Zhyagaem06

Present

SasuSaku FanFiction

2014

.

.

.

I Love U without Any Reason

.

.

.

Uchiha Sasuke & Haruno Sakura

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

[Bagian II]

...

Tunggu pembalasanku?

Apa-apaan itu? Memangnya apa yang telah aku perbuat sehingga harus mendapatkan balasan? Terlebih dari seorang laki-laki.

Oke, aku memang tak bisa menyangkal jika waktu itu aku telah melakukan kesalahan fatal yang membuatku hampir di-bogem oleh laki-laki yang aku tabrak itu. Hei, tapi itu kan tidak disengaja. Aku juga tak menginginkan hal itu terjadi. Salahkan petugas kebersihan sekolah itu yang tak becus bersih-bersih, meninggalkan sebuah kulit pisang yang berakibat buruk bagiku—juga si laki-laki berambut err...bokong ayam itu.

Tapi, sepertinya pemuda itu benar-benar marah. Apalagi saat tahu jika benda canggih miliknya hancur tak berbekas karena 'ulahku'. Meski aku sudah minta maaf dan membungkuk-bungkukkan tubuh, tetap saja itu tak berpengaruh apapun, yang ada dia semakin marah. Menatapku tajam dan nyaris memukulku. Demi apapun, aku tak ingin punya suami seperti dia!

Yang tak bisa aku lupakan saat itu adalah...tatapan matanya. Sarat akan berbagai emosi yang bercampur menjadi satu. Seolah rusaknya I-pad miliknya menjadi sebuah kehancuran bagi dirinya. Apalagi saat mengingat ancamannya itu, aku semakin merinding.

Aku hanya bisa berdoa kepada kami-sama agar aku tak dipertemukan dengannya lagi.

.

.

.

.

.

.

A few hours before the accident...

Pukul 15.50. Sebuah Mercedes SUV mewah berwarna hitam mengkilap berhenti tepat didepan gerbang utama Tokyo Art School. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas hitam membalut tubuhnya keluar dari mobil mewah itu, dilanjutkan dengan memutari bagian depan mobil dan membuka salah satu pintu yang terletak disebelah kiri—dibagian belakang kemudi.

Sosok seorang gadis manis bersurai merah muda dengan iris hijau cemerlang keluar dari balik pintu yang dibuka itu.

"Kita sudah sampai, nona" ucap pria berjas tadi sembari menutup pintu mobil dan membungkukkan tubuhnya.

"Ah...iya" sahut gadis itu diakhiri dengan sebuah senyuman kecil dibibir mungilnya. Ia menghela nafas, kemudian mulai melangkahkan kakinya yang berbalut wedges putih pualam itu, memasuki area sekolah terkenal tersebut.

.

Senju Tsunade tersenyum hangat menyambut kedatangan tamunya sore itu. Ditatapnya sosok gadis yang tengah duduk disalah satu sofa ruangannya dengan antusias. Wanita yang masih terlihat muda diusianya yang ke-50 tahun itu mendudukkan dirinya di sofa single yang berhadapan langsung dengan tamunya.

"Jadi..." Suara Tsunade berhasil mengalihkan atensi gadis itu kearahnya "...apa yang membuatmu datang kemari Haruno-san?"

Gadis itu bergeming. Ia mendesah berat, lalu mengangkat bahu dengan gaya cuek "Kupikir Tsunade-sama sudah tahu maksud kedatanganku? Bukankah Sasori-kun sudah memberitahukannya?"

Tsunade terkekeh kecil mendengar penuturan gadis muda dihadapannya ini "Ya...bocah merah sok tahu itu memang sudah memberitahukan padaku beberapa hari lalu. Tapi, bukankah seharusnya kau datang hari rabu nanti? Kenapa datang disaat kelas hampir bubar?"

"Aku ingin melihat-lihat" jawabnya polos. Disertai dengan matanya yang mulai menelisik setiap sudut ruangan besar itu dengan mata berbinar-binar.

"Dekorasi ruangan anda bagus, Tsunade-sama" ucapnya memuji. Tsunade tersenyum tipis "Ah...begitu. Kurasa kau kesini bukan hanya untuk melihat-lihat ruanganku, ne Haruno?"

"Memang..." Gadis itu bangkit, membuat dress sewarna rambutnya yang dilapisi dengan mantel putih sedikit tersingkap keatas dan kembali ditarik oleh gravitasi. Ia berjalan anggun menuju kesebuah jendela besar yang terletak di sisi kiri meja kerja Tsunade. Disentuhnya permukaan benda transparan yang menampilkan gambaran nyata langit sore diluar sana. Kemudian ia kembali menoleh kearah wanita berambut pirang yang tengah memandangnya penuh tanya.

"...aku ingin melihat semua yang ada disekolah ini" lanjutnya.

"Kenapa tidak dilakukan besok saja?"

"Karena anda pasti akan menyuruh salah seorang siswa atau siswi untuk menemaniku, bukan? Aku tak suka merepotkan orang lain. Jika hanya berkeliling aku bisa melakukannya sendiri"

"Hmm...kau benar-benar tipe Sasori"

Tubuh gadis itu terdiam sebentar. Kemudian ia menoleh dan tersenyum kearah Tsundae "Ya"

"Jadi kau akan mengambil kelas apa?"

Gadis itu—Haruno Sakura menolehkan kembali pandangannya kearah langit sore melalui perisai bening dihadapannya. Ia mengambil nafas sejenak dan menghembuskannya secara perlahan "Musik...piano"

"Keinginan Sasori-kah?"

"Ya..." lagi-lagi ia menjawab tanpa minat. Tak mengalihkan sedikitpun kedua iris emeraldnya dari fokusnya "...aku tak bisa membantahnya"

.

Haruno Sakura menutup pintu besar ruangan kepala sekolah Tokyo Art School dengan perlahan. Setelah hampir dua jam menghabiskan waktu mengobrol dengan wanita cantik yang menjabat sebagai kepala sekolah elit ini, ia memutuskan untuk langsung memulai penjelajahannya pada sekolah seni paling terkenal di jepang itu.

Sakura menatap sekelilingnya. Meneliti dengan seksama koridor lantai tujuh yang dipijakinya dalam diam. Dari tempatnya berdiri sekarang, ia bisa melihat beberapa ruangan berpintu besar yang berjejer di kanan-kiri koridor. Ia bisa menyimpulkan jika ruangan-ruangan itu pasti biasa digunakan sebagai tempat pertemuan, praktik, atau acara besar disekolah ini.

Ia juga sedikit bingung harus darimana memulai penjelajahannya kali ini. Pasalnya sekarang ia sudah berada di lantai 7. Sedikit merutuki, kenapa ruang kepala sekolah yang notabene menjadi ruangan penting harus berada di lantai atas. Apa mereka tidak capek naik-turun tangga? Tapi, kan sudah ada lift? Iya, kalau lift sedang tidak rusak seperti sekarang ini.

"Hm...sepertinya aku memang harus mengikuti anjuran Tsunade-sama" gumamnya sembari berjalan-jalan kecil disekitaran lorong koridor tersebut. Dan saat ia mendekati tangga menurun yang menghubungkan dengan lantai enam. Ia tak menyadari akan bahaya yang mengancamnya. Ia terus melangkah sampai akhirnya—

Sleep

"K-kyaaaaa"

Semuanya terjadi begitu cepat. Yang ia ingat adalah tubuhnya yang ditarik gravitasi menembus udara kosong, wajah terkejut seorang pemuda dan tubuhnya yang menghantam tubuh sosok lain disebelah pemuda berwajah pucat.

Berterima kasihlah pada sebuah kulit pisang yang terletak begitu saja di lantai dekat tangga.

.

.

.

Uchiha Mansion — Roponggi — Tokyo

Brrrmmm

Ckiitt

Audy hitam dengan aksen warna deep blue dibeberapa bagian itu memasuki area mansion mewah milik keluarga Uchiha dengan laju yang tak bisa dibilang pelan. Nyaris saja ia menabrak gerbang tinggi yang menjadi pintu utama mansion, beruntung saat itu security bertindak cepat, jika tidak mungkin Uchiha Fugaku harus merogoh kocek untuk memperbaiki kerusakan yang diakibatkan oleh anaknya.

Ya, pengemudi mobil hitam itu tidak lain adalah salah satu anak dari kepala keluarga pemilik mansion mewah tersebut.

Pintu dibagian depan mobil dibuka dengan kasar, keluarlah sosok Uchiha Sasuke dengan wajah dingin yang terlihat menakutkan. Setiap langkah yang diambil kedua kakinya seolah menjadi ancaman. Lihat saja para pelayan yang berjejer didepan pintu masuk sudah berkeringat dingin saking takutnya pada tuan muda mereka satu ini. Sasuke terus berjalan memasuki mansion mewahnya tanpa mempedulikan para pelayan yang menyapanya dengan hormat—dan agak takut tentunya, juga teriakan Sai yang terus memanggil namanya dari arah belakang.

"Sasuke!" Sai melepas ransel hitamnya dan menyerahkannya pada salah seorang pelayan yang berdiri didekat tangga. Dengan langkah cepat ia menyusul saudara kembarnya yang sudah berada dilantai dua mansion Uchiha.

BRAAK

Uchiha Sai langsung dibuat kaget oleh bantingan pintu keras kamar adik kembarnya, padahal ia baru saja akan menyentuh kenop pintu kamar itu.

"Jangan ganggu aku!" terdengar suara baritone Sasuke dari dalam kamar pribadi miliknya.

"Kau kenapa, Sasuke? Apa kau masih marah karena kejadian disekolah tadi?"

"..." Tak ada sahutan apapun dari lawan bicaranya, membuat Sai berdecak kesal.

"Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Kau kan bisa meminta Tou-san untuk membelikan gadget baru, tidak usah sampai seperti ini"

"Diam! Kau tidak tahu apa-apa, a-ni-ki, jadi tidak usah ikut campur"

Sai semakin kesal akan kelakuan adiknya yang bisa kelewat menyebalkan jika sudah marah. Apalagi saat kembarannya itu memanggilnya 'aniki' dengan nada yang terkesan mengejek. Ia tahu, Sasuke hanya akan menyebutnya demikian jika pemuda itu tengah marah, kesal, atau meledeknya.

"Ck. Terserah kau sajalah" Sai akhirnya memutuskan untuk melangkahkan kedua kakinya menuju kekamarnya yang terletak disebelah kamar Sasuke. Pemuda itu sepertinya sudah tak mau ambil pusing dengan adik kembarnya itu—setidaknya untuk saat ini.

Lebih baik melanjutkan lukisan kota Parisku yang belum selesai

.

.

.

Sasuke menghembuskan nafas beratnya dengan keras. Tubuh tegapnya disandarkan di permukaan daun pintu kamarnya. Pemuda Uchiha itu kemudian melepaskan ransel biru tua yang melekat dipunggungnya dan dilemparkannya asal diatas tempat tidur, dilanjutkan dengan menanggalkan almamater biru tua yang dipakainya.

Gontai. Ia melangkahkan kedua kaki panjangnya kearah salah satu meja yang terletak di sudut ruangan. Sebuah meja berwarna coklat pudar yang menjadi tempat bernaungnya satu set peralatan komputer. Mulai dari monitor, keyboard, CPU, printed dan juga speaker.

Dengan tidak sabaran bungsu Uchiha itu menekan tombol power pada CPU, membuat layar monitor komputer keluaran terbaru itu menyala dan tak berapa lama menampilkan layar utamanya. Sasuke dengan cepat menggerak-gerakkan mouse kesegala arah. Beberapa kali ia juga memainkan jarinya diatas keyboard komputer. Entah apa yang tengah dikerjakan pemuda berambut chicken butt style itu.

Geraman frustasi terdengar saat ia tak menemukan apa yang dicarinya pada benda flat berbentuk kotak tersebut. Pikirannya kembali mengulang kejadian yang terjadi beberapa saat lalu disekolahnya. Gadis pink itu...merusak semuanya. Kerja kerasnya selama satu bulan ini hilang tak bersisa karena hal yang menurutnya 'konyol'.

Sasuke menghempaskan tubuhnya diatas kasur empuknya. Ia memejamkan kedua matanya, guna menstabilkan sekelumit emosi yang menguasai dirinya. Kilas balik saat ia mendapati I-padnya hancur kembali menguar dikepalanya. Membuat amarah kian besar melingkupinya. Bukan karena ia harus kehilangan benda canggih tersebut, jika hanya itu ia bisa memintanya kepada sang ayah dan tak lebih dari satu jam pasti Sasuke akan memiliki I-pad itu kembali. Ini lebih ke-sesuatu yang ada didalam benda canggih itu. Sesuatu yang sudah dikerjakannya dengan susah payah.

"Haaahh..." Entah sudah yang keberapa kali ia menghela nafas berat seperti ini. Yang jelas, ia sedang dalam kondisi yang tidak menyenangkan.

"Gadis itu...harus dapat balasannya" Gumam Sasuke pelan namun sarat akan kesungguhan. Ia tak peduli jika kejadian tadi hanyalah kecelakaan, tak disengaja atau semacamnya. Ia sudah terlanjur kesal dengan perbuatan gadis berambut merah muda yang dengan mudahnya menjungkirbalikkan semuanya.

.

.

.

Gadis bersurai merah muda itu duduk termenung dipinggir kasur tidurnya. Pandangan iris hijaunya memandang kosong kearah jendela kamar yang dibiarkan terbuka. Angin sore musim gugur yang dingin berhembus, membuat gorden hijau yang menggantung bergoyang mengikuti kuasa sang angin.

Seekor anjing kecil berbulu putih yang kepalanya dipakaikan bando biru berbentuk bintang dan rantai emas berbandul lonceng berlari-lari kearahnya. Dengan sekali lompatan makhluk lucu itu sudah berada dipangkuan si gadis yang nampak tak bergeming akan kehadirannya. Ia terus diam, seolah tak merasakan apapun padahal anjing kecil itu mulai bergerak-gerak dan sesekali menjilati tangannya.

Guk...guk...guk~

Tok...tok...tok

Suara ketukan itu berhasil menyadarkan sang gadis dari lamunan panjangnya. Matanya mengerjap sesaat, ia menatap si anjing yang masih bergerak-gerak dipangkuannya dengan senyuman geli.

"Tunggu sebentar ya, Yuki-chan" ujarnya sambil menatap mata hitam anjing tersebut, seolah mengajaknya bicara, sementara sang anjing hanya memandangnya polos. Ia kemudian melepas anjing bernama Yuki itu diatas tempat tidur. Gadis itupun segera bergegas menuju kearah pintu kamar dan membukanya.

Sosok seorang perempuan berpakaian maid berdiri diambang pintu dengan senyuman ramah.

"Ada apa Ayame-san?"

"Sasori-sama sudah kembali, Sakura-sama" jawab maid bernama Ayame itu sembari membungkukkan setengah badannya. Gadis yang dipanggil Sakura-sama itu sedikit terkejut atas apa yang ia dengar.

"Benarkah? Sekarang dia ada dimana?"

"Masih diruang tamu, sepertinya Sasori-sama kelelahan"

"Ah..." Gadis itu bergumam pelan, kemudian melanjutkan "...baiklah aku akan segera menemuinya...ah~tolong buatkan Sasori-kun ocha, ne Ayame-san"

"Ha'i"

.

.

.

Haruno Sakura menuruni tangga rumahnya yang berkelok-kelok dan dilapisi dengan kain merah secara perlahan dan terkesan anggun. Rambut merah muda sebahunya bergerak-gerak pelan mengikuti gerakan tubuh sipemilik. Tubuh indahnya hanya dibalut dengan dress hijau muda bertali satu dan cardigan putih, sebuah flat shoes berwarna putih nampak menghiasi kaki jenjangnya. Simple but sweet.

Beberapa pelayan yang berdiri disekitar tangga membungkukkan tubuh mereka penuh hormat kepada sang nona muda. Sakura pun membalasnya dengan senyuman ramah khas miliknya. Inilah yang membuatnya disenangi banyak orang. Sikapnya selalu ramah kepada siapa saja, tak pernah memandang status sosial mereka. Tak heran jika ia begitu dihormati dan disayangi oleh para pelayan yang bekerja diistana mewah Haruno ini.

Begitu sampai diruang tamu, iris gioknya mendapati sosok seorang pemuda berambut semerah darah tengah berbaring diatas sofa panjang berwarna coklat tua yang terletak ditengah-tengah ruangan bersama dengan meja dan beberapa sofa lainnya. Lengan kanan pemuda itu diletakkan diatas kepala—tepatnya dibagian dahi, sementara lengan kirinya dibiarkan begitu saja, menjuntai dipinggiran sofa.

"Sasori-kun" panggil Sakura lembut. Gadis manis itu kini telah berdiri tepat didekat meja yang menjadi pembatas sofa Sasori dan dirinya. Perlahan kelopak mata pemuda itu terbuka, memperlihatkan iris hazel miliknya yang mampu memikat hati setiap wanita. Bola matanya bergulir kearah Sakura, menatap gadis itu datar.

"Sudah berapa kali kukatakan..." Pemuda itu berujar sembari bangkit dari posisi berbaringnya menjadi duduk "...jika hanya ada kita berdua, kau jangan memanggilku dengan embel-embel kun" lanjutnya dengan penekanan dikata terakhir.

Sakura terhenyak beberapa saat, kemudian ia menundukkan kepalanya "Gomennasai—aku lupa" ucapnya pelan, lalu mendudukkan dirinya pada sofa yang terletak tepat dibelakang tubuhnya. Masih terus menundukkan kepalanya. Sementara si pemuda sepertinya tak ingin menanggapi perkataan gadis didepannya ini. Ia hanya bersedekap dan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.

Keheningan menyelimuti mereka untuk beberapa saat. Tak ada pembicaraan berarti setelahnya. Keadaan seperti ini bukanlah yang pertama bagi kedua insan berbeda gender ini. Setiap kali pertemuan mereka—yang benar-benar hanya mereka berdua— pasti selalu diisi dengan keheningan. Hingga akhirnya Sakura memutuskan untuk memulai pembicaraan, ia tak tahan dengan keheningan yang melandanya saat ini. Pada dasarnya Sakura adalah gadis yang cerewet tapi, bukan dalam artian negatif.

"Bagaimana konser pianomu di London, Sasori-san?" Itulah topik yang dianggap gadis Haruno itu tepat untuk mencairkan suasan kaku diantara keduanya.

Sasori—Akasuna Sasori tepatnya mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Sakura. Heh, sejak kapan gadis didepannya ini peduli tentang hal yang menurutnya jarang dibicarakan disetiap pertemuan mereka. Ini adalah kali pertama gadis musim semi itu bertanya tentang konser pianonya. Namun, Sasori tak ingin berkomentar banyak perihal pertanyaan Sakura ini.

"Lancar, tak ada masalah sedikitpun" jawabnya tanpa mengubah posisi duduknya.

"Oh...begitu" Sakura tersenyum canggung. Gadis manis bermahkota merah muda itu sadar jika Sasori agak terkejut dengan pertanyaannya. Pembicaraan mereka sebelumnya memang tak pernah menyinggung pekerjaan Sasori, hanya sebatas menanyakan kabar dan keadaan keluarga saja "Kau pasti membuat semua orang—terutama wanita terpukau dengan permainan pianomu" ucap Sakura tulus.

"Ya, sepertinya begitu. Aku tak pernah memperhatikan reaksi penonton saat aku sedang memainkan piano"

Sakura tersenyum tipis mendengar jawaban Sasori. Pemuda itu memang jarang memperhatikan sekitarnya. "Kau tahu? Teman-temanku selalu memuji permainan pianomu yang kata mereka sangat menakjubkan. Ah...aku jadi ingin melihatmu bermain piano secara langsung tanpa melalui siaran Televisi" ucap Sakura sambil menerawang, senyum masih menghiasi bibirnya. Namun, tak berapa lama ia seakan sadar atas ucapannya barusan. Cepat-cepat ia menutup bibirnya, dan menoleh kaku kearah Sasori yang kini tengah memandangnya dengan raut wajah yang sulit ditebak.

"Ahaha...kata-kataku tadi tak usah dipikirkan ya, Sasori-san? Hehe—ah...iya kau pasti lelah, setelah melalui tiga jam penerbangan dari Inggris? Aku sudah meminta Ayame-san untuk membuatkanmu ocha" ucap Sakura berusaha mencairkan suasana yang dirasanya menguarkan aura kecanggungan dan juga tak bersahabat, dari siapa? Tentu saja dari pemuda berambut merah itu.

Sebelah alis pria Akasuna itu terangkat mendengar penuturan Sakura, ia mendengus dan menatap datar namun terkesan tajam pada gadis cantik yang duduk dihadapannya itu "Apa ini? Tunanganmu ada disini, baru saja kembali dari pekerjaannya dan melalui perjalanan berjam-jam didalam pesawat, dan kau—bahkan untuk membuatkanku ocha menyuruh orang lain" ucap Sasori datar.

Sakura jelas tertohok dengan perkataan Sasori itu. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya sembari berusaha meneguk salivanya yang entah mengapa sangat sulit untk ditelan. Salah satu kebiasaan gadis itu jika ia tengah dilanda kebingungan. Otaknya dengan cepat mencerna ucapan Sasori. Apa pemuda itu secara tak langsung menyindir dirinya? Atau pemuda beriris hazel itu ingin agar ia-lah yang membuatkan lelaki itu minuman? Sepertinya option kedua itu benar adanya, dengan agak ragu gadis itu berdiri dari duduknya.

"Sebentar, aku akan membuatkan—"

"Omatase gozaimasu, Sasori-sama, Sakura-sama"

Suara ramah nan sopan Ayame menginstrupsi ucapan serta gerakan gadis muda itu. Dilihatnya Ayame sudah berdiri disebelahnya, dan memerintahkan dua pelayan yang mengikutinya meletakkan dua cangkir bermotif ranting pohon diatas meja kaca mewah tersebut, diikuti dengan ditatanya beberapa toples kecil berisi kue dan satu buah keranjang buah berukuran besar.

"Silahkan, Sasori-sama, Sakura-sama. Maaf membuat anda menunggu lama" ucap Ayame seraya membungkukkan tubuhnya, begitu pula dengan dua pelayan yang kini telah berdiri dibelakang wanita berambut hitam itu.

"Hn. Terima kasih Ayame-san" sahut Sasori datar. Tangan kanannya bergerak meraih lengan cangkir, mendekatkannya kebibir tipisnya dan menyesap perlahan minuman hangat itu.

Sakura melemas, dengan pasrah ia kembali mendudukkan diri diatas sofa. Ia menundukkan kepala dan meremas buku-buku jarinya sembari menggigit bibir bagian bawahnya. Kenapa? Itulah satu kata yang timbul dalam benaknya.

Ayame dan dua pelayan lainnya masih berdiri diruang tamu itu, menunggu perintah selanjutnya dari majikan mereka.

Tak berapa lama kemudian, Sasori bangkit dari duduknya—setelah sebelumnya menandaskan segelas ocha yang disediakan untuknya. Ia meraih jaket merah yang tergantung dilengan sofa. Iris giok Sakura memperhatikan pemuda itu dalam-dalam.

"Ayame-san..." Panggil Sasori sebelum ia meninggalkan ruang tamu.

"Ya, Sasori-sama?" Sahut Ayame sopan.

"Aku lapar, tolong pesankan makanan direstoran jepang langganan Haruno"

"Sumimasen, Sasori-sama. Tapi Sakura-sama—"

"Aa...Sasori-kun lapar ya? Baiklah kalau begitu aku saja yang akan memesankan makanan, Ayame-san menyiapkan keperluan lain saja" Sakura tiba-tiba saja berdiri dan mengintrupsi ucapan Ayame. Gadis itu kemudian menatap Ayame dengan raut wajah yang seolah mengartikan jangan-katakan-apa-pun.

Sementara Sasori menaikkan sebelah alisnya. Bingung akan sikap Sakura, namun ia hanya mengedikkan bahu dan segera berlalu meninggalkan ruang tamu, tapi sebelum pemuda itu benar-benar meninggalkan mereka ia mendengus dan berujar sinis untuk Sakura. "Apa kau tak pernah diajarkan sopan santun? Seenaknya saja memotong ucapan orang lain, meski dia hanyalah pelayan" kemudian ia segera pergi begitu saja menuju lantai atas yang dihubungkan dengan tangga, meninggalkan Sakura yang lagi-lagi tertegun atas ucapannya.

"Sakura-sama..." Tepukan halus Ayame menyadarkan gadis itu. Sakura segera membalikkan tubuhnya sembari menyunggingkan segaris senyuman tipis—yang lebih terlihat seperti senyuman hambar. Ayame, menatap nona mudanya itu dengan agak prihatin. Sedikit banyak, kepala pelayan keluarga Haruno itu tahu seperti apa hubungan antara anak majikannya dengan pemuda bermarga Akasuna itu.

Mengerti akan tatapan Ayame untuknya, Sakura kini semakin mengembangkan senyuman manisnya. Kali ini benar-benar terlihat tulus tanpa menutupi apapun.

"Tidak apa-apa Ayame-san, sekarang lebih baik kau membereskan 'sesuatu' yang ada dimeja makan, aku akan menelpon pihak restoran untuk memesan makanan"

"Tapi Sakura-sama, makanan yang anda masak untuk menyambut kepulangan Sasori-sama sangat banyak? Apa tidak—"

"Maaf memotong ucapanmu, Ayame-san. Sepertinya, Sasori-kun memang sedang ingin menikmati masakan restoran langganan kami, jadi...hmm...bagaimana, ya?...aha...! Begini saja makanan itu aku berikan pada Ayame-san dan pelayan lainnya? Bagaimana? Ayame-san belum memasak untuk makan malam para pelayan, kan? Lagipula, makanan itu mungkin cukup untuk semua pelayan"

Ayame hanya bisa menganguk mengiyakan ucapan gadis jelita dihadapannya ini "Baiklah, Sakura-sama. Kalau begitu saya permisi" ucapnya sembari membungkukkan setengah tubuhnya dan segera berlalu meninggalkan ruang tamu diikuti dengan dua pelayan yang setia berjalan dibelakangnya.

Tersisalah Haruno Sakura diruangan mewah itu. Gadis itu menghembuskan nafas beratnya sembari melangkah kearah sebuah meja panjang berwarna abu-abu yang letaknya berdekatan dengan pintu masuk utama kediamannya. Sesuai ucapannya tadi ialah yang akan menghungi pihak restoran untuk memesan makanan. Gerakan tangan gadis merah muda yang akan meraih gagang telepon seketika terhenti diatas udara hampa, saat iris hijau beningnya menangkap salah satu figura photo yang terletak diatas meja telepon tersebut. Emerald itu nampak redup, masih terus terfokus pada photo berbingkai emas yang menampilkan dua sosok mungil dengan warna rambut hampir sama, tengah berangkulan dan tersenyum amat lebar.

Merah dan merah muda

Perlahan, setitik air mata jatuh menuruni pipi mulus Haruno muda tersebut.

"Onee-san..."

.

.

.

Ini hari rabu. Ya, hari ketiga dalam setiap minggu yang berganti. Dan hari ini merupakan hari tersial untuk Uchiha Sasuke. Pemuda tampan berambut raven itu kini tengah ngebut dengan kecepatan maksimal dijalan Tokyo yang mulai dipadati berbagai macam kendaraan. Beberapa kali ia mendapat teguran dari pengguna jalan—yang kebanyakan para orang tua—karena cara menyetirnya yang bisa dibilang 'gak nyante'. Jelas saja, selain ngebut Sasuke juga dua kali melanggar rambu-rambu lalu lintas, beruntung saat itu tak ada polisi yang melintas, jika ada entah bagaimana nasib tokoh utama kita ini. Dan parahnya lagi, ia hampir menabrak seorang nenek-nenek yang ingin menyebrang jalan. Sukses membuatnya mendapat ceramah gratis dari si nenek.

Masih terus memacu Bugatty deep bluenya membelah jalan, si Uchiha bungsu itu melirik jam tangan hitam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. Sial, waktu telah menunjukkan pukul 08.00, dan pastinya gerbang sekolah sudah ditutup oleh si satpam galak tapi mesum itu.

Sasuke mendengus, andai saja semalam ia tak begadang mengerjakan tugas dari Asuma-sensei, mungkin saat ini ia sudah berada dikelas, mengikuti pelajaran dengan tenang tanpa harus kebut-kebutan dan diomeli para orang tua.

'Cih, si senyum palsu sialan itu juga tak membangunkanku' batinnya kesal. Pasalnya ketika ia terbangun tepat pukul 7.20, ia mendapati saudara kembarnya itu sudah tak berada dirumah. Kemana lagi dia jika bukan kesekolah. Sasuke kesal tentu saja, ia menggerutu disetiap langkahnya yang buru-buru untuk bersiap-siap. Merutuki Sai, dan mengatai si senyum palsu itu dengan seribu satu sumpah serapah ala Uchiha. Cukup membuat Uchiha Mikoto menegurnya karena kata sang ibu tak baik menyumpahi saudara sendiri, apalagi seorang kakak.

Kekesalan Sasuke bertambah saat tahu Sai sengaja tak membangunkannya, dan meminta Mikoto untuk tidak membangunkan Sasuke dengan alasan jika Sasuke sedang sakit karena kelelahan. Karena hal itulah Mikoto menahan putra bungsunya itu untuk tidak pergi kesekolah, perdebatannya dengan sang ibu ternyata memakan waktu hampir setengah jam. Hah, kalau bukan karena tugas Asuma-sensei dikumpul hari ini, ia juga rela menghabiskan satu hari berlibur dirumah.

Tepat pukul delapan lewat, Sasuke sampai disekolahnya, dan beruntung sekali gerbang sekolah seni yang menjadi tempatnya menimba ilmu itu masih terbuka lebar. Tidak terlihat juga batang hidung si satpam mesum yang suka menggoda para siswi itu. Sasuke tersenyum puas, ia segera menjalankan mobilnya memasuki area gedung sekolah elit tersebut.

Setelah memarkirkan mobil sport mewahnya, Sasuke langsung berjalan cepat menuju kekelasnya. Ia melewati koridor utama dan menaiki lift untuk bisa sampai dikelasnya yang berada di lantai tiga. Tak ada siapa-siapa yang ditemuinya disepanjang perjalanannya menuju kekelas. Tentu saja, karena para siswa/i pasti sudah berada dikelasnya.

Drrt...drrt...

Sasuke merogoh ponsel canggihnya yang berada disaku celananya. Ia mengernyitkan alis saat melihat nama Sai terpampang dilayar smartphonenya tersebut.

'Mau apa si senyum palsu itu?'

From : Fake Smile

Sasuke dikelasmu ada seorang siswi baru, lhoo. Dia cantik dan juga manis, aku sudah berkenalan dengannya tadi. Kau pasti akan terkejut melihatnya.

Sebelas alis pemuda itu terangkat begitu selesai membaca isi pesan singkat yang diterimanya dari Sai. Tak habis pikir dengan tingkah kembarannya itu. Memangnya siapa yang peduli dengan murid baru itu? Pikir Sasuke sambil menyimpan kembali ponselnya dan melanjutkan perjalanan menuju kekelasnya.

.

.

.

Puluhan pasang mata itu memandangnya. Ada yang antusias, biasa saja bahkan menatapnya sinis. Haruno Sakura kini tengah berdiri didepan ruang kelas barunya—untuk memperkenalkan diri. Gadis itu nampak manis dengan seragam khas Tokyo Art School yang membalut tubuhnya. Kemeja putih bermodel lolita, rompi kotak-kotak perpaduan hitam dan biru, dasi sailor dan rok hitam diatas lutut membuat tampilannya begitu menarik. Pantas saja sejak ia menginjakkan kaki di sekolah ini sudah banyak mata lelaki yang terpesona olehnya, dan sebagian besar siswi langsung memandangnya tak suka.

Sakura tersenyum manis, sukses menimbulkan rona merah disetiap belah pipi para siswa yang menatapnya. Tak menyangka, akhirnya kelas mereka kedatangan sang goddes. Sepertinya tak ada alasan lagi bagi para siswa kelas seni untuk berjalan-jalan digedung lantai dua—kelas para siswi modelling. Bukankah disini sudah ada yang lebih menarik.

"Ne, Haruno-san, sepertinya teman-teman barumu sudah tak sabar ingin berkenalan denganmu. Silahkan dimulai" ucap Asuma-sensei yang kebetulan menjadi guru pengajar dijam pertama kelas piano.

Sakura tersenyum dan menganguk. Ia kemudian melempar pandangannya kearah teman-temannya. Sekali lagi gadis itu tersenyum.

"Hajimemashite, watashiwa no namae Haruno Sakura desu, Yoroshikune onegaizhimasu" suara beningnya memecahkan keheningan.

Kreett

Semua mata sontak menoleh kearah pintu utama ruang kelas yang terletak di sudut kiri ruangan. Masuklah sosok berambut raven dan berwajah tampan dengan santai tanpa mempedulikan tatapan orang-orang yang berada disana. Dengan cuek dan masih mempertahankan tampang stoicnya ia berjalan tegap memasuki ruangan.

"Kau terlambat, Uchiha dan kau juga menganggu acara perkenalan Haruno" ucap Asuma-sensei sembari melirik jam tangan hitamnya. Setengah jam lebih, dan anak itu tak punya tampang berdosa sama sekali. Menakjubkan.

Yang dipanggil Uchiha itu menoleh, dan sontak onyxnya terbelalak saat menangkap sosok Sakura yang berdiri disebelah Asuma.

Pink

Emerald

Gadis ini. Oh, ia ingat sekali. Bagaimana bisa ia melupakan orang yang sudah membuatnya emosi beberapa hari lalu. Orang yang telah menghancurkan kerja kerasnya dengan sia-sia. Gadis pink ini kenapa bisa berada disini? Jadi...apa dia yang dimaksud Sai dalam pesan singkatnya beberapa menit lalu.

Sakura sendiri tidak kalah terkejutnya saat melihat sosok tampan namun menakutkan—baginya itu. Tanpa sadar kesepuluh jarinya saling meremas. Apalagi, jika mengingat tatapan tajam beserta ancaman Sasuke padanya. Dengan susah payah ia meneguk salivanya sendiri. Berusaha memaksakan sebuah senyuman untuk pemuda yang masih memandangnya itu. Membuat para siswa/i menyimpulkan jika mereka saling terpesona satu sama lain, padahal kenyataannya tidak seperti itu.

'Sepertinya kami-sama tidak mengabulkan doaku' batin Sakura miris masih dengan senyum kakunya itu.

Alis Sasuke bertaut heran saat Sakura tersenyum—kaku kearahnya. Tak berapa lama, ponselnya kembali bergetar. Lagi-lagi dari si senyum palsu.

From : Fake Smile

Bagaimana kau sudah melihatnya? Haha, semoga kalian bisa berteman akrab.

'Heh, berteman katamu? Justru ini saat yang tepat untuk balas dendam'

.

.

.

Awalnya saat kedua pasang netra itu bertemu.

Ada dua sorot yang tergambar jelas pada manik mata mereka.

Kebencian dan Ketakutan

.

.

.

Namun...

Mereka tidak pernah tahu jika dua sorot itu akan berubah seiring dengan berjalannya waktu.

.

.

.

Menjadi satu sorot yang akan mengikat keduanya

.

.

.

To Be Continue!

.

.

.

Yayy, chapter-2nya update!

Gimana? Ada yang nungguin? Hehehe#kepedean. Maaf ya updatenya ngaret, soalnya dua minggu lalu aku try out dua kali berturut-turut -_-

Semoga part ini gak aneh ya :)

Dan semoga kalian suka.

Special Thx to :

hanazono yuri, kira-chan, juni chan, ravenpink

RnR pliss

Salam hangat—

zhyagaem06