Chapter 2 desu!
Makasih banyak buat yang sudah bersedia untuk review, fav, dan follow. Arigatou gozaimasu! :3
Tsuna27: Sip, ini lanjutannya. Maaf lama yah. X3
kyuu: Arigatou gozaimasu! c:
zee kyoutsu12: Pastinya kehidupan Tsuna jauh lebih baik abis dibawa Reborn dkk. :3 Saya asyik nulis sendiri dan tahu2 Om Verde jadi pedo gitu. Chap ini juga. XD
Chapter 2 ini agak... panjang dari biasanya. Anyway, please enjoy!
.
.
Innocence
KHR! © Amano Akira
1827
Warnings: Slight OOC (well, because it's AU), Papa!Reborn, Raep attempt (I'm not gomen), Vampire bites
.
.
Chapter 2: A Desperate Canary
.
.
Sepasang manik caramel menampakkan diri di balik kelopak mata yang beberapa kali berkedip ketika sang pemilik mata berwarna hangat tersebut pertama kali terbangun.
Tsuna perlahan mengangkat kepalanya dari tangannya yang terlipat di atas sebuah meja yang sangat besar. Kepalanya merasa sangat ringan saat itu, sehingga butuh waktu beberapa saat sampai kesadarannya benar-benar pulih.
"Di mana aku...?" tanyanya kepada dirinya sendiri. Pandangannya menyisir segala sudut ruangan guna mencari tahu di mana dirinya berada saat itu.
Sebuah perpustakaan. Ia sedang berada di sebuah perpustakaan yang sangat besar, dilihat dari banyak sekali rak-rak buku yang mengelilinginya, dan Tsuna baru saja terbangun dalam posisi duduk pada salah satu dari sekian banyak kursi yang ditata mengitari sebuah meja tua yang lebar di tengah perpustakaan itu.
"Konnichiwa."
Tubuhnya sedikit melonjak kaget ketika tiba-tiba, ia mendengar suara yang tak begitu familiar di telinganya. Tsuna menolehkan kepalanya ke belakang, ke tempat suara tersebut berasal. Dan di sana, di antara beberapa rak buku yang berderet rapi, berdiri seorang pria bersurai pirang yang tengah memegang sebuah buku terbuka di tangannya.
Pria tersebut memakai kemeja putih dengan sebuah rompi hitam di atasnya, beserta sebuah celana panjang hitam. Yang berhasil membuat Tsuna terheran adalah, pria tersebut memiliki rambut yang sama dengannya—berdiri dan melawan grafitasi, namun ia menyadari rambut pria itu yang sedikit lebih panjang dari rambutnya sendiri.
"...Siapa kau?" tanya Tsuna dengan ragu, tak tahu apakah ia harus membiarkan dirinya waspada atau rileks dalam keberadaan pria tersebut.
"Hm..." gumam pria itu tanpa segera menjawab pertanyaan Tsuna. Sang pria lantas tersenyum lembut, sebelum tangannya menimbulkan sedikit gerakan kecil untuk menutup buku di tangannya. "Namaku... Cielo. Kau bisa memanggilku Cielo."
Nada yang mengalun dari bibir pria bernama Cielo itu terdengar begitu lembut, dan hanya karena suara tersebut insting Tsuna berkata bahwa sang pria tak bermaksud jahat. "Di mana ini? Ah, namaku—"
"Sawada Tsunayoshi, bukan?" potong Cielo, senyum di wajahnya belum menyusut. Sementara Tsuna tertegun—darimana pria itu tahu namanya? "Benar juga. Kau baru pertama kali kupanggil kemari."
"Jadi... kau yang memanggilku kemari?" Tsuna memutar tubuhnya yang masih berada pada sebuah kursi tua agar ia dapat dengan leluasa mengamati Cielo yang ada di belakangnya.
"Mungkin," jawab pria itu dengan misterius. "Tempat ini berada di antara dunia nyata dan dunia mimpi. Tempat ini menyerupai mimpimu, namun segalanya yang terjadi di sini adalah kenyataan."
"Cielo-san, ya?" Tsuna memanggil nama sang pria. Ia dapat melihat kilatan senang pada kedua mata biru Cielo ketika Tsuna memanggil namanya. "Kenapa kau memanggilku kemari?"
"Aku tidak memiliki suatu alasan khusus," Cielo menjawab dengan tenang. "Namun, aku merasa perlu mengucapkan... selamat berjuang, kepadamu."
"Eh?" Tsuna mengernyitkan dahinya, tak mengerti satupun maksud dari perkataan pria misterius di seberangnya. "Kenapa?" tanyanya lagi.
"Karena... segalanya baru saja akan dimulai sekarang."
"Segalanya?" Tsuna mengedip bingung. Terlalu banyak pertanyaan di dalam benaknya. Kepalanya yang terasa sangat ringan juga semakin membuat pikirannya tidak fokus, sehingga ia tak dapat memikirkan lebih jauh arti dari perkataan penuh teka-teki Cielo.
"Ya... Segalanya." Iris biru milik sang pria menatap lurus warna cokelat dari kedua mata Tsuna. "Aku akan terus melihatmu dari sini. Karena itu, berjuanglah dengan segalanya yang kau punya. Apapun yang terjadi, jangan menyerah."
"Tunggu sebentar, ada banyak hal yang ingin ku—Ugh!" Tangan Tsuna menyentuh keningnya sendiri ketika rasa pening yang luar biasa menyerang kepalanya, pandangannya semakin buram.
Bersamaan dengan kesadaran Tsuna yang mulai menghilang, senyum pada wajah Cielo melebar. "Sampai jumpa, Tsunayoshi."
Saat kedua tirai matanya kembali terbuka, Tsuna menemukan bahwa dirinya tak lagi berada di ruang perpustakaan aneh tadi. Mungkin, apa yang Cielo katakan benar, bahwa dunia tadi memanglah menyerupai dunia mimpinya.
Tubuh sang pemuda tengah berbaring di atas ranjang pada sebuah ruangan serba putih. Suasana pada ruangan tersebut membuat batinnya terasa jauh lebih ringan. Sebab, itu merupakan sebuah ruangan yang jauh berbeda dengan ruangan yang biasa ia tempati di laboratorium yang baru saja ia tinggalkan.
Ruangan itu berwarna putih, sama dengan ruangan yang selama sepuluh tahun ia tempati sebagai seorang kelinci percobaan. Namun, warna putih pada dinding ruangan tersebut nampak lebih cerah dari biasanya, akibat dari cahaya matahari yang menyeruak masuk, menerpa lantai putih ruangan itu dengan kehangatannya. Jendela yang terbuka lebar membuat udara segar mengalir, menggantikan udara pengap setelah ruangan tersebut semalaman tertutup.
Tsuna cepat-cepat meletakkan tangannya pada dada kirinya. Helaan nafas lega keluar dari mulutnya begitu ia mengetahui bahwa benda aneh yang ditanamkan pada tubuhnya benar-benar hilang, seperti yang dijanjikan.
Di sudut ruangan, Tsuna melihat sosok familiar yang menambah rasa aman pada batinnya.
"Verde-san?" Tsuna mencoba memanggil Verde dengan lirih, takut mengganggu sang pria yang tengah serius melakukan pekerjaan apapun yang ada pada meja kecil di hadapannya. Jika menajamkan pengamatannya, ia dapat melihat beberapa jenis botol obat dan sebuah mortar untuk menghaluskan obat-obat tersebut. Di samping benda-benda itu, terdapat sebuah gelas berisi cairan berwarna aneh yang berhasil membuat Tsuna bergidik ngeri—jangan bilang kalau ia harus meminumnya nanti?
"Ada apa?" Verde membalas tanpa mengalihkan perhatiannya.
Tsuna terdiam selama beberapa saat. "...Di mana ini?"
"Kau sedang ada di markasku. Tempat ini berada tidak jauh dari Kota Namimori, jadi tenang saja."
Pemuda bersurai cokelat yang tengah berbaring tersebut mengamati ruangan itu sekali lagi. "Markas?"
Agaknya, ruangan yang menjadi bagian dari markas Verde terlihat sangat bersih, dan siapapun akan mengira bahwa ruangan tersebut adalah salah satu kamar pasien pada sebuah rumah sakit. Bayangannya tentang setiap ilmuwan yang hanya mementingkan percobaannya tak sepenuhnya berlaku pada Verde. Kenyataannya, ia justru tetap menyempatkan diri untuk menjaga kebersihan dan kerapian di dalam tempat bekerjanya.
Tsuna menghentikan pikirannya ketika ia melihat Verde mencampurkan hasil tumbukan obat-obat tersebut ke dalam cairan aneh tadi. Setelahnya, pria berambut hijau gelap tersebut membalikkan badannya dan membawakan gelas berisi campuran aneh tersebut pada Tsuna.
"Ano," Kedua iris caramel mengamati cairan berwarna hijau yang tengah disodorkan oleh Verde kepadanya dengan pandangan ragu. "Apakah aku benar-benar harus meminumnya?"
"Tentu saja," dengus Verde, seolah mencoba untuk mengatai Tsuna 'bodoh' akan pertanyaannya barusan. "Kau harus meminumnya. Cairan ini akan menekan kekuatan Kage dalam tubuhmu."
"Eh?" Tsuna mengedipkan kedua matanya dengan heran. "Bukankah aku akan bertarung melawan Kage di luar sana dengan kekuatan itu? Mengapa aku tidak boleh menggunakannya?"
"Aku tidak bilang kalau kau tidak boleh menggunakannya," jawab Verde dengan ketus. Ia kembali mendorongkan gelas tersebut di depan wajah Tsuna, sehingga sang pemuda mau tak mau harus menerimanya. "Dirimu yang sekarang belum dapat mengendalikan kekuatan itu sepenuhnya. Sebelum kau dapat mengendalikannya dengan baik, jangan sesekali menggunakannya. Aku tidak tahu hal buruk macam apa yang akan terjadi. Kau bisa saja melukai orang-orang di sekitarmu, atau bahkan..."
Tsuna memberi sang pria tatapan bingung. "Atau bahkan apa?"
"Tidak." Verde membetulkan letak kacamatanya sambil menatap ke arah lain. "Lupakan saja. Itu hanya asumsi yang belum tentu tepat. Sekarang, cepat minum isi gelas itu. Aku masih ada pekerjaan lain."
Melihat tatapan tajam yang diberikan Verde, Tsuna mengurungkan niatnya untuk kembali menyuarakan protesnya dan lantas mendudukkan tubuhnya yang tadinya masih terbaring.
Ditatapnya gelas berisi cairan berwarna hijau lumut itu untuk yang terakhir kali, sebelum perlahan tangannya membawa gelas tersebut pada mulutnya agar cairan di dalamnya dapat ia tenggak. Dingin yang menusuk terasa ketika cairan aneh yang hambar itu menuruni kerongkongannya. Dua tegukan kemudian, ia melepaskan gelas yang sekarang kosong tersebut dari mulutnya seraya mengeluarkan nafas panjang yang sedari tadi ditahannya.
"Lihat," komentar Verde yang masih berdiri di sampingnya. "Tak seburuk itu, bukan?"
"Yah... mungkin," balas Tsuna seadanya. Menyerahkan gelas tersebut kembali pada Verde, ia lantas bertanya, "Jadi... kapan aku bisa pergi ke Namimori?"
"Kau bisa pergi ke sana menggunakan kereta nanti malam. Reborn akan menunggumu di dalam SMP Namimori."
"SMP... Namimori?" tanya Tsuna lagi. Tanpa berniat untuk menjawabnya, Verde membalikkan badannya untuk melangkah menuju pintu keluar.
Ketika itu, Tsuna menyadari langkah sang pria yang terhenti saat tubuhnya berada tepat di hadapan pintu.
"Bocah."
Terdengar sebuah panggilan dalam balutan suara rendah sang pria yang ditujukan kepada Tsuna. Kepalanya sama sekali tak menoleh dan badannya tak menunjukkan banyak gestur. Itu membuat Tsuna menyadari sedikit keraguan dalam diri Verde.
Ia harus bersabar menunggu selama beberapa saat sebelum sang pria melanjutkan perkataannya.
"Aku juga akan membantumu untuk menjadi lebih kuat."
Setelahnya, Verde lekas melangkah keluar dan membanting pintu ruangan dengan keras—sangat berkontradiksi dengan perkataan yang baru saja diucapkan untuk menunjukkan rasa perhatiannya terhadap pemuda bersurai cokelat itu.
Tsuna memandangi pintu berdaun satu tersebut dalam diam, sebelum akhirnya tersenyum kecil. "Tentu saja, Verde-san. Aku akan mengandalkanmu."
Siang itu, seseorang berambut raven tengah berbaring santai pada atap sebuah bangunan sekolah. Sang raven terdiam sambil memejamkan matanya. Ia tidak benar-benar tidur pada siang itu. Kali ini, ia datang ke atap hanya untuk menikmati semilir angin tanpa berniat untuk tidur siang.
"Hibari," panggil sebuah suara dari belakangnya. Bagi sang raven, tak perlu repot-repot menengokkan kepalanya untuk mengetahui pemilik suara yang begitu dikenalnya tersebut.
Meski begitu, ia memutuskan untuk mendudukkan tubuhnya seraya menolehkan kepala pada pemilik suara bernama Reborn yang berdiri tak jauh dari tempatnya berada. Sang raven menyeringai sebelum menjawab, "Hn. Ada apa, Papa?"
"Kau masih berniat untuk memanggilku seperti itu?" Reborn mendengus geli.
"Memang kenapa?" Sang raven balik bertanya kepada sang 'Papa'. "Kau sendiri yang memutuskan untuk menjadikanku anak angkatmu. Tidak ada yang salah apabila aku memanggilmu Papa."
"Aku tidak pernah berkata kalau kau akan menjadi anak angkatku. Aku hanya menyebutkan kalau aku memutuskan untuk memungutmu, wahai anakku." Reborn menyeringai ketika ia memutuskan untuk mengikuti alur percakapan sang raven.
"Jadi, ada perlu apa, Papa?" tanya sang raven sekali lagi, nadanya menjadi sedikit lebih serius.
"Aku sudah menyelamatkan dia," ucap Reborn perlahan, sengaja agar sang raven dapat mendengarkan perkataannya baik-baik.
"Dia...?" Sang raven menaikkan sebelah alisnya. "Maksudmu... Omnivore yang itu?"
Reborn menanggapinya dengan seringai yang melebar. "Bagaimana? Kau sudah merasa cukup senang untuk menghentikan drama tengah malam yang biasa kau lakukan? Jujur saja, aku sebenarnya cukup terhibur ketika kau memandangi foto anak itu tiap malam sambil mengatakan, 'Aku ingin bertemu denganmu'... Heh."
"Papa-sialan," umpat sang raven yang kini sibuk memberikan tatapan tertajamnya kepada Reborn yang telah mengusik privasinya. Bukan salah dirinya bila ia begitu tertarik pada anak itu.
"Jadi, Hibari. Aku ingin kau mendampinginya ketika ia sampai di sini nanti. Kau tahu, ia masih pemula dan belum mengerti apapun—efek dari terperangkap di sebuah gedung suram selama sepuluh tahun."
"Sepuluh tahun? Selama itu?"
"Begitulah."
Seiring dengan jawaban singkat yang keluar dari mulut Reborn, bel masuk yang terdengar ke seluruh penjuru sekolah terdengar. Sang raven menyisir surai hitamnya dengan jemarinya sebelum memutuskan untuk beranjak dari posisinya.
Seraya memasukkan kedua tangan pada saku celananya, sang raven mendongak ke atas dalam diam. Ia memang belum mengatakan apapun, karena ia tengah membiarkan seringai pada wajahnya melebar. Lagipula, ia sendiri juga yakin bahwa Reborn telah mengetahui jawabannya tanpa mendengarnya mengutarakan sebuah jawaban yang pasti.
Sang raven membiarkan dirinya tertawa kecil.
"...Tentu saja, Papa. Aku akan berada di sisi Tsunayoshi."
.
Mereka bilang, ada sebuah waktu di mana para Kage akan berada pada titik terkuatnya.
Waktu tersebut adalah...
Malam hari.
Aku belum merasakannya... Yang terkuat belum akan muncul malam ini...
Karena itu, kau akan selamat.
Namun, bukan berarti kau bisa mengangkat kepalamu terlalu tinggi...
Tetaplah berhati-hati, Tsunayoshi.
.
"Perhatian untuk seluruh penumpang. Pemberhentian selanjutnya adalah Namimori. Harap me—"
Kedua mata Sawada Tsunayoshi yang sempat tertutup kembali terbuka ketika suara intercom terdengar jelas di dalam kereta yang cukup sepi tersebut. Tangannya mengusap kedua matanya yang terasa berat.
'Mimpi apa aku barusan? Ah, benar juga. Cielo-san baru saja memanggilku ke tempat aneh itu...'
Tsuna membenarkan posisi duduknya seraya menoleh ke arah kaca jendela di sampingnya. Muncul pantulan wajahnya yang sedikit gelap oleh bayangan akibat hoodie dari jaketnya yang tengah menutupi kepalanya.
'Malam hari... adalah waktu Kage menggila, ya? Mungkin aku harus berhati-hati seperti yang Cielo-san katakan. Tapi daripada itu...' Tsuna kembali memusatkan perhatiannya pada pemandangan yang nampak terbingkai oleh jendela kereta, dan tersenyum kecil. 'Aku tak tahu kalau dunia ini... mempunyai sisi yang begitu indah.'
Iris caramel berkilat dengan ketertarikan akan pemandangan malam hari di luar sana. Mungkin bagi sebagian orang, itu bukanlah suatu pemandangan yang begitu menakjubkan, namun mengingat Tsuna yang selama sepuluh tahun tak pernah pergi keluar, hal itu tak mengherankan.
Hari ini, ia memutuskan untuk benar-benar mengistirahatkan tubuhnya. Dirinya baru saja terbangun sore harinya—entah sudah berapa lama ia tertidur sejak ia meminum ramuan aneh Verde—dan menemukan sepucuk surat pada meja di samping ranjangnya. Tentu saja, pengirim surat tersebut tak lain adalah Verde. Pria itu berkata dalam suratnya bahwa setelah ini, Tsuna bisa langsung pergi ke stasiun untuk berangkat menuju Namimori tanpa perlu meminta izin darinya. Sang pemuda tersenyum lebar ketika ia melihat satu set pakaian di atas meja tersebut yang telah disiapkan oleh Verde.
Tidak ada yang tahu kalau Verde begitu peduli padanya. Kecuali Reborn, mungkin.
Sesaat setelah lamunannya tentang Verde terhenti, penglihatannya disambut oleh pemandangan sebuah kota besar dengan gemerlap lampu di sana sini. Terdapat begitu banyak gedung-gedung pencakar langit. Rupanya, Namimori adalah sebuah kota modern yang cukup besar. Ia sudah sepantasnya bersyukur karena dilihat dari besarnya Kota Namimori, ia tak perlu repot karena kecanggihan teknologi di sana justru menunggu untuk dimanfaatkan.
Pengumuman dari sebuah intercom kembali memperingatkan para penumpang bahwa sebentar lagi mereka akan sampai pada tempat tujuan. Melihat stasiun tujuannya yang berjarak beberapa meter lagi, Tsuna memutuskan untuk berdiri sambil tak lupa menenteng ranselnya.
'Tapi... Apa yang akan kulakukan jika aku bertemu dengan Kage? Kalau dipikir-pikir, aku sama sekali tidak memiliki pengalaman bertarung dengan mereka. Ditambah lagi, aku tak bisa dengan leluasa menggunakan kekuatanku.'
Kereta yang ditumpanginya perlahan berhenti.
Tsuna yang berada paling dekat dengan pintu kereta dapat segera melangkah keluar. Keramaian stasiun segera saja menyambut kedatangannya di Kota Namimori. Ia lekas memastikan agar posisi hoodie yang menutupi kepalanya tak lepas. Dirinya tak terlalu terbiasa dengan keramaian, sehingga ia lebih memilih untuk menyembunyikan keberadaannya.
Sebelum Tsuna sempat melangkahkan kakinya kembali, ia mendengar sesuatu yang berhasil membuat seluruh tubuhnya membeku.
'Suara itu... aku yakin barusan itu—'
Sebuah raungan yang sangat mengerikan. Ia bisa mendengarnya, menggema di seluruh penjuru stasiun itu. Seketika, alarm peringatan pada stasiun itu berbunyi dengan nyaring. Keramaian yang mencerminkan suasana hangat kini berubah menjadi sebuah kepanikan yang luar biasa. Orang-orang berlarian untuk menyelamatkan diri, sementara Tsuna masih tetap berdiri pada tempatnya semula.
Kedua matanya melebar ketika sebuah gumpalan hitam yang besar menampakkan diri pada langit-langit stasiun itu. Gumpalan hitam tersebut perlahan berubah wujud menjadi seekor rusa dengan tanduk yang begitu besar dan tajam. Wajahnya tertutup oleh sebuah topeng berwarna orange.
Tidak butuh waktu lama untuk mengetahui bahwa makhluk tersebut adalah satu dari mereka...
"Kage," gumam Tsuna sambil terus mengamati makhluk tersebut. Yang benar saja... sedari tadi, ia memang merasa khawatir apabila dirinya yang masih amatir ini bertemu dengan Kage, pada malam hari pula. Tapi tak disangka bahwa ia akan berhadapan dengan mereka secepat ini, sesaat setelah ia menginjakkan kakinya keluar dari kereta.
Ini adalah kali pertamanya melihat seekor Kage, namun ia dapat merasakan aura berbahaya yang terus dikeluarkan oleh makhluk itu.
Sebulir keringat menetes dari dahinya. 'Jadi inilah rasanya jika kau berada di dekat seekor makhluk yang terlahir dari kegelapan hati manusia...'
Hanya dengan melihat sosok mereka saja, hatinya terasa begitu berat, seolah ia baru saja melakukan dosa terbesar seumur hidupnya. Rupanya, Kage juga dapat memanipulasi hati manusia seperti ini... Benar-benar makhluk yang mengerikan.
Sebuah raungan keras terdengar dari Kage raksasa berbentuk rusa tersebut. Tsuna segera memasang kuda-kuda, dengan waspada mengamati pergerakannya. Pandangannya menajam ketika mulut Kage di hadapannya terbuka lebar.
'Ia akan melakukan sesuatu... Aku harus berhati-hati.'
Instingnya berkata tepat, ketika makhluk tersebut tiba-tiba menyemburkan api dalam jumlah besar ke arahnya. Dengan cepat, ia melompat menghindari semburan tersebut dan berlari menuju belakang tubuh makhluk itu. Tsuna meraih tangan kanannya, hendak memanggil kekuatan yang selama ini ia andalkan jika saja ia tidak mengingat pesan yang ditinggalkan oleh Verde kepadanya.
'Dirimu yang sekarang belum dapat mengendalikan kekuatan itu sepenuhnya. Sebelum kau dapat mengendalikannya dengan baik, jangan sesekali menggunakannya.'
"Cih," umpat Tsuna kesal. Kalau sudah seperti ini, mau tak mau ia harus menggunakan kekuatannya sendiri.
Sebelum Kage berukuran raksasa itu menyadari keberadaannya, Tsuna menendangnya dengan kekuatan penuhnya hingga sang monster terpental jauh. Tanpa membiarkannya memulihkan diri, Tsuna melesat menuju makhluk tersebut untuk mendaratkan beberapa pukulan kuat.
Tsuna melompat mundur untuk mempersiapkan diri akan serangan balik. "Apakah ini berhasil melukainya?" tanyanya sambil mengamati setiap gerakan makhluk itu.
Serangan balik yang telah ia perkirakan tak pernah datang. Sebuah raungan keras terdengar. Kage itu kembali menjadi gumpalan hitam dan akhirnya menghilang.
"...Sudah selesai?" tanya Tsuna dengan heran. "Beruntung sekali, sepertinya dia adalah tipe yang lemah. Aku belum mempunyai cukup pengalaman untuk melawan mereka, jadi bisa gawat bila aku bertemu yang kuat," gumam Tsuna pada dirinya sendiri sembari membetulkan letak tas ransel yang tak dilepasnya saat ia bertarung tadi.
Usai mengeluarkan helaaan nafas yang cukup panjang untuk menenangkan dirinya sendiri, Tsuna kembali melanjutkan perjalannya. Selama ia berjalan menuju pintu keluar stasiun itu, ia mendengar banyak sekali pembicaraan tentang dirinya yang baru saja melawan seekor Kage berbentuk rusa tadi.
"Hei, kau lihat itu? Dia keren sekali, mengalahkan seekor Kage hanya dengan tangan kosong!"
"Kau benar. Apakah dia orang Asosiasi?"
"Menurutku bukan. Aku tak melihatnya memakai badge Asosiasi."
Tsuna mengernyitkan dahinya ketika telinganya menangkap salah satu pembicaraan yang menurutnya menarik. 'Asosiasi? Apakah itu semacam organisasi yang membasmi Kage?'
Toh, ia bisa menanyakan hal itu kepada Reborn nanti. Saat ini, hal terpenting baginya adalah cepat sampai di SMP Namimori dan bertemu dengan Reborn. Dengan tujuan tersebut di dalam hatinya, Tsuna kembali berjalan tanpa menghiraukan pembicaraan orang-orang di sekitarnya.
Dari apa yang tertulis pada surat Verde, SMP Namimori merupakan sekolah menengah yang didirikan secara khusus. Di dalam kompleksnya yang sangat luas, SMP Namimori menampung baik murid yang ingin belajar secara normal, maupun murid yang belajar untuk menjadi pembasmi Kage yang baik.
Tsuna tak tahu alasan mengapa Reborn menunggunya di gedung sekolah tersebut. Entah pria ber-fedora itu hanya menginginkan mereka bertemu di sana, atau memang ia memiliki rencana lain. Pikiran seorang Reborn memang sulit ditebaknya.
Jangan-jangan apa yang dikatakan Verde tentang itu memang benar? Tentang dirinya yang akan didaftarkan pada sekolah tersebut, dan Reborn menunggunya karena ia ingin mengucapkan selamat datang? Itu mungkin saja. Tsuna datang ke Namimori karena ia ingin belajar untuk bertarung dan mencari pengalaman.
Tsuna baru ingat, Reborn tak menyebutkan secara spesifik tempat pertemuan mereka. Mana mungkin bila ia harus mencari ke setiap sudut sekolah yang luas itu?
Tanpa tujuan yang jelas dalam pikirannya, Tsuna memutuskan untuk berjalan menuju gedung sekolah di sebelah barat—tempat di mana pembasmi Kage seperti dirinya dilatih. Ia memutuskan untuk mengobservasi gedung sekolah tersebut sambil mencari keberadaan Reborn.
Kedua kakinya terus melangkah melewati ruang locker, menuju lobby utama yang nampak sangat gelap tanpa satupun lampu yang menyala. Sepertinya, mereka telah mematikan semua lampu berhubung malam sudah larut. Hal ini membuat Tsuna sedikit mengurungkan niatnya untuk menjelajah bangunan sekolah tersebut.
"Mungkin lebih baik jika aku kembali... dan bertanya kepada siapapun tentang keberadaan Reborn."
Tsuna baru saja memposisikan kaki kanannya untuk memutar badan ketika sebuah suara asing menyapa gendang telinganya.
"Hn. Jadi kau manusia setengah Kage yang disebut-sebut itu?"
Dengan waspada, Tsuna menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Suasana di sekitarnya yang begitu gelap tak terlalu membantunya untuk bisa melihat wajah sang pemilik suara. Seolah bisa mengerti rasa ingin tahu Tsuna, orang asing tersebut perlahan berjalan mendekat guna menunjukkan dirinya, dan tingkat kewaspadaan Tsuna meningkat setiap orang tersebut mengambil langkah maju mendekatinya.
"Siapa kau?" bisik Tsuna ketika penglihatannya melihat sosok tersebut dengan jelas.
Ia adalah seorang pemuda berambut raven dengan wajah menawan, kedua matanya berwarna biru besi yang indah dan mulutnya membentuk sebuah seringai, beberapa dari helai rambutnya menutupi dahinya sehingga bayangan yang menambah kesan mengerikan menimpa wajahnya. Sebuah kaos tanpa lengan serta celana panjang yang sama-sama berwarna hitam menjadi balutan pakaiannya.
Dan, apakah ia sedang berhalusinasi? Tsuna yakin tidak, namun yang jelas, wajah pemuda tersebut sangat mirip dengan wajah Fon. Mungkin pemuda itu adalah saudara Fon atau semacamnya?
"Sawada Tsunayoshi..." Pemuda tersebut mendesiskan nama Tsuna.
Tsuna baru saja akan mengetatkan penjagaannya ketika pemuda asing itu melesat menuju sosok half-Kage tersebut tanpa memberi sebuah peringatan dalam bentuk apapun, dan menubruknya hingga mereka berdua terjatuh dalam posisi sang pemuda raven yang berada di atas dan Tsuna yang berada di bawah.
Mereka tetap berada dalam posisi tersebut selama beberapa menit ke depan. Dan itu membuat Tsuna heran. Iris kelabu milik sang raven terus menatap lurus iris caramel-nya. Sang pemilik iris yang indah tersebut sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda untuk menggerakkan tubuh dan tetap menatapnya.
Setelah beberapa detik berlalu, manik cokelat hangat menatap sang raven dengan bingung.
"Tunggu, kau—mmn!"
Jantung Tsuna terasa hampir copot ketika pemuda bersurai raven di depannya lagi-lagi membuat pergerakan yang tidak diduga. Kali ini bukan tubrukan atau serangan menyakitkan lainnya, melainkan bibir lembut yang menempel pada bibirnya sendiri serta lidah yang menyeruak masuk ke dalam mulutnya yang tanpa sengaja terbuka saat ia berniat melontarkan sebuah pertanyaan.
Kedua tangannya bergerak-gerak untuk menjauhkan bibir tersebut darinya, namun usahanya terbukti sia-sia ketika tangan milik sang raven sendiri mengunci kedua tangan Tsuna di atas surai cokelatnya. Kedua kakinya juga tak dapat ia gunakan untuk memberontak karena mereka telah tertindih oleh kaki sang raven.
Memastikan bahwa pemuda di bawahnya tak dapat lagi memberontak, sang raven kembali memfokuskan dirinya untuk bermain dengan bibir pemuda yang lebih mungil tersebut, menggigit belahan bibir tersebut perlahan dan menggunakan lidahnya untuk menyapu segala sudut dalam rongga mulutnya.
Tsuna sendiri telah berusaha untuk menutup mulutnya, mendorong kembali lidah itu dengan lidahnya sendiri, namun apa yang ia dapat akan perbuatannya tersebut adalah sensasi yang sangat aneh... yang sebenarnya tak terlalu ia benci.
"Ahh! Henti... Mmn..."
Pada akhirnya, ia tak bisa melakukan apapun ketika sensasi aneh yang baru pertama kali ia rasakan tersebut muncul. Yah, setidaknya ia berusaha untuk menolaknya tadi.
Sang raven memutuskan untuk melepaskan cumbuan mereka karena tuntutan akan kebutuhan udaranya. Sebuah benang saliva yang semula tercipta ketika kedua bibir saling menjauh akhirnya terputus dan mendarat pada dagu Tsuna. Sang half-Kage menggunakan kesempatan tersebut untuk menggerakkan kembali tangan dan kakinya yang masih terperangkap.
Dan usahanya kembali sia-sia ketika cengkeraman serta tindihan yang diberikan tangan dan kakinya bertambah kuat, sangat kuat hingga Tsuna mulai merasakan sakit.
"Kau," geram sang raven, ia mendekatkan kepalanya pada leher Tsuna. "Bisakah kau diam sebentar saja? Aku sudah sangat haus."
"Haus?" Tsuna tak habis pikir. Ia memang telah terperangkap dalam sebuah bangunan tanpa melihat dunia luar dalam waktu sepuluh tahun, namun ia masih mengerti bahwa jika seseorang merasa haus, ia harusnya segera pergi mencari minum dan bukan justru menyerang orang seperti ini. "Kalau begitu, kenapa kau malah—Nngh!"
Tsuna secara refleks memejamkan kedua matanya ketika rasa sakit menyerang lehernya akibat dua gigi taring yang menerobos lapisan kulitnya. Ia masih belum dapat mengerti bagaimana sang raven menumbuhkan gigi taring setajam itu, dan pikirannya segera teralihkan ketika ia bisa merasakan darahnya tersedot. Suara tegukan pelan yang didengarnya juga membuktikkan fakta bahwa—
"Kau—kenapa kau menghisap darahku...?" rintih Tsuna kesakitan. Sang raven tak lekas melepaskan taringnya dari kulit leher Tsuna untuk menjawab. Tsuna justru merasakan hisapan yang lebih kuat pada lehernya, beriringan dengan rasa panas yang perlahan menyerang tubuhnya. Tunggu—rasa panas apa itu? Tentunya ia tidak sedang demam, bukan?
Dengan raut wajah kesakitan karena gigitan sang raven—dan karena rasa panas aneh di dalam tubuhnya, Tsuna tak bisa melakukan hal berguna selain menarik-narik rambut raven yang tenggelam pada lehernya dengan lemah.
"Hh... Mmh—Henti... kan..."
Tunggu—ada apa dengan suara-suara aneh yang tanpa sadar ia luncurkan itu?
Beruntung, sang raven segera melepaskan gigitan dan hisapannya dari leher Tsuna untuk menatap half-Kage yang tengah terengah dengan wajah memerah tersebut. Sambil menjilat bibirnya sendiri, sang raven kembali mendekatkan wajahnya pada Tsuna, kali ini beserta tangannya yang perlahan bekerja untuk menanggalkan jaket Tsuna.
"Kenapa aku menghisap darahmu? Bukankah sudah jelas?" Sang raven membawa salah satu tangannya untuk menangkup wajah Tsuna dengan lembut. "Aku adalah vampir. Bukankah aku sudah mengatakan kalau aku haus?"
Vampir? Makhluk seperti itu benar-benar ada di dunia ini? Tsuna hanya dapat mengedip heran tanpa bisa mengatakan apapun.
"Hn. Ngomong-ngomong, saliva-ku mengandung aphrodisiac. Jangan heran jika tubuhmu terasa aneh."
Bolehkah Tsuna menonjok wajah datar yang terkesan acuh tak acuh itu? Sekali saja?
"...Aku tidak datang kemari untuk bermain-main denganmu."
Sebuah seringai kembali merambat pada wajah sang raven. "Bermain-main macam apa yang kau maksud?"
"Bisakah kau diam?" keluh Tsuna. Ia sedang tidak ingin memikirkan hal-hal macam itu saat ini.
Tanpa menghiraukan keluhan itu, sang raven kembali menundukkan kepalanya dan bersiap untuk kembali menghisap darah Tsuna.
'Oh... bagus sekali,' Tsuna memejamkan kedua matanya dengan pasrah. 'Ini adalah hari pertamaku di Namimori, dan aku sudah kehilangan ciuman pertamaku... serta sedikit darahku, mungkin.' Wajahnya lalu sedikit menoleh untuk mengamati surai hitam yang menempatkan dirinya di bawah dagunya. 'Benar juga. Kenapa tak kuhajar saja orang ini? Dengan kekuatanku, mungkin saja bisa, tapi...'
"Hng!" Kelopak mata kembali menutup ketika rasa sakit akibat dua gigi taring yang menusuk kulit lehernya kembali datang.
'Entah apa yang membuatku berserah diri begini. Karena orang ini lebih kuat dariku? Karena ketampanannya? Apa karena efek aphrodisiac? Atau karena—'
DUAKH.
"E... Eh?" Manik cokelatnya melebar ketika sebuah tangan baru saja melesat menuju surai hitam pemuda vampir di atas tubuhnya, menggampar kepala sang raven. Dan tidak hanya itu yang membuatnya kaget.
"Hibari... Sudah kubilang jangan asal menyerang begitu, anak bodoh."
"Re-Reborn!" teriak Tsuna dengan lega seraya memasang ekspresi wajah berkaca-kaca. Lagi-lagi, Reborn datang sebagai penyelamatnya.
"Hn. Papa, mengganggu saja."
Tunggu, apa?
"...Papa?" Tsuna memandang Reborn dengan aneh. "Reborn, kenapa dia memanggilmu Papa?"
Helaan nafas panjang terdengar dari Reborn. Sambil mengatur fedora-nya, sang pria diam-diam mencatat bahwa mengasuh satu orang—atau lebih—anak bisa jadi sangat merepotkan. Terlebih jika anak tersebut adalah abnormal.
Seperti dua anak idiot di hadapannya saat itu.
"Hibari, berhenti memperkosa anak itu dan Tsuna—berhenti memasang wajah yang membuat Hibari kehilangan kendali begitu."
Reborn melirik dua remaja tersebut, dan keinginan untuk menembak mereka dengan pistolnya datang ketika dua orang dengan rambut berbeda warna tersebut justru memberinya tatapan bingung yang polos tanpa menuruti perkataannya.
"Cepat, bodoh. Kalian ikut ke ruanganku. Atau, kalian ingin kita berbicara di sini, saat ini juga, sementara diriku melihat kalian melakukan hal-hal mesum?"
Satu gelengan dari Tsuna yang berwajah merah dan dengusan dari sang raven yang dipanggilnya 'Hibari' menjadi jawabannya.
"Kalau begitu cepatlah, bakappuru."
"Ap—Kita bukan couple, Reborn!"
"Hn? Kita bukan?"
"TENTU SAJA! KITA BARU SAJA BERTEMU!"
Reborn menyembunyikan seringainya yang melebar. Oh, betapa terhiburnya Reborn akan kehadiran dua remaja itu. Pria ber-fedora tersebut membalikkan badannya dan berjalan dengan tenang sembari diam-diam memikirkan seribu cara untuk mengerjai sang half-Kage dan sang vampir.
"Kyoya-kun, apakah kau benar-benar akan melakukan hal mesum pada Tsunayoshi-kun tadi?"
Fon nampak tengah menyajikan dua gelas teh hangat di atas sebuah meja di hadapan Tsuna, sambil menatap pemuda bersurai raven yang mengaku sebagai vampir tadi dengan pandangan kecewa. Pemuda yang ditatap seperti itu hanya bisa menatap balik dengan tatapan jengkel.
"Aku hanya sedikit haus."
Saat ini, mereka berempat—Tsuna, pemuda yang menyerangnya tadi, Fon, dan Reborn—tengah berada di dalam ruang kepala sekolah. Terdapat sebuah meja dengan sofa hitam yang ditata mengelilinginya, dan Tsuna tengah menempatkan diri pada salah satu sofa panjang di seberang pemuda yang mengaku sebagai vampir itu. Sementara Reborn, untuk suatu alasan ia duduk pada kursi di balik meja kerja kepala sekolah.
Tsuna mendengar Reborn menghela nafas, dan ia menolehkan kepalanya kepada pria ber-fedora tersebut.
"Yah, lupakan saja masalah tadi. Anggap saja itu sebagai berkah atau apalah. Lumayan bukan, diserang lelaki tampan?"
"Lumayan gundulmu," balas Tsuna dengan sewot. "Aku tidak datang kemari untuk menikmati fan service."
"Daripada itu, Tsuna," Reborn melanjutkan tanpa menghiraukan perkataan Tsuna sedikitpun. Kursinya yang sedari tadi membelakangi mereka untuk menghadap jendela yang besar kini berputar sepenuhnya. Iris hitamnya menatap sosok pemuda vampir yang terlihat masih memejamkan matanya di sofa pada seberang Tsuna. "Dia adalah Hibari Kyoya. Ketua Komite Kedisiplinan di SMP Namimori. Dengan kata lain, dia adalah prefek sekolah ini."
"Ketua Komite Kedisiplinan?" Tsuna menatap Hibari seraya mengerutkan keningnya. "Kalau kau memang seorang prefek, kenapa kau berusaha untuk me-memper... memperko—Ah, pokoknya itulah!"
"Sudah kubilang tidak." Urat-urat kekesalan mulai muncul pada wajah tampan Hibari sebelum ia membalas dengan ketus, "Aku hanya sedikit haus, Herbivore."
Kedua alis Tsuna berkedut. "He-Herbivore?" Tunggu dulu, bukankah Herbivore adalah hewan pemakan tumbuhan? Padahal dirinya adalah manusia, dan dirinya memakan baik tumbuhan maupun daging.
Hibari menganggukkan kepalanya. "Hn. Aku tahu kau ingin kupanggil Omnivore, tapi aku ingin memanggilmu Herbivore."
"A-Ano... Bukan itu masalahnya, tapi... Aku punya nama, yaitu Sawada Tsunayoshi. Bukankah kau sudah menyebutkan namaku saat kita bertemu tadi?"
"Tadi? Aku hanya ingin memastikan apakah kau Sawada Tsunayoshi atau bukan, Herbivore."
"Lihat! Barusan kau bisa mengucapkan namaku, kan!?"
Reborn mencoba untuk tetap bersabar dengan mengurut keningnya. Seharusnya ia tahu kalau mengasuh anak-anak pastilah sesulit ini. Ia sudah berusaha untuk menahan diri agar tangannya tak meraih pistol yang tersembunyi di dalam pakaiannya.
"Berisik. Diam atau kugantung kalian di atas atap gedung ini," Reborn berkata dengan nada mengerikan. Seketika, baik Tsuna maupun Hibari menutup mulut mereka rapat-rapat. Bahkan Tsuna yang baru sebentar bertemu Reborn saja tak perlu berpikir dua kali untuk mengetahui kapan kesabaran sang pria habis.
"Jadi, melanjutkan yang tadi," Reborn berkata setelah ia membenarkan letak fedora-nya. "Hibari juga sama sepertimu, Tsuna."
Tsuna melirik Hibari dari sudut matanya seraya memutar otak guna menelaah maksud dari perkataan Reborn. "...Sama? Dalam hal apa?"
"Kau tahu, Hibari juga pernah ditangkap oleh orang-orang itu dan sempat menjadi kelinci percobaan terkuat sepertimu."
Iris cokelat hangat seketika membulat. "Be-Benarkah?"
"Ya. Dan kau tak bertemu dengannya karena ia memang ditempatkan di laboratorium lain." Reborn menumpangkan salah satu kaki pada kakinya yang lain seraya menundukkan kepala. "Bocah itu tak menjadi vampir karena ia menginginkannya. Tapi karena 'mereka' menginginkannya."
Dengan ragu, Tsuna kembali menolehkan kepalanya untuk menatap sosok bersurai raven yang tengah memejamkan kedua matanya di seberangnya. Baru sebentar ia melangkah keluar dari laboratorium itu, dan ia bertemu satu lagi orang bernasib sama dengannya.
Berapa banyak anak yang mereka tangkap? Berapa banyak yang mereka sakiti?
Fakta bahwa Tsuna pada akhirnya telah keluar dari tempat tertutup itu membuatnya sedikit lega, namun itu tak merubah rasa cemasnya akan nasib anak-anak lainnya. Kalaupun ia memang dapat menjadi kuat dan berniat untuk menyelamatkan anak-anak itu, dirinya belum tentu bisa.
Jika mereka dapat menangkap begitu banyak anak-anak untuk dijadikan kelinci percobaan, maka tak dapat dipungkiri bahwa kekuatan mereka juga besar. Entah itu kekuatan secara diplomatik, atau secara fisik.
Untuk saat ini, masih belum mungkin.
"Hn. Meski aku sudah lama melarikan diri dari sana," jawab Hibari tiba-tiba, membuat Tsuna yang entah sedari kapan sudah tertunduk berakhir mendongakkan kembali kepalanya. Bagaimanapun juga, pernyataan Hibari membuatnya heran.
"Bukankah mereka memasang alat aneh pada tubuhmu? Dengan itu, kita tak bisa melarikan diri, kan?"
"Aku menghancurkannya. Bersama sebagian tubuhku." Sang prefek memberikan sedikit seringai ketika wajah kaget Tsuna menyambutnya. "Benda itu dipasang pada dada kiri, di mana jantung berada. Memang ada kemungkinan jantungku ikut hancur ketika benda itu kuhancurkan. Aku mengambil resiko itu dan berhasil melarikan diri."
"Jangan lupa, Hibari," Reborn menambahkan seraya turut menyeringai. "Jantungmu sama sekali tidak selamat, kau tahu? Beruntung saja aku sampai di sana tepat ketika kau pingsan di halaman depan gedung itu dengan kondisi organ paling vitalmu yang tidak berfungsi dengan baik akibat kau lukai."
Tsuna menelan ludahnya dengan kedua tangan yang terkepal erat pada pangkuannya. Ia tahu, ia tidak bisa menjadi begitu berani seperti Hibari. Apakah ada orang yang mau mengambil resiko besar seperti itu? Sejauh ini, hanya Hibari yang bisa melakukannya. Dirinya belum pernah melihat seseorang menghancurkan benda aneh tersebut dengan tangan sendiri dan tak mempedulikan fakta bahwa jantungnya mungkin saja akan ikut hancur.
Hibari Kyoya... orang itu kuat. Mempunyai orang itu sebagai rekan membuat hati sapapun tenang. Setelah kau mendengar cerita barusan, orang manapun pasti akan mengerti seberapa kuat Hibari Kyoya itu.
"Yah, kesampingkan masalah itu," ujar Reborn guna mengalihkan perhatian semua orang di ruangan itu kepadanya. "Tsuna, pernahkah kau mendengar 'Asosiasi'?"
Tsuna mengangguk pelan. Ia tahu, ia baru saja mendengar kata itu beberapa waktu yang lalu. Itu adalah kata asing yang didengarnya dari pembicaraan orang-orang setelah ia mengalahkan Kage tadi.
"Asosiasi adalah organisasi yang terdiri dari seluruh pembasmi Kage di dunia. Agar bisa resmi menjadi pembasmi Kage, kau harus mendaftarkan diri ke dalam Asosiasi. Sementara itu, Asosiasi terdiri dari banyak sekali komunitas. Setiap pembasmi Kage yang ikut Asosiasi juga harus mengikuti salah satu komunitas." Reborn menyesap secangkir kopi yang sedari tadi berada di atas meja kerjanya sebelum melanjutkan, "Nama komunitas di mana aku dan Hibari berada adalah Vongola. Vongola adalah salah satu komunitas pembasmi Kage terkuat yang didirikan sepuluh tahun yang lalu, tepat saat Kage pertama kali menyerang Jepang."
"Vongola, ya? Tidak heran kalau Vongola begitu hebat, kau dan Hibari ada di sana. Tapi, yang terkuat pastilah ketuanya, bukan?" ucap Tsuna dengan sedikit tertarik.
"Tentu saja. Seorang Boss harus kuat, baik dalam kecerdasan maupun fisik. Itulah yang membuat Boss terdengar begitu spesial," Reborn memangku wajah dengan tangan kanannya. "Boss Vongola saat ini bernama Timoteus. Namun, ia masih menderita suatu penyakit dan belum bisa kembali beroperasi sebagai Boss. Aku di sini hanya berperan sebagai hitman yang disewanya saja. Menjadi kepala sekolah menggantikannya selama ia berada di rumah sakit adalah salah satu tugasku untuk saat ini."
"Jadi... kau tidak benar-benar berada di Vongola, Reborn?" Tsuna bertanya setelah ia menyempatkan diri untuk mencicipi teh buatan Fon yang sedari tadi mengepul hangat di hadapannya.
"Begitulah. Mungkin, aku akan pergi bila sudah saatnya. Tapi yang jelas," Reborn kembali memunculkan seringai badass-nya. "Aku belum memiliki keinginan untuk meninggalkan Vongola."
"Hn," Hibari memberikan sebuah senyuman yang sekilas terlihat tidak berdosa, apabila kau tidak bisa melihat isi kepalanya melalui nada perkataannya yang mengerikan. "Itu sudah jelas. Kalau kau pergi... kamikorosu, Papa."
Entah kenapa, kata 'Papa' yang diucapkan oleh seorang Hibari Kyoya tak lagi terdengar imut di kedua telinga Tsuna.
"Berhubung Boss Vongola sedang absen, mereka memutuskan untuk mencari Boss baru. Meskipun, Timoteus tetap menjadi orang yang memilih Boss selanjutnya. Dan, kau tahu siapa yang ia pilih saat mereka menanyakannya, Tsuna?" Reborn meluncurkan setiap perkataannya dengan nada misterius. "Pilihan beliau jatuh kepada dirimu, Sawada Tsunayoshi, yang saat itu masih berada di dalam laboratorium sebagai kelinci percobaan."
Perhatian Tsuna seketika terpusat kepada Reborn, ia segera saja menolehkan kepalanya kepada pria ber-fedora tersebut seolah ia tengah menanyakan kebenaran pernyataan yang baru saja didengarnya. "Ke... Kenapa beliau memilih seseorang sepertiku? Yang benar saja... Kenapa beliau tidak memilih keturunan beliau atau orang lain yang lebih bermartabat dibandingkan diriku?"
"Aku tak tahu. Beliau sangat bersikeras untuk menjadikanmu Boss selanjutnya, hingga beliau tak ingin melepaskan kedudukannya jika yang akan menggantikannya bukanlah kau."
"Tapi..." Bibir Tsuna tertekan membentuk sebuah garis lurus dan kedua matanya bergetar. "Aku adalah seseorang yang tak pernah melihat dunia luar dalam waktu sepuluh tahun. Dan dalam masalah bertarung, aku juga belum dapat mengendalikan kekuatanku sepenuhnya. Dalam segala bidang, aku masihlah amatir. Seperti seorang bayi yang baru saja lahir. Apa yang begitu spesial tentang diriku?"
"Sebenarnya, kau tak usah terlalu mengkhawatirkannya. Aku sendiri ditugaskan untuk membimbing dan melatihmu menjadi seorang Boss yang hebat. Jadi, satu-satunya hal yang perlu dipertanyakan adalah kemauanmu untuk menjadi Boss."
"Kemauanku..." Tsuna bersender lemah pada sofa hitam yang ia duduki, kepalanya terangkat hingga ia bisa melihat langit-langit ruangan. Helaan nafas kecil keluar dari mulutnya setelah beberapa saat ia berpikir. "Bukankah menjadi seorang pemimpin itu... berat? Aku tak terlalu ingin, sebenarnya..."
Reborn menyeringai. "Ayolah, menjadi Boss tidak sesuram itu. Kau bisa menakut-nakutin Boss lain dengan kekuatan Vongola."
"...Yang ada di pikiranmu hanya keinginan untuk mem-bully seseorang, ya?"
"Selain itu, kau bisa menganggap ini sebagai balas budi. Kalau Timoteus tak memilihmu, kau mungkin saja masih berada di laboratorium itu hingga sekarang," ucap Reborn, sama sekali tak menghiraukan perkataan Tsuna barusan. "Untuk saat ini, kenapa tak mencobanya saja dulu? Kalau kau benar-benar tak sanggup, kau bisa menemui Timoteus untuk membicarakannya kapan-kapan."
"Kenapa harus menemuinya?" Tsuna menghela nafas singkat seraya menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Enggan sekali rasanya bila ia harus menemui sosok bernama Timoteus itu. Bukannya ia membenci beliau karena seenaknya mengangkat Tsuna menjadi Boss, tentu tidak. Hanya saja... ia tahu kalau pembicaraan seperti apapun akan mengarah pada satu kesimpulan—mau tak mau, ia harus menjadi Boss. "Mau menerima ataupun menolak, rasanya sama-sama merepotkan... Baiklah, untuk saat ini aku akan mencoba."
"Baguslah kalau begitu." Reborn lantas memutar kursinya hingga bagian belakang kursi kembali ia kembali memunggungi tiga orang lainnya di ruangan tersebut. Fon yang melihatnya langsung tersenyum—ia tahu betul bahwa Reborn sedang berusaha untuk menyembunyikan perasaan bahagianya. "Kau bisa kembali ke kamarmu, Tsuna. Kau satu kamar dengan Hibari karena ia harus mengawasimu yang masih pemula. Untuk saat ini, kau hanya perlu beristirahat dan bersiap-siap untuk hari pertamamu di sekolah."
Eh? Berarti Tsuna memang akan belajar di SMP Namimori? Kenapa Reborn tidak mengatakannya dari tadi?
"Karena aku yakin Verde sudah mengatakannya," gumam Reborn seolah ia bisa membaca tatapan penuh tanya yang tertuju kepadanya. "Cepat kembali ke kamarmu."
"Umm... Baiklah."
Tsuna menatapnya singkat untuk yang terakhir kalinya sebelum ia melangkahkan kakinya mengikuti Hibari yang telah berada di di depan pintu ruangan. Setelah suara pintu yang tertutup terdengar, Fon berjalan mendekati Reborn.
"Reborn, kau tak memberitahu alasan Boss Vongola sebelumnya memilih Tsuna?" tanya Fon dengan sedikit lirikan heran yang ditujukan kepada Reborn.
"Yah... dia akan tahu nanti, cepat atau lambat. Aku tak berniat memberitahu segalanya di saat ia baru saja sampai sini," balas Reborn. Setelahnya, ia mengalihkan pandangannya pada jendela ruangan tersebut seraya menghela nafas. "Fon. Kau juga akan membantuku membimbingnya, kan?"
Fon menarik sebuah senyuman lebar.
"Tentu saja."
Tsuna tengah berjalan mengikuti Hibari di sepanjang koridor asrama laki-laki. Asrama pada SMP Namimori berukuran cukup besar—tentu saja, berhubung murid yang ditampung di sekolah tersebut juga banyak. Tapi yang membuatnya berkali-kali harus berdecak kagum—mengakibatkan dirinya tertinggal dari Hibari yang terus melangkah cepat—adalah kemewahan gedung itu.
Dinding berwarna krem mulus, karpet merah sepanjang koridor, lampu dinding yang indah... Segala sesuatu di sana terlihat begitu mengkilap di mata Tsuna. Ia memang belum pernah tinggal di sebuah asrama sebelumnya, tapi ia tahu bahwa asrama sekolah biasa tak semewah ini.
Daripada itu...
Tsuna mengalihkan perhatiannya kepada pria berpostur tegap yang berjalan di depannya. Berusaha menyamai langkah sang prefek, Tsuna lantas memulai, "Ano, Hibari-san."
"Hn," Hibari menjawab singkat tanpa peduli untuk menolehkan kepalanya kepada sang herbivora.
Melihat hal itu sebagai tanda bahwa ia diperbolehkan untuk melanjutkan, Tsuna mengambil nafas dalam-dalam. "Reborn bilang kau pernah berada di laboratorium mereka, bukan?" Ia bertanya dengan hati-hati. "Jadi, ano..."
"Katakan saja."
"Hibari-san... berkat mereka, kau menjadi... vampir." Yang meluncur dari mulutnya bukanlah pertanyaan retoris. Tsuna mengatakannya sebagai sebuah pernyataan. Dan ia sendiri juga tahu bahwa pernyataan itu memanglah fakta. Ia sudah membuktikannya saat insiden tadi. "Apa saja yang mereka lakukan padamu... hingga kau menjadi vampir? Hingga kau menyerupai makhluk yang tak kuyakini ada di dunia ini?"
Hibari terdiam sejenak. Namun ia nampak tak terkejut. Sorot matanya mengatakan seolah ia telah menebak apa yang akan herbivora itu tanyakan. "Mereka ingin membuat senjata kuat yang baru, dalam bentuk apapun. Herbivora-herbivora itu memilihku. Melakukan entah percobaan macam apa pada tubuhku. Setelahnya, aku membuka mata kembali sebagai—"
"Vampir."
Hibari tak tahu sejak kapan wajah Tsuna berada begitu dekat dengannya. Kedua manik caramel-nya menatap Hibari lurus. Sang prefek tak gentar di bawah tatapannya dan memilih untuk mendengus kesal.
"Beraninya kau memotong perkataan seseorang, Herbivore."
Pemilik surai cokelat itu mengedip pelan sebelum akhirnya sadar akan jarak wajah mereka yang begitu dekat, dan perlahan menarik wajahnya menjauh, ia sedikit menunduk.
Lalu, seolah tak terjadi apa-apa, ia kembali bertanya. "Bagaimana kau melarikan diri, Hibari-san?"
"Kau tinggal melarikan diri. Apa yang begitu sulit, Herbivore," balas Hibari acuh tak acuh. Tapi, kalaupun ia tidak merasa acuh tak acuh, memang begitulah jawaban yang hanya terlintas di dalam kepalanya. Ia melakukan sesuatu karena ia ingin—hal ini selalu menjadi prinsipnya sedari dulu.
"Kalau dibandingkan denganmu, aku ini kalah jauh. Lari dari tempat seperti itu saja tidak bisa. Haha, rupanya sifat dame-ku masih tertinggal." Kepala Tsuna mendongak, sekilas ia nampak tengah melihat langit malam. Namun sebenarnya, ia hanya menerawang. Ia sedang berpikir. "Tapi, aku bersyukur. Dengan itu, aku masih menyadari diriku sebagai manusia. Aku masih manusia."
Hibari memilih untuk tak membalas. Lebih tepatnya, ia tak tahu apa yang harus ia katakan untuk membalas ucapan seorang herbivora. Dan ia tak perlu tahu. Keyakinan antara herbivora dan karnivora seperti dirinya sungguh berbeda.
"Ah, benar juga, Hibari-san—" Herbivora itu hendak melontarkan sebuah pertanyaan lagi. Apakah rasa penasarannya tidak ada habisnya? Hibari memberi tatapan kesal, namun pemuda yang lebih mungil darinya itu tak terlihat goyah. Justru sebaliknya, ia balas menatap Hibari tanpa takut. "Kau dan Fon-san memiliki wajah yang hampir sama... Apakah kalian punya hubungan darah?"
Alis Hibari berkedut jengkel. Pertanyaan itu lagi. Harus berapa kali lagi ia mendengarkan pertanyaan sama yang dilontarkan oleh hampir setiap orang yang melihat dirinya dan Fon? Harus berapa lama ia menahan diri hingga orang-orang akan berhenti menanyainya demikian, sebelum dirinya sempat kehilangan kesabaran dan memperkenalkan tonfa-nya pada wajah orang-orang itu?
Untunglah, mereka telah sampai pada kamar yang mereka tempati. Satu bahan pengalih topik yang bagus untuk saat itu.
"Kita sampai."
Tsuna menunjukkan kekecewaan pada wajahnya akan pertanyaan yang tak terjawab itu. "Hibari-san..." protesnya lirih. Meski begitu, ia tak menunjukkan tanda-tanda untuk kembali bertanya dan memutuskan untuk mengamati kamar barunya.
Pintu kamar itu berdaun satu, berwarna cokelat, dan di atasnya tertulis nomor '45'. Kamar yang mulai hari ini akan ia tempati berada di ujung koridor, sehingga tak perlu berpikir dua kali untuk mencarinya.
Hibari membuka pintu tersebut dan mempersilakan diri mereka masuk.
Kamar itu memiliki warna dinding yang sama—krem mulus. Mungkin, seluruh gedung asrama memiliki warna dinding demikian, kecuali ruangan khusus mungkin. Di dalam kamarnya, bukanlah karpet merah di sepanjang koridor yang nampak, namun karpet berbentuk lingkaran dengan warna biru gelap yang diletakkan di bawah tiga buah sofa kulit—dua untuk ditempati satu orang dan satu berukuran panjang, untuk ditempati banyak orang—yang tertata rapi dengan meja kecil di tengahnya.
Terdapat tempat tidur yang berukuran sedang—dua buah, untuknya dan Hibari. Benda lain yang dapat tertangkap penglihatannya adalah rak buku, meja belajar, dan... lampu? Hanya itu, ia rasa.
Ia tak begitu heran. Pemilik ruangan ini adalah Hibari, jadi ia bisa menebak bahwa sang pria tak ambil pusing untuk menentukan dekorasi ruangan. Entah karena ia menganggap hal tersebut 'terlalu herbivora', atau karena ia terlalu sibuk, Tsuna tak tahu. Yang jelas, ia memutuskan untuk menambah beberapa dekorasi sewaktu-waktu. Sedikit saja tentu tak masalah.
"Jaga tempat ini bersih dan rapi, Herbivore," ucap Hibari yang masih berdiri di dekat pintu seraya melipat kedua tangannya. "...atau kamikorosu."
Tsuna mengernyitkan keningnya. Inikah ucapan selamat datang dari Hibari Kyoya? Wah. Hangat sekali ya, pikir Tsuna di dalam hati sembari mendengus pelan, berhati-hati agar Hibari tak mendengar dengusannya atau ia akan dikira tidak menghormati orang berbicara.
"Aku tahu, Hibari-san," balas Tsuna singkat. Ia meletakkan tas ranselnya dan meregangkan tubuhnya yang terasa sangat lelah. Haruskah ia tidur terlebih dahulu sebelum mulai memindahkan barang-barangnya?
Sang pemuda mendudukkan dirinya pada tempat tidur di samping meja belajar yang kosong. Ia tahu bahwa itu merupakan tempat tidur untuknya. Segalanya di dekat tempat tidur yang terletak pada sisi kanan ruangan tersebut terlihat senggang.
Hibari memberi Tsuna satu tatapan meneliti, memastikan bahwa sang pemuda tak berniat untuk mencoba melakukan sesuatu yang aneh pada ruangan yang semula adalah miliknya, sebelum membalikkan badan. "Aku pergi, Herbivore."
"Eh?" Tsuna mendongakkan kepalanya yang sebelumnya tertunduk, memperhatikan kedua kakinya sendiri yang terayun santai di sisi tempat tidurnya.
"Patroli." Satu kata tersebut menjadi jawaban dari tatapan heran dari Tsuna.
Dan Hibari hendak menutup kembali pintu kamarnya ketika ia mendengar suara sang pemuda herbivora dari belakangnya.
"Hati-hati, Hibari-san."
Tanpa mengatakan balasan apapun, Hibari menutup pintu tersebut dengan cepat.
Untuk sesaat, sang prefek tak menunjukkan keinginan untuk menggerakkan kakinya, melangkah menuju tempat yang seharusnya ia kunjungi dalam patrolinya. Ia masih terdiam di depan pintu itu, dengan punggung yang masih menyentuh material kayu di belakangnya. Wajahnya pun tertunduk.
Satu hal yang hanya terlihat pada wajah yang tertutup bayangan rambutnya sendiri adalah seringai. Seringai yang menyerupai seekor predator.
Tawa kecil yang gelap muncul dari sosok sang prefek. Ah, ia sendiri juga tak mengerti mengapa ia membiarkan dirinya bertingkah terlalu senang seperti ini.
Ia hanya merasa... sangat senang. Terlalu senang.
"Aku menemukanmu, Tsunayoshi..."
TO BE CONTINUED
Update lama. Haha. /pundung
Sempet kena writer block. Padahal ngetiknya pas hampir selesai. Tapi bingung akhir chapternya mau gimana. Dan ga taunya molor sampe sekarang. Lappie juga sempet rusak. Kaget setengah mati ketika dia nunjukkin tulisan 'OS NOT FOUND'. Saya langsung terkapar lemas. QAQ
Terus, itu... si Hibari ketawa psycho tiap mikirin Tsuna. Ahaha. Ga tau deh. Anggep aja dia seneng (?).
Btw, saya mbikin Hibari jadi vampir. Dunno, it seems ero. /slapped
Kok bisa dia jadi makhluk mistis gitu? Berarti eksperimen orang-orang itu ke tubuh Hibari jauh lebih brutal.
Rencananya sih, tiap Vongola Guardian bakal diceritain masa lalunya. Jadi Hibari juga pasti kebagian. Dan pas chapter khusus Hibari, bakal diceritain juga kenapa dia seneng banget sama Tsuna. Chapter ini juga nge-hint kalo Hibari udah lama kenal Tsuna. :3
Tapi chapter khusus buat Hibari kayaknya masih lama buanget sih. Teehee. /digampar
Oh iya, pasti udah pada tau siapa itu Cielo-san, kan? XD
Terus ini... kenapa Verde jadi tsundere gitu? XD
Well, that's all for now. See you in the next chapter~
