PRINCE'S

PAIRING : NARUSAKU

GENRE : ROMANCE

NARUTO © MASASHI KISHIMOTO

Terimakasih untuk 8 review pertama saya. Semoga datang lagi ^^

Yamigakure no Ryukage. Namikaze Sholkhan. joaneflo. corn flakes. Achiles. Guest 1. Guest 2. Hyu.

.

.

.

Sakura Haruno : 18 tahun, wanita ceria, ikut klub judo tapi sudah berhenti demi menjadi wanita feminine agar di sukai oleh senpainya.

Naruto Uzumaki : 35 tahun, guru komikus Sakura. Sangat ceria, super mesum tapi bisa berubah dewasa ketika ia mulai bekerja.

Neji Hyuuga : 37 tahun. Manajer di bidang makartin. Playboy, banyak wanita yang ingin menikah dengannya. Namun pria itu memilih melajang dan hidup dengan wanita-wanita tanpa terikat.

Kiba Inuzuka : 36 tahun. Karyawan kantor. Suka merayu sakura, Jomblo dan selalu terjebak perasaan dengan istri orang. Sifat anehnya sering menyembunyikan celana dalam Sakura.

.

Chapter 2. cinta pertama…menyakitkan.

.

Pagi yang seperti biasanya. Suasana dingin, sepi…burung berbunyi dan matahari yang perlahan naik. Dan sudah dua minggu pula Sakura tinggal bersama dengan guru dan dua orang temannya.

"KYAAAAAAAAAA!" bukankan tadi ku bilang sepi.

Sakura gadis dengan rambut pink cerah menghantam bantal kesana-kemari, ia panik luar biasa, kenapa tidak. Pas ia bangun dari tidur indahnya, mata hijaunya melihat tiga pria yang usianya diatas rata-rata tidur di ranjang yang sama dengannya…di ranjang yang sama dengannya… di ranjang yang sama. Perlu aku ulang?

Gadis itu murka, ia berubah menjadi monster, mencakar apapun yang ada, bahkan ia tidak segan-sengan mempraktekkan beberapa teknik judo yang dipelajarinya di sekolah. Tiga orang dewasa yang terkena amukan benar-benar kewalahan, bahkan salah satu pria yang suka mentato wajahnya pasrah dan duduk di lantai sambil menatap ngeri pada si wanita remaja.

Itu benar… gadis sekolahan bukan rubah betina? Sedangkan si pria dengan rambut panjang menatap sinis ia juga sebal dengan beberapa cakaran yang mampir di mukanya bahkan tangan mungil gadis itu berani menjambak rambut kesayangannya.

"Berhenti! Atau kau ku lempar keluar!" akhirnya ia mengeluarkan suara sakralnya. Sakura terkesiap dan berhenti dari tindakan gila. Pria satunya lagi yang berinisial Uzumaki bernafas lega, sebenarnya ia paling parah lihat saja mukanya yang merah-merah dan jalannya yang tertatih-tatih.

Sakura terengah-engah namun ia masih menampilkan wajah murka.

"Kenapa kalian tidur di kamarku!?" si rambut panjang hanya mengorek kupingnya, sedangkan dua pria lainnya malah nyengir.

"Aku salah masuk kamar. Ku pikir ini kamarku." Si rambut panjang itu, melenggang masa bodoh setelah mengucap beberapa kata yang sepertinya bukan masalah. Sakura hanya berdiri tidak mampu membuka mulut saking syoknya.

Si pria tato tertawa dan menggaruk kepala. "Kurasa penyakit berjalan dalam tidurku kambuh lagi Sakura-chan. jadi tak sengaja sampai di kamarmu." Adakah alasan seperti ini?

"Ha…ha…kalau aku, aku menjagamu Sakura-chan dari dua pria tua ini…ha…ha" Si komikus menyeringai lebar, pria yang di sampingnya berkedut kesal.

"Kami tidak tua baka!"

Sakura menghela nafas, tinggal dengan pria-pria ini selama seminggu membuat ia tahu sifat-sifat mereka.

Baiklah, kurasa aku belum memperkenalkan mereka kan?. Akan ku perkenalkan mereka mulai dari si pria bertato.

Namanya Kiba umur 36 tahun, sedikit lebih tua dari si komikus, menurut Sakura yang sudah tinggal selama seminggu ia si mesum nomor tiga di rumah kontrakan itu. Sakura harus ekstra hati-hati dengannya ia sering menyembunyikan celana dalamnya di kamar pria itu.

Lalu mengapa sakura menyebutnya si mesum nomor 3. Itu karena Kiba jarang melakukan hal-hal aneh pada dirinya. Pria itu lebih tertarik pada celana dalamnya. Dan ia sudah 2 tahun melajang alias jomblo.

Pria dengan rambut panjang namanya Neji Hyuuga. Pria yang kalau diperhatikan lebih lama kamu akan lebih terpesona. Ia nampak sangat berwibawa, tampan, keren, jantan, kuat dan berotot. Dia setahun lebih tua dari Kiba.

Sifatnya kalau belum terlalu kenal. Ia nampak arogan dingin dan cuek, namun menurut Sakura dia si mesum nomor 2, kenapa? Berbeda dengan Kiba, pria ini sedikit lebih berani. Ia kadang dengan sengaja meremas pinggulnya atau yang lebih ekstrim menyentuh dadanya.

Kalau Kiba jomblo maka pria satu ini tidak pernah sepi dengan namanya wanita. Setiap hari Sakura akan kewalahan menerima telpon dari beberapa wanita yang dikencani pria ini. Ia playboy yang mesum.

Dan pria terakhir adalah si komikus yang menjadi gurunya. Untuk wajah Sakura pasti bilang …wow… Tapi untuk sifat Sakura perlu menyiapkan kaki dan tangannya. Ia adalah si mesum nomor satu.

Pria satu ini memang mesumnya nggak ketulungan. Mulai dari mengintipnya mandi, dengan sengaja menyentuh tubuhnya sampai pada mengambar tubuh bugilnya. Yang tentu saja mendapat bogem mentah dari Sakura.

Tapi biarpun mereka seperti itu. Nyatanya pria-pria itu sangat baik. Walaupun mereka mesum tapi mereka tidak pernah melakukan tindakan tidak terpuji padanya. Mungkin para pria itu hanya sedikit aneh saja.

Sakura sekali lagi melirik temanya Ino Yamanaka yang tertawa dengan beberapa teman sekelasnya. Ia sebenarnya tidak ingin menjauhi temannya tersebut, tapi ia juga gensi kalau mendekati Ino duluan.

Ia menghela nafas berat, apa yang sebaiknya ia lakukan.

"Sakura." Ia begitu terkejut mendengar suara pria disampingnya, Sakura mengenal suara pria itu. Shikamaru Nara. Cinta pertamanya.

Pria itu menguap malas kemudian duduk di kursi disamping Sakura. Wanita itu mendadak kelu, ia sedikit merona dan gugup duduk berduaan begini.

"Boleh bicara?" jangankan bicara meminta apapun pasti Sakura sanggup. Biarpun kemarin pria itu menyatakan cinta pada Ino. Ia belum melupakan perasaannya pada pria ini. Ini pertama kali ia jatuh hati pada seorang pemuda.

Sakura mengangguk, Shikamaru lalu nampak canggung. Ia masih diam untuk beberapa menit, Sakura meliriknya. Lalu ia menjadi terpesona. Ketika pria ini menggaruk hidungnya. Ia sangat tampan, kulit putihnya begitu indah ketika dilihat lebih dekat. Alisnya tebal, bibirnya juga indah. Ia merasa kalau lelaki itu makhluk sempurna.

Pria itu masih diam juga, Sakura berinisiatif untuk bicara duluan, ia tersenyum, menyibak rambutnya mencari perhatian pria itu.

"Anginnya…sejuk. Sudah musim gugur ya…jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" ia tersenyum anggun, Sakura berharap Shikamaru bisa melihat kecantikan dan keanggunannya yang tidak kalah dari Ino.

"—Bicaralah, jangan sungkan…apapun itu. Aku cewek yang lapang hatinya. Yang bisa menerima apa saja…Shikamaru-senpai." Ia tersenyum lagi sok imut. Pria itu semakin canggung ia kembali menggaruk rambutnya.

"Entah harus bicara bagaimana…" Sakura jarang melihat pria itu seperti ini, ia nampak sedikit merona. Ia jauh lebih tampan kalau malu-malu begitu.

"Bicara saja." Sakura berubah gugup. Jangan-jangan Shikamaru sudah sadar bahwa bukan Ino yang disukainya melainkan seorang gadis yang ada didepannya.

"Sakura…kamu kan temannya Ino…" Sakura cukup terkejut ketika nama temannya disebut, ia bisa merasakan perasaan sesak ini. Ia mulai takut dengan apapun yang akan keluar dari mulut pemuda itu.

"Maukah kau menolongku?" tidak…aku tidak mau menolong, sakura ingin bilang begitu, tapi entah kenapa mulutnya tidak mau terbuka.

"Katakan pada Ino aku buka cowok yang sembarangan menggoda cewek. Bisakah kamu sampaikan bahwa aku sungguh menyukainya." Sakura menelan ludah dengan susah payah. Cowok itu serius. Matanya memandang tegas bahkan ketika ia memohon.

Rasanya lebih sakit daripada ketika ia mendengar kabar Shikamaru menyukai temannya. Permintaan pemuda itu sungguh melukai perasaannya.

Ia…tahu, akhirnya ia dan Ino tidak bisa bersahabat lagi, ia akan memperjuangkan cintanya…demi merebut Shikamaru yang ia cintai.

….

TING…TONG…DUG(suara bel dan suara orang jatuh)

"…Kiba pulang! Naruto buka pintu!" Naruto yang masih asik menggambar sketsa melirik sebal pada Neji yang menyisir rambutnya. "Aku sibuk kau saja."

Sakura yang memperhatikan pekerjaan Naruto menciut dengan aura gurunya dan Neji-sensei dan dengan empat pasang bola mata yang mengirim death glare secara sangat tajam.

"B-biar aku saja sensei!" Sakura kemudian tergopoh-gopoh menuju pintu, lalu ia cukup terkejut dengan pemandangan diluar. Kiba-sensei sepertinya mabuk dan menjatuhkan dirinya didepan pintu dengan kepala menancap di tanah.

"Kiba-sensei ba…baik saja?" lelaki itu tidak menjawab, ia berdiri kemudian bergaya seolah-olah tidak apa-apa padahal dahinya berdarah.

"Tidak apa-apa, pinky girls…! Ini salah satu cara stretching unikku. Ohoho…"

"Eh…darahnya…" Sakura merasa kasihan melihat tingkah gurunya ini.

Sakura yang melihat para senseinya bersantai ia mulai berinisiatif untuk membuat mereka kopi, Kiba sangat berterimakasih pada gadis itu.

Naruto memandang Kiba lama, yang dipandang risih…"jangan melihatku seperti itu. Rubah mesum!" ia melempar bantal ke pemuda itu. Nampaknya ia sudah mandi. Kiba sudah segar dan sepenuhnya sadar dari mabuk.

Pemuda itu memang kerap sekali pulang dalam keadaan mabuk.

"Kiba-senpai. Kurasa kau mengalami gejala masokisme. Adanya keinginanmu yang kurang terpuaskan…kan ada hal seperti itu. Amarah terhadap diri sendiri dilampiaskan dengan melukai diri…"

Kiba meminum kopinya, berusaha menahan gusar pada perkataan kohainya. Naruto masih melanjutkan perkataannya sambil mengajari Sakura mengambar bulat-bulat di sebuah buku sketsa. Sedangkan Neji asyik membaca buku diatas sofa, ia kelihatan tidak tertarik dengan pembicaraan para kohainya.

"Aku baca di buku psikologi…orang-orang yang kehilangan indentitas dan gelisah karena penyakit murung atau rasa minder, menunjukkan gejala melukai diri sendiri. Misalnya lengannya…"

Kemudian naruto akan menabok pantai Sakura. Bila gadis itu tidak paham penjelasannya. Wanita itu menahan amarah. Kalau bukan karena Naruto-sensei dengan mengajarinya, ia pasti meninju muka pria itu yang tersenyum mesum kearahnya.

"Ketika mencucurkan darah dan merasakan sakit, baru merasa dirinya hidup dan merasakan suatu kenikmatan—itu sama dengan senpai."

Kiba meletakkan cangkirnya begitu saja, ia memandang tajam pada kohainya yang bahkan tidak peduli perkataannya bikin ngejleb seseorang.

"Aku jatuh Cuma karena langkahku tidak seimbang! Aku…sejak kecil sering jatuh. Masa itu gejala sadomasokisme." Naruto tidak peduli ia dengan santai berkata…

"—Berarti sejak kecil gejalanya…"

HUAAAA!—Sakura lagi-lagi syok dengan teriakan Kiba-sensei.

"Sebel! Aku tidak punya rasa minder, kok! Apa kurangnya aku…!"

"CEWEK!!" tepat sasaran.

Naruto kembali mencontohkan sebuah gambar pada Sakura yang berubah menjadi kikuk.

"Senpai…sudah 2 tahun berpisah dengan pacar terakhir, kan? Kakak tertekan secara batin karena tidak ada cewek di sisimu sampai umur ini. Itu bersambung ke rasa minder dan sampai gejala masokisme seperti melukai dahi sendiri. Bagaimana? Analisa yang keren, kan?!"

Kiba menghentak-hentakkan kakinya, ia menuju ke sofa tempat Neji berada, tanpa bicara ataupun meminta, ia merebut buku yang sedang dibaca pria itu.

"Kamu. Neji Hyuuga! Jangan sering kasih buku psikologi kepada Naruto! Psycho di rumah ini cukup kamu saja, mengerti?! Awas ya!"

PAK…

Neji kembali merebut buku itu dan menghantam buku itu kepada dahi Kiba. "Sopanlah pada yang lebih tua!"

Naruto masih tidak merasa bersalah. "Kamu butuh cewek yang bisa mengendalikan kamu." Kiba begetar kemudian jatuh dengan tidak elit ke lantai. Neji melirik sebelum membuka kembali buku psikologinya.

"Betul…fenomena amarah berlebihan…"

DUENG…

Sakura menjambak rambutnya frustasi ternyata mengambar itu tidak mudah… ia begitu kaku bahkan menggores tinta di kertas itu pun tak mampu ia lakukan.

"Kau bodoh…ya? Selain rata apa kau tidak punya kemampuan lainnya." Belum lagi komentar pedas Neji-sensei yang bikin panas telinga.

"Tenang saja Saku-chan, pemula memang awalnya seperti itu. Rata jangan dipikirkan, yang pentingkan ada." Sang komikus nyengir lebar menampilkan deretan giginya yang rapi. Sedangkan tangannya mengelus pelan dada rata Sakura.

Kedutan muncul di dahi perempuan itu sebelum kepalang tangannya menghantam pria itu.

Melihat guru-gurunya yang kelihatannya kesepian membuat gadis pink itu berpikir kalau semua orang harus punya pasangan. Hidup sendiri terlalu sepi. Teman hidup…yang cocok dan yang saling percaya dan mencinta.

Dan…yang bisa melengkapi kekurangan, bila ketemu teman hidup seperti itulah kita bisa bersatu secara sempurna. Ia berpikir…dirinya cocok dengan orang seperti apa, ya?

Tidak mudah menemukan orang yang cocok bagi kita. Pertama harus menemukan tipe yang ideal…dan untuk berkembang ke hubungan baik, harus cocok sifatnya…dan dia juga harus punya perasaan yang sama dengannya.

Meski susah menemukannya kalau orang itu suka dengan orang lain…itu sungguh…akan menjadi penderitaan yang sulit di tahan.

Ia suka Shikamaru Nara. Ia dan Shika punya otak yang sama dan sama-sama menyukai sains. Ia pikir dirinya dan pemuda itu paling cocok di mata siapapun juga.

Karena mereka kan, sama-sama pintar dan brilian.

Cinta disertai penderitaan—itu kata Naruto-sensei

Cowok yang dicintai tokoh utama jatuh cinta pada pada cewek lain. jadi tokoh utama sedih sekali… tapi dalam penderitaan itu ia menemukan 'rahasia' menjadi cewek sejati.

Itu cerita yang mengharukan sekali, tapi…apa maksudnya 'rahasia'!?

Apakah harus operasi wajah, rajin ke salon dan membesarkan dada, kemudian mengalah pesain dengan menjambak rambut dan mencakar wajahnya…lalu membuat si cowok bertekuk lutut…begitu?!

Kalau begitu…apa ia bisa mengalahkan si Ino yang dadanya diatas rata-rata ya? Soal wajah ia memang tidak kalah…karena terbukti ada aja pria yang mengajaknya berkencan, tapi kalau soal dada…

—Hasilnya pasti—

Ck, ck…ia memegan dadanya sendiri, sial…biarpun ini sering disentuh oleh para sensei tapi dadanya tidak tumbuh juga. Apa perkembangannya sudah berhenti ya?

Sakura akhirnya menutup buku untuk melatih jari tangannya… ia bosan melihat gambarnya yang jelek, akhirnya ia keluar.

Di sana diatas sofa di dekat jendela gurunya duduk, matanya memandang keluar dengan pandangan kosong. Entah kenapa Sakura jadi berdebar melihat pria itu dari samping.

Wajah senseinya tidak biasa kelihatan seperti merindukan sesuatu. Namun ketika begini. Pria itu terlihat begitu dewasa, maskulin dan jantan. Rambutnya yang pirang sedikit turun, hidungnya mancung dan garis keras wajahnya sedemikian nampak…membuat pria itu nampak gagah nan tampan.

Sakura menggelengkan kepalanya…apa yang ia pikirkan?

"Sensei…! Naruto-sensei!" Naruto terkejut kemudian memalingkan wajahnya. Ia tersenyum lembut membuat sakura sedikit terpesona.

"Kau belum tidur?" Sakura menggeleng.

"Boleh aku duduk. Aku ingin bertanya?" Naruto menganguk, gadis remaja itu memposisikan dirinya di samping pria dewasa itu.

"…Sensei… kalau cowok yang disukai suka sama cewek lain, harus bagaimana?"

"Hm…" pria itu tersenyum lebih lebar."'Jadi kau curhat?" Sakura panik.

"Itu bukan ceritaku…ah…eh…tokoh utama—tokoh utama dalam eksodus cewek cantik…bikin penasaran aja."

"Jambak rambut wanita itu, cakar wajahnya kemudian besarkan dadamu. Dan rayu lelaki itu." Pria dewasa itu kembali nyengir pada Sakura.

DUGG—wanita itu jatuh dengan tidak elitnya dari sofa.

Hanya…cara itu sajakah…?!

"Hei…Ino" si wanita rambut pirang melihat teman lamanya ini tidak minat. Tadi ia pikir Sakura datang minta maaf karena telah mengabaikannya. Ia tahu kalau Sakura menyukai Shikamaru-senpai yang kemarin mengatakan cinta padanya. Tapi ia tidak mengira kalau Sakura langsung memusuhinya begini.

"Apa?" ia menyilangkan tangannya di dada. Wajahnya sedikir gusar, karena Sakura mengajaknya ke belakang sekolah, padahal tadi ia berjanji pada teman-temannya untuk merias wajah mereka ketika istirahat.

Ino memang mempunyai banyak teman. Kehilangan orang seperti Sakura tidak menjadi masalah dalam hidupnya. Tapi bukan ia senang seperti itu. Ia dan Sakura sudah berteman cukup lama. tapi gara-gara cowok mereka jadi berantem.

"Aku mau to the point…ayo kita saling cakar!" Ino memandang bingung pada temannya yang super energik ini. "Apa?! Saling cakar?!"

"Aku suka Shikamaru-senpai! Tapi gara-gara kamu, aku tidak bisa mendapatkan cintaku! Jadi, ayo kita berduel!"

"Jidat lebar…gara-gara cowok kamu jadi bodoh! Soal cintamu, selesaikan sendiri. Kenapa melibatkanku?!"

Sakura menyiapkan kuda-kudanya. "Diam babi." Sakura berusaha mengapai Ino. Namun wanita pirang itu tentu saja berkelit. Ia benar-benar kesal. Kalau soal berkelahi tentu saja Ino kalah, ia memang tidak pandai untuk hal seperti itu. Beda dengan Sakura yang memang ikut klub judo. Jadi jangan samakan dirinya yang sangat cewek ini dengannya yang macho.

"Ayo serang aku pengecut. Aku tidak akan menyerah sebelum bisa mendapakan kembali cinta yang kamu rebut!"

"Siapa yang rebut siapa?! Aku tidak tertarik kamu ambil aja. Oke!" Ino benar-benar sangat kesal. Makeup wajahnya pasti sudah luntur sekarang karena menghindari serangan Sakura. Dan rambutnya pasti lepek gara-gara keringat. Sakura mengesalkan sekali.

"Ini tidak selesai begitu saja…!"

"Jadi maumu begini? Ini merepotkan sekali jidat lebar…!" Ino mengibaskan rambutnya. Benar sekarang jadi lepek karena keringat. Ia menatap temannya kesal…sangat, sangat kesal.

"Aduh—gara-gara seorang cowok tidak berguna brengsek—mengesalkan sekali." Sakura terdiam ia mendengar Shikamaru dihina oleh Ino. Cowok tidak berguna katanya?! Ia mengepalkan jari-jari tanganya. Sakura tidak terima Ino menghina orang yang sangat ia suka.

Dan tanpa sadar ia menampar dengan kencang pipi Ino. Membuat wanita itu terhuyung dan mengeluarkan darah disudut bibirnya. Perempuan itu memandang tidak percaya pada Sakura.

"Kamu… kalau bicara sekali lagi begitu tentang Shika-senpai…aku bunuh kamu." Ada setitik air mata yang mengenang di matanya.

"Ino!" Sakura terkejut ketika melihat Shikamaru-senpai muncul diantara mereka. Pemuda itu langsung mendekat pada Ino. Khawatir pada perempuan itu. Kemudian pandangannya berubah benci melihat Sakura.

"Sakura apa yang kau lakukan? Apa aku memintamu untuk melakukan itu?!"

"S-Shika-senpai…" bukan begini, maksud Sakura.

"Aku tidak tau kalau kau perempuan yang jahat seperti ini?"

Bukan seperti ini…! Sakura bukan bermaksud seperti itu. Shika-senpai—aku benci kamu…! Sakura tidak bisa menahan perasaannya lagi. Rasanya sakit. Ia menangis kemudian berlari sambil terus menangis.

Di rumah para sensei.

Dug—kembali terdengar suara orang jatuh. Kiba menendang pintu kemudian masuk dengan wajah kesal dan dahi berdarah.

Kali ini kelihatannya ia tidak mabuk…namun wajahnya sangat menakutkan.

"Semua cewek adalah ular! Penipu…! Harus mati semua…!"

Neji yang baru menyelesaikan ritual mandinya memandang tak kalah kesal pada pria yang baru pulang itu. Naruto nyengir saja. Sudah jadi kebiasaan melihat Kiba seperti itu.

"Ada apa lagi dengan si baka itu?"

"Paling, cewek yang ditaksir olehnya ternyata istri orang." Kiba langsung mengirim tatapan mautnya yang hanya di tanggapi senyum lebar nan pura-pura polos dari Naruto. Bikin sebel.

Ck, Neji berdecak…kalau tidak mau terjebak dengan istri orang, kenapa selalu jatuh cinta dengan perempuan yang lebih tua.

"Sakura-chan beri aku ciumanmu biar aku semangat lagi!" namun wanita yang sudah dua minggu tinggal bersama mereka tidak ia temukan, Kiba makin kesal. Padahal ia butuh cewek manis itu sekarang untung mengurangi kekesalan hatinya.

"My Sweet honey…! Sembunyi di mana?"

Sakura tidak menjawab, sejak pulang tadi ia langsung masuk kamar dan mengunci dirinya dalam lemari. Kebiasan sejak kecil. Bila ada yang bikin kesal dan banyak masalah ia biasanya masuk ke lemarinya.

…cinta…terlalu sulit.

.

Hari minggu yang bagaikan emas…mentari memamerkan sinarnya dengan terang dan bau rumput terbawa angin musim gugur di sore hari…

Sakura terus berbaring sepanjang hari. Naruto-sensei dan Kiba-sensei juga ada di rumah sepanjang minggu ini. Mereka jomblo tentu saja tidak keluar. Beda dengan Neji-sensei yang mungkin akan berkencan dengan beberapa perempuan.

Di ruang tamu, kedua gurunya ribut karena saling bercanda.—lebih tepatnya Naruto-sensei yang terus mengoda Kiba-sensei. Sedangkan dirinya berbaring terus.

Tik tik tik tik… terdengar bunyi jam…wuss wuss bunyi angin…dug…dug ini bunyi jantung Sakura…

…Sakit. Entah mana yang sakit, Sakura bingung bagian yang mana yang sakit. Ia demam. Dan jantungnya seperti tertusuk sesuatu…lemas. Ia rindu ibunya.

"Masih parah ya sakitnya?" Sakura yang memejamkan mata perlahan melihat wajah gurunya yang sedikit cemas. Ia berusaha tersenyum. Namun badannya terasa lemas.

"Makanlah dan minum obat yang telah ku siapkan flu di musim panca roba biasanya parah."Sakura berusaha duduk. Naruto membantu muridnya, ia memang khawatir pada gadis itu saat pulang sekolah kemarin. Sakura sudah terlihat tidak baik.

Ia terus menemani selama Sakura makan dan memastikan gadis itu meminum obatnya.

"Aduh…gila aku…! Neji sialan… makanya jangan kencan dengan wanita sembarangan!"

"Bukan urusanmu brengsek! lakukan aja tugasmu! Atau kepalamu akan berlubang."

Sakura dapat mendengar suara sensei-senseinya di luar yang kelihatannya meributkan sesuatu. Naruto-sensei yang ada disampingnya kelihatan tidak peduli.

"Ada apa dengan Neji-sensei?" Naruto menggaruk tengkuknya.

"Palingan ia dia ajak nikah sama cewek aneh lagi." Sakura berusaha tersenyum walaupun kondisinya sangat lesu. Selama tinggal dengan mereka ia tahu bagaimana Neji-sensei itu. Pria itu entah payboy entah apa? Ia tidak pernah memilah bila ada yang mengajak kencan. Jadinya selalu dapat cewek aneh, seperti sekarang.

"Eum…cinta sulit ya sensei. Jomblo mungkin lebih baik." Naruto melihat muridnya yang memasukkan bubur yang ia bikin kedalam mulutnya. Ia tahu telah terjadi sesuatu pada muridnya ini.

"Tergantung, bagaimana orang merasakannya."

"…Apa sensei juga pernah merasakan seperti itu? mencintai seseorang…tapi dia tidak tahu." Naruto tersenyum canggung sambil menyentuh hidung.

"…Entah, apa pernah begitu?!"

Sakura memejamkan matanya, kejadian dibelakang sekolah kembali tergiang di otaknya. Ia dibenci oleh senpainya. Rasanya miris orang yang ia cintai membencinya.

"Aku tidak tau kalau kau perempuan yang jahat seperti ini?"

Air mata perlahan jatuh dari mata hijaunya. Ia ingin menangis keras tapi malu karena ada sensei disampingnya. Ia juga butuh tempat sandaran. Tanpa sadar ia menjatuhkan kepalanya di dada bidang pria dewasa itu.

Pria itu sedikit paham kegelisahan Sakura. Ia membiarkan murid yang baru dua minggu ini tinggal bersama, memeluknya.

"Kalau seperti itu…harus bagaimana? Orang yang sangat-sangat aku suka…menginginkan orang lain…aku harus bagaimana?"

"…Seberapa kamu suka?!" air mata Sakura semakin banyak tumpah sampai membasahi baju sang komikus.

"Sangat…suka…" Naruto tersenyum lembut. Kemudian membalas memeluk gadis pink itu, jari-jarinya mengelus sayang rambut Sakura. Sejak kedatangan wanita ini dan ingin menjadi muridnya. Naruto sudah menganggap Sakura sebagai adiknya.

"Kalau begitu…lepaskan…kalau kamu cinta padanya, harus bisa cintai kebahagiannya juga…akan sakit, tidak…sangat sakit. Tapi berharap dia bahagia…itulah cinta sejati."

Setelah mengatakan hal itu. Naruto melepaskan pelukan Sakura kemudian bangkit berdiri, ia mengacak pelan rambut gadis itu sebelum keluar dari kamar Sakura.

"Lepaskan…seperti wanita sejati." Entah kenapa perasaannya sedikit tenang. Air mata bahkan tidak keluar lagi. Ternyata dibalik sifat aneh Naruto-sensei ia pria dewasa yang sungguh berwibawa.

Ia bisa menenangkannya hanya dengan kata-kata. Pelukannya juga hangat. Kemudian Sakura berubah syok, mukanya memerah sempurna. Ia dan Naruto-sensei pelukan? Ia malu juga merona…dengan wajah apa besok ia menghadapi senseinya.

Sakura kemudian berbaring lagi, tubuhnya panas…demam…ia demam…luka cinta… ia tahu ia harus bisa melepaskan perasaannya pada Shikamaru.

Sakura berdiri kikuk didepan meja belajar Ino. Perempuan berambut pirang itu sedang asyik bercerita dengan beberapa temannya. Muka Sakura sedikit merona…tapi ia harus bertahan dan tidak boleh malu, ia harus minta maaf pada temannya Ino Yamanaka. Karena sudah memusuhinya tanpa alasan dan memukulnya kemarin.

"Ino-chan…aku." Wanita itu tersenyum, kemudian menarik Sakura sedikit menjauh. Wanita berambut pirang itu kelihatan gembira.

"Jadi…" wanita itu kembali tersenyum, Sakura merasa bersalah, apalagi melihat temannya seakan menunjukan tidak terjadi apa-apa dengan mereka.

"Aku minta maaf." Ino tertawa dan merangkul sahabatnya. "jadi, kau merasa bersalah setelah memukulku?" gadis berambut merah jambu itu mengangguk.

"Oke…hukumannya—kau harus mentaktirku sebulan penuh!" Sakura memandang tidak mengerti.

"Kau tidak marah?"

"Kenapa harus marah pada sahabatku sendiri." Sakura makin merasa tidak enak. Padahal ia sudah memusuhi Ino, bahkan kemarin ia memukulnya, tapi wanita ini malah dengan gampang memaafkannya.

"Maaf Ino…dan terimakasih." Sakura menunduk, ia bahkan tidak sanggup memandang wajah ceria temannya.

"Ha…ha…kau benar-benar berubah… baka. Ya jidat lebar?!" Sakura berkedut kesal. Ia paling benci ada yang mengejeknya seperti itu.

"Kau yang baka. gendut!"

"Jidat lebar."

"Gendut." Kemudian mereka berangkulan dan tertawa bersama. Sudah menjadi kebiasaan mereka saling mengejek. Sakura senang Ino bukanlah teman yang picik. Ia harus benar-benar berterimakasih karena Ino menjadi temannya.

.

"Aku tidak keberatan. Kalau kau pacaran dengan Shika-senpai." Gadis dengan rambut pirang itu tertawa.

"Kau gila ya, Sakura. Aku tidak tertarik padanya. Apalagi aku tahu kalau kamu menyukainya."

Ino menepuk bahu wanita itu. "Tenang Saku-chan aku akan membantumu. Kita akan membuat senpai itu jatuh cinta padamu." Sakura sumringan.

"Benarkah" Ino mengangguk, tapi Sakura dapat menangkap raut aneh dari wajah Ino. Tapi ia tetap senang begitu mengetahui Ino tidak menyukai Shika. Berarti ia masih punya harapan.

Uuuuuu… sek—sek—sek

"…"

Hari minggu ini. Perasaan Sakura begitu tidak menyenangkan. Apalagi melihat wajah senseinya yang seperti tidak bernyawa.

Katanya ia mengejar deadline. Wajah mesumnya berubah serius…bahkan Sakura ikut merasakan hal yang sama ketika melihat gurunya begitu focus.

"Hm…hm…sensei mau aku bikin kopi?"

"…" tidak ada jawaban. Naruto masih sibut mengambar, sakura semakin cemas.

"…Atau teh hijau atau teh merah…kalau ada yang perlu…" Sakura terus cerewet ia ingin sekali membantu senseinya tersebut. Naruto bukannya tertolong ia malah terganggu mendengar suara Sakura. Ia memalingkan mukanya.

Sakura sangat terkejut melihat Naruto sensei seperti zombi. Ia memandang Sakura dalam, pandangannya seolah-olah bilang bahwa—jangan bicara…tolong keluar—

"Ya…!...aku mengerti." Sakura segera keluar dari kamar Naruto-sensei. Ia jatuh merosot kelantai, tidak bisa ia bayangkan suasananya benar mengerikan. Wajah senseinya seram.

Sensei lagi mengejar deadline…Sakura sangat cemas melihat kondisi Naruto-sensei. Pria itu selalu bergadang, dan terus membuat gambar untuk komiknya yang akan segera terbit. Bahkan Naruto-sensei sulit buang air besar, dan kadang kayak mayat hidup.

Akhirnya sakura tahu, sedikit tentang neraka deadline para penulis komik. Ini lebih menyeramkan dari pada yang ia duga.

Karena merasa cemas dan tidak bisa membantu karena ia pemula, akhirnya Sakura Cuma bisa membuat lelaki itu kopi dan sedikit jajanan.

"Sakura-chan…seharian ini aku kangen sama kamu…ngapain aja hari ini!" Sakura tersenyum melihat Kiba-sensei yang datang.

"Kiba-sensei sudah pulang?"

"Jangan panggil sensei. Kiba-kun oke!" Sakura tertawa. Pria satu ini memang kerap merayunya, dan kerap pula mengambil celana dalamnya. Tapi ia tidak pernah takut padanya. Itu karena Kiba tidak pernah punya niat jahat. Hanya tingkahnya saja yang aneh.

"Kau sedang apa?" Sakura tersentak dari lamunannya. Ia tersenyum lagi.

"Sensei lagi mengejar deadline. Kayaknya kurang enak badan. Jadi aku bikin jajanan sehat untuknya."

"Saku-chan…manis sekali. Aku juga ingin coba kerja di rumah aja…biar selalu bersama Saku-chan."

Tolonglah…no thanks, ya,,,! Sakura tersenyum canggung, Kiba memang sering merayunya. Itu karena ia cantik dan manis… ah…dosaku adalah terlalu cantik…

Ah tentu saja ia cantik. Ia salah satu siswi terfavorit di sekolahnya. banyak pria yang sering menyatakan cinta padanya. Hanya saja ia sudah jatuh hati pada senpai-nya Shikamaru nara yang ternyata suka sama temannya. Menyedihkan.

"Saku-chan ayo cium aku…" mulut pria itu di monyongkan, Sakura langsung memukul pria ini sampah ia mengaduh.

"Aduh Saku-chan, aku sedang patah hati…kamu juga membuat aku patah hati!"

Sakura tersenyum, ia tahu kisah kiba dari Naruto-sensei. Kata sensei Kiba jatuh hati pada wanita yang sudah bersuami. Jadi cinta mereka seperti apa, ya? Sakura risih kalau harus memikirkan Kiba merusak rumah tangga orang. Cinta…memang sulit.

"Kiba-kun jangan sedih."

"Kenapa aku harus bersedih…aku tampan dan keren! Wanita bisa datang sendiri!" tidak ada gunanya kasihan sama orang ini.

Sakura jadi panik suara Kiba terdengar keras padahal sensei lagi mengejar deadline. Suara berisik akan menganggu konsentrasi guru.

"Kiba-kun tampan sekali, jadi wajar banyak cewek suka…" Sakura kembali tersenyum gugup, niatnya memuji agar Kiba diam, namun bukan diam Kiba malah besar kepala karena di puji Sakura.

"IYA KAN?! IYA KAN?! MENURUT SAKU-CHAN JUGA, AKU TAMPAN KAN?! ADUH TAMPAN ITU DOSA…CAPEK, DEH! HO…HO…HO…"

"Pssssst sensei lagi mengejar deadline"

"AAAAAAAA" suara frustasi dari kamar kerja Naruto-sensei.

Muka Sakura pucat, bahkan ia sulit tidur. Itu karena ia cemas dan ikut menderita melihat kondisi senseinya. Ia pernah beberapa kali berniat menolong Naruto-sensei seperti semalam.

Guru akhirnya menyuruh menghitamkan sebuah gambar yang sudah Naruto selesaikan. Sakura dengan penuh semangat mengatakan 'Ya serahkan saja padaku sensei' tapi 10 detik sehabis ia mengatakan itu, ia bikin masalah besar dengan menumpahkan tinta keatas kertas yang sudah senseinya gambar.

Hasilnya…ia terbakar dengan panasnya pandangan Naruto-sensei. Waktu deadline, Naruto-sensei benar-benar mengerikan.

"Kau kenapa sih Sakura? Kau terlalu over action, padahalkan hanya video pendidikan, tapi kau seperti orang gila tadi" kemudian Ino meniru bagaimana tadi, saat mereka melihat video pendidikan teori relativitas Einstein tentang black hole. Dan Sakura mengila

"Oh tolong! Kegelapan itu…aku takut kegelapan itu…tolong keluarkan aku dari kegelapan." Sakura memandang kesal pada Ino yang meniru tingkahnya tadi. Temannya ini tidak mengerti sih kondisi Naruto-sensei.

"Bukan begitu…sekarang ruang kerja sensei jadi black hole, ruang kegelapan sejati-"

"Ha?!" Ino baru kemarin tahu kalau Sakura tidak tinggal di rumah orang tuanya lagi, tapi hidup bersama tiga orang pria. Katanya ia ingin menjadi komikus. Ah si Sakura ini berani sekali.

"Guru lagi kejar deadline—rasanya seluruh badanku jadi kering, saking tegangnya aku jadi pegal."

Ino mengangguk paham, walau kurang ngerti. "Aku juga lihat di surat penulis komik…para penulis komik menjadi seperti orang yang sakit parah kalau menjelang deadline."

"Ya…aku baru pemula, jadi tidak bisa bantu…kasihan melihatnya." Kemudian muka Sakura merona, ia memeluk tubuhnya sendiri.

"Seperti suami yang melihat istrinya mengalami penderitaan bersalin. Mungkin kamu tidak mengerti."

Ino berkedut-kedut kesal melihat Sakura yang lebay.

"Dasar penipu…bagaimana aku tahu…kita yang akan jadi istri bukan jadi suami."

"Hari ini memohon-mohon padaku supaya di nikahi?! Mana mungkin…harus tahu diri…" Neji yang sedang duduk di lantai bersama dengan Kiba dan sakura asyik bercerita tentang seorang perempuan yang minta di nikahi oleh Neji-sensei.

Sakura tidak masalah ia ikut dilibatkan pada pembicaraan kedua orang itu…tapi…kenapa harus di ruang kerja Naruto-sensei? Padahal Naruto-sensei lagi stress…karena sedang mengejar deadline. Sakura ikut frustasi.

"Wajahnya memang lumayan cantik. Dan ia juga wanita karir…tapi maaf aku tidak tertarik." Kiba yang di samping pemuda itu mengernyit jijik.

"…Makanya kalau tidak suka, harus tegas. Kamu juga salah."

"Apanya yang salah?! Neji Hyuuga, tidak akan bertahan sampai sekarang demi cewek menyedihkan seperti dia."

Naruto yang sedari kesal karena terus di ganggu sampai gemetar. Saking sebalnya ia menghantamkan kepalanya ke meja berkali-kali, menimbulkan bunyi yang menakutkan. Sakura sampai syok.

BRUK…BRUK

Kiba dan Neji hanya melihatnya tanpa rasa kasihan, Neji-sensei bahkan tidak ada perasaan ketika mengatakan, "…Biarin… itu cara dia bung stress…" dasar guru-guru tidak punya hati nurani.

Malam ini Sakura juga tidak bisa tidur. Ia sangat khawatir dan cemas dengan kondisi Naruto-sensei. Kemudian ia keluar dan datang ke ruangan kerja gurunya tersebut.

"Sensei" ia memanggil pria itu yang sibuk mewarnai gambarnya. Kemudian ia mendongak kearah Sakura.

"…?! Kenapa belum tidur?!"

"Maaf. Seandainya ada yang bisa aku bantu…tapi aku masih pemula… padahal murid sensei, tapi tidak bisa bantu." Sakura merasa tidak berguna, ia menyentuh pipinya dengan canggung.

Gurunya tidak menjawab sama sekali…beda sekali dengan hari biasa. Biasanya pria dewasa itu akan tertawa dan menganggunya. Tapi sekarang ia nampak begitu berwibawa. Sakura semakin gugup di pandang seperti itu.

"Capek. Mau aku pijat?! Aku pintar memijat." Ia jadi ngelantur. Kemudian Sakura terkesiap dengan cara Naruto-sensei tersenyum, beda dengan senyum jahil yang ia tampakkan setiap hari. Kali ini ia tulus…senyum yang benar-benar menawan. Muka Sakura semakin memerah. Melihat gurunya menggesekkan jari di hidung mancung pria itu.

"Tidak apa-apa—terimakasih. Besok bisa telat kesekolah. Tidurlah." Apa itu…Sakura tidak bisa berkata-kata bahkan tidak bisa tidur juga…dadanya berdebar keras. Sakura tidak mengerti benar-benar tidak mengerti perasaannya sendiri.

Ting…tong…

Sakura yang sedang asyik menyisir rambutnya, menenggok kearah pintu. Ia berpikir siapa yang bertamu pagi-pagi begini di rumah senseinya. Kemudian setelah rapi ia keluar.

Di depan pintu ia melihat seorang perempuan dewasa sedang bercakap dengan gurunya, ia tidak bisa begitu detail melihatnya karena terhalang tubuh Naruto-sensei yang sedang bicara dengan perempuan itu.

Kemudian perempuan itu melihatnya dan… tersenyum lembut…manis, wanita itu sangat cantik dan anggun.

Wajah gurunya juga ceria. Siapa perempuan itu? Ia sedikit syok, apa perempuan itu pacarnya sensei? Namun ia lebih syok lagi ketika seorang bocah laki-laki tiba-tiba melompat kedalam pelukan Naruto-sensei dan memanggil pria itu…

"AYAH"

Tbc…