Ginny baru membuka mulutnya untuk memprotes. Ketika sebuah suara lain mematikan kata-katanya di tenggorokkan.

"Mom!"

Ginny seketika berbalik hanya untuk menemui dua buah lengan yang dilemparkan ketubuhnya, memeluknya erat. Orang asing itu kemudian mundur. Ginny bisa melihatnya orang asing itu lebih jelas sekarang. seorang anak laki-laki luar biasa tampan, tak lebih dari empat belas tahun dengan rambut pirang keperakan dan mata coklat hangat yang bersinar keemasan.

"Mom?" si anak lelaki bertanya sambil mengerutkan kening,"kau tidak apa-apa, Mom?"

Ginny dihentakkan kembali ke kenyataan. Ia baru menyadari bahwa dirinya menatap si anak lelaki tanpa berkedip,"Huh?" ujarnya. Bodoh.

Kerutan diwajah si anak lelaki semakin dalam, cahaya matanya terlihat cemas,"Mom, apa kau yakin tidak apa-apa?"

Ginny menggelengkan kepalanya, tidak tahu apa yang harus ia katakan. Apakah anak ini tadi baru saja menyebutnya Mom? Itu tidak mungkin, setidaknya anak ini hanya dua tahun lebih muda darinya? Lagipula, dia baru enam belas, iya kan?

"Mom, kau yakin tidak apa-apa?"

Ginny membuka mulutnya, tidak tahu harus menjawab apa ketika sebuah tangan dingin melayang ke dahinya. Ginny mendongak untuk melihat si pemilik tangan. Untuk melihat Draco Malfoy tersenyum lebar, meringis, ekspresi yang tak pernah Ginny harapkan dari seorang Malfoy. Laki-laki dihadapannya ini sungguh seperti bukan Malfoy.

"Sepertinya ibumu akan mengalami steps," ujarnya sambil meringis, jelas sekali sedang bercanda. Si anak lelaki ikut tersenyum, dan berjalan melewati Ginny, memeluk Malfoy."Dia memang dari dulu aneh," tambah Malfoy. Ginny tak bisa menahan diri untuk membelalakkan matanya. Yang membuat Malfoy tertawa. Koreksi. Dia memang Draco 'Si brengsek menyebalkan' Malfoy. Dan itu tidak akan berubah. Tapi, sejak kapan Malfoy humoris? Humoris plus menyebalkan.

"Kau benar, Dad" tambah si anak lelaki.

Tapi, tunggu. Tunggu dulu...

Apakah anak itu baru saja memanggil Malfoy Dad sementara memanggilnya Mom? Apa yang tadi dikatakan Malfoy? Oh ya...

"Gin, kau juga seorang Malfoy, ingat?"

Dan ingatan itu menghantamnya. Kilasan film yang diperlihatkan Peri Christabell.

Mommy," terdengar teriakan, Ginny menoleh dan melihat seorang anak lelaki tampan yang tidak lebih dari lima tahun. Anak lelaki itu berambut pirang dan persis seperti si lelaki muda, tapi matanya yang familiar berwarna coklat dan penuh kehangatan. Ginny tersenyum dan memeluk si anak lelaki,"Mommy, kau hebat sekali," ujar si anak lelaki bangga.

"Ah, jadi ayah nggak hebat, ya?" si lelaki muda bertanya, pura-pura tersinggung.

Si anak lelaki tertawa,"Daddy hebat, kok" ujarnya,"Tapi Mommy lebih hebat,"

Anak ini persis seperti anak didalam penglihatannya, hanya saja dalam versi lebih tua. Ini tidak mungkin. Bagaimana ini bisa terjadi? Ini tidak mungkin, bagaimana ia bisa sampai disini?

Ginny merasakan ketakutan dan desakan untuk berteriak, dan Ginny harus menelan ludah untuk menahannya. Matanya menatap Malfoy, suaminya.

Ia butuh penjelasan sekarang. Semua ini begitu salah. Ginny mengambil beberapa langkah mundur. Menjauhi Malfoy dan si anak lelaki. Tiba-tiba punggungnya menabrak seseorang.

"Ouch..." seru orang itu.

Ginny berputar, berbalik. Kata-kata maaf sudah di ujung bibir ketika ia melihat siapa yang ditabraknya."Luna?" Ginny berseru, berteriak lega. Orang-orang disekitarnya, yang berada dalam jangkauan pendengaran, dan memang luas, menoleh. Mata mereka bertanya-tanya. Ginny baru saja menyadari kebodohannya. Ia, sekali lagi, menunduk dengan muka merah.

"Hei, Gin," panggil seseorang dibelakang Luna,"kau baik-baik saja?"

Ginny mendongak. Apakah itu...Ron?

Ya, Ron dengan beberapa helai rambut putih yang tampak jelas sekali diantara rambut merahnya dan...kerutan-kerutan.

"Jujur, Mom" desah seseorang dibelakang Ginny. Ginny mengenalinya sebagai si anak lelaki, puteranya? Ginny berbalik dan menatap si anak lelaki dan Malfoy yang berjalan kearahnya,"apa kau yakin kau tidak apa-apa?"

"Ginny, kau terlihat pucat," ujar Luna khawatir.

"Hei, Bibi Luna," ujar si anak lelaki,"Hei, Paman Ron," si anak laki-laki melambaikan tangannya ke arah Ron.

Ron seketika tersenyum,"Hallo, Sebastian," matanya kemudian beralih ke arah Malfoy, senyumnya menghilang,"Oh, hallo Ferret,"

"Hallo, Weasel," balas Malfoy sambil menyeringai khas.

Tapi, Ron malah balas menyeringai. Ini aneh. Aneh sekali. "Sebastian, apa kau melihat Aurora dan Greyson?" tanya Ron.

"Greyson anak kelas dua, seharusnya ia turun awal. Kalau Aurora-" kata-kata Sebastian terpotong ketika sebuah seruan terdengar.

"Mom! Dad!"

Seorang anak lelaki dan perempuan berambut merah menyala berlari kearah mereka. Si anak perempuan melemparkan kedua lengannya ke arah Ron. Sementara si anak lelaki memeluk Luna. Ron memeluk erat si anak perempuan dan memutarnya diudara."Hallo, gadis kecil ayah," serunya."Apa kabarmu, huh?"

Si anak perempuan mundur tersenyum berseri-seri,"Baik, Dad"

Ron tersenyum,"Sekarang, dimana jagoan ayah, ya?" Ron berpura-pura mencari-cari diantara kerumunan. Matanya menelusur, melewati si anak lelaki berambut merah menyala.

"Dad, aku disini," si anak lelaki terdengar kesal.

Ron tertawa,"Tentu saja kau disitu, jagoan. Ayah tak akan bisa melewatkanmu," Ron memeluk si anak lelaki dan memutarnya diudara.

"Dad, hentikan," seru si anak lelaki,"aku bukan anak kecil lagi,"

Ron tertawa dan menurunkan si anak lelaki,"Lihat dirimu, Greyson. Kau semakin tinggi," ujar Ron sambil mengacak-acak rambut Greyson,"aku yakin tahun depan kau akan setinggi ibumu,"

"Aku akan lebih tinggi dari Mom, Dad" Greyson berseru.

"Well...well... lelaki muda," seru Luna,"aku tidak mudah dikalahkan. Dan masih ada beberapa inchi lagi yang perlu kau capai," Luna mendekati si anak perempuan dan memeluknya.

"Kenapa kalian lama sekali?" tanya Luna. Greyson menatap si anak perempuan, menyalahkan. Sementara si anak perempuan bergerak gelisah di tempat."Aurora?" Luna menyipitkan matanya ke arah Aurora.

"Kurasa Aurora baru melewati satu sesi bercumbu dengan James di kompartemen," jawab Sebastian sambil tertawa.

Aurora membelalakkan matanya ke arah Sebastian. Kemudian ia tersenyum nakal,"Hei, Sebastian, kenapa kau tidak mengajak Lily kencan padahal jelas sekali kau suka padanya? apa kau lihat wajahmu ketika Lily mendekat? Oh, ya, tentu saja aku lupa, kau terlalu takut, kan?"

Muka Sebastian menjadi semerah tomat,"Diam Aurora," serunya. Aurora menatap Sebastian sambil tersenyum puas akan hasil kerjanya. Sementara Ginny, hanya bisa menatap mereka tercengang, tak kurang.

"Hei, Bibi Ginny," sapa Aurora. Dan sapaan Aurora mengembalikan Ginny ke kakinya. Ginny menggelengkan kepalanya, mengusir kebingungan dan sakit kepala yang mulai terasa. Tapi, tak mencegah begitu banyak fakta yang masuk ke otaknya.

Ron dan Luna bersama? Aurora? Greyson? Demi Tuhan! Sebenarnya apa yang terjadi?

"Bibi Ginny," Aurora kembali memanggilnya,"kau baik-baik saja?"

"Dia tidak baik-baik saja," jawab Sebastian.

"Aku baik-baik saja," Ginny akhirnya menegaskan, membuat suaranya setenang mungkin, dan tampaknya terdengar cukup berhasil."Aku hanya...mmm...butuh bicara dengan Luna sebentar," Ginny menarik tangan Luna,"Ayo Luna," ujarnya,"kita perlu bicara berdua saja. Ini mendesak,"

"Well, oke," jawab Luna,"Dimana-"

"Ikuti saja aku," Ginny menarik Luna ke toilet wanita di Stasiun King Cross. Ginny bersyukur sekali, tempat ini tidak jauh berubah. Dan semakin bersyukur ketika melihat toilet yang lenggang.

"Ginny," Luna menarik tangannya,"ada apa sebenarnya? Kau terlihat aneh hari ini,"

"Astaga, Luna!" seru Ginny, mendesah frustasi,"terakhir yang kutahu adalah aku terjebak dibawah mistletoe yang menyebabkanku harus mencium Malfoy. Dan detik berikutnya aku berada disini. Dengan Malfoy yang aneh, dia bahkan memanggil nama depanku. Dan seorang anak lelaki yang memanggilku Mom!"

"Pelan-pelan, Ginny" ujar Luna,"aku tidak mengerti, Kau mencium Malfoy dan tiba-tiba berada disini?"

Ginny mendongak, ia baru saja menyadari sesuatu,"Ciuman?" gumamnya, kemudain ingatan dan kesadaran itu menghantamnya,"Astaga! Itu dia! Ini semua tepat seperti sumpahku. Jika aku mencium Malfoy aku rela kehilangan sembilan belas tahu kehidupanku? Jadi ini penjelasannya? Karena sebuah sumpah?" Ginny menatap Luna yang kebingungan sebelum bertanya,"Luna, tahun berapa ini?"

"2016, memangnya ada apa?"

"2016? Jadi, benar tepat sembilan belas tahun," kecemasan jelas terlihat dimata Ginny sekarang,"bagaimana ini? Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana aku bisa kembali?" Ginny mulai mengocehkan pertanyaan-pertanyaan.

Luna memegang kedua lengan Ginny, memaksa Ginny menatap tepat ke mata biru Luna."Ginny, tenanglah," pinta Luna,"ceritakan padaku, pelan-pelan dan dari awal. Aku benar-benar tidak mengerti,"

Ginny mengambil nafas dalam-dalam. Dia menatap Luna sesaat, mengamati perubahan pada sahabatnya itu, rambut ikal pirang panjangnya yang dulu hampir menyentuh pinggang sekarang dipotong hingga ke punggung, wajah polos kekanak-kanakannya telah berubah seiring waktu. Garis-garis wajahnya tegas dan keibuan. Ginny bertanya-tanya sendiri, bagaimana rupanya di tahun 2016.

"Ingat ketika kau membawaku menemui para Peri Himkipuckey?" tanya Ginny.

Luna menangguk dan sebuah senyum terlintas dibibirnya,"Mereka benar kan, Ginny?"

Ginny tidak menghiraukan pertanyaan Luna,"Ingat ketika aku bersumpah jika aku sampai mencium Malfoy aku rela kehilangan sembilan belas tahun kehidupanku? Dan ketika aku harus mencium Malfoy di bawah mistletoe?"

Luna mengangguk,"Ya, tapi aku tidak tahu apa hubungannya-Oh," sebuah ekspresi mengerti terlihat jelas di wajah Luna,"maksudmu kau kehilangan sembilan belas tahun kehidupanmu?"

"Tepat sekali," Ginny bersyukur ia tidak harus menjelaskan lebih lanjut,"bagiku kemarin kita adalah dua siswi kelas enam Hogwarts. Tapi sekarang ini sungguh berbeda,"

"Jadi benar apa yang Molly katakan, Ginny," gumam Luna,"Ibumu benar. Kita memang tidak boleh bermain-main dengan sumpah,"

"Luna, ini bukan saatnya berkata bahwa ibuku benar atau tidak tentang ini," Ginny memutar bola matanya,"Kau harus membantuku untuk memecahkan masalah ini, Luna,"

"Bagaimana aku bisa membantu?"

"Well, kau seorang Ravenclaw,"

Luna memutar bola matanya,"Apa yang kutahu tentang sumpah, Ginny? Jika sumpah yang membawamu kesini, bukan semacam mantra, mesin waktu, atau sihir lainnya, aku benar-benar tidak tahu?"

"Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang? hidup dengan Malfoy sebagai istrinya? Astaga? Bagaimana bisa aku menikahi Malfoy? Bagaimana bisa aku menikahi si brengsek itu? dia pasti telah memberiku semacam ramuan cinta atau apalah hingga aku mau menikahinya," Ginny masih tidak bisa percaya dengan fakta bahwa Malfoy adalah suaminya, bahwa dia secara harafiah juga seorang Malfoy. Tak ada apa pun di dunia ini yang bisa menjadikannya mau menikahi Malfoy.

"Well, sebenarnya," gumam Luna,"ini semua bermula ketika ciuman kalian di bawah mistletoe menjadi satu sesi bercumbu panjang didepan mataku,"

"Apa?"