[[FF YunJae] YAOI| M| MPreg| Track 2 | " . "]

Main Cast: Yunjae, Yoosu, slight Hosu. +Heechul, Inhwan & Other cast.

Gendre: Angst, Romance Rate: -M

Leght: Track 2/Full track 3rd Korean album of TVXQ

Author: RedBalloons5

Warning: Typo(ss) YAOI(boysxboys)

(a/n: plagiat buka gaya Red_B. Karena itu sama sekali tidak bisa menunjukan seberapa kerennya Red_B. Bedakan antara mengutip dan meng'copas tanpa ijin. Red_B hanya punya satu kepala untuk berpikir. Jadi jika menjudge Red_B seorang plagiator maka akan Red_B hapus fic ini secepat-cepatnya. Just call me maybe.^^" )


Perdamaian dan Perlawanan

"Karena tidak bisa melakukannya karena cinta, maka lakukanlah demi aku yang kau cintai."


2nd: 곁에숨쉴있다면 (White Lie...)

Yunho POV

Aku melangkah melewati dua bentangan dinding putih di bawah silauan deretan lampu putih. Dengan sebucket bunga lili dalam gengaman seceria mungkin memasuki kamar perawatan di lantai 5 Bolero hospital.

"Selamat malam Jae." Ku ucapkan sapaan ramah pada namja yang tengah duduk di ranjang singlenya.

Namja cantik itu terlihat agak pucat tatkala memandang keluar jendela yang terbuka. Angin bersuhu rendah bertiup menyapu tirai menjadi menarik di matanya. Mungkin dia belum menyadari keberadaanku, bahkan ketika aku telah duduk di kursi sebelahnya.

Kuletakkan segengam bunga putih tersebut Lili di meja meninggalkan bunyi berisik yang menyebabkan ia menoleh kearahku kemudian. Memandangiku dengan pancaran mata tanpa ekspresi yang bisa ku gambarkan.

"Jae, kau sudah merasa baikkan?" Tanyaku balas menatap. Membenarkan letak selimut yang melingkupi sekitar pinggang hingga kakinya.

Terdiam Jaejoong tak berniat membalas. Bibirnya yang mengering keruh namun tetap menggoda itu terkatup rapat.

Aku mencoba untuk tidak membiarkan keadaan itu berlarut-larut. Kecanggungan ini harus berakhir hingga ku putuskan membuka pembicaraan. "Jae, Junsu mungkin akan datang besok siang. Sekarang giliranku menjagamu di rumah sakit."

Aku tersenyum padanya berusaha mengukir keindahan yang sebelumnya tak susah ku lihat di wajahnya. Namun, sekali lagi Jaejoong tak mengacuhkan cobaanku. Ia suka sekali diam tanpa ekspresi belakangan ini. Terakhir senyum yang kulihat adalah seminggu yang lalu. Saat ia masih suka tidur seranjang denganku.

Ia dengan pancaran mata kosong memandang lagi ke arah yang sama. Menuju luar jendela dimana dunia terlihat tak berujung.

"Jae, aku membawakan buku cerita. Kau mau mendengarku bercerita tidak?" pantang menyerah ku coba menaikkan suasana semenyenangkan mungkin.

"Kau pernah dengar cerita tentang pangeran tidur?" Pangeran tidur ya? Hahaha lucu tidak? Aku mengusahakan melucu seperti seonggok badut bodoh yang konyol sekonyol-konyolnya bahkan tak layak untuk ditertawakan.

Aku mengatur janji mencoba terus mencari perhatiannya. "Kau mau mendengarnya tidak? Tapi janji kau harus mentraktirku ice krim setelah ini." Kediamannya lagi-lagi membalas segala bentuk usahaku mengajaknya menuju sebuah percakapan.

"Karena kau diam. Jadi ku anggap kau menjawab ia." Seorang Jung Yunho yang berwibawa menjadi namja bodoh di hadapan namja belasan tahun ini.

Baiklah aku akan bersabar. Walaupun monolog ini akan membuat mulutku berbusa, aku akan lebih menahan emosiku.

"ehhmm.. ehmm." Aku berdehem untuk menyeimbangan suaraku agar tak serak dan mulai bercerita.


.

.

.

"Terkisah di tempat indah tersebut taman surga, para peri pengantar tidur sedang memetik mimpi para manusia. Membawa manusia-manusia pemimpi itu munuju mimpi nyata. Agar ketika mereka membuka mata, manusia dapat bekerja dan menebus segala dosa-soanya."

Aku berhenti sejenak melihatnya mengubah posisi duduknya jadi terbaring terlentang.

"Di suatu sudut yang tak terjamahi, seorang manusia tertidur dengan begitu lelapnya. Karena keasikkan bermain, para peri-peri di surga tak menyadari jika mereka lupa memetik mimpi namja malang itu. Ketika seorang petugas pembersih gerbong datang hendak membersihkan dinding silver badan kereta. Dia menemukan tubuh namja itu berbaring nyaman di salah satu kursi penumpang. Namja pembawa alat-alat pembersih lantai itu mendekat berniat membangunkan namja itu. Namun hasilnya nihil. Berbisik "Tuan bangun" Berteriak "TUAN BANGUN!" bahkan ia telah menyodok tubuh yang dianggap tuan itu dengan gagang sapunya.

Menyerah namja kucel itu membiarkan namja pemimpi menikmati mimpinya. Berpikir mungkin saja sebentar lagi ia bisa melihat namja berkaos biru itu terjaga dari tidurnya.

Tak acuh namja pembersih gerbong mulai mengerjakan pekerjaan yang menghidupinya hingga sekarang. Menyapu, mengepel lantai besi. Mengelap jendela dengan kain basah dan terakhir melapisi cat ditempat tertentu pada gerbong kereta tua sambil bersenandung riang.

Usai mengerjakan semua pekerjaannya dalam kurun waktu 3 jam lamanya, si tukang pembersih melihat wajah tampan si tertidur begitu seksama. Matanya yang mengatup memiliki bulu mata nan lentik. Bibirnya yang seolah bergincu memanggil-manggil untuk dicicipi rasanya.

Kumpulan keberanian bersumber tak terdeteksi merangsuk membuat namja pembersih gerbong itu mendekatkan wajahnya ke wajah si namja cantik.

Cup

Kau tahu lancang sekali namja kumal itu mencuri sebuah ciuman."

Jaejoong berpaling ka arahku ketika ku ucapkan, "Ciuman itu membangunkan pangeran tidur seperti ini.".

Cup

Kecupan ringan dariku didahi Jaejoong mengejutkannya. Ia melebarkan pupil matanya mengarah kearahku. Aku tersenyum membuatnya kian keheranan.

"Sekarang sudah malam. Waktunya tidur pangeran tidur."

"Yunho-shi.." kata pertama yang diucapkan Jaejoong membuatku agak tak terima. Sejak kapan ia mulai mengasingkanku dengan kata seformal, 'Yunho-shi'? aku terlanjur terbiasa mendengar 'Yunnie' darinya.

Namun aku harus tetap bersabar dan berusaha tenang. "Ne, Joongie. Wae?"

"Pergilah, jangan datang kesini lagi." kata Jaejoong yang membalikkan badannya memunggungiku.

Aku menghening setelah mendengar permintaanya.


.

.

.

Aku kini berakhir terduduk di bangku pengunjung rumah sakit setelah perdebatan panjangku dengan Jaejoong. Aku tak mungkin hanya dapat menghela napas. Sungguh sukar menggambarkan bagaimana perasaanku saat ini.

Aku sungguh tidak mengerti bagaimana bisa semenjak Jaejoong menjadi salah satu pasien dirumah sakit aku merasa hidupku jadi hampa.

Tidak ada yang mengoceh di kantorku. Tidak ada yang menganggu jam makan siangku. Tidak ada yang merusak istirahat malamku dan tidak ada yang menyambutku dengan sebuah pelukkan seusai bekerja di kantor.

Ada perasaan yang kosong ketika dia hanya terdiam seperti itu. Walaupun iya, dulu aku begitu kesal akibat kecerewetannya yang overdosis. Namun tak mungkin aku menyangkal jika aku merindukan suaranya memanggil namaku berulang-ulang kali tiap menitnya.

Jaejoong begitu sulit di tebak. Sungguh membuatku pusing 7 keliling.

Akhhh..

Aku merancau frustasi mengakibatkan penghuni rumah sakit lainnya menatap horor ke arahku.

Yunho POV End


.

.

.

Flashback

"Yunho-shi..Pergilah…. jangan datang kesini lagi." dingin Jaejoong mencoba mengusir Yunho.

"Aniya. Aku akan menjagamu disini." Lawan Yunho dengan tangguh.

Jaejoong bersikeras meminta lagi. "Aku mohon pergilah Yunho-shi."

"Tidak."

Jaejoong berbalik dan menatap Yunho kesal. "PERGILAH!"

Jaejoong bangun dan duduk di ranjangnya. Mengambil bucket bunga lili yang Yunho bawa menyebabkan Yunho tersenyum senang saat itu. Namun, gerakan tak terduga Jaejoong menyebabkannya mengaga. Jaejoong dengan ganasnya melempar bucket bunga itu ke lantai.

"Yak! Kim Jaejoong, mworago?!" Bentak Yunho marah melihat bunga lilinya pupus tergeletak pasrah di lantai dingin.

"Kau, .." Tahan Yunho geram. Ia tak mungkin mengucapkan kata-kata kotor yang mungkin nantinya hanya akan memperparah kondisi yang sudah buruk saat ini.

"Ne. Kau menginginkan aku pergi. Aku akan pergi. Aku pergi!" Yunho menghilang dengan langkah cepat membanting pintu kemudian dengan cukup keras. Tanpa menayadari bahwa ia meninggalkan isakan Jaejoong yang nyaring terdengar dari luar ruang perawatannya.

-TBC/END-


Annyeonghaseyo.. Red_B datang dengan sejuta permintaan maaf. mianhae karena baru bisa melanjutkan sekarang dan mungkin FF ini berakhir sampai di sini. sekian dan terima kasihh kepada reviewer, reader, and followers dan yang menfavoritkan FF ini. Good Bye. Annyeong.