A/N : Haha...akhirnya update juga. Ma'af kalau ada yg penasaran mati-matian2 karena 'cliffhanger'nya, hehe...bagi yg udah baca fanfic'nya "TacticX" ini pasti gk bakalan penasaran. Gk usah kkhawatir, kalian akan bertemu Elsa dkk di sini. Oh, ya! Dialog dari Frozen'nya gk gw translate, tetep supaya dialog 'nya jadi khusus buat karakter OC'nya yg dari modern universe. Tau maksud gw, kan? Kalo kebanyakan keberatan dgn dialog yg 'nya, Insya Alloh akan gw translate juga. Gw cuma pengen tau gimana pendapat kalian kalau dialognya seperti ini. Kita ketemu lagi di A/N berikutnya. For now...kita kembali ke leeeepto...eh salah...kita kembali ke fanfic!
Disclaimer : Saya tidak memiliki apapun di sini. Frozen milik Disney, & Ide cerita milik penulis originalnya, TacticX
"Uh...apa yang terjadi?" Kau bilang sambil kau sadar dan menggelengkan kepalamu. Kau menunggu sampai pandanganmu kembali normal sebelum melihat ke depanmu. Kau disambut dengan pemandangan yg mengherankan. Kau dikelilingi dengan pepohonan yg lebat dan tanah berumput. Kau berdiri hati2, bersandar ke pohon untuk membantumu berdiri, sebelum melihat2 ke sekilingmu. Kau merasa tidak aneh dengan tempat ini. Kau seperti di Indonesia, tapi saat masih banyak hutan dan pepohonannya. Kau terlihat seperti di suatu bukit. Kau menatap ke depan ddan melihat lembah besar, dan bukit2 di sisi lainnya. Ke utara ada sebuah gunung besar dan ke selatan, lembah itu menghilang di belakang bukit2 itu
"Di mana...aku?" kau melihat ke sekilingmu dan melihat peralatanmu tergeletak tidak jauh di depanmu, gtapi tidak ada tanda2 dari anggota tim'mu yg lain. "Silvy! Indra! Seps! Helo?"
Kau melihat ke sekelilingmu, mendengarkan jika ada respon tapi yg kau dengar di sini hanya kicauan burung dan tiupan angin lembut. Kau berlari ke arah ranselmu dan mengeluarkan radiomu.
"Ini Staf Sersan Y/N kepada unit manapun dalam jangkauan. Apa ada yg mendengarku? Ganti." Kau mendengarkan radiomu tapi tak ada respon. Kau mencoba mengganti salurannya ke frekuensi darurat nasional. "Ini Staf Sersan Y/N memancar ke Frekuensi Pemancar Darurrat. Apa ada yang mendengarku? Ganti."
Kau mengehela nafasmu saat tdk ada jawaban. Kau meletakkan kembali radio,u, pikiranmu penuh dgn pertanyaan yang kau tidak tahu jawabannya. Yang paling besarnya adalah, kau ada di mana. Yang keduanya, bagaimana bisa?
Kau memungut raselmu dan meletakkannya di punggungmu sebelum mengambil m4'mu dan mengisi iulang. Kau tahu bahwa dalam keadaan biasa kau tidak seharusnya mempersenjatai dirimu kecuali jika ada ancaman terdeteksi, tapi kau tidak tahu kau ada di mana dan mungkin saja kau berada di teritorial musuh. Kau berhati2 turun dari lereng dan menuju dasar lembah di bawah dan mungkin menemukan sebuah sungai yg bisa kau ikuti, atau mungkin sebuah rumah. Jika ini adalah pegunungan, maka mungkin di sini ada sebuah antena yang tersembunyi di suatu tempat yg bisa kau gunakan untuk menghubungi pangkalan militer. Tapi prioritas utmamamu adalah menemukan sisa anggota grupmu.
"Helo?" kau memanggil dan mendengar jika ada respon. Kau melanjutkan menuju ke bawah lereng. Kau melihat sebuah bukit tinggi di sisi lain lembah yang memberimu pemandangan strategis di sekelilingmu, sejak sisi di mana kau berada telalu terjal untuk dilewati. Kau meloncat dari sebuah ladang dan mendarat di tanah yg datar dan akan berjalan ke arah kirimu, tapi sesuatu mengalihkan matamu.
Kau melihat sebuah ransel punggung di tanah dekat pepohonan dan langsung tahu itu milik Seps.
"Seps!" Kau berteriak sambil berlari ke dalam semak belukar. "Seps!"
"Huhh...apa yg terjadi?" Datang suara pelan dari belakangmu. Kau meletakkan ranselmu dan berlari ke arah temanmu yg tergeletak dan membatunya berdiri. "Sial...Staf Sersan? Apa yg sudah terjadi?"
"Aku tak tahu. Apa kau terluka?"
"Tidak, Pak."
"Sial...panggil saja namakuu. Kita sedang tidak di pangkalan." Kau bilang sambil memberikan ransel punggungnya dan mengambil punyamu.
"Di mana Silvy dan Indra? Di mana kedua saintis sialan itu?"
"Aku taj tahu." Kau bilang sambil berkeliling di sekitar jika ada tanda2 dari mereka. Kau tahu yang lainnya pasti dekat jika salah satunya sudah ketemu. "Ayo. Kita menuju lembah di wabah sana."
"Oh bagus. Setidaknya Sniper dan MG'ku masih ada." Seps bilang sambil dia memakai ransel punggungnya dan mengisi ulang MG'nya.
"Di mana assault riffle'mu?" Kau bertanya.
"Di bahuku...tapi sampai kita tahu di mana kuta, kita gunakan ini." Kata Seps sambil memegang m249'nya. Kalian berdua berjalan turun sampai kalian sampai di dasar lembah dan sungai yg mengalir di sana. Kau mencium airnya sebelum meminum sedikit.
"Airnya aman."
"Bagaimana kau tahu kalau orang Russia belum meracuni air itu?" Tanya Seps sambil menyelidiki airnya.
"Ya, aku belum mati, jadi kurasa itu pertand baik." Kau tertawa sambil kau menyebrangi sunngai, Seps menjaga di belakangmu. Kau melihat sungai itu mengalir dari gunung yg besar di kejauhan. Kau bisa melihat sungainya melebar mengalir ke bawah tapi untuk sekarang, kau perlu menemukan sisa anggota tim-mu.
"Hey...apa kau dapat menghubungi seseorang di pangkalan?"
"Tidak. Sinyalnya statis. Mungkin lembah ini mengganggunya." Kau bilang sambil kau mengeluarkan PDA'mu.
"Di mana kita?" Dia bertanya.
"Tidak tahu." Kau melihat PDA'mu dan terkejut menemukannya berkedip2 'Sinyal GPS Tidak Terdeteksi'. "Kupikir ini tidak kenapa2 meski sedang di lembah dan gunung."
"Aaah...kau tahu barang2 militer. Mereka selalu rusak." Seps bilang sambil dia mengeluarkan telepon'nya dan memeriksanya. "Meh. Juga tidak ada sinyal."
"Ayo. Kita temukan dulu yg lain sebelum malam."
/30 menit kemudian.../
Kau akhirnya mencapai puncak bukit itu, tapi itu tidak membantumu menjawab di mana kau berada.
"Ini tidak seperti Jakarta. Sial, satu2nya tempat seperti ini yg pernah kulihat ada di pedalaman Bandung atau Lembang." Seps bilang padamu sambil dia melihat sekeliling. "Jika kita di pedalaman Bandung...kita perlu sinyal asap untuk berkomunikasi."
"Berhenti mengacau. Coba hubungi lagi pangkalan." Kau memberitahunya. Kau berjalan ke ujung bukit sementara dia mencoba mengkontak pangkalan lagi. Kau melihat ke bawah lereng jika di sana ada pemukiman, tapi kau tidak melihtanya.
Kau ada di mana?!
"Jangan bergerak!" Datang suara perempuan yang kau kenal dgn baik. "Pelan2 berbalik...tunggu...Satf Sersan? Kampret...kalian darimana saja?!"
Kau berbalik dan menemukan Silvy dan Indra, bersama dengan seorang saintis, bersiri di semak2. Mereka semua keluar dan berlari ke arahmu dan Seps dengan lega karena tidak ahnya mereka yg selamat.
"Syukurlah. Kupikir hanya kami berdua di sini." Seps bilang dgn lega sambil dia meletakkan kembali adionya."Y/N. Aku masih tidak bisa menghubungi siapapun."
Kau berbalik menghadap saintis itu dan berjalan ke arahnya.
Tiba2, kau mendengar sebuah teriakkan.
"Anna...can you please stop fidgeting!" Elsa mengerang saat adiknya menampar wajahnya dgn sikunya lagi.
"Sorry...but since the cushions were removed, its not very comfortable." Kata Anna sebelum secara tdk sengaja duduk di pangkuan Elsa.
"Anna! You're heavy." Kata Elsa sambil mendorong adiknya turun.
"Elsa! Anna! If you two don't stop groaning, I'll chuck you both out
myself." Idun memperingatkan mereka. Anna duduk dgn menggulungkan matanya tepat saat keretanya berhenti.
"We can't be there already..." Kata Adgar saat dia akan membuka pintu, tapi pintunya terbuka tiba2.
"DON'T MOVE OR I'LL BLOW YA HEADS OFF!" Mereka berempat terkejut saat seorang bandit dgn senapan mengarahkan senapannya pada mereka.
"We know who you are your majesty. We also know how much you have." Bandit yg lainnyamenyeringai.
"We're commandeering this carriage." Kata yg lainnya di depan saat kedua bandit lainnya mulai mengikat mereka.
"One sliver of ice...and I'll blast your head off witch." Kata si pemegang senapan itu sambil mengarahkannya pada kepala sang ratu.
"You will not get away with this." Kata Agdar.
"Oh...but we already have." Dia tertawa saat mereka menyeret mereka beempat menuju kamp mereka, yang berada beberapa ratus kaki jauhnya.
"Well, well. What have we got here?" Tanya si pemimpin bandit itu. "Oh...you've done good men. We'll be a lot richer after this. But do ensure that the witch queen doesn't use her powers."
"You wait till I..."
"Sir...we found a girl trespassing..." Kata seorang bandit sambil menyeret seorang wanita yg meronta2 menuju mereka.
"Er...what the hell is she wearing?" Tanya si pemimpin bandit. Wanita itu memakai mantel putih panjang di atas & bawah.
"Who cares...this is a pretty one here." Kata seoraang bandit sambil mengelus2 wajahnya. Wanita itu merespon dgn memukul wajahnya sebelum menendang bagian vitalnya. Beberapa bandit menertawakannya sementara yg tadi jatuh ke tanah kesakitan. Dia langsung berdiri dan menampar wajahnya.
"You bitch!" Katanya. Wanita itu langsung berteriak sekeras2nya.
"Shit! Shut her up!" Perintah si pemimpinnya sebelum seorang bandit mengambil kain dan mengikat mulutnya. "Toss her with the others."
"Relax sir. There's no one out here to hear her scream..."
"Y/N! Kau dengar itu?" Tanya Silvy sambil mengeluarkan senjatanya. Kau mengangguk sambil melihat ke arah asal teriakan itu.
"Itu terdengar seperti Sifa!" Kata Ramdan dgn mata melotot. "Dia salah satu saintis yg bersama kita tadi."
Kau cepat2 mulai berlari ke bawah bukit bersama dgn yg lainnya ke arah asal suara teriakan itu. Saat kau mendekati daerah yg dicari, kau melihat sebuah kereta jaman dulu terparkir di tengah jalannan tanah.
"Err...aku belum melihat salah satu benda itu sekarang ini." Kata Indra saat kalian berempat dan saintis itu berjalan melewatinya.
"Y/N! Lihat!" Kata Silvy sambil menunjuk ke depan. Kau melihat sebuah bangunan kayu yg dikelilingi pagar kayu tinggi yg terletak di dekat hutan terbuka. Di hutan terbuka itu, ada banyak pria memakai mantel hitam dan penutup kepala. Kau mengeluarkan binokularmu dan menganalisa kebun itu. Di sana kelihatannya ada 5 orang terikat di belakang, dan saat diperhatikan lebih dekaat, kau melihat salah satunya memakai mantel labolatorium, yang mana kau langsung mengenalinya sebagai saintis wanita yg kau lihat di lab. Yg keempat lainnya, mereka memakai...pakainan yg tidak kau lihat kecuali dalam film atau kebangsawanan dan yg lainnya.
"Errr...Y/N...apa bandit itu...memakai pedang dan busur bersilang?" Tanya Indra dgn tatapan heran saat dia menatapmu. Kau mengecek bandit2 itu dan terkejut karena dia benar. Mereka dipersenjatai dengan pedang2, pisau, dan busur bersilang...dan bukan yg memakai serat karbon, tapi yg terbuat dari kayu yg terlihat seperti di film2 zaman pertengahan.
"Kau bercanda, kan?" Tanya Seps saat dia mengambil binokular Indra dan melihat. "Kampret...benar jua. Apa – apaan ini? Apa mereka pikir mereka masih di abad ke-17, huh?"
"Indra. Pilihan?" Kau bertanya.
"Err...ya, kita punya 30 pria dipersenjatai dengan...senjata dari abad ke-18..." Jawab Indra.
"Kampret! Salah satu dari mereka memiliki senapan. Terakhir kali aku melihatnya yaitu di film tentang Perang Sipil Amerkia." Seps tertawa saat Silvy mengambil binokular dan melihatnya sendiri.
"...dan kita memiliki assault rifle, senapan mesin...dan peluncur granat. Kita bisa mengalahkan mereka dgn sniper..tapi...kupikir akan lebih mudah jika dgn gaya brutal." Kata Indra membuat Seps mengangguk setuju.
"Aku bisa melakukan itu." Seps tertawa.
"Apa kau yakin ini bukan semacap tipuan?" Tanya Silvy.
"Lihat mereka...mereka benar2 ketinggalan zaman. Di sana tidak ada satu pun senapan modern atau radio. Ya Tuhan, mungkin mereeka masih bekerja mengguakan lilin." Seps tertawa.
"Oke. Hati2, ti. Kita masih tidak tahu apa ini semacam tipuan...kita juga tdk tahu di mana kita. Tetap buka mata kalian." Kau bilang. Kalian berempat dgn tenang berjalan ke ujung barisan pepohonan samapi kalian berada 100 kaki dari kamp itu.
"Berapa jarak tembak busur bersilang?" Tanya Indra.
"Sekitar 100 kaki." Jawabb Seps. "M4 milik kita dapat menempuh lebih dari 500 kaki, jadi..." "...serang?" Silvy bertanya padamu.
"Hati2...dan serang."
"SERANG!" Seps berteriak sambil mengeluarkan MG'nya dan menembaki bandit2 itu.
A/N : Selesai sudah chapter 2'nya, gimana menurut kalian kalo dialog'nya seperti itu? Apa ada yg keberatan? Kalo iya, beritahu gw di review, ya! Oh, iya! Kalo ada yg penasaran kenapa gw translate fanfic orang mulu, gk bikin fanfic sendiri atau apa. Sebenarnya ide2 gw udah tertulis di fanfic ini oleh penulis2 hebat di fanfiction. Dan gw ng'lakuin ini sambil ngelatih skill gw ng'translate tulisan tanpa kamus, soal'nya salah satu mata kuliah gw adalah "Reading", lumayan nambah2 skill biar cekatan translate tulisan2 kaya gini. Gw tunggu review'nya, ya! See you next week!
