Toshiro mengaduk cappucino di cangkirnya sebelum ia menyeruput minumannya tersebut.
"Jadi, Hinamori akan bertunangan?" tanya pemuda tersebut.
Rukia menganggukkan kepalanya. "Lalu bagaimana dong, Shiro-chan?"
"Kok bagaimana? Bukankah itu bagus," sahut Toshiro.
"Shiro-chan menyukai Momo, bukan?" terka gadis itu. Toshiro yang saat itu sedang meneguk minumannya, tersedak mendengar kalimat yang dilontarkan adik tirinya. Dirinya terkejut mendengar ucapan yang keluar dari mulut Rukia tersebut.
"Benar kan kalau Shiro-chan menyukai Momo," ulang Rukia saat Toshiro sudah berhenti terbatuk.
"Aku hanya terkejut, bukan berarti apa yang kau katakan itu benar!" bantah Toshiro.
Rukia mendesah pelan—kesal karena Toshiro tidak mau mengakui perasaan yang sedang dirasakannya saat ini. "Terserah Shiro-chan saja. Pokoknya aku sudah menyampaikan berita ini padamu. Selanjutnya, lakukan saja apa yang ingin Shiro-chan lakukan," ucap Rukia dengan kesal.
Gadis itu bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Toshiro. Sementara pemuda itu hanya diam tanpa berniat mencegah Rukia. Pikirannya menari saat ia mengingat berita yang barusaja Rukia sampaikan. Dadanya terasa sesak, namun rasa ini benar-benar terasa menyakitkan—bukan seperti yang dirasakannya beberapa hari yang lalu. Dibenaknya muncul wajah Momo yang mengucapkan salam perpisahan padanya—namun ia hanya diam tanpa menjawab ucapan gadis itu. Bukan, bukan karena ia marah atau sedang kesal dengan gadis itu. Bukan juga karena ia memang sengaja bersifat dingin. Tapi, karena ia memang tidak mau mengucapkan salam perpisahan dengan gadis itu—karena ia berharap, ia masih akan menemui gadis itu di masa yang akan datang.
Toshiro kembali meresapi cappuccino yang dipesannya saat ia bertemu dengan adiknya—Rukia.
"Aku merindukanmu, Momo!" ucapnya lirih.
.
.
.
.
.
Bleach © Tite Kubo
.
.
Sequel Between You and Me
.
.
Only Your Love
.
.
.
.
Momo tersentak dari lamunannya. Dia merasa bahwa ada yang barusaja memanggilnya, dan suara itu adalah suara Toshiro—suara dari pemuda yang dirindukannya. Gadis itu menghela nafasnya. Sosok pemuda berambut putih itu, entah mengapa mulai memenuhi alam pikirannya.
"Menunggu lama?" tanya pemuda yang akan berstatus menjadi tunangannya dalam beberapa hari lagi itu tiba-tiba.
Momo menggeleng pelan. Memang sedari tadi dia menunggu Shuuhei di kafe yang dulu sekali sering mereka jadikan tempat untuk menghabiskan waktu mereka, sampai pemuda tersebut selesai dari urusan kantornya. Ya, Shuuhei sudah bekerja di perusahaan yang dia bangun beberapa tahun yang lalu—dan tentunya sekarang perusahaan tersebut sudah menjadi salah satu dari sepuluh perusahaan termaju dan terbesar di Eropa.
"Kamu daritadi melamun ya?"
Momo menatap tajam pemuda berjas hitam di hadapannya. "Bukan urusanmu!"
Shuuhei tersenyum kecil mendengar kalimat dingin yang dilontarkan gadis itu. Pemuda itu lebih memilih duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan gadis bermata hazel tersebut—dengan meja sebagai pembatas mereka.
"Barusan Ichigo meneleponku," ucap Shuuhei.
Mendengar nama kakaknya disebut, Momo spontan menatap Shuuhei dengan pandangan penuh rasa ingin tahu. "Apa yang kalian bicarakan?"
Shuuhei mengangkat bahunya. "Hanya mengenai bisnis. Perusahaan kami akan melakukan kontrak kerjasama untuk beberapa tahun ke depan setelah ia melangsungkan pernikahannya. Ohya, Ichigo juga memintaku untuk mengatakan padamu bahwa pernikahannya dimajukan karena ternyata persiapannya dapat selesai lebih awal."
Momo menganggukkan kepalanya. "Sepertinya aku akan datang di hari pernikahan mereka!"
"Tentu saja kau harus datang. Kau ini kan adik sepupu yang paling Ichigo sayangi. Tapi sepertinya, aku juga akan menemanimu datang ke acara pernikahan Ichigo," ucap Shuuhei.
"Tidak usah! Aku pergi sendiri saja," tolaknya.
Shuuhei menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bermaksud menemanimu ke acara pernikahan Ichigo, Momo! Tadi Ichigo yang mengundangku, dan sebagai teman yang baik, aku tentu menerima permintannya. Jadi, nanti kita akan berangkat bersama-sama dan aku sudah memesan dua buah tiket untuk kita berdua," jelas Shuuhei panjang lebar.
Momo mendesah kecil. Gadis itu merutuk dalam hati—mengapa Ichigo justru mengundang orang yang paling tidak disukainya. Momo menatap ke arah Shuuhei sambil memandang wajah pemuda itu lekat-lekat. "Aku—"
"Pokoknya kita berangkat bersama-sama. Tidak ada alasan untuk menolak," sahut Shuuhei memotong ucapan Momo.
Gadis itu menghela nafasnya. Dan untuk yang kesekian kalinya, ia kembali menyerah. Dengan berat hati, dianggukkan kepalanya tanda menyetujui apa yang diucapkan pemuda di hadapannya tersebut.
~x~x~x~x~x~
Momo mencibirkan mulutnya mendengar alasan Ichigo. "Tapi tidak perlu mengundangnya juga, bukan?"
"Dengarkan aku, Momo! Aku sudah mengatakan hal ini berulang-ulang padamu, Shuuhei adalah kawan lamaku. Jadi wajar saja aku mengundangnya ke acara pesta pernikahanku dengan Rukia, ada yang salah?"
"Salah besar! Kau sudah membuatku terjebak bersamanya di sepanjang perjalanan nanti," jawab Momo sambil sedikit menjerit kesal.
"Pelankan sedikit suaramu, telingaku masih normal. Dengar, aku tahu kau sangat tidak menyukai Shuuhei−"
"Ralat, sangat membencinya!"
"Ya, aku tahu. Walau kau sangat membencinya, kumohon biarkan aku mengundangnya. Dia kawanku, sahabatku di masa sekolah dulu. Kau pasti mengerti, bukan?" sahut Ichigo.
Gadis itu menggerutu tak jelas. "Terserah apa maumu saja," putusnya.
Ichigo menghela nafasnya panjang. "Apa kau sangat membencinya?" Tanya Ichigo dengan nada hati-hati.
"Menurutmu?" Gadis itu membalikkan pertanyaannya.
"Aku? Kalau menurutku, iya."
"Kalau sudah tahu jangan bertanya," cecarnya.
Ichigo mendesah kecil. "Dia punya alasan, Hinamori Momo!"
"Alasan? Meninggalkanku tanpa sebab dan kau masih membelanya dengan mengatakan dia punya alasan? Seumur hidup, baru kali ini aku menganggapmu benar-benar orang terbodoh, Kurosaki Ichigo!"
"Jangan mengataiku bodoh," bantah Ichigo. "Setidaknya, sudahkah kau bertanya mengapa ia melakukan hal itu?"
"Melihat wajahnya saja aku sudah malas, apalagi harus menanyakan alasannya yang sempat menghilang. Aku tidak peduli," sahut Momo sebelum ia mematikan sambungan teleponnya dengan Ichigo.
"Menanyakannya? Itu hal terbodoh yang tidak akan pernah kulakukan seumur hidupku," ucapnya pelan dengan nada kesal sebelum ia memutuskan untuk terjun ke dunia mimpi.
~x~x~x~x~x~
Toshiro menatap langit malam−untuk yang kesekian kalinya. Taburan bintang itu sudah tak mengingatkannya lagi akan sosok Rukia. Justru bintang tersebut mengingatkannya pada seorang gadis bermata hazel, Hinamori Momo.
"Shiro-chan menyukai Momo, bukan?"
Suara Rukia kembali berdengung di kepalanya. Toshiro yakin, seberapapun kerasnya ia menolak pernyataan tersebut, sekeras itu pula ia menginginkan dirinya menyetujui hal tersebut.
Toshiro menyenderkan dirinya di kursi malasnya. Sesekali pikirannya terbang−kembali mengingat kenangan antara dirinya dengan Hinamori yang masih terbilang sedikit. Pemuda itu menghela nafasnya.
"Apa kau benar akan bertunangan, Momo?" tanyanya dengan suara lirih.
Hening. Tak ada jawaban−karena memang hanya dirinya sendirilah yang ada di teras tersebut. Toshiro kembali menghembuskan nafasnya dengan berat. Ia mulai memejamkan matanya dan membiarkan mimpi tersebut membawanya terbang menemui gadis yang sudah berhasil mencuri hatinya.
Dan gadis itu adalah Hinamori Momo.
~x~x~x~x~x~
~x~x~To Be Continued~x~x~
~x~x~x~x~x~
Pertamaaa, Yurisa tau kok kalo chapter ini pendek. Pendek banget malah. Maafin ya minna~ *bungkuk-bungkuk*
Reviewnya, Yurisa balas lewat PM aja ya? Gapapa kan?
Oke, last, mind to review?
