Babysitter Kiseki

Disclamer : Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi, Durarara! © Narita Ryohgo

Pair : Shizaya (of course)

Genre : humor (maybe), family

Warning : sho ai, garing, ooc, typo, aneh dll

A/N : Hola, saya update nih minna XD

Summary : Bocah-bocah pelangi tersesat di Ikebukuro, dimana terdapat dua manusia yang ditakuti disana. Apa mereka akan baik-baik saja? Bad summary.

Tertarik? Silahkan review :D

Tidak Tertarik? Silahkan klik tombol 'Back'

Tertarik, tapi gak mau review? Silahkan 'Fav' XD

Tidak tertarik tapi mau review ? Ampun jangan Flame DX

Reader and Silent Reader, welcome :D

Enjoy Reading Minna :D

"Jadi Ryouta kau tinggal dengan siapa di Tokyo?" Kise yang saat itu sibuk memperhatikan Izaya yang sedang memotong sayur mendongak menghadap langsung pada si penanya. Anak berambut pirang itu tampak ragu untuk menjawab, bola matanya bergulir ke kanan dan ke kiri.

"Dengan Aominecchi, Kagamicchi, Kulokocchi, Akashicchi, Midolimacchi, Takaocchi, Mulasakicchi." Namun Akhirnya dia menjawab diiringi dengan senyum polos khas anak-anak. Pemuda didepannya menatap bingung.

"Kalian tetangga?" tanya Izaya, tapi dibalas gelengan kepala dari Kise, alis Izaya terangkat satu."Lalu?"

"Kami tinggal belsama-ssu!"

Izaya berfikir sejenak, apa mereka satu keluarga? Tapi mana mungkin marga mereka pun tak ada yang sama dan wajah mereka tak ada yang mirip. Apa mereka tinggal dipenitipan anak? Tapi kalau mereka tinggal dipenitipan anak itu tak mungkin sampai tak pulang ke rumah masing-masing. Apa jangan-jangan mereka tinggal dipanti asuhan? Tidak tidak, Izaya menepis pemikirannya. Anak-anak dengan umur yang nyaris sama tidak mungkin anak yatim piatu semua.

Izaya bergumam 'oh' pelan.

"Ne, Nii-chan mau masak apa?" Izaya melirik bocah berambut hitam yang baru datang.

"Emm nasi kare, kau suka?"

Takao mengangguk antusias."Bibi di panti asuhan juga suka memasakkan kami kale!" ujarnya penuh semangat.

Jadi benar kalau mereka itu tidak punya keluarga semua? Izaya tertegun. Ada apa gerangan dengan semua orang tua dari bocah-bocah ini, tega sekali kalau ternyata mereka ditelantarkan."Kalian tinggal dipanti asuhan?" dengan nada setengah ragu Izaya bertanya.

"Em!" disahut dengan semangat oleh Kise dan anggukan dari Takao.

"Lalu kalau boleh aku bertanya sebenarnya apa yang kalian lakukan di Ikebukuro?" kedua bocah itu saling pandang.

"Kami mengantal Kulokocchi mencali olang tuanya." Ujar Kise.

"Tapi kami telsesat gala-gala alamatnya hilang." Takao beraut sedih.

"Kenapa kalian mencari orang tua Tetsuya?" tanya Izaya penasaran.

"Karena tiga bulan yang lalu Tet-chan ditinggal mamanya didepan gelbang panti asuhan dan sampai sekalang Tet-chan masih sedih."

"Lalu kami memutuskan untuk membantu Kulokocchi." Kise tersenyum cerah.

Izaya merasa prihatin dengan bocah mungil berambut biru langit itu. Apa ini sebabnya dia jadi anak yang sangat pendiam?

Sembari mendengar perbincangan antara Kise dan Takao tentang sayur-sayuran yang ada dimeja, Izaya menyibukkan diri dengan masakkannya.

"Kapan kalian mau kembali ke Tokyo?" Izaya menoleh, ekspresi kedua bocah itu tampak sedih?

"Niicchi boleh aku tinggal disini saja?" ujar Kise pelan.

"Teman-teman dipanti asuhan sudah banyak yang mempunyai olang tua." Kali ini suara Takao.

"Kami beldelapan belum mempunyai olang tua." Kise mulai terisak.

Izaya mematikan kompornya, mendekati kedua bocah laki-laki itu dan mengusap kepala mereka. Izaya berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka."Kalian boleh tinggal disini kok, tapi sebelum itu kalian harus Izin dulu pada bibi di panti asuhan, bagaimana?"

"Sungguh?" mata Takao berbinar, Izaya mengangguk.

"Yay!" detik kemudian Izaya merasakan tubuhnya diterjang dua anak kecil yang sedari tadi menemaninya didapur.

"Takaocchi ayo kita beli tau teman-teman!" Kise dan Takao sudah melepaskan pelukan mereka pada Izaya.

Mereka berdua berlari meninggalkan Izaya, namun beberapa saat kemudian mereka kembali dan menghadiahi Izaya kecupan manis dikedua pipi Izaya. Pemuda berambut hitam itu terdiam, mengusap pipinya yang sedikit basah, lalu dia tersenyum dan melanjutkan acara memasaknya.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

"Paman, kau minum susu telus ya?" bocah berambut biru tua itu memperhatikan intens pemuda berambut pirang yang tengah menikmati susu vanilanya.

"Pantas saja paman jadi kuat! Aomine ayo kita minum susu juga!" bocah berambut merah kehitaman itu berlari menuju dapur. Dan diikuti bocah berkulit coklat yang berlari dibelakangnya.

"Hoi jangan habiskan persediaan susu vanilaku!" teriakan itu berasal dari Shizuo.

Setelah Kagami dan Aomine pergi kini muncul Takao dan Kise."Ne minnacchi, aku punya kabal bagus!" serunya dan berhasil menyita perhatian teman-temannya dan juga Shizuo yang kebetulan berada tak jauh dari kumpulan anak-anak itu bermain.

"Kabal apa nanodayo?" tanya Midorima yang sepertinya cukup tertarik.

"Kata Izaya-niicchi kita boleh tinggal disini-ssu!"

BYUUUUR

Semburan susu vanila keluar dari mulut Shizuo.

"Benalkah itu Lyuta?" Akashi yang sedari tadi sibuk dengan bidak catur Izaya kini tengah menatap bocah berambut pirang itu.

"Benal! Tadi Izaya-nii-chan yang bilang begitu." Jawab Takao.

Dan terjadi percakapan antara bocah-bocah empat tahunan itu. Dimana tersirat binar keceriaan dari sorot mata anak-anak itu.

Shizuo hanya terdiam, apa maksudnya ini? Kenapa Izaya membolehkan anak-anak ini tinggal dengan mereka?

Shizuo harus berbicara empat mata dengan Izaya.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Makan malam kali ini penuh dengan kekacauan. Ya kalian tak salah membaca kata 'kacau' itu. Bagaimana tidak jika tiga orang gila makan ada disatu meja!

Murasakibara yang selalu minta tambah tiap lima menit sekali. Kagami makan bermangkuk-mangkuk. Aomine entah kenapa makannya bertambah banyak waktu Izaya bertanya bocah tan itu menjawab dengan polos kalau dia ingin kuat seperti Shizuo.

Tunggu kekacauan bukan hanya disitu, justru kekacauan itu berasal dari Shizuo yang tak kebagian jatah makan malamnya. Dia ngamuk membuat Kise yang memang dasarnya cengeng menangis tak henti-hentinya. Midorima dan Takao bersembunyi dibalik punggung Izaya. Sementara Akashi masih menikmati makan malamnya sesekali berbincang dengan Kuroko yang duduk disampingnya.

"Tetsuya ada nasi dibibilmu." Jari telunjuk Akashi terulur untuk menyingkirkan sebulir nasi di pipi bocah biru muda itu.

Pipi Kuroko merona."Aligatou Akashi-kun."

"Shizu-chan kau membuat Ryouta menangis." Izaya menatap kesal pada Shizuo.

Shizuo hanya membuang muka. Sedetik kemudian Shizuo terngingat tentang pembicaraan bocah pelangi tadi sore. Dia bangkit, dan menatap Izaya.

"Izaya aku mau bicara denganmu." Shizuo segera menarik Izaya ke kamar. Bocah-bocah yang ada disitu mendongak bingung dengan tatapan tanda tanya. Mengerti akan tatapan itu Izaya berujar. "Tunggu sebentar ya, Izaya-nii ada urusan dengan Shizu-chan." Anak-anak itu mengangguk dan melanjutkan makan malam mereka.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

"Kutu sekarang jelaskan padaku."

"Menjelaskan tentang apa Shizu-chan?"

"Gezz! Kau bilang kau membolehkan setan-setan kecil itu tinggal disini, benar?"

"Ya, aku malah berencana mengadopsi mereka semua."

"Hei kutu! Apa-apaan kau itu! Mana mungkin kita bisa merawat anak sebanyak itu, lagi pula apartemenmu ini terlalu sempit untuk menampung sepuluh orang!"

"Tenanglah Shizu-chan, soal itu aku bisa membeli rumah yang baru."

"Kita juga belum menikah!"

"Kalau begitu ayo kita menikah~ mudah kan?"

"Tak semudah itu bodoh! Kalau kau mengadopsinya bagaimana dengan keluarga mereka?"

"Itu masalahnya Shizu-chan, mereka tak mempunyai keluarga dan mereka berdelapan itu tinggal dipanti asuhan."

"..."

"Jadi bagaimana Shizu-chan?"

"Terserah kau saja."

"Arigatou Shizu-chan!" Izaya memeluk Shizuo dan memberinya kecupan singkat dibibir si pirang.

Si pirang menyeringai, ditariknya tubuh ramping Izaya. Setelah itu Izaya hanya dapat diam dan pasrah menerima ciuman Shizuo. Mereka berciuman cukup lama sampai-sampai mereka tak nyadari kehadiran berpasang-pasang mata yang mengintip dari balik pintu.

"Me-mereka sedang apa-ssu?" tanya Kise penasaran, namanya juga anak kecil.

"Paman Shizuo mau memakan Izaya nii-chan!" bisik Aomine.

"Kita harus meyelamatkan nii-san." Kagami berujar sembari mengepalkan tangan.

"Kita dobrak saja pintunya nanodayo." Midorima menaikkan kacamatanya.

"Shin-chan memang pintar!" Takao memeluk Midorima erat.

"Le-lepaskan Bak_" buru-buru Takao membungkam mulut Midorima.

"Midolima-kun jangan belisik." Kuroko yang sedari tadi terdiam kini bersuara.

Akashi mengambil pose berfikir."Dalam hitungan ketiga kita selbu paman Shizuo." Semuanya mengangguk.

"Aku tidak ikut ya minna." Murasakibara pergi begitu saja, pasti dia mau menghabiskan puding didalam lemari es, pikir bocah-bocah itu kompak.

Sementara itu didalam kamar. Entah apa yang sedang dilakukan kedua pemuda itu sampai-sampai suara berisik bocah warna-warni tak mengganggu mereka."Shi-shizu-chan ya-yamette!"

"Kau diam saja kutu." Shizuo merebahkan Izaya diranjang, lalu menenggelamkan kepalanya dileher Izaya.

"Shi-shi-zu-chan jangan." Izaya mendorong dada bidang Shizuo.

"Belhenti paman monstel!" suara cempreng Aomine dan Kagami mengintrupsi 'kegiatan' mereka.

"Izaya-niicchi!" Kise dibantu Takao, Midorima menarik-narik baju Shizuo.

Akashi dan Kuroko naik ke tempat tidur."Nii-san tidak apa-apa?" tanya Kuroko.

"Paman jangan makan Izaya nii-chan nanodayo, bukan karena aku peduli tapi nanti siapa yang memasak?" semua yang ada disitu cengo masal. Tsundere kok dipelihara sih Midorima.

"Siapa yang mau makan Izaya!" Shizuo berdiri dan membiarkan Izaya duduk dipinggir ranjang.

"Tadi paman kayak mau gigit lehel nii-sama." Seru Akashi. Kontan wajah Izaya dan Shizuo memerah.

"Paman tidak boleh memakan Izaya-nii." Ujar Kuroko polos.

Shizuo menghela nafas. Kalau Izaya benar-benar serius mengadopsi setan-setan ini waktu berdua dengan Izaya takkan pernah ada lagi.

Lalu jatahnya bagaimana?

Silahkan kau pikir sendiri Shizuo.

To Be Continue

Akhirnya chap 2 rilis XD

Sebenernya kalau saya lagi niat satu chapie itu nggak perlu sehari bikinnya XD

Tapi karena saya orangnya males akut jadi kebiasaan molor nggak bisa dihindari XD

Oh iya, karena saya lagi niat buat update multichap mungkin sya nggak update fanfic oneshoot dulu, biar yang multichap kelar dulu XD

Saya ucapkan banyak terima kasih kepada : Asakura Yume, Jesper.s, BakaFujo, Rarateetsuuyaa, Ruki-chan SukiSuki'ssu, Ve, Yacchan, UseMyImagitation, Fay-chi, Seijuurou Eisha, Guest, Soraya31Hikari.

Terima kasih juga yang udah Favorite and Follows :D

Terima kasih atas apresiasinya, review lagi ya :D