Cast : EXO's All Couple + Hansol SM Rookies

Disclaimer : God, Agency, Themselves, Author

Warn : Boys Love, NC. Not like? Do not read

Notes : Re-post dari cerita Our Love is Our Story yang versi aslinya di cast oleh Super Junior

000

Drrt, drrt—

Ponselnya bergetar dalam saku. Ia. Seorang pemuda yang sedang sibuk mengangkut dus-dus barang kiriman di tempat kerjanya. Perlahan ia meletakan dus-dus itu dan menyambut telepon.

"Ya, hyung?"

"Hai, Lay-ie," Suara orang diseberang sana terdengar gagap. Itu suara Suho. "Apa kau sudah pulang kerja?"

"Belum," Lay menggeleng, menelengkan kepala untuk mengapit ponselnya. "Mungkin sebentar lagi. Ada apa menelepon malam-malam begini?"

"Bagaimana kalau kujemput?"

Lay berkedip heran. "Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba—"

"Hanya bosan dirumah. Selain itu, ada yang mau kubicarakan."

Diam sejenak untuk Lay mencerna kalimat Suho barusan, kemudian mengangguk pelan. "Bisa saja. Datanglah setengah jam lagi."

Pip, tuut—

Lay mengakhiri hubungan telepon tanpa basa-basi lalu meremas dadanya sendiri dengan erat sambil menghela nafas. Beginilah Lay tiap kali mendengar suara teman sekerjanya; mendengar suara Suho. Terkadang debar jantungnya serasa seperti akan meledak.

LAY POV

Sungguh, aku terkejut ketika tadi Suho-hyung meneleponku untuk urusan diluar pekerjaan. Apalagi orang itu bilang akan menjemputku. Benar-benar tak pernah kuduga. Suho-hyung itu baru saja masuk menjadi pekerja sambilan di jasa pengiriman barang tempatku bekerja. Dia biasanya meneleponku hanya untuk membahas soal pekerjaan yang ia tangani, makanya aku agak kaget ketika dia menelepon dan tiba-tiba menawarkan untuk dijemput.

Ah, aku jadi banyak pikiran.

"Lay-ah, kami pulang dulu. Sampai besok."

"Oh, ya, sampai jumpa!" Kulambaikan tangan pada dua orang temanku yang juga pegawai disini. Berhubung pekerjaan mereka sudah selesai, jadi mereka langsung pulang. Sementara aku hanya perlu melakukan sentuhan terakhir: pengecekan ulang. Tentu saja di cek ulang agar aku tahu jika ada barang yang hilang. Sebagai manajer, aku harus teliti 'kan? Yah, sekalian menunggu Suho-hyung juga.

"Ny. Gong di Incheon. Mana barangnya… Ini dia. Oke. Lalu—Oh, ini semua kiriman ke Incheon. Bagus." Aku bicara seorang diri.

"Lay,"

Ya, ya, aku mengenal suara itu. Suho-hyung. "Cepat sekali kau datang, hyung. Tunggu sebentar, aku hampir selesai."

"Perlu kubantu?"

"Tidak, ini cuma pengecekan ulang." Aku melempar senyum padanya ketika kemudian kutangkap ekspresi diwajah orang itu. Ada apa? Kurasa hal yang ingin ia bicarakan adalah sesuatu yang berat. Baiklah, aku harus menyelesaikan pekerjaanku secepat mungkin. Kasihan hyung-ku yang satu itu. Sambil meneruskan pekerjaan, kujenguk wajah Suho-hyung yang datar seperti sedang memikirkan sesuatu. Aku jadi penasaran.

"Aku selesai. Nah, apa yang mau kau bicarakan, hyung?"

"Itu," Dia mendongak (posisinya ia sedang duduk sementara aku berdiri didepannya) dan menatapku sebentar, lalu menunduk lagi. Sikapnya itu memang seakan sedang menyimpan sebuah rahasia besar yang segan untuk dikatakan. Beberapa kali ia mencoba untuk memulai pembahasannya yang entah apa, tapi berkali-kali juga ia tergagap seperti sedang diiterogasi polisi. Aku jadi kesal.

"Hyung sendiri yang bilang mau bicara, kenapa malah begini?" Mataku memicing.

"Karena aku tidak yakin,"

"Tidak yakin apa? Kau hanya perlu bicara, hyung."

"Iya, aku tahu. Tapi, kau pasti akan menganggap kalau ini gurauan."

"Kalau hyung memang serius, kenapa aku harus beranggapan seperti itu?" Kupandangi ia jengah. Dia ini sudah 'tua' masih saja berpikiran macam itu. "Bicarakan saja."

"Aku iri," Katanya pelan, memalingkan wajahnya dariku.

"Iri pada apa?"

"Temanku," Matanya bermain-main dengan udara hampa yang menantang ujung hidungnya. Ah, seandainya kalian bisa melihat dia (untuk saat ini, silahkan liarkan imajinasi kalian untuk membayangkannya), dia memiliki wajah yang lumayan. Tidak, dia memang tampan. Kulitnya seperti anak-anak; bersih mengilat. "Dia punya pacar dan mereka kelihatan sangat dekat. Aku ingin merasakannya juga."

Astaga. Ya, lalu kenapa? "Kalau begitu kau juga harus cari pacar, hyung. Apa kau tidak punya orang yang kau suka?"

"Tentu saja punya. Tapi mungkin tidak akan terbalas."

"Kenapa? Berusaha saja terus, dia pasti akan luluh."

"Menurutmu begitu?" Tiba-tiba garis wajahnya Nampak kegirangan. Lagi-lagi aku mengiyakan, mendukungnya. Aku senang kalau temanku senang, karena itu aku akan selalu mendukung Suho-hyung. Lalu ia melanjutkan, "Kurasa aku sudah melakukannya, aku sudah berusaha,"

"Iya,"

"Jadi, aku memutuskan untuk menyatakan perasaanku."

Aku diam berpikir untuk sejenak. Sebenarnya aku kurang berpengalaman (bahkan mungkin tidak paham sama sekali) soal cinta-cintaan seperti ini. Jadi, aku iya-iya saja.

"Kalau begitu akan kukatakan sekarang, Lay. Bagaimana menurutmu?"

Sekali lagi aku diam. Entah kenapa tiba-tiba dadaku nyeri, kerongkonganku juga serasa dicekik. Tapi kupaksakan untuk tetap menjawab. "Terserah hyung saja." Kenapa kau seperti ini, Yixing? Bukankah tadi kau sendiri yang berpikir untuk mendukung apapun? Ya, memang benar, tapi entah kenapa aku jadi tidak rela. Atau aku juga iri? Ah, ini membingungkan.

"Baik, akan kunyatakan perasaanku. Mungkin lewat pesan juga tidak masalah." Kulihat ia menggapai saku celana dan mengambil ponsel dari dalamnya. Tunggu dulu!

"Hyung!"

"Apa?!" Suho-hyung melonjak tek keruan. "Kau membuatku kaget!"

"Maaf," Aku menundukan kepala. Ini salah, ada yang salah. Aku tidak bias merelakan Suho-hyung pada orang lain, aku tidak mau dia punya pacar. Tapi, apa yang bisa kulakukan agar ia mau mengurungkan niat? Tidak mungkin kularang dengan alasan 'aku tidak suka' kan?

"Lay, kau baik-baik saja?"

"Iya, aku tidak apa-apa. Maaf, tadi cuma iseng." Ah, betapa bododnya aku. Aku malah menyuruh Suho-hyung untuk cepat-cepat jadian? Aduh, aduh.

"Okelah kalau begitu." Suho-hyung benar-benar mengetikan isi pesan untuk 'si dia'. Habis sudah. Yixing, kau memang hebat.

"Lay, aku mengirimnya! Aku mengirimkannya!" Kalau kulihat, ekspresinya sekarang lebih mirip dengan raut panik seperti ketika kau baru ingat kalau meninggalkan panggangan kue.

"Sungguh? Kalau begitu tunggu jawabannya. Tenanglah, ini akan baik-baik saja."

LAY POV –End-

Lay berbohong. Siapapun tahu jika melihat keadaannya yang gelisah tak menentu, sedangkan temannya berdebar-debar dengan wajah merah-padam, menggenggam ponsel kuat-kuat hingga berkeringat.

Dring—

Ponsel Lay bordering dan si empunya segera menjenguk, lalu terdiam. Ia bingung melihat nama pengirimnya: Junmyeon. Itu Suho. "Kenapa kau mengirimnya padaku, hyung?" Tanyanya naif.

Suho ikut bingung dan sekarang ia gugup. Diliriknya Lay sesaat kemudian kembali menunduk sambil mengusap tengkuk. "Kupikir kau mengerti." Katanya.

"Mengerti—Ah, maksudmu," Lay membelalakan mata tak percaya. Benarkah? Benarkah, benarkah, benarkah? Dan ia menjadi lebih bingung lagi. Sebenarnya bagaimana maksud Suho?

"Aku menyukainya. Sejak pertama perekrutanku, 'dia' telah banyak membantu, 'dia' mencuri seluruh perhatianku. Bagaimanapun aku mengeluh soal pekerjaanku, atau sesulit apapun 'dia' membimbingku, wajahnya tak terlihat bosan dan itu membuatku nyaman. Aku menyayanginya, aku mencintainya."

Lay terbungkam. Keduanya sama-sama menunduk dan tenggelam dalam diam sampai si manajer mencoba kembali buka suara. "Hyung, bisa ganti kata 'dia' menjadi 'kamu'?"

"Maksudmu?"

"Yah, sepertinya hyung menunggu jawaban darinya. Tunggu sebentar,"

Tak lama—Dringg—ponsel Suho menjerit, membuat si empunya segera meraihnya tanpa pikir panjang. Ia mendapati sebuah pesan, membacanya, kemudian tersenyum dengan semburat merah yang samar-samar (namun tertangkap Lay dengan jelas). Berlagak tidak tahu, Lay bertanya, "Hyung, apa kau baik-baik saja?"

"Lay,"

"Ya?"

Suho beranjak dari tempatnya duduk dan memilih untuk berjongkok didekat kaki Lay. Ia memandangi wajah senior di tempat kerjanya itu. "Aku mencintaimu," Katanya, membuat Lay tertawa geli.

"Iya,"

"Lay,"

"Ya, hyung?"

Suho tak lagi menjawab. Dikecupnya bibir Lay sekejap, kemudian memasuki indera pengelihatan laki-laki itu sedalam mungkin. Lay hanya diam dengan wajah terkejut, dalam pikirannya masih berkalut mengenai 'aku dicium laki-laki'. Suho bangkit lagi diiringi helaan nafas—seluruh kecemasannya seakan dibawa pergi oleh hembusan itu, lalu mengulurkan tangan pada Lay. "Oke, Layie, ayo pulang."

"Jangan Layie, panggil Lay saja."

"Tapi sekarang berbeda, kan kau pacarku."

"Oh, ya? Benarkah?" Lay memasang tampang bodoh, membuat Suho mematung. Sedikitnya, jawaban itu bisa membebani pikiran Suho hanya dalam hitungan detik. Oh, tentu saja itu menggelikan, tak salah kalau Lay kembali tertawa. "Aku bercanda, sayang. Ayo pulang" Ia meraih uluran tangan Suho dan menggenggamnya erat.

Ah, kalau semudah ini, kenapa kalian menundanya?

000

"Tao-hyung, aku ada acara di bar dan akan pergi dua puluh empat jam hari ini. Tolong jaga kamarku, ya."

"Iya, takkan kubiarkan Suho-hyung masuk kekamarmu. Kyungie, hati-hati dijalan," Tao mengantar kepergian Kai dan Kyungsoo sampai kedepan pintu masuk dengan masih mengenakan baju tidurnya. Setelah kedua orang itu pergi, ia kembali kedalam flat dan melirik jam dinding: pukul dua belas siang. Tapi yang ia tahu hanya bahwa ia harus melanjutkan kegiatan 'hibernasi satu hari'-nya karena tuntutan rasa kantuk yang amat sangat. 'Untung saja hari ini libur.' Pikirnya, melesat masuk kedalam kamar. Baru saja tulang punggung Tao beradu dengan kasur empuknya yang sejuk, dari bawah bantal, ponselnya bergetar-getar merengek agar disentuh oleh sang pemilik. Mau tak mau Tao harus merayapi kesadarannya sekali lagi.

"Selamat pagi," Ia menyambut.

"Pagi? Ini hampir jam makan siang, Tao-ah," Suara Xiumin, si fotografer. "Astaga, bukan itu! Tao-ah, kenapa kau tidak datang?"

"Datang?" Tao menggosok mata dengan gerak malas. "Minnie, apa kau lupa kalau Sabtu adalah satu-satunya hari libur yang kumiliki dalam seminggu?"

"Benar juga, ya. Tapi, tapi kau harus datang! Kris tidak mau dirias oleh orang lain. Kalau begini terus pemotretan tidak akan dimulai,"

Hening.

Tao telah seratus persen menyerah pada buaian bantal-guling serta selimut tebalnya yang empuk. Bahkan mungkin ia sama sekali tidak mendengar ucapan terakhir Xiumin.

"Hei, Tao-ah. Halo? Huang Zitao? Astaga, kenapa kalian kejam sekali padaku?"

Tuut, tuut—

Xiumin akhirnya memilih untuk mengakhiri komunikasi sedangkan Tao tetap tersungkur pada bantal, melupakan ponselnya yang terkulai dalam genggaman.

Kris duduk dengan wajah tak senang. Ia hanya mengenakan kaus dengan jeans warna biru gelap dan snapback kuning-hitam bergelayut di kepalanya. Tanpa riasan.

"Ayolah, penata rias lain juga tidak kalah dengan Tao, jangan menunda pekerjaanku," Bujuk Xiumin.

"Berisik kau, hyung. Jangan paksa aku untuk tetap ikut pemotretanmu jika penata riasku tidak ada."

Xiumin sudah mulai berurat pada tingkah kekanakan Kris. Terlalu menyebalkan sampai ia memutuskan untuk pergi meninggalkan ruang rias—entah kemana.

"Kau ini," Luhan berdecak, memandang Kris dengan gelengan. "Fotografer pulang, lalu apa yang akan kita lakukan?"

"Entah. Kau kira aku perduli? Tidak."

"Anak ini, beraninya kau, hah? Sini, biar kurias wajahmu hingga lebam!"

"Hannie!"

Gerakan Luhan yang sesaat tadi hampir mencekik Kris sontak berhenti ketika suara Sehun menyelinap. Sehun. Teman kuliah Kris yang bekerja sebagai penari (dalam agensi yang sama).

"Sehun," Luhan menarik tangannya yang mengambang dan memandangi Sehun. Orang itu merangkul pinggang Luhan, membawanya mendekat. Mendadak, seluruh atmosfir seperti digenangi lautan bunga mawar yang harum semerbak.

"Jangan gunakan tanganmu untuk hal seperti itu, bagaimana kalau tanganmu sakit?"

"Maaf, aku kesal padanya. Sayangku, bagaimana kalau kau yang memukulnya untukku?"

"Sudahlah, jangan seperti anak kecil. Bagaimana kalau temani aku sebentar?"

"Kemana? Mau apa?"

Sehun mengedipkan sebelah matanya dengan wajah genit. "Kau pasti tahu, sayang,"

"Heh, kalian ini berisik sekali! Kalau mau pacaran jangan didepan orang!" Kris yang sejak tadi menahan emosi akhirnya meledak. Luhan—sekali lagi—melayangkan tatapan penuh tantang padanya.

"Oh, kau mengusir, hah? Apa agensi ini milikmu? Dasar, tonggos!" Dengan pukulan ibu-ibu ditiap pertanyaan yang Luhan beri, Kris hanya bisa menjerit-jerit tanpa melawan. Tapi kemudian Sehun menangkap tangan kekasihnya dan melekatkan jari telunjuk di bibir Luhan.

"Sayangku ternyata sudah belajar kata-kata kasar, ya. Coba kulihat bibir itu, biar kuhukum,"

"Ah, sayang,"

"Ekhem," Satu suara berdeham. Suara berat milik Chanyeol yang merupakan pemilik agensi sekaligus berprofesi sebagai model, menegur kelakuan Luhan dan Sehun yang mungkin saja akan berciuman mengabaikan Kris di sofa.

"Chanyeol? Kau sudah datang," Luhan memalingkan wajah, menjauh dari bibir Sehun dan pergi menghampiri Chanyeol.

"Hannie, tolong jangan lakukan itu disini. Itu memalukan."

"Iya, aku minta maaf,"

"Jangan ulangi lagi." Chanyeol memutar badan dan pergi kedepan salah satu cermin untuk membenahi penampilannya. Menganggap kalau Chanyeol sedang meleng, Luhan merenggut kerah baju Sehun dan menariknya keluar dari ruang rias.

"Hannie?" Sehun kebingungan.

"Ayo ke gudang!"

"Dimana Kris-ge?"

Tao mengintip dari balik pintu ruang rias. Mata sipitnya yang kehitaman menjelajahi seisi ruangan dan tak menemukan apa yang ia cari.

"Astaga, kemana anak itu?" Xiumin melengos. Ia sudah berbaik hati untuk menjemput Tao ke flat sewaannya, tapi sekarang Kris malah lenyap.

"Mencariku?" Tiba-tiba Kris muncul; wajahnya sinis bukan main. Xiumin mengangguk,

"Sudah kubawakan yang kau minta, jangan berani melewatkan pemotretan hari ini walau hanya satu sesi."

Kris hanya mengangkat sudut bibirnya angkuh, kemudian langsung mendudukan diri dihadapan cermin. Tao dan Xiumin saling pandang, seakan pandangan itu adalah sebuah penyerahan tanggung jawab atas seseorang bernama Wu Yifan. Setelah Xiumin pergi, Tao memnghampiri Kris. "Ayo mulai," Tao meregangkan jemarinya dan memilah sejumlah kosmetik. Sekejap, Kris melirik tajam pada Tao. "Gege marah, ya?" Tanya Tao.

"Tidak penting."

"Baguslah kalau itu bukan salahku. Kupikir gege badmood karena aku tidak datang."

"Ya." Kris menatap Tao dari cermin, matanya seperti menahan amarah yang berlebihan. Tao tak menanggapi, ia mengambil sisir dan merapikan rambut Kris dengan cekatan. "Tao,"

"Ya, ge?"

Tao masih fokus pada pekerjaannya. Sesekali mata panda itu melebar juling ketika menarik helaian rambut Kris keatas. Nampak manis. Kris menghela nafas. "Setelah selesai meriasku, apa kau langsung pulang?"

"Tentu saja, seharusnya 'kan ini hari liburku." Tao mengangguk-angguk, masih enggan menyingkirkan tatapannya dari kepala sang gege. Kris tidak buka suara lagi, lebih memilih untuk memata-matai sosok Huang Zitao dibelakangnya; tak lepas-lepas. Saat Tao tanpa sengaja melirik cermin, ia menangkap basah kelakuan Kris itu. "Ada apa, ge?" Tanyanya takut-takut. Lagi-lagi Kris menyunggingkan senyum angkuh andalannya tanpa ada niat untuk menjawab, malah mengalihkan padangan pada majalah dalam pangkuan. Sementara Tao terdiam dengan bibir mengerucut karena kebingungan.

"Oke, selesai. Cepat hampiri Minnie-ge, dia pasti menunggumu."

Kris diam, menyentuh poni Tao yang terjatuh lemas di dahinya. Keadaan saat ini: mereka berhadapan. "Jangan libur kalau aku masih masuk kerja."

"Kenapa?" Tao memamerkan tatap kecewa.

"Pokoknya jangan."

Tao mengernyit masam; seperti anak kecil. "Tapi 'kan aku lelah, ge,"

Kris tak menyahut lagi, untuk kesekian kali. Lalu jemarinya yang tadi menyapa poni Tao, merayap turun dan menyentuh lengkungan dagu Tao. Dirapatkannya jarak antara wajah mereka, lalu berbisik dengan bibir yang nyaris melekat pada sisi wajah Tao. "Aku akan membayar hari liburmu. Karena itu, jangan pulang."

"Membayar bagaimana maksud gege?"

Kris tersenyum. Sepertinya ada niat tersembunyi dibalik senyuman yang jarang-jarang tampil di wajah tirus itu. "Menurutmu? Aku akan membayar apapun."

TBC