Kuroko no Basuke © by Fujimaki Tadatoshi

Gray Disaster

Pair : Akashi Seijuurou x Kuroko Tetsuya x Mayuzumi Chihiro

Genre : Hurt/Romance/Comfort

Rated : M (anak kecil dilarang baca)

Warning : BoyxBoy dan konten dewasa

Langkahnya begitu lunglai. Tetsuya masuk ke rumahnya yang sepi. Sepertinya Chihiro belum pulang. Wajahnya langsung murung ketika dilihatnya meja makan dengan sarapan yang tidak tersentuh, mengingatkannya pada kejadian tadi pagi. Aakkh! Tetsuya sangat khawatir pada Chihiro. Dia juga tidak berani menelfon kakaknya itu. Untuk menghilangkan pikiran negatifnya, Tetsuya memasak makan malam saja, padahal masih belum terlalu sore. Berkali-kali Tetsuya menghela nafas berat disela-sela kegiatan memasaknya.

"Sudah selesai. Ternyata aku memasak lebih lama dari biasanya." Makanan dihidangkan di atas meja dengan sangat cantik. Tetsuya berharap saat Chihiro pulang nanti, mood-nya akan membaik setelah memakan masakan Tetsuya.


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan Chihiro belum pulang juga. Bahkan Tetsuya juga belum makan malam — menunggu Chihiro.

Cuaca di luar sedang hujan lebat sejak pukul tujuh tadi. Sepertinya akan terjadi badai. Tetsuya benar-benar di puncak kekhawatiran sekarang. Apa yang terjadi pada Chihiro? "Nii-san ku mohon cepatlah pulang."

Suara mobil terdengar memasuki garasi rumah. Itu Chihiro! Tuhan mengabulkan doanya. Tetsuya tersenyum lebar dan segera berlari menuju pintu. "Nii-san, okaeri. Aku sudah menyiapkan makan malam untukmu."

Senyuman Tetsuya hilang. Bahkan kondisi Chihiro lebih buruk dari tadi pagi. Rambut Chihiro acak-acakan dengan kemeja yang berantakan dan basah sebagian terkena hujan, yang paling membuat Tetsuya sedih adalah tatapan Chihiro padanya sangat menyakitkan. Chihiro berlalu begitu saja melewati Tetsuya. Sedetik kemudian, Smartphone Chihiro berbunyi. Tampak Chihiro mencengkram smartphone itu sebelum mengangkat nomor tak dikenal yang menelponnya. Tetsuya tidak mengerti apa yang mereka bicarakan namun ia dapat mendengar Chihiro sedang menahan amarahnya. "SUDAH KU BILANG! AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANMU MENGHANCURKANKU BAJINGAN!" Chihiro berteriak dengan sangat keras dan terdengar suara tawa dari seberang telepon.

PRAAANG! Chihiro melempar smartphone-nya ke arah vas bunga dan membuatnya pecah seketika. Tetsuya yang kaget segera berlari dan hendak menenangkan Chihiro. "Nii-san tenanglah,ku mohon. Apa yang terjadi padamu? Uuu hic hic" Tetsuya memeluk Chihiro sambil terisak berharap dengan pelukan itu Chihiro bisa kembali tenang seperti yang biasa mereka lakukan. Tapi kali ini tidak, Chihiro mendorong dengan kasar tubuh ringkih itu. Mata Chihiro terbelalak, begitu juga dengan Tetsuya. Kenapa? Apa yang terjadi?

"Nii-san.. " Tetsuya mencoba meraih tangan Chihiro.

"Jangan mendekatiku!"


Badai mengamuk di luar sana. Setelah mengucapkan itu, Chihiro mengurung diri dikamarnya. Tetsuya? Hingga hari hampir berganti pun dia belum bisa tidur. Duduk meringkuk di depan kamar kakaknya sambil sesekali memanggil Chihiro. Tetsuya takut, bila badai terjadi, biasanya Chihiro atau mendiang ibunya yang akan menemaninya. Sekarang Tetsuya hanya bisa menangis berharap Chihiro membukakan pintu kamarnya.

"Nii-san.. uuu.. hic.. Nii-san aku takut.."

Di dalam kamar, Chihiro benar-benar depresi. Ia tidak bisa melupakan kata-kata orang itu. Peneror yang menelponnya sejak kemarin. Orang itu berkata ingin menghancurkan hidupnya. Tidak main-main, esoknya ia mendapat kabar buruk yang menimpa perusahaannya, saat ini kondisi perusahaan itu sudah sangat kacau dan belum juga masalah itu selesai, peneror itu berencana akan menghancurkan Tetsuya-nya.

"SIAL! Tidak ku sangka kau akan balas dendam secepat ini, Paman!" Chihiro merutuki kelalaiannya mengabaikan sumpah serapah orang yang mengaku sebagai pamannya itu. 'Tetsuya kecilmu akan merasakan hal yang sama seperti yang sedang menimpamu saat ini Chihiro. Dia akan hancur! HAHAHAH'

Kepalanya dicengkram kuat-kuat berharap kata-kata itu tidak terlintas di pikirannya. "SIAL! SIAL! SIAL!" Chihiro mulai memukul-mukul kepalanya dengan tangan namun suara itu tetap terngiang dengan jelas. "AAAAAKKKHHH!" Chihiro berteriak keras. Dia sudah mencapai batasnya, air matanya tidak bisa dibendung lagi. Ia butuh Tetsuya, tapi akal sehatnya yang masih tersisa tidak membiarkannya. Jika dia mendekati Tetsuya dengan kondisi seperti ini, ia tidak yakin akan mampu menahan dirinya. Tapi ini sangat menyakitkan. Chihiro tidak tahan lagi.

"TETSUYA! TETSUYAAA!" suara putus asa itu menggema di dalam kamar Chihiro.

Mendengar teriakan keras Chihiro, Tetsuya kaget setengah mati. Pintu digedor-gedor dengan keras namun tidak ada tanda-tanda Chihiro akan membukanya. Sambil menangis panik, Tetsuya berusaha mencari benda untuk merusak ganggang pintu kamar kakaknya. Belum menemukan benda yang cukup kuat, Tetsuya mendengar Chihiro meneriakkan namanya. Semakin deraslah air mata Tetsuya mengalir, diraihnya kursi kayu kecil disudut tangga dan berusaha mendobrak pintu itu. Tangan Tetsuya bergetar, pikirannya berkecamuk antara takut, sedih dan khawatir.

"Nii-san, bertahanlah... hiks..." pintu belum juga terbuka, dan Chihiro semakin keras meneriakkan namanya. Terdengar pula beberapa barang pecah di dalam kamarnya.

Satu kali pukulan yang cukup keras berhasil merusak ganggang pintu itu. Dibukanya pintu itu dengan tergesa-gesa dan betapa hancurnya hati Tetsuya melihat kondisi Chihiro yang belum pernah dilihatnya seumur hidup. Wajah putus asa dan air mata Chihiro mengatakan betapa berat beban yang ditanggungnya. Tetsuya berlari ke arah Chihiro yang duduk di pojok kamar dan memeluknya erat.

"Tetsuya! Tetsuya!" Chihiro merengkuh pipi Tetsuya dengan kasar dan melumat bibir kecil itu. Akal sehatnya sudah hilang. Tetsuya yang datang padanya. Tetsuya harus menyelamatkannya. Tetsuya blank untuk sesaat, matanya terbelalak. Chihiro menciumnya lagi, lebih dalam, lebih lama, memasukkan lidahnya ke dalam mulut Tetsuya setelah menggigit bibir Tetsuya dengan kasar. Sebelah tangan Chihiro menekan tengkuk Tetsuya. "Uuhnn.." tubuh kecil Tetsuya bergetar ketakutan. Dia tidak mengenal sosok di depannya itu. Kakaknya yang sangat dia hormati hilang sudah, dan dengan begitu tega melakukan hal kurang ajar padanya.

Mata Chihiro berkilat oleh nafsu, mulutnya menyeringai melihat Tetsuya-nya kehabisan nafas akibat ciuman darinya. Diangkatnya tubuh ketakutan itu menuju tempat tidurnya. Tentu saja ciuman tidak akan membuat Chihiro tenang. Ia ingin lebih.

"Tetsuya, selamatkan aku." Setelah ucapan itu, Chihiro mencium Tetsuya lagi secara paksa. Tetsuya masih berusaha mendorong tubuh besar yang akan menindihnya.

"Ukkh! Tidak! Nii-san, ini tidak benar. Jangan... uuuhnn" kata-kata Tetsuya dibungkam oleh ciuman lagi. Sungguh! Tetsuya sangat takut. Tangan Chihiro mulai membuka kancing baju Tetsuya. Kulit pucat Tetsuya terlihat ketika bajunya berhasil dibuka. Tetsuya berusaha menutupinya dengan tangannya namun dengan cepat Chihiro menahan kedua tangan Tetsuya di samping tubuhnya. Sungguh indah, Tetsuya terlalu indah.

Tetsuya memalingkan wajahnya dari pandangan menusuk Chihiro. Air matanya masih deras mengalir dan isakannya sangat memilukan. Kedua tangan Tetsuya masih ditahan Chihiro disamping badannya. Tak lama kemudian dia merasakan sesuatu yang basah menyentuh lehernya. Tidak! Chihiro menjilatnya. Mata Tetsuya terpejam kuat. Tetsuya tidak boleh menyerah, dia mulai menggeliat sembari mencoba mendorong tubuh besar Chihiro. Melihat perlawanan dari Tetsuya lagi, Chihiro mulai menggingit dan menghisap leher Tetsuya dengan kuat, mungkin akan meninggalkan bekas.

"A..ah!" Sial! Suara menjijikkan itu lolos dari mulut Tetsuya. Chihiro tertawa mengejek "Hmh, sebaiknya Tetsuya tidak menahannya. Kau tahu? Jika terus menahan diri, rasanya akan.. sakit." Sembari berbisik dan pipi Tetsuya dikecup singkat. Chihiro mencengkeram kedua tangan Tetsuya dengan satu tangan dan sebelah tangannya lagi meraih dagu Tetsuya, memaksanya untuk menatap Chihiro. Saat mata mereka bertemu, Tetsuya tahu, orang didepannya ini sudah bukan lagi kakaknya yang dulu. Tatapan yang menggelap di mata Chihiro memerangkap Tetsuya dalam jurang yang dalam. Bagaimana bisa Chihiro tetap menyeringai sementara dia melihat Tetsuya menangis dibawahnya.

"Aku sudah menahan ini lama sekali Tetsuya. Kau tahu bagaimana sakitnya? Begini yang selama ini aku rasakan Tetsuya." Chihiro menggesekkan bagian bawahnya yang mengeras dengan perlahan pada selangkangan Tetsuya. Mata Tetsuya terbelalak. Ia tahu apa sesuatu yang mengeras itu. "Uuhhn.. Jangan!" Satu hentakan keras berhasil membuat cengkeraman tangan Chihiro terlepas. Tetsuya berusaha kabur dengan membalik badan dan merangkak namun Chihiro berhasil menangkapnya lagi, memeluk Tetsuya dari belakang dan menarik celana tidur Tetsuya hingga lutut. Kemudian Chihiro memegang kejantanan Tetsuya dengan kuat.

"AAKHH! LEPAASS! AAAHHN!" Tetsuya ambruk merasakan kejantanannya diremas dan dikocok dengan tempo tak beraturan. Chihiro benar-benar menghancurkannya secara fisik dan mental. "Sudah ku bilang, jangan menahannya sayang." Gerakan Chihiro semakin cepat sementara Tetsuya semakin kencang menangis dan mendesah. Pertama kali Tetsuya merasakan hal aneh dalam dirinya. Tangannya mencengkeram seprai kuat-kuat. Rasanya seperti ada sesuatu yang ingin keluar.

"AAHHH...!" cairan putih keluar membasahi tangan Chihiro. Tetsuya merutuki apa yang barusan terjadi. Sungguh bodoh dia bisa klimaks akibat perlakuan kakaknya sendiri. Tetsuya tidak bisa memaafkan dirinya, ia terus terisak dan tenggelam oleh penyesalan.

Chihiro melihat tangannya yang dipenuhi cairan putih Tetsuya kemudian mengecup telinga Tetsuya dari belakang. "Good boy." Jemari Chihiro meraih bagian belakang Tetsuya dan mengusap lubang milik Tetsuya dengan cairan putih itu. Tetsuya tidak sepolos itu untuk tidak tahu apa yang akan Chihiro lakukan selanjutnya. Untuk kesekian kalinya ia memberontak, berteriak sekencang-kencangnya berharap ada yang mendengar dan menolongnya ditengah badai yang mengamuk diluar sana, meraih apapun yang bisa diraih walaupun hanya udara kosong.

Jari tengah Chihiro menerobos masuk ke dalam lubang milik Tetsuya. Teriakan Tetsuya semakin keras terdengar. "JANGAAN, KUMOHOOON JANGAAAN!"

Jari telunjuk masuk secara kasar, Tetsuya memekik kesakitan. Dadanya ambruk menyentuh kasur. Bagian itu terus dipaksa membuka oleh Chihiro dengan tidak sabar. Tetsuya merasakan setiap gerakan jari Chihiro dalam dirinya. Ini menjijikkan, terlalu hina. "Tolong... hiks hiks...Uuuuuhnn." satu jari lagi masuk ke dalam lubang itu membuatnya semakin membengkak. Chihiro membuat gerakan acak didalamnya membuat Tetsuya kembali mengeluarkan desahannya dengan keras. Tiga jari dikeluarkan dan dengan tidak sabar Chihiro melepas celananya yang sesak. Mengelurakan miliknya yang sudah mengeras sejak tadi. Dibaliknya badan Tetsuya agar telentang menghadapnya. Chihiro tak ingin melewatkan momen saat dirinya pertama kali memasuki Tetsuyanya.

Saat itulah Tetsuya terbelalak, kaget dan takut melihat Chihiro sudah bersiap dengan kejantanannya. Kedua tangan Tetsuya kembali ditahan di samping badannya. Chihiro medekatkan wajahnya ke wajah Tetsuya. Menatap sangat dalam dan yang membuat Tetsuya lebih kaget adalah senyuman itu. Chihiro tersenyum dengan sangat lembut sembari berkata "Tetsuya adalah milikku!" dan dengan perlahan sesuatu itu mendesak masuk ke dalam tubuh Tetsuya. Air mata mengalir dengan lebih deras, Tetsuya menangis tanpa suara. Menatap wajah kakaknya yang sangat ia sayangi dengan begitu tega kembali tersenyum kepadanya sementara dia melakukan hal yang hina pada Tetsuya. "Tetsuya sangat indah.. sangat indah." Chihiro masih tersenyum hingga seluruh miliknya masuk kedalam Tetsuya.

Tubuh Tetsuya terlonjak bersamaan dengan gerakan Chihiro diatasnya. Gerakan perlahan yang memabukkan. Bahkan Tetsuya sudah tidak tahu apa yang ada dipikirannya saat ini. Haruskah ia senang karena Chihiro kini bisa kembai tersenyum tulus kepadanya? Namun apa yang dilakukan Chihiro padanya sudah tidak bisa lagi dimaafkan. Kecupan panas dan gigitan yang Chihiro berikan pada Tetsuya benar-benar membuat Chihiro gila. Ini sungguh nikmat, belum lagi bagian bawahnya yang dicengkeram kuat oleh lubang Tetsuya ketika dirinya bergerak lebih dalam.

Tetsuya masih menangis dengan suara yang mulai serak. Hatinya benar-benar hancur. Ia ingin mati saja menyusul kedua orang tuanya.

"AKH! AH AH AHH BERHENTII! TOLONG!" Tetsuya memohon dengan rasa putus asa yang amat sangat. Chihiro tidak peduli. Tempo gerakannya semakin cepat membuat tubuh Tetsuya bergoncang keras. Gerakan Chihiro diatasnya benar-benar tanpa perasaan. "AHH Tetsuyaa! Tetsuyaa.." Chihiro melumat bibir Tetsuya lagi untuk menyalurkan hasratnya yang meluap. "Aku mencintaimu Tetsuya." Dengan satu hentakan keras Tetsuya mencapai klimaks keduanya dan Chihiro menyusul klimaks setelahnya.


Bersambung