Mana yang Bilang Menjadi Pelayan Itu Mudah?! © Imorz

a/n: setelah berbagai pertimbangan, akhirnya saya memutuskan buat menambahkan genre parody untuk fik ini.


3—Kapal Pecah


Akhirnya Akaashi berhasil mengancing seluruh setelan baju pelayannya. Ia bercermin. Mendadak merasa derajat martabatnya naik lima tingkat. Bibirnya senyam-senyum kegirangan, sesekali bertampang sok bangsawan. Ibu dan Bapak di kampung pasti bangga dengan pencapaian Akaashi. Sayang dia tidak bisa mengirimkan foto self mirror-nya pada mereka, soalnya ponsel mereka masih non-android. Mau ngirim mms, Akaashi gak ngerti.

Kalau jasnya dipakai, berasa cosplay jadi Sebastian, kalau jasnya dibuka, berasa Shizuo. Aneh. Ini pasti karena Akaashi terlalu sering mengonsumsi anime. Anak tetangga sebelah rumah suka banget lagi datang asal minta. Gak tahu menahu perjuangan Akaashi nge-wifi tiap kamis sore dengan laptop bobrok berstiker Damn, I Love Fishing (si bapak yang nempelin) sejak kelas satu SMA.

Pokoknya, penampilan Akaashi Keiji kece bukan main. Akaashi 'Kece' Keiji. Mantap akhirat.

Ia lalu melirik arlojinya, waktu telah menunjukkan pukul dua siang dan Akaashi harus buru-buru membereskan kamar tidur si tuan muda.

Satu hal yang Akaashi paling ingat dari informasi yang ibu kepala pelayan katakan adalah adanya gantungan buaya di pintu kamar tuan muda. Tadinya Akaashi pikir hanya gantungan kunci biasa ukuran sepuluh senti.

"Buset."

Ukurannya persis buaya asli, men. Dengan moncong panjang dan gigi taring mengintip (sepertinya lebih merujuk pada aligator), gantungan itu menempel sempurna di pintu. Semacam ada larangan implisit bahwa jangan macam-macam dengan orang yang punya kamar. Jangan-jangan buaya yang diformalin lagi.

Pada akhirnya Akaashi menghiraukan si buaya. Siapa suruh jadi buaya. Di darat lagi. Ia memilih membuka pintu kamar tuannya pelan-pelan sambil menilik ke dalam.

Luasnya tak jauh beda dengan kamarnya, hanya saja lebih serampangan. Bokser berada di setiap sudut, pakaian menggunung dekat televisi, kabel stik playstation serampangan, buku-buku komik berserakan, sprei kasur melorot hingga ke lantai.

Naluri keibuan Akaashi langsung berangsek menuju garis depan.

"Sabar, Keiji. Ini ujian," katanya untuk diri sendiri.


4—Sayap Kanan


Selagi Akaashi melakukan bersih-bersih, beberapa kali ia melirik ruangan di sebelah kanan yang tertutup rapat. Mungkin itu ruangan sayap kanan yang kepala pelayan maksud. Akaashi terlalu takut untuk mencari tahu. Siapa tahu ruangan peninggalan barang-barang mantan anak sungguhan?! Kan seram! Akaashi tidak ingin terseret dalam plot sinetron keluarga Bokuto.

Sebenarnya, Akaashi Keiji tidak tahu tuan mudanya itu berusia berapa, apakah masih sekolah, apakah sudah bekerja, apakah sudah menikah, atau sudah koid. Ia terlalu kudet. Maafkan.

Kamar tuan mudanya sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. Sudah kinclong dengan binar bintang-bintang imajiner. Akaashi tersenyum puas.

"Wah, tumben kamarnya rapi!"

Bola mata mendelik lebar. Ketika ia berbalik, Akaashi mendapati perawakan seorang anak SMA super tinggi masih pakai seragam putih abu-abu dengan jaket merah dan rambut hitam mengkilap yang diangkat ke atas, mirip-mirip ilalang gosong.

"Tu-tuan muda ..." Gugup, Akaashi lantas segera mendekat dan membungkuk hormat. "Saya pelayan baru tuan muda. Senang bertemu dengan anda."

"Eh?!"

"Saya Akaashi Keiji, dari kampung kecil sebuah kabupaten di luar Jawa. Tapi tenang, saya tidak norak-norak amat. Saya masih tahu apa itu aipun dan kalau punya duit lebih saya suka makan di pitsa hat."

Di belakang lelaki berjaket merah, muncul seorang lagi pemuda berseragam putih abu-abu. Lagi-lagi rambutnya jabrik, bedanya disemir putih beken, "EBUSET! Kamar gua kok jadi surga gini? Mpok Odah lagi baik apa ya?"

Akaashi melongo. Lelaki berjaket merah melongo.

Lelaki bersurai putih menyadari kehadiran Akaashi, "Jangan-jangan kamu lagi yang beresin? Makasih ya! Jadi ngerepotin, nih. Btw, kamu pelayan baru, ya?"

"Anda ... tuan muda Bokuto Kotarou?"

"Gak usah lengkap-lengkap amat. Kepanjangan."

Harga diri Akaashi sudah ternoda.

"Kenalin, ini sohibku." Tangannya bertengger di pundak si pemuda jaket merah, "—Kuroo Tetsurou. Dia bakal sering banget mampir ke rumah, jadi kenalan ya biar akrab."

"Eh, iya."

Hari pertama Akaashi bekerja, ia sudah melakukan kesalahan.

Bokuto menjabat tangan Akaashi, "Namamu siapa?"

"Akaashi Keiji. Saya pelayan baru tuan Kotarou."

"Hoo."

Keduanya lalu diam. Kuroo mengerjap kemudian memeriksa jam tangannya.

"Bro, sudah semenit. Lepasin tangan orang."

"Eh, iya deh. Waktu emang cepat banget berlalu, ya."

Apaan sih.

"Tuan Kotarou."

"IYA!"

Eit, santai.

Akaashi memilih mendekat dan berbisik persis di telinga tuannya. "Boleh saya tahu, apa yang ada di dalam ruang sayap kanan?"

"Ruang sayap kanan?"

Telunjuk menunjuk pada pintu di sebelah kanan, "Yang itu. Katanya ruang rahasia tuan Kotarou."

Bokuto menatap Akaashi heran.

"Itu kamar mandi."


5—Flashdisk


"Tuan Kotarou, anda harus disiplin. Sebelum main dengan tuan Tetsurou, anda harus berganti pakaian lebih dulu."

Seperti disiram air comberan seember, mood Akaashi sedang sangat jelek, jelek, dan jelek. Mengetahui dirinya sudah dikibuli oleh kepala pelayan, membuat Akaashi rasanya ingin berubah haluan menjadi pembunuh berantai. Lumayan, bisa terkenal. Lumayan, namanya bisa masuk acara berita di mana-mana.

Sumpah. Kesal sekali rasanya. Mirip-mirip cewek sedang lagi on period. Bedanya Akaashi cowok. Pikirin aja gimana betenya. Bodohnya lagi, ia menelan saja ucapan beliau.

"Nanti aja, deh. Main dulu. Sekalian mandi entar."

Penolakan Bokuto bagai petir yang menggelegar. Tidak. Akaashi tidak bisa diginiin.

"Tuan Kotarou." Ia mendekat, melepas kancing seragam tuannya mendadak, membuat bola mata lawannya (dan si kawan) mendelik lebar-lebar, "Sudah saya bilang, anda harus disiplin. Kalau anda malas, saya saja yang membuka bajunya."

Tangannya dicekat, "I-iya, aku bisa ganti baju sendiri."

Akaashi menatapnya lekat-lekat.

"Bisa menjauh? Rasanya aneh dipandangin gitu."

"Oh, maaf kalau begitu, tuan."

Kuroo meraih atensi Bokuto ketika ia masih melepas seragamnya. Pemuda itu membuka tasnya dan mengeluarkan sebilah flashdisk.

"Isinya apa, tuh?" tanya Bokuto.

"Kesukaan lu."

Pakaiannya sudah terlepas dan Bokuto langsung serahkan pada pelayannya. Ia kemudian memasang kaus putih dengan tulisan I Love Jogja eksplisit dan celana pendek biru tua selutut.

"Emang apaan? Kesukaan gue kan video-video cover musik gitu atau edukasi ilmu pengetahuan alam. Gini-gini gua suka nontonin eksperimen treatment asam klorida atau formaldehid. Coba deh cium formaldehid terus amoniak, ngilu."

Kuroo memutar bola matanya jengah. Songong sekali kawannya ini. Memangnya siapa yang sering kali perengkat satu di kelas? Bukan Kuroo pastinya.

"Iya, gua tahu, sekalian aja asam nitrat biar lu meninggal, amin. Tapi gua gak sombong kayak lu. Ya udah sih, kalo lu gak mau. Ecchi pesenan lu ini ntar gua format."

Bokuto menepuk punggung sang sobat, "Kuroo, kuroo," bibirnya menukik senyum manusia tak bersalah. "Lu kok kayak gak tahu gua, sih? Lu masih gak bisa bedain mana yang ngibulin mana yang serius?"

Seperti ada belati menghunus dada seseorang.

"Terus? Gak mau, nih?"

"Ya mau dong, beb."

Akaashi menggelengkan kepalanya.

Remaja jaman sekarang.

"Tadi lo bilang lo suka edukasi IPA kan, bro?"

Bokuto Kotarou mengangguk.

"Tapi kan lo kelas IPS."

.

.

.

Bersambung.


Kuroshitsuji © Yana Toboso

Durarara! © Ryohgo Narita, Suzuhito Yasuda