Title : Between You and Him

Author : Kim Kira

Genre : Yaoi/Romance (Don't like don't read ^^)

Rate : Untuk chapter ini T dulu deh ya ^^

Cast :

- Kim Jaejoong (28 tahun)

- Jung Yunho (28 tahun)

- Shim Changmin (26 tahun)

- Park Yoochun (28 tahun)

- Kim Junsu (27 tahun)

And others

Enjoy ^^

.


.

"Shim Changmin imnida." Changmin memamerkan senyumnya yang menawan. Jaejoong melebarkan matanya. Agak terkejut dengan nama yang baru saja disebutkan namja tersebut.

"Shim... Changmin?" Jaejoong mendongakkan kepalanya menatap Changmin. Changmin sedikit terkejut dengan gerakan Jaejoong yang tiba-tiba. Ia membalas tatapan Jaejoong yang masih setia menatapnya dengan intens.

"Apa kau pemilik perusahaan tempat ayahku bekerja? Apa kau pemilik Shim Corp?" Tanya Jaejoong menyelidik sambil terus menatap Changmin. Changmin hanya tersenyum kecil, kemudian meraih pergelangan tangan Jaejoong.

"Ikutlah dulu denganku, aku akan menjelaskannya padamu nanti Jaejoong-ssi." Changmin menarik Jaejoong. Sedikit memaksa Jaejoong untuk berjalan ke arah mobilnya. Namun sejenak kemudian Changmin menoleh karena merasa tidak ada pergerakan dari Jaejoong.

"Kenapa aku harus ikut denganmu? Kita tak saling mengenal. Aku tak bisa percaya padamu begitu saja." Jaejoong menatap Changmin tajam. Sejenak kemudian ia mengarahkan tatapannya pada tangannya yang sedang digenggam oleh Changmin. Mengisyaratkan Changmin untuk melepasnya. Changmin menghela nafasnya. Ia mulai tak sabar rupanya. Namun hatinya segera menyuruh Changmin untuk tetap tenang. Changmin kembali menatap Jaejoong tepat di matanya. Changmin menyeringai. Membuat Jaejoong bergidik ngeri.

"Karena sekarang kau adalah milikku, Kim Jaejoong." Belum sempat Jaejoong memberikan reaksi atas perkataan Changmin, Changmin sudah menggendongnya denga gaya seperti mengangkat karung beras. Jaejoong meronta tapi tenaganya tak cukup untuk terlepas dari Changmin. Ia sudah menghabiskan tenaganya untuk terkejut dan menangis seharian ini.

"Yak Shim Changmin turunkan aku! Apa maksudmu dengan mengatakan bahwa aku milikmu, hah?" Jaejoong memukul bahu Changmin berkali-kali, namun Changmin hanya tersenyum. Sesekali meringis kecil karena ia tak dapat memungkiri bahwa ia juga bisa merasa sakit. Mengingat Jaejoong juga namja, pukulannya pastilah masih bisa membuat Changmin kesakitan.

"Sudah kubilang akan kujelaskan nanti." Changmin membuka pintu mobilnya. Dengan cepat ia mendudukkan Jaejoong di kursi penumpang dan memasangkan sabuk pengaman ke tubuh Jaejoong. Jaejoong hanya bisa mendengus kesal. 'Apa-apaan namja ini? Memperlakukanku seperti tahanan yang sedang mencoba kabur saja.' Gerutu Jaejoong dalam hati.

Changmin kembali menutup pintu ketika selesai memasang sabuk pengaman. Ia segera berlari menuju kursi pengemudi dan dengan segera melajukan mobilnya kembali ke kediamannya.

.


.

Sebuah mobil Audi hitam memasuki gerbang kediaman keluarga Shim. Terlihat beberapa penjaga yang membukakan gerbang membungkuk hormat ketika mobil tersebut melaju di hadapan mereka. Seorang namja cantik di dalam mobil itu hanya mampu memandang takjub apa yang ada di hadapannya saat ini. Sebuah rumah yang sangat luas dan megah dengan gaya arsitektur khas Eropa terpampang di hadapannya.

'Apakah ini rumahnya? Ini bahkan lebih pantas disebut istana daripada rumah.' Ucap Jaejoong dalam hati. Matanya menatap lekat kediaman Shim. Terlalu kagum dengan kemegahan rumah tersebut.

"Apa kau ingin tidur di mobilku malam ini Kim Jaejoong? kau terlihat ingin terus berada disini sambil melihat rumahku." Changmin terkekeh pelan melihat Jaejoong yang setengah terbengong menatap rumahnya.

"M.. mianhae.." Jaejoong tergagap. Dengan salah tingkah ia segera membuka pintu mobil Changmin dan melangkahkan kakinya keluar dari mobil tersebut. Changmin yang melihat tingkah Jaejoong hanya terkekeh kecil kemudian menyusul Jaejoong.

.


.

"Apa kau tinggal dirumah ini sendirian?" Tanya Jaejoong. matanya sibuk berkeliling mengamati seisi rumah Changmin yang jauh lebih megah daripada bagian luar rumahnya. Jaejoong takjub. Baru kali ini ia melihat rumah yang begitu megah secara nyata. Sebelum ini ia hanya melihat rumah seperti ini di acara televisi.

"Ne.." Changmin tersenyum menatap Jaejoong. Diusapnya pelan kepala Jaejoong. "Istirahatlah. Kau pasti lelah."

Jaejoong menggeleng. "Kau berhutang penjelasan padaku Shim Changmin." Tatapan Jaejoong berubah serius. Ia menatap tajam Changmin yang kini berdiri di hadapannya namun Changmin hanya tersenyum manis kepadanya.

"Istirahatlah dulu, kita bicarakan mengenai itu besok." Changmin membelai surai hitam milik Jaejoong. Namun dengan cepat Jaejoong menepis tangan Changmin.

"Aku akan istirahat setelah mendengarkan penjelasan darimu. Sekarang jelaskan padaku kenapa kau membawaku dan apakah kau yang memerintahkan mereka untuk menyita rumahku." Mata Jaejoong berkilat memancarkan kemarahan. Entah kenapa sekarang ia malah meluapkan emosinya ketika ia kembali teringat peristiwa yang baru saja dialaminya. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana barang-barangnya diangkut keluar dari rumahnya sendiri. Mengingatnya saja membuat Jaejoong emosi.

"hahh.." Terdengar helaan nafas berat dari Changmin. Changmin menghempaskan tubuhnya ke sofa. Sementara Jaejoong terus menatap Changmin menuntut penjelasan.

"Baiklah jika itu maumu. Aku akan jelaskan padamu." Changmin duduk menyilangkan kakinya, kemudian melipat tangannya di depan dada. Ditatapnya Jaejoong yang masih berdiri di hadapannya.

"Duduklah dulu." Ujar Changmin. Dan Jaejoong pun segera mendudukkan dirinya di sofa di hadapan Changmin.

"Kau tahu kan ayahmu bekerja di perusahaanku?" Jaejoong mengangguk. Ia tahu benar ayahnya bekerja di perusahaan milik Changmin. Shim corp. Ayahnya adalah seorang manager keuangan di perusahaan milik Shim Changmin. Sebelumnya Jaejoong hidup berkecukupan hingga pada lima bulan lalu ayahnya meninggalkannya entah kemana tanpa uang sepeserpun. Oleh karena itu Jaejoong terpaksa bekerja seadanya untuk mempertahankan hidupnya.

"Ayahmu mencuri uang perusahaan." Lanjut Changmin. Jaejoong membelalakkan matanya tak percaya. Ia menggelengkan kepalanya.

"Itu tidak mungkin. Ayah bukan orang seperti itu." Sanggah Jaejoong. jaejoong tahu pasti ayahnya orang seperti apa. Ayahnya tak mungkin mencuri. Apalagi mencuri uang perusahaan. Di benak Jaejoong saat ini, uang perusahaan pasti tidaklah kecil.

"Tapi itulah kenyataannya. Seperti apa yang kau pikirkan sekarang, nominal uang yang dicurinya tidaklah kecil. Aku menyuruhnya untuk mengembalikan uang itu dengan memberinya tenggang waktu selama tiga bulan namun ayahmu tak mampu mengembalikannya. Hingga akhirnya dia menyerahkan rumah kalian, dan dirimu kepadaku." Jaejoong makin terbelalak. Apa yang baru saja didengarnya itu benar?

"ma..maksudmu.. ayahku menjualku kepadamu?"

"Kurang lebih seperti itu." Changmin menghampiri Jaejoong dan mendudukkan tubuhnya disamping namja cantik itu. Changmin menatap Jaejoong dalam-dalam. Jaejoong bergidik ngeri. Perlahan tangan Changmin menyentuh pipinya dan mengusapnya dengan lembut.

"Mulai sekarang kau adalah milikku, Kim Jaejoong. Dan jangan pernah berfikir untuk kabur dariku atau berbuat sesuatu yang bisa membuatku murka. Atau kau akan merasakan akibatnya." Changmin menyeringai. Dan tiba-tiba saja Jaejoong merasakan aura hitam mengelilinginya. Jaejoong menelan ludahnya dengan susah payah.

'orang ini berbahaya. Aku harus berhati-hati.' Gumam Jaejoong dalam hati.

.


.

"Apa kau sudah mendapatkan informasi mengenai Kim Jaejoong?" Seorang namja bermata musang sedang duduk di ruang kerjanya sambil berbicara di line telepon kepada bawahannya. Ia mendengarkan setiap perkataan dari bawahannya sambil menggoreskan pensilnya pada sebuah kertas di meja kerjanya. Didengarnya mesin faxnya berbunyi dan ia melihat beberapa lembar kertas meluncur dari mesin faxnya.

"Fax mu sudah tiba. Besok pagi temui aku di kantor dan jelaskan padaku semua mengenai dirinya yang telah kau dapatkan." Yunho memutus sambungan teleponnya. Ia beranjak dari kursinya dan melangkah menuju mesin fax yang terletak di sudut ruang kerjanya. Diraihnya beberapa lembar kertas yang baru saja ia peroleh. Perlahan senyuman tercetak di bibir hatinya saat ia membaca sekilas lembaran demi lembaran yang berada di tangannya.

"Kau menarik perhatianku, Kim Jaejoong."

.


.

Jaejoong menggerakkan tubuhnya tak nyaman di ranjang King Size tempatnya berbaring saat ini. Ia berguling kesana kemari di ranjangnya. Daritadi ia ingin sekali memejamkan matanya namun matanya tak kunjung terpejam.

"Kejadian hari ini sangat mengejutkan." Jaejoong menghela nafasnya. Ia berbaring telentang di ranjangnya. Menatap langit-langit kamarnya.

"Eomma, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Jaejoong bergumam. Sesaat kemudian ia membalikkan tubuhnya dengan posisi tengkurap dan membenamkan wajahnya pada bantal hingga akhirnya ia tertidur dalam posisi tengkurap.

.


.

Jaejoong mengerjapkan matanya ketika terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. Ia menggeliat malas di ranjangnya. Diliriknya jam di meja nakas. Jam 7 pagi.

"Oh tidak. Aku harus bersiap-siap untuk bekerja." Jaejoong segera beranjak dari ranjangnya dan menggapai pintu kamarnya. Dibukanya pintu itu dan nampaklah seorang wanita paruh baya di hadapannya.

"Tuan Changmin memanggil anda untuk sarapan tuan." Ujar wanita itu sesaat setelah Jaejoong membukakan pintunya. Jaejoong mengangguk dan tersenyum kepada wanita itu.

"Aku akan cuci muka dulu, ahjumma." Jaejoong menutup kembali pintu kamarnya. Dan segera menuju ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.

.


.

Hening. Hanya keheningan yang ada di meja makan ini. Hanya terdengar suara garpu dan sendok yang beradu dengan piring. Suasana sarapan yang begitu kaku.

Jaejoong melirik Changmin sesekali. Namun namja di hadapannya itu hanya sibuk dengan makanannya tanpa melihat Jaejoong sama sekali. Jaejoong mendengus pelan.

'Aku tidak makan sendiri tapi rasanya aku seperti makan sendiri.' Gerutu Jaejoong dalam hati. Ia jadi tidak nafsu makan. Diletakannya garpu dan sendok di sisi piringnya. Jaejoong menggeser kursinya kemudian memaksa tubuhnya untuk berdiri.

"Aku selesai makan. Aku harus bersiap untuk kerja." Jaejoong hendak melangkahkan kakinya. Namun tatapan mata tajam Changmin menahannya untuk pergi.

"Kau tidak akan keluar dari sini, Kim Jaejoong. aku sudah berbicara pada bosmu bahwa mulai hari ini kau akan berhenti bekerja." Ujar Changmin dingin. Jaejoong terbelalak tak percaya. Ia mengeratkan rahangnya. Menahan emosinya pada pria dihadapannya.

"K..kau.. kau tidak bisa seenaknya, Shim Changmin!" Ujar Jaejoong dengan sedikit membentak. Ia sudah berusaha menahan emosi tapi entah kenapa ia masih mengeluarkan rasa emosinya pada pria di hadapannya.

"Aku bisa." Ujar Changmin enteng. Changmin meletakkan sendok dan garpunya. Ia menatap Jaejoong dengan tenang. Tanpa emosi. Ia beranjak dari tempat duduknya dan berdiri tepat di hadapan Jaejoong. jaejoong menatap Changmin dengat mata berkilat marah. Sejenak kemudian, Changmin mendekatkan wajahnya tepat di hadapan Jaejoong.

"Kau milikku, Kim Jaejoong. aku berhak melarangmu melakukan apapun, aku yang menentukan apa yang bisa dan tidak bisa kau lakukan." Ujar Changmin datar. Jaejoong mengepalkan tangannya. emosi. Ia ingin sekali menghajar namja di hadapannya ini.

"Aku bukan budakmu, Shim Changmin!"

"Yes, you are. Kim Jaejoong."

Deg

"Ayahmu menjualmu padaku. Ingat itu, Kim Jaejoong. jadi, berhentilah menentangku atau kau akan menerima akibatnya." Ujar Changmin dingin. Kemudian berlalu dari hadapan Jaejoong. jaejoong menghempaskan tubuhnya kembali ke kursi. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Kenapa? Kenapa appa setega ini kepadaku? Apa salahku?" gumam Jaejoong di dalam kesendiriannya. Air matanya hampir saja jatuh dari mata indahnya. Namun dengan segera Jaejoong menggelengkan kepalanya.

"Tidak. Jangan menangis. Kau kuat, Kim Jaejoong. fighting!" Jaejoong mengepalkan tangannya. menyemangati dirinya sendiri.

.


.

Namja tampan bermata musang sedang melangkahkan kakinya di koridor rumah sakit. Ia baru saja selesai menengok appanya. Disusurinya koridor rumah sakit. Matanya berkeliling seolah mencari sesuatu. Atau mungkin seseorang. Langkahnya terhenti di depan stand penjual bunga yang kemarin ia kunjungi. Namun ia heran karena ia tidak menemukan seorang namja cantik yang berjaga kemarin. Yang dilihatnya hanyalah seorang yeoja cantik disitu.

"Maaf, apakah anda pegawai baru? Dimana namja yang kemarin berjaga disini?"

"Apakah yang anda maksud adalah Kim Jaejoong? Mulai hari ini dia berhenti bekerja tuan. Dia mengundurkan diri." Ujar yeoja tersebut. Yunho tersenyum hambar. Hari ini ia gagal bertemu dengan namja cantik itu.

"Kalau begitu saya permisi, nona. Terima kasih." Ujar Yunho kemudian beranjak dari tempat itu dengan perasaan kecewa.

.


.

Jaejoong tengah berkutat di dapur. Entah apa yang sedang dilakukannya. Ia terlihat seperti menggulung sesuatu.

"Tuan, apa yang sedang tuan lakukan disini?" ahjumma yang tadi pagi memanggilnya di kamar tiba-tiba sudah berada di sebelahnya. Memperhatikan apa yang Jaejoong lakukan.

"Aku sedang membuat Kimbap, ahjumma." Jawab Jaejoong sambil terus menggulung kimbap.

"Tuan membuat banyak sekali kimbap. Tuan membuatnya untuk siapa?" tanya ahjumma itu penasaran. Karena sudah banyak sekali kimbap disana namun Jaejoong masih menggulung kimbap yang lain.

"Aku ingin memberikannya pada anak-anak di yayasan, ahjumma. Mereka sangat suka kimbap buatanku." Jaejoong tersenyum senang. Ia teringat ekspresi anak-anak di yayasan setiap kali ia membawakan kimbap untuk mereka.

"Tapi tuan, Tuan Changmin tidak mengijinkan anda keluar." Jaejoong tercekat. Perkataan ahjumma benar. Changmin tidak akan mengijinkannya keluar. Namun sejenak kemudian ia tersenyum.

"Ahjumma, mohon bantu aku." Jaejoong menunjukkan puppy eyes nya.

"Rasanya membosankan di dalam rumah terus tanpa melakukan apapun. Aku mohon bantu aku keluar dari sini untuk memberikan kimbap ini pada anak-anak yayasan." Ujar Jaejoong memelas. Agar mendapat simpati dari ahjumma di depannya. Ekspresi ahjumma terlihat bingung. Jaejoong terus saja menatap ahjumma dengan penuh harap.

"Ba.. baiklah, tuan. Saya akan bantu." Ujar ahjumma itu akhirnya. Jaejoong melompat senang kemudian memeluk sang ahjumma.

"Gomawo ahjumma."

.


.

"Tuan Shim meminta untuk meeting diluar kantor, Tuan. Beliau akan menunggu tuan di Cassiopeia Cafe."

Yunho memutar kursinya. Menatap sekretarisnya dengan wajah seriusnya.

"sepertinya bukan ide yang buruk. Kita berangkat Mr. Lee." Yunho memakai jas nya. Beranjak meninggalkan ruang kerjanya dan menuju Cassiopeia cafe.

.


.

Saat ini Yunho dan Changmin sedang berhadapan di Cassiopeia Cafe. Mereka dengan serius membahas rencana kerjasama mereka. Yunho membuka berkas yang diajukan Changmin, membacanya dengan seksama sambil menganggukkan kecil kepalanya.

Changmin mengedarkan matanya ke jendela cafe, melihat keluar jendela. Lalu lalang kendaraan sangat ramai. Sampai akhirnya matanya menangkap sosok seseorang yang dikenalnya sedang berjalan di trotoar di seberang cafe dan berhenti di halte bus.

Yunho yang sudah selesai membaca berkas segera menatap Changmin. Namun ia memandang heran ketika Changmin memandang keluar jendela dalam diam. Ia mengikuti arah pandang Changmin dan mendapati namja cantik yang ingin ia lihat tadi sedang berdiri di halte menunggu bus.

'beraninya kau keluar tanpa ijinku.' Changmin terlihat mengepalkan tangannya emosi.

Sementara Yunho tampak tersenyum.

'Chajatda, Kim Jaejoong.'

-TBC-

Thanks buat review nya semuanya.. author bales dulu ya..

-Dahsyatnyaff: ini sudah di update ^^

-Irmalee: maaf kalo kependekan. Lain kali author usahain agak panjang.^^

-Nin Nina: yap tebakan anda tepat sekali kkk ^^

-Kim Anna Shinotsuke: sipp ^^

-Lipminnie: tebakan anda benar.. jawabannya di chap ini kkk ^^

-Mpreg Lovers: bukan repost kok ^^

-Summer cassie: mau minta makan /gak

-Youleebitha: sipp ^^ makasih

-ciel: sipp ini dilanjut ^^

-Yanie: iya kok dilanjut ^^

Makasih ya semuanya. Maaf kalo chap ini kurang panjang lagi. Maaf kalo ceritanya kurang greget (?). 10 review di chap ini nanti saya lanjut ke chap 3. Kalo kurang dari 10 saya delete story nya. Terima kasih ^^