Min Yoongi, tidak mempunyai orangtua. Ayahnya saat itu meninggal karena sakit kanker yang di deritanya, ia pun hanya tinggal dengan ibunya.

Namun, ibunya meninggalkannya juga pada saat Yoongi di nyatakan menghilang selama 2 minggu lebih. Ibunya berfikir, Yoongi mungkin telah meninggal. Nyatanya, ia berhasil di selamatkan oleh kepolisian Daegu.

Kini Min Yoongi bekerja di salah satu kantor kepolisian Seoul sebagai profiler suara profesional. Ia adalah lulusan dari salah satu universitas di AS.

Park Jimin, sudah tidak memiliki orang tua. Mereka meninggal karena mengalami kecelakaan pesawat pribadi keluarga Park, kini tinggal Jimin dan adik laki-lakinya bernama Park Jihyun.

Namun kecelakaan pesawat itu bukan murni karena kesalahan awak pesawat, melainkan ada campur tangan seseorang yang belum diketahui hingga kini, kepolisian mengatakan ini memang murni kecelakaan karna faktor cuaca. Jimin merasa ada yang janggal, ia pun meminta bantuan pamannya yang bekerja sebagai detektif.

Karna umur Jimin saat itu masih kecil, pamannya meminta ia agar belajar dahulu untuk menjadi detektif handal nantinya.

Terbukti kini ia menjadi detektif yang handal di Amerika, ia menuntaskan setiap kasus dengan tepat dan cepat.


Dark Side

Genre : Thriller, Crime.

Rate T

Cast

Park Jimin X Min Yoongi

Other Cast

BTS©Bighit entertaiment
Story©YoungraPark

I'm not plagiat! This story pure from my imagination and just for my own pleasure.

Enjoy!


Pagi ini Park Jimin, sampai di kota kelahirannya Seoul. Ia menerima telepon dari seseorang pihak kepolisian Seoul, memintanya agar membantu kasus-kasus di sana.

Ia melihat seorang pria, berambut blonde, kira-kira lebih tinggi dari tubuhnya. Ia memegang papan bertuliskan Park Jimin dengan huruf besar, pria itu tersenyum lebar padanya.

"Kau Park Jimin bukan?"

"Ya."

"Perkenalkan aku Kim Taehyung, aku yang menelpon kemarin." Ia mengulurkan tangannya pada Jimin, ia pun membalasnya.

Taehyung membantu membawa barang bawaan Jimin. Akhirnya mereka segera menaiki mobil sedan berwarna silver. Melewati gedung gedung pencakar kota Seoul, entah sudah berapa tahun ia tak merasakan udara kota ini.

Akhirnya mereka sampai di kantor pusat kepolisian Seoul, tepatnya berada di distrik Gangnam.

"Selamat datang Jiminie."

Pria sekitar umur 45 tahun memeluk tubuh jimin, ia adalah pamannya. Park Seungchol.

"Apa kabar paman? Lama tak bertemu." Ia tersenyum memperlihatkan deretan giginya.

"Yah seperti yang kau lihat, aku sangat baik. Aku bangga padamu Jimin, kau sekarang menjadi detektif yang luar biasa."

"Inikan berkat paman juga. Aku sangat merindukanmu." Ia memeluk pamannya kembali.

"Oyah, kau harus bertemu dengan partner kerjamu di dalam. Taehyung antar dia ke dalam, sampai bertemu nanti Jim."

Taehyung berjalan mendahului Jimin.

Jimin Pov

Taehyung orang yang sangat berisik, sepanjang jalan ia bertanya banyak hal padaku.

"Jimin, aku fansmu. Wah tiap kasusmu selesai dengan hebat, aku kagum padamu."

"Jangan berlebihan Taehyung—sshi."

"Ah ngomong-ngomong kitakan seumuran, jadi kau tak usah berbicara formal padaku."

"Yah baiklah Taehyung, sekarang dimana letak ruangan yang kau sebut partner macan betina itu."

"Ssstt—jangan berisik Jim, dia ada diruangan ini." Ia menunjukan pintu yang berada di depan kami.
Taehyung bilang, partnerku adalah seorang profiler suara yang sangat hebat, namun ia seperti macan betina.

TOK TOK TOK

"Masuk."

Taehyung berjalan masuk dan aku ikut berjalan mengikutinya. Pria itu berdiri dari tempat duduknya, ia menggunakan pakaian polisi hitam, kulit pucat, berwarna rambut hitam pekat dengan bibir semerekah buah cherry, tingginya hampir sama denganku hanya dia lebih pendek.

"Yoongi hyung, dia Park Jimin yang ku bicarakan saat itu."

Ia memperhatikanku dari atas sampai bawah, entah mengapa matanya seperti berkata—ya aku siap memakanmu. Itu sangat terlihat jelas olehku.

"Perkenalkan aku Park Jimin." Ucapku sambil mengulurkan tangan padanya dan tersenyum.

"Min Yoongi." Pun ia membalas uluran tanganku.
Wajahnya sangat datar, apa memang semua profiler sedingin itu?

"Oyah Jim kau juga belum tahu aku sebagai apakan disini? Aku ahli dalam bidang IT dan aku yang mencari informasi di sini."

Tatapanku tak pernah lepas dari Min Yoongi, ia pria yang manis.

"Jimin?" Taehyung mengibaskan tangannya pada wajahku.

"Eh ya?"

"Aku harus pergi, Yoongi hyung akan menemanimu mengelilingi kantor ini."

Aku berjalan bersama dengan yoongi? Menarik.

"Baiklah, terima kasih Tae."

"Aku pergi." Dan kini tinggal kami berdua, aku memperhatikan gerak geriknya.

"Baiklah Park Jimin, aku akan antarkan kau kebeberapa bagian kantor ini."

Ia berjalan keluar melewati tubuhku yang terdiam, akupun mengikutinya dari belakang. Setiap geraknya membuat sesuatu pada selangkanganku berdiri—oh sial lupakan.

"Ini adalah ruangan kepala Kim Namjoon, dia atasan kita." Saat kami akan masuk keruangan tersebut,

"Yoongi!—Namjoon tak masuk hari ini." Pria bertubuh tinggi, rambutnya berwarna coklat, kulitnya putih, ia menggunakan jas dokter.

"Ah baiklah. Hyung dia Park Jimin, Jimin dia Kim Seokjin ketua team forensik disini." Aku mengulurkan tanganku, ia membalasnya.

"Ya, salam kenal Jimin. Kalian terlihat cocok." ia mengedipkan matanya pada Yoongi.

"Jin hyung!—Please." ia memutar matanya dengan malas.

"JIN HYUNG!"

Pria berambut hitam, lebih tinggi dariku, memiliki gigi seperti kelinci, dan menggunakan baju kepolisian.
Ia berlari kearah kami.

"Ada apa?"

"Hasil otopsi kemarin sudah keluar?"

"Ah astaga aku lupa, sudah ada nanti kita keruanganku." Ia mengangguk.

"Jimin ini adalah Jeon Jungkook, dia polisi."

"Ah jadi dia adalah Park Jimin? Salam kenal."

"Ne salam kenal."

"Pacarku mengidolakan kau sekali! Ku harap adanya kau bisa membantu kasus di sini."

"Pacarnya si alien, Kim Tae." Ucap Yoongi memotong pembicaraan kami.

"Ah begitu, aku sudah bertemu dengannya tadi."

"Oyah? Dia pasti senang bisa bertemu denganmu."

"Hm sebenarnya dia, sedikit berisik."

"Haha-ya memang benar sih, makannya dia di sebut alien."
Telephone genggam Yoongi berbunyi.

Drrtt drrt drrt

"Bisa kau datang keruang center 112 sekarang!"

"Ada apa?"

"Ada telepon dan ini darurat."

"Baiklah aku kesana!"

Ia melirik kami semua satu persatu.
"Kita harus pergi keruang 112 sekarang!" ia berlari dan kamipun mengikutinya dari belakang.

Kami sampai di ruangan 112, di mana kantor polisi menerima panggilan dari masyarakat yang melaporkan semua kasus.
Yoongi segera menggunakan alat pada kepalanya,

"Kim Jongin—sshi."

"Ada seseorang yang ingin membunuhku. Tolong aku."

"Bisa kau katakan, posisimu dimana? Lihat di sekitarmu."

"Ada bangunan tangga yang sempit—hiks—hhh."

"Ku rasa dia sedang terluka-Kau harus tenang ok? Bisa katakan lebih jelas lokasimu?"

Pria tersebut melihat sekelilingnya, dan ia melihat gereja.

"Disini ada sebuah gereja—hhah."

"Kami akan mengirim bala bantuan kesana, kau tenanglah."
Sialnya jaringan telepon terganggu, sehingga samar-samar ia bisa mendengar suaranya.

"Jongin—sshi?" Ia tak mendapat respon.

"Tae lacak dia sekarang!"

Ia mendengar suara kaki yang berlari dan deru nafas seseorang.

Karena Jongin merasa si pembunuh telah hilang di sekitarnya, ia pun keluar dari tempat persembunyiannya. Ia memperhatikan ke kanan dan ke kiri.
Ia merasa aman, pun ia berlari keluar dari sana. Di tengah pelariannya, tubuhnya terjatuh, ia memang sedang terluka parah.

Telepon genggamnya terjatuh, ternyata si pembunuh sudah berada di belakang tubuhnya.

"Kumohon jangan bunuh aku! Istriku menunggu dirumah."

Si pembunuh itu membalikan tubuh Jongin,

"Karena itu, seharusnya kau tidak bertingkah." Ujar pembunuh, ia lalu mengeluarkan besi berbentuk bulat dan menghantamkannya pada kepala Jongin.

BUGH

BUGH

BUGH

"Argh!" Jiwa itu telah pergi dari tubuh Jongin.

"Jongin—sshi?! Kau masih disana?"

Ting

Tap

Tap

Tap

Suara besi yang terjatuh, dan suara langkah kaki yang semakin menjauh.

"Taehyung kau menemukan lokasinya?"

"Sudah aku temukan, dia berada sekitar gereja Banseok." Tubuh Yoongi sedikit bergetar, ia mengigit jari jempolnya.

"Jongin sudah tak bernyawa."

Mereka semua terkejut, ya Yoongi mengetahuinya, ia melirik kearah Jimin.

"Jimin, bisa kau bekerja sekarang juga?"

Jimin dengan tegas mengatakan.
"Ya, aku siap Yoongi."

Mulai saat itu mereka akhirnya menjadi partner. Sang detektif dan sang profiler.


TBC

Aku akan pindahkan ceritaku ini ke Ffn secara berkala, lebih tepatnya aku arsipin aja sih. Aku tidak tahu akan ada yang baca atau engga, aku harap ada hehe.

Jangan lupa untuk meninggalkan rewiewnya yah^^