti biasanya, dan di sinilah aku sekarang," diakhiri dengan senyuman Rukia.
"Bilang saja kau tidak suka pergi ke pesta, kenapa harus pakai alasan berbelit seperti itu?" Rukia mengerutkan keningnya sebagai tanggapan tidak suka.
"Kau tidak tanya kenapa aku juga masih ada di sini?" lanjut Ichigo lagi.
"Bukan urusanku," Rukia benar-benar tidak peduli padanya.
"Apa kau ada janji dengan seseorang atau ada orang yang sedang menunggumu di rumah?"
"Tidak ada. Aku hanya seorang diri."
"Kalau begitu kau tidak keberatan kan menemaniku di sini?"
"Jadi kau sengaja?"
"Tidak, kerusakan Lift ini bukan tanggung jawabku, aku hanya sedang memanfaatkan keadaan," ungkapnya santai.
Rukia benar-benar bersikap waspada sekarang. Apa maunya orang ini sebenarnya? Dia benar-benar tidak waras, mana ada orang yang rela terjebak di dalam lift seperti ini kalau bukan dirinya seorang! Dia saja sudah mengutuk dirinya sendiri sebanyak ribuan kali karena bisa-bisanya dia terjebak dalam situasi seperti ini –sesuatu yang tidak pernah terpikirkan, bahkan dibawah alam sadarnya.
Dan apa tadi yang orang itu katakan? Dia meminta dirinya –Rukia Kuchiki- untuk menemani pria orange tidak waras itu berduaan di lift terkutuk ini! Berduaan?! Dalam Lift?! Orang ini benar-benar mengerikan! Sebenarnya sedaritadi Rukia tidak ingin mengakui kata ini, tapi sepertinya mau tidak mau dia harus mengatakan bahwa dirinya memang sedang tertimpa –sial.
"Berani mendekat kuhancurkan kepalamu!" Ancam Rukia serius. Sedangkan Ichigo hanya terkikik geli melihat respon Rukia yang begitu berlebihan menurutnya.
"Jangan berlebihan seperti itu, aku tidak akan melakukan apapun padamu. Cukup seperti ini saja, kita berbicara berdua, kau di sana dan aku di sini. Lagipula jika sesuatu benar-benar terjadi padamu aku yang akan bertanggung jawab –Ouch!" Rukia melempar sepatunya pada Ichigo, saking kesalnya menahan amarah karena perkataan pria itu sedari tadi.
"Kau itu punya sopan santun tidak sih!" bagaimanapun dirinya adalah sorang Kurosaki, tidak seorangpun yang berani membantah, memaki, apalagi marah kepada dirinya, hanya dia seorang –Rukia. Tapi entah kenapa Ichigo tidak bisa marah kepada wanita ini, tidak bisa merasa kesal padanya, malah sebaliknya dia ingin mengenal wanita ini lebih dekat. Ada yang aneh disini, ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang tidak pernah dia lihat, tidak pernah dia dengar, apalagi tidak pernah dia dapat –sesuatu yang berbeda.
"Sekali lagi kau berbicara sesuatu yang tidak masuk diakal, maka aku tidak akan segan-segan melayangkan sepatu ini tepat di kepala orange-mu itu, mengerti!" Ancam Rukia sambil mengacungkan sebelah sepatunya yang hanya dijawab dengan bahu Ichigo yang terangkat.
"Hey orang tidak waras, cepat aktifkan ponselmu. Aku-ingin-keluar-dari-sini, dan aku-tidak-ingin-berduaan-denganmu, jadi bisa kan kau mengakhiri drama ini sekarang? Walaupun aku tidak memiliki seseorang yang sedang ku tunggu ataupun menungguku, bukan berarti aku tidak memiliki kerjaan lain kan?" Ichigo menatapnya penuh keheranan.
"Handphone-mu itu, walaupun tidak ada sinyal sedikitpun, di sana sudah tertanam radar yang akan menunjukkan keberadaan posisi kita via satelit. Jadi, orang yang memiliki benda yang sama bisa melacaknya, bahkan perusahaan ini. Jadi aku mohon tuan yang terhormat, bisa kan kau membantuku sekaliii saja. Kalau kau ingin tetap di sini, silahkan aku tidak akan mengganggu. Tapi aku ingin pulang, tolonglah…" Rukia berbicara masih ditempat semula, inginnya sih dia menggunakan jurus puppy eyes miliknya, tapi dengan orang ini? Jangan harap dia akan melakukannya!
"Jadi, kau tahu tentang produk ini juga? Kau dari bagian apa?"
"Riset dan Operasional," Ichigo hanya menganggukkan sedikit kepalanya.
"Lalu, kau tahu kan produk ini merupakan produk istimewa, yang memilikinya baru orang-orang tertentu diperusahaan ini, jadi kau tahu siapa aku sekarang?" Ichigo mulai mengungkapkan jati dirinya, walaupun dia tidak pernah suka dengan cara seperti ini, tapi untuk menaklukkan wanita di hadapannya ini harus menggunakan cara yang sedikit -special.
"Ya, aku tahu produk itu, dan ya aku juga tahu siapa saja yang harusnya memiliki produk itu, tapi aku tidak tahu sama sekali dengan dirimu, memangnya kau siapa?" jawab Rukia ringan.
"Kau benar-benar tidak tahu siapa aku?" Oh yang benar saja, hampir seluruh orang dijagat raya ini tahu siapa dirinya –Ichigo Kurosaki- putra tunggal Ishin Kurosaki, pemilik perusahaan ini, pewaris seluruh aset keluarganya. Bahkan semua wanita menginginkan dirinya sebagai pasangan mereka, mengelu-elukan namanya, memuja-muja dirinya, dan apa tadi yang Rukia katakan, siapa dirinya? Bahkan seluruh karyawan diperusahaan ini mengetahui dengan jelas jika dia adalah CEO baru di perusahaan ini.
Rukia menggeleng sebagai tanggapan.
"Aku tahu kau bukan seorang karyawan biasa, tapi… rasa-rasanya aku benar-benar tidak pernah tahu ada orang sepertimu diperusahaan ini," jawabnya jujur.
"Kalau begitu ini akan menjadi PR mu begitu lift ini terbuka, mengerti." Lagi-lagi Rukia hanya mengangkat bahu sebagai jawaban, pertanda dia memang tidak peduli sama sekali.
"Hey-"
"–Ichigo, panggil aku Ichigo, kau Rukia kan," Rukia hanya diam menanggapi pernyataan Ichigo.
"Ichigo, sebenarnya apa maumu? Kita bisa mati jika tidak segera keluar dari sini…" Rukia sudah mulai ke mode pasrahnya, karena sepertinya akan percuma jika harus berdebat dengan pria ini.
"Tidak tahu. Mungkin… aku ingin berdua saja denganmu seperti ini –Ouch, Arrgghh," Rukia benar-benar menepati kata-katanya dengan melempar sepatu berhaknya tepat mengenai kepala Ichigo.
Ichigo sudah meringis kesakitan seperti itu, Rukia malah asik tetap duduk ditempatnya tak bergeming sedikitpun. Sedikit rasa iba karena sepertinya lemparannya tadi tidak pelan, tapi salahnya sendiri bermain-main dengan seorang Rukia.
Ichigo masih memijat kening dan kepalanya yang teratuk sepatu. Ternyata wanita itu berbahaya juga, tidak seperti kebanyakan wanita yang luluh dengan tipuan rayuan seorang laki-laki, Rukia malah berbalik menyerangnya dengan ganas, benar-benar wanita yang luar biasa.
O0o
Krryuukkk
Ditengah kebisuan seperti ini, bisa-bisanya perut Ichigo berbunyi minta diisi. Malu dengan rekan seruangannya, dia memilih diam sambil memalingkan muka pada dinding di sampingnya. Rukia yang sedari tadi terdiam pun mau tidak mau menyunggingkan senyum lucunya pada pria itu.
Tayangan Chappy the Bunny pasti sedang berputar di channel kesayangannya, sialnya ternyata malam ini pun dia tidak bisa menonton satu-satunya acara hiburan untuk dirinya. Dan itu semua gara-gara pria tidak waras berkepala orange dihadapannya ini. Sekarang rasakan, dia kelaparan karena sudah melewatkan jam makan malamnya! Kalau Rukia? Tidak perlu ditanya, perutnya sudah cukup kenyang diisi dengan camilan yang selalu dia kunyah saat bekerja.
Krryuukkk
Astaga? Separah itu kah dia kelaparan? Mau tak mau Rukia yang tadinya senang melihat penderitaan yang sedang ditahan Ichigo, malah membantunya menemukan jalan keluar.
"Kau lapar?" tanya Rukia hati-hati, sambil mencari sesuatu dalam tasnya.
"Tidak," sangkal Ichigo.
Rukia menyodorkan sebungkus roti padanya, "makanlah."
"Tidak perlu," jawab Ichigo menjaga harga dirinya.
Inginnya Rukia kembali melempar ke kepala Ichigo, tapi ini makanan, dia masih tahu aturan. Akhirnya dengan sedikit enggan dan sedikit keberanian Rukia mendekati Ichigo yang masih kukuh menahan laparnya.
"Makanlah, aku tidak peduli padamu tapi pada perutmu. Seharian tidak diisi kau bisa terkena maag lama kelamaan," Rukia berkata sambil memaksa tangan Ichigo agar mau menerima roti pemberiannya.
"Maunya sih aku beri racun, tapi tidak mungkin kan?" Ichigo masih ragu untuk memakannya, tentu saja tidak ada racun ini kan makanan kemasan?
"Kau sendiri tidak makan?" Jadi ini yang menjadi alasannya untuk ragu? Dan Rukia menggeleng sebagai jawaban.
"Aku masih punya ini," ujarnya sambil mengeluarkan permen lolipop kesukaannya.
"Memangnya kau bisa kenyang dengan itu?" Rukia mengangguk sebagai jawaban.
"Bagaimana kalau kita bagi dua?" ujar Ichigo seraya membuka bungkusan itu dan menyerahkan sepotong bagian pada Rukia.
"Tidak perlu, aku sudah banyak makan hari ini. Kalau kau masih lapar, aku masih punya beberapa biskuit dan snack, itupun kalau kau suka dengan pangananku," tawar Rukia sambil mengeluarkan seluruh koleksi makanan yang tadi sempat dia masukkan sebelumnya.
"Ini camilanmu?" tanya Ichigo tak percaya, "tentu," Rukia menjawabnya langsung.
"Kau makan sebanyak ini tapi kenapa tubuhmu sekecil ini?" dan Ichigo kembali mendapat tatapan tidak senang dari Rukia, "aku memang sudah seperti ini dari dulu, ada masalah denganmu?" sewot Rukia.
"Maaf, bukan itu maksudku... Hah, ya sudahlah sepertinya aku selalu salah dihadapanmu. Terima kasih untuk rotinya," ucap Ichigo pasrah sambil memakan rotinya.
"Aku tidak punya minum, jadi kau makan permen saja ya," Rukia kembali menyodorkan beberapa permen ke tangan Ichigo.
"Kau sudah tidak takut padaku?" Ichigo merasa heran karena sedari awal Rukia memasang sikap waspada padanya, tapi sekarang Rukia bahkan duduk manis disampingnya. Rukia juga sedikit bingung dengan keadaan ini, jadi dia hanya menjawab dengan kata, "tidak tahu."
o0o
Mereka kembali membisu setelah Ichigo menyelesaikan acara makannya, tapi setidaknya hubungan mereka tidak sekaku di awal. Sekarang mereka duduk bersisian sambil bermain dengan pikiran masing-masing.
"Kau marah?" Ichigo memulai percakapan mereka kembali.
"Kenapa harus marah?"
"Karena membuatmu terjebak di lift ini bersamaku," Rukia mengangkat sedikit bahunya sebelum memberi jawaban, "entahlah, tapi sepertinya aku tidak berhak marah. Seperti katamu, Lift ini rusak bukan karena keinginan kita."
"Radarnya, sudah kulepas dari awal."
"Maksudmu?" tanya Rukia kebingungan.
"Radar itu sengaja aku lepas karena aku tidak suka diawasi, jadi percuma saja kan?"
"Tapi kan kita masih bisa menghubungi seseorang," pinta Rukia lagi, karena ini merupakan alasan yang tidak masuk di akal menurut pikirannya. Yang Jelas, Ichigo memang sengaja tidak ingin ada yang menolong mereka saat ini. Tapi kenapa?
Seolah menjawab pertanyaan Rukia, Ichigo menyodorkan beberapa lembar foto dari dalam saku jasnya pada Rukia. Dan setelah melihatnya Rukia baru menyadari siapa sesungguhnya seorang Ichigo Kurosaki.
PoCuRuNk:
Hohoho maap ya terpaksa nenk cut lagi supaya kita bisa ketemu lagi chap depan ^^, sudah panjang kah? apa masih kurang? masih bertele-tele juga kah? sifat Rukia... ya jadinya begitulah akhirnya heheh, maap ya kalau tidak sesuai keinginan, nenk sih ngebayanginnya, dia jadi seorang workcaholic yang periang, yang menyukai kehidupannya, apa adanya, simple, ya.. begitulah pokoknya... ^^, makasih buat semua yang sudah mampir dan menyempatkan meriview cerita yang lagi-lagi gaje ^^, okz c u Next Chap yua ^^, Luph u... Buat yang log-in, nenk kirimin surat ya^^, makasih banyak.. Semoga chap ini juga berkenan buat semuanya, walaupun nenk tahu ini agak sedikit ringan dari pada biasanya sepertinya ^^a *Hug...Hug*
Rukippe: Makasih ya udah mampir, iya nih Rukia kesel beut ma Ichi, sampe sepatunya dia lempar xixiixi..
Nyia: Benarkah? udah update nyh, termasuk kilat ga? Hehheh.. makasih ya Nyia udah mampir juga...
Shinshi: Makasih ya Shinshi... hehehe Ichigo baru berani ngomong tuh sekarang, and skrg udah panjang belum?
Seo Shin Young: Moga chap ini bisa menjawab semua pertanyaan dirimu ^^, sekarang masih pendek kah? kalau tentang keluarga Rukia masih belum bisa nenk ungkapkan sekarang, hehhe, sisanya mungkin akan terjawab di chap depan... updatenya cepet gak? Makasih ya Shin Young, eh bolehkan nenk panggil bgtu, nama korea biasanya kan dipanggil begitu ya?
Luph u all,
211012
-Nenk RukiaKate-
